• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Konektivitas

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang (Halaman 53-61)

Dilakukan Secara Bijaksana

B. Pengembangan Konektivitas

Tersedianya jalan untuk menjangkau semua daerah di suatu wilayah pemerintahan sangat besar pengaruhnya terhadap kecepatan pendistribusian hasil pembangunan. Seiring dengan semakin meningkatnya pembangunan jalan yang terbagi atas jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten harus selalu ditingkatkan baik panjang maupun kualitasnya, agar pembangunan regional/nasional dapat berjalan lancar. Panjang jalan yang ada di Kabupaten Malang tahun 2011 mencapai 8.807.23 km terbagi atas jalan negara 115.63 km (1%), jalan provinsi 114.93 km (1%), jalan kabupaten 1.668.76 km (19%) dan jalan desa 6.907.90 km (79%). Kondisi jalan yang baik

189 45

237 16

105 24

32

138 787

jalan

pelabuhan

Power dan energi Bandara

Rel kereta

Utilitas air Telematika

Infrastruktur Lainnya

Total

di Kabupaten Malang dari tahun 2006–2011 meningkat cukup signifikan yaitu tahun 2006 panjang jalan 1.096 km, tahun 2007 menjadi 1.205 km,

tahun 2008 menjadi 1.258 km, tahun 2009 menjadi 1.278 km, tahun 2010 1.295 km dan tahun 2011 menjadi 1.325 km. Jembatan mantap tahun 2006

sepanjang 1.975 meter, tahun 2007 sepanjang 2.607 meter, tahun 2008

sepanjang 2.668 meter, tahun 2009 meningkat menjadi sepanjang 2.726 meter, tahun 2010 menjadi sepanjang 2.803 meter sampai dengan

tahun 2011 meningkat menjadi 3.153 meter.

Sedangkan pengembangan sarana informasi, aktivitas pemerintah, swasta maupun masyarakat sangat erat kaitannya dengan pos dan telekomunikasi sebagai sarana untuk pengiriman informasi. Bahkan ketersediaan teknologi informasi berdampak pada intelektualitas penduduk, karena dengan tersedianya teknologi dan kemampuan sumber daya manusia maka akan sangat mudah membaca kemajuan yang mutakhir sehingga dapat memacu perkembangan teknologi di daerah. Untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat, dari tahun ke tahun semakin banyak bermunculan wartel swasta. Jumlah telepon umum koin dari tahun ke tahun semakin berkurang, sedangkan jasa telekomunikasi dari pemerintah dan rumah tangga berkembang pesat.

Adapun ketersediaan bank sangat mendorong laju pertumbuhan ekonomi di segala bidang khususnya dalam penyediaan modal dan lalu lintas uang antar daerah. Kepentingan lalu lintas uang di Kabupaten Malang sangat mudah karena telah tersedia bank-bank pemerintah maupun bank swasta.

Selanjutnya perkembangan ketersediaan energi listrik sebagai pendukung penting pembangunan dan perekonomian sebagai berikut:

Tabel 4.7

Perkembangan Kelistrikan Tahun 2006 – 2011

Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Distribusi JTM

2.589.630 2.589.630 2.589.630 2.622.990 2.632.500 3.632.641 Distibusi

JTR

5.317.290 5.317.290 5.317.290 5.350.950 5.394.350 5.401.352 Distribusi

GRD

3.349 3.349 3.369 3.402 3.548 3.558

Gardu induk

9 9 9 9 9 9

SR 687.850 687.850 701.172 716.966 750.183 730.514

Konsumsi listrik

1.359.547.399 1.359.547.399 1.432.837.083 1.508.030.540 1.503.041.492 1.675.484.263 Sumber : PLN Malang, 2012

