• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 EVALUASI KONDISI KKL

5.2 Pengelolaan Existing

5.2.4 Pengembangan kawasan konservasi laut (KKL)

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mengarahkan pengembangan sektor perikanan dan pariwisata yang berkelanjutan untuk mewujudkan misi Kabupaten Raja Ampat sebagai Kabupaten Bahari. Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu strategi yang dikembangkan adalah pembentukan dan pengelolaan KKL, yang berupa SML atau KKPN Raja Ampat, yang berada disekitar Waigeo Barat. Kemudian dikembangkan pula KKLD di Kabupaten Raja Ampat yang berada di beberapa wilayah. Namun sayangnya semua KKL tersebut belum dikelola secara maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya-upaya pengelolaan yang maksimal secara kolaboratif antara berbagai lembaga, instansi, dan masyarakat yang ada di Kabupaten Raja Ampat (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Kawasan konservasi laut yang ada di Kabupaten Raja Ampat dan kondisinya sebagai berikut:

(1) Suaka margasatwa laut (SML) atau kawasan konservasi perairan nasional (KKPN)

SML di Kabupaten Raja Ampat ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 81/Kpts-II/93 tanggal 16 Februari 1993 dengan luas 60.000 Ha, yang kemudian sejak tahun 2008 dialihkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan nama KKPN. Alasan penetapan kawasan perairan ini adalah karena perairan laut Raja Ampat dan sekitarnya memiliki potensi sumberdaya alam laut yang terdiri dari berbagai jenis terumbu karang, moluska,

echinodermata, mamalia laut, penyu, ikan hias dan rumput laut. Selain itu di kawasan ini ditemui beberapa ancaman yang dapat mengganggu kelestarian sumberdaya alam laut yaitu adanya pemanfaatan jenis biota laut langka dan penangkapan ikan dengan bahan peledak (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007).

Beberapa sumberdaya alam laut yang dilindungi di kawasan ini diantaranya adalah nautilus perongga (Nautilus pompillius), keong terompet (Charonia tritonis), keong kepala kambing (Cassis cornuta), lola (Trochus niloticus), kima (Tridacna spp.), akar bahar (Antiphates spp.), duyung (Dugong

dugon), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan ketam kenari (Birgus

latro) (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007).

(2) Kawasan konservasi laut daerah Misool Timur Selatan

KKLD Misool Timur Selatan sebagaimana terlihat pada Lampiran 5, ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 66 Tahun 2007 dengan luas 335.000 Ha, yang meliputi seluruh kawasan perairan dan pulau-pulau kecil di dalamnya. Alasan penetapan kawasan perairan ini adalah karena memilik potensi sumberdaya alam yang menarik baik di darat maupun perairan laut sekitarnya. Beberapa permasalahan yang mengancam kelestarian sumberdaya alam laut di kawasan ini adalah pengambilan telur penyu, lola (Trochus niloticus), batu laga (Turbo marmoratus) dan pengeboman ikan, yang sebagian besar pelakunya datang dari luar Kepulauan Misool. Berdasarkan survei dijumpai beberapa jenis biota laut berstatus dilindungi di antaranya kima sisik (Tridacna squamosa), kima besar (Tridacna maxima), kima raksasa (Tridacna gigas), kima lubang (Tridacna crocea), serta penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan juga merupakan jalur lintasan duyung (Dugong dugon) dan paus (whales) (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

(3) Kawasan konservasi laut daerah Kepulauan Kofiau dan Boo

KKLD Kofiau dan Boo sebagaimana terlihat pada Lampiran 6, meliputi seluruh pulau-pulau dan periaran di sekitarnya. Ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Kabupaten Raja Ampat No 66 Tahun 2007 dengan luas ± 170.000 Ha. Berdasarkan survei ditemui potensi sumberdaya alam laut yang secara umum terdiri dari terumbu karang, habitat duyung dan mangrove. Beberapa sumberdaya alam laut yang dilindungi ditemukan disana diantaranya lola (Trochus niloticus), kima sisik (Tridacna squamosa), kima besar (Tridacna maxima), kima tapak kuda (Hippopus hippopus) dan duyung (Dugong dugon). Di kawasan ini juga terdapat jenis penyu langka yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Perairan Kofiau merupakan jalur migrasi beberapa jenis mamalia laut seperti paus pembunuh (Orcinus orca) dan paus sperma (Physeter

