Dalam makalah ini, makna agroekosistem lahan kering yang diacu adalah wilayah yang beriklim kering. Dengan mengambil posisi ini maka sistem usahatani sawah (yang secara teoritis semestinya minoritas) tercakup pula di dalamnya karena merupakan bagian integral dari sistem pertanian agroekosistem lahan kering. Salah satu konsep penerapan pertanian terpadu yang dapat meningkatkan pendapatan usahatani sawah irigasi adalah konsep integrasi tanaman padi, perikanan dan peternakan (integrasi Padi, Ikan, Itik, Azolla dan Sapi), integrasi ini disamping mendatangkan pendapatan sampingan, penggabungan usaha tani terpadu yang berpijak pada pemanfaatan hubungan saling menguntungan antara satu sama lain ini (simbiosis mutualisme), juga memberikan dampak lingkungan yang positif bagi pertanian berkelanjutan.
26 Bentuk integrasi tanaman padi, ikan, itik, azolla dan sapi baru bisa dilaksanakan pada sawah yang airnya lancar. Ketersediaan air yang cukup lancar tersedia untuk mengairi usahatani lahan sawah irigasi diagroekosistem lahan kering ini adalah syarat mutlak bisa dilakukannya usahatani terpadu ITTI. Sistem pengelolaan dengan mengintegrasikan tanaman padi, itik, ikan, azolla dan sapi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi, meningkatkan pendapatan petani dari hasil samping pemeliharaan sapi, itik, dan ikan, menekan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida anorganik, menyediakan pakan sapi dari limbah pertanian (jerami padi), menyediakan pakan ikan dan itik dari azolla, menyediakan pupuk organik dari limbah sapi dan biogas untuk energi alternatif bagi petani.
Penggabungan beberapa jenis komoditas dalam ekosistem sawah irigasi yang memiliki hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) ini tidak hanya memberikan keuntungan pada ekosistem itu sendiri, namun juga keuntungan bagi petani yang mengusahakannya, yaitu : dapat meningkatkan pendapatan dan pemenuhan karbohidrat serta protein hewani. Dengan mengusahakan padi, sekaligus ikan, azolla, bebek dan itik ini tentu saja memberikan pendapatan yang lebih besar dibandingkan bila kita hanya mengusahakan satu komoditas saja.
Pengusahaan tanaman padi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan semata namun juga untuk memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber karbohidrat. Sedangkan adanya ikan dan bebek ini secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi sumber protein hewani. Karena dengan adanya kotoran yang berasal dari bebek, sapi serta ikan menjadi pupuk organik yang selain dibutuhkan tanaman padi, juga dapat memperbaiki sifat fisik maupun kimia tanahnya. Kotoran yang dihasilkan oleh bebek maupun sapi dapat dimanfaatkan sebagai media makanan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang menjadi makanan alami ikan. Sedangkan perilaku bebek dan ikan yang suka mengaduk-aduk tanah dalam mencari makanan dapat menyebabkan struktur tanah sawah menjadi lebih baik.
27 Tidak semua lokasi bisa menerapkan usaha integrasi ini karena selain memerlukan penanganan lebih intensif juga harus memenuhi beberapa kondisi tertentu. Karena dalam penanaman padi ini juga mengikut sertakan ternak ikan, maka sistem penanamannya pun harus memberikan keleluasan bagi ikan maupun pertumbuhan azolla itu sendiri. Jadi, dalam hal ini budidaya minapadi-azolla sangat dianjurkan menggunakan cara tanam sistem legowo. Teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak anam antar rumpun dan antar barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar jarak antar barisan sehingga seolah-olah rumpun padi berada dibarisan pinggir dari pertanaman yang memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir (border effect) seperti yang terlihat pada Gambar 8 (Anonim, 2010).
