• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

H2 : Ukuran KAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

tahun 2010-2013.

H3 :Auditor tenure berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia tahun 2010-2013.

H4 : Independensi auditor berpengaruh postitif dan signifikan terhadap manajemen laba riilpada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI

2010-2013

H5 : Auditor spesialisi indutri,ukuran KAP,auditor tenure,independensi auditor berpengaruh secara simultan terhadap manajemen laba riil pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2013

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian desain kausal. Menurut Erlina

(2011:20) desain kausal adalah penelitian yang bertujuan menguji hipotesis dan

merupakan penelitian yang menjelaskan fenomena dalam bentuk hubungan antar

variable. hubungan sebab akibat antara variabel independen (variabel yang

mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi)

11 2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Teori agency ( Agency theory )

Jensen dan Meckling (1976: 308) menggambarkan hubungan keagenan

sebagai suatu kontrak antara satu orang atau lebih (prinsipal) yang melibatkan

orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa kemudian mendelegasikan

wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Prinsipal merupakan

pihak yang memiliki saham pada suatu perusahaan atau pemilik perusahaan. Agen

merupakan pihak yang diberi wewenang oleh prinsipal untuk mengelola aset

perusahaan.

Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk

memahami earnings management. Dalam hubungan prinsipal dan agen akan

menimbulkan apa yang dinamakan agency cost yakni risiko yang terjadi ketika

prinsipal membayar agen untuk menjalankan sebuah tugas padahal kepentingan

agen bertentangan atau tidak selaras dengan kepentingan prinsipal. Kemudian juga

akan menimbulkan konflik kepentingan antara kepentingan prinsipal dan

kepentingan agen. Pihak prinsipaltermotivasi untuk menyejahterakan dirinya

dengan profitabilitas yang selalu meningkat.Agentermotivasi untuk

memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain

dalam hal memperoleh investasi, pinjaman maupun kontrak kompensasi dan bonus.

Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena prinsipal tidak dapat

memonitor aktivitas agen sehari-hari untuk memastikan bahwa agen bekerja sesuai

12 Pada kenyataannya principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang

kinerja agen sedangkan agenmempunyai lebih banyak informasi mengenai

kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah

yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh

prinsipal dan agen. Informasi yang lebih sedikit yang dimiliki oleh pemegang

saham dapat memicu manajer menggunakan posisinya dalam perusahaan untuk

mengelola laba yang dilaporkan (Lobo dan Zhou, 2001 dalam Rusmin, 2010: 620).

Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal

dan agen mendorong agen untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya

kepada prinsipal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran

kinerja agen. Hal ini memacu agen untuk memikirkan bagaimana angka akuntansi

tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan kepentingannya.

Salah satu bentuk tindakan agen tersebut adalah yang disebut sebagai manajemen

laba.

Auditor eksternalmerupakan pihak yang dianggap mampu menjembatani

kepentingan pihak prinsipal dan pihak agen dalam mengelola keuangan perusahaan.

Auditor akan mengesahkan laporan pertanggungjawaban pihak agen terhadap pihak

prinsipal dengan memberikan penilaian secara independen dan profesional atas

kehandalan dan kewajaran laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu dalam

hal ini, kualitas audit dan auditor tenure memengaruhi auditor eksternal dalam

melaksanakan tugasnya sebagai pihak yang mampu menjembatani kepentingan

13 menggambarkan variabel kualitas audit yaitu auditor spesialis industry, ukuran

KAP, auditor tenure dan independensi auditor.

Teori keagenan menjelaskan bahwa seorang auditor dengan kualitas

audit yang tinggi akan memiliki kemampuan dalam mendeteksi adanya praktik

manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan (Becker et al., 2010)

Laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor diharapkan dapat dipercaya dan

digunakan oleh pihak principal. Selain itu, teori keagenan menjelaskan variabel

arus kas bebas, bahwa arus kas bebas dapat menimbulkan masalah agensi karena

adanya konflik kepentingan antara manajemen dan principal (Akhmad, 2011).

Manajemen bisa memanfaatkan surplus arus kas bebas untuk melakukan investasi

yang sia-sia demi kepentingan pribadi.

