1 SKRIPSI
PENGARUH AUDITOR SPESIALIS INDUSTRI UKURAN KAP AUDITOR TENURE DAN INDEPENDENSI AUDITORTERHADAP MANAJEMEN LABAPADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH
HADIATMAN SINAGA
130522076
DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
i LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul ”Pengaruh Auditor spesialis industry Ukuran
KAP auditor tenureindependensi auditorterhadap Earnings Management pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” adalah benar hasil
karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan
beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga,
dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau
dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan
ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam
skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Medan, 1 Mei 2015 Yang membuat Pernyataan
Hadiatman sinaga 130522076
ii PENGARUH AUDITOR SPESIALIS INDUSTRI UKURAN KAP AUDITOR TENUREDAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP EARNINGS MANAGEMENTPADAPERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTARDI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh auditor spesialis industry ukuran KAP auditor tenure dan independensi auditorterhadap manajemen laba riil baik secara parsial maupun simultan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah auditor spesialis industry ukuran KAP auditor tenure dan independensi auditor, sedangkan variabel dependennya adalah manajemen laba riil.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2010-2013 sebanyak 131 perusahaan. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling dan diperoleh 36 perusahaan sampel yang menjadi objek penelitian dengan 144 unit analisis. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan, auditor spesialis industry ukuran KAP auditor tenuredan independensi auditor memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riil, sedangkan secara parsial auditor spesialis industry berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba riil, ukuran KAP berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba riil ,auditor tenure berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba riil dan independensi auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riil.
Kata Kunci: Auditor spesialis industri, ukuran KAP, auditor spesialisasi industri, auditor tenure, Independensi auditor, manajemen laba riil.
iii THE INFLUENCE AUDITOR INDUSTRY SPECIALIZATION THE FIRM
SIZE AUDITOR TENURE INDEPENDENCY AUDITOR TOWARDS EARNINGS MANAGEMENT ON MANUFACTURE COMPANIES LISTED IN
INDONESIA STOCK EXCHANGE
This study aims to determine whether there is influence between auditor industry specialization the firm size auditor tenureand independency auditor on real earnings management both partially and simultaneously on the manufacture companies listed on Indonesia Stock Exchange during period 2010 to 2013. Variables used in this study is auditor industry specialization the firm size auditor tenure and independency auditor as independent variable, whereas real earnings management as dependent variable.
The population used in this study is the manufacture companies listed om Indonesia Stock Exchange (BEI) during the period 2010 to 2013 as many as 131 manufacture companies. Sampling method that used is purposive sampling and there are 36 sample companies that will be research objects with 144 unit analysis. An analytical technique used in this research is multiple regression analysis.
The result of this study indicate that simultaneously auditor industry specialization the firms size auditor tenure and independency auditor have a positive and significant influences on real earnings management. In partially, auditor industry specialization has a negative and significant influence on real earnings management, the firm size has a positive and significant influence on real earnings management,auditor tenure has positive and significant influence on real earnings management and independency auditor has positive and significant influence on real earnings management
Keyword: Audit quality, the firm size, auditor industry specialization, auditor tenure, real earnings management
iv Puji dan Syukur Atas kehadirat AtasAllah swt Tuhan atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Auditor
spesialis industri ukuran KAP auditor tenure dan independensi auditor terhadap
manajemen laba pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2010-2013”. Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran,
motivasi dan doa dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec. Ac, Ak, CA Selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak selaku Ketua Departemen
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU dan Bapak Drs. H. Hotmal Ja’far,
MM, Ak. Selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
USU.
3. Bapak Drs. Firman Syarif, Msi., Ak. Selaku Ketua Prodi Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis USU dan Ibu Dra. Mutia Ismail, MM, Ak. Selaku Sekretaris
Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU.
4. Bapak Drs. Sucipto, MM, Ak. Selaku Dosen Pembimbing yang telah memberi
bimbingan, arahan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses
v 5. Ibu Dra. Nurzaimah, MM, Ak. selaku Dosen Pembanding yang telah
memberikan arahan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses
penyelesaian skripsi ini.
6. Bapak Drs. Firman syarif, M.si, Ak. selaku Dosen Penguji yang telah
memberikan arahan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses
penyelesaian skripsi ini.
7. Kedua orangtua tercinta, Alm ayahanda Sauman sinaga dan Ibunda Rosti
Silalahi terima kasih atas dukungan dan doa serta kasih sayang yang telah diberikan
selama ini kepada penulis.
8. Kepada kakak, abang dan adik Sarma sinaga, Ali sadar sinaga, Lasma tabena
sinaga , fitriyani sinaga dan sahabat seperjuangan Muhammad rizky, Tohiruddin,
Dwi Mayasari, Seftin Syaputra, Fadlan, Abdil, Gito, Tripuji, Camai, Elida, Dini,
Zetya,atas dukungan yang tiada henti diberikan kepada saya dalam pengerjaaan
skripsi saya.
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini bisa bermanfaat bagi semua pihak.
Medan,April2015
Penulis
Hadiatman sinaga
vi DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 11
2.1 Landasan Teoritis ... 11
2.1.1 Teori Agensi ... 11
2.1.2 Manajemen laba ... 14
2.1.2.1 Definisi Manajemen Laba ... 14
2.1.2.2 Manajemen Laba Riil ... 18
2.1.3 Auditor spesialis industri ... 21
2.1.4. Ukuran KAP ... 22
2.1.5 Auditor tenure ... 24
2.1.6 Independensi auditor ... 26
2.2. Review Penelitian Terdahulu ... 27
2.3. Kerangka Konseptual ... 28
2.4. Hipotesis Penelitian ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
3.1 Desain Penelitian ... 33
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 33
3.3 Batasan Operasional ... 34
3.4 Defenisi operasional ... 34
3.5 Skala pengukuran variabel ... 35
3.6. Variabel dependen ... 36
3.6.1 Manajemen laba riil………....36
3.7. Variabel Independen ... 37
vii
3.7.1.2 Ukuran KAP ... 38
3.7.1.3 Auditor Tenure ... 39
3.7.1.4Independensi auditor………...40
3.8 Populasi dan Sampel Penelitian ... 40
3.9 Jenis dan Sumber Data ... 44
3.10 Metode Pengumpulan Data ... 44
3.11 Teknik Analisis Data ... 44
3.11.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 44
3.11.2 Uji Asumsi Klasik ... 45
3.11.2.1 Uji Normalitas ... 45
3.11.2.2 Uji Multikolonieritas ... 46
3.11.2.3 Uji Heterokedastisitas ... 46
3.11.2.4 Uji Autokorelasi ... 47
3.12.3 Uji Hipotesis... 47
3.12.3.1 Analisis Regresi Linear Berganda ... 47
3.12.3.2 Uji Statistik F ... 48
3.12.3.3 Uji Statistik t ... 49
3.12.3.4 Uji Koefisien Determinasi... 50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 52
4.1 Statistik Deskriptif ... 52
4.2 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 57
4.2.1 Hasil Uji Normalitas ... 58
4.2.2 Hasil Uji Multikolonieritas ... 60
4.2.3 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 61
4.2.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 62
4.3 Hasil Uji Hipotesis Penelitian ... 63
4.3.1 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 63
4.3.2 Hasil Uji Statistik F ... 65
4.3.3 Hasil Uji Statistik t ... 66
4.3.4 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 68
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian ... 69
BAB V PENUTUP ... 73
5.1 Kesimpulan ... 73
5.2 Keterbatasan ... 75
5.3 Saran... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
viii DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
2.1 Ukuran Kantor Akuntan Publik ... 22
2.2 Ringkasan Review Penelitian Terdahulu ... 27
3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian ... 35
3.4 Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria ... 42
3.5 Perusahaan yang Menjadi Sampel Penelitian ... 43
4.6 Descriptive Statistics ... 52
4.7 Auditor spesialis industri (SPEC) ... 53
4.8 Ukuran KAP (KAP) ... 54
4.9 Auditor Tenure ... 55
4.10 Independensi auditor ... 56
4.11 Hasil Uji Normalitas ... 58
4.12 Hasil Uji Multikolonieritas ... 60
4.13 Hasil Uji Heteroskedastisitas (Glejser Test) ... 61
4.14 Hasil Uji Autokorelasi (LM Test) ... 62
4.15 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 63
4.16 Hasil Uji Statistik F ... 65
4.17 Hasil Uji Statistik t ... 66
ix DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
x DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman Lampiran 1 Data Populasi dan Sampel Peneltian
ii PENGARUH AUDITOR SPESIALIS INDUSTRI UKURAN KAP AUDITOR TENUREDAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP EARNINGS MANAGEMENTPADAPERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTARDI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh auditor spesialis industry ukuran KAP auditor tenure dan independensi auditorterhadap manajemen laba riil baik secara parsial maupun simultan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah auditor spesialis industry ukuran KAP auditor tenure dan independensi auditor, sedangkan variabel dependennya adalah manajemen laba riil.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2010-2013 sebanyak 131 perusahaan. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling dan diperoleh 36 perusahaan sampel yang menjadi objek penelitian dengan 144 unit analisis. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan, auditor spesialis industry ukuran KAP auditor tenuredan independensi auditor memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riil, sedangkan secara parsial auditor spesialis industry berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba riil, ukuran KAP berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba riil ,auditor tenure berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba riil dan independensi auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riil.
