• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA KABUPATEN MALANG 2011-2025

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengembangan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dilakukan dengan pendekatan terobosan (breakthrough) dan bukan business usual. MP3EI dimaksudkan untuk mendorong terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berimbang, berkeadilan dan berkelanjutan. Sehingga melalui langkah dalam MP3EI dimaksud sebagai harapan untuk berdaya saing dalam perekonomian global.

Masterplan ini memiliki dua kata kunci yaitu percepatan dan perluasan. Dengan adanya masterplan ini, diharapkan mampu mempercepat pengembangan berbagai program pembangunan yang ada, terutama dalam mendorong pendekatan nilai tambah sektor-sektor unggulan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan energi, serta pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Percepatan pembangunan ini diharapkan akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sedangkan perluasan pembangunan ekonomi diharapkan efek positif dari pembangunan ekonomi dapat dirasakan wilayah dan seluruh komponen masyarakat.

Strategi percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi dirumuskan secara terfokus sesuai potensi unggulan sebagai pusat-pusat pertumbuhan melalui koridor-koridor ekonomi, diharapkan dapat mendorong perkembangan ekonomi wilayah. Kabupaten Malang sebagai satu bagian dari 6 (enam) koridor ekonomi yaitu koridor ekonomi Jawa dengan fokus prioritas pembangunan industri makanan yang berpotensi untuk meningkatkan nilai rantai ekonomi yang berbasis manufaktur dan jasa. Koridor ini akan menjadikan benchmark perubahan ekonomi yang telah sukses berkembang dalam rantai nilai, dimana sebelumnya fokus pada industri primer menjadi industri tersier, termasuk salah satunya pengembangan Agro Ekowisata.

Sebagai satu kesatuan dinamika regional dan nasional serta pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor, langkah percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Kabupaten Malang melalui sinergitas

(2)

dan berpedoman dengan penyusunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Kabupaten Malang.

Langkah sinergitas dan keterpaduan dengan menjadikan MP3EI Kabupaten Malang sebagai dokumen kerja yang kompremator terhadap dokumen-dokumen perencanaan yang ada.

MP3EI nasional sebagai pijakan penyusunan operasional MP3EI Kabupaten Malang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Malang Tahun 2005-2025, Rencana Tata Ruang dan Wilayah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Malang Tahun 2010-2015 sebagai induk kebijakan strategis guna mewujudkan Kabupaten Malang Aman, Maju, Adil dan Makmur.

B. Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Kabupaten Malang

Visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005–2025, maka visi Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) adalah “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur”. Melalui langkah MP3EI, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi akan menempatkan

Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD 14.250 – USD 15.500 dengan nilai total

perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 – 4,5 triliun. Untuk mewujudkannya diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 – 7,5 persen pada periode 2011 – 2014, dan sekitar 8,0 – 9,0 persen pada periode 2015 – 2025. Pertumbuhan ekonomi tersebut akan dibarengi oleh penurunan inflasi dari sebesar 6,5 persen pada periode 2011 – 2014 menjadi 3,0 persen pada 2025. Kombinasi pertumbuhan dan inflasi seperti itu mencerminkan karakteristik negara maju.

Gambar. 1.1

PDRB dan Pendapatan Perkapita Nasional

(3)

Mengacu pada agenda Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 untuk mewujudkan keberhasilan Pembangunan Nasional

dengan Visi “Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur” serta Visi dalam Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Jawa Timur yaitu “Pusat Agrobis Terkemuka, Berdaya Saing Global dan Berkelanjutan Menuju Jawa Timur Makmur dan Berakhlak”, guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan Kabupaten Malang maka ditetapkan Visi Pembangunan Kabupaten Malang Tahun 2005 - 2025 adalah “Kabupaten Malang Aman, Maju, Adil dan Makmur” dengan misi:

1. Meningkatkan pemahaman dan menjadikan nilai-nilai universal agama sebagai pemersatu dan penggerak pembangunan masyarakat madani;

2. Meningkatkan supremasi hukum dan HAM serta mendorong tumbuh dan berkembangnya kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan;

3. Meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan serta mendorong maju dan berprestasinya olahraga seni dan budaya;

4. Meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya berdasarkan potensi dan prospek pengembangannya;

5. Meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya berdasarkan keadilan sosial dan menjamin kesinambungan pembangunan yang berwawasan lingkungan;

6. Meningkatkan profesionalisme aparatur dalam rangka pelayanan publik.

Gambar 1.2

PDRB dan Pendapatan Perkapita Kabupaten Malang

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Kabupaten Malang, akan menempatkan Kabupaten Malang sebagai koridor ekonomi Jawa dengan fokus prioritas pembangunan industri makanan dikarenakan berpotensi untuk meningkatkan nilai rantai ekonomi yang berbasis manufaktur ke jasa. Koridor ini akan menjadikan benchmark perubahan ekonomi yang telah sukses berkembang dalam rantai nilai, dimana sebelumnya fokus pada industri primer menjadi industri tersier.

Salah satu potensi utama yang dikembangkan adalah Agrowisata (sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional).

2010

PDRB: Rp. 31.390.584 Pendapatan/kapita 12.881.370

2025

PDRB: Rp. 82.354.970 Pendapatan/kapita 34.189.817

2045

PDRB: Rp. 150.141.941 Pendapatan/kapita 62.610.135

(4)

C. Posisi Kabupaten Malang dalam Dinamika Regional dan Nasional

Pembangunan Kabupaten Malang tidak lepas dari posisi Kabupaten Malang dalam dinamika regional dan nasional. Secara geografis Kabupaten Malang terletak di tengah selatan Jawa Timur sebagai salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

Pembangunan ekonomi saat ini menghasilkan berbagai kemajuan namun harus diupayakan untuk mewujudkan perekonomian yang tangguh dan mensejahterakan masyarakat Kabupaten Malang, oleh karena itu tantangan 20 (dua puluh) tahun ke depan adalah: a) meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,5% pertahun dengan jalan penguatan sektor-sektor basis, b) mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam pertanian, pertambangan, kelautan dan pariwisata dengan memperhatikan daya dukung lingkungan, c) penguatan kelembagaan dalam rangka pemberdayaan sektor riil dan usaha menengah, koperasi dan usaha kecil.

Kelompok sektor industri pengolahan merupakan sektor yang memiliki kontribusi yakni sebesar 14,89% pada lima tahun terakhir dan merupakan sektor ekonomi yang cukup berperan setelah sektor pertanian dan perdagangan, sedangkan disisi yang lain infrastruktur dan sumber daya yang dibutuhkan oleh sektor ini relatif besar, yang bermakna bahwa sektor industri pengolahan secara potensial layak dikembangkan dalam meningkatkan pendapatan regional Kabupaten Malang. Kondisi ini juga dicerminkan dari investasi sektor industri yang relatif mengalami peningkatan yang signifikan dalam 5 (lima) tahun terakhir sehingga tantangan 20 (dua puluh) tahun ke depan sektor industri pengolahan dapat diandalkan sebagai sektor basis yang memiliki kontribusi tinggi dalam PDRB Kabupaten Malang khususnya maupun Provinsi Jawa Timur.

Tantangan eksternal yang dihadapi Kabupaten Malang 20 (dua puluh) tahun mendatang adalah terjadinya aglomerasi kawasan industri secara besar-besaran perdagangan dan jasa, serta dukungan infrastruktur yang memadai di wilayah WP Gerbangkertasusila Plus, yang implikasinya adalah terjadinya capital flow yang cukup besar di wilayah utara Provinsi Jawa Timur. Hal ini akan berdampak pada semakin kecilnya peluang Kabupaten/Kota di wilayah selatan Provinsi Jawa Timur untuk berkembang.

Padahal di kawasan selatan Provinsi Jawa Timur masih diwarnai oleh wilayah-wilayah yang relatif terbelakang dan terpencil serta fungsi WPnya masih berada pada sektor primer. Kondisi ini berpotensi terjadinya ketidakseimbangan aktivitas ekonomi antara utara dan selatan, walaupun sudah ada upaya pengembangan infrastruktur Jalan Lintas Selatan. Oleh karena itu 20 (dua puluh) tahun ke depan Kabupaten Malang akan dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan pengembangan WP yang berada di kawasan selatan Malang dengan dukungan pengembangan sarana dan prasarana yang memadai.