Auditor spesialisasi industri yakni auditor yang memiliki keahlian dalam

suatu industri tertentu dimungkinkan akan lebih dapat mendeteksi

kesalahan-kesalahan dan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen daripada auditor tanpa

keahlian khusus.

Ukuran KAP akan berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan.

KAP Big Four menghasilkan kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan

KAP Non Big Four (DeAngelo, 1981: 184, Becker et al., 1998: 6). Auditor Big

Four memiliki keahlian dan reputasi yang tinggi dibandingkan dengan auditor Non Big Four.

Auditor tenure dalam hal ini juga menjadi sebuah indikasi bahwa sikap independen auditor yang sesungguhnya menjadi sangat sulit untuk diterapkan,

14 karena adanya kepentingan manajemen klien. Oleh karena itu, lamanya hubungan

antara perusahaan dan auditor dapat memengaruhi terjadinya manajemen laba.

Independensi auditor berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak

dikendalikan oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi dapat

juga diartikan adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta

dan adanya pertimbangan objektif yang tidak memihak dalam diri auditor dalam

merumuskan dan menyatakan pendapatnya (Mulyadi, 2001)

2.1.2 Pengertian Manajemen laba ( earnings management) 2.1.2.1 Defenisi manajemen laba

Istilah earnings management atau manajemen laba mungkin tidak terlalu

asing bagi para pemerhati manajemen dan akuntansi, baik praktisi maupun

akademisi. Istilah tersebut mulai menarik perhatian para peneliti, khususnya

peneliti akuntansi karena sering dihubungkan dengan perilaku manajer atau para

pembuat laporan keuangan (prepares of financial statements), (Gumanti, 2000:

105). Sekilas tampak bahwa manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat

perolehan laba (earnings) atau prestasi usaha suatu organisasi. Hal ini tidaklah aneh

karena tingkat keuntungan atau laba yang diperoleh sering dikaitkan dengan

prestasi manajemen disamping memang adalah suatu yang lazim bahwa besar

kecilnya bounus yang akan diterima oleh manajer tergantung dari besar kecilnya

laba yang diperoleh. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila manajer sering

berusaha menonjolkan prestasinya melalui tingkat keuntungan atau laba yang

15 Definisi laba menurut Verawati (2012: 18) adalah salah satu indikator

utama untuk mengukur kinerja dan pertanggungjawaban manajemen. Informasi

laba juga dapat dijadikan panduan dalam melakukan investasi yang membantu

investor ataupun pihak lain dalam menilai kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Selain itu, laba pada umumnya

dipandang sebagai dasar untuk perpajakan, pembayaran dividen dan pengambilan

keputusan. Adanya kecenderungan untuk memerhatikan laba ini disadari oleh

manajemen, khususnya manajer yang kinerjanya diukur berdasarkan informasi laba

tersebut, sehingga mendorong munculnya manajemen laba (earnings management).

Ada perbedaan mendasar antara praktisi dan akademisi dalam memandang

manajemen laba. Secara umum para praktisi, yaitu investor, pemerintah, asosiasi

profesi, dan pelaku ekonomi lainnya menganggap manajemen laba sebagai

kecurangan manajerial. Alasannya adalah aktivitas rekayasa manajerial ini

dilakukan untuk menyesatkan dan merugikan pihak lain yang menggunakan

laporan keuangan sebagai sumber informasi untuk mengetahui segala sesuatu

mengenai perusahaan. Sementara akademisi, termasuk para peneliti menilai

manajemen laba bukan sebagai kecurangan, sebab aktivitas rekayasa manajerial ini

pada dasarnya merupakan dampak dari luasnya prinsip yang berterima umum,

sehingga bisa dikatakan bahwa perbedaan pemahaman terhadap manajemen laba

disebabkan perbedaan sudut pandang antara satu pihak dengan pihak lain

(Sulistyanto, 2008, 2012: 18).

Gumanti (2000) 2010: 19) berpendapat bahwa manajemen laba dapat

16 suatu periode tertentu, yaitu adanya kemungkinan munculnya motivasi tertentu

yang mendorong mereka untuk mengatur data keuangan yang dilaporkan.