Gambar 8. Teknologi Legowo dalam Sistem Integrasi Tanaman Ternak Ikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1.5 – 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan produksi rumpun padi yang berada di bagian dalam (Anonim, 2010). Cara tanam legowo ini tidak lain adalah merupakan upaya rekayasa ruang tumbuh menjadi barisan tanaman pinggir yang diharapkan dapat meningkatkan produksi padi. Adanya ruang antar baris tanaman yang lebih lebar tentu saja memberikan perkembangan ikan dan tanaman azolla tumbuh secara baik. Selain untuk tujuan tersebut, penggunaan cara legowo akan mempermudah bagi kita dalam pemeliharaan ikan, azolla serta tanaman padi itu sendiri.
28 Azola adalah sejenis tumbuhan paku air biasa ditemukan di perairan tenang seperti danau, kolam, sungai, dan pesawahan. Para petani biasanya menganggap azola sebagai gulma atau limbah pertanian. Azola termasuk ordo Salviniales, famili Azollaceae, dan terdiri atas enam spesies, yaitu : A. filiculoides, A. caroliana, A. mexicua, a. microphylla, A. pinnata, dan A. nilotica. Spesies yang banyak di Indonesia terutama di pulau Jawa adalah A. pinnata, dan biasa tumbuh bersama-sama padi (Gambar 9). Azola dapat digunakan sebagai salah satu sumber protein nabati penyusun ransum ikan dan itik, karena mengandung protein yang cukup tinggi. Azola mengandung protein kasar 24-30%, kalsium 0.4-1%, fosfor 2-4.5%, lemak 3-3.3%, serat kasar 9.1-12.7%, pati 6.5%, dan tidak mengandung senyawa beracun (Lumpkin et al ., dalam Anonim 2010).
Gambar 9. Tanaman Azolla pinnata pada Areal Persawahan
Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam mempengaruhi peningkatan tanaman padi. Azolla bisa mampu menambatkan N2-udara karena berasosiasi dengan sianobakteri (Anabaena azollae) yang hidup di dalam rongga daunnya. Asosiasi Azolla-Anabaena memanfaatkan energi yang berasal dari fotosintesis untuk mengikat N2-udara. Dimana kemampuan mengikat N berkisar antara 400 – 500 kg N/ha/th. Azolla relatif tahan pada kondisi asam, sehingga untuk mengembangkannya tidak memerlukan perlakuan tertentu (Sutanto dalam Anonim 2010).
Pemanfaatan azolla sebagai pupuk pengganti urea memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk
29 kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 – 5 persen, Phosphor (P) 0.5 – 0.9 persen dan Kalium (K) 2 – 4.5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0.4 – 1 persen, Magnesium (Mg) 0.5 – 0.6 persen, Ferum (Fe) 0.06 – 0.26 persen dan Mangan (Mn) 0.11 – 0.16 persen. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi. Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan 1/4 –
1/3 dosis pemupukan. Dibanding pupuk buatan, azolla memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara (Anonim, 2010).
Keunggulan lain dari tanaman azolla ialah mampu menekan gulma air yang lain, sehingga dapat menghemat biaya penyiangan dan penggunaan herbisida. Azolla yang ditanam bersama-sama padi merupaka salah satu kelebihan, karena tidak diperlukan tambahan waktu untuk memproduksi biomassa. Selain sebagai pupuk hayati dan pengendali gulma air penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Dengan adanya pengintegrasian padi, ikan, itik, azolla dan sapi selain menjadikannya sebagai pakan perikanan juga konstribusi dapat digunakan untuk peningkatan produksi padi.
Terlibatnya itik dalam integrasi ini selain memberikan tambahan keuntungan juga memberi keuntungan lain berupa adanya tambahan pupuk dari kotoran itik, meningkatkan kadar oksigen dalam tanah, dan meminimalkan gangguan gulma dan hama (serangga, siput, keong mas) karena dimakan oleh itik. Pakan untuk itik juga dapat dikurangi karena mendapat pakan tambahan dari organisme pengganggu tumbuhan seperti gulma, serangga, siput, dan keong mas dari sawah. Kehadiran ternak sapi dalam sistem usahatani padi merupakan komponen usaha yang bersifat saling melengkapi dan memberikan manfaat yang
30 cukup besar kepada petani, disamping itu juga dapat mendorong petani untuk mengelola usahataninya secara optimal.