(5)

Pembangunan Jalan Lintas Selatan akan memberikan multiplier effect terhadap pengembangan wilayah di kecamatan-kecamatan yang berada di Kawasan Kabupaten Malang bagian Selatan. Hal ini merupakan tantangan bagi Kabupaten Malang untuk meningkatkan fasilitas pelayanan transportasi yang paling lengkap mulai dari, transportasi perhubungan darat yaitu pembangunan jalan Tol Gempol-Pandaan-Malang-Kepanjen, transportasi

perhubungan laut dengan pembangunan Pelabuhan Nusantara di Sendangbiru Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Kabupaten Malang merupakan bagian Satuan Pengembangan Wilayah Malang Raya yang akan berfungsi sebagai center yang menghubungkan akses pergerakan ekonomi dalam bentuk pelayanan terhadap pergerakan orang, barang dan jasa antara Wilayah Utara dan Wilayah Selatan Provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang Kabupaten Malang akan dihadapkan pada tantangan untuk mengembangkan aksesibilitas antar kecamatan dan antar daerah perbatasan melalui kerjasama dengan pemerintah daerah kabupaten/kota yang berbatasan.

Perkembangan aktifitas ekonomi wilayah Kecamatan Ngantang, Pujon, Kasembon sampai sejauh ini masih didominasi oleh sektor pertanian yang arah pergerakan aktifitas ekonominya cenderung ke arah Kabupaten Kediri dan Kota Batu sebagai simpul distribusi dan produksi sentra pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Aksesibilitas terhadap WP yang lain di wilayah Kabupaten Malang sangat lemah oleh karena itu dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang Kabupaten Malang akan dihadapkan pada tantangan meningkatkan efektifitas WP. Untuk Wilayah Kecamatan Lawang, Singosari, Karangploso, Dau, Wagir, Pakisaji, Bululawang, Tajinan, Pakis, Jabung, Poncokusumo, Tumpang, Wajak mempunyai pola perkembangan yang hampir serupa, yaitu masih didominasi oleh sektor pertanian namun perannya kian berkurang karena pengaruh aktivitas di Kota Malang yaitu pergeseran lahan-lahan pertanian menjadi kawasan permukiman- permukiman baru untuk wilayah penyangga kebutuhan perkotaan.

Dari 6 (enam) WP yang ada di Kabupaten Malang masih menunjukkan disparitas yang relatif besar. Faktor internal yang menyebabkan disparitas tersebut adalah teraglomerasinya aktivitas ekonomi di masing-masing WP,

oleh karena itu tantangan 20 (dua puluh) tahun ke depan adalah:

a) pembentukan dan pengembangan berbagai kawasan khusus industri, agropolitan, pendidikan, perdagangan dan pariwisata, b) mengembangkan Kota Kepanjen sebagai ibukota Kabupaten Malang dengan dukungan infrastruktur yang memadai, serta c) meningkatkan kerjasama antar daerah perbatasan.

(6)

Gambar 1.3

Peta SWP Kabupaten Malang

Kabupaten Malang adalah wilayah dengan luas kawasan dan penduduk terbanyak di Jawa Timur. Hal tersebut menempatkan Kabupaten Malang sebagai kekuatan utama di Jawa Timur. Di sisi lain, konsekuensi dari akan diimplementasikannya komunitas ekonomi ASEAN dan terdapatnya Asean – China Free Trade Area (ACFTA) mengharuskan Indonesia (termasuk didalamnya Kabupaten Malang) meningkatkan daya saingnya guna mendapatkan manfaat nyata dari adanya integrasi ekonomi tersebut. Oleh karena itu, percepatan transformasi ekonomi yang dirumuskan dalam MP3EI ini menjadi sangat penting dalam rangka memberikan daya dorong dan daya ungkit bagi daya saing Kabupaten Malang. Dengan melihat dinamika nasional yang terjadi serta memperhatikan potensi dan peluang keunggulan geografi dan sumber daya yang ada serta mempertimbangkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan, dalam kerangka MP3EI, Kabupaten Malang perlu memposisikan dirinya sebagai basis ketahanan pangan, pusat pengolahan produk pertanian, perkebunan, perikanan, dan sumber daya mineral serta pusat mobilitas logistik nasional.

(7)

D. Transformasi Ekonomi melalui Not Business as usual

Dengan seluruh potensi dan tantangan yang ada membutuhkan percepatan transformasi ekonomi agar kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dapat diwujudkan lebih dini. Perwujudan itulah yang akan diupayakan melalui langkah-langkah percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Kabupaten Malang. Untuk itu dibutuhkan perubahan pola pikir (mindset) yang didasari oleh semangat “Not Business As Usual”.

Gambar 1.4

Transformasi “Not Business As Usual

Pemahaman tersebut harus direfleksikan dalam kebijakan Pemerintah.

Regulasi yang ada seharusnya dapat mendorong partisipasi dunia usaha secara maksimal untuk membangun berbagai macam industri dan infrastruktur yang diperlukan. Karena itu percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia khususnya Kabupaten Malang memerlukan evaluasi terhadap seluruh kerangka regulasi yang ada, kemudian langkah- langkah strategis diambil untuk merevisi dan merubah regulasi sehingga mendorong partisipasi maksimal yang sehat dari dunia usaha. Semangat Not Business As Usual juga harus terefleksi dalam elemen penting pembangunan, terutama penyediaan infrastruktur. Pola pikir masa lalu mengatakan bahwa infrastruktur harus dibangun menggunakan anggaran Pemerintah. Akibat anggaran Pemerintah yang terbatas, pola pikir tersebut berujung pada kesulitan memenuhi kebutuhan infrastruktur yang memadai bagi perekonomian yang berkembang pesat. Saat ini telah didorong pola pikir yang lebih maju dalam penyediaan infrastruktur melalui model kerjasama pemerintah dan swasta atau Public-Private Partnership (PPP).

Namun demikian, untuk mempercepat implementasi MP3EI Kabupaten Malang, perlu juga dikembangkan metode pembangunan infrastruktur

Bussines

Perubahan pola pikir paling mendasar adalah pemahaman bahw a ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, BUMD dan Sw asta (dalam semangat Indonesia Incorporated). Perlu dipahami juga kemampuan pemerintah melalui APBN dan APBD dalam sangat terbatas. Di sisi lain, semakin maju suatu negara, maka semakin kecil pula proporsi anggaran pemerintah dalam ekonomi. Dinamika ekonomi suatu negara pada akhirnya akan tergantung pada dunia usaha yang mencakup BUMN, BUMD, dan sw asta domestikdan asing.

(8)

Kegiatan Ekonomi Utama

Kelautan dan Perikanan

Kakao Kawasan

Minapolitan

Alutsista Makanan

Minuman Pertanian

Pangan

Kawasan Industri

Kawasan Sendangbiru

Perkayuan Pariwisata

Peternakan Kawasan

Agropolitan

sepenuhnya oleh dunia usaha yang dikaitkan dengan kegiatan produksi.

Peran Pemerintah adalah menyediakan perangkat aturan dan regulasi yang memberi insentif bagi dunia usaha untuk membangun kegiatan produksi dan infrastruktur tersebut secara paripurna. Insentif tersebut dapat berupa kebijakan (sistem maupun tarif) pajak, aturan ketenagakerjaan, perizinan, pertanahan dan lainnya, sesuai kesepakatan dengan dunia usaha. Perlakuan khusus diberikan agar dunia usaha memiliki perspektif jangka panjang dalam pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Selanjutnya, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus membangun linkage semaksimal mungkin untuk mendorong pembangunan daerah sekitar pusat pertumbuhan ekonomi.

Fokus pengembangan MP3EI Kabupaten Malang ini diletakkan pada 6 (enam) program utama, yaitu pertanian, energi, industri, kelautan,

pariwisata dan pengembangan kawasan strategis. Keenam program utama tersebut terdiri dari 12 (dua belas) kegiatan ekonomi utama.

Gambar 1.5

Kegiatan Ekonomi Utama Kabupaten Malang

(9)

E. MP3EI Kabupaten Malang merupakan Bagian Integral Perencanaan Pembangunan Daerah

Sebagai dokumen kerja, MP3EI Kabupaten Malang berisikan arahan pengembangan kegiatan ekonomi utama yang sudah lebih spesifik dengan kebutuhan infrastruktur dan arahan perubahan/revisi terhadap peraturan perundang-undangan yang perlu dilakukan untuk mendorong percepatan dan perluasan investasi. Selanjutnya MP3EI Kabupaten Malang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah.

