• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Pengembangan Instrumen

Adapun langkah-langkah yang peneliti lakukan untuk memperoleh instrumen yang valid dan reliabel adalah peneliti harus menempuh langkah-langkah dalam penyusunan instrumen. Menurut Gable (dalam Firdaos, 2016: 381) memaparkan langkah-langkah pengembangan instrumen yaitu:

(1) mengembangkan definisi konseptual, (2) mengembangkan definisi operasional, (3) memilih teknik pemberian skala, (4) melakukan review justifikasi butir, yang berkaitan dengan teknik pemberian skala yang telah ditetapkan, (5) memilih format respons atau ukuran sampel, (6) menyusun petunjuk untuk respons, (7) menyiapkan draf instrumen, (8) menyiapkan instrumen akhir, (9) pengumpulan data uji coba awal, (10) analisis data uji coba dengan menggunakan teknik analisis faktor, analisis butir, dan reliabilitas, (11) revisi instrumen, (12) melakukan ujicoba final, (13) menghasilkan instrumen, (14) melakukan analisis validitas dan reliabilitas tambahan, dan (15) menyiapkan manual tes.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa pengembangan instrumen dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah yaitu mengembangkan defenisi konseptual artinya penjelasan mengenai variabel yang akan diteliti. Mengembangkan defenisi operasional artinya penjelasan mengenai teori dasar yang akan digunakan dalam meneliti, kemudian memilih teknik pemberian skala artinya penjelasan mengenai cara yang akan digunakan dalam memberikan skala tersebut, apakah diberikan melalui media atau langsung. Selanjutnya melakukan review justifikasi butir pernyataan tersebut sudah terkait dengan variabel yang akan diteliti atau belum, kemudian memilih format respon atau ukuran sampel artinya memilih respon dari sampel penelitian serta memperhatikan banyak sampel dalam penelitian.

Selanjutnya menyiapkan draf instrumen artinya perlunya dibuatkan persiapan agar melancarkan kegiatan penelitian yang akan dilakukan, kemudian pemngempulan data uji coba awal artinya langsung melaksanakan ke lapangan untuk mengumpulkan data awal. Selanjutnya analisis data uji coba dengan menggunakan teknisanalisis faktor, analisis butit, dan reliabeltas artinya melakukan analisis data baik item, butir dan reliabilitas untuk melihat kevalidan data tersebut.

Selanjutnya revisi instrumen artinya memperbaiki instrumen agar terbentuknya sebuah instrumen yang valid dan reliabel. Terakhir melakukan uji coba final instrumen, menghasilkan instrumen yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti serta melakukan analisis validitas dan reliabilitas tambahan, dan menyiapkan manual tes untuk membandingkan antara hasil dengan validital secara manual maupun secara teknelogi.

Langkah-langkah pengembangan instrumen yang peneliti maksud disini adalah:

1. Mengembangkan defenisi konseptual

Konseptual variabel yang akan dijadikan sebagai instrumen yaitu kedisiplinan siswa.

2. Merumuskan defenisi operasional

Defenisi operasional yang peneliti maksud yaitu teori utama dari variabel kedisiplinan siswa.

3. Mengembangkan kisi-kisi

Kisi-kisi merupakan sebuah tabel yang berisikan terkaid variabel, indikator, sub indikator, no item dan jumlah butir instrumen kedisiplinan siswa.

4. Merumuskan pernyataan instrumen

Berisi tentang pernyataan atau pertanyaan yang berasal dari indikator yang sudah dirumuskan dalam kisi-kisi.

5. Uji coba

6. Validitas dan reliabelitas instrumen merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan sebuah penelitian. Instrumen penilitian yang digunakan untuk mengukur objek yang akan dinilai baik tes maupun non tes harus memiliki bukti validilitas dan reliabilitas. Dari sinilah penelitian dapat mengetahuiapakah data yang didapatkan bisa dipercaya atau tidak.

a. Validitas

Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Validitas artinya sah, menurut

sugiyono “instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid” (2010:121). Berdasarkan pendapat ini dapat dipahami bahwa suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan sesuai mengukur apa yang sebenarnya harus diukur. Adapun macam-macam validitas sebagai berikut:

1) Validitas isi

Validitas isi dilakukan dengan menelaah butir pernyataan atau pertanyaan dengan menyusun kisi-kisi dari variable yang akan penelitian teliti. Menurut Arikunto (2010:205) “ kisi-kisi bermanfaat sebagai gambaran yang jelas, lengkap, dan mempermudah peneliti untuk mengembangkan instrumen, karena kisi-kisi berfungsi sebagai pedoman dalam penelitian item”. Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kisi-kisi intrumen mampu memperjelas dan mempermudah penelitian dalam pengembangan instrumen yang akan digunakan.

