TENURE, UKURAN PERUSAHAAN DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAPAT DI BEI
Oleh:
MHD. FUADI DALIMUNTHE
130522121
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK
NAMA : MHD. FUADI DALIMUNTHE
NIM : 130522121
JURUSAN : AKUNTANSI EKSTENSI
JUDUL : ANALISIS PENGARUH AUDITOR
INDUSTRY SPECIALIZATION, AUDIT TENURE, UKURAN PERUSAHAAN, DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI
Tanggal : Agustus 2015 Dosen Pembimbing Skripsi
Drs. Sucipto MM,Ak
NIP. 19511025 198203 1 001
Tanggal : Agustus 2015 Ketua Program Studi S1 Akuntansi
Drs. Firman Syarif, Msi., Ak. NIP . 19670904 199403 1 004
Tanggal : Agustus 2015 Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU
PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI
NAMA : MHD. FUADI DALIMUNTHE
NIM : 130522121
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI EKSTENSI
JUDUL : ANALISIS PENGARUH AUDITOR INDUSTRY
SPECIALIZATION, AUDIT TENURE, UKURAN PERUSAHAAN, DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI
Medan, Agustus 2015
MHD. FUADI DALIMUNTHE
Audit Tenure, Ukuran Perusahaan, dan Independensi Auditor terhadap Kualitas Audit Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Agustus 2015 Yang membuat pernyataan,
industry, audit tenure, ukuran perusahaan, independensi auditor terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011 sampai 2013. Auditor spesialisasi industry, audit tenure, ukuran perusahaan, independensi auditor menjadi variabel independen dan kualitas audit yang menjadi variabel dependen.
Data dari penelitian ini diperoleh dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang diambil dari Bursa Efek Indonesia dan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2011-2013 sebesar 111 perusahaan. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dengan media berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur. Alat analisis data yang digunakan yaitu dengan bantuan program komputer SPSS Versi 16.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara auditor spesialis industry dengan kualitas audit, (2) terdapat hubungan positif tetapi tidak signifikan antara audit tenure dengan kualitas audit, (3) terdapat hubungan positif dan signifikan antara ukuran perusahaan dengan kualitas audit, (4) terdapat hubungan positif tetapi tidak signifikan antara independensi auditor dengan kualitas audit.
tenure, firm size and independence auditor on audit quality on the manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2011 until 2013. auditor industry specialization, audit tenure, firm size and independence auditor as the independent variables and the quality audit as the dependent va riable.
Data from this study were obtained from financial statements of manufacturing firms drawn from the Indonesia Stock Exchange. The population of this study are manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the years 2011-2013 amounting to 111 companies. Determination of the sample using purposive sampling method. Type of data are secondary data in the form of financial statement as the media manufacturing companies. Data analysis tool is the computer program SPSS version 16.
The results of this study indicate that (1)there is positif relationship and significant between auditor industry specializationon quality audit,(2) there is positif relationship but not significant between audit tenure on quality audit,(2) there is positif relationship and significant between firms size on quality audit, (4) there is positif relationship but not significant between independence auditor on quality audit.
berjudul ”Analisis Pengaruh Auditor Industry Specialization, Audit Tenure, Ukuran Perusahaan, dan Independensi Auditor terhadap Kualitas Audit pada Perusahaan
Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi, dan doa dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada semua
pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada :
1. Bapak Prof.Dr.Azhar Maksum.M.Ec,AC.Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting S. MAFIS, Ak selaku Ketua Departemen S1
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
3. Bapak Drs. Hotmal Ja'far, MM,Ak selaku sekretaris Departemen S1 Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
4. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si,Ak selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
5. Bapak Drs. Sucipto, MM, Ak, selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Bapak Drs. Chairul Nazwar, M.Si, Ak, selaku Dosen Penguji saya yang
memberikan banyak masukan dalam penulisan skripsi ini.
7. Bapak Syahrurrahman, SE, M.Si, Ak, selaku Dosen Pembanding saya yang juga
telah memberikan banyak masukan dalam penulisan skripsi ini.
8. Bapak/Ibu Dosen dan Pegawai di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
10. Para sahabat, Nanda, Erwin, Hadi, Sofyan, Alif, Arfah, Robert, Gito, Jahrianto, M
Rizky, dan rekan-rekan mahasiswa S1 Akuntansi lainnya terimakasih atas
kebersamaannya,semoga dapat menyelesaikan studi dengan baik dan sukses di
kemudian hari.
11. Teman teman satu kelas Akuntansi Ekstensi stambuk 2013 grup B serta seluruh
pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini yang
tidak bisa penulis sebutkan namanya satu per satu.
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini belum sempurna dan masih banyak
kekurangan. Untuk itu penulis memohon maaf jika ada kesalahan dan kekurangan yang
terdapat didalamnya, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada
pembacanya.
Medan, Agustus 2015
Penulis
Daftar Tabel ... iv
2.1.3 Auditor Industry Specialization ...14
2.1.4 Audit Tenure ...16
2.1.5 Ukuran Perusahaan...17
2.1.6 Independensi Auditor ...18
2.2 Peneliti Terdahulu...19
2.3 Pengembangan Hipotesis ...21
2.3.1 Auditor Industry Specialization ...21
2.3.2 Audit Tenure ...22
2.3.3 Ukuran Perusahaan...24
2.3.4 Independensi Auditor ...26
3.3 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional ...30
3.3.1 Variabel Penelitian ...30
3.3.2 Defenisi Operasional ...31
3.3.2.1 Kualitas Audit ...31
3.3.2.2 Auditor Industry Specialization ...32
3.3.2.3 Audit Tenure ...33
3.3.2.4 Ukuran Perusahaan ...33
3.3.2.5 Independensi Auditor ...34
3.4 Populasi dan Sampel ...34
3.5 Jenis dan Sumber Data ...40
3.6 Metode Pengumpulan Data ...41
3.7 Metode Analisis Data ...41
3.7.1 Statistik Deskriptif ...41
3.7.2 Uji Asumsi Klasik ………..42
3.7.2.1 Uji Multikolinieritas ...42
3.7.2.2 Uji AutoKorelasi ...43
3.7.3 Analisis Regresi Logistik ...44
3.7.3.1 Uji Kelayakan Regresi...45
3.7.3.2 Menilai Model Fit ...46
3.7.3.3 Koefisien Determinasi ...47
3.7.4 Pengujian Hipotesis dengan Omnibus Test ...47
3.7.5 Pengujian Hipotesis Secara Parsial ...48
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………..…………...50
4.2.2.1 Uji Multikolinieritas ………..52
4.2.2.2 Uji Autokorelasi ………53
4.2.3 Analisis Regresi Logistik ………,…..55
4.2.3.1 Menilai Kelayakan Model Regresi ………55
4.2.3.2 Menilai Model Fit ………,.55
4.2.3.3 Uji Koefisien Determinasi ………,……58
4.2.4 Pengujian Hipotesis dengan Omnibus Test ………,……..58
4.2.5 Pengujian Hipotesis Secara Parsial ………..59
4.3 Pembahasan ………..62
4.3.1 Pengaruh Auditor Industry Specialization Terhadap Kualitas Audit ...62
4.3.2 Pengaruh Audit Tenure Terhadap Kualitas Audit ………....63
4.3.3 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Kualitas Audit ………..63
4.3.4 Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit …………..64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………..65
5.1 Kesimpulan ……….…..65
5.2 Keterbatasan Penelitian ………..…...66
5.3 Saran ………...67
Tabel 3.2 Sampel ...40
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ……….51
Tabel 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas ……….53
Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi (Run Test) ……….54
Tabel 4.4 Hasil Uji Kelayakan Regresi (Hosmer & Lemeshow Test) ………...55
Tabel 4.5 Menilai Model Fit (Step 0)………...56
Tabel 4.6 Menilai Model Fit (Step 1) ……….56
Tabel 4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi ………....58
Tabel 4.8 Hasil Pengujian Simultan (Omnibus Test) ………59
industry, audit tenure, ukuran perusahaan, independensi auditor terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011 sampai 2013. Auditor spesialisasi industry, audit tenure, ukuran perusahaan, independensi auditor menjadi variabel independen dan kualitas audit yang menjadi variabel dependen.
Data dari penelitian ini diperoleh dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang diambil dari Bursa Efek Indonesia dan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2011-2013 sebesar 111 perusahaan. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dengan media berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur. Alat analisis data yang digunakan yaitu dengan bantuan program komputer SPSS Versi 16.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara auditor spesialis industry dengan kualitas audit, (2) terdapat hubungan positif tetapi tidak signifikan antara audit tenure dengan kualitas audit, (3) terdapat hubungan positif dan signifikan antara ukuran perusahaan dengan kualitas audit, (4) terdapat hubungan positif tetapi tidak signifikan antara independensi auditor dengan kualitas audit.
tenure, firm size and independence auditor on audit quality on the manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2011 until 2013. auditor industry specialization, audit tenure, firm size and independence auditor as the independent variables and the quality audit as the dependent va riable.
Data from this study were obtained from financial statements of manufacturing firms drawn from the Indonesia Stock Exchange. The population of this study are manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the years 2011-2013 amounting to 111 companies. Determination of the sample using purposive sampling method. Type of data are secondary data in the form of financial statement as the media manufacturing companies. Data analysis tool is the computer program SPSS version 16.
The results of this study indicate that (1)there is positif relationship and significant between auditor industry specializationon quality audit,(2) there is positif relationship but not significant between audit tenure on quality audit,(2) there is positif relationship and significant between firms size on quality audit, (4) there is positif relationship but not significant between independence auditor on quality audit.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Audit merupakan salah satu solusi masalah informasi asimetri antara
pemimpin dan para pemegang saham atau antara para pemimpin dan yang lain
peserta yang merupakan pihak ketiga .Sebagai mekanisme tata kelola
pemerintahan atau perusahaan , ini memiliki peran utama untuk mengurangi
biaya dan untuk meyakinkan para pemegang saham dan pihak ketiga terkait
dengan masalah kontraktor keandalan informasi keuangan yang disampaikan .
Dalam era globalisasi sekarang ini, suatu penilaian terhadap suatu
perusahaan diperlukan untuk menilai apakah perusahaan dalam keadan baik-baik
saja ataukah perusahaan berada dalam keadaan yang tidak baik. Adapun informasi
keuangan yang disajaikan didalam laporan keuangan digunakan sebagai salah satu
dasar pengambilan keputusan bagi pengguna laporan keuangan. Namun,
secanggih apapun sistem pembuatan laporan keuangan saat ini tentu masih
memiliki keterbatasan, yaitu pihak yang menyusun laporan keuangannya adalah
dari pihak internal perusahaan atau dalam hal ini bisa disebut dilakukan oleh
seorang manajer keuangan.
kebutuhan para pengguna laporan keuangan. Oleh karena itu, laporan keuangan
yang dibuat setiap perusahaan harus diperiksa oleh auditor yang tentunya harus
independen.
“Independensi Auditor dapat diartikan sebagai sikap mental yang bebas
dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain” (Mulyadi, 2002:26-27). Hal ini dimaksudkan agar pihak eksternal yang akan
menggunakan laporan keuangan perusahaan memiliki keyakinan bahwa di dalam
informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan telah sesuai dengan
yang diatur oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum, sehingga lebih dapat
menghindari unsure-unsur fraud atau hal-hal yang tidak diinginkan di dalam
informasi keuangan yang disajikan di laporan keuangan. Kontribusi audit yaitu
untuk memberikan akuntabilitas terhadap laporan keuangan yang disajikan suatu
entitas.
Audit memiliki peranan penting dalam keberhasilan sistem ekonomi.
Perusahaan mengeluarkan laporan keuangannya agar dapat digunakan oleh
pengguna eksternal, dengan harapan pengguna eksternal ini dapat membantu
kinerja operasi perusahaan. Akan tetapi, terdapat pihak eksternal yang tidak
begitu saja percaya terhadap informasi keuaangan yang disajikan oleh perusahaan
tersebut. Hal itu dapat dikarenakan yang menciptakan laporan keuangan adalah
manajer perusahaan, jadi ada kemungkinan informasi keuangan tersebut
mengandung unsur rekayasa oleh manajer agar laporan keuangan terlihat sehat
hal ini perlu adanya audit untuk memberikan pernyataan mengenai tingkat
kesesuaiannya antara informasi keuangan yang disajikan oleh perusahaan dengan
kriteria yang telah ditetapkan.
“Kualitas audit merupakan adanya kecenderungan auditor akan
mendeteksi adanya fraud yang terdapat dalam laporan keuangan klien”. (DeAngelo, 1981) dalam (Ni Made & I Made, 2014). Kualitas audit saat ini
menjadi bahasan utama dikalangan entitas, praktisi dan pihak lain yang
berkepentingan di dalam penggunaan laporan keuangan yang telah diaudit.
Runtuhnya perusahaan besar seperti perusahaan Enron di Amerika Serikat tahun
2001 silam dikaitkan dengan kurangnya independensi dari auditor. Karena
pentingnya independensi auditor dalam suatu KAP terhadap klien dan adanya
kejadian KAP Arthur Anderson membuat dikeluarkannya kebijakan baru tentang
peraturan pengauditan di Indonesia, yaitu Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 17/PMK.01/2008 tentang “Jasa Akuntan Publik” pasal 3. Di Indonseia sendiri
pernah terjadi kasus kegagalan akuntansi,yaitu terjadi pada Lippo Group, Indo
Farma dan Kimia Farma yang teridentifikasi menyajikan laporan keuangan yang
tidak sesuai dengan kinerja sebenarnya. Tidak menutup kemungkinan adanya
peusahaan lainnya yang melakukan hal sama tetapi tidak berhasil terdeteksi.
Menurut IBK. Bayangkara (2013;7), “audit laporan keuangan dilakukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh
perusahaan (manajemen) telah disusun melalui proses akuntansi yang berlaku
tanggal pelaporan dan kinerja manajemen pada periode tersebut”. Dari hasil audit
ini kemudian akuntan (auditor) memberikan opini sebagai tanda pengesahanatas
laporan tersebut, untuk dapat digunakan oleh sebagian besar pemakai laporan
keuangan. Hal inilah yang mendasari perlunya penelitian lebih lanjut terhadap
kualitas audit.
Audit juga memiliki resiko, menurut Sukrisno dan Estralita (2014;2) “risiko audit (audit risk) adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor tanpa
disadari tidak memodifikasikan pendapatnya sebagaimana mestinya atas suatu
laporan keuangan yang mengandung salah saji material”. Auditor harus merencanakan auditnya sedemikian rupa sehingga risiko audit dapat dibatasi pada
tingkat yang rendah, yang menurut pertimbangan profesionalnya, memadai untuk
menyatakan pendapat terhadap laporan keuangan. Adapun resiko audit menurut
dibagi atas tiga bagian yaitu terdiri dari ; (1) risiko bawaan, yakni kerentanan
suatu saldo akun/golongan transaksi terhadap suatu salah saji yang material,
dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur. (2) risiko
pengendalian, yakni resiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi
dalam suatu asersi tidak dapat dicegah/dideteksi secara tepat waktu oleh struktur
pengendalian internal perusahaan. (3) risiko deteksi, yaitu resiko karena bahan
bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan salah saji yang
melewati jumlah yang dapat ditoleransi, kalau salah saji semacam itu timbul.
Bagi investor maupun pengguna laporan keuangan lainnya yang sedang
kemampuan usahanya tentunya ketidakberpihakan auditor memegang peranan
yang sangat penting. Hal itu karena seorang auditor independen mempunyai
kemampuan dan pengetahuan untuk mengetahui kinerja perusahaan dan kondisi
keuangan perusahaan dimasa yang akan datang.
“Audit Tenure adalah jangka waktu perikatan yang terjalin antara KAP dengan auditee yang sama” (Nurul,Nur, azlina, 2012). Suatu perusahaan
memungkinkan untuk menggunakan jasa audit (masa perikatan audit) untuk KAP
yang sama untuk periode selanjutnya. Hanya saja , jika di tiap tahun dilakukan
audit oleh KAP yang sama, hal ini dapat menyebabkan kualitas audit yang
rendah. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan manajer memliki hubungan
relasi yang berlebihan atau bisa dikatakan sangat dekat sehingga dapat
mempengaruhi hasil kerja auditor. Padahal menurut Pernyataan Standar Auditing
No.1 menyatakan bahwa “dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”, sehingga
perlu dilakukannya rotasi. Penelitian Johnson et al. (2002), Myers et al. (2003),
Januarti (2009) dan Efraim (2010) dalam jurnal (Ni Made Dewi dan I Made
Mertha, 2014) menyatakan lamanya masa perikatan audit akan berpengaruh
positif signifikan terhadap kualitas audit. Factor lain yang perlu dilakukannya
rotasi yaitu auditor akan melakukan perencanaan audit dan prosedur audit yang
sama pada entitas tersebut, sehingga memungkinkan manajer pada entitas yang
laporan keuangannya diaudit berupaya untuk mempelajari celah yang dapat
KMK 359/KMK 06/2003 mengatur suatu entitas dapat meminta jasa audit
atas laporan keuangan pada KAP yang sama selama lima tahun, sehingga dengan
adanya kebijakan ini, bertujuan agar dapat menjaga obyektivitas auditor terhadap
auditee . peraturan tersebut kemudian diperbaharui dengan dikeluarkannya
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008
tentang Jasa Akuntan Publik. Perubahan yang terjadi di dalam peraturan tersebut
yaitu “pemberian jasa audit umum menjadi enam tahun berturut-turut oleh KAP yang sama dan tiga tahun berturut-turut oleh akuntan publik kepada satu klien
yang sama (pasal 3 ayat 1). Perubahan berikutnya yaitu KAP dan akuntan public
boleh menerima kembali penugasan setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit kepada klien tersebut pasal 3 ayat 2 dan 3”.
“Auditor spesialisasi industri yaitu keahlian dalam suatu industry tertentu
dimungkinkan akan dapat lebih mendeteksi kesalahan – kesalahan dan manipulasi yangdilakukan oleh manajemen auditee daripada auditor tanpa keahlian khusus”. (Haniatun dan Wahyu, 2014). Hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas audit
yang dihasilkan. Adanya kemapuan khusus berupa spesialis pada suatu industri
membuat kualitas audit yang dihasilkan akan dapat menyajikan informasi dengan
akurat karena auditor yang spesialis lebih mampu menemukan kesalahan
penyajian laporan keuangan dibanding mereka yang tidak, dan hal itu dikarenakan
tingkat pengalaman yang lebih dalam melaksanakan tugas audit yang cukup lama
dalam Chrisnoventie (2012) yang “menyatakan bahwa auditor yang berkualitas tinggi memberikan kepastian yang besar terhadap kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi berterima umum”.
Menurut Sugiarto (2009:121) “ukuran perusahaan merupakan proksi bagi informasi asimetri antara perusahaan dan pasar yang memunculkan sinyal bahwa
semakin besar perusahaan, semakin kompleks organisasinya, semakin tinggi cost
of asymmetries information”. Atau dengan kata lain ukuran perusahaan
merupakan gambaran besar atau kecilnya suatu perusahaan yang ditentukan
dengan batas-batas tertentu yang sudah ditentukan. Variabel ini juga cukup sering
dikaitkan dengan kualitas audit. Perusahaan kecil cenderung memiliki informasi
dan sistem pengawasan yang lemah, sehingga kurang diperhatikan oleh pemegang
sahamnya, sehingga perusahaan-perusahaan kecil akan menghasilkan audit yang
lebih berkualitas. Di sisi lain semakin besar perusahaan, semakin meningkat pula
agency cost yang terjadi. Sehingga perusahaan berukuran besar akan cenderung
memilih jasa auditor besar yang profesional, independen, dan bereputasi baik
untuk menghasilkan kualitas audit yang lebih baik.
Kualitas audit sudah banyak dilakukan penelitian dengan menggunakan
proksi yang berbeda. Proksi dikotomi big dan non big pernah digunakan antara
lain oleh Palmrose (1987) dan Giroux (1992); Teoh dan Wong (1993); Becker et
al (1998); Behn et al. (2008); Jordan et al. (2010), proksi dikotomi spesialis
industry dan non industry pernah digunakan oleh Krisnhan (2003) dan
Berdasarkan peneliti terdahulu, terdapat beberapa kesenjangan yang perlu
ditindak lannjuti, yaitu perbedaan beberapa proksi sehingga diperlukan penelitian
tentang proksi mana yang terbaik, perbedaan hasil penelitian (yang menyatakan
adanya perbedaan kualitas audit maupun yang menyatakan tidak adanya
perbedaan kualitas audit), factor internal perusahaan yang banyak mempengaruhi
risiko audit dan dapat menjadi factor yang mempengaruhi kualitas audit.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai hubungan auditor industry specialization, audit tenure, kompetensi,
dan independensi auditor terhadap kualitas audit dan diwujudkan dalam skripsi yang berjudul : “Analisis Pengaruh Auditor Industry Specialization, Audit
Tenure, Ukuran Perusahaan, dan Independensi Auditor terhadap Kualitas
Audit pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI”.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan di atas,
permasalahan yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagi berikut:
1. Apakah auditor industry specialization berpengaruh terhadap kualitas audit ?
2. Apakah audit tenure berpengaruh terhadap kualitas audit ?
3. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas audit ?
