• Tidak ada hasil yang ditemukan

d. Tipe-tipe strategi

3. Pengembangan Madrasah

a. Pengertian Pengembangan Madrasah

Menurut Sudjana ”pengembangan adalah upaya memperluas atau mewujudkan potensi-potensi membawa suatu keadaan secara bertingkat kepada suatu keadaan yang lebih lengkap, lebih besar atau lebih baik. Mewujudkan sesuatu dari yang lebih awal kepada yang lebih akhir atau dari yang sederhana kepada tahapan perubahan yang kompleks. Berdasarkan pengertian tersebut maka pengembangan dalam manajemen pendidikan madrasah ketingkat program yang lebih sempurna, lebih luas dan lebih kompleks”.32

Dalam mengembangkan sebuah lembaga pendidikan dalam hal ini madrasah tentu tidak terlepas dari peran kualitas SDM dalam mengelolanya, kualitas SDM harus diperhitungkan serta diperhatikan terus menerus perkembangannya, sarana prasarana, kurikulum, media pengajaran, dan lain sebagainya.

Menurut Hasbullah Perkataan madrasah berasal dari bahasa arab ”Darasa” yang mengandung arti ”tempat duduk untuk belajar”.33 Dari perkataan Hasbullah dapat disimpulkan bahwa madrasah mengandung arti tempat atau wahana dimana anak melaksanakan proses pembelajaran.

Kata madrasah juga disebutkan dalam Kamus Bahasa Indonesia ”madrasah berarti sekolah islam”.34

32

H. D. Sudjana,Manajemen Program Pendidikan ( Untuk Pendidikan Luar Sekolah Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia), (Bandung: Falah Production, 2000)

33

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia : Lintasan Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995), cet. Ke-1, h. 160

34

Suharto dan Tata Iryanto, Kamus Bahasa Indonesia Terbaru, ( Surabaya : Penerbit Indah Surabaya, 1989), h. 131)

Setara dengan itu A. malik fadjar menyebutkan bahwa, ”madrasah merupakan sekolah umum yang berciri khas islam dan menjadi bagian keseluruhan sistem pendidikan nasional dinegara kita”.35

Dari pengertian di atas, maka madrasah dapat dikatakan sebagai salah satu sarana atau wahana edukatif yang didalamnya berlangsung proses pembelajaran yang dilakukan antara siswa dengan guru untuk mempertinggi daya serap dan kemampuan penalarannya dalam proses pendidikan serta membantu memperluas cakrawala pengetahuan dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Jadi, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengembangan madrasah adalah upaya memperluas dan menggali potensi-potensi atau sumber daya yang tersedia di madrasah dengan tujuan meningkatkan madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan islam kedalam suatu keadaan yang lebih baik, dan lebih meningkat.

Dalam pengembangan madrasah, peran dan fungsi kepala madrasah sebagai pengelola pendidikan dimadrasah sangat penting. Kemampuan kepala madrasah menjadi faktor kunci keberhasilan madrasah dalam memberikan layanan pendidikan. Salah satu tugas pokok kepala madrasah dibantu oleh para pelaksana pendidikan (guru), beserta komite madrasah menjadi titik tolak atau langkah awal dalam pengelolaan pendidikan adalah menyusun perencanaan pendidikan atau rencana pendidikan madrasah.

Salah satu bentuk perencanaan pendidikan madrasah yang mesti disiapkan oleh kepala madrasah dengan dibantu oleh pelaksana pendidikan dan bekerja sama dengan

35

A. Malik Fadjar, Madrasah Dan Tantangan Modernitas, (Bandung : Penerbit Mizan, 1998),cet. Ke-1, h.15

komite madrasah adalah menyusun Rencana Induk Pengembangan Madrasah (RIPM). Rencana induk pengembangan madrasah merupakan suatu langkah yang komprehensif untuk mengoptimalkan pemanfaatan segala sumber daya yang ada dan yang mungkin diperoleh guna mencapai visi, misi, dan tujuan pendidikan yang diinginkan di masa akan datang.

Dari penjelasan di atas, rencana induk pengembangan madrasah memuat komponen-komponen yang harus tergambar secara jelas tentang :

“1. Melakukan evaluasi diri ( self assessment) atau melakukan school review.