macrocephalus). Mamalia laut yang sering terlihat juga adalah lumba-lumba hidung botol (Tursiop truncates), lumba-lumba totol (Stennella attenuata), spiner dolphin (Stennella longirostris), pilot whale (Globicephala macrorhyncus), paus pembunuh palsu (Pseudorca crasidens) dan paus ballen (Ballenoptera sp.). Perairan Kofiau juga merupakan tempat pemijahan ikan kerapu. Di kawasan ini ditemui beberapa ancaman yang dapat mengganggu kelestarian sumberdaya alam laut yaitu adanya pemanfaatan jenis biota laut yang dilindungi, penangkapan penyu dan penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007).

(4) Kawasan konservasi laut daerah Selat Dampier

KKLD Selat Dampier sebagaimana terlihat pada Lampiran 7, meliputi perairan dan pulau-pulau di dalamnya, diantaranya Pulau Kri, Mansuar, Saonek, Arborek dan Teluk Gam. Ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 66 Tahun 2007 dengan luas 46.240 Ha.

Potensi yang dimiliki KKLD Selat Dampier selain ikan ekonomis penting seperti maming (napoleon), kerapu, cakalang, bubara, tenggiri dan hiu, juga merupakan habitat lumba-lumba, manta ray, hiu berjalan, wobbegong, serta perlintasan beberapa paus, diantaranya paus pembunuh (Orcinus orca) dan paus sperma (Physeter macrocephalus). Di kawasan ini masih ditemui beberapa ancaman yang dapat mengganggu kelestarian sumberdaya alam laut yaitu kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak (bom), racun sianida, dan akar bore (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

(5) Kawasan konservasi laut daerah Teluk Mayalibit

KKLD Teluk Mayalibit sebagaimana terlihat pada Lampiran 8, meliputi perairan teluk dan pulau-pulau di dalamnya. Ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 66 Tahun 2007 dengan luas 34.000 Ha. Potensi yang dimiliki Teluk mayalibit diantaranya adalah merupakan tempat pembesaran dan mencari makan ikan-ikan ekonomis penting seperti ikan lema (Restraliger kanagurta), tenggiri (Scromberomorus sp.) dan bobara (Caranx sp.); tempat hidup udang sebagai dasar rantai makanan ikan-ikan ekonomis penting; memiliki ekosistem

mangrove yang luas sebagai tempat pembesaran ikan dan memasok nutrien bagi perairan; dan habitat bagi berbagai jenis moluska. Teluk Mayalibit juga merupakan habitat bagi berbagai jenis crustacean diantaranya lumba-lumba putih (belum diketahui jenisnya) dan memiliki panorama alam yang unik, berbentuk seperti danau dengan sebuah pintu keluar masuk air yang sempit. Kondisi alam seperti ini menjadikan biota laut yang tinggal di dalamnya menjadi unik (DKP- KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Beberapa kegiatan manusia yang mengancam kelestarian sumberdaya yang ada di Teluk Mayalibit diantaranya adalah penangkapan berlebihan untuk ikan-ikan yang sedang memijah. Teluk Mayalibit merupakan daerah pemijahan ikan lema (Restraliger sp.) dan beberapa jenis ikan ekonomis penting. Pengambilan berlebihan di saat ikan-ikan induk masuk untuk bertelur akan mengancam stok ikan-ikan ini di perairan sekitarnya. Di Teluk Mayalibit juga masih terdapat praktek penangkapan ikan dengan cara merusak seperti bom dan potasium (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Teluk Mayalibit merupakan perairan tertutup, keluar masuknya air ke perairan lepas sangat terbatas, hal ini mengakibatkan semua lumpur yang masuk akan mengendap dengan cepat dan merusak habitat tempat hidup biota laut. Kondisi perairan ini juga sangat tidak menguntungkan dari sisi pencemaran laut. Racun yang masuk ke perairan ini sangat sulit dikeluarkan/dibersihkan karena aliran air masuk-keluar yang tidak lancar. Sebagai konsumen kerang-kerangan, udang dan kepiting, masyarakat Teluk Mayalibit akan sangat terancam keracunan bahan-bahan pencemar karena sifat biota-biota tersebut yang mengumpulkan semua zat yang masuk ke tubuhnya (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