2) Validitas Konstruk

Secara etimologi kata “ konstruk” mengandun arti susunan, kerangka atau rekaan. “Konstruk adalah suatu yang berkaitan dengan fenomena dan objek abstrak, tetapi gejalanya dapat diamati dan diukur” (Sudijono, 2003: 166). Hal ini menunjukab validitas konstruk mengandung arti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila cocok dengan konstruk teoritik dimana tes itu dibuat. Berdasarkan kutipan tersebut dapat dipahami bahwa sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruk apabila item-item dalam tes ituk dapat mengukur aspek yang diuraikan dalam indikator variabel penelitian. Validitas konstruk ini dapat diuji dengan cara menggunakan pendapat ahli (expert judgement), dimana setelah instrumen dikontruksikan tentang aspek aspek yang akan diukur dengan

berlandaskan teori tertentu, maka selanjudnya dikonsultasikan dengan para pembimbing (Dra. Hadiarni, M.Pd., Kons dan Dasril, S.Ag., M.Pd) untuk diminta pendapatnya terhadap instrumen yang telah disusun. Selain pembimbing peneliti juga meminta pendapat para ahli untuk memvalidasi instrumen yang telah disusun. Instrumen penelitian yang berjudul Pengaruh Layanan Penguasaan Konten dengan Menggunakan Teknik Modelling untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Kelas VIII SMP N 1 Padang Ganting divalidasi oleh validator yaitu Dra. Rafsel Tas’di M.Pd dengan revisi.

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas Konstruk Skala Kedisiplinan

No ITEM No ITEM

1 Valid tampa revisi 26 Valid tampa revisi 2 Valid tampa revisi 27 Valid tampa revisi 3 Valid tampa revisi 28 Valid tampa revisi 4 Valid tampa revisi 29 Valid tampa revisi 5 Valid tampa revisi 30 Valid tampa revisi 6 Valid tampa revisi 31 Valid tampa revisi 7 Valid tampa revisi 32 Valid tampa revisi 8 Valid tampa revisi 33 Valid tampa revisi 9 Valid tampa revisi 34 Valid tampa revisi 10 Valid tampa revisi 35 Valid tampa revisi 11 Valid tampa revisi 36 Valid tampa revisi 12 Valid tampa revisi 37 Valid tampa revisi 13 Valid tampa revisi 38 Valid tampa revisi 14 Valid tampa revisi 39 Valid tampa revisi 15 Valid tampa revisi 40 Valid tampa revisi 16 Valid tampa revisi 41 Valid tampa revisi 17 Valid tampa revisi 42 Valid tampa revisi

18 Valid tampa revisi 43 Valid tampa revisi 19 Valid tampa revisi 44 Valid tampa revisi 20 Valid tampa revisi 45 Valid tampa revisi 21 Valid tampa revisi 46 Valid tampa revisi 22 Valid tampa revisi 47 Valid tampa revisi 23 Valid tampa revisi 48 Valid tampa revisi 24 Valid tampa revisi 49 Valid tampa revisi 25 Valid tampa revisi 50 Valid tampa revisi

b. Reliabilitas

Menurut Arikunto (2006:178) reabilitas adalah “reabilitas menunjukan pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan”. Sukardi (2003: 127) mengemukakan bahwa “suatu instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur”. Dapat dipahami bahwa penelitian yang reliabel adalah suatu penelitian yang memiliki hasil yang tetap dan sesuai dengan apa yang akan diukur oleh seorang peneliti yaitu benar-benar dapat mengukur tingkat kedisiplinan siswa di SMP N 1 Padang Ganting.

Tabel 3.5

Hasil Uji Reliabilitas Skala Kedisiplinan Siswa

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,935 50

Dokumen terkait