C. Gambaran Sektor Komunitas
3. Pengembangan Kapasitas sebagai Landasan Sektor Komunitas berperan dalam
Secara umum ada empat sumber pengembangan kapasitas yang didapatkan oleh OMS/OBK di daerah, yaitu:
1. Dari jaringan tingkat nasional untuk anggota jaringannya di daerah, misalnya pengembangan kapasitas yang diberikan oleh jaringan GWL Ina, IPPI, Spiritia dan jaringan populasi kunci lainnya, atau dari jaringan OMS di tingkat pusat seperti PKBI dan NU
2. Dari jaringan tingkat daerah untuk anggota jaringan tersebut,
3. Dari stakeholder seperti dari pihak donor, KPA dan Dinas Kesehatan, serta 4. Dari lembaga sendiri.
Sebagian besar kesempatan pengembangan kapasitas bagi sektor komunitas didapatkan dari stakeholder termasuk MPI (41%) dan dari jaringan nasional (35%). Jaringan daerah (baik dengan isu spesifik AIDS maupun non-AIDS, dengan bentuk formal ataupun informal) juga memberikan kegiatan pengembangan kapasitas namun sifatnya sporadis. Sementara sumber pengembangan kapasitas yang paling sedikit adalah dari lembaga sendiri (24%). Umumnya OMS/OBK yang bisa mengadakan pengembangan kapasitas untuk SDMnya adalah OMS/OBK yang sedang memiliki pendanaan dari donor, sementara OMS/OBK yang tidak memiliki pendanaan cenderung bergantung pada kesempatan dari jaringan nasional. Pola ini terlihat antara lain di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.
OMS/OBK bisa mendapatkan pengembangan kapasitas dari beberapa sumber sekaligus. Artinya, OMS/OBK yang memiliki hubungan dengan jaringan tingkat nasional ataupun daerah dan lembaganya sedang memiliki donor akan cenderung memiliki lebih banyak kesempatan pengembangan kapasitas dibandingkan dengan yang tidak. Contoh seperti ini bisa ditemukan di Bali dan Sumatra Utara. Sementara di Kalimantan Tengah yang tidak memiliki jaringan daerah dan sumber pendanaannya terbatas, kesempatan pengembangan kapasitas didapatkan secara swadaya lewat upaya saling berbagi topik dan pengetahuan di antara OMS/OBK daerah yang memiliki isu yang berbeda-beda, sehingga bisa saling memperkaya satu dan yang lain.
Dominasi MPI dan jaringan nasional sebagai sumber pengembangan kapasitas sektor komunitas di daerah ini relevan dengan informasi yang disampaikan oleh sebagian besar stakeholder di tingkat nasional yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Dari 26 informan stakeholder nasional, 60% diantaranya melakukan pengembangan kapasitas bagi mitra atau anggota OMS/OBKnya di daerah.
“Biasanya kan penguatannya itu berdasarkan hasil dari assesment organisasi. Mereka kurangnya apa, kalau kaitannya dengan strategic planning memang hampir semuanya dulu tidak punya kecuali organisasi-organisasi sudah buat. Nah itu kita membagi menjadi dua wilayah kegiatan, misalnya dengan isu yang sama kayak pelatihan pembuatan dokumen rencana strategis organisasi. Itu nanti kita bagi wilayah Sumatra, Kalimantan sendiri.” (Wawancara mendalam, NAS9, April 2015).
Dilihat dari segi topiknya, pengembangan kapasitas yang diterima oleh sektor komunitas bisa dibagi menjadi pengembangan kapasitas secara teknis programatik, kapasitas pengelolaan organisasi, dan kapasitas personal. Yang dimaksud dengan kapasitas teknis yaitu pelatihan yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas SDM dalam pelaksanaan program, misalnya pelatihan pengembangan dan manajemen program, pelatihan cara membuat pelaporan yang baik, pelatihan untuk menjadi konselor, dan seterusnya. Kapasitas pengelolaan organisasi adalah pelatihan yang bertujuan untuk menguatkan kelembagaan seperti pelatihan cara membuat rencana strategis, visi dan misi, serta manajemen keuangan lembaga. Sedangkan kapasitas personal yaitu pelatihan-pelatihan yang tujuannya untuk peningkatan kapasitas pribadi dari SDM yang ada dalam sektor komunitas, misalnya
keterampilan komunikasi dan kemampuan berbicara di depan umum, kepemimpinan, keterampilan komputer, mengatasi konflik, teknik melobi, dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan bahwa aspek pengembangan kapasitas yang diterima oleh sektor komunitas lebih menekankan pada peningkatan kemampuan teknis untuk pelaksanaan program (43%), kemudian pengembangan kapasitas berkaitan dengan aspek organisasional (24%) dan aspek personal (24%). Tabel berikut menyajikan pengembangan kapasitas yang tersedia bagi sektor komunitas berdasarkan provinsi.