Beberapa sarana dan prasarana strategis dalam rangka mendukung konektifitas perekonomian diantaranya a) pengembangan Bandar Udara Abdulrachman Saleh yang dalam kurun waktu 3 tahun terakhir berkembang sangat pesat dan kedepan perlu di tingkatkan kapasitasnya lebih besar lagi sehingga dapat menambah maskapai dan jumlah penerbangan sesuai dengan kebutuhan untuk melayani beberapa Kabupaten/Kota di bagian selatan tengah Jawa Timur; b) pembangunan jalan tol Pandaan-Malang lanjut Kepanjen, melanjutkan tol Surabaya-Pandaan sehingga akan terhubung layanan tol antara Kota Surabaya dengan Malang Raya sebagai salah satu pusat pertumbuhan dan Kota Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur; c) pembangunan Jalan Lintas Selatan Jawa Timur dimana wilayah Kabupaten Malang merupakan titik tengah yang akan menghubungkan Malang-Jogjakarta ke barat dan Malang-Denpasar Bali melalui Banyuwangi ke sebelah Timur, dengan demikian potensi yang selama ini belum tergali karena hambatan transportasi di Malang Selatan akan segera berkembang seperti potensi pertambangan, perkebunan dan perikanan laut serta tidak kalah pentingnya adalah objek wisata pantai yang cukup banyak di Malang Selatan.

Berikutnya sarana transportasi yang menjamin kelancaran arus orang dan barang dari sentra produksi ke pasar maupun ke objek-objek wisata adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8

Perkembangan Sarana Transportasi Tahun 2006-2011

No. Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 2011

1. Mobil penumpang umum

725 751 761 762 763 765

2. Bus umum 2.354 2.402 2.472 2.620 2.723 2.920

3. Bus bukan umum 122 157 182 213 261 370

4. Mobil barang umum

3.194 3.709 4.338 5.244 6.235 7.167

5. Mobil barang bukan umum

11.165 11.935 12.516 13.494 14.659 15.729

6. Kereta gandengan 177 180 184 192 198 199

7. Kereta tempelan 20 22 33 30 41 42

8. Kendaraan khusus

32 34 35 39 41 42

JUMLAH 17.789 19.190 20.521 22.594 24.921 27.234 Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kabupaten Malang, 2011

Dari data diatas diketahui bahwa tren perkembangan sarana transportasi Kabupaten Malang dalam 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan

peningkatan yang cukup signifikan dimana pada tahun 2006 hanya sebanyak 17.789 dan tahun 2011 meningkat tajam menjadi 27.234 atau terjadi kenaikan rata-rata 3.6% per tahun. Kedepan peningkatan diprediksi akan lebih tajam lagi dengan selesainya Tol Pandaan-Malang, selesainya Jalan Lintas Selatan Provinsi Jawa Timur, semakin besarnya kapasitas penerbangan Bandar Udara Abdulrachman Saleh dan pindahnya pusat pemerintahan Kabupaten Malang ke Kota Kepanjen serta pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik memberi dampak kepada perkembangan investasi, industri, perdagangan dan perumahan.

Konektivitas perekonomian ditentukan pula oleh iklim berinvestasi yang sangat ditentukan oleh faktor keamanan dan ketertiban. Tindak kejahatan terbanyak sebagaimana data Kepolisian Resort Malang terbanyak adalah kasus pencurian dengan pemberatan yaitu sebanyak 422 kasus yang dilaporkan namun hanya 214 kasus yang baru diselesaikan, kemudian kasus pencurian kayu jati sebanyak 39 kasus, kasus perjudian sebanyak 210 kasus dan 153 kasus penipuan. Sementara itu, berdasarkan data yang ada masih terdapat kasus demonstrasi pemogokan tenaga kerja, kasus politik dan kasus ekonomi, namun demikian secara umum angka kriminalitas di Kabupaten Malang baik secara kualitas maupun kuantitas kecenderungannya mengalami penurunan.

Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Kabupaten Malang tersebut sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi (intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi internasional Indonesia dengan pasar dunia. Dengan pertimbangan tersebut MP3EI menetapkan penguatan konektivitas sebagai salah satu dari tiga strategi utama.

Konektivitas Kabupaten Malang diupayakan merupakan pengintegrasian 4 (empat) elemen kebijakan nasional yang terdiri Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), Pengembangan wilayah (RPJMN/RTRWN), Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT). Upaya ini perlu dilakukan agar dapat diwujudkan konektivitas yang efektif, efisien dan terpadu.

Sebagaimana diketahui, konektivitas nasional Indonesia merupakan bagian dari konektivitas global. Oleh karena itu, perwujudan penguatan konektivitas perlu mempertimbangkan keterhubungan Kabupaten Malang dengan pusat-pusat perekonomian regional dan global dalam rangka meningkatkan daya saing. Hal ini sangat penting dilakukan guna memaksimalkan keuntungan dari keterhubungan regional dan global.