Kotoran ternak sapi merupakan pupuk organik yang baik bagi tanah, jika kualitas pakan baik maka kualitas kotoran pun akan baik. Selain untuk pupuk organik kotoran ternak sapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Feses yang dihasilkan oleh ternak sapi dapat memberikan manfaat positif pada ekosistem sawah. Kadar unsur hara yang terdapat dalam kotoran ternak berbeda-beda tergantung jenis makanannya. Komposisi unsur hara dari kotoran sapi yang berupa kotoran padat mengandung : 0.4 % Nitrogen, 0.2 % Fosfor, 0.10% Kalium dan 85% air. Untuk kotoran cair (urine) mengandung : 1% Nitrogen, 0.5% Fosfor, 1.5% Kalium dan 92% Air (Lingga et al ., dalam Anonim 2010).
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan budidaya tanaman padi sawah berupa jerami selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik tanah juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Walaupun karakteristik jerami ditandai dengan rendahnya kandungan nitrogen, kalsium, dan fosfor, sedangkan kandungan serat kasarnya termasuk tinggi sehingga dapat mengakibatkan daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas tetapi hal ini dapat dipecahkan jika jerami ingin dijadikan pakan bagi ternak sapi yang bermutu maka terlebih dahulu perlu ditambahkan urea dan tetes (molasses) dimana proses ini biasa disebut amoniasi jerami. Urea dapat digunakan untuk memperbaiki kandungan nitrogen jerami padi yang sekaligus pula mampu meningkatkan konsumsi dan daya cernanya.
Pengaturan air pengairan pada budidaya tanaman padi sawah merupakan faktor penting sehingga perlu mendapat perhatian yang serius. Teknik pengaturan air sebagai berikut :
• Pengaturan air macak-macak dilakukan pada saat tanam sampai 3-4 HST. Genangan air yang berlebihan pada awal pertumbuhan akan menghambat pertubuhan tunas padi. Tinggi air cukup 3-5 cm dari permukaan tanah.
• Pengaturan air macak-macak juga dilakukan pada saat aplikasi pupuk susulan pertama dan kedua, agar penyerapan pupuk oleh tanaman lebih efektif.
31
• Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti pertumbuhan tanaman.
• Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan untuk mencegah keluar ikan.
32
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Jumlah areal yang bercirikan usahatani lahan kering kurang lebih 65.7 juta hektar (90.5 %) mencapai luasan terbesar dibanding lahan basah namun kontribusi pada subsektor pertanian masih rendah, sehingga masih perlu mendapat perhatian yang lebih dalam pengembangannya.
2. Potensi pemanfaatan lahan kering untuk komoditas pangan yang dapat dikembangkan antara lain padi gogo, padi legowo, jagung, sorghum, kedele dan palawija lainnya. Sedangkan untuk potensi peternakan yang dapat terus dikembangkan adalah peternakan sapi pedaging, sapi perah, kambing, domba, babi, unggas.
3. B e r b a g a i p e m a n f a a t a n p o t e n s i l a h a n k e r i n g t e r s e b u t d i l a k s a n a k a n s e c a r a t e r p a d u , d a n u n t u k mendukung keberkelanjutannya, harus di dukung oleh inovasi teknologi yang dirancang berdasarkan kesesuaian dengan kondisi wi layah baik bio-fisik maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat lokal
4. Agroekosistem lahan kering yang diacu dalam makalah ini adalah wilayah yang beriklim kering. Dengan mengambil posisi ini maka sistem usahatani sawah (yang secara teoritis semestinya minoritas) tercakup pula didalamnya karena merupakan bagian integral dari sistem pertanian agroekosistem lahan kering. Secara normatif, kinerja pertanian pada wilayah tersebut didominasi oleh komoditas pertanian pangan non padi, tanaman perkebunan,sayuran dan peternakan.