4. Apakah independensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit ?
5. Apakah auditor industry specialization, audit tenure, ukuran perusahaan, dan
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah unutk
menganalisis mengenai:
1. Pengaruh auditor industry specialization terhadap kualitas audit.
2. Pengaruh audit tenure terhadap kualitas audit.
3. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas audit.
4. Pengaruh independensi auditor terhadap kualitas audit.
5. Pengaruh auditor industry specialization, audit tenure, ukuran perusahaan
dan independensi auditor terhadap kualitas audit.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dan penelitian ini diharapkan agar dapat memberikan
pengetahuan mengenai kualitas audit pada umumnya dan tambahan literatur
mengenai kualitas audit khususnya proksi dan model kualitas audit. Diharapkan
penelitian ini memberikan manfaat bagi berbagai pihak terutama :
1. Peneliti.
Diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang variabel-variabel yang
diteliti dan juga bisa mengaplikasikannya.
2. Akademisi
Diharapkan dapat menjadi bahan literature mengenai kualitas audit yang
3. Praktisi.
Diharapkan dapat menjadi penunjuk bagi manajemen dalam pemilihan
auditor guna kepentingannya maupun pemegang saham (pemilik) dan
menjadi bahan evaluasi bagi profesi akuntan tentang kualitas jasa audit yang
diberikan guna perbaikan di masa yang akan datang.
4. Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat menjadi acuan ataupun referensi dan salah satu sumber
informasi penelitian selanjutnya mengenai pembahasan kualitas audit.
Selain itu, diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi kreditor
dan investor dalam pengambilan kepurusan tentang kualitas baik yang diberikan
oleh auditor yang big dan non big sehingga dapat terjalin kerja sama yang saling
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)
Dalam jurnal Mirna dan Indria (2011), Jensen dan Meckling (1976) menggambarkan hubungan agensi sebagai suatu kontrak di bawah satu atau lebih prinsipal yang melibatkan agen untuk melaksanakan beberapa layanan bagi mereka dengan melakukan pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada agen. Shareholders atau prinsipal mendelegasikan pembuatan keputusan mengenai perusahaan kepada manajer atau agen.
Hubungan keagenan itu hubungan yang timbul apabila principal
memberikan mandat kepada agen untuk melaksanakan pekerjaan dan
principal memberikan wewenang di dalam pengambilan keputusan kepada
agen tersebut.
Dalam kenyataannya, manajer tidak selalu bertindak sesuai dengan
keinginan shareholders. Salah satu penyebabnya adalah moral hazard.
Menurut Indria (2011) “Moral hazard adalah tindakan yang dilakukan manajer tidak sepenuhnya diketahui oleh pemegang saham”. Manajer bisa
melakukan tindakan melanggar kontrak antara manajemen dengan
pemegang saham.Manajer melakukan moral hazard karena adanya kondisi
asymmetry information antara manajeman dengan pemegang saham, yang
dibutuhkan pihak ketiga yang independen sebagai mediator antara
principal dan agen. Pihak ketiga ini berfungsi memonitori perilaku
manajer sebagai agen dan memastikan bahwa agen bertindak sesuai
dengan kepentingan principal. Auditor adalah pihak yang dianggap
mampu menjembatani kepentingan pihak principal (shareholders) dengan
pihak manajer sebagi bentuk pertanggungjawabannya pada pemegang
saham. Tugas auditor adalah memberikan opini atas kewajaran laporang
keuangan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku umum, disamping
pertimbangan professional auditor akan kelangsungan hidup perusahaan di
masa yang akan datang.
Penggunaan auditor eksternal yang independen untuk meverifikasi
data-data akuntansi yang dilaporkan oleh manajemen merupakan
mekanisme yang didorong oleh pasar dengan tujuan untuk mengurangi
agency cost. Manajemen perusahaan selalu berupaya memberikan
kepuasan kepada keinginan investor dengan memlih auditor yang dapat
merefleksikan citra manajer yang baik dimata investor. Hal ini berarti
kualitas pelayanan jasa auditor yang diberikan terhadap klien menjadi
dasar pertimbangan utama di dalam menyeleksi auditor.
Auditor dituntut untuk menjaga independensi dan memiliki
kepentingan untuk mempertahankan atau meningkatkan jasa auditnya
dengan memenuhi keinginan klien audit, terutama klien jangka panjang ,
Ketergantungan ekonomi dapat menjadi factor utama penyebab adanya
insentif untuk bekerja sama dengan manajemen yang curang. Ditinjau dari
sudut ini , maka perikatan audit jangka panjang akan terjalin hubungan
kedekatan dan loyalitas antara auditor dank lien. Apabila penugasan
auditor yang sekarang diperthankan dalam jangka waktu yang lama di
masa depan, maka memungkinkan auditor tersebut menjadi merasa
nyaman, sehingga obyektivitas audit akan terganggu.
2.1.2 Kualitas Audit
Menurut I Gusti (2008;29), “secara sederhana, audit (auditing) adalah kegiatan membandingkan suatu kriteria (apa yang seharusnya) dengan kondisi (apa yang sebenarnya terjadi)”.
Audit berkaitan erat dengan akuntabilitas dan atesti. Akuntabilitas
berkaitan dengan kewajiban pihak dalam organisasi untuk melaporkan
pertanggungjawabannya kepada pihak eksternal atau pihak lain dengan
kewenangan yang lebih tinggi. Untuk menjamin keandalan informasi
dalam laporan akuntabilitas tersebut, dibutuhkan pihak yang independen
untuk memberikan atestasi atas informasi tersebut denga cara melakukan
audit.
Unsur-unsur penting yang terdapat di dalam auditing menurut Mulyadi (2002:9) yaitu:
1. Suatu proses sistematik.
4. Menetapkan tingkat kesesuaian, kriteria yang telah ditetapkan, penyampaian hasil, dan pemakai yang berkepentingan.
Menurut I Gusti (2008;31) Audit dikelompokkan menjadi tiga yaitu: 1. Audit laporan keuangan
Audit keuangan yaitu audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Audit Kinerja
Audit kinerja adalah audit yang dilakukan secara objektif dan sistematis terhadap berbagai macam bukti untuk menilai kinerja entitas yang diaudit dalam hal ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja dan entitas yang diaudit dan meningkatkan akuntabilitas publik.
3. Audit dengan Tujuan Tertentu
Audit dengan tujuan tertentu adalah audit khusus, diluar audit keuangan dan audit kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas hal yang diaudit.
Sedangkan kualitas audit itu sendiri menurut (DeAngelo, 1981)
dalam (Ni Made & I Made, 2014) “merupakan adanya kecenderungan auditor akan mendeteksi adanya fraud yang terdapat dalam laporan keuangan klien”.
2.1.3 Auditor Industry Specialization
Auditor yang memiliki spsialisasi di bidang tertentu dalam
melakukan audit laporan keuanan kliennya memiliki pemahaman dan
pegetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor yang tidak
memiliki spesialisasi di suatu industry apabila auditor tersebut telah
mengikuti pelatihan-pelatihan yang berfokus pada suatu industry tertentu.
GAO (Government Accountability Officer ) menyimpulkan bahwa
auditor spesialisasi industri ikut bertanggung jawab atas tingginya tingkat
konsentrasi auditor di banyak industri.