Manajemen laba tidak harus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau

informasi akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode

akuntansi untuk mengatur keuangan yang dapat dilakukan karena memang

diperkenankan menurut peraturan akuntansi. Hal ini sejalan dengan definisi

manajemen laba menurut Belkaoui (2011:74)yakni:“Suatu kemampuan untuk

memanipulasi pilihan-pilihan yang tersedia danmengambil pilihan yang tepat untuk

dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan.”

Definisi yang berbeda menurut Healy dan Wahlen dalam Belkaoui

(2011:75) yakni:“Manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan

pertimbangan mereka dalam pelaporan keuangan dan struktur transaksi untuk

mengubah laporan keuangan dengan tujuan menyesatkan beberapa pemangku

kepentingan mengenai kondisi kinerja ekonomi perusahaan atau untuk

memengaruhi hasil-hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi

yang dilaporkan.”

Definisi yang dikemukakan oleh Healy dan Wahlen di atas berfokus pada

penerapan pertimbangan dalam laporan keuangan (1) untuk menyesatkan para

pemangku kepentingan yang tidak ataupun tidak bisa melakukan manajemen laba

dan (2) untuk membuat laporan keuangan menjadi lebih informatif bagi para

17 laba: (1) sisi buruknya adalah biaya yang diciptakan oleh kesalahan alokasi dari

sumber-sumber daya dan (2) sisi baiknya adalah potensi peningkatan kredibilitas

manajemen dalam mengkomunikasikan informasi pribadi kepada pemangku

kepentingan eksternal dan memperbaiki keputusan dalam alokasi sumber-sumber

daya.

Dari beberapa pengertian manajemen laba di atas, peneliti menyimpulkan

bahwa manajemen laba berkaitan dengan cara manajemen dalam menyajikan

laporan keuangan dalam pengambilan keputusan, artinya manajemen punya

wewenang untuk menyajikan laporan keuangan baik secara legal maupun ilegal.

Kriteria manajemen laba secara legal yakni apabila tidak menyimpang dari Standar

Akuntansi Keuangan, misalnya dalam pemilihan metode penyusutan baik melalui

metode garis lurus atau saldo menurun. Pemilihan dari salah satu metode tersebut

tentu akan berpengaruh terhadap laporan keuangan khususnya laba yang dihasilkan

oleh perusahaan atau lebih banyak berkaitan dengan pengambilan keputusan

manajemen terkait laporan keuangan perusahaan. Sedangkan kriteria manajemen

laba secara ilegal yakni apabila telah menyimpang dari Standar Akuntansi

Keuangan, misalnya penyajian akun akumulasi penyusutan dalam laporan posisi

keuangan seharusnya di sisi kredit namun manajemen menyajikannya si sisi debet.

2.1.2.2 Manajemen Laba Riil

Manajemen laba riil merupakan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen

melalui aktivitas perusahaan sehari-hari selama periode akuntansi. Motivasi utama

18 laba riil dapat dilakukan kapan saja sepanjang periode akuntansi dengan tujuan

spesifik, yaitu memenuhi target laba tertentu, menghindari kerugian dan mencapai

target ramalan analis. Selain itu, menajemen laba riil sulit untuk dideteksi oleh

auditor.

Menurut Healy and Wahlen, (1999) dalam Roychowdhury (2006: 337)

mendefinisikan manajemen laba sebagai berikut “Earnings management accurs

when managers use judgment in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of the company or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting practices”. Dengan kata lain bahwa campur tangan manajer dalam proses pelaporan keuangan tidak hanya melalui metode-metode atau

estimasi-estimasi akuntansi saja tetapi juga dapat dilakukan melalui

keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kegiatan operasional. Selanjutnya, manajer

juga memiliki insentif untuk memanipulasi aktivitas-aktivitas riil selama tahun

berjalan untuk memenuhi target laba. Manipulasi aktivitas-aktivitas riil tersebut

disebut manajemen laba riil.

