• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Auditor Industry Specialization, Audit Tenure, Ukuran Perusahaan, dan Independensi Auditor terhadap Kualitas Audit Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Pengaruh Auditor Industry Specialization, Audit Tenure, Ukuran Perusahaan, dan Independensi Auditor terhadap Kualitas Audit Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LANDASAN TEORI

2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Dalam jurnal Mirna dan Indria (2011), Jensen dan Meckling (1976) menggambarkan hubungan agensi sebagai suatu kontrak di bawah satu atau lebih prinsipal yang melibatkan agen untuk melaksanakan beberapa layanan bagi mereka dengan melakukan pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada agen. Shareholders atau prinsipal mendelegasikan pembuatan keputusan mengenai perusahaan kepada manajer atau agen.

Hubungan keagenan itu hubungan yang timbul apabila principal

memberikan mandat kepada agen untuk melaksanakan pekerjaan dan

principal memberikan wewenang di dalam pengambilan keputusan kepada

agen tersebut.

Dalam kenyataannya, manajer tidak selalu bertindak sesuai dengan

keinginan shareholders. Salah satu penyebabnya adalah moral hazard.

Menurut Indria (2011) “Moral hazard adalah tindakan yang dilakukan

manajer tidak sepenuhnya diketahui oleh pemegang saham”. Manajer bisa

melakukan tindakan melanggar kontrak antara manajemen dengan

pemegang saham.Manajer melakukan moral hazard karena adanya kondisi

asymmetry information antara manajeman dengan pemegang saham, yang

(2)

dibutuhkan pihak ketiga yang independen sebagai mediator antara

principal dan agen. Pihak ketiga ini berfungsi memonitori perilaku

manajer sebagai agen dan memastikan bahwa agen bertindak sesuai

dengan kepentingan principal. Auditor adalah pihak yang dianggap

mampu menjembatani kepentingan pihak principal (shareholders) dengan

pihak manajer sebagi bentuk pertanggungjawabannya pada pemegang

saham. Tugas auditor adalah memberikan opini atas kewajaran laporang

keuangan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku umum, disamping

pertimbangan professional auditor akan kelangsungan hidup perusahaan di

masa yang akan datang.

Penggunaan auditor eksternal yang independen untuk meverifikasi

data-data akuntansi yang dilaporkan oleh manajemen merupakan

mekanisme yang didorong oleh pasar dengan tujuan untuk mengurangi

agency cost. Manajemen perusahaan selalu berupaya memberikan

kepuasan kepada keinginan investor dengan memlih auditor yang dapat

merefleksikan citra manajer yang baik dimata investor. Hal ini berarti

kualitas pelayanan jasa auditor yang diberikan terhadap klien menjadi

dasar pertimbangan utama di dalam menyeleksi auditor.

Auditor dituntut untuk menjaga independensi dan memiliki

kepentingan untuk mempertahankan atau meningkatkan jasa auditnya

dengan memenuhi keinginan klien audit, terutama klien jangka panjang ,

(3)

Ketergantungan ekonomi dapat menjadi factor utama penyebab adanya

insentif untuk bekerja sama dengan manajemen yang curang. Ditinjau dari

sudut ini , maka perikatan audit jangka panjang akan terjalin hubungan

kedekatan dan loyalitas antara auditor dank lien. Apabila penugasan

auditor yang sekarang diperthankan dalam jangka waktu yang lama di

masa depan, maka memungkinkan auditor tersebut menjadi merasa

nyaman, sehingga obyektivitas audit akan terganggu.

2.1.2 Kualitas Audit

Menurut I Gusti (2008;29), “secara sederhana, audit (auditing)

adalah kegiatan membandingkan suatu kriteria (apa yang seharusnya)

dengan kondisi (apa yang sebenarnya terjadi)”.