Kata Kunci: Auditor spesialis industri, ukuran KAP, auditor spesialisasi industri, auditor tenure, Independensi auditor, manajemen laba riil.
iii THE INFLUENCE AUDITOR INDUSTRY SPECIALIZATION THE FIRM
SIZE AUDITOR TENURE INDEPENDENCY AUDITOR TOWARDS EARNINGS MANAGEMENT ON MANUFACTURE COMPANIES LISTED IN
INDONESIA STOCK EXCHANGE
This study aims to determine whether there is influence between auditor industry specialization the firm size auditor tenureand independency auditor on real earnings management both partially and simultaneously on the manufacture companies listed on Indonesia Stock Exchange during period 2010 to 2013. Variables used in this study is auditor industry specialization the firm size auditor tenure and independency auditor as independent variable, whereas real earnings management as dependent variable.
The population used in this study is the manufacture companies listed om Indonesia Stock Exchange (BEI) during the period 2010 to 2013 as many as 131 manufacture companies. Sampling method that used is purposive sampling and there are 36 sample companies that will be research objects with 144 unit analysis. An analytical technique used in this research is multiple regression analysis.
The result of this study indicate that simultaneously auditor industry specialization the firms size auditor tenure and independency auditor have a positive and significant influences on real earnings management. In partially, auditor industry specialization has a negative and significant influence on real earnings management, the firm size has a positive and significant influence on real earnings management,auditor tenure has positive and significant influence on real earnings management and independency auditor has positive and significant influence on real earnings management
Keyword: Audit quality, the firm size, auditor industry specialization, auditor tenure, real earnings management
1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Menurut PSAK No. 1 (revisi 2012), laporan keuangan adalah suatu penyajian
terstruktur dari posisi dan kinerja keuangan suatu entitas dalam suatu periode.
Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada
pihak-pihak eksternal seperti investor, kreditor, pelanggan dan masyarakat luas.
Laporan ini digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi. Oleh karena
itu seluruh informasi yang terdapat laporan keuangan harus relevan, reliable dan
tidak terdapat kesalahan material sehingga tidak menyesatkan pengguna dalam
menginterpretasikannya.
Laporan keuangan yang relevan artinya informasi yang disajikan dalamlaporan
keuangan dapat membantu pemakai laporan keuangan untuk mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini dan memprediksi peristiwa masa depan. Salah satu
informasi laporan keuangan yang menjadi pusat perhatian pemakai laporan
keuangan adalah informasi laba. Laba dapat digunakan untuk menaksir resiko
dalam investasi dan dasar pembagian deviden, akibatnya pemakai laporan
keuangan sering menyoroti laba perusahaan. Nurika (2010) menguatkanbahwa
pasar memberikan respon positif terhadap informasi laba perusahaan.Pemakai
laporan keuangan melihat laba perusahaan sebagai salah satuindikator pengukuran
kinerja manajemen (Suranta dan Merdistusi, 2004). Laba yang meningkat
2 bahwa pemakai laporan keuangan cenderung memperhatikan laba, khususnya
manajemen yang kinerjanya diukur berdasarkan informasi laba perusahaan. Hal ini
mendorong manajemen melakukan Praktik manajemen laba.
Manajemen laba adalah suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam
proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan
privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses
tersebut)Schipper (1989) dalam Rahmawati (2006)
Konsep manajemen laba dapat menggunakan pendekatan teori keagenan
(agency theory), yang isinya menyatakan bahwa pratik manajemen laba
dipengaruhi antara kepentingan antara manajemen dengan principal yang timbul
karena setiap pihak berusaha mencapai keinginan masing-masing (Salno dan
Baridwan, 2000). Manajemen melakukan manajemen laba karena mengharapkan
adanya manfaat dari tindakan tersebut dan mengantisipasi kejadian tidak terduga
Salah satu bentuk manipulasi data adalah manajemen laba (earnings
management). Manajemen laba mungkin tidak terlalu asing bagi para pemerhati
manajemen dan akuntansi, baik praktisi maupun akademisi. Istilah tersebut mulai
menarik perhatian para peneliti, khususnya peneliti akuntansi, karena sering
dihubungkan dengan perilaku manajer atau para pembuat laporan keuangan
(preparers of financial statements), (Gumanti2000:105).Manajemen laba yang
dilakukan oleh manajer timbul karena adanya masalah keagenan yaitu konflik
kepentingan antara pemilik/pemegang saham (principal) dengan
pengelola/manajemen (agent) akibat tidak bertemunya utilitas maksimal diantara
3 daripada pemegang saham sehingga terjadi asimetri informasi yang memungkinkan
melakukan praktik akuntansi dengan orientasi pada laba untuk mencapai suatu
kinerja tertentu. (earnings management) (Cohen dan Zarowin, 2010; Mc Vay,
2006;
Roychowdhury, 2006). Zang (2006) menunjukkan bahwa perusahaan
menggunakan berbagai teknik manajemen laba, tidak hanya satu teknik saja untuk
mencapai target laba. Selain itu, hasil survei Graham et al. (2005) menunjukkan
bahwa manajer puncak cenderung lebih memilih manajemen laba riil (real earnings
management) daripada manajemen laba berbasis akrual untuk mencapai targetlaba.
Oleh karena itu, penelitian akuntansi yang mengambil kesimpulan tentang
manajemen laba dengan hanya mendasarkan pada pengaturan akrual saja mungkin
menjadi tidak valid (Roychowdhury, 2006). Beberapa penelitian manajemen laba
terkini menyatakan pentingnya memahami bagaimana perusahaan melakukan
manajemen laba melalui manipulasi aktivitas riil selain manajemen laba berbasis
akrual (Roychowdhury, 2006; Gunny, 2005; Zhang, 2006; Cohen et al., 2008;
Cohen dan Zarowin, 2010).2 Hal ini penting karena hasil penelitian Cohen et al.
(2008) menunjukkan bahwa manajer telah beralih dari manajemen laba berbasis
akrual ke manajemen laba riil setelah periode Sarbanes-Oxley Act (SOX) untuk
menghindari deteksi yang dilakukan auditor dan regulator.