Menurut Roychowdhury (2006), Cohen et al. (2008), Cohen dan Zarowin

(2010) dalam Ratmono (2010: 5) terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan

dalam manipulasi aktivitas riil, yaitu:

1. Manipulasi penjualan

Manipulasi penjualan merupakan usaha untuk meningkatkan penjualan secara temporer dalam periode tertentu dengan menawarkan diskon harga produk secara berlebihan atau memberikan persyaratan kredit yang lebih

19 lunak. Strategi ini dapat meningkatkan volume penjualan dan laba periode saat ini, dengan mengasumsikan marginnya positif. Namun pemberian diskon harga dan syarat kredit yang lebih lunak akan menurunkan aliran kas periode saat ini.

2. Penurunan beban-beban diskresionari (dicretionary expenditure)

Perusahaan dapat menurunkan discretionary expenditureseperti beban penelitian dan pengembangan, iklan dan penjualan, administrasi dan umum terutama dalam periode dimana pengeluaran tidak langsung menyebabkan pendapatan dan laba. Strategi ini dapat meningkatkan laba dan arus kas periode saat ini namun dengan risiko menurunkan arus kas periode mendatang.

3.Produksi yang berlebihan (overproduction)

Untuk meningkatkan laba, manajer perusahaan dapat memproduksi lebih banyak daripada yang diperlukan dengan asumsi bahwa tingkat produksi yang lebih tinggi akan menyebakan biaya tetap per unit produk lebih rendah. Strategi ini dapat menurunkan harga pokok penjualan (cost of good sold) dan meningkatkan laba operasi.

Ketiga cara manipulasi aktivitas riil di atas biasanya dilakukan oleh

perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang buruk sehingga tidak banyak memiliki

akrual untuk dimanipulasi. Satu-satunya cara adalah dengan manipulasi aktivitas

riil tersebut terutama untuk mencapai laba sedikit di atas nol.

Dengan ketiga cara di atas perusahaan-perusahaan yang diduga (suspect)

melakukan manipulasi aktivitas riil akan mempunyai abnormal cash flow

operations (CFO) dan abnormal discretionary expense yang lebih kecil serta abnormal production cost yang lebih besar dibandingkan perusahaan-perusahaan lain.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Roychowdhury (2006: 338)

menunjukkan para eksekutif keuangan lebih memilih untuk memanipulasi laba

20 1. Manipulasi akrual cenderung membuat para auditor atau regulator melakukan pemeriksaan dengan cepat daripada jika keputusan-keputusan tentang aktivitas riil atau produksi yang dibuat. Hal ini menunjukkan bahwa baik auditor ataupun regulator kurang memberikan perhatian terhadap aktivitas-aktivitas riil yang dimanipulasi oleh manajemen, sehingga manajemen memiliki kesempatan untuk memanfaatkan peluang ini dalam mencapai target laba.

2. Hanya bersandar pada manipulasi akrual saja akan membawa risiko karena pengelolaan laba dengan mengandalkan akrual diskresioner hanya dapat dilakukan pada akhir tahun. Akan tetapi, strategi ini menimbulkan risiko yaitu jika jumlah laba yang perlu dimanipulasi lebih besar daripada akrual diskresioner yang dapat digunakan manager, maka kemampuan manajer dalam memanipulasi laba terbatas, akibatnya target laba tidak dapat dicapai jika hanya menggunakan akrual diskresioner pada akhir tahun.

Berdasarkan Roychowdhury (2006: 34) dalam Subekti, Kee dan Ahmad (2010: 13) pengukuran manajemen laba riil menggunakan 3 cara yakni:

1. Abnormal cash flow operations (CFO). Arus kas operasi abnormal adalah manipulasi laba yang dilakukan perusahaan melalui aliran operasi kas yang akan memiliki aliran kas lebih rendah daripada level normalnya. Estimasi nilai residu arus kas operasi merupakan nilai abnormal arus kas operasi.

2. Abnormal production cost (PO). Biaya kegiatan produksi abnormal adalah manajemen laba riil yang dilakukan melalui manipulasi biaya produksi, dimana perusahaan akan memiliki biaya produksi lebih tinggi daripada level normalnya. Estimasi nilai residu dari biaya produksi merupakan nilai abnormal biaya produksi.