MP3EI bukan dimaksudkan untuk mengganti dokumen perencanaan pembangunan yang telah ada seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005 – 2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, namun menjadi dokumen yang terintegrasi dan komplementer yang penting serta khusus untuk melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi.

Gambar 1.6

Posisi MP3EI Dalam Rencana Pembangunan Di Kabupaten Malang

Rencana Aksi/Pogram atau Kegiatan

RTRW

Investasi Swasta dan PPP Sistem Perencanaan dan

Penganggaran UU 25/2004-UU 17/2003

RPJPD 2005 - 2025

RPJMD 2010 - 2015

RKPD/RAPBD

Dinamika Perubahan

• Lingkungan global (krisis 2008, BRICS, dll)

• Komitmen internasional (G20, APEC, FTA, ASEAN, Climate Change)

• Perkembangan social- ekonomi domestik

Tuntutan untuk mempercepat transformasi ekonomi

Masterplan Percepatan &

Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

(10)

Gambar 1.7

Kerangka Desain MP3EI Kabupaten Malang

“Mewujudkan Kabupaten Malang Aman,

Maju, Adil dan Makmur

1. Mendorong realisasi investasi di 12 kegiatan ekonomi utama 2. Sinkronisasi rencana aksi untuk merevitaliasasi kinerja sektor riil 3. Pengembangan center of excellence di setiap wilayah

pengembangan

PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI MELALUI KORIDOR

EKONOMI

PENGUATAN KONEKTIVITAS

PENGUATAN KEMAMPUAN SDM DAN IPTEK

PRINSIP DASAR DAN PRASYARAT KEBERHASILAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI

KABUPATEN MALANG

VISI KABUPATEN MALANG 2025

Inisiatif Strategis MP3EI Kabupaten Malang

Strategi Utama MP3EI Kabupaten Malang

PRINSIP DASAR MP3EI

(11)

BAB II

KINERJA UTAMA RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH DAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MALANG

A. Struktur Ekonomi

Tren pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang dengan kontribusi sektor yang dominan adalah sektor primer yang pada umumnya menghasilkan nilai tambah yang sedikit atau dengan kata lain harga jualnya masih relatif rendah dibanding sektor yang lain. Oleh karena itu kontribusi ekonomi diarahkan bergeser pada sektor industri olahan (agroindustri dan pertambangan). Pertumbuhan ekonomi sektoral secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini dimana sektor yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding pertumbuhan Kabupaten Malang secara rerata adalah sektor bangunan sebesar 10,63%, industri pengolahan 8,39%, perdagangan, hotel dan restoran sebesar 6,84%, disusul pertambangan dan penggalian 6,78%. Sedangkan pertumbuhan terendah dan stabil sesuai dengan karakteristiknya adalah di sektor pertanian 4,35%.

Tabel 2.1

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Sektoral PDRB ADHK Tahun 2006 - 2011 (dalam persen)

Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Rerata Pertumbuhan

ekonomi 5,74 6,09 5,76 5,25 6,27 7,43 6,05

Primer

1. Pertanian 4,29 4,28 4,39 4,81 4,13 4,22 4,35 2. Pertambangan

& Penggalian 7,81 7,89 6,55 7,08 6,95 4,38 6,78

Sekunder

3. Industri

Pengolahan 8,37 9,54 8,47 6,41 8,31 9,22 8,39 4. Listrik, Gas

dan Air Bersih 5,32 3,85 6,3 4,81 7,93 6,55 5,79 5. Bangunan 9,14 10,49 10,93 10,68 9,15 13,41 10,63

Tersier

6. Perdagangan Hotel &

Restoran

6,54 7,06 5,95 4,72 6,93 9,84 6,84

7. Pengangkutan

& Komunikasi 4,87 5,37 4,23 3,66 7,88 9,03 5,84 8. Keu, Persewaan

& Jasa Persh. 6,12 5,14 5,79 5,46 7,74 8,74 6,44 9. Jasa-jasa 3,97 4,07 4,59 5,05 5,87 6,67 5,04 Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kab. Malang, 2012

(12)

Cukup tingginya aktifitas ekonomi di Kabupaten Malang tidak terlepas dari tingginya aktifitas masyarakat dalam masing-masing sektor ekonomi produktif yang ada di Kabupaten Malang. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi paling tinggi selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir adalah pertanian dengan rata-rata sebesar 30,45%, disusul perdagangan, hotel dan restoran sebesar 24,57%, industri pengolahan sebesar 18,17% dan jasa-jasa sebesar 13,12%. Tumbuhnya perekonomian Kabupaten Malang juga mengundang sektor retail pasar modern seperti Indomaret, Alfamart dan sejenisnya menjamur. Sektor ini mulai tumbuh dan mencoba bersaing dengan pasar tradisional yang terlebih dahulu berkembang, untuk itu Pemerintah Kabupaten Malang akan menerapkan regulasi yang tepat, guna menyeimbangkan persaingan pasar tradisional dan pasar modern agar dapat berjalan selaras dan seimbang dengan terus mendorong tetap eksisnya pasar tradisional.

Tabel 2.2

Perkembangan Struktur Ekonomi PDRB ADHK Kabupaten Malang Tahun 2006 - 2011 (dalam persen)

Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Rerata Primer 34,03 33,54 33,16 33,08 33 32,03 33,14 1. Pertanian 31,4 30,87 30,47 30,34 30,25 29,35 30,45 2. Pertambangan &

Penggalian

2,63 2,67 2,69 2,74 2,75 2,67 2,69

Sekunder 20,45 21,05 21,60 21,88 20,78 21,16 21,15 3. Industri

Pengolahan

17,34 17,91 18,37 18,57 18,27 18,57 18,17

4. Listrik, Gas dan Air Bersih

1,57 1,54 1,55 1,54 0,73 0,72 1,28

5. Bangunan 1,54 1,60 1,68 1,77 1,78 1,87 1,71 Tersier 45,52 45,41 45,24 45,04 46,22 46.82 45,71 6. Perdagangan,

Hotel & Restoran

23,71 23,93 23,97 23,85 25,69 26,28 24,57

7. Pengangkutan &

Komunikasi

4,48 4,45 4,38 4,32 3,22 3,27 4,02

8. Keu, Persewaan

& Jasa Persh.

3,89 3,85 3,85 3,86 4,23 4,28 3,99

9. Jasa-jasa 13,44 13,19 13,04 13,00 13,08 12,99 13,12 Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kab. Malang, 2011

(13)

Dilihat dari Struktur Ekonomi PDRB ADHB Kabupaten Malang yang dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sektor yaitu primer, sekunder dan tersier, dimana sektor tersier memberikan kontribusi paling tinggi selama kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir dengan rerata dari sektor tersier sebesar 45,09% disusul sektor primer sebesar 30,34% dan sektor sekunder sebesar 23,6% sebagaimana tabel berikut:

Tabel 2.3

Struktur Ekonomi PDRB ADHB Kabupaten Malang Tahun 2006 – 2011 (dalam persen)

Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Rerata Primer 31,97 31,50 31,1 30,34 29,67 27,44 30,34 I. Pertanian 29,75 29,26 28,88 28,08 27,47 26,30 28,29 II. Pertambangan

& Penggalian 2,22 2,24 2,22 2,26 2,20 1,14 2,05 Sekunder 22,36 23,24 23,73 23,65 24,03 24,53 23,6 III. Industri

Pengolahan 18,86 19,65 20,09 20,89 21,12 21,48 20,35 IV. Listrik, Gas

dan Air Bersih 1,96 1,91 1,8 0,85 0,84 0,83 1,37 V. Bangunan 1,54 1,68 1,84 1,91 2,07 2,22 1,88 Tersier 45,67 45,24 45,17 46,02 46,31 47,02 45,09 VI. Perdagangan,

Hotel &

Restoran

23,86 23,74 23,93 26,84 27,09 27,85 25,55 VII. Pengangkutan

& Komunikasi 5,35 5,08 4,95 3,48 3,52 3,55 3,50 VIII. Keu,

Persewaan &

Jasa Persh.