Namun seiring perubahan zaman, hubungan antara manajemen, auditor dan
4 akuntansi yang terjadi. Skandal-skandal akuntansi bukan hanya terjadi pada
perusahaan-perusahaan besar di Amerika seperti Enron, Xerox, Worldcom, Green
Tree Financial Corporation, dan lain-lain.Kejadian yang serupa terjadi pula di
Indonesia, seperti kasus PT. Ades Alfindo yang terungkap tahun 2004, kasus PT.
Indofarma tahun 2004, kasus PT. Perusahaan Gas Negara tahun 2006, kasus PT.
Bank Lippo tahun 2002, kasus PT. Kimia Farma tahun 2002, dan masih banyak lagi
(Sulistiawan, et al. 2011:53). Sebagai contoh kasus Enron yang terjadi pada tahun
2000, melibatkan Chief Executive Officer (CEO), komisaris, komite audit, auditor
internal sampai dengan auditor eksternal. Skandal Enron berupa perhitungan atas
total revenue Enron tahun 2000 dinyatakan sebesar $US 100,8 miliar dan
dibenarkan oleh auditor eksternal Arthur Anderson. Laporan keuangan tersebut
diuji kembali oleh Petroleum Finance Company (PFC) dan ternyata hanya
berjumlah $US 9 miliar dan Enron memiliki utang senilai $US 1,2 miliar yang
disembunyikan dengan teknik off balance sheet. Hal ini mengakibatkan Enron
pailit, rusaknya citra profesi akuntan dan kerugian ratusan juta dollar dialami
investor (Sudirman, 2002, Tjager et al. 2003;dalam Luhgiatno, 2010:17). Kasus
manajemen laba yang terjadi baru-baru ini adalah kasus kelebihan pencatatan pada
laporan keuangan 2004-2008 PT. Waskita Karya. Kasus kelebihan pencatatan laba
bersih sebesar Rp. 500 miliar diketahui saat dilakukan audit laporan keuangan
menyeluruh seiring pergantian direktur pada tahun 2008.
Pada penelitian ini manajemen laba (earnings management)diukur dengan
proksi manajemen laba riil (real earnings management). Hal ini berbeda dengan
5 manajemen laba berbasis akrual (accrual-based earnings management)
(Roychowdhury, 2006: 336). Konsep manajemen laba melalui manipulasi aktivitas
riil merupakan konsep yang dikenalkan oleh Roychowdury (2006) untuk
mendeteksi praktik manajemen laba melalui pendekatan aktivitas riil perusahaan.
Manajemen laba melalui manipulasi aktivitas riil cenderung dilakukan oleh
perusahaan yang kinerjanya menurun dengan motif untuk menghindari laba nol dan
laba negatif.
Dalam langkah deteksi potensi manajemen laba, maka strategi yang
diperlukan adalah menelusuri kembali hubungan yang saling terkait antara auditor,
manajemen dan pihak eksternal. Manajemen akan memenuhi fungsi
pertanggungjawaban terhadap pihak eksternal dengan informasi yang ada di dalam
laporan keuangan, namun pihak eksternal akan menerima informasi laporan
keuangan tersebut jika telah diaudit oleh auditor. Oleh karena itu, manajemen
memerlukan jasa profesional seorang auditor untuk memastikan kewajaran laporan
keuangan yang disajikan dengan melakukan audit atas laporan keuangan.
Audit dapat mengurangi ketidakselarasan informasi yang terdapat antara
manajer dan pengguna laporan keuangan dengan memanfaatkan pihak luar yang
independen (auditor eksternal) untuk memberikan pengesahan terhadap laporan
keuangan. Para pengguna laporan keuangan akan terbantu dengan laporan yang
dibuat oleh auditor dalam mengambil sebuah keputusan.
Dari langkah deteksi potensi manajemen laba yang telah diuaraikan di atas,
6 Tenure dan Independensi Auditorsangat memengaruhi potensi terjadinya
manajemen laba.
Auditor spesialis industri merupakan dimensi dari kualitas audit,
sebabpengetahuan dan pengalaman auditor tentang industri merupakan salah satu
elemendari keahlian auditorZhou dan Elder (2003: 103)
Auditor spesialis industri diyakini mampu mendeteksikesalahan-kesalahan
secara lebih baik pada perusahaan industri tertentu. Oleh karenaitu, penggunaan
auditor dengan spesialisasi industri diharapkan akan membantumengekang
manajemen laba.
ukuran KAP adalah KAP yang berafiliasi dengan KAP Big Four dan Non
Big Four. Peneliti mengasumsikan KAP yang berafiliasi dengan KAP Big Four
memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan KAP yang berafiliasi dengan
KAP Non Big Four. Auditor yang berkualitas baik kemungkinan dapat mengurangi
kecenderungan manajer dalam melakukan manajemen laba. Hal ini karena auditor
yang berkualitas baik lebih menjaga sikap independensi dan objektivitas (
theodorus,tuanakkota 2011)
Auditor tenure adalah masa perikatan (keterlibatan) antara KAP dan klien terkait
7 auditor dan klien. Auditor tenure telah ditentukan secara mandatory oleh peraturan
pemerintah.Auditor tenure diukur dengan menghitung jumlah tahun seorang auditor
mengaudit laporan keuangan sebuah perusahaan secara berurutan (Al-Thuneibat et
al. 2011: 320).
Di Indonesia, peraturan yang mengatur auditor tenure adalah Peraturan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/KMK.01/2008 tentang “Jasa
Akuntan Publik” pasal 3Peraturan ini mengatur tentang pemberian jasa audit umum
atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6
(enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama
untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Akuntan publik dan kantor akuntan boleh
menerima kembali penugasan audit umum untuk klien setelah satu tahun buku tidak
memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut. Pembatasan ini
dimaksudkan agar auditor tidak terlalu dekat dengan klien sehingga dapat
mencegah terjadinya skandal akuntansi.
Independensi auditor adalah sikap mental yang bebas dari pengaruh pihak
lain yang artinya adanya kejujuran dalam diri auditor dalam
mempertimbangkanfakta dan adanya pertimbangan objektif yang tidak memihak
dalam diri auditor dalammerumuskan dan menyatakan pendapatnya. Jika auditor
memilikisikap independensi, maka diharapkan bisa menemukan salah saji dalam
laporankeuangan manajemen termasuk manajemen laba(Mulyadi, 2001)
Beberapa penelitian terdahulu tentang pengaruh ukuran KAP, auditor
spesialisasi industri dan auditor tenure terhadap manajemen laba yang diproksikan
8 Penelitian Nihlatih(2014) menyimpulkan bahwa auditor spesialisasi industri
berpengaruh positif sedangkan auditor tenure berpengaruh Positif terhadap
manajemen laba riil ,perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian yang akan
saya lakukan adalah menambah variable independensi auditor,uji statistik F dimana
pada penelitian ini akan diketahui apakah variabel-variabel independen mempunyai
pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen
Berdasarkan Uraian diatas maka peneliti tertarik dan termotivasi
untuk menelitidengan judul ‘’Pengaruh auditor spesialis industri,Ukuran
KAP,Audit tenure,Independesi Auditor terhadap Manajemen laba Riil ‘’(real
earnings management)‘’
1.2 Rumusan masalah penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah auditor spesialis industri berpengaruh terhadap manajemen laba
riil pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
2. Apakah ukuran KAPberpengaruh terhadap manajemen laba riil pada
perusahaan yang terdaftar di BEI 2010-2013
3. Apakah auditor tenure berpengaruh terhadap manajemen laba riil pada
perusahaan yang terdaftar di BEI 2010-2013
4. Apakah independensi auditor berpengaruh terhadap manajemen laba riil
9 5. Apakah auditor spesialis industry,ukuran KAP,auditor tenure,independensi
auditor berpengaruh secara simultan terhadap manajemen laba riil pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh auditor spesialis industri terhadap manajemen
laba riil pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
2. Untuk mengetahui pengaruh ukuran KAP terhadap manajemen laba riil
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
3. Untuk mengetahui pengaruh auditor tenure terhadap manajemen laba riil
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar diBEI 2010-2013
4. Untuk mengetahui pengaruh Independensi auditor terhadap manajemen laba
riil pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
5. Untuk mengetahui pengaruh auditor spesialis industry,ukuran KAP,auditor
tenure,independensi auditor secara simultan terhadap manajemen riil
terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013.