3. Abnormal discretionary expense (DE). Biaya diskresioner abnormal adalah manajemen laba riil yang dilakukan dengan menurunkan discretionary expenditure seperti biayapenelitian dan pengembangan, biaya iklan, biaya penjualan, administrasi dan umum. Estimasi nilai residu dari biaya diskresioner merupakan nilai abnormal biaya diskresioner.

2.1.3 Auditor Spesialis Industri

Dalam Zhou dan Elder (2004: 96) membuktikan bahwa kualitas audit

berhubungan dengan auditor spesialis industri. Auditor yang melakukan spesialisasi

pada industri tertentu memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai informasi

21 menggambarkan keahlian dan pengalaman audit seorang auditor pada bidang

industri tertentu yang diproksi dengan jasa audit pada bidang industri tertentu.

Dengan demikian, auditor spesialisasi industri diharapkan memiliki kinerja yang

lebih baik dibandingkan auditor lainnya dalam meminimalisir adanya praktik

manajemen laba (Solomon et al., Owhoso et al. dalam Rusmin, 2010: 621).

Auditor spesialisasi industri diproksi dengan konsentrasi jasa auditor pada

bidang tertentu (Rahmadika, 2013: 36). Auditor yang memiliki spesialisasi industri

yakni auditor yang memiliki keahlian dalam suatu industri tertentu, auditor

spesialisasi industri dimungkinkan akanlebih dapat mendeteksi

kesalahan-kesalahan dan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen daripada auditor tanpa

keahlian khusus.

Chi et al. (2011) dalam Inaam dan Khmoussi (2012: 21) menemukan bahwa

keahlian industri auditor berhubungan dengan manajemen laba berbasi riil yang

lebih besar. Dengan meningkatnya keahlian auditor dimungkinkan bahwa

manajemen akan menggunakan berbagai caranya untuk memanipulasi aktivitasnya

terkait dengan tingkat laba yang dihasilkan perusahaan. Manajemen memiliki

kapasitas untuk mengatur setiap kegiatan di dalam perusahaan sehingga dapat

mendorong manajer memenuhi target laba.

Dalam teori agensi dan teori stewardship dimana pihak agen sebagai pihak

yang diberi tanggungjawab oleh pihak prinsipal akan terdorong untuk melakukan

berbagai hal untuk memberikan hasil pertanggungjawaban yang sebaik mungkin

22 perubahan pada laba. Oleh karena itu, auditor dituntut untuk menguasai keahlian di

bidang industri perusahan. Dengan demikian auditor yang memiliki keahlian dalam

spesialisasi industri maka akan dapat menurunkan praktek manajemen laba.

2.1.4 Ukuran KAP

Dalam agency theory dijelaskan bahwa adanya pihak principal dengan

pihak agen yang digambarkan dengan hubungan antara auditee dan auditor dalam

proses audit. Untuk memperoleh audit yang berkualitas, seorang principal akan

cenderung menunjuk agen (auditor) yang memiliki independensi. Auditor yang

memiliki independensi tinggi diasumsikan oleh auditor yang berada dalam KAP

yang besar. Dalam hal ini ukuran auditor dijadikan sebagai patokan dalam

menentukan hasil audit yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.Ukuran

KAP akan berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan. KAP big four

menghasilkan kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan KAP non big

four (Meutia, dalam Rahmadika 2011:15). Auditor big four memiliki keahlian dan reputasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor non big four. Oleh karena

itu auditor big four akan berusaha untuk memberikan kualitas terbaik mereka dalam

mempertahankan pangsa pasar, repuatsi dan kepercayaan masyarakat.

Geralyi et al. (2011) melakukan penelitian mengenai ukuran auditor

terhadap manajemen laba menemukan bahwa ukuran auditor berhubungan negatif

dan signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian tersebut diasumsikan

bahwa semakin besar ukuran auditor akan berdampak pada penurunan aktivitas

23 Tabel berikut menunjukkan mitra KAP internasional Big Four dengan KAP

di Indonesia

Tabel 2.1

Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP)

The big four Mitra Indonesia

Deloitte Touche Tohmatsu Osman Bing Satrio dan rekan Ernst and Young Purwantono, Sarwoko dan Sandjaja Kingsfield, Peat, Marwick, Goerdeller

(KPMG)

Siddharta dan Widjaja

Price Waterhouse Coopers (PWC) Haryanto, Sahari dan rekan

Sumber: Tuanakkotta, Theodorus M., Berfikir Kritis dalam Auditing (Jakarta: Salemba Empat, 2011), hlm. 299.