3,66 3,72 3,73 4,06 4,12 4,20 3,92 IX. Jasa-jasa 12,80 12,70 12,56 11,64 11,58 11,42 12,12 Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kab. Malang, 2012

Grafik 2.1

Perkembangan PDRB ADHB dan PDRB ADHK Tahun 2006 - 2013

Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kab. Malang, 2012

(14)

Perkembangan PDRB rata-rata sebelum 5 (lima) tahun menunjukkan peningkatan baik ADHB maupun ADHK. Seiring dengan adanya kenaikan PDRB perkapita. Membaiknya perkembangan PDRB maupun PDRB perkapita berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan didukung adanya peran investasi dan ekspor serta peran sektor utama di Kabupaten Malang yaitu pertanian yang menunjukkan kontribusi tertinggi walaupun trend pertumbuhan cenderung melambat. Dikaitkan dengan perkembangan inflasi yang mengalami fluktuasi tetapi cenderung mengalami penurunan seiring dengan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan cenderung meningkat termasuk semakin kondusifnya berbagai variabel makro ekonomi. Semakin rendah inflasi dan pertumbuhan ekonomi meningkat diasumsikan tingkat daya beli masyarakat semakin meningkat. Kondisi variabel makro ekonomi di Kabupaten Malang diantaranya PDRB ADHB dan ADHK, PDRB perkapita, pertumbuhan ekonomi serta inflasi selama 5 (lima) tahun serta prediksi proyeksi kedepan selama 3 (tiga) tahun dapat dilihat pada tabel 2.2.

Grafik 2.2

Perkembangan PDRB Per Kapita ADHB dan PDRB Per Kapita ADHK

Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kab. Malang, 2012

(15)

Grafik 2.3

Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Tahun 2006 - 2013

Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kab. Malang, 2012

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi selama 5 (lima) tahun merupakan akumulasi kontribusi 9 (sembilan) sektor perekonomian. Sektor pertanian sebagai penggerak utama perekonomian masyarakat Kabupaten Malang, dimana dukungan utama berasal dari sub sektor tanaman disusul peternakan sejalan dengan pengembangan koridor ekonomi Jawa khususnya Kabupaten Malang dengan rincian sebagai berikut:

Grafik 2.4

Kontribusi Produk-produk Sektor Pertanian terhadap PDRB-HK Sektor Primer Kabupaten Malang

Rata-rata 5 Tahun Terakhir

Sumber : Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

Dengan perkembangan diatas, walaupun pangsa sektor pertanian dalam PDRB sektor primer Kabupaten Malang berjalan mengalami penurunan namun peranannya sebagai sektor dengan pangsa terbesar masih belum

(16)

digantikan oleh sektor lainnya. Sedangkan nilai tambah sektor penggalian dan pertambangan memperlihatkan peningkatan pertumbuhan dengan dukungan utama berasal dari penggalian terutama Galian C seperti pasir, kerikil, batu dan tanah urug yang tersaji dalam Grafik 2.5

Grafik 2.5

Kontribusi Produk-produk Sektor Penggalian dan Pertambangan terhadap PDRB-HK Sektor Primer Kabupaten Malang

Rata-rata 5 Tahun Terakhir

Sumber : Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

Sektor Industri Pengolahan sangat penting dalam perekonomian Kabupaten Malang dengan kontribusi terhadap ekspor, peran sektor ini lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian. Sektor industri memiliki keterkaitan kebelakang dan kedepan yang besar sehingga peningkatan kinerja industri pengolahan dapat berdampak pada sektor industri lainnya. Ditengah perannya yang penting dalam perekonomian domestik kinerja sektor industri pengolahan terus mengalami tren peningkatan dalam 5 (lima) tahun terakhir.

Pembangunan sektor industri pengolahan sebagai motor pertumbuhan ekonomi sangat penting untuk menjamin pertumbuhan jangka panjang.

Dalam struktur ekonomi Kabupaten Malang, sektor ini merupakan sektor terbesar ketiga di dalam pembentukan PDRB Kabupaten Malang. Selain itu, pentingnya sektor ini juga terlihat dari perannya terhadap ekspor, penyerapan tenaga kerja dan keterkaitannya yang cukup luas dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian. Salah satu tantangan utama yang saat ini dihadapi oleh industri pengolahan adalah perlunya peningkatan nilai tambah dari produk-produk berbasis sumber daya alam. Perlunya saat ini beberapa sub sektor yang menjadi andalan sektor industri pengolahan lebih banyak

berbasis SDA seperti sub sektor makanan dan minuman terbagi pada gambar 2.6

(17)

Grafik 2.6

Kontribusi Sektor Industri Olahan Terhadap

PDRB-HK Kabupaten Malang Rata-Rata dalam 5 tahun terakhir

Sumber: Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

Selain itu pembangunan sektor industri kedepan juga memperhatikan aspek daerah yaitu lebih mengandalkan basis ekonomi lokal. Pembangunan industri berbasis ekonomi lokal merupakan satu langkah penting untuk membangun ekonomi lokal. Ekonomi lokal diharapkan dapat mengembangkan industri pendukung yang menyediakan bahan baku dan penolong bagi industri lainnya. Dengan demikian industri pengolahan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dan dikaitkan dengan kebutuhan peran nasional dan global.

Secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih dan bangunan meningkat dengan kontribusi tertinggi sub sektor listrik. Salah satu sektor yang menikmati kenaikan pertumbuhan dan perbaikan pendapatan masyarakat adalah sektor bangunan. Pertumbuhan yang relatif tinggi berasal pembangunan infrastruktur dan prasarana wilayah seperti pembangunan perkotaan, jalan, terminal, sarana hiburan serta properti baik residential maupun komersial.

Grafik 2.7

Kontribusi Sub Sektor Listrik Gas dan Air Bersih dan Bangunan Terhadap PDRB-HK Kabupaten Malang

Rata-Rata dalam 5 tahun terakhir

Sumber : Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

(18)

Ditinjau dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor perdagangan dan restoran merupakan sektor jasa dengan kontribusi tertinggi yang didukung dari sub sektor perdagangan.

Grafik 2.8

Kontribusi Sub Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Terhadap PDRB-HK Kabupaten Malang

Rata-Rata dalam 5 tahun terakhir

Sumber: Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

Aktivitas sub sektor perdagangan ditandai dengan dibukanya gerai- gerai perdagangan, serta sejalan dengan meningkatnya produk industri pengolahan. Dipihak lain tingkat hunian hotel cenderung meningkat yang berdampak pada kunjungan wisata.

Sementara itu sektor pengangkutan dan komunikasi juga meningkat dengan kontribusi tertinggi pada sub sektor Pos dan Telekomunikasi dan angkutan jalan raya. Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi yang tetap tinggi dipengaruhi oleh berlanjutnya penetrasi pasar sub sektor komunikasi serta sejalan bertambahnya rute penerbangan di Bandar Udara Abdulrachman Saleh.

Grafik 2.9

Kontribusi Sub Sektor Angkutan dan Komunikasi Terhadap PDRB-HK Kabupaten Malang Rata-Rata dalam 5 tahun terakhir

Sumber: Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

(19)

Pada pihak lain, pertumbuhan angkutan jalan raya yang memiliki peran cukup tinggi dikaitkan dengan adanya peningkatan pertumbuhan sektor industri pengolahan, perdagangan dan ekspor.

Sektor keuangan, jasa dan perusahaan juga menunjukkan perkembangan yang meningkat.

Grafik 2.10

Kontribusi Sub Sektor Keuangan dan Jasa Persewaan Terhadap PDRB-HK Kabupaten Malang

Rata-Rata dalam 5 tahun terakhir

Sumber: Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

Kontribusi pada pertumbuhan sektor ini berasal dari sub sektor lembaga keuangan bukan bank yang terdiri dari pegadaian, koperasi dan asuransi sedangkan sektor-sektor jasa juga mempunyai sumbangan yang positif khususnya hiburan dan jasa sosial kemasyarakatan.

Grafik 2.11

Kontribusi Sub Sektor Jasa-Jasa Pemerintahan dan Swasta Terhadap PDRB-HK Kabupaten Malang

Rata-Rata dalam 5 tahun terakhir

Sumber: Data sekunder BPS Kab Malang 2011 Diolah

Terbentuknya sektor jasa hiburan ini sejalan dengan meningkatnya wisatawan satu kegiatan olahraga sedangkan peningkatan jasa sosial kemasyarakatan sejalan peningkatan kegiatan pendidikan dan rumah sakit.

(20)

1.1. Kondisi Kesejahteraan Masyarakat a.a. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM merupakan cerminan status kemampuan dasar penduduk diantaranya angka harapan hidup, pengetahuan dan ketrampilan serta akses sumber daya dalam mencapai hidup yang lebih layak atau sejahtera. IPM Kabupaten Malang tahun 2011 sebesar 71,17%. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan program-program pembangunan di Kabupaten Malang berdampak positif dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan. Perkembangan IPM Kabupaten Malang pada tahun 2006 sebesar 66,93% dan pada tahun 2011 sebesar 71.17%.