(6) Kawasan konservasi laut daerah Kepulauan Wayag – Sayang

KKLD Kepulauan Wayag - Sayang sebagaimana terlihat pada Lampiran 9, meliputi pulau-pulau dan perairan sekitar Pulau Sayang dan Kepulauan Wayag. Ditunjuk berdasarkan Peraturan Bupati Raja Ampat Nomor 66 Tahun 2007 dengan luas 155.000 Ha. Pulau Sayang dan Pulau Piai merupakan tempat peneluran utama penyu hijau dan Pulau Wayag sebagai tempat peneluran penyu sisik. Diduga kawasan ini juga sebagai tempat mencari makan bagi penyu sisik

(Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), duyung (Dugong dugon), serta penyu hijau (Chelonia mydas) (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Potensi fauna pantai yang terdapat di Pulau Sayang dan sekitarnya diantaranya ketam kenari (Birgus latro), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), burung elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), dara laut kepala putih (Anour minibus), nuri merah kepala hitam (Lorius lory) dan burung raja udang (Halcyon sp.). Jenis-jenis terumbu karang yang dijumpai di daerah ini diantaranya jenis Acropora sp. dan Porites sp. sedangkan jenis-jenis ikan hias diantaranya jenis kupu-kupu (Chaetodon spp.), sersan mayor (Abudefduf spp.) dan ikan badut (Amphiprion sp.), kepe-kepe (Pomacentrus spp.) dan mujair laut (Dascyllus spp.) (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Biota laut langka-dilindungi yang terdapat di daerah ini adalah kima sisik (Tridacna squamosa), lola (Trochus niloticus), kima raksasa (Tridacna maxima), kima tapak kuda (Hippopus hippopus), akar bahar (Antiphates sp.) dan keong terompet (Charonia tritonis). Beberapa ancaman yang ada berupa pengambilan biota laut yang dilindungi, penggunaan bahan peledak oleh nelayan yang menangkap ikan dan pengambilan daging dan telur penyu (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

(7) Kawasan konservasi laut daerah Kepulauan Ayau dan Asia

KKLD Kepulauan Ayau dan Asia sebagaimana terlihat pada Lampiran 10, meliputi seluruh daratan dan perairan Kepulauan Ayau dan Asia. Ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati No 66 Tahun 2007 dengan luas 101.440 Ha dan kawasan ini terletak di daerah paling utara Kabupaten Raja Ampat dan merupakan kawasan terluar Republik Indonesia yang berbatasan dengan Negara Federal Palau (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).

Kepulauan Ayau secara keseluruhan memiliki 14 buah pulau. Di sekitar pulau Orbabo Besar, pulau Orbabo Kecil dan pulau Ayau dijumpai beberapa jenis biota laut yang berstatus dilindungi diantaranya jenis lola (Trochus niloticus), kima besar (Tridacna maxima), kima sisik (Tridacna squamosa), kima tapak kuda (Hippopus hippopus), batu laga (Turbo marmoratus), ketam kenari (Birgus latro),

dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Kepulauan Ayau terkenal sebagai lokasi pemijahan dari ikan kerapu. Kepulauan Ayau merupakan kawasan yang memiliki tutupan terumbu karang terluas di Kabupaten Raja Ampat dan memiliki biota khas yaitu cacing “insonem”. Selain itu, perairan Kepulauan Ayau merupakan jalur perlintasan ikan paus (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten