5 EVALUASI KONDISI KKL
5.1 Pressure, State, Response ( PSR) KKL Raja Ampat
5.1.3 Response terhadap kondisi KKL Raja Ampat
Dengan kondisi sumberdaya alam dan lingkungan seperti diuraikan di atas, diperoleh berbagai response dari masyarakat di sekitar kawasan KKL di Kabupaten Raja Ampat. Hasil survei langsung di lapangan dan wawancara dengan masyarakat setempat, secara umum terdapat 5 (lima) pengelompokan
response yang dapat tergali dari penelitian ini, yaitu response langsung yang berkaitan dengan: (1) perbaikan kebijakan dengan membuat aturan/kebijakan
baru; (2) perbaikan input penangkapan; (3) membentuk kelompok masyarakat; (4) perbaikan lingkungan; dan (5) melakukan konservasi.
Dari kelima pengelompokkan tersebut dapat diuraikan bahwa, respons
langsung yang mereka lakukan adalah 25% responden menyatakan akan membuat peraturan desa/daerah guna melindungi kelestarian sumberdaya ikan (Gambar 18). Kondisi saat ini dianggap belum terlambat untuk membuat peraturan/kebijakan yang bisa disepakati oleh seluruh masyarakat sekitarnya yang dimaksudkan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan sumberdaya ikan di perairan Raja Ampat. Response lain yang dilakukan masyarakat bahwa 23% responden mengaku membentuk kelompok dalam melakukan penangkapan ikan dan 13% responden melakukan program konservasi. Pembentukan kelompok adalah sangat baik dalam rangka untuk mewadahi kepentingan bersama. Khusus untuk sumberdaya terumbu karang, sebanyak 1% responden menyatakan melakukan transpalantasi terumbu karang untuk mendukung pelestarian sumberdaya ikan. Upaya lain yang dilakukan yaitu dengan perbaikan lingkungan yang dinyatakan oleh 5% responden. Transplantasi terumbu karang dan perbaikan lingkungan dilakukan masyarakat, namun dengan presentasi yang rendah, hal ini disebabkan bahwa masyarakat menganggap kondisi ekosistem pesisir di Raja Ampat masih relatif baik. Namun demikian response tersebut tetap dilakukan, yang diduga karena masyarakat Raja Ampat mengharapkan dapat memperbaiki taraf hidup melalui upaya tidak langsung, juga mereka sangat peduli akan kelestarian
sumberdaya alam, bahkan mereka memiliki kearifan lokal dalam bentuk sasi ataupun bentuk kearifan lainnya, misalnya dilarang menangkap dan makan jenis- jenis ikan langka dan bahkan mereka melestarikannya (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).
Selain itu, sebanyak 2% responden menyatakan akan menambah trip
melaut, hal ini menunjukkan bahwa sebagian kecil masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam menangkap ikan. Stok ikan relatif masih tinggi akibat frekuensi dan kuantitas penangkapan ikan yang masih sedikit (Haryani et al. 2009 dan 2010). Sebanyak 6% responden nelayan menyatakan membawa serta keluarga mereka untuk melaut, yang artinya juga menambah input dalam hal tenaga kerja, sehingga diharapkan walaupun dalam trip yang lebih sedikit dan jarak yang tidak jauh, mereka akan mendapatkan produksi lebih tinggi (Haryani et al. 2010). Perbaikan dan peningkatan input juga dicirikan dari respons mereka terhadap penggantian alat tangkap (17% responden) (Gambar 18).
Gambar 18 Response terhadap perubahan dengan adanya KKL di Raja Ampat Namun demikian, response tersebut tidak diikuti dengan membuat rumpon, beralih pekerjaan, maupun pindah pemukiman. Masyarakat tidak membuat rumpon karena sumberdaya ikan masih relatif baik sehingga hasil tangkapan masih baik. Mereka juga tidak beralih pekerjaan disebabkan karena sebagian besar dari mereka tidak memiliki kemampuan atau skill dalam bidang lain, misalnya dalam bidang pariwisata. Juga di wilayah kepulauan yang relatif
terisolir, mereka hanya mengandalkan perikanan tangkap di lokasi setempat dan akan sulit bagi mereka pindah pemukiman (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).
Response negatif ternyata tidak mereka lakukan seperti melakukan pemboman/meracuni ikan dan memprotes/mengusir nelayan lain, hal ini disebabkan kesadaran mereka yang cukup tinggi akan kelestarian sumberdaya ikan dan keinginan untuk hidup damai (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006). Langkah lain yang dilakukan yaitu dengan menangkap ikan dengan jarak yang lebih jauh guna mendapatkan ikan yang lebih banyak (8% responden). Namun beberapa response tidak juga dilakukan oleh masyarakat, seperti pengurangan trip melaut, penambahan dan pengurangan ukuran kapal, pemanfaatan ikan rucah, penanaman mangrove dan mengajukan surat protes/permintaan ke pemerintah. Hal tersebut tidak dilakukan karena dianggap tidak efektif untuk melakukan perubahan dengan adanya KKL (Gambar 18).
Berdasarkan analisis PSR sebagaimana tersebut diatas dapat dikatakan bahwa KKL Raja Ampat relatif masih belum mengalami tekanan yang besar terhadap kerusakan sumberdaya. Tekanan yang dihadapi berupa masalah kapasitas sumberdaya manusia yang relatif masih rendah, kesejahteraan yang juga masih rendah, serta terisolasinya wilayah KKL menjadikan masyarakat sekitar sangat menggantungkan mata pencahariannya terhadap penangkapan ikan disekitar KKL. Kondisi lingkungan yang masih relatif terjaga dengan tingkat kerusakan dan pencemaran yang masih rendah menjadikan KKL Raja Ampat masih mampu berjalan dengan baik (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006; Haryani et al. 2009 dan 2010).
Response masyarakat sekitar wilayah KKL menunjukkan persepsi yang positif dengan adanya KKL ini. Untuk menjamin kelestarian SDI disekitar KKL, masyarakat menganggap perlunya sebuah peraturan desa/daerah. Peraturan ini diperlukan agar adanya kejelasan pengelolaan KKL sehingga semua stakeholder
dapat berperan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Masyarakat juga menyadari perlunya mereka membentuk kelompok nelayan untuk memudahkan koordinasi dan kerjasama diantara mereka dalam menjaga kelestarian sumberdaya ikan. Dampak spill over yang disebabkan kegiatan konservasi, nelayan membutuhkan
adanya penggantian alat tangkap yang lebih baik sehingga hasil tangkapan akan semakin meningkat dan kesejahteraan pun semakin bertambah. Secara singkat gambaran umum analisis PSR disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11 Hasil analisis pressure, state, response KKL Raja Ampat
Pressure State Response
Rendahnya kesejahteraan masyarakat pesisir Penangkapan ikan sebagai tumpuan harapan terakhir bagi mata pencaharian penduduk pesisir. Penangkapan ikan oleh pendatang (illegal fishing). Rencana eksploitasi pertambangan di wilayah perairan laut.
Kondisi perikanan tangkap cukup baik, dengan jumlah kapal bertambah, ikan yang ditangkap bertambah, nelayan bertambah dan harga ikan lebih baik, namun biaya melaut meningkat;
Kondisi ekosistem pesisir semakin baik, luas terumbu karang bertambah dan semakin baik, luas mangrove bertambah dan juga semakin baik.
Kondisi perairan semakin baik, belum mengalami pencemaran dalam besaran yang cukup signifikan, baik akibat limbah domestik maupun dari aktivitas pariwisata dan pelabuhan.
Perairan belum mengalami degradasi sumber daya alam yang cukup signifikan baik pada ikan, terumbu karang, mangrove dan lamun.
Ukuran ikan semakin besar sehingga harga jual semakin tinggi, dengan jenis ikan semakin banyak dan pendapatan semakin bertambah.
KKL menambah hasil tangkapan nelayan, berperan untuk kelestarian ekosistem, berperan dalam menangkap ikan dan menghalangi menangkap ikan, namun KKL menguntungkan pariwisata dan KKL berperan melindungi pesisir dari bencana.
Kesejahteraan masyarakat bertambah, sehingga masyarakat berpendapat bahwa KKL adalah baik.
Membuat peraturan desa/daerah guna
melindungi kelestarian SDI dan kejelasan pengelolaan KKL
Melakukan konservasi SDI
Membentuk kelompok nelayan untuk
memudahkan koordinasi dan kerjasama dalam penangkapan dan kelestarian SDI
.Melakukan perbaikan lingkungan dan transplantasi terumbu karang untuk mendukung pelestarian SDI
Menambah input tenaga kerja dari anggota keluarga untuk melaut, sehingga mendapatkan produksi lebih tinggi dan
penggantian alat tangkap yang lebih baik dengan adanya dampak spill over, juga menambah trip melaut
Menangkap ikan dengan jarak lebih jauh guna mendapatkan ikan yang lebih banyak.
5.1.4 Keterkaitan PSR dengan nilai ekonomi sumberdaya ikan dan pendapatan masyarakat
Dengan adanya pressure-state-response sebagaimana tersebut diatas, responden juga menyatakan bahwa harga jual ikan semakin tinggi (44% responden), 38% responden menyatakan harga jual ikan semakin rendah dan hanya 19% yang menyatakan harga jual ikan tetap. Disisi lain kondisi harga ikan, 63% responden menyatakan harga ikan lebih baik, 31% harga ikan turun, dan 6% responden menyatakan harga ikan tetap (Gambar 19). Harga ikan semakin tinggi
atau harga ikan lebih baik diduga disebabkan oleh daya beli masyarakat meningkat, atau kualitas ikan semakin baik.
Gambar 19 Evaluasi ukuran ikan, jumlah jenis ikan, pendapatan dan harga jual ikan
Dalam kaitannya dengan biaya melaut, 94% responden menyatakan bahwa biaya melaut meningkat, dan 6% responden menyatakan biaya melaut tetap. Kondisi harga ikan meningkat, demikian juga biaya melaut, disebabkan karena nelayan harus semakin jauh menangkap ikan sehingga dibutuhkan biaya yang tinggi. Kondisi tersebut oleh masyarakat setempat diyakini sebagai dampak adanya KKL, yang menyebutkan bahwa adanya KKL menambah hasil tangkapan nelayan, namun juga menghalangi menangkap ikan. Namun demikian persepsi masyarakat juga menyatakan bahwa 62% responden menyatakan pendapatan semakin meningkat, 16% responden menyatakan pendapatan berkurang dan hanya 22% responden yang menyatakan pendapatan tetap (Gambar 19). Diduga kenaikan pendapatan ini disebabkan oleh peningkatan hasil tangkapan yang disebabkan oleh peningkatan effort dan efisiensi sistem penangkapan (Haryani et.
al. 2010; Fauzi 2009). Juga diduga disebabkan oleh harga jual ikan yang meningkat dan semakin baik, serta kebutuhan ikan yang meningkat dengan
supplay ikan yang lebih rendah dari kebutuhan.