Kenaikan yang cukup signifikan ini dipengaruhi pula oleh kenaikan rata-rata indeks komponen IPM yaitu angka harapan hidup, pendidikan dan daya beli masyarakat. Bila dibandingkan dengan kenaikan

keseluruhan IPM Kabupaten Malang mulai tahun 2006 hingga tahun 2011 sebesar 6,3%, berikut gambaran IPM Kabupaten Malang.

Tabel 2.5

Gambaran IPM Kabupaten Malang Tahun2006 – 2011

URAIAN Sat. 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Indeks

Harapan Hidup

% 67,30 68,22 72,38 72,83 73,24 73,72

Indeks Pendidikan

% 73,27 73,50 74,25 74,80 75,09 75,31

Indeks Daya Beli

% 57,76 65,49 62,02 62,64 63,31 64,49

IPM Kab.

Malang

% 66,93 69,07 69,55 70,09 70,56 71.17

Sumber : BPS Kabupaten Malang, 2012

b. Kemiskinan

Dalam hal penanganan kesejahteraan sosial serta mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan sebagaimana amanat Millenium Development Goals (MDGs). Dalam kurun 5 (lima) tahun terakhir Pemerintah Kabupaten Malang berupaya mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja yang dikaitkan dengan seluruh program prioritas pembangunan yang pada dampaknya dapat mengurangi angka kemiskinan dan menurunkan angka pengangguran.

(21)

Kondisi rumah tangga miskin berdasarkan Surat Gubernur Jawa Timur Nomor 414.1/18758/206/2009 tanggal 22 Desember 2009 tentang Titik Nol Kinerja Penanggulangan Kemiskinan di Jawa Timur yang mengacu pada Susenas bulan Maret 2009 dan PPLS 2008 (versi Bantuan Langsung Tunai) sebesar 155.745 Rumah Tangga Miskin (RTM) atau 25,50% yang terdiri dari sangat miskin 24.236 RTM atau

3,97%, miskin sebesar 63.470 RTM atau 10,39% dan hampir miskin 68.039 RTM atau 11,14%. Sedangkan angka kemiskinan yang

berdasarkan Susenas BPS tahun 2010 adalah sebesar 13,6%.

Pemerintah bersama masyarakat terus melakukan berbagai langkah dan upaya yang diarahkan untuk pengurangan kemiskinan melalui program-program pembangunan lintas sektoral, lintas bidang bahkan lintas pemerintahan. Strategi dan langkah-langkah yang telah diambil dalam rangka pengentasan kemiskinan diantaranya pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah dengan memadukan program-program baik dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten maupun dari masyarakat serta mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat.

c. Ketenagakerjaan

Dalam hal penanganan ketenagakerjaan dan ketersediaan lapangan kerja merupakan tantangan yang perlu terus menerus mendapatkan perhatian tidak hanya dari pemerintah namun perlu mengikutsertakan partisipasi masyarakat khususnya dunia usaha.

Pada Tahun 2011 jumlah pencari kerja sebanyak 57.981 orang dengan jumlah penyerapan sebanyak 3.474 orang. Bila dibandingkan dengan usia angkatan kerja yang sebesar 64% atau 1.578.886 orang dari jumlah penduduk Kabupaten Malang, maka diperlukan upaya mensinergikan kebutuhan tenaga kerja terhadap penyerapan tenaga kerja melalui program-program pembinaan dan pengembangan produktivitas tenaga kerja, perluasan dan pengembangan kesempatan kerja, pembinaan hubungan industrial dan perlindungan tenaga kerja dan program transmigrasi penduduk. Disamping itu telah dilakukan beberapa upaya dengan menstimulasi munculnya lapangan kerja baru maupun penyiapan pencari kerja siap pakai, menempatkan tenaga kerja melalui Program Antar Kerja Lokal (AKL), Program Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) dan Program Antar Kerja Antar Negara (AKAN).

Ketersediaan Lapangan Kerja Merupakan

Tantangan Dari

Pemerintah Dan

Dunia Usaha

(22)

Tabel 2.6

Jumlah Penduduk Berdasarkan Sebaran Kelompok Umur Tahun 2011

Kelompok Umur (Tahun)

JENIS KELAMIN Laki-Laki % Perempua

n % Jumlah %

0 - 4 101.096 4.10 96.803 3.93 197.822 8.02 5 - 9 105.241 4.27 100.930 4.09 206.175 8.36 10 - 14 108.003 4.38 102.917 4.17 210.925 8.55 15 - 19 98.506 3.99 92.863 3.77 191.373 7.76 20 - 24 93.226 3.78 88.046 3.57 181.276 7.35 25 - 29 104.921 4.25 100.706 4.08 205.631 8.34 30 - 34 99.832 4.05 95.425 3.87 195.261 7.92 35 - 39 96.741 3.92 95.736 3.88 192.481 7.80 40 - 44 93.937 3.81 94.638 3.84 188.579 7.65 45 - 49 84.250 3.42 86.823 3.52 171.077 6.94 50 - 54 74.690 3.03 71.449 2.90 146.144 5.93 55 - 59 57.920 2.35 52.075 2.11 109.999 4.46 60 - 64 38.699 1.57 42.520 1.72 81.223 3.29 65+ 82.793 3.36 105.489 4.27 188.311 7.64 Jumlah /

Total 1.239.857 50.27 1.226.420 49.73 2.466.277 100

Sumber Data : BPS Tahun 2011

2. Kondisi Pelayanan Umum Daerah

Ketersediaan dan rasio pelayanan Pegawai Negeri Sipil (PNS), jumlah PNS Kabupaten Malang sampai dengan tahun 2010 sebanyak 17.989 orang dan pada pertengahan tahun 2011 sebanyak 17.535 orang mengalami penurunan sebanyak 454 orang atau 2,52%, penurunan tersebut diakibatkan karena adanya PNS yang telah pensiun. Jumlah penduduk yang harus dilayani sebanyak 2.466.277 orang sehingga 1 (satu) orang PNS melayani 141 (seratus empat puluh satu) penduduk.

Dibandingkan dengan jumlah PNS secara nasional berjumlah 4.732.472 orang dengan jumlah penduduk sebanyak 233.406.643 orang atau 1 (satu) orang PNS secara nasional melayani 49 (empat puluh sembilan) penduduk.

a. Bidang Pendidikan

Upaya pembangunan dibidang pendidikan tahun 2011 hasilnya cukup menggembirakan yang ditunjukkan dengan rata rata Angka Partisipasi Murni (APM), untuk jenjang SD/MI sebesar 99,3%, pada jenjang SMP/MTs sebesar 77%, sedangkan pada jenjang SMA/MA sebesar 41,4%.

Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang SD/MI sebesar 113,1% artinya masih banyak anak didik yang seharusnya memasuki jenjang pendidikan berikutnya ternyata masih duduk dibangku SD,

(23)

pada jenjang SMP/MTs adalah sebesar 95,5% masih ada anak yang belum memperoleh pendidikan ditingkat lanjutan pertama dan pada jenjang SMA/MA adalah sebesar 52,7% bahwa masih ada anak yang belum memperoleh kesempatan pendidikan baik ditingkat lanjutan pertama maupun lanjutan atas.

Sedangkan Angka Putus Sekolah (APS) untuk SD/MI sebesar 0,13%, dan pada jenjang SMP/MTs sebesar 0,56% sedang pada jenjang SMA/SMK/MA sebesar 0,95%. Faktor pendorong rendahnya angka putus sekolah tersebut karena berkembangnya wawasan pendidikan serta adanya program retrival atau penarikan kembali siswa yang drop out untuk mengikuti/menyelesaikan pendidikannya, namun demikian masih dirasakan beberapa kendala yaitu tingkat sosial ekonomi masyarakat, kondisi geografis, daya serap rendah serta perkawinan usia dini. Dalam hal jumlah guru yang tersedia untuk masing-masing jenjang SD 11.959 orang, SMP 6.079 orang, SMA/SMK 4.387 orang, sedangkan ketersediaan guru yang bersertifikasi pendidik antara lain pada jenjang TK sebanyak 361 orang, SD/MI sebanyak 5.635 orang pada jenjang SMP/MTs sebanyak 2.139 orang, sedang pada jenjang SMA/MA sebanyak 1.053 orang, SMK sebanyak 630 orang, SLB sebanyak 60 orang, pengawas sebanyak 103 orang. Disamping itu upaya yang telah dilakukan untuk mendukung program pendidikan dasar 9 tahun untuk daerah terpencil dan sulit dijangkau oleh transportasi melalui rencana pembangunan 42 (empat puluh dua) unit SD-SMP Satu Atap tetapi yang telah terealisasi sebanyak 19 (sembilan belas) unit pada tahun 2011.

b. Bidang Kesehatan

Upaya pembangunan dibidang kesehatan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui berbagai indikator kesehatan salah satunya adalah Angka Usia Harapan Hidup. Angka Usia Harapan Hidup Kabupaten Malang tahun 2011 adalah 73,72 yang artinya bahwa seorang anak yang baru lahir di Kabupaten Malang, mempunyai harapan untuk bisa bertahan hidup hingga usia lebih kurang 73,72 tahun. Faktor yang mempengaruhi peningkatan peluang hidup ini adalah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dan ditunjang dengan kemudahan mengakses sarana dan prasarana kesehatan yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Malang.

Sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat ditunjukkan dengan penduduk yang memanfaatkan Puskesmas. Pada tahun 2009 masyarakat yang telah memanfaatkan

(24)

Puskesmas sebesar 50,36% dari target Nasional sebesar 15%. Namun demikian upaya peningkatan Puskesmas menjadi Puskemas Ideal melalui peningkatan kebijakan mutu pelayanan terus diupayakan sesuai potensi wilayah Puskesmas setempat dan sebagai wujud peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Di samping adanya program-program Pemerintah Kabupaten Malang, kinerja pembangunan kesehatan Kabupaten Malang, juga ditopang oleh peluncuran program Pemerintah Pusat, yaitu Program Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak Balita (KIBBLA) yang didukung oleh HSP (Health Service Program) melalui peningkatan manajemen, skill dan ketrampilan, kompetensi tenaga kesehatan dan kader kesehatan dalam proses perencanaan termasuk Musrenbang, training, penyusunan produk hukum dan pelayanan KIBBLA pada 39 (tiga puluh sembilan) Puskesmas dan 228 (dua ratus dua puluh delapan) Desa serta peningkatan informasi kesehatan dan kerjasama lintas sektor dan lintas program terkait pada seluruh jenjang pemerintahan mulai tingkat kabupaten, kecamatan dan desa.

3. Kondisi Daya Saing Daerah

a. Ketersediaan Infrastruktur Jalan

Sarana yang penting dalam mendukung laju pembangunan adalah prasarana jalan. Tersedianya jalan untuk menjangkau semua daerah di suatu wilayah pemerintahan sangat besar pengaruhnya terhadap kecepatan pendistribusian hasil pembangunan. Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi yang penting guna memperlancar kegiatan pembangunan. Seiring dengan semakin meningkatnya pembangunan jalan yang terbagi atas jalan nasional, jalan provinsi dan kabupaten harus selalu ditingkatkan, baik panjang maupun kualitasnya, agar pembangunan regional/nasional dapat berjalan lancar.

Sarana dan prasarana strategis dalam rangka mendukung daya saing daerah a) pengembangan Bandar Udara Abdulrachman Saleh yang dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir berkembang sangat pesat dan kedepan perlu di tingkatkan kapasitasnya lebih besar lagi sehingga dapat menambah maskapai dan jumlah penerbangan sesuai dengan kebutuhan untuk melayani beberapa Kabupaten/Kota di bagian selatan tengah Jawa Timur; b) pembangunan jalan tol Pandaan-Malang melanjutkan tol Surabaya-Pandaan sehingga akan terhubung layanan tol antara kota besar Surabaya dengan Malang Raya sebagai salah satu

pusat pertumbuhan dan Kota Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur; c) pembangunan Jalan Lintas Selatan Jawa Timur

(25)

dimana wilayah Kabupaten Malang merupakan titik tengah yang akan menghubungkan Malang-Jogjakarta ke barat dan Malang-Denpasar Bali melalui Banyuwangi ke sebelah timur, dengan demikian potensi yang selama ini belum tergali karena hambatan transportasi di Malang Selatan akan segera berkembang seperti potensi pertambangan perkebunan dan perikanan laut, serta tidak kalah pentingnya adalah objek wisata pantai yang cukup banyak di Malang Selatan.

Panjang jalan yang ada di Kabupaten Malang tahun 2011

mencapai 8.807,23 km terbagi atas jalan negara jalan negara 115,63 km (1%), jalan provinsi 114,93 km (1%), jalan kabupaten

1.668,76 km (19%) dan jalan desa 6.907,90 km (79%). Kondisi jalan yang baik di Kabupaten Malang dari tahun 2006–2011 meningkat cukup signifikan yaitu tahun 2006 panjang jalan 1.096 km, tahun 2007

menjadi 1.205 km, tahun 2008 menjadi 1.258 km, tahun 2009 menjadi 1.275 km, tahun 2010 1.295 km sampai dengan tahun 2011 menjadi

1.325 km. Jembatan mantap tahun 2006 sepanjang 1.975 meter, tahun 2007 sepanjang 2.607 meter, tahun 2008 sepanjang 2.668 meter,

dan tahun 2009 meningkat menjadi sepanjang 2.726 meter, tahun 2010 menjadi sepanjang 2.803 meter sampai dengan tahun 2011.

Tabel 2.7 Prasarana jalan Tahun 2006 - 2011 Uraian 2006

(km) 2007

(km) 2008

(km) 2009

(km) 2010

(km) 2011 (km) Jalan

Negara 115,63 115,63 115,63 115,63 115,63 115,63 Jalan

Provinsi

118,80 118,80 114,93 114,93 114,93 114,93 Jalan

Kabupaten 1.667,31 1.667,31 1.667,31 1.668,76 1.668,76 1.668,76 Sumber : Dinas Bina Marga, 2012

b. Ketersediaan Sarana Komunikasi

Teknologi komunikasi kini semakin dirasakan penting peranannya dalam penyampaian informasi jarak jauh. Aktifitas pemerintahan, swasta maupun masyarakat sangat erat kaitannya dengan pos dan telekomunikasi sebagai sarana untuk pengiriman informasi. Bahkan ketersediaan teknologi informasi berdampak pada intelektualitas penduduk, karena dengan tersedianya teknologi dan kemampuan sumber daya manusia maka akan sangat mudah membaca

(26)

kemajuan yang mutakhir sehingga dapat memacu perkembangan teknologi di daerah. Untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat, dari tahun ke tahun semakin banyak bermunculan warung telekomunikasi (wartel) swasta. Jumlah telepon umum koin dari tahun ke tahun mengalami penurunan sedangkan jasa telekomunikasi dari pemerintah dan rumah tangga berkembang pesat. Data PT. Telkom Kabupaten Malang menunjukkan jumlah pelanggan telepon mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Tabel 2.8

Perkembangan telekomunikasi Tahun 2006 – 2010

Uraian 2006 (SST)

2007 (SST)

2008 (SST)

2009 (SST)

2010 (SST) Kapasitas

sentral

66.898 66.898 73.299 65.817 65.817

Kapasitas terpasang

66.898 66.898 73.299 65.817 65.817

Kapasitas terpakai

- - 66.835 51.372 51.372

Pelanggan 60.539 60.539 49.997 44.662 44.662 Telepon koin 197 197 169 144 144 Wartel/kios/TUT 3.910 3.910 2.753 2.665 2.665 Sumber : PT. Telkom Kabupaten Malang

c. Ketersediaan Lembaga Keuangan

Ketersediaan bank sangat mendorong laju pertumbuhan ekonomi di segala bidang, khususnya dalam penyediaan modal dan lalu lintas uang antar daerah, kepentingan lalu lintas uang di Kabupaten Malang sangat mudah karena telah tersedia bank-bank pemerintah maupun bank swasta. Bank pemerintah yang terdapat di Kabupaten Malang antara lain BRI, BNI’46 dan Bank Mandiri, sedangkan swasta BCA, CIMB Bank dan Bank Jatim, serta BPR-BPR yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir ini.

d. Ketersediaan Tenaga Listrik

Selanjutnya perkembangan ketersediaan energi listrik sebagai pendukung penting pembangunan dan perekonomian sebagai berikut:

(27)