Gambar 4.6

Konsep Gerbang Pelabuhan dan Bandar Udara pada Masa Depan

1. Kerangka Strategis dan Kebijakan Penguatan Konektivitas

Maksud dan tujuan Penguatan Konektivitas adalah sebagai berikut:

1. menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan bukan keseragaman, melalui inter-modal supply chains systems;

2. memperluas pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aksesibilitas dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah belakangnya (hinterland);

3. menyebarkan manfaat pembangunan secara luas (pertumbuhan yang inklusif dan berkeadilan) melalui peningkatan konektivitas dan pelayanan dasar ke daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan dalam rangka pemerataan pembangunan.

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diintegrasikan beberapa komponen konektivitas yang saling berhubungan kedalam satu perencanaan terpadu. Beberapa komponen dimaksud merupakan pembentuk postur konektivitas yang meliputi: (a) Sistem Logistik Nasional (Sislognas); (b) Sistem Transportasi Nasional (Sistranas); (c) Pengembangan Wilayah (RPJM dan RTRW); (d) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT). Rencana dari masing-masing komponen tersebut telah selesai disusun, namun dilakukan secara terpisah. Oleh karena itu, Penguatan Konektivitas berupaya untuk mengintegrasikan keempat komponen tersebut.

Gambar 4.7

Visi Konektivitas Nasional

Hasil dari pengintegrasian keempat komponen konektivitas nasional tersebut kemudian dirumuskan visi konektivitas nasional yaitu Terintegrasi Secara Lokal, Terhubung Secara Global (Locally Integrated.

Globally Connected).

Yang dimaksud Locally Integrated adalah pengintegrasian sistem konektivitas untuk mendukung perpindahan komoditas yaitu barang, jasa dan informasi secara efektif dan efisien dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan integrasi simpul dan jaringan transportasi, pelayanan inter-moda tansportasi, komunikasi dan informasi serta logistik.

Simpul-simpul transportasi (pelabuhan, terminal, stasiun, depo, pusat distribusi dan kawasan pergudangan serta bandara) perlu diintegrasikan dengan jaringan transportasi dan pelayanan sarana inter-moda transportasi yang terhubung secara efisien dan efektif. Jaringan komunikasi dan informasi juga perlu diintegrasikan untuk mendukung kelancaran arus informasi terutama untuk kegiatan perdagangan, keuangan dan kegiatan perekonomian lainnya berbasis elektronik.

Selain itu, sistem tata kelola arus barang, arus informasi dan arus keuangan harus dapat dilakukan secara efektif dan efisien, tepat waktu, serta dapat dipantau melalui jaringan informasi dan komunikasi (virtual) mulai dari proses pengadaan, penyimpanan/pergudangan, transportasi, distribusi dan penghantaran barang sesuai dengan jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki produsen dan konsumen, mulai dari titik asal (origin) sampai dengan titik tujuan (destination).

Visi ini mencerminkan bahwa penguatan konektivitas nasional dapat menyatukan seluruh wilayah Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara inklusif dan berkeadilan serta dapat mendorong pemerataan antar daerah.

Sedangkan yang dimaksud Globally Connected adalah sistem konektivitas nasional yang efektif dan efisien yang terhubung dan memiliki peran kompetitif dengan sistem konektivitas global melalui jaringan pintu internasional pada pelabuhan dan bandara (international gateway/exchange) termasuk fasilitas custom dan trade/industry facilitation.

Efektivitas dan efisiensi sistem konektivitas nasional dan keterhubungannya dengan konektivitas global akan menjadi tujuan utama untuk mencapai visi tersebut.

Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan penguatan konektivitas secara terintegrasi antara pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi dan juga antar koridor ekonomi, serta keterhubungan secara internasional terutama untuk memperlancar perdagangan internasional maupun sebagai pintu masuk bagi para wisatawan mancanegara.