Ketatnya persaingan dan kompetisi dalam profesi akuntan publik
serta adanya peraturan akuntansi yang baru dalam industri tertentu, setiap
Kantor Akuntan Publik (KAP) mencari cara untuk membedakan diri
mereka dengan kompetitor yang lain. Salah satunya adalah dengan
menyusun divisi audit mereka sesuai dengan jenis industri. Menurut Kirana (2013) “auditor spesialisasi industry cenderung melakukan
investasi yang lebih besar dalam rekrutmen pegawai, pelatihan, teknologi
informasi dan teknologi audit daripada auditor non spesialisasi industry”. Auditor spesialisasi industri memberikan beberapa keuntungan
terhadap Kantor Akuntan Publik (KAP), diantaranya dapat meningkatkan
pangsa pasar dan keuntungan sebagai return dari investasi dalam
spesialisasi serta menjaga pangsa pasar dalam lingkungan yang bersaing.
Auditor spesialisasi industri dapat melakukan pekerjaaan mereka dengan
kualitas yang lebih tinggi karena kemampuan mereka untuk mengenali
2.1.4 Audit Tenure
Menurut (Nurul,Nur, azlina, 2012) “audit tenure adalah jangka waktu perikatan yang terjalin antara KAP dengan auditee yang sama”
Auditor mempunyai kepentingan untuk mempertahankan atau
bahkan meningkatkan opini dari jasa auditnya dengan memenuhi
keinginan klien, terutama klien jangka panjang untuk menjamin
kelanjutan dari audit tenure. Audit tenure jangka panjang akan membuat
kedekatan dan loyalitas antara auditor dan klien karena auditor akan
merasa nyaman dengan klien tersebut. Hal ini dapat menurunkan
obyektifitas audit dan independensi auditor sehingga akan berdampak
pada hasil dan kualitas audit.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, ada dua
faktor utama yang memicu timbulnya hubungan yang negatif antara
auditor-klien dan kualitas audit yaitu pengikisan independensi yang
mungkin muncul seiring dengan berkembangnya hubungan pribadi antara
auditor dan klien mereka serta berkurangnya kapasitas auditor untuk
memberikan penilaian kritikal. Sedangkan Dao et all (2008) dalam Sinaga
(2012) menyatakan “hubungan yang lama antara perusahaan dengan kantor akuntan dapat mengarahkan pada kedekatan antara kantor akuntan
2.1.5 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan gambaran besar atau kecilnya suatu
perusahaan yang ditentukan dengan batas-batas tertentu yang sudah
ditentukan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan berbagai cara, antara
lain total aset, nilai pasar, dan penjualan perusahaan. Pengukuran dengan
menggunakan total aset digunakan sebagai proksi ukuran perusahaan
dengan mempertimbangkan bahwa nilai aset relatif lebih stabil
dibandingkan dengan nilai pasar dan penjualan.
Menurut Sugiarto (2009:), “semakin besar perusahaan semakin baik aksesnya ke pasar modal, namun juga memiliki biaya meminjam lebih rendah”. Perusahaan yang berukuran besar memiliki basis pemegang
kepentingan yang lebih luas, sehingga berbagai kebijakan perusahaan
besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik
dibandingkan dengan perusahaan kecil. Oleh karena itu, perusahaan yang
berukuran besar lebih dikenal oleh masyarakat dan melibatkan lebih
banyak pihak dalam kegiatan operasi perusahaan.
Selain itu, perusahaan yang memiliki total aset yang besar
menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan,
dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap
memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain
mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total aset yang
kecil.
2.1.6 Independensi Auditor
Menurut Siti dan Ely (2010:13) auditor independen ialah orang yang bertanggung jawab atas audit laporan keuangan historis auditee-nya. Independen dimaksudkan sebagai sikap mental auditor yang memiliki integritas tinggi, obyektif pada permasalahan yang timbul dan tidak memihak pada kepentingan manapun.
Sedangkan Independensi menurut Mulyadi (2002:26-27) “dapat diartikan sebagai sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain”.
Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam
mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak
memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan
pendapatnya.
Dalam kenyataannya auditor seringkali menemui kesulitan dalam mempertahankan sikap mental independen. Keadaan yang seringkali mengganggu sikap mental independen auditor adalah sebagai berikut (Mulyadi, 2002:27) :
1. Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor dibayar oleh kliennya atas jasanya tersebut.
2. Sebagai penjual jasa seringkali auditor mempunyai kecenderungan untuk memuaskan keinginan kliennya.
Standar umum audit yang kedua menyatakan bahwa “dalam semua
hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”.(SA Seksi 220). Standar ini
mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah
dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan
umum. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen
dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance).
2.2 PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian yang dilakukan Ni Made dan I Made (2014) tidak menemukan
adanya pengaruh signifikan masa perikatan audit terhadap kualitas audit yang
dihasilkan, hal tersebut berarti masa perikatan yang panjang belum tentu
menghasilkan hasil audit yang lebih baik disbanding masa perikatan yang lebih
singkat. Namun dalam penelitian Yugotian (2011) menemukan pengaruh positif
dan signifikan masa perikatan audit terhadap kualitas audit yang dihasilkan.
Pada penelitian Dinda Ayu Kartikasari (2012) yang menggunakan
beberapa pengukuran menemukan adanya hubungan kuadratik antara tenure AP
dan kualitas audit pada model Kaznik periode sebelum regulasi, tenure AP
berhungan linier positif dengan kualitas audit pada model Modified Jones dan
Dechow periode sebelum regulasi, sedangkan tenure KAP berhubungan linier
yang dilakukan oleh Daud M.T Sinaga (2012) menyatakan bahwa audit tenure
tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
Dalam hal auditor spesialis industri yang dikutip dari Indria (2011)
penelitian yang dilakukan oleh Ohwoso (2002) “menjelaskan bahwa manajer dan senior audit spesialis akan lebih baik dalam mendeteksi terjadinya kesalahan jika mereka diberikan tugas audit sesuai dengan spesialisasi mereka”. Dan dari
penelitian Almutairi et al (2009) “diperoleh kesimpulan bahwa terjadi penurunan
peluang terjadinya private information yang terdapat pada perusahaan yang
diaudit oleh auditor spesialis, yang dikarenakan peningkatan disclosure dan kualitas audit”.
Penelitian tentang pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas audit
juga dilakukan Daud (2012) yang menghasilkan adanya pengaruh signifikan
ukuran perusahaan terhadap kualitas audit. Penelitian Ni Made dan I Made
(2014) menyatakan adanya pengaruh positif ukuran perusahaan terhadap
kualitas audit..
Adapun perbedaan penelitian ini dari penelitian sebelumnya yaitu tahun
penelitian yang dilakukan, penelitian ini dilakukan antara tahun 2011-2013 pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan lain
yakni cara pengukuran variabel dependennya, Daud M.T Sinaga menggunakan
penelitian ini menggunakan proksi ukuran KAP Big Four dan Non Big Four
sebagai pengukuran kualitas audit.
Adapun persamaan penelitian ini dengan beberapa penelitian terdahulu
yakni dengan menggunakan kualitas audit sebagai variabel dependen (terikat),
audit tenure dan auditor spesialis industry sebagai variabel independennya
(bebas).