Adapun manfaat yang diharapakan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut :
10 Penelitian ini diharapakan dapat meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan peneliti tentang pengaruh auditor spesialis industry,ukuran
KAP,auditor tenure,independensi auditor terhadap manajemen laba riil pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
b. Investor dan calon investor
Informasi yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan akan membantu
investor dan calon investor dalam pengambilan keputusan untuk
menanamkan modalnya kepada suatu entitas. Informasi tersebut diperoleh
dari kualitas audit yang menunjukkan kewajaran laporan keuangan.
c. Auditor
Auditor akan memperoleh pentingnya informasi tentang auditor spesialis
industri,ukuran KAP,auditor tenure,independensi auditor terhadap
manajemen laba riil sehingga auditor harus lebih berhati-hati dalam
melaksanakan tugas auditnya
d. Bagi Penelitian Mendatang
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitan mendatang
mengenai, ukuran KAP, spesialisas industri KAP, audit tenur, dan
independensiauditor dalam pengaruhnya terhadap manajemen laba.
BAB II
11 2.1 Landasan Teoritis
2.1.1 Teori agency ( Agency theory )
Jensen dan Meckling (1976: 308) menggambarkan hubungan keagenan
sebagai suatu kontrak antara satu orang atau lebih (prinsipal) yang melibatkan
orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa kemudian mendelegasikan
wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Prinsipal merupakan
pihak yang memiliki saham pada suatu perusahaan atau pemilik perusahaan. Agen
merupakan pihak yang diberi wewenang oleh prinsipal untuk mengelola aset
perusahaan.
Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk
memahami earnings management. Dalam hubungan prinsipal dan agen akan
menimbulkan apa yang dinamakan agency cost yakni risiko yang terjadi ketika
prinsipal membayar agen untuk menjalankan sebuah tugas padahal kepentingan
agen bertentangan atau tidak selaras dengan kepentingan prinsipal. Kemudian juga
akan menimbulkan konflik kepentingan antara kepentingan prinsipal dan
kepentingan agen. Pihak prinsipaltermotivasi untuk menyejahterakan dirinya
dengan profitabilitas yang selalu meningkat.Agentermotivasi untuk
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain
dalam hal memperoleh investasi, pinjaman maupun kontrak kompensasi dan bonus.
Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena prinsipal tidak dapat
memonitor aktivitas agen sehari-hari untuk memastikan bahwa agen bekerja sesuai
12 Pada kenyataannya principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang
kinerja agen sedangkan agenmempunyai lebih banyak informasi mengenai
kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah
yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh
prinsipal dan agen. Informasi yang lebih sedikit yang dimiliki oleh pemegang
saham dapat memicu manajer menggunakan posisinya dalam perusahaan untuk
mengelola laba yang dilaporkan (Lobo dan Zhou, 2001 dalam Rusmin, 2010: 620).
Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal
dan agen mendorong agen untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya
kepada prinsipal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran
kinerja agen. Hal ini memacu agen untuk memikirkan bagaimana angka akuntansi
tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan kepentingannya.
Salah satu bentuk tindakan agen tersebut adalah yang disebut sebagai manajemen
laba.
Auditor eksternalmerupakan pihak yang dianggap mampu menjembatani
kepentingan pihak prinsipal dan pihak agen dalam mengelola keuangan perusahaan.
Auditor akan mengesahkan laporan pertanggungjawaban pihak agen terhadap pihak
prinsipal dengan memberikan penilaian secara independen dan profesional atas
kehandalan dan kewajaran laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu dalam
hal ini, kualitas audit dan auditor tenure memengaruhi auditor eksternal dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pihak yang mampu menjembatani kepentingan
13 menggambarkan variabel kualitas audit yaitu auditor spesialis industry, ukuran
KAP, auditor tenure dan independensi auditor.
Teori keagenan menjelaskan bahwa seorang auditor dengan kualitas
audit yang tinggi akan memiliki kemampuan dalam mendeteksi adanya praktik
manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan (Becker et al., 2010)
Laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor diharapkan dapat dipercaya dan
digunakan oleh pihak principal. Selain itu, teori keagenan menjelaskan variabel
arus kas bebas, bahwa arus kas bebas dapat menimbulkan masalah agensi karena
adanya konflik kepentingan antara manajemen dan principal (Akhmad, 2011).
Manajemen bisa memanfaatkan surplus arus kas bebas untuk melakukan investasi
yang sia-sia demi kepentingan pribadi.
Auditor spesialisasi industri yakni auditor yang memiliki keahlian dalam
suatu industri tertentu dimungkinkan akan lebih dapat mendeteksi
kesalahan-kesalahan dan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen daripada auditor tanpa
keahlian khusus.
Ukuran KAP akan berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan.
KAP Big Four menghasilkan kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan
KAP Non Big Four (DeAngelo, 1981: 184, Becker et al., 1998: 6). Auditor Big
Four memiliki keahlian dan reputasi yang tinggi dibandingkan dengan auditor Non
Big Four.
Auditor tenure dalam hal ini juga menjadi sebuah indikasi bahwa sikap
14 karena adanya kepentingan manajemen klien. Oleh karena itu, lamanya hubungan
antara perusahaan dan auditor dapat memengaruhi terjadinya manajemen laba.
Independensi auditor berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak
dikendalikan oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi dapat
juga diartikan adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta
dan adanya pertimbangan objektif yang tidak memihak dalam diri auditor dalam
merumuskan dan menyatakan pendapatnya (Mulyadi, 2001)
2.1.2 Pengertian Manajemen laba ( earnings management) 2.1.2.1 Defenisi manajemen laba
Istilah earnings management atau manajemen laba mungkin tidak terlalu
asing bagi para pemerhati manajemen dan akuntansi, baik praktisi maupun
akademisi. Istilah tersebut mulai menarik perhatian para peneliti, khususnya
peneliti akuntansi karena sering dihubungkan dengan perilaku manajer atau para
pembuat laporan keuangan (prepares of financial statements), (Gumanti, 2000:
105). Sekilas tampak bahwa manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat
perolehan laba (earnings) atau prestasi usaha suatu organisasi. Hal ini tidaklah aneh
karena tingkat keuntungan atau laba yang diperoleh sering dikaitkan dengan
prestasi manajemen disamping memang adalah suatu yang lazim bahwa besar
kecilnya bounus yang akan diterima oleh manajer tergantung dari besar kecilnya
laba yang diperoleh. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila manajer sering
berusaha menonjolkan prestasinya melalui tingkat keuntungan atau laba yang
15 Definisi laba menurut Verawati (2012: 18) adalah salah satu indikator
utama untuk mengukur kinerja dan pertanggungjawaban manajemen. Informasi
laba juga dapat dijadikan panduan dalam melakukan investasi yang membantu
investor ataupun pihak lain dalam menilai kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Selain itu, laba pada umumnya
dipandang sebagai dasar untuk perpajakan, pembayaran dividen dan pengambilan
keputusan. Adanya kecenderungan untuk memerhatikan laba ini disadari oleh
manajemen, khususnya manajer yang kinerjanya diukur berdasarkan informasi laba
tersebut, sehingga mendorong munculnya manajemen laba (earnings management).