Audit berkaitan erat dengan akuntabilitas dan atesti. Akuntabilitas

berkaitan dengan kewajiban pihak dalam organisasi untuk melaporkan

pertanggungjawabannya kepada pihak eksternal atau pihak lain dengan

kewenangan yang lebih tinggi. Untuk menjamin keandalan informasi

dalam laporan akuntabilitas tersebut, dibutuhkan pihak yang independen

untuk memberikan atestasi atas informasi tersebut denga cara melakukan

audit.

Unsur-unsur penting yang terdapat di dalam auditing menurut Mulyadi (2002:9) yaitu:

1. Suatu proses sistematik.

(4)

4. Menetapkan tingkat kesesuaian, kriteria yang telah ditetapkan, penyampaian hasil, dan pemakai yang berkepentingan.

Menurut I Gusti (2008;31) Audit dikelompokkan menjadi tiga yaitu: 1. Audit laporan keuangan

Audit keuangan yaitu audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

2. Audit Kinerja

Audit kinerja adalah audit yang dilakukan secara objektif dan sistematis terhadap berbagai macam bukti untuk menilai kinerja entitas yang diaudit dalam hal ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja dan entitas yang diaudit dan meningkatkan akuntabilitas publik.

3. Audit dengan Tujuan Tertentu

Audit dengan tujuan tertentu adalah audit khusus, diluar audit keuangan dan audit kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas hal yang diaudit.

Sedangkan kualitas audit itu sendiri menurut (DeAngelo, 1981)

dalam (Ni Made & I Made, 2014) “merupakan adanya kecenderungan

auditor akan mendeteksi adanya fraud yang terdapat dalam laporan

keuangan klien”.

2.1.3 Auditor Industry Specialization

Auditor yang memiliki spsialisasi di bidang tertentu dalam

melakukan audit laporan keuanan kliennya memiliki pemahaman dan

pegetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor yang tidak

(5)

memiliki spesialisasi di suatu industry apabila auditor tersebut telah

mengikuti pelatihan-pelatihan yang berfokus pada suatu industry tertentu.

GAO (Government Accountability Officer ) menyimpulkan bahwa

auditor spesialisasi industri ikut bertanggung jawab atas tingginya tingkat

konsentrasi auditor di banyak industri.

Ketatnya persaingan dan kompetisi dalam profesi akuntan publik

serta adanya peraturan akuntansi yang baru dalam industri tertentu, setiap

Kantor Akuntan Publik (KAP) mencari cara untuk membedakan diri

mereka dengan kompetitor yang lain. Salah satunya adalah dengan

menyusun divisi audit mereka sesuai dengan jenis industri. Menurut

Kirana (2013) “auditor spesialisasi industry cenderung melakukan

investasi yang lebih besar dalam rekrutmen pegawai, pelatihan, teknologi

informasi dan teknologi audit daripada auditor non spesialisasi industry”.

Auditor spesialisasi industri memberikan beberapa keuntungan

terhadap Kantor Akuntan Publik (KAP), diantaranya dapat meningkatkan

pangsa pasar dan keuntungan sebagai return dari investasi dalam

spesialisasi serta menjaga pangsa pasar dalam lingkungan yang bersaing.

Auditor spesialisasi industri dapat melakukan pekerjaaan mereka dengan

kualitas yang lebih tinggi karena kemampuan mereka untuk mengenali

(6)

2.1.4 Audit Tenure

Menurut (Nurul,Nur, azlina, 2012) “audit tenure adalah jangka

waktu perikatan yang terjalin antara KAP dengan auditee yang sama”

Auditor mempunyai kepentingan untuk mempertahankan atau

bahkan meningkatkan opini dari jasa auditnya dengan memenuhi

keinginan klien, terutama klien jangka panjang untuk menjamin

kelanjutan dari audit tenure. Audit tenure jangka panjang akan membuat

kedekatan dan loyalitas antara auditor dan klien karena auditor akan

merasa nyaman dengan klien tersebut. Hal ini dapat menurunkan

obyektifitas audit dan independensi auditor sehingga akan berdampak

pada hasil dan kualitas audit.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, ada dua

faktor utama yang memicu timbulnya hubungan yang negatif antara

auditor-klien dan kualitas audit yaitu pengikisan independensi yang

mungkin muncul seiring dengan berkembangnya hubungan pribadi antara

auditor dan klien mereka serta berkurangnya kapasitas auditor untuk

memberikan penilaian kritikal. Sedangkan Dao et all (2008) dalam Sinaga

(2012) menyatakan “hubungan yang lama antara perusahaan dengan

kantor akuntan dapat mengarahkan pada kedekatan antara kantor akuntan

dengan manajemen perusahaan sehingga membuat sikap independen

(7)

