• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Pengembangan Instrumen

Instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah tes kemampuan pemahaman konsep matematis. Tes dalam bentuk uraian yang diberikan pada kelas sampel sesuai dengan materi pelajaran yang diberikan selama penelitian berlangsung yang dilakukan diawal dan diakhir pertemuan. Langkah-langkah pengembangan tes kemampuan pemahaman konsep matematis sebagai berikut:

a. Membuat kisi-kisi tes kemampuan pemahaman konsep matematis b. Menyusun draf soal

c. Uji validitas tes

Pada penelitian ini validitas yang digunakan untuk validitas tes adalah validitas isi dan muka. Validitas isi (content validity) adalah pengujian validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah isi instrumen mengukur secara tepat keadaan yang ingin diukur. Validitas isi

berhubungan dengan representative terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan (Sugiyono, 2013: 105).

Validitas muka adalah validitas yang menggunakan kriteria yang sangat sederhana, karena hanya melihat dari sisi muka atau tampang dari instrumen itu sendiri (Arifin, 2012: 315). Artinya jika suatu tes secara sepintas telah dianggap baik untuk mengungkap fenomena yang akan diukur, maka tes tersebut sudah dapat dikatakan memenuhi syarat validitas permukaan.

d. Uji coba soal

Sebelum soal dilaksanakan pada kelas sampel soal perlu diuji cobakan. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah soal yang telah dibuat dapat digunakan untuk tes atau perlu direvisi terlebih dahulu. Hasil uji coba yang didapat kemudian dianalisis untuk mendapatkan mana soal yang memenuhi kriteria dan soal yang tidak memenuhi kriteria. Soal ini diujicobakan pada kelas lain yang setara dengan kelas sampel. Tes ini diujicobakan di kelas X IPS 1, Adapun rata- rata Hasil Tes Soal Uji Coba Kemampuan pemahaman konsep Matematis Siswa Kelas X IPS 1 yaitu:

56,12 terdapat pada Lampiran XII Halaman 121.

e. Analisis butir soal

1) Validitas Empiris/Kriteria

Validitas yang ditinjau dengan kriteria tertentu. Kriteria ini digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya validitas instrumen penelitian yang dinyatakan dengan koefisian korelasi yang diperoleh melalui perhitungan.Untuk menghitung validitas tes menggunakan rumus koefisien korelasi Product Moment Pearson, yaitu sebagai berikut (Lestari, 2015: 193):

Dimana :

41

= koefisien korelasi antara skor butir soal (X) dan total skor (Y)

N = banyak subjek X = skor butir soal Y = total skor

Tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat validitas instrumen ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.6 Kriteria Koefisien Korelasi Validitas Instrumen Koefisien Korelasi Korelasi Interpretasi

Validitas 0,90 ≤ ≤ 1,00 Sangat Tinggi Sangat valid

0,70 ≤ < 0,90 Tinggi Valid

0,40 ≤ < 0,70 Sedang Cukup valid 0,20 ≤ < 0,40 Rendah Tidak valid

< 0,20 Sangat Rendah Sangat tidak valid (Sumber: Lestari, 2015 :193)

Setelah harga koefisien validitas tiap butir soal diperoleh dan dilakukan uji coba tes serta dilakukan perhitungan maka didapatkan validitas butir soal pada tabel 3.7.

Tabel 3.7 Hasil Validitas Butir Soal Setelah DilakukanUji Coba

No Soal

Koefisien korelasi Korelasi Keputusan

1 Sedang Cukup Valid

2a Sedang Cukup Valid

2b Tinggi Valid

3 Sedang Cukup Valid

4 Sedang Cukup Valid

5 Sedang Cukup Valid

6 Sedang Cukup Valid

Berdasakan Tabel 3.7, dapat dilihat bahwa semua soal valid dan cukup valid. Hasil perhitungan validitas butir soal secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran XIII Halaman 127.

2) Reliabilitas tes

Reliabilitas suatu instrumen adalah keajegan atau kekonsistenan instrumen tersebut bila diberikanpada subjek yang sama meskipun oleh orang yang berbeda, waktu yang berbeda atau tempat yang berbeda maka akan menghasilkan hasil yang sama atau relatif sama ( tidak berbeda secara signifikan).