Ada perbedaan mendasar antara praktisi dan akademisi dalam memandang
manajemen laba. Secara umum para praktisi, yaitu investor, pemerintah, asosiasi
profesi, dan pelaku ekonomi lainnya menganggap manajemen laba sebagai
kecurangan manajerial. Alasannya adalah aktivitas rekayasa manajerial ini
dilakukan untuk menyesatkan dan merugikan pihak lain yang menggunakan
laporan keuangan sebagai sumber informasi untuk mengetahui segala sesuatu
mengenai perusahaan. Sementara akademisi, termasuk para peneliti menilai
manajemen laba bukan sebagai kecurangan, sebab aktivitas rekayasa manajerial ini
pada dasarnya merupakan dampak dari luasnya prinsip yang berterima umum,
sehingga bisa dikatakan bahwa perbedaan pemahaman terhadap manajemen laba
disebabkan perbedaan sudut pandang antara satu pihak dengan pihak lain
(Sulistyanto, 2008, 2012: 18).
Gumanti (2000) 2010: 19) berpendapat bahwa manajemen laba dapat
16 suatu periode tertentu, yaitu adanya kemungkinan munculnya motivasi tertentu
yang mendorong mereka untuk mengatur data keuangan yang dilaporkan.
Manajemen laba tidak harus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau
informasi akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode
akuntansi untuk mengatur keuangan yang dapat dilakukan karena memang
diperkenankan menurut peraturan akuntansi. Hal ini sejalan dengan definisi
manajemen laba menurut Belkaoui (2011:74)yakni:“Suatu kemampuan untuk
memanipulasi pilihan-pilihan yang tersedia danmengambil pilihan yang tepat untuk
dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan.”
Definisi yang berbeda menurut Healy dan Wahlen dalam Belkaoui
(2011:75) yakni:“Manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan
pertimbangan mereka dalam pelaporan keuangan dan struktur transaksi untuk
mengubah laporan keuangan dengan tujuan menyesatkan beberapa pemangku
kepentingan mengenai kondisi kinerja ekonomi perusahaan atau untuk
memengaruhi hasil-hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi
yang dilaporkan.”
Definisi yang dikemukakan oleh Healy dan Wahlen di atas berfokus pada
penerapan pertimbangan dalam laporan keuangan (1) untuk menyesatkan para
pemangku kepentingan yang tidak ataupun tidak bisa melakukan manajemen laba
dan (2) untuk membuat laporan keuangan menjadi lebih informatif bagi para
17 laba: (1) sisi buruknya adalah biaya yang diciptakan oleh kesalahan alokasi dari
sumber-sumber daya dan (2) sisi baiknya adalah potensi peningkatan kredibilitas
manajemen dalam mengkomunikasikan informasi pribadi kepada pemangku
kepentingan eksternal dan memperbaiki keputusan dalam alokasi sumber-sumber
daya.
Dari beberapa pengertian manajemen laba di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa manajemen laba berkaitan dengan cara manajemen dalam menyajikan
laporan keuangan dalam pengambilan keputusan, artinya manajemen punya
wewenang untuk menyajikan laporan keuangan baik secara legal maupun ilegal.
Kriteria manajemen laba secara legal yakni apabila tidak menyimpang dari Standar
Akuntansi Keuangan, misalnya dalam pemilihan metode penyusutan baik melalui
metode garis lurus atau saldo menurun. Pemilihan dari salah satu metode tersebut
tentu akan berpengaruh terhadap laporan keuangan khususnya laba yang dihasilkan
oleh perusahaan atau lebih banyak berkaitan dengan pengambilan keputusan
manajemen terkait laporan keuangan perusahaan. Sedangkan kriteria manajemen
laba secara ilegal yakni apabila telah menyimpang dari Standar Akuntansi
Keuangan, misalnya penyajian akun akumulasi penyusutan dalam laporan posisi
keuangan seharusnya di sisi kredit namun manajemen menyajikannya si sisi debet.
2.1.2.2 Manajemen Laba Riil
Manajemen laba riil merupakan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen
melalui aktivitas perusahaan sehari-hari selama periode akuntansi. Motivasi utama
18 laba riil dapat dilakukan kapan saja sepanjang periode akuntansi dengan tujuan
spesifik, yaitu memenuhi target laba tertentu, menghindari kerugian dan mencapai
target ramalan analis. Selain itu, menajemen laba riil sulit untuk dideteksi oleh
auditor.
Menurut Healy and Wahlen, (1999) dalam Roychowdhury (2006: 337)
mendefinisikan manajemen laba sebagai berikut “Earnings management accurs
when managers use judgment in financial reporting and in structuring transactions
to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying
economic performance of the company or to influence contractual outcomes that
depend on reported accounting practices”. Dengan kata lain bahwa campur tangan
manajer dalam proses pelaporan keuangan tidak hanya melalui metode-metode atau
estimasi-estimasi akuntansi saja tetapi juga dapat dilakukan melalui
keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kegiatan operasional. Selanjutnya, manajer
juga memiliki insentif untuk memanipulasi aktivitas-aktivitas riil selama tahun
berjalan untuk memenuhi target laba. Manipulasi aktivitas-aktivitas riil tersebut
disebut manajemen laba riil.
Menurut Roychowdhury (2006), Cohen et al. (2008), Cohen dan Zarowin
(2010) dalam Ratmono (2010: 5) terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan
dalam manipulasi aktivitas riil, yaitu:
1. Manipulasi penjualan
19 lunak. Strategi ini dapat meningkatkan volume penjualan dan laba periode saat ini, dengan mengasumsikan marginnya positif. Namun pemberian diskon harga dan syarat kredit yang lebih lunak akan menurunkan aliran kas periode saat ini.
2. Penurunan beban-beban diskresionari (dicretionary expenditure)
Perusahaan dapat menurunkan discretionary expenditureseperti beban penelitian dan pengembangan, iklan dan penjualan, administrasi dan umum terutama dalam periode dimana pengeluaran tidak langsung menyebabkan pendapatan dan laba. Strategi ini dapat meningkatkan laba dan arus kas periode saat ini namun dengan risiko menurunkan arus kas periode mendatang.
3.Produksi yang berlebihan (overproduction)
Untuk meningkatkan laba, manajer perusahaan dapat memproduksi lebih banyak daripada yang diperlukan dengan asumsi bahwa tingkat produksi yang lebih tinggi akan menyebakan biaya tetap per unit produk lebih rendah. Strategi ini dapat menurunkan harga pokok penjualan (cost of good sold) dan meningkatkan laba operasi.
Ketiga cara manipulasi aktivitas riil di atas biasanya dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang buruk sehingga tidak banyak memiliki
akrual untuk dimanipulasi. Satu-satunya cara adalah dengan manipulasi aktivitas
riil tersebut terutama untuk mencapai laba sedikit di atas nol.
Dengan ketiga cara di atas perusahaan-perusahaan yang diduga (suspect)
melakukan manipulasi aktivitas riil akan mempunyai abnormal cash flow
operations (CFO) dan abnormal discretionary expense yang lebih kecil serta
abnormal production cost yang lebih besar dibandingkan perusahaan-perusahaan
lain.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Roychowdhury (2006: 338)
menunjukkan para eksekutif keuangan lebih memilih untuk memanipulasi laba
20 1. Manipulasi akrual cenderung membuat para auditor atau regulator melakukan pemeriksaan dengan cepat daripada jika keputusan-keputusan tentang aktivitas riil atau produksi yang dibuat. Hal ini menunjukkan bahwa baik auditor ataupun regulator kurang memberikan perhatian terhadap aktivitas-aktivitas riil yang dimanipulasi oleh manajemen, sehingga manajemen memiliki kesempatan untuk memanfaatkan peluang ini dalam mencapai target laba.
2. Hanya bersandar pada manipulasi akrual saja akan membawa risiko karena pengelolaan laba dengan mengandalkan akrual diskresioner hanya dapat dilakukan pada akhir tahun. Akan tetapi, strategi ini menimbulkan risiko yaitu jika jumlah laba yang perlu dimanipulasi lebih besar daripada akrual diskresioner yang dapat digunakan manager, maka kemampuan manajer dalam memanipulasi laba terbatas, akibatnya target laba tidak dapat dicapai jika hanya menggunakan akrual diskresioner pada akhir tahun.