2.1.5 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan gambaran besar atau kecilnya suatu

perusahaan yang ditentukan dengan batas-batas tertentu yang sudah

ditentukan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan berbagai cara, antara

lain total aset, nilai pasar, dan penjualan perusahaan. Pengukuran dengan

menggunakan total aset digunakan sebagai proksi ukuran perusahaan

dengan mempertimbangkan bahwa nilai aset relatif lebih stabil

dibandingkan dengan nilai pasar dan penjualan.

Menurut Sugiarto (2009:), “semakin besar perusahaan semakin

baik aksesnya ke pasar modal, namun juga memiliki biaya meminjam

lebih rendah”. Perusahaan yang berukuran besar memiliki basis pemegang

kepentingan yang lebih luas, sehingga berbagai kebijakan perusahaan

besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik

dibandingkan dengan perusahaan kecil. Oleh karena itu, perusahaan yang

berukuran besar lebih dikenal oleh masyarakat dan melibatkan lebih

banyak pihak dalam kegiatan operasi perusahaan.

Selain itu, perusahaan yang memiliki total aset yang besar

menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan,

dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap

memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain

(8)

mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total aset yang

kecil.

2.1.6 Independensi Auditor

Menurut Siti dan Ely (2010:13) auditor independen ialah orang yang bertanggung jawab atas audit laporan keuangan historis auditee-nya. Independen dimaksudkan sebagai sikap mental auditor yang memiliki integritas tinggi, obyektif pada permasalahan yang timbul dan tidak memihak pada kepentingan manapun.

Sedangkan Independensi menurut Mulyadi (2002:26-27) “dapat

diartikan sebagai sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak

dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain”.

Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam

mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak

memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan

pendapatnya.

Dalam kenyataannya auditor seringkali menemui kesulitan dalam mempertahankan sikap mental independen. Keadaan yang seringkali mengganggu sikap mental independen auditor adalah sebagai berikut (Mulyadi, 2002:27) :

1. Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor dibayar oleh kliennya atas jasanya tersebut.

2. Sebagai penjual jasa seringkali auditor mempunyai kecenderungan untuk memuaskan keinginan kliennya.

(9)

Standar umum audit yang kedua menyatakan bahwa “dalam semua

hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental

harus dipertahankan oleh auditor”.(SA Seksi 220). Standar ini

mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah

dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan

umum. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen

dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance).

2.2 PENELITIAN TERDAHULU

Penelitian yang dilakukan Ni Made dan I Made (2014) tidak menemukan

adanya pengaruh signifikan masa perikatan audit terhadap kualitas audit yang

dihasilkan, hal tersebut berarti masa perikatan yang panjang belum tentu

menghasilkan hasil audit yang lebih baik disbanding masa perikatan yang lebih

singkat. Namun dalam penelitian Yugotian (2011) menemukan pengaruh positif

dan signifikan masa perikatan audit terhadap kualitas audit yang dihasilkan.