2.3PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.3.1 Auditor Industry Specialization
Ada beberapa alasan suatu perusahaan memberikan informasi ke
pasar modal. Salah satunya adalah untuk mengurangi asimetri informasi.
Semakin rendah asimetri informasi maka semakin tinggi likuiditas pasar
dari perusahaan tersebut. Untuk mendukung hal tersebut maka disini
dibutuhkan peran auditor untuk mengaudit laporan keuangan yang
digunakan sebagai media penyampaian informasi agar informasi yang
disajikan baik. Semakin baik informasi menunjukkan kualitas audit yang
baik juga.
Auditor dengan spesialisasi industri dipandang sebagai auditor
yang memberikan audit dengan kualitas tinggi karena memiliki
pengetahuan tentang industri tertentu dan juga dapat mengaudit lebih
efisien melalui spesialisasinya. Auditor spesialisasi industri memberikan
kontribusi positif terhadap kredibilitas auditor. Seorang auditor akan lebih
baik dalam mendeteksi kesalahan jika mereka diberikan tugas audit sesuai
dengan spesialis mereka sehingga dapat meminimalisasi terjadinya
asimetri informasi.
Penelitian sebelumnya menemukan adanya hubungan positif antara
auditor spesialis dengan kualitas audit. Owhoso (2002) yang dikutip dalam
jurnal Indria (2011) menjelaskan “bahwa manajer dan senior audit spesialis akan lebih baik dalam mendeteksi terjadinya kesalahan jika
mereka diberikan tugas audit sesuai dengan spesialisasi mereka”.
Atas dasar paparan diatas, maka hipotesis pertama dalam
penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
H1 : Auditor Industry Specialization berpengaruh terhadap kualitas
audit.
2.3.2 Audit Tenure
Manajer (agent) sebagai pengelola perusahaan lebih banyak
datang dibandingkan pemilik (principals). Ketimpangan informasi ini
biasa disebut sebagai asymetri information. Baik pemilik maupun agen
diasumsikan mempunyai rasionalisasi ekonomi dan semata-mata
mementingkan kepentingannya sendiri. Agen mungkin takut
mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik, sehingga
terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan tersebut.
Berdasarkan asumsi tersebut, maka dibutuhkan pihak ketiga yang
independen untuk menjembataninya, dalam hal ini adalah akuntan publik
(auditor).
Hal utama yang mendukung adanya hubungan negative antara
lamanya penugasan audit dengan kualitas audit yaitu erosi independensi
yang mungkin mucul akibat tumbuhnya hubungan pribadi antara auditor
dengan kliennya dan semakin lamanya penugasan audit, kapabilitas
auditor untuk bersikap kritis akan berkurang karena auditor sudah terlalu
familiar. Auditor harus menyadari berbagai tekanan yang bermaksud
mempengaruhi perilakunya dan sedikit demi sedikit akan mengurangi
independensinya. Hubungan pribadi yang semakin panjang akan
memunculkan ikatan loyalitas atau emosi yang akan mempengaruhi
independensi dan objektivitas auditor. Kondisi yang paling ekstrem yaitu
timbulnya familiaritas berlebihan yang akan mendorong terjadinya kolusi
Terlepas dari hubungan negatif lamanya penugasan audit juga
dapat memberikan hubungan positif. Fitriany (2011) dalam jurnal Indria (2011) “menyatakan bahwa kualitas audit akan meningkat seiring dengan
bertambahnya tahun perikatan (tenure) audit. Hal ini dikarenakan auditor
akan mendapatkan pengalaman lebih banyak dan menjadi lebih familiar dengan bisnis operasi kliennya serta isu-isu terkait”.Lamanya penugasan
audit dapat meningkatkan kualitas audit dengan berbagai alasan dan
pengetahuan tentang klien dan industri yang diperoleh setelah audit
selama berulang-ulang akan meningkat, sehingga dapat meningkatkan
kualitas audit.
Atas dasar paparan diatas, maka hipotesis kedua dalam penelitian
ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
H2 : Audit Tenure berpengaruh terhadap kualitas audit.
2.3.3 Ukuran Perusahaan
Selain oleh efek ukuran KAP, kualitas audit juga dapat
dipengaruhi oleh ukuran perusahaan Klien. Auditee yang lebih besar,
karena kompleksitas operasi mereka dan peningkatan pemisahan antara
manajemen dan kepemilikan, sangat memerlukan KAP yang dapat
Selain itu, menurut (Palmrose, 1984) dalam Sinaga (2012) “seiring dengan ukuran perusahaan mengalami peningkatan, kemungkinan
bahwa jumlah konflik agensi juga meningkat dan ini mungkin akan
meningkatkan permintaan untuk membedakan kualitas auditor”. Berdasarakan argumen tersebut, perusahaan besar pastinya akan lebih
memilih menggunakan jasa auditor besar yang independen dan profesional
untuk menciptakan audit yang berkualitas sehingga timbul hubungan yang
positif.
Perusahaan besar memiliki sistem pengendalian internal yang lebih
baik dibandingkan perusahaan kecil. Dari sudut pandang Perceived
Quality, ketika baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil
memperoleh tingkat kepercayaan yang sama dari pengguna laporan
keuangan bahwa laporan keuangan mereka telah bebas dari salah saji
material, bagi perusahaan kecil tingkat kepercayaan ini menjadi lebih
efektif. Outcome yang diperoleh perusahaan kecil ketika output
(kepercayaan pengguna laporan keuangan) telah dicapai lebih besar
dibandingkan perusahaan besar. Bagi perusahaan kecil, kepercayaan
pengguna laporan keuangan bukan hanya mampu mempromosikan
investasi mereka, namun tentu saja membuat perusahaan mereka lebih
diperhatikan publik dan investor. Sedangkan, bagi perusahaan besar yang
sudah menjadi perhatian dan sorotan publik, tingkat kepercayaan ini hanya
Perceived Quality, jasa audit pada perusahaan kecil lebih berkualitas
dibandingkan dengan perusahaan besar dan tercipta hubungan negatif.
Berdasarkan pemaparan dan perbedaan perspektif diatas, maka
hipotesis ketiga dapat dinyatakan sebagai berikut :
H3 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas audit
2.3.4 Independensi Auditor
Standar Umum kedua dalam SA seksi 220 menyatakan “Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”. Standar ini mengharuskan
auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia
melaksanakan perkerjaannya untuk kepentingan umum.
Tidak hanya soal kompetensi, auditor dituntut untuk senantiasa
mempertahankan sikap mental independen di dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawab yang diberikan. Independensi berarti sikap mental
yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, dan tidak
tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran
dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya
pertimbangan yang objektif dalam merumuskan dan menyatakan
Menurut Mulyadi (2002:62) “sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) dan independen dalam penampilan (in appearance)”. Independence in fact menuntut auditor agar
membentuk opini dalam laporan audit seolah-olah auditor itu pengamat
profesional, tidak berat sebelah. Independence in appearance menuntut
auditor untuk menghindari situasi yang dapat membuat orang lain mengira
bahwa dia tidak mempertahankan pola pikiran yang adil.