5. Dalam pengelolaan lahan kering untuk tujuan pengembangan pertanian yang ramah lingkungan dibutuhkan adanya konsep keterpaduan antara berbagai komponen teknologi melalui integrasi ternak dan tanaman (ITT) dan integrasi tanaman ternak dan ikan (ITTI) serta memodifikasi faktor-faktor pendukungnya yaitu inovasi teknologi yang dirancang berdasarkan
33 kesesuaian dengan kondisi wilayah baik bio fisik maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat lokal.
5.2 Saran
1. Mandat penelitian pertanian dalam rangka menemukan teknologi dan mempercepat arus transformasi teknologi ke tingkat pengguna sebaiknya di gali dan berada di sekitar petani dengan membangun suatu sistem yang holistik, dilaksanakan bersama-sama dengan petani dengan orientasi peningkatan nilai tambah.
2. Dukungan yang utama dibutuhkan masyarakat tani adalah pengakuan bahwa para petani itu mampu melakukan aktivitasnya sendiri dengan sentuhan teknologi tepat guna yang dirasakan bermanfaat untuk aktivitasnya. Oleh karena itu, bantuan fisik dari pemerintah yang dibutuhkan terutama komponen ternak dalam jumlah yang mampu memberdayakan diri petani. Dengan rata-rata petani memiliki 0.5 ha lahan maka minimal petani butuh bantuan ternak sebanyak 5 ekor untuk mencukupi kebutuhan pupuk organic serta sebagai tabungannya. Bantuan bersifat kecil dan tidak langsung kepada petani cenderung akan tidak memandirikan petani.
3. Dibutuhkan tenaga kerja yang lebih intensif. Sistem pertanian terpadu akan selalu tersedia apabila komponen-komponen yang ada selalu dilestarikan dan dimanfaatkan dengan baik dan penggunaanya tidak berlebihan, sehingga dapat selalu tersedia dan dapat dimanfaatkan. Jadi banyaknya pemnafaatan sumberdaya alam saat ini akan sangat membantu kelestarian kompponen dari sistem pertanian
4. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkaji upaya konservasi tanah dan air termasuk teknologi penampungan air secara terpadu pada agroekosistem lahan kering.
5. Pada sub sektor ternak perlu diarahkan untuk kerjasama dalam pengkajian feeding strategy untuk mengatasi masalah kekurangan pakan pada musim kemarau, pendirian breeding stock untuk ternak sapi dalam rangka perbaikan mutu genetik termasuk didalamnya penggunaan indigenous stocks serta aspek kesehatan ternak
34
VI. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1999.Pupuk Cacing ternyata Lebih dahsyat. Bisa Dongkrak Produksi 150 Persen. Kiat berkelit dari Krisis Pupuk Ala Petani Bali. Majalah Agrobis, No. 304 Minggu I Februari 1999.
Anonim. 2010. Konsep Pertanian Terpadu dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani Lahan Sawah Irigasi.http://fkthldeptankabbone.wordpress.com/2010/06/02 [20 Desember 2011)
Arsana, D. IGAK, IGAK Sudaratmaja, dan IN Suyana. 2004. Keragaan Usahatani Tanaman-Ternak di Lahan Irigasi dan Lahan Kering di Bali. Dalam:Prosiding
Seminar “Sistem dan Kelembagaan Usahatani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.Jakarta.
Artaji, W. 2011. Sistem Pertanian Terpadu - Model Pertanian Terpadu dalam Satu Siklus Biologi (Integrated Bio Cycle farming). http://ekonomi kompasiana.com/agrobisnis/2011/10/12. [20 Desember 2011]
Bamualim, A. 2004. Strategi Pengembangan Peternakan pada Daerah Kering. Makalah Seminar Nasional Pengembangan Peternakan berwawasan Lingkungan. IPB. Bogor.
Biro Pusat Statistik. 2004. Potensi Lahan Pertanian . BPS. Jakarta.
Direktorat Perluasan Areal. 2009. Pedoman teknis Perluasan Tanaman Pangan Lahan kering Tahun 2009. Direktorat Perluasan Areal. Ditjen PLA. Jakarta.