Berdasarkan Roychowdhury (2006: 34) dalam Subekti, Kee dan Ahmad
(2010: 13) pengukuran manajemen laba riil menggunakan 3 cara yakni:
1. Abnormal cash flow operations (CFO). Arus kas operasi abnormal adalah manipulasi laba yang dilakukan perusahaan melalui aliran operasi kas yang akan memiliki aliran kas lebih rendah daripada level normalnya. Estimasi nilai residu arus kas operasi merupakan nilai abnormal arus kas operasi.
2. Abnormal production cost (PO). Biaya kegiatan produksi abnormal adalah manajemen laba riil yang dilakukan melalui manipulasi biaya produksi, dimana perusahaan akan memiliki biaya produksi lebih tinggi daripada level normalnya. Estimasi nilai residu dari biaya produksi merupakan nilai abnormal biaya produksi.
3. Abnormal discretionary expense (DE). Biaya diskresioner abnormal adalah manajemen laba riil yang dilakukan dengan menurunkan discretionary expenditure seperti biayapenelitian dan pengembangan, biaya iklan, biaya penjualan, administrasi dan umum. Estimasi nilai residu dari biaya diskresioner merupakan nilai abnormal biaya diskresioner.
2.1.3 Auditor Spesialis Industri
Dalam Zhou dan Elder (2004: 96) membuktikan bahwa kualitas audit
berhubungan dengan auditor spesialis industri. Auditor yang melakukan spesialisasi
pada industri tertentu memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai informasi
21 menggambarkan keahlian dan pengalaman audit seorang auditor pada bidang
industri tertentu yang diproksi dengan jasa audit pada bidang industri tertentu.
Dengan demikian, auditor spesialisasi industri diharapkan memiliki kinerja yang
lebih baik dibandingkan auditor lainnya dalam meminimalisir adanya praktik
manajemen laba (Solomon et al., Owhoso et al. dalam Rusmin, 2010: 621).
Auditor spesialisasi industri diproksi dengan konsentrasi jasa auditor pada
bidang tertentu (Rahmadika, 2013: 36). Auditor yang memiliki spesialisasi industri
yakni auditor yang memiliki keahlian dalam suatu industri tertentu, auditor
spesialisasi industri dimungkinkan akanlebih dapat mendeteksi
kesalahan-kesalahan dan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen daripada auditor tanpa
keahlian khusus.
Chi et al. (2011) dalam Inaam dan Khmoussi (2012: 21) menemukan bahwa
keahlian industri auditor berhubungan dengan manajemen laba berbasi riil yang
lebih besar. Dengan meningkatnya keahlian auditor dimungkinkan bahwa
manajemen akan menggunakan berbagai caranya untuk memanipulasi aktivitasnya
terkait dengan tingkat laba yang dihasilkan perusahaan. Manajemen memiliki
kapasitas untuk mengatur setiap kegiatan di dalam perusahaan sehingga dapat
mendorong manajer memenuhi target laba.
Dalam teori agensi dan teori stewardship dimana pihak agen sebagai pihak
yang diberi tanggungjawab oleh pihak prinsipal akan terdorong untuk melakukan
berbagai hal untuk memberikan hasil pertanggungjawaban yang sebaik mungkin
22 perubahan pada laba. Oleh karena itu, auditor dituntut untuk menguasai keahlian di
bidang industri perusahan. Dengan demikian auditor yang memiliki keahlian dalam
spesialisasi industri maka akan dapat menurunkan praktek manajemen laba.
2.1.4 Ukuran KAP
Dalam agency theory dijelaskan bahwa adanya pihak principal dengan
pihak agen yang digambarkan dengan hubungan antara auditee dan auditor dalam
proses audit. Untuk memperoleh audit yang berkualitas, seorang principal akan
cenderung menunjuk agen (auditor) yang memiliki independensi. Auditor yang
memiliki independensi tinggi diasumsikan oleh auditor yang berada dalam KAP
yang besar. Dalam hal ini ukuran auditor dijadikan sebagai patokan dalam
menentukan hasil audit yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.Ukuran
KAP akan berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan. KAP big four
menghasilkan kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan KAP non big
four (Meutia, dalam Rahmadika 2011:15). Auditor big four memiliki keahlian dan
reputasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor non big four. Oleh karena
itu auditor big four akan berusaha untuk memberikan kualitas terbaik mereka dalam
mempertahankan pangsa pasar, repuatsi dan kepercayaan masyarakat.
Geralyi et al. (2011) melakukan penelitian mengenai ukuran auditor
terhadap manajemen laba menemukan bahwa ukuran auditor berhubungan negatif
dan signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian tersebut diasumsikan
bahwa semakin besar ukuran auditor akan berdampak pada penurunan aktivitas
23 Tabel berikut menunjukkan mitra KAP internasional Big Four dengan KAP
[image:36.595.111.518.239.350.2]di Indonesia
Tabel 2.1
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP)
The big four Mitra Indonesia
Deloitte Touche Tohmatsu Osman Bing Satrio dan rekan Ernst and Young Purwantono, Sarwoko dan Sandjaja Kingsfield, Peat, Marwick, Goerdeller
(KPMG)
Siddharta dan Widjaja
Price Waterhouse Coopers (PWC) Haryanto, Sahari dan rekan
Sumber: Tuanakkotta, Theodorus M., Berfikir Kritis dalam Auditing (Jakarta: Salemba Empat, 2011), hlm. 299.
Ukuran KAP menunjukkan kemampuan auditor untuk bersikap independen
dan melaksanakan audit secara profesional. KAP Big Four merupakan auditor yang
memiliki keahlian dan reputasi yang tinggi dibanding dengan auditor KAP NonBig
Four (Nurina, 2010 dalam Kono, 2013: 3). Auditor Big Four diharapkan lebih bisa
mengungkap salah saji material antara pihak manajemen dan pemegang saham,
selain itu KAP Big Four cenderung memiliki auditor yang lebih berpengalaman
yang akhirnya mampumembatasi besarnya manajemen laba pada suatu perusahaan
(Kono, 2013: 3). Dahlan (2009: 9) menambahkan bahwa KAP Big Four memiliki
dorongan yang lebih besar untuk mengetahui kesalahan dalam sistem akuntansi
klien, selain itu perusahaan yang diaudit oleh auditor KAP Big Four cenderung
24 2.1.5 Audit Tenure
Pergantian masa kerja (tenure) auditor telah ditentukan secara mandatory
oleh peraturanpemerintah. Hal ini dimaksudkan agar independensi seorang auditor
dapat lebih terjaga dengan membatasi hubungan antara auditor dan auditee. Auditor
ini berguna untuk mengurangi asimetri informasi yang terjadi antara agen dan
principal sehingga auditor harus memiliki tingkat independensi yang tinggi untuk
mencegah terjadinya asimetri informasi ini yang salah satunya mengenai
manajemen laba yang dilakukan oleh agen.
Reichelt and Wang (2010) dalam Inaam dan Khmoussi (2012) meneliti
adanya hubungannegatif antara auditor tenure dengan manajemen laba. Dengan
adanya audit tenureyang lebihpendek maka manajemen laba yang dilakukan oleh
auditee (agen) akan lebih besar namun semakinlama audit tenure akan memperkecil
praktik manajemen laba yang dilakukan. Fanny dan Siregar (2007) dalam
Herusetya (2009) menemukan hubungan signifikan antara audit tenure dengan nilai
absolute akrual diskresioner sebagai proksi manajemen laba dan hasil penelitian.
Mereka menemukan bahwa nilai absolute diskresioner semakin rendah seiring
dengan semakin panjangnya jangka waktu penugasan audit.