Untuk menentukan reliabilitas ini dapat digunakan rumus Alpha Cronbach yaitu sebagai berikut:



Tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen ditentukan sebagai berikut:

Tabel 3.8Kriteria Koefisien Korelasi Reliabilitas Soal Koefisien

korelasi Korelasi Interpretasi Relibialitas 0,90 1,00 Sangat tinggi Sangat tetap

43

Harga yang diperoleh adalah 0,75yang berada pada interval 0,70 0,90 sehingga dapat disimpulkan bahwa soal tes uji coba memiliki korelasi reliabilitas tinggi. Perhitungan reliabilitas dapat dilihat pada Lampiran XIV Halaman 130.

3) Daya Pembeda Soal.

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang berkemampuan rendah. Daya pembeda soal ditentukan dengan mencari indeks pembeda soal. Indeks pembeda soal ialah angka yang menunjukan perbedaan kepada kelompok tinggi dan kelompok rendah, karena bentuk tes kemampuan pemahaman konsep yang peneliti berikan dalam bentuk tes uraian, maka rumus yang digunakan adalah rumus indeks daya pembeda tes uraian. Data diurutkan dari nilai tertinggi sampai terendah.

a) Kemudian diambil 27% dari kelompok yang mendapat nilai tinggi dan 27% dari kelompok yang mendapat nilai rendah.

b) Cari indeks pembeda soal dengan rumus:

Keterangan:

t = Indeks Pembeda

= Rata-rata skor kelompok atas = Rata-rata skor kelompok bawah

∑ = Jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas

∑ = Jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah

n = 27 % x N (baik untuk kelompok atas maupun kelompok bawah)

Menurut (Arifin, 2009: 356), “suatu soal mempunyai daya pembeda soal yang berarti (signifikan) jika . Pada df yang ditentukan”. Setelah dilakukan uji coba dengan ttabel = 2,01 untuk semua soal diperoleh daya pembeda soal sebagai berikut : Tabel 3.9 Hasil Daya Pembeda Soal Setelah Dilakukan Uji

Coba

No Soal t hitung t tabel Keterangan

1 5,90 2,01 Signifikan

2a 4,40 2,01 Signifikan

2b 6,09 2,01 Signifikan

3 3,93 2,01 Signifikan

4 3,54 2,01 Signifikan

5 3,60 2,01 Signifikan

6 4,52 2,01 Signifikan

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa daya pembeda soal signifikan, untuk lebih jelasnya lihat lampiran (Lampiran XV Halaman 132).

4) Taraf Kesukaran Soal

Soal dikatakan baik apabila soal yang diujikan tidak dirasakan sulit oleh siswa dan tidak terlalu mudah. Soal yang diujikan tidak dirasakan sulit oleh siswa dan tidak terlalu mudah.

Soal yang terlalu mudah atau terlalu sukar harus direvisi atau diganti. Untuk menentukan indeks kesukaran soal yang berbentuk uraian dapat digunakan rumus:

Keterangan:

P : indeks kesukaran soal : Rerata untuk skor butir soal Smaks : Skor maksimal untuk butir soal : Banyak peserta tes

45

Tabel 3.10 Kriteria Indeks Kesukaran Soal

P Kriteria

0,00 – 0,30 Sukar

0,31 – 0,70 Sedang

0,71 – 1,00 Mudah

(Sumber: Arifin, 2012:148)

Tabel 3.11 Hasil Indeks Kesukaran Soal Setelah Dilakukan Uji Coba

No Soal IK Keterangan

1 0, Sedang

2a Mudah

2b Mudah

3 Sedang

4 Sedang

5 0,45 Sedang

6 0,47 Sedang

Setelah dilakukan uji coba tes maka didapatkan indeks kesukaran soal sedang dan mudah terlihat pada Tabel 3.11. untuk lebih jelasnya lihat pada Lampiran XVI Halaman 134.

5) Klasifikasi Soal

Soal yang telah dilakukan perhitungan terhadap indeks daya pembeda dan tingkat kesukaran soal tersebut bisa digunakan atau tidak. Klasifikasi soal uraian menurut (Arifin 2012: 347) adalah:

a) Soal tetap dipakai jika:

Daya pembeda signifikan 0% <tingkat kesukaran < 100%.

b) Soal diperbaiki jika:

(1) Daya pembeda signifikan dan tingkat kesukaran = 0%

atau tingkat kesukaran = 100%

(2) Daya pembeda tidak signifikan dan tingkat kesukaran 0% <tingkat kesukaran < 100%.