Ukuran KAP menunjukkan kemampuan auditor untuk bersikap independen

dan melaksanakan audit secara profesional. KAP Big Four merupakan auditor yang

memiliki keahlian dan reputasi yang tinggi dibanding dengan auditor KAP NonBig

Four (Nurina, 2010 dalam Kono, 2013: 3). Auditor Big Four diharapkan lebih bisa mengungkap salah saji material antara pihak manajemen dan pemegang saham,

selain itu KAP Big Four cenderung memiliki auditor yang lebih berpengalaman

yang akhirnya mampumembatasi besarnya manajemen laba pada suatu perusahaan

(Kono, 2013: 3). Dahlan (2009: 9) menambahkan bahwa KAP Big Four memiliki

dorongan yang lebih besar untuk mengetahui kesalahan dalam sistem akuntansi

klien, selain itu perusahaan yang diaudit oleh auditor KAP Big Four cenderung

24 2.1.5 Audit Tenure

Pergantian masa kerja (tenure) auditor telah ditentukan secara mandatory

oleh peraturanpemerintah. Hal ini dimaksudkan agar independensi seorang auditor

dapat lebih terjaga dengan membatasi hubungan antara auditor dan auditee. Auditor

ini berguna untuk mengurangi asimetri informasi yang terjadi antara agen dan

principal sehingga auditor harus memiliki tingkat independensi yang tinggi untuk

mencegah terjadinya asimetri informasi ini yang salah satunya mengenai

manajemen laba yang dilakukan oleh agen.

Reichelt and Wang (2010) dalam Inaam dan Khmoussi (2012) meneliti

adanya hubungannegatif antara auditor tenure dengan manajemen laba. Dengan

adanya audit tenureyang lebihpendek maka manajemen laba yang dilakukan oleh

auditee (agen) akan lebih besar namun semakinlama audit tenure akan memperkecil

praktik manajemen laba yang dilakukan. Fanny dan Siregar (2007) dalam

Herusetya (2009) menemukan hubungan signifikan antara audit tenure dengan nilai

absolute akrual diskresioner sebagai proksi manajemen laba dan hasil penelitian.

Mereka menemukan bahwa nilai absolute diskresioner semakin rendah seiring

dengan semakin panjangnya jangka waktu penugasan audit.

Namun Johnson et al. (2002) dalam Inaam dan Khmoussi (2012)

menemukan bahwa klien dengan masa auditor yang lebih pendek memiliki kualitas

akrual yang lebih rendah dibandingkan dengan masa kerja lebih panjang. Penelitian

tersebut menyebutkanbahwa masa kerja yang lebih lama akan dikaitkan dengan

peningkatan akrual diskresioner dan manajemen laba real. Masa kerja yang lebih

25 pada auditor akan meningkatkan aktivitas manajemen laba diperusahaan baik secar.

Ini dikarenakan auditor yang memiliki masa kerja lebih pendek cenderung akan

memiliki independenitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor yang telah

memiliki masa kerja audit yang lebih panjang. Dengan berkurangnya

keindependensian maka diasumsikan dapat meningkatkan terjadinya manajemen

laba yang dilakukan oleh manajemen klien.

Pada agency theory dan stewarshipdijelaskan bahwa dapat terjadi keadaan

dimana salah satu pihak memiliki lebih banyak informasi sehingga menimbulkan

kondisi asimetri informasi.Hal ini terjadi dalam praktik manajemen laba yaitu agen

memiliki lebih banyak informasi daripada principal yang salah satunya dapat

disebabkan oleh hubungan antara agen dan principal. Semakin lama auditor

memiliki hubungan kerjasama dengan agen dikhawatirkan akan mengurangi

independensi yang dimiliki auditor sehingga auditor akan cenderung berpihak

Dokumen terkait