Guntoro, S., M. Londra, M. Mastra S. dan Sriyanto. 2001. Pengkajian integrasi pengembangan ternak dan tanaman kopi. Proyek PAATP - BPTP Bali.
Hasnudi dan E. Saleh. 2004.Rencana Pemanfaatan Lahan Kering untuk Pengembangan Usaha Peternakan Ruminansia dan Usahatani Terpadu di Indonesia. Digitized by Universitas Sumatera Utara Digital Library.
Herry A. H. 1996. Teknologi Bioplus untuk Hewan Ternak. FKH-UNAIR, Surabaya. Kadekoh, I. 2010. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Kering Berkelanjutan dengan Sistem
Polikultur. Http://sulteng.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/bptp/prosiding-%2007/1-4.pdf {20/12/2011]
Kariada, I.K., I.M. Londra, FX. Loekito, dan I.G. Pastika. 2002. Laporan Akir Pengkajian Sistim Usaha Tani Integrasi Ternak Sapi Potong dan Sayuran Pada FSZ Lahan Kering Dataran Tinggi Beriklim Basah. BPTP Bali.
__________. 2003. Laporan Uji Adaptasi Beberapa Jenis Pupuk Terhadap Produksi Bawang Merah Di Daerah Pinggiran Perkotaan Denpasar. BPTP Bali.
35 __________. 2003. Integrasi Usahatani Sapi Potong Dengan Sayuran Di Lahan Kering
Dataran Tinggi Beriklim Basah
__________. 2004. Laporan Akir Pengkajian Sistim Usaha Tani Integrasi Ternak Sapi Potong dan Sayuran Pada FSZ Lahan Kering Dataran Tinggi Beriklim Basah. BPTP Bali.
Kartini, N. L. 1999. Pupuk Kascing Siap Antarkan Bali Menuju Pertanian Organik. Majalah Prima, Minggu ke-3 Februari 1999.
Minardi, S. 2009. Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering untuk Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan. Orasi Pengukuhan Guru Besar Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Mulyadi dan Suprapto. 2000. Prospek Embung dalam Menunjang Kelestarian Produksi Pertanian di Lahan Sawah Tadah Hujan. Prosiding Seminar Nasional : Pengembangan Teknologi Pertanian dalam Upaya Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. BPTP Bali.
Notohadiprawiro, T. 1989. Pertanian Lahan Kering di Indonesia: Potensi, Prospek, Kendala dan Pengembangannya. Makalah disampaikan pada Likakarya Evaluasi Proyek Pengembangan Palawija SECDPUSAID Bogor, 6-8 Desember. Repro: Ilmu Tanah Universitas Gajah Mada (2006)
Parwati, I.A.., N. Suyasa, S. Guntoro Dan M. Rai Yasa. 1999. Pengaruh Pemberian Probiotik Dan Laser Punctur Dalam Meningkatkan Berat Badan Sapi Bali. Makalah Seminar Nasional Peternakan Dan Veteriner, Pulitbang Peternakan Bogor.
Ratnawaty, S., M. Ratnada, Yusuf dan JJ. Nulik. 2004. Pengelolaan Pakan Ternak di Lahan Kering Nusa Tenggara Timur. Dalam:Prosiding Seminar “Sistem dan Kelembagaan Usahatani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta.
RIRDC. 2002. Introduction: what is an integrated biosystem? Di dalam: Warburton K, Pillai-McGarry U, Ramage D, editor. Integrated Biosystems for Sustainable Development. Proceedings of the INFORM 2000 National Workshop on Integrated Food Production and Resource Management. Queensland: RIRDC. hlm 1.
Suprapto., I.N. Adijaya., I.K. Mahaputra dan I.M. Rai Yasa. 2000. Laporan Akhir Penelitian Sistem Usahatani Diversifikasi Lahan Marginal. IP2TP Denpasar. Bali Suprapto., I.N. Adijaya., dan I.M. Rai Yasa. 2001. Laporan Akhir Penelitian Sistem
36