(3) Soal diganti jika:

Daya pembeda tidak signifikan dan tingkat kesukaran

= 0% atau tingkat kesukaran = 100%

Berdasarkan perhitungan daya pembeda dan indek kesukaran maka diperoleh klasifikasi soal sebagai berikut:

Tabel 3.12 klasifikasi soal

No Ip Keterangan Ik Keterangan Klasifika si 1 5,90 Signifikan 0, Sedang Dipakai

2a 4,40 Signifikan Mudah Dipakai

2b 6,09 Signifikan Mudah Dipakai

3 3,93 Signifikan Sedang Dipakai

4 3,54 Signifikan Sedang Dipakai

5 3,60 Signifikan 0,45 Sedang Dipakai 6 4,52 Signifikan 0,47 Sedang Dipakai F. Prosedur Penelitian

Dalam mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan maka perlu disusun suatu prosedur penelitian data yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir.

1. Tahap Persiapan

Sebelum penelitian dilaksanakan, dipersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan yaitu sebagai berikut:

a. Meninjau sekolah tempat penelitian yaitu MAN 1 Padang Panjang.

b. Konsultasi dengan guru matematika yang bersangkutan.

c. Menetapkan jadwal penelitian yang akan dilakukan yaitu dimulai dari tanggal 26 November - 26 Desember 2018 bertempat di MAN 1 Padang Panjang.

d. Menyiapkan rencana pelasksanaan pembelajaran (RPP), setelah itu RPP diberikan kepada dosen dan guru untuk divalidasi. RPP yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran X Halaman 109 untuk kelas sampel. RPP yang dirancang juga divalidasi oleh dosen matematika IAIN Batusangkar yaitu Ibu Kurnia Rahmi Yuberta, M.Sc, dan Bapak Amral, S.Pd,M.Si dan satu orang

47

guru matematika MAN 1 Padang Panjang. Untuk hasil validasi RPP dapat dilihat pada Lampiran XI Halaman 110.

Sebelum Revisi Sesudah Revisi

Memperbaiki kalimat dan kata kerja untuk indikator

Sudah diperbaiki

Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok

Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 orang

Siswa tampil di depan kelas Perwakilan setiap kelompok tampil kedepan kelas

e. Merencanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran quantum teaching teknik mind mapping.

f. Menentukan materi yang digunakan dalam proses penelitian, materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah persamaan dan pertidaksamaan nilai mutlak.

g. Mempersiapkan instrumen yang akan digunakan

1) Membuat kisi –kisi soal, dapat dilihat Lampiran VI Halaman 98.

2) Membuat soal pemahaman konsep matematis, sebelum dilakukan uji coba soal di validasi terlebih dahulu oleh dua orang dosen dan satu guru mata pelajaran.

Sebelum Revisi Sesudah Revisi

jelaskan konsep nilai mutlak? Tuliskan sifat-sifat nilai mutlak?

Waktu rata-rata yang diperlukan sekelompok siswa untuk menyelesaikan sebuah soal matematika adalah 3 menit. Catatan waktu pengerjaan siswa lebih cepat atau lambat satu menit dari waktu rata-rata. Tentukanlah a. persamaan nili mutlaknya b.waktu tercepat dan terlambat

Waktu rata-rata yang diperlukan sekelompok siswa untuk menyelesaikan sebuah soal matematika adalah 3 menit. Catatan waktu pengerjaan siswa lebih cepat atau lambat satu menit dari waktu rata-rata. Tentukanlah waktu tercepat dan terlambat siswa mengerjakan soal ? 3) Melakukan uji coba soal.

4) Menganalisis soal-soal yang diuji cobakan dengan mencari taraf kesukaran, indeks pembeda, validitas, dan reliabilitas.

2. Tahap Pelaksanaan

Tabel 3.13 Pembelajaran pada kelas eksperimen dan kontrol

No Eksperimen Kontrol

1. Pendahuluan

a. Tumbuhkan Guru menyapa, menyuruh berdo’a, mengabsen siswa dan mengkondisikan kelas untuk men unjang PBM, Seperti: mempersiapkan kelas,mengkondisikan kelas yang kondusif, dan menghiasi lokal seindah mungkin.

b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai siswa.

49

No Eksperimen Kontrol

teaching dengan teknik mind maping.

d. Guru membentuk siswa berkelompok yang terdiri dari 4-5 orang. berkaitan dengan materi yang akan di ajarkan.

c. Guru menyuruh siswa

untuk mengamati

permasalahan yang di sajikan guru.

d. Alami Guru merancang kegiatan yang dapat

membantu siswa

menyelesaikan

permasalahan yang di berikan.

d. Guru menjelaskan materi pelajaran. yang di buat oleh siswa.