Tabel 4: Aspek Pengembangan Kapasitas yang tersedia di Daerah
No. Provinsi Aspek Pengembangan Kapasitas
Teknis/Program Kelembagaan Personal
1. Sumatra Utara NA 2. Bangka Belitung NA 3. Jawa Barat NA 4. Yogyakarta 5. Jawa Timur 6. Bali 7. Kalimantan Tengah NA NA 8. Sulawesi Selatan 9. Sulawesi Utara NA
10. Nusa Tenggara Barat
11. Papua Barat NA
12. Papua NA
Sumber: data primer
Dilihat dari daerahnya, ada 5 daerah yang topik pengembangan kapasitasnya beragam, yaitu Jawa Timur, Bali, Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur dan Bali merupakan daerah yang diprioritaskan MPI untuk pendanaan sehingga kesempatan pengembangan kapasitasnya juga lebih banyak, selain itu OMS/OBK yang ada juga bisa menyelenggarakan pengembangan kapasitas mereka sendiri. Sementara Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat selain memiliki hubungan dengan jaringan nasional juga memiliki hubungan jaringan daerah yang tidak ekslusif pada isu HIV saja sehingga kesempatan pengembangan kapasitas bisa didapatkan dari kedua sumber ini. Kondisi sebaliknya ditemukan di Kalimantan Tengah, dimana topik pengembangan kapasitasnya paling terbatas. Tidak ada informan yang melaporkan mendapatkan pengembangan kapasitas dari stakeholder daerah seperti KPA dan Dinas Kesehatan. Pengembangan kapasitas yang didapatkan OMS/OBK di daerah ini lebih mengandalkan pengembangan kapasitas yang diadakan secara swadaya antar sektor komunitas.
Sebagai daerah yang baru mulai melakukan program penanggulangan HIV dan AIDS, Bangka Belitung mendapatkan banyak pengembangan kapasitas dari pihak donor, KPA dan jaringan nasional namun topiknya lebih menekankan pada aspek program dan pengelolaan lembaga. Sementara Sumatra Utara sumber pengembangan kapasitasnya dari forum LSM, dari KPA dan Dinas Kesehatan. Tidak ada yang topiknya terkait kapasitas individu karena yang dianggap prioritas masih tentang teknis program dan kelembagaan seperti pembuatan prosedur tata kelola organisasi:
“[kami] juga pernah difasilitasi oleh temen-temen forum untuk kegiatan pembuatan SOP administrasi. Disitu kita paham bagaimana melakukan eee prosedur-prosedur administrasi, baik itu perekrutan staf, penggajian staf, sampai kepada pemutusan hubungan kerja. Jadi kita paham. Selama ini kan [kami] modelnya masih apa ya, model-model yang sederhana, jadi ketika ada dibutuhkan, direkrut, tapi tidak ada eee... prosedur yang mengatur itu.” (Wawancara mendalam,
SUM4, Maret 2015)
Kesimpulannya, kesempatan pengembangan kapasitas paling banyak didapatkan dari luar lembaga (dari stakeholder termasuk MPI dan dari jaringan nasional), dengan topik yang menitikberatkan pada aspek-aspek programatik. Akan tetapi walaupun kesempatannya tersedia, namun intensitas pengembangan kapasitas yang dilaksanakan masih tidak rutin sifatnya – khususnya untuk kesempatan yang datang dari luar lembaga. Para informan melaporkan bahwa pengembangan kapasitas yang terencana adalah pengembangan kapasitas yang dilaksanakan atau diinisiasikan sendiri oleh OMS/OBK mereka, namun jumlahnya juga terbatas sesuai ketersediaan dana. Lebih jauh lagi, posisi mereka pasif dalam menentukan topik yang menjadi kebutuhan mereka karena jarang ada stakeholder (daerah dan nasional) maupun jaringan nasional yang melakukan pemetaan kebutuhan mereka, padahal tingkat kapasitas dan minat mereka cukup beragam.