Tabel 2.9

Perkembangan Kelistrikan Tahun 2006-2011

Uraian Sat 2006 2007 2008 2009

Distribusi JTM

kms 2.589.630 2.589.630 2.589.630 2.622.990

Distibusi JTR

kms 5.317.290 5.317.290 5.317.290 5.350.950

Distribusi GRD

unit 3.349 3.349 3.369 3.402

Gardu induk

unit 9 9 9 9

SR buah 687.850 687.850 701.172 716.966

Konsumsi listrik

kwh/th 1.359.547.399 1.359.547.399 1.432.837.083 1.508.030.540

Sumber : PLN Malang, 2012

e. Sarana Transportasi

Berikutnya sarana transportasi yang menjamin kelancaran arus orang dan barang dari sentra produksi ke pasar maupun ke objek-objek wisata adalah sebagai berikut:

Tabel 2.10

Perkembangan Sarana Transportasi Tahun 2006-2011

No. Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 2011

1. Mobil Penumpang Umum

725 751 761 762 763 765

2. Bus umum 2.354 2.402 2.472 2.620 2.723 2.920 3. Bus bukan

umum

122 157 182 213 261 370

4. Mobil barang umum

3.194 3.709 4.338 5.244 6.235 7.167

5. Mobil barang bukan umum

11.16 5

11.93 5

12.51 6

13.49 4

14.65 9

15.729

6. Kereta gandengan

177 180 184 192 198 199

7. Kereta tempelan

20 22 33 30 41 42

8. Kendaraan khusus

32 34 35 39 41 42

JUMLAH 17.789 19.190 20.521 22.594 24.921 27.234 Sumber : Hasil-hasil Pembangunan Kabupaten Malang, 2011

(28)

Dari data diatas diketahui bahwa tren perkembangan sarana transportasi Kabupaten Malang dalam 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup siginifikan dimana pada tahun 2006 hanya sebanyak 17.789, tahun 2011 meningkat tajam menjadi 27.234 atau terjadi kenaikan rata-rata 3,6% per tahun.

Kedepan peningkatan diprediksi akan lebih tajam lagi dengan selesainya Tol Pandaan-Malang, selesainya Jalan Lintas Selatan Provinsi Jawa Timur, semakin besarnya kapasitas penerbangan Bandar Udara Abdulrachman Saleh, pindahnya pusat pemerintahan Kabupaten Malang ke Kota Kepanjen dan pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik memberi dampak kepada perkembangan investasi, industri, perdagangan dan perumahan.

f. Iklim Berinvestasi

Iklim berinvestasi sangat ditentukan oleh faktor keamanan dan ketertiban. Pembangunan bidang keamanan dan ketertiban masyarakat difokuskan pada terwujudnya kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan masyarakat lingkungan masing-masing serta peran aktif masyarakat dalam memberantas kejahatan yang terjadi. Sementara itu, berdasarkan data yang ada masih terdapat kasus demonstrasi pemogokan tenaga kerja, kasus politik dan kasus ekonomi, namun demikian secara umum angka kriminalitas di Kabupaten Malang baik.

Hal lain yang mendukung terjaminnya keamanan wilayah Kabupaten Malang karena terdapat banyak institusi militer baik dari TNI AD, TNI AU dan TNI AL yang juga berperan aktif dalam mendukung keamanan dan ketertiban masyarakat termasuk juga keamanan berinvestasi.

B. Perekonomian Kabupaten Malang dalam Konstalasi Regional dan Nasional Kabupaten Malang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang tergolong memiliki tingkat aktifitas ekonomi yang cukup tinggi, hal ini terlihat dari perkembangan jumlah Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB) Kabupaten Malang yang dalam 5 (lima) tahun terakhir selalu masuk 5 (lima) besar di Jawa Timur. Dimana tren kenaikan yang positif ini tercermin dari pertumbuhan PDRB baik Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) maupun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). PDRB ADHB akhir tahun 2006 sebesar Rp. 19.030.257.000.000,- tahun 2011 sebesar Rp. 37.588.304.000.000,- atau mengalami kenaikan rata-rata 15%

per tahun. Sedangkan PDRB ADHK pada akhir tahun 2006 sebesar Rp. 11.617.937.000.000,- tahun 2011 sebesar Rp. 16.199.242.000.000,- atau

mengalami kenaikan rata-rata 6,9% per tahun. Seiring dengan hal tersebut PDRB ADHB perkapita juga mengalami kenaikan dimana pada akhir tahun

(29)

2006 sebesar Rp. 7.997.915,- tahun 2011 sebesar Rp. 14.300.375,- atau mengalami kenaikan rata-rata sebesar 4,4%. Kabupaten Malang memiliki jumlah penduduk sebesar 2.466.277 jiwa (versi BPS) sehingga tingkat PDRB perkapita masih relatif rendah. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang selama 5 (lima) tahun terakhir rata-rata sebesar 6,05% dan inflasi rata-rata sebesar 7,45%.

Tabel 2.11

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten atau Kota di Jawa Timur Tahun 2010 - 2011

No. Kabupaten/Kota 2010 2011

1 Bojonegoro 10,97 9,24

2 Kota Batu 7,16 8,01

3 Kota Surabaya 7,47 7,72

4 Kota Malang 6,60 7,50

5 Malang 6,57 7,43

6 Gresik 6,89 7,36

7 Tuban 6,30 7,24

8 Tulungagung 6,65 7,24

9 Banyuwangi 6,26 7,22

10 Kediri 6,07 7,21

11 Kota Madiun 6,97 7,18

12 Mojokerto 6,87 7,14

13 Pasuruan 6,23 7,12

14 Lamongan 6,86 7,08

15 Sidoarjo 5,92 7,04

16 Kota Kediri 5,99 7,02

17 Jember 6,16 7,00

18 Kota Mojokerto 6,66 6,85

19 Jombang 6,65 6,93

20 Pacitan 6,66 6,85

21 Ngawi 6,19 6,76

22 Madiun 5,96 6,71

23 Kota Probolinggo 6,41 6,50

24 Kota Blitar 6,68 6,57

25 Trenggalek 6,16 6,55

26 Blitar 6,12 6,54

27 Bangkalan 5,47 6,50

28 Nganjuk 6,32 6,40

29 Lumajang 5,94 6,29

30 Sampang 5,40 6,29

31 Ponorogo 5,89 6,25

32 Sumenep 5,51 6,24

33 Probolinggo 6,25 6,23

34 Situbondo 5,89 6,23

35 Pamekasan 5,77 6,21

36 Bondowoso 5,69 6,20

37 Kota Pasuruan 5,99 6,19

38 Magetan 5,81 6,14

Jawa Timur 6,68 7,22

(30)

Tahun 2011 terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi menjadi 7,43%

hingga Kabupaten Malang termasuk dalam 5 (lima) Kabupaten/Kota yang mayoritas kontribusi perekonomiannya didukung oleh sektor industri dan jasa. Hal ini menunjukkan adanya pola pergeseran struktur perekonomian Kabupaten Malang menjadi industrialisasi dan jasa yang tentunya masih tetap juga tertuju pada bahan-bahan dari sektor pertanian primer.

Inflasi Kabupaten Malang dalam konstalasi baik regional maupun nasional menunjukkan rata-rata perkembangan yang positif seiring dengan adanya tahun 2009 di tahun nasional dan regional (Provinsi Jawa Timur).

(31)

BAB III

KENDALA DAN STRATEGI A. Kendala

1. Pengembangan Wilayah

Beberapa kendala pengembangan wilayah adalah kerusakan alam dan lingkungan seperti banjir, erosi, longsor, kerusakan hutan, kekeringan, alih fungsi lahan, sumber daya manusia yang rendah, pengangguran, terbatasnya ketersediaan lahan.

2. Wilayah Rawan Bencana

Dengan kondisi topografis Kabupaten Malang yang bergunung- gunung serta memiliki bentang wilayah yang sangat luas selain memiliki potensi keindahan dan kesuburan juga memiliki potensi rawan bencana banjir, erosi, longsor dan juga tsunami, yaitu sebagai berikut:

a. Daerah rawan longsor berada di wilayah sebelah timur dan selatan meliputi Kecamatan Tumpang, Jabung, Poncokusumo, Bantur, Gedangan dan Sumbermanjing Wetan;

b. Daerah rawan banjir meliputi wilayah Kabupaten Malang sebelah barat yaitu Kecamatan Ngantang, Pujon dan Kasembon;

c. Daerah rawan tsunami meliputi wilayah Kabupaten Malang bagian selatan yaitu Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan dan Ampelgading.

3. Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Malang sebanyak 2.466.277 jiwa.