Namun Johnson et al. (2002) dalam Inaam dan Khmoussi (2012)
menemukan bahwa klien dengan masa auditor yang lebih pendek memiliki kualitas
akrual yang lebih rendah dibandingkan dengan masa kerja lebih panjang. Penelitian
tersebut menyebutkanbahwa masa kerja yang lebih lama akan dikaitkan dengan
peningkatan akrual diskresioner dan manajemen laba real. Masa kerja yang lebih
25 pada auditor akan meningkatkan aktivitas manajemen laba diperusahaan baik secar.
Ini dikarenakan auditor yang memiliki masa kerja lebih pendek cenderung akan
memiliki independenitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor yang telah
memiliki masa kerja audit yang lebih panjang. Dengan berkurangnya
keindependensian maka diasumsikan dapat meningkatkan terjadinya manajemen
laba yang dilakukan oleh manajemen klien.
Pada agency theory dan stewarshipdijelaskan bahwa dapat terjadi keadaan
dimana salah satu pihak memiliki lebih banyak informasi sehingga menimbulkan
kondisi asimetri informasi.Hal ini terjadi dalam praktik manajemen laba yaitu agen
memiliki lebih banyak informasi daripada principal yang salah satunya dapat
disebabkan oleh hubungan antara agen dan principal. Semakin lama auditor
memiliki hubungan kerjasama dengan agen dikhawatirkan akan mengurangi
independensi yang dimiliki auditor sehingga auditor akan cenderung berpihak
kepada agen. Hubungan ini yang akan meningkatkan praktik manajemen laba
sehingga dapat menimbulkan asimetri informasi antara pihak principal dan agen.
Semakin lama auditor berhubungan dengan agen maka keindependensian yang
dimiliki akan semakin menurun dan aktivitas manajemen laba baik real akan
meningkat
2.1.6 Independensi Auditor
Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak
dikendalikan oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi dapat
juga diartikan adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta
26 merumuskan dan menyatakan pendapatnya (Mulyadi, 2001). Independensi auditor
merupakan suatu hal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat
pada profesi akuntan publik dan mejadi salah satu faktor untuk menilai mutu jasa
audit. Hal ini dikarenakan pendapat yang sering diberikan oleh auditor berkaitan
dengan kepentingan banyak pihak.
Pada agency theory dan stewarshipdijelaskan bahwa dapat terjadi keadaan
dimana salah satu pihak memiliki lebih banyak informasi sehingga menimbulkan
kondisi asimetri informasi.Hal ini terjadi dalam praktik manajemen laba yaitu agen
memiliki lebih banyak informasi daripada principal yang salah satunya dapat
disebabkan oleh hubungan antara agen dan principal. Semakin lama auditor
memiliki hubungan kerjasama dengan agen dikhawatirkan akan mengurangi
independensi yang dimiliki auditor sehingga auditor akan cenderung berpihak
kepada agen. Hubungan ini yang akan meningkatkan praktik manajemen laba
sehingga dapat menimbulkan asimetri informasi antara pihak principal dan agen.
Semakin lama auditor berhubungan dengan agen maka keindependensian yang
dimiliki akan semakin menurun dan aktivitas manajemen laba baik real akan
meningkat
Independensi Auditor akan berdampak terhadap pendeteksian manajemen
laba, Dimana Auditor yang independen merupakan salah satu faktor yang dapat
mengurangi terjadinya manajemen laba karna independensi Auditor dinilai dari
lamanya penugasan auditor tersebut diperusahaan yang sama,semakin lama Auditor
melaksanakan audit pada suatu perusahaan maka Auditor dianggap tidak
27 2.2. Review peneliti Terdahulu
No Nama peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian 1 Dwi Ratmono
( 2010)
Manajemen laba riil dan berbasis akrual : dapatkah Auditor mendeteksinya ? Variabel independen nya adalah deteksi auditor, Variabel dependennya adalah Manajemen laba riil dan
manajemen laba akrual
Kualitas Auditor tidak signifikan berpengaruh dengan manajemen laba riil Kualitas auditor berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba akrual
2 Herawaty
Arlen dan welvin iguna ( 2010) Pengaruh mekanisme GCG,independen si auditor ,kualitas audit terhadap manajemen laba Variable independen GCG,independensi auditor,kualitas audit Variable dependen Manajemen laba Kepemilikan perusahaan,independ ensi auditor,ukuran perusahaan tidak berpengaruh
sedangkan leverage ,kualitas audit tidak berpengaruh
3 Reisa puji
lestari ( 2013) Pengaruh kualitas audit terhadap manajemen laba Variable independenya adalah Auditor Spesialis industri,Audit tenure,Variable dependennya adalah manajemen laba transaksi riil
28 4 Inaam dan
Khmoussi
(2012)
Variabel
dependen:Earnings Management
Variabel independen:
Auditor tenure, ukuran KAP, auditor spesialisasi industri
Akrual: auditor tenure berpengaruh negatif dan ukuran KAP serta auditor spesialisasi industri berpengaruh positif namun ketiganya secara simultan tidak berpengaruh
signifikan terhadap manajemen laba Riil: ukuran KAP berpengaruh negatif dan signifikan, auditor spesialisasi industri dan signifikan, auditor tenure tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba Sumber : data diolah tahun ( 2014)
2.1Kerangka konsepsual
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ada tidaknya serta kuat
lemahnya hubungan antara variabel dependen berupa manajemen laba riil
denganvariabel independen berupa Auditor spesialis industry,Ukuran KAP,Audit
tenure,Independensi Auditor.Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan bahwa
Auditor Spesialis industry,Audit tenure dapat dapat mendeteksi manipulasi
manajemen laba riil.Berdasarkan tinjauan pustaka, penelitian terdahulu yang sudah
[image:41.595.111.548.126.406.2]diuraikan,maka kerangka konseptual ini dapat digambarkan pada gambar berikut:
Gambar 2.1 Kerangka konsepsual
29 Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Penelitian
Chi et al. (2011) dalam Inaam dan Khmoussi (2012: 21) menemukan bahwa
keahlian industri auditor berhubungan dengan manajemen laba berbasis riil yang
lebih besar. Dengan meningkatnya keahlian auditor dimungkinkan bahwa
manajemen akan menggunakan berbagai caranya untuk memanipulasi aktivitasnya
terkait dengan tingkat laba yang dihasilkan perusahaan. Manajemen memiliki
kapasitas untuk mengatur setiap kegiatan di dalam perusahaan sehingga dapat
mendorong memenuhi target laba. Penelitian yang dilakukan oleh Nihlati (2014:9)
menyimpulkan bahwa auditor spesialisasi industri berpengaruh positif terhadap Auditor spesialis Industri
(X1)
Ukuran KAP ( X2)
Audit Tenure ( X3)
Independensi Auditor (X4)
Manajemen laba riil
30 manajemen laba riil sedangkan Inaam dan Khmoussi (2012: 31) menyimpulkan
bahwa auditor spesialisasi industri tidak berpengaruh terhadap manajemen laba riil.
Dalam teori agensi dan teori stewardship dijelaskan bahwa dapat terjadi
keadaan dimana salah satu pihak memiliki lebih banyak informasi sehingga
menimbulkan kondisi asimetri informasi. Hal ini terjadi dalam praktik manajemen
laba yaitu agen memiliki lebih banyak informasi daripada prinsipal yang memiliki
hubungan kerja sama dengan agen dikhawatirkan akan mengurangi independensi
yang dimiliki auditor sehingga auditor akan cenderung berpihak kepada agen.
Hubungan ini akan menimbulkan asimetri informasi yang akan meningkatkan
praktik manajemen laba. Semakin lama auditor berhubungan dengan agen maka
independensi yang dimilikinya akan semakin menurun dan aktivitas manajemen
laba akan meningkat.