Pada penelitian Dinda Ayu Kartikasari (2012) yang menggunakan

beberapa pengukuran menemukan adanya hubungan kuadratik antara tenure AP

dan kualitas audit pada model Kaznik periode sebelum regulasi, tenure AP

berhungan linier positif dengan kualitas audit pada model Modified Jones dan

Dechow periode sebelum regulasi, sedangkan tenure KAP berhubungan linier

(10)

yang dilakukan oleh Daud M.T Sinaga (2012) menyatakan bahwa audit tenure

tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

Dalam hal auditor spesialis industri yang dikutip dari Indria (2011)

penelitian yang dilakukan oleh Ohwoso (2002) “menjelaskan bahwa manajer dan

senior audit spesialis akan lebih baik dalam mendeteksi terjadinya kesalahan jika

mereka diberikan tugas audit sesuai dengan spesialisasi mereka”. Dan dari

penelitian Almutairi et al (2009) “diperoleh kesimpulan bahwa terjadi penurunan

peluang terjadinya private information yang terdapat pada perusahaan yang

diaudit oleh auditor spesialis, yang dikarenakan peningkatan disclosure dan

kualitas audit”.

Penelitian tentang pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas audit

juga dilakukan Daud (2012) yang menghasilkan adanya pengaruh signifikan

ukuran perusahaan terhadap kualitas audit. Penelitian Ni Made dan I Made

(2014) menyatakan adanya pengaruh positif ukuran perusahaan terhadap

kualitas audit..

Adapun perbedaan penelitian ini dari penelitian sebelumnya yaitu tahun

penelitian yang dilakukan, penelitian ini dilakukan antara tahun 2011-2013 pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan lain

yakni cara pengukuran variabel dependennya, Daud M.T Sinaga menggunakan

(11)

penelitian ini menggunakan proksi ukuran KAP Big Four dan Non Big Four

sebagai pengukuran kualitas audit.

Adapun persamaan penelitian ini dengan beberapa penelitian terdahulu

yakni dengan menggunakan kualitas audit sebagai variabel dependen (terikat),

audit tenure dan auditor spesialis industry sebagai variabel independennya

(bebas).

2.3PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.3.1 Auditor Industry Specialization

Ada beberapa alasan suatu perusahaan memberikan informasi ke

pasar modal. Salah satunya adalah untuk mengurangi asimetri informasi.

Semakin rendah asimetri informasi maka semakin tinggi likuiditas pasar

dari perusahaan tersebut. Untuk mendukung hal tersebut maka disini

dibutuhkan peran auditor untuk mengaudit laporan keuangan yang

digunakan sebagai media penyampaian informasi agar informasi yang

disajikan baik. Semakin baik informasi menunjukkan kualitas audit yang

baik juga.

(12)

Auditor dengan spesialisasi industri dipandang sebagai auditor

yang memberikan audit dengan kualitas tinggi karena memiliki

pengetahuan tentang industri tertentu dan juga dapat mengaudit lebih

efisien melalui spesialisasinya. Auditor spesialisasi industri memberikan

kontribusi positif terhadap kredibilitas auditor. Seorang auditor akan lebih

baik dalam mendeteksi kesalahan jika mereka diberikan tugas audit sesuai

dengan spesialis mereka sehingga dapat meminimalisasi terjadinya

asimetri informasi.

Penelitian sebelumnya menemukan adanya hubungan positif antara

auditor spesialis dengan kualitas audit. Owhoso (2002) yang dikutip dalam

jurnal Indria (2011) menjelaskan “bahwa manajer dan senior audit

spesialis akan lebih baik dalam mendeteksi terjadinya kesalahan jika

mereka diberikan tugas audit sesuai dengan spesialisasi mereka”.

Atas dasar paparan diatas, maka hipotesis pertama dalam

penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :

H1 : Auditor Industry Specialization berpengaruh terhadap kualitas audit.

2.3.2 Audit Tenure

Manajer (agent) sebagai pengelola perusahaan lebih banyak

(13)

datang dibandingkan pemilik (principals). Ketimpangan informasi ini

biasa disebut sebagai asymetri information. Baik pemilik maupun agen

diasumsikan mempunyai rasionalisasi ekonomi dan semata-mata

mementingkan kepentingannya sendiri. Agen mungkin takut

mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik, sehingga

terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan tersebut.

Berdasarkan asumsi tersebut, maka dibutuhkan pihak ketiga yang

independen untuk menjembataninya, dalam hal ini adalah akuntan publik

(auditor).