.

No Eksperimen Kontrol materi yang di ajarkan dan

menanamkan konsep pada siswa.

f. Guru meminta siswa untuk menyimpulkan materi dari

pengamatan dan

pengalaman yang di lakukan dengan teknik mind maping.

g. Demonstrasikan Guru menyuruh beberapa

kelompok untuk

menampilkan hasil diskusi mind maping yang telah di lakukan.

h. Ulangi Guru meminta siswa mengerjakan latihan yang ada di buku paket dalam kelompok masing-masing. Apabila anggota kelompok mengalami

kesulitan dalam

mengerjakan latihan, maka anggota kelompok dapat bertanya kepada teman sekelompok.

i. Rayakan Guru

memberikan penghargaan kepada setiap kelompok , kemudian guru melakukan

51

No Eksperimen Kontrol

refresing bersama siswa seperti bernyanyi dll. materi untuk pertemuan berikutnya.

c. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi pelajaran yang akan dipelajari pada

c. Guru memberikan tugas kepada siswa.

3.Tahap Akhir

Untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada kelas sampel, guru memberikan tes akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah itu mengolah data yang telah didapatkan pada kelas sampel tersebut kemudian mengambil kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai dengan analisis data yang digunakan.

G.Teknik Analisis Data

Analisis terhadap data penelitian dilakukan bertujuan untuk menguji kebenaran hipotesis yang ditujukan dalam penelitian.Tes hasil kemampuan pemahaman konsep matematis dianalisis dengan menggunakan uji-t.

Sebelum melakukan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.

1. Uji Normalitas

Pengujian normalitas data digunakan untuk menguji apakah kedua kelompok data berdistribusi normal atau tidak. Adapun pasangan hipotesis yang akan diujikan dalam penelitian ini adalah:

H0 = Kedua kelas sampel berdistribusi normal H1 = Kedua kelas sampel tidak berdistribusi normal

Uji normalitas data ini dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors, bertujuan untuk melihat apakah sampel berdistribusi normal atau tidap. Adapun langkah-langkah perhitungnnya adalah sebagai berikut:

a. Buat daftar urutan data sampel (x1) dari yang terkecil sampai yang terbesar.

b. Hitung nilai Zi dari masing-masing data dengan rumus :

Keterangan Zi = skor baku

= Nilai rata-rata Xi = Skor data S = Simpangan baku

Tentukan besar peluang untuk masing-masing nilai Zi berdasaran tabel Zi dan sebut dengan F (Zi) dengan aturan:

Jika Zi> 0, maka F (Zi) = 0,5 + nilai tabel) Jika Zi< 0, maka F (Zi) = 1- (0,5 + nilai tabel)

c. Hitung proporsi Z1, Z2….. Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi, jika proporsi dinyatakan dengan S(Zi), maka:

S(Zi)=

53

d. Hitung selisih | F (Zi) - S(Zi) | pada masing-masing data kemudian tentukan harga mutlaknya.

e. Menentukan statistic lilifors dengan memilih nilai maksimum atau nilai paling besar dari nilai masing-masing selisih absolut | F (Zi) - S(Zi) |, yang disebut dengan Lhitung.

f. Menentukan kriteria pengujian Dengan hipotesis

H0 = sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal Ha = sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi

Normal Kriteria pengujian:

1) Terima H0 jika Lhitung ≤ Ltabel maka subjek berdistribusi normal

2) Terima H0 jika Lhitung> Ltabel maka subjek tidak berdistribusi normal. Sudjana (2002 : 466-467)

2. Uji homogenitas

Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok data mempunyai variansi yang homogeny atau tidak. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Fisher, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Tulis H1 dan H0 yang diajukan H0 :

H1 :

b) Tentukan nilai sebaran F dengan v1 = n1 – 1 dan v2 = n2 – 1 . c) tetapkan taraf nyata

d) Wilayah kritiknya jika H1 : Maka wilayah kritiknya adalah:

f f 1 – a / 2 ( v1 , v2) f f a / 2 (v1 , v2)

e) Tentukan nilai f bagi pengujian H0 :

F = Dimana S2 =

Keterangan F : Homogenitas

: varians data pertama (varians terbesar) : varians data kedua ( varians data terkecil) f) Keputusannya:

Ho diterima jika :f 1 – a / 2 ( v1 , v2) <f <f a / 2 (v1 , v2) Berarti datanya homogeny.