Jumlah tersebut terdiri dari laki-laki 1.239.857 jiwa (50,27%) dan perempuan 1.266.420 jiwa (49,73%). Tingkat pertumbuhan rata-rata per 5 (lima) tahun sebesar 0,7% dan tingkat kepadatan sebesar 698 jiwa/km².

Sebagai konsekuensi daerah penyangga Kota Malang dan Kota Batu serta percepatan pembangunan lingkar Kota Malang, Kota Kepanjen dan wilayah Malang selatan dengan terbukanya Jalan Lintas Selatan (JLS) maka untuk 5 (lima) tahun kedepan diasumsikan pertumbuhan penduduk rata-rata 0,8% sehingga perkiraan jumlah penduduk dalam 5 (lima) tahun kedepan adalah sebagai berikut:

Sumber : BPS dan Dinas Kependudukan dan Capil Kab. Malang, 2010 diolah

Uraian Satuan 2011 2012 2013 2014 2015

Luas wilayah

km2 3.518,72 3.518,72 3.518,72 3.518,72 3.518,72 Jumlah

penduduk:

- BPS jiwa 2.466.277 2.482.863 2.502.726 2.522.748 2.542.930 - Dispenduk jiwa 2.903.591 2.817.229 2.845.402 2.873.856 2.899.805 Kepadatan:

- BPS jiwa/km2 698 702 708 714 719

- Dispenduk jiwa/km2 821 797 805 813 821

(32)

4. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Kabupaten Malang merupakan satu Kabupaten yang tergolong memiliki tingkat aktifitas ekonomi yang cukup tinggi, hal ini terlihat dari besarnya jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHB Kabupaten Malang yang dalam 5 (lima) tahun terakhir selalu masuk 5 (lima) besar di Jawa Timur.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang menunjukkan tren positif dalam 5 (lima) tahun terakhir, walaupun masih lamban. Hal ini disebabkan karena kontribusi sektor yang dominan di Kabupaten Malang adalah sektor primer yang pada umumnya menghasilkan nilai tambah yang sedikit atau dengan kata lain harga jualnya masih relatif rendah dibanding sektor yang lain. Oleh karena itu kontribusi ekonomi diharapkan bergeser pada sektor industri olahan (agroindustri dan pertambangan).

Kontribusi sektoral dalam menopang pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang selama 5 (lima) tahun ke depan diproyeksikan terus mengalami peningkatan pertumbuhan dengan pertumbuhan terbesar pada sektor sekunder dan sektor tersier, sementara pertumbuhan sektor primer relatif stagnan.

Cukup tingginya aktifitas ekonomi di Kabupaten Malang tidak terlepas dari tingginya aktifitas masyarakat dalam masing-masing sektor ekonomi produktif yang ada di Kabupaten Malang. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi paling tinggi selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir adalah pertanian disusul perdagangan, hotel dan restoran, industri pengolahan dan jasa-jasa. Tumbuhnya perekonomian Kabupaten Malang juga mengundang sektor retail pasar modern seperti Indomaret, Alfamart dan sejenisnya menjamur. Sektor ini mulai tumbuh dan mencoba bersaing dengan pasar tradional yang terlebih dahulu berkembang.

5. Kemiskinan, Pengangguran dan IPM

Tingkat kemiskinan Kabupaten Malang pada level mencapai 12,54 persen di tahun 2010 dan angka pengangguran sendiri masih tergolong kecil yaitu mencapai 4,1 persen di tahun 2010 sedangkan indeks pembangunan manusia Kabupaten Malang dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 selalu meningkat, yaitu tahun 2006 sebesar 66,93%

tahun 2007 sebesar 69,07%, tahun 2008 sebesar 69,55%, tahun 2009 sebesar 70,09%, tahun 2010 sebesar 70,56% dan meningkat menjadi di tahun 2011 sebesar 71,17%. Hal ini disebabkan adanya perbaikan/peningkatan pada bidang kesehatan, pendidikan dan komponen daya beli.

(33)

6. Perlindungan Sosial

Beberapa kecenderungan permasalahan sosial, dibarengi dengan terjadinya perubahan sosial yang sangat cepat, maka persoalan yang

dihadapi sampai saat ini di Kabupaten Malang adalah sebagai berikut:

1) masih terbatasnya sarana dan prasarana panti sosial baik milik pemerintah maupun masyarakat; 2) masih minimnya peran serta potensi sumber kesejahteraan sosial dan sektor swasta dalam penanganan PMKS;

3) masih banyaknya jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) baik secara kualitas maupun secara kuantitas, antara lain kemiskinan, kecacatan, ketunasusilaan, keterlantaran, korban bencana/bencana alam; 4) belum efektifnya penanganan bencana baik yang bersifat preventif, tanggap darurat maupun rehabilitatif.

7. Pendidikan

Pendidikan merupakan kunci strategi dalam mempersiapkan terwujudnya anak bangsa yang demokratis, berketrampilan, cerdas, kreatif, memperteguh akhlaq serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka menghadapi persaingan global yang tanpa batas.

Baik APM maupun APK cenderung tetap kecuali APM tingkat SMA/MA. Hal ini disebabkan masih banyaknya lulusan SMP/MTs melanjutkan sekolah ke Kota Malang, yang tidak terdata di sekolah- sekolah Kabupaten Malang.

Sedangkan ditinjau dari ketersediaan infrastruktur sekolah terutama dari banyaknya gedung sekolah terlihat bahwa rasionya masih rendah. Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya jumlah penduduk usia sekolah dari waktu ke waktu sedangkan pertumbuhan gedung sekolah tidak sebesar penduduk usia sekolah.

8. Kesehatan

Tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dicerminkan melalui indeks harapan hidup yaitu suatu indeks yang dipakai untuk mengukur kualitas sumber daya manusia melalui meningkatnya derajat kesehatan. Indeks harapan hidup di Kabupaten Malang tahun 2006 sampai dengan tahun 2011 juga selalu meningkat yaitu 67,30 di tahun 2006 menjadi 73,29 di tahun 2011. Kondisi ini diupayakan untuk terus menerus meningkat dan berkesinambungan karena masalah kesehatan yang terjadi sekarang dapat berpengaruh terhadap keturunan berikutnya. Derajat kesehatan ini juga harus terus menerus ditingkatkan seiring dengan memberikan fasilitas kesehatan yang

Gambar

Tabel 2.8  Perkembangan telekomunikasi  Tahun 2006 – 2010  Uraian  2006  (SST)  2007 (SST)  2008 (SST)  2009 (SST)  2010 (SST)  Kapasitas  sentral  66.898  66.898  73.299  65.817  65.817  Kapasitas  terpasang  66.898  66.898  73.299  65.817  65.817  Kapasi
Tabel 2.9  Perkembangan Kelistrikan  Tahun 2006-2011  Uraian  Sat  2006  2007  2008  2009  Distribusi  JTM  kms  2.589.630  2.589.630  2.589.630  2.622.990  Distibusi  JTR  kms  5.317.290  5.317.290  5.317.290  5.350.950  Distribusi  GRD  unit  3.349  3.34
Tabel 4.7  Perkembangan Kelistrikan  Tahun 2006 – 2011  Uraian  2006  2007  2008  2009  2010  2011  Distribusi  JTM  2.589.630  2.589.630  2.589.630  2.622.990  2.632.500  3.632.641  Distibusi  JTR  5.317.290  5.317.290  5.317.290  5.350.950  5.394.350  5.

Referensi

Dokumen terkait

32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengembangkan wilayah

Integrasi rencana pembangunan permukiman berisikan arahan kebijakan pengembangan permukiman di kabupaten/kota tersebut, untuk selanjutnya diterjemahkan pada rencana

RTBL KSK berisikan rencana aksi program strategis dalam penanganan kegiatan permukiman dan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya pada kawasan.. prioritas

Pada bab ini berisikan penjelasan mengenai kebijakan dan strategi dokumen rencana seperti amanat pembangunan nasional(RPJPN, RPJMN, MP3EI, MP3KI, KEK, dan Direktif

Saiful Anwar, fungsi Rencana Strategis dalam penyelenggaraan pembangunan daerah, proses penyusunan rencana strategis, keterkaitan rencana strategis dengan RPJMD, dan

Hubungan dokumen Rencana Strategis Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2014- 2019 dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tegal Tahun 2014 – 2019 adalah

Rencana Strategis Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2011-2015, selanjutnya disingkat dengan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu 2011- 2015,

"Tinjauan Geografi Regional terhadap Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia MP3EI", Forum Geografi, 2012 Publication jurnal-umsi.ac.id Internet Source