Hal utama yang mendukung adanya hubungan negative antara

lamanya penugasan audit dengan kualitas audit yaitu erosi independensi

yang mungkin mucul akibat tumbuhnya hubungan pribadi antara auditor

dengan kliennya dan semakin lamanya penugasan audit, kapabilitas

auditor untuk bersikap kritis akan berkurang karena auditor sudah terlalu

familiar. Auditor harus menyadari berbagai tekanan yang bermaksud

mempengaruhi perilakunya dan sedikit demi sedikit akan mengurangi

independensinya. Hubungan pribadi yang semakin panjang akan

memunculkan ikatan loyalitas atau emosi yang akan mempengaruhi

independensi dan objektivitas auditor. Kondisi yang paling ekstrem yaitu

timbulnya familiaritas berlebihan yang akan mendorong terjadinya kolusi

(14)

Terlepas dari hubungan negatif lamanya penugasan audit juga

dapat memberikan hubungan positif. Fitriany (2011) dalam jurnal Indria

(2011) “menyatakan bahwa kualitas audit akan meningkat seiring dengan

bertambahnya tahun perikatan (tenure) audit. Hal ini dikarenakan auditor

akan mendapatkan pengalaman lebih banyak dan menjadi lebih familiar

dengan bisnis operasi kliennya serta isu-isu terkait”.Lamanya penugasan

audit dapat meningkatkan kualitas audit dengan berbagai alasan dan

pengetahuan tentang klien dan industri yang diperoleh setelah audit

selama berulang-ulang akan meningkat, sehingga dapat meningkatkan

kualitas audit.

Atas dasar paparan diatas, maka hipotesis kedua dalam penelitian

ini dapat dinyatakan sebagai berikut :

H2 : Audit Tenure berpengaruh terhadap kualitas audit.

2.3.3 Ukuran Perusahaan

Selain oleh efek ukuran KAP, kualitas audit juga dapat

dipengaruhi oleh ukuran perusahaan Klien. Auditee yang lebih besar,

karena kompleksitas operasi mereka dan peningkatan pemisahan antara

manajemen dan kepemilikan, sangat memerlukan KAP yang dapat

(15)

Selain itu, menurut (Palmrose, 1984) dalam Sinaga (2012)

“seiring dengan ukuran perusahaan mengalami peningkatan, kemungkinan

bahwa jumlah konflik agensi juga meningkat dan ini mungkin akan

meningkatkan permintaan untuk membedakan kualitas auditor”.

Berdasarakan argumen tersebut, perusahaan besar pastinya akan lebih

memilih menggunakan jasa auditor besar yang independen dan profesional

untuk menciptakan audit yang berkualitas sehingga timbul hubungan yang

positif.

Perusahaan besar memiliki sistem pengendalian internal yang lebih

baik dibandingkan perusahaan kecil. Dari sudut pandang Perceived

Quality, ketika baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil

memperoleh tingkat kepercayaan yang sama dari pengguna laporan

keuangan bahwa laporan keuangan mereka telah bebas dari salah saji

material, bagi perusahaan kecil tingkat kepercayaan ini menjadi lebih

efektif. Outcome yang diperoleh perusahaan kecil ketika output

(kepercayaan pengguna laporan keuangan) telah dicapai lebih besar

dibandingkan perusahaan besar. Bagi perusahaan kecil, kepercayaan

pengguna laporan keuangan bukan hanya mampu mempromosikan

investasi mereka, namun tentu saja membuat perusahaan mereka lebih

diperhatikan publik dan investor. Sedangkan, bagi perusahaan besar yang

(16)

Perceived Quality, jasa audit pada perusahaan kecil lebih berkualitas

dibandingkan dengan perusahaan besar dan tercipta hubungan negatif.