Selain harus mampu mempertahankan sikap mental independen, auditor juga diharapkan sebisa mungkin menghindari keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan independensinya. Dengan demikian, disamping auditor harus benar-benar independen, ia masih juga harus menimbulkan persepsi di kalangan masyarakat bahwa ia benar-benar independen. (Mulyadi, 2002:27).
Terlepas dari banyaknya ancaman dan fenomena yang dapat
mempengaruhi independensinya, seorang auditor harus mampu bersikap
profesional sehingga terjaminnya independensi dengan sendirinya juga
menciptakan kualitas audit yang lebih baik.
Namun dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Lauw Tjun
Tjun dkk yang dilakukan di KAP Jakarta menghasilkan bahwa tidak
adanya pengaruh signifikan independensi auditor dengan kualitas audit
yang dihasilkan. Di sisi lain, penelitian tersebut bertentangan dengan
pendapat De Angelo bahwa kemungkinan dimana auditor akan
Berdasarkan pemaparan dan perbedaan perspektif diatas, maka
hipotesis ketiga dapat dinyatakan sebagi berikut:
H4 : Independensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit.
H5 : Auditor industry specialization, audit tenure, ukuran perusahaan,
2.4 KERANGKA PEMIKIRAN
Berdasarkan penjelasan diatas, maka kerangka pemikiran teoritis dapat
digambarkan sebagai berikut :
H1
H2
H3
H4
H5
Gambar 2.1 : Kerangka Pemikiran Penelitian
Audit Tenure (X2)
Ukuran Perusahaan (X3)
Independensi Auditor (X4)
Auditor Industry Specialization (X1)
Kualitas
Audit
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Jenis Penelitian
Penelitian ini digolongkan pada penelitian kausatif. Penelitian kausatif
merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab
akibat antara dua variabel atau lebih. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk
melihat bagaimana pengaruh suatuvariabel terhadap variabel lainnya.
3.2Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang tercatat dalam
Bursa Efek Indonesia (BEI). Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul
data dan telah dipublikasikan secara umum kepada masyarakat dan bersumber
dari www.idx.co.id. Data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan
tahunan perusahaan manufaktur periode tahun 2011-2013. Waktu penelitian
dimulai dari Februari 2015 sampai dengan penelitian ini selesai.
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.3.1 Variabel Penelitian
variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain.
Sedangkan variabel dependen ialah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen”. (Nur , Bambang, 2002:63).
Penelitian ini menguji pengaruh Auditor Industry Specialization,
Audit Tenure, Kompetensi, dan Independensi Auditor terhadap Kualitas
Audit pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI. Variabel
independen dari penelitian ini adalah Auditor Industry Specialization, Audit
Tenure, Ukuran Perusahaan, dan Independensi Auditor, sedangkan variabel
dependen yang digunakan adalah kualitas audit.
3.3.2 Definisi Operasional
Definisi Operasional dari variabel-variabel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
3.3.2.1 Kualitas Audit
Seperti dalam penelitian Welvin dan Arleen (2010) “Variabel
kualitas audit dalam penelitian ini diukur melalui proksi ukuran KAP”. Semakin besar ukuran KAP maka kualitas audit yang
dihasilkan semakin tinggi. Variabel dummy dalam penelitian ini adalah
KAP Big Four dan non Big Four, auditor yang termasuk KAP Big
KAP BIG FOUR DI INDONESIA
Osman Bing Satrio & Rekan Delloitte Touche Tohmatsu
Tanudiredja, Wibisana & Rekan Price Waterhouse Coopers
Siddharta & Widjaja KPMG
Purwantono, Suherman & Surja Ernst & Young
Sumber: Penelitian Chrisnoventie
3.3.2.2 Auditor Industry Specialization
Menurut jurnal Noviatara Dwi Putri, Etna (2013), “auditor spesialisasi industri diidentifikasi dengan market share dalam suatu industry”, yaitu sebagai berikut :
Auditor spesialisasi industri :
Total perusahaan yang diaudit auditor yang sama pada sub industri tertentu Total perusahaan pada sub industri tersebut
Dimana auditor dari Kantor Akuntan Publik (KAP) yang
memiliki lebih dari 20% market share di industri tertentu maka
diklasifikasikan sebagai spesialis industry untuk industri tertentu.
yang diaudit oleh auditor spesialisasi industri dan angka 0 untuk
perusahaan yang diaudit oleh auditor non spesialisasi industri.
3.3.2.3 Audit Tenure
Di Indonesia sendiri, peraturan yang mengatur tentang audit
tenure adalah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik pasal 3. Peraturan ini
mengatur tentang “Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam)
tahun buku berturut-turut, dan oleh seorang akuntan publik paling
lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Akuntan publik dan
kantor akuntan dapat menerima kembali penugasan audit umum untuk
klien setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut”.
Variabel audit tenure diukur dengan menghitung jumlah tahun
sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) mengaudit laporan keuangan
sebuah perusahaan secara berturut-turut.
3.3.2.4Ukuran Perusahaan
Ukuran Perusahaan Klien merupakan besarnya ukuran
perusahaan yang diukur berdasarkan total aset. Semakin besar total
tersebut besar, begitu juga sebaliknya. “Variabel ini dihitung dengan menggunakan logaritma atas jumlah aset perusahaan” (Januar dan
Farid, 2014).
3.3.2.5 Independensi Auditor
“Independensi dapat diartikan sebagai sikap mental yang bebas
dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung
pada orang lain”.(Mulyadi, 2002:26-27).
Dalam jurnal Welvin dan Arleen (2010), “Independensi auditor melalui proksi lama penugasan audit diukur menggunakan
skala nominal dengan variabel dummy”. Angka 1 digunakan untuk
mewakili perusahaan yang menggunakan auditor yang sama dalam 3
tahun, yang berarti tidak memiliki sikap independen, sedangkan angka
0 digunakan untuk perusahaan yang mengganti auditornya dalam
waktu kurang dari 3 tahun yang berarti memiliki sikap independen.
3.4 Populasi dan Sampel
Menurut Nur dan Bambang (2002;115) “Populasi merupakan
sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang memiliki karakteristik
Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode
2006-2010. Sektor manufaktur dipilih karena memiliki jumlah perusahaan yang listing
paling banyak dibandingkan dengan industri lain, untuk menghindari terjadinya
industrial effect yaitu resiko yang berbeda antara suatu sektor industri yang satu
dengan yang lain, serta dikarenakan perusahaan-perusahaan yang termasuk di
dalamnya memiliki tingkat financial risk yang beragam sehingga penting untuk
diteliti bagaimana kualitas jasa audit yang diberikan.
Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode
purposive sampling. Purposive Sampling merupakan teknik pemilihan sampel
yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Sampel yang dipilih memiliki kriteria
sebagai berikut :
1. Selama periode penelitian (2011-2013), perusahaan (auditee) tidak
keluar (delisting) dari BEI.
2. Memiliki minimal 5 perusahaan dalam satu sub industri (untuk
memenuhi kriteria variabel Auditor Industry Specialization).
3. Menerbitkan Laporan Tahunan (Annual Report) dan menyertakan
Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh auditor selama periode
penelitian (2011-2013).