Ho ditolak jika :f f 1 – a / 2 ( v1 , v2) atau f f a / 2 (v1 , v2) Berarti datanya tidak homogen

3. Uji Hipotesis

Apabila kedua syarat di atas telah dilakukan, selanjutnya data dapat dianalisis dengan menggunakan tes “t”. Tes “t” yang digunakan adalah tes

“t” dengan polled varian karna n1 ≠ n2 dan variansi homogen. Uji hipotesis dilakukan untuk menentukan apakah kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Pasangan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah H0 :

H1 :

Keterangan :

H0: Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping sama dengan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan pembelajaran secara konvensional.

H1: Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping lebih baik dari pada kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan pembelajaran secara konvensional.

55

: Rata – rata hasil kemampuan pemahaman konsep matematis kelas eksperimen.

: Rata – rata hasil kemampuan pemahaman konsep matematis kelas control.

Untuk menguji hipotesis digunakan uji-t satu arah. Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas variansi maka rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis, adalah skor hasil belajar siswa berdistribusi normal dan data berasal dari sampel yang bervariansi homogen, maka rumus polled varian adalah sebagai berikut:

a. Hipotesis yang diajukan adalah:

H1 :

b. Tetapkan taraf nyatanya

c. Tentukan wilayah kritiknya yaitu:

t tα

d. Tentukan rumus uji hipotesisnya yaitu:

thitung= , dimana =

e. Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:

i. Derajat kebebasan (dk) = n1 + n2 – 2

ii. Terima H0, Jika thitung< ttabel Tolak H0, Jika thitung>

ttabel

56 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data

Bagian ini menjelaskan tentang hasil penelitian yakni proses pembelajaran dengan penggunaan model strategi pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping, data tes kemampuan pemahaman konsep matematis siswa untuk melihat kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Dengan rincian data sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Pembelajaran

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang terbagi dalam 2 kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 26 November sampai 26 Desember 2018 pada siswa kelas X IK.1sebagai kelas eksperimen dan kelas X IK.2 sebagai kelas kontrol.

Tabel 4.1 Jadwal pelaksanaan penelitian

Pertemuan Eksperimen Kontrol

Pertemuan I 26 November 2018 26 November 2018 Pertemuan II 27 November 2018 28 November 2018 Pertemuan III 29 November 2018 29 November 2018 Tes 03 Desember 2018 03 Desember 2018

Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, peneliti menentukan materi pelajaran dan mempersiapkan instrumen penelitian. Materi yang dipilih adalahpersamaan dan pertidaksamaan nilai mutlak, alas an peneliti memilih materi persamaan dan pertidaksamaan nilai mutlak karena karakteristik materi tersebut sesuai dengan model pembelajaran yang digunakan dan materi bertepatan dengan materi yang diajarkan oleh guru di tempat penelitian. Pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas eksperimen yaitu model pembelajaran strategi pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping dalam pembelajaran matematika

57

pada siswa kelas X IK 1MAN 1 Padang Panjang Tahun Pelajaran 2018/2019,sedangkan pada kelas control dilaksanakan pembelajaran konvensional. Pada akhir penelitian diberikan tes kemampuan pemahaman konsep matematis pada kelas eksperimen dan kontrol dengan tes yang sama. Siswa pada kelas eksperimen dan control diberi kesempatan untuk mengerjakan soal selama 90 menit yang terdiri dari 6 butir soal.

2. Data Tes Kemampuan Pemahaman konsep Matematis a. Tes Kemampuan Pemahaman konsep Matematis

Setelah dilaksanakan tes pada kedua kelas sampel, diperoleh data tentang hasil kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi persamaan dan pertidaksamaan nilai mutlak. Tes diberikan pada kelas X IK.1 yang melaksanakan dengan model strategi pembelajaran Quantum Teaching dengan teknik Mind Mapping dan pada kelas X IK.2 yang melaksanakan pembelajaran secara konvensional.