2. Kerangka Kerja Konektifitas

Dalam pelaksanaannya. perlu diperhatikan beberapa prinsip utama sebagai berikut, (1) meningkatkan kelancaran arus barang, jasa dan informasi; (2) menurunkan biaya logistik; (3) mengurangi ekonomi biaya

tinggi; (4) mewujudkan akses yang merata di seluruh wilayah; dan (5) mewujudkan sinergi antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Fokus Penguatan Konektivitas untuk mendukung percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut:

1. Konektivitas Intra – Koridor Ekonomi

a. meningkatkan dan membangun jalan lintas di dalam koridor;

b. meningkatkan jalan akses lokal antara pusat-pusat pertumbuhan dengan fasilitas pendukung dan dengan wilayah belakangnya, termasuk wilayah-wilayah non koridor ekonomi;

c. meningkatkan pelayanan angkutan udara dan penerbangan;

d. pembangunan jaringan ekstension backbone hingga ke pusat pertumbuhan dan pusat kegiatan utama;

e. pemerataan akses infrastruktur hingga ke pusat pertumbuhan dan pusat kegiatan utama beserta penguatan jaringan backhaul;

f. pengembangan jaringan broadband terutama fixed broadband;

g. implementasi infrastruktur sharing termasuk untuk infrastruktur pasif (menara, pipa, tiang, right of way) dengan operator non-telekomunikasi;

h. penggunaan green technology equipment untuk mendukung penyediaan listrik di wilayah non komersial;

i. pembangunan nasional/nusantara internet exchange di pusat-pusat pertumbuhan.

2. Konektivitas antar Koridor Ekonomi

a. memperlancar arus pengiriman barang dan jasa secara efisien dan efektif antar-koridor ekonomi untuk daya saing regional dan global;

b. menurunkan biaya logistik dan ekonomi biaya tinggi pengiriman barang dan jasa antar koridor ekonomi;

c. penetapan dan peningkatan kapasitas beberapa pelabuhan dan bandara utama sebagai pusat koleksi dan distribusi dengan menerapkan manajemen logistik yang terintegrasi (integrated logistic port management);

d. pengintegrasian multi moda backbone (serat optik, satelit, microwave);

e. penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi perdagangan dan pengembangan sistem inaportnet pada pelabuhan regional

Pada tataran regional (termasuk Kabupaten Malang) dan global terdapat perkembangan kerjasama lintas batas yang perlu diperhatikan terutama adalah komitmen kerjasama pembangunan di tingkat ASEAN dan APEC. Indonesia perlu mempersiapkan diri mencapai target integrasi bidang logistik ASEAN pada tahun 2013 dan integrasi pasar tunggal ASEAN tahun 2015, sedangkan dalam konteks global WTO perlu mempersiapkan diri menghadapi integrasi pasar bebas global tahun 2020.

Mencermati ketertinggalan Indonesia saat ini, perkuatan konektivitas nasional akan memastikan terintegrasinya Sistem Logistik Nasional secara domestik, terhubungnya dengan pusat-pusat perekonomian regional, ASEAN dan dunia (global) dalam rangka meningkatkan daya saing nasional. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan dari keterhubungan regional dan global (regionally and globally connected).

Salah satu dari upaya tersebut, perkuatan konektivitas nasional perlu diintegrasikan dengan perkembangan kerjasama pembangunan ditingkat ASEAN yang memiliki tujuan:

1. Memfasilitasi terbentuknya aglomerasi ekonomi dan integrasi jaringan produksi;

2. Penguatan perdagangan regional antar negara ASEAN;

3. Penguatan daya tarik investasi dan pengurangan kesenjangan pembangunan antar anggota ASEAN dan antar ASEAN dengan negara-negara di dunia.

Upaya di atas dilakukan melalui penguatan jaringan infrastruktur, komunikasi dan pergerakan komoditas (barang, jasa dan informasi) secara efektif dan efisien. Hal ini merupakan bagian dari konektivitas internasional.

Beberapa elemen-elemen utama penguatan konektivitas Kabupaten Malang terdiri dari:

1. Konektivitas Fisik (Physical Connectivity) a. transportasi;

b. teknologi, informasi dan komunikasi;

c. energi.

2. Konektivitas Kelembagaan (Institutional Connectivity) a. fasilitasi dan liberalisasi perdagangan;

b. fasilitasi dan liberalisasi perdagangan, investasi dan jasa;

c. kerjasama yang saling menguntungkan;

d. kerjasama transportasi regional.

3. Konektivitas Sosial Budaya (People-to-People Connectivity) a. pendidikan dan budaya;

b. pariwisata.

C. Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang (Halaman 53-61)