4. Penyajian laporan keuangannya menggunakan mata uang rupiah.
5. Terdapat kelengkapan data yang diperlukan, antara lain auditor yang
84. POLY Asia Pasific Fibers Tbk √ √ √ x -
SCCO Supreme Cable Manufacturing and
128. KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk √ x - - -
129. KICI Kedaung Indag Can Tbk √ x - - -
130. LMPI Langgeng Makmur Industry Tbk √ x - - -
Dari populasi diatas maka sampel yang didapat dalam penelitian ini
sebanyak 47 perusahaan. Namun dikarenakan adanya variabel auditor
spesialis industri (minimal 5 perusahaan dalam satu industri), maka ada
beberapa perusahaan yang tidak memenuhi kriteria tersebut dan akhirnya
menghasilkan 37 perusahaan yang memenuhi semua kriteria, yang akan
ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel 3.2 Sampel
No. Sub Industri Kode Nama Perusahaan
1.
Industri Keramik, Porselen, dan Kaca
AMFG Asahimas Flat Glass Tbk
2. ARNA Arwana Citra Mulia Tbk
3. IKAI Inti Keramik Alam Asri Industri Tbk
4. KIAS Keramika Indonesia Assosiasi Tbk
5. MLIA Mulia Industrindo Tbk
6. TOTO Surya Toto Indonesia Tbk
7.
Logam dan sejenisnya
ALKA Alaska Industrindo Tbk
8. ALMI Alumindo Light Metal Industry Tbk
9. INAI Indal Aluminium Industry Tbk
10. JPRS Jaya Pari Steel Tbk
11. LION Lion Metal Works Tbk
12. LMSH Lionmesh Prima Tbk
13. PICO Pelangi Indah Canindo Tbk
14.
Kimia
BUDI PT. Budi Starch & Sweetener Tbk
15. DPNS Duta Pertiwi Nusantara
16. ETWA Eterindo Wahanatama Tbk
17. INCI Intan Wijaya International Tbk
18. SRSN Indo Acitama Tbk
19.
Plastik & Kemasan AKKU Alam Karya Unggul Tbk
21. BRNA Berlina Tbk
22. SIAP Sekawan Intipratama Tbk
23. TRST Trias Sentosa Tbk
24. YPAS Yana Prima Hasta Persada Tbk
25.
Otomotif dan Komponen
ASII Astra International Tbk
26. AUTO Astra Otoparts Tbk
27. IMAS Indomobil Sukses International Tbk
28. INDS Indospring Tbk
29. LPIN Multi Prima Sejahtera Tbk
30. NIPS Nippres Tbk
31. PRAS Prima alloy steel Universal Tbk
32. SMSM Selamat Sempurna Tbk
33.
Kabel
JECC Jembo Cable Company Tbk
34. KBLI KMI Wire and Cable Tbk
35. KBLM Kabelindo Murni Tbk
36. SCCO Supreme Cable Manufacturing and
Commerce Tbk
37. VOKS Voksel Electric Tbk
3.5Jenis dan Sumber Data
Pada umumnya di dalam suatu penelitian terdiri dari dua data, yaitu data
primer dan data sekunder.
Adapun dalam penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan
tahunan atau annual report yang diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia
(BEI) pada www.idx.co.id , mencatat data dari arsip/buku yang diperoleh dari
perpustakaan Universitas Sumatera Utara, dan juga menggunakan studi
kepustakaan yaitu dengan membaca, mempelajari skripsi, jurnal yang
berhubungan dengan penelitian.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini
adalah dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji
data sekunder yang berupa laporan keuangan auditan dari perusahaan
manufaktur yang listing dan dipublikasikan oleh BEI pada tahun 2011-2013.
3.7 Metode Analisis Data
3.7.1 Statistik Deskriptif
Menurut Teguh Wahyono (2008;69) “Kegiatan statistik deskriptif meliputi pengumpulan data, pengelompokan data, penentuan nilai dan
fungsi statistic”. Dalam hal ini, statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar
deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness
(kemencengan distribusi), sehingga secara kontekstual dapat lebih mudah
3.7.2 Uji Asumsi Klasik
Menurut Syafrizal dan Muslich (2011;100) “Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistic yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier
yang berbasis ordinary least square (OLS)”. Uji asumsi klasik dilakukan sebelum melakukan analisis regresi, karena uji asumsi klasik bertujuan
untuk mengetahui hubungan antar variabel dalam data.Pengujian asumsi
klasik dilakukan dengan uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.Regresi
logistik tidak memerlukan pengujian normalitas data sebab variabel
independennya merupakan campuran antara variabel kontinyu (metrik)
dan kategorial (non-metrik) sehingga tidak berdistribusi normal Regresi
logistik juga mengabaikan uji Heterokedastisitas karena variabel dependen
tidak memerlukan homokedastisitas untuk variabel independennya.
3.7.2.1Uji Multikolinieritas
“Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)”
(Ghozali, 2005:91). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya
multikolinieritas di dalam model regresi dapat dilihat dari nilai
tolerance (tolerance value) dan nilai Variance Inflation Factor (VIF).
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel bebas manakah yang
VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas
pada penelitian tersebut. Dan sebaliknya jika tolerance < 0,10 dan VIF
> 10, maka terjadi gangguan multikolinieritas pada penelitian tersebut
.
3.7.2.2Uji Autokorelasi
Dalam Ghozali (2005:95) “Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan
pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada
periode t-1(sebelumnya)”. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang
berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu sama lainnya.. Uji yang
digunakan dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada tidaknya
autokorelasi adalah dengan menggunakan uji Run Test. Run Test
dapat digunakan juga untuk menguji apakah antar residual terdapat
korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan
korelasi maka dikatakan bahwa residual adalah acak atau random. Run
Test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara
random atau tidak (sistematis).
H0 : residual (res_1) random (acak)
3.7.3 Analisis Regresi Logistik
Menurut Syafrizal dan Muslich (2011;209) “regresi logistik ialah bagian dari analisis regresi yang digunakan ketika variabel dependen
(respon) merupakan variabel dikotomi”. Regresi logistic digunakan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat dapat diprediksi
dengan variabel bebasnya. Hasil Analisis Regresi adalah berupa koefisien
untuk masing-masing variabel independen. Koefisien ini diperoleh dengan
cara memprediksi nilai variabel dependen dengan suatu persamaan.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
regresi logistik (logistic regression), yaitu untuk melihat pengaruh Auditor
Industry Specialization, Audit Tenure, Ukuran Perusahaan, Independensi
Auditor terhadap kualitas Audit pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Persamaan Model Regresi yang digunakan adalah sebagai berikut :
Keterangan :
KUALITAS = Kualitas Audit (diproksikan dengan ukuran KAP
dan menggunakan variabel dummy , 1 untuk
perusahaan yang diaudit Big Four dan 0 untuk yang
non-Big Four).
a = Konstanta
β = koefisien regresi
AIS = Auditor Industry Specialization
AT = Audit Tenure
UP = Ukuran Perusahaan
INDEPENDENSI = Independensi Auditor
∈ = Standar error
3.7.3.1 Uji Kelayakan Regresi
Pengujian kelayakan model regresi logistik dapat dilakukan
dengan menggunakan goodness of fit test, yang pengukurannya
menggunakan chi-square pada bagian bawah uji hosmer and lemeshow’s. Output dari Hosmer dan Lemeshow, dengan hipotesis:
H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data