Tes akhir diikuti oleh 65 orang siswa, yang terdiri dari 33 orang siswa kelas eksperimen dan 32 orang siswa kelas kontrol. Data tes kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dapat dilihat pada Lampiran XVIII Halaman 143. Dari hasil tes akhir kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dilakukan perhitungan sehingga diperoleh nilai rata-rata (x), nilai maksimal, nilai minimal dan simpangan baku untuk kedua kelas sampel yang dinyatakan pada gambar berikut:

Gambar 4.1 Deskripsi Data Tes Kemampuan Pemahaman konsep Matematis

Dari Gambar 4.1, terihat bahwa nilai max,min,rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Tingginya nilai rata-rata kelas eksperimen dari pada nilai rata-rata kelas kontrol disebabkan oleh 33 orang siswa yang mengikuti tes kemampuan pemahaman konsep matematis di kelas eksperimen terdapat 24 orang siswa yang tuntas dan jumlah siswa yang tidak tuntas adalah sebanyak 9 orang sedangkan pada kelas kontrol, dari 32 orang siswa yang mengikuti tes kemampuan pemahaman konsep terdapat 12 orang siswa yang tuntas dan terdapat 20 orangsiswa yang tidak tuntas. Hal ini juga ditunjukkan oleh persentase tuntas dan tidak tuntas kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dapat dilihat pada Gambar berikut

Gambar 4.2 Diagram ketuntasan kelas eksperimen

59

Gambar 4.3 Diagram ketuntasan kelas kontrol

Hal ini didukung oleh kelebihan dari model strategi pembelajaran Quantum Teaching teknik Mind Mapping itu sendiri yaitu: menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mencipatakn saling kerja sama siswa dalam membuat konsep pelajaran, dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Dari Gambar diatas secara umum terlihat bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang menggunakan model strategi pembelajaran Quantum teaching teknik Mind Mapping lebih baik dari pada hasil tes kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

B. Analisis Data Secara Statistik

Analisis tes akhir bertujuan untuk menarik kesimpulan tentang data yang telah diperoleh dari tes akhir. Untuk menarik kesimpulan maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik. Sebelum melakukan uji hipotesis maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi kedua kelompok data.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas yang telah dilakukan dianalisis dengan cara Uji Liliefors. Berdasarkan hasil uji normalitas untuk kelas eksperimen diperoleh L0maksF

   

ziS zi adalah 0,10,

apabila jumlah siswa 33 orang diperoleh

L

tabel

 0,154

dengan taraf nyata  0,05. Jika

L

0

L

tabel atau 0,100,156 maka dapat disimpulkan bahwa Kelas X IK 1 berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil uji normalitas untuk kelas kontrol diperoleh L0maksF

   

ziS zi adalah , apabila jumlah siswa 32 orang diperoleh

L

tabel

 0,156

dengan taraf nyata  0,05. Jika

L

0

L

tabel atau 0,110,156 maka dapat disimpulkan bahwa Kelas X IK 2 berdistribusi normal, dapat dilihat pada Lampiran XIX Halaman 145.

b. Uji Homogenitas Variansi

Uji homogenitas yang telah dilakukan dianalisis dengan menggunakan uji f. Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai variansi homogeny atau tidak.

Karena    1 2bahwa datanya memiliki variansi yang Homogen.Untuk lebih jelasnya uji homogenitas sampel dapat dilihat pada Lampiran XX Halaman 150.

c. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk melihat apakah kemampuan pemahaman konsep matematissiswadengan penggunaan model strategi pembelajaran Quantum Teachung teknik Mind Mapping lebih baik daripada kemampuanpemahaman konsep matematis siswa dengan penggunaan pembelajaran konvensional.

Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas variansi ternyata kedua kelas sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi

61

yang homogen. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Hasil uji hipotesis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Hasil Uji Hipotesis Data Tes Kemampuan disimpulkan bahwa:”Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching teknik Mind Maping lebih baik dari pada kemampuan pemahaman konsep matematissiswa pada setiap gaya belajar dengan pembelajaran secara konvensional”.Lampiran XXI Halaman 151.

C. Pembahasan

1. Pelaksanaan Model Pembelajaran Quantum Teaching teknik Mind Mapping terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, dapat diketahui bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan penerapan model strategi pembelajaran quantum teaching teknik mind Mapping lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep matematis siswa dengan penerapan pembelajaran secara konvensional.

Sejalan dengan itu model strategi pembelajaran quantum teaching teknik mind mapping merupakan salah satu cara untuk meningkatkan

Sejalan dengan itu model strategi pembelajaran quantum teaching teknik mind mapping merupakan salah satu cara untuk meningkatkan

Dokumen terkait