2. Melakukan profil madrasah. 3. Merumuskan visi madrasah. 4. Merumuskan misi madrasah.

5. Merumuskan tujuan pengembangan madrasah. 6. Menganalisis tantangan nyata.

7. Mengidentifikasikan sasaran pengembangan madrasah.

8. Mengidentifikasi fungsi-fungsi komponen penyelenggara pendidikan madrasah. 9. Melaksanakan Analisis SWOT.

10. Mengidentifikasi alternatif langkah pemecahan masalah. 11. Menyusun rencana dan program madrasah”.36

b. Arah Pengembangan Madrasah

Salah satu cita-cita umat islam indonesia yang seiring dikumandangkan para pemimpin umat menjelang kemerdekaan ataupun setelah kemerdekaan ataupun setelah kemerdekaan adalah adanya lembaga pendidikan yang bmampu menyiapkan ” calon

36

Abdul Rachman Saleh dkk, Panduan Perencanaan dan Pengembangan Madrasah (Departemen Agama RI Majlis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagaamaan (MP3A)), (Jakarta : Aditama Bandung,2005), h.33

ulama yang cendikia yang ulama”. Dengan kata lain menyiapkan anak didik yang dapat memadukan iptek dan imtak. inilah harapan utama masyarakat pada madrasah.

Harapan ini, mendapat peluang yang sangat besar, lebih-lebih dengan telah di cantumkannya undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989 berikut peraturan pemerintah dan perundang-undangan lainnya yang mengakui madrasah sebagai sekolah umum yang bercirikan khas islam. kurikulumnya sama dengan sekolah umum, plus khas keislaman dengan ungkapan lain, madrasah sebagai sekolah umum yang bercirikan khas islam yang mampu memadukan kekuatan iptek dan imtaq.

Berdasarkan harapan dan kenyataan tersebut, maka visi madrasah kedepan yang sesuai denag khittah awalnya adalah Pertama, populis merupakan gambaran bahwa madrasah itu lahir dan dibesarkan oleh masyarakat, hampir seluruh madrasah muncul atas inisiatif masyarakat yang peduli dengan anak sekitarnya yang memerlukan pendidikan. kedua, Islami yaitu madrasah mencerminkan pendidikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang bernuansa dan kehidupan para peserta pendidik, pendidik dan para penghuni lainnya mengamalkan ajaran islam dengan baik. dan berkualitas dengan kata lain berorientasi pada mutu dicerminkan pada kegiatan dan nilai akademik yang diperoleh madrasah tersebut.

Kemudian mengenai pengembangan madrasah secara umum seperti sebuah yang diupayakan oleh departemen agama untuk meningkatkan kualitas dan kesesuaian madrasah dengan kebudayaan masyarakat dan dunia global telah dilakukan dengan berbagai bentuk madrasah seperti berikut ini :

1. Mendirikan madrasah negeri

2. Mencanangkan madrasah wajib belajar (MWB) 3. Madrasah dan sekolah pada pondok pesantren

4. Madrasah atau sekolah dengan boarding 5. Madrasah aliyah keagamaan ( MAK)

6. Madrasah aliyah program keterampilan ( MAPK) 7. Madrasah model

8. Madrasah terpadu.37

Abdul Rachman Saleh dan kawan-kawan mengatakan ”arah pengembangan madrasah mencakup 9 (sembilan) bidang komponen pendidikan, yaitu kurikulum dan pembelajaran (Proses Belajar Mengajar/PBM), Organisasi dan kelembagaan, manajemen dan administrasi, ketenagaan, sarana dan prasarana, pembiayaan, peserta didik, peran serta masyarakat, serta lingkungan dan budaya/ kultur madrasah”.38

Seluruh bidang pengembangan diatas dimaksudkan untuk mencapai harapan ideal madrasah (school expectation) sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan memiliki keunggulan baik nasional maupun internasional.

Namun dalam penulisan skripsi ini penulis fokus pada masalah pengembangan sumber daya guru, sebagai salah satu komponen madrasah peran guru sangatlah penting dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk mencapai harapan dan tujuan madrasah khususnya guru madrasah harus memiliki kemampuan, ilmu pengetahuan dan keterampilan (kompetensi) yang memadai sebagai penunjang tercapainya visi, misi, dan tujuan madrasah dan masyarakat luas.

Menurut Uzer Usman, pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan dan kecakapan. Lebih lanjut dia menerangkan yang dimaksud kompetensi guru adalah kemampuan

37

Husni Rahim, Anatomi Madrasah Di Indonesia (Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan Keagamaan), nomor2,april-juni 2004.

38

seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh guru ada 4 macam diantaranya :

1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. 2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap,

berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.

3. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

4. Kompetensi sosial adalah lemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.39

39

Perundang-undangan Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, (Dewan perwakilan Rakyat RI, 2005), h. 29

BAB III

Dokumen terkait