Dalam teori agensi dan teori stewardship dijelaskan bahwa adanya pihak
prinsipal dengan pihak agen yang digambarkan dengan hubungan manajemen dan
auditor dalam proses audit. Seorang prinsipal akan cenderung menunjuk auditor
yang memiliki independensi untuk memperoleh audit yang berkualitas. Auditor
yang memiliki independensi tinggi diasumsikan oleh auditor yang berada dalam
KAP yang besar. Dalam hal ini ukuran KAP dijadikan sebagai patokan dalam
menentukan hasil audit yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.
KAP Big Four merupakan auditor yang memiliki keahlian dan reputasi
yang tinggi dibanding dengan auditor KAP Non Big Four (Nurina, 2010 dalam
Kono, 2013: 3). Auditor Big Four diharapkan lebih bisa mengungkap salah saji
31 dalam laporan keuangan, selain itu KAP Big Four cenderung memiliki auditor yang
lebih berpengalaman yang akhirnya mampu membatasi besarnya manajemen laba
pada suatu perusahaan (Kono, 2013: 3). Dahlan (2009: 9) menambahkan bahwa
KAP Big Four memiliki dorongan yang lebih besar untuk mengetahui kesalahan
dalam sistem akuntansi klien, selain itu perusahaan yang diaudit oleh auditor KAP
Big Four cenderung akan membatasi praktik manajemen laba. Penelitian yang
dilakukan oleh Nihlati (2014:9) menyimpulkan bahwa ukuran KAP berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap manajemen laba riil sedangkan Inaam dan
Khmoussi (2012: 31) menyimpulkan bahwa ukuran KAP berpengaruh positif dan
signifikan terhadap manajemen laba riil.
Dalam teori agensi dan teori stewardship dijelaskan bahwa dapat terjadi
keadaan dimana salah satu pihak memiliki lebih banyak informasi sehingga
menimbulkan kondisi asimetri informasi. Hal ini terjadi dalam praktik manajemen
laba yaitu agen memiliki lebih banyak informasi daripada prinsipal yang memiliki
hubungan kerja sama dengan agen dikhawatirkan akan mengurangi independensi
yang dimiliki auditor sehingga auditor akan cenderung berpihak kepada agen.
Hubungan ini akan menimbulkan asimetri informasi yang akan meningkatkan
praktik manajemen laba. Semakin lama auditor berhubungan dengan agen maka
independensi yang dimilikinya akan semakin menurun dan aktivitas manajemen
laba akan meningkat.
Lamanya hubungan antara agen dan auditor menjadi sebuah indikasi bahwa
sikap independen auditor yang sesungguhnya menjadi sangat sulit untuk diterapkan
32 yang lama, juga dapat menyebabkan auditor mengembangkan “hubungan yang
lebih nyaman” dan kesetiaan yang kuat atau hubungan emosional dengan klien
mereka, sehingga dapat menyebakan independensi auditor menjadi terancam.
Penelitian yang dilakukan oleh Nihlati (2014:9) menyimpulkan bahwa auditor
tenure tidak berpengaruh terhadap manajemen laba riil. Penelitian yang sama juga
dilakukan oleh Inaam dan Khmoussi (2012: 31) yang menyimpulkan bahwa auditor
tenure tidak berpengaruh terhadap manajemen laba riil.
Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh,
tidakdikendalikan oleh pihak lain, tidak bergantung pada orang lain
(Mulyadi,2001). Sikap mental independen sama pentingnya dengan keahlian dalam
bidang praktik akuntansi dan prosedur akuntansi yang harus dimiliki oleh auditor.
Independensi auditor diharapkan mampu mengungkapkan informasi yang
sebenarnya atas laporan yang telah dibuat oleh manajemen, dimana indpendensi
auditor berdampak pada pendeteksian manajemen laba.
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena atau
keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi (Erlina, 2011: 30). Berdasarkan
tinjauan teoritis, rumusan masalah dan kerangka konseptual yang dijelaskan di atas,
maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1: Auditor spesialis industri berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
33 H2 : Ukuran KAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
tahun 2010-2013.
H3 :Auditor tenure berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2010-2013.
H4 : Independensi auditor berpengaruh postitif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
2010-2013
H5 : Auditor spesialisi indutri,ukuran KAP,auditor tenure,independensi auditor berpengaruh secara simultan terhadap manajemen laba riil pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Desain Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian desain kausal. Menurut Erlina
(2011:20) desain kausal adalah penelitian yang bertujuan menguji hipotesis dan
merupakan penelitian yang menjelaskan fenomena dalam bentuk hubungan antar
variable. hubungan sebab akibat antara variabel independen (variabel yang
mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi)
11 2.1 Landasan Teoritis
2.1.1 Teori agency ( Agency theory )
Jensen dan Meckling (1976: 308) menggambarkan hubungan keagenan
sebagai suatu kontrak antara satu orang atau lebih (prinsipal) yang melibatkan
orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa kemudian mendelegasikan
wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Prinsipal merupakan
pihak yang memiliki saham pada suatu perusahaan atau pemilik perusahaan. Agen
merupakan pihak yang diberi wewenang oleh prinsipal untuk mengelola aset
perusahaan.
Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk
memahami earnings management. Dalam hubungan prinsipal dan agen akan
menimbulkan apa yang dinamakan agency cost yakni risiko yang terjadi ketika
prinsipal membayar agen untuk menjalankan sebuah tugas padahal kepentingan
agen bertentangan atau tidak selaras dengan kepentingan prinsipal. Kemudian juga
akan menimbulkan konflik kepentingan antara kepentingan prinsipal dan
kepentingan agen. Pihak prinsipaltermotivasi untuk menyejahterakan dirinya
dengan profitabilitas yang selalu meningkat.Agentermotivasi untuk
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain
dalam hal memperoleh investasi, pinjaman maupun kontrak kompensasi dan bonus.
Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena prinsipal tidak dapat
memonitor aktivitas agen sehari-hari untuk memastikan bahwa agen bekerja sesuai
12 Pada kenyataannya principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang
kinerja agen sedangkan agenmempunyai lebih banyak informasi mengenai
kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah
yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh
prinsipal dan agen. Informasi yang lebih sedikit yang dimiliki oleh pemegang
saham dapat memicu manajer menggunakan posisinya dalam perusahaan untuk
mengelola laba yang dilaporkan (Lobo dan Zhou, 2001 dalam Rusmin, 2010: 620).
Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal
dan agen mendorong agen untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya
kepada prinsipal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran
kinerja agen. Hal ini memacu agen untuk memikirkan bagaimana angka akuntansi
tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan kepentingannya.
Salah satu bentuk tindakan agen tersebut adalah yang disebut sebagai manajemen
laba.
Auditor eksternalmerupakan pihak yang dianggap mampu menjembatani
kepentingan pihak prinsipal dan pihak agen dalam mengelola keuangan perusahaan.
Auditor akan mengesahkan laporan pertanggungjawaban pihak agen terhadap pihak
prinsipal dengan memberikan penilaian secara independen dan profesional atas
kehandalan dan kewajaran laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu dalam
hal ini, kualitas audit dan auditor tenure memengaruhi auditor eksternal dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pihak yang mampu menjembatani kepentingan
13 menggambarkan variabel kualitas audit yaitu auditor spesialis industry, ukuran
KAP, auditor tenure dan independensi auditor.
Teori keagenan menjelaskan bahwa seorang auditor dengan kualitas
audit yang tinggi akan memiliki kemampuan dalam mendeteksi adanya praktik
manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan (Becker et al., 2010)
Laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor diharapkan dapat dipercaya dan
digunakan oleh pihak principal. Selain itu, teori keagenan menjelaskan variabel
arus kas bebas, bahwa arus kas bebas dapat menimbulkan masalah agensi karena
adanya konflik kepentingan antara manajemen dan principal (Akhmad, 2011).
Manajemen bisa memanfaatkan surplus arus kas bebas untuk melakukan investasi
yang sia-sia demi kepentingan pribadi.
Auditor spesialisasi industri yakni auditor yang memiliki keahlian dalam
suatu industri tertentu dimungkinkan akan lebih d