Berdasarkan pemaparan dan perbedaan perspektif diatas, maka

hipotesis ketiga dapat dinyatakan sebagai berikut :

H3 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas audit

2.3.4 Independensi Auditor

Standar Umum kedua dalam SA seksi 220 menyatakan “Dalam

semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap

mental harus dipertahankan oleh auditor”. Standar ini mengharuskan

auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia

melaksanakan perkerjaannya untuk kepentingan umum.

Tidak hanya soal kompetensi, auditor dituntut untuk senantiasa

mempertahankan sikap mental independen di dalam melaksanakan tugas

dan tanggung jawab yang diberikan. Independensi berarti sikap mental

yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, dan tidak

tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran

dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya

pertimbangan yang objektif dalam merumuskan dan menyatakan

(17)

Menurut Mulyadi (2002:62) “sikap mental independen tersebut

harus meliputi independen dalam fakta (in fact) dan independen dalam

penampilan (in appearance)”. Independence in fact menuntut auditor agar

membentuk opini dalam laporan audit seolah-olah auditor itu pengamat

profesional, tidak berat sebelah. Independence in appearance menuntut

auditor untuk menghindari situasi yang dapat membuat orang lain mengira

bahwa dia tidak mempertahankan pola pikiran yang adil.

Selain harus mampu mempertahankan sikap mental independen, auditor juga diharapkan sebisa mungkin menghindari keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan independensinya. Dengan demikian, disamping auditor harus benar-benar independen, ia masih juga harus menimbulkan persepsi di kalangan masyarakat bahwa ia benar-benar independen. (Mulyadi, 2002:27).

Terlepas dari banyaknya ancaman dan fenomena yang dapat

mempengaruhi independensinya, seorang auditor harus mampu bersikap

profesional sehingga terjaminnya independensi dengan sendirinya juga

menciptakan kualitas audit yang lebih baik.

Namun dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Lauw Tjun

Tjun dkk yang dilakukan di KAP Jakarta menghasilkan bahwa tidak

adanya pengaruh signifikan independensi auditor dengan kualitas audit

yang dihasilkan. Di sisi lain, penelitian tersebut bertentangan dengan

pendapat De Angelo bahwa kemungkinan dimana auditor akan

(18)

Berdasarkan pemaparan dan perbedaan perspektif diatas, maka

hipotesis ketiga dapat dinyatakan sebagi berikut:

H4 : Independensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit. H5 : Auditor industry specialization, audit tenure, ukuran perusahaan,

(19)

2.4 KERANGKA PEMIKIRAN

Berdasarkan penjelasan diatas, maka kerangka pemikiran teoritis dapat

digambarkan sebagai berikut :

H1

H2

H3

H4

H5

Gambar 2.1 : Kerangka Pemikiran Penelitian Audit Tenure (X2)

Ukuran Perusahaan (X3)

Independensi Auditor (X4)

Auditor Industry Specialization (X1)

Kualitas

Audit

Gambar

Gambar  2.1 : Kerangka Pemikiran Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan yang pertama karena kualitas audit merupakan suatu hal yang fundamental bagi perusahaan yang harus memberikan laporan keuangan secara baik dan

2009, “ Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan, Kualitas Auditor, Pergantian Auditor, dan Independensi Auditor terhadap Integritas Laporan Keuangan ” , Jurnal Akuntansi

“Pengaruh Auditor Tenure, Ukuran Kantor Akuntan Publik, dan Ukuran Perusahaan Klien Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI pada Tahun

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh auditor tenure, ukuran kantor akuntan publik, dan ukuran perusahaan klien, terhadap kualitas audit yang diukur

Penelitian Yahya (2015) tentang pengaruh audit tenure, rotasi auditor, ukuran KAP, dan independensi terhadap kualitas audit menunjukkan bahwa variabel ukuran KAP

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel komite audit dan kepemilikan manajerial yang mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap integritas laporan

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “PENGARUH INDEPENDENSI AUDITOR, AUDIT TENURE, SPESIALISASI INDUSTRI AUDITOR, UKURAN PERUSAHAAN DAN KUALITAS AUDIT

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tenure audit, spesialisasi auditor, dan ukuran KAP terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang terdaftar