• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di jantung pengembangan masyarakat terdapat gagasan perubahan dari bawah. Hal ini adalah konsekuensi alamiah dari perspektif ekologis dan perspektif keadilan sosial serta perspektif hak azasi manusia. Terdapat gagasan bahwa masyarakat harus mampu menetapkan kebutuhan mereka sendiri dan bagaimana memenuhinya, bahwa masyarakat pada tingkat lokal paling mengetahui apa yang mereka butuhkan dan bahwa masyarakat seharusnya mengarahkan dirinya sendiri dan berswadaya. Dalam praktik aktual, gagasan perubahan dari bawah memiliki keterkaitan dengan gagasan-gagasan yang harus dilakukan dipermulaan, yaitu menghargai pengetahuan lokal, menghargai kebudayaan lokal, menghargai sumber daya lokal, menghargai keterampilan lokal, dan menghargai proses lokal (Tesoriero & Ife, 2008: 242).

Gagasan ‘perubahan dari bawah’ dibuat diatas landasan berbagai ideologi dan teori, dimana mazhab-mazhab pemikiran khusus yang kesemuanya relevan bagi praktik bottom-up atau perubahan dari bawah, yaitu pluralisme, sosialisme demokratis, anarkhisme, post-kolonialisme, post-modernisme, dan feminism (Tesoriero & Ife, 2008: 262).

• Pluralisme

Dalam beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan

hasil tanpa konfli Dalam pengertian sederhana, suatu posisi pluralis mengenal bahwa terdapat suatu keanekaragaman kepentingan dalam masyarakat, dan bahwa kekuasaan tidak terkonsentrasi di suatu lokasi, tetapi didistribusikan di antara sejumlah kelompok yang berbeda. Bergerak lebih jauh dari posisi yang pada hakikatnya deskriftif ini, seorang pluralis yang ideologis akan membela kesukaan dari distribusi kekuasaan yang tak satupun kelompok kepentingan akan menjadi sangat berkuasa. Tetapi bagaimana, dari permainan interaksi dalam berbagai kepentingan, hingga kompromi akan muncul yang kemungkinan besar mewakili semua kepentingan (Tesoriero & Ife, 2008: 262).

Pluralisme telah memberikan suatu kerangka yang berguna dan popular bagi oposisi terhadap beberapa dari kearifan konvensional dari rasionalisme ekonomi, dan terhadap konsentrasi pemilikan media, monopoli modal dan pemerintahan manajerial. Hal ini karena pluralisme dapat digunakan untuk membela keanekaragaman tanpa keharusan membela perubahan mendasar dalam orde sosial, ekonomi, dan politik. Pluralisme memiliki potensi untuk menjadi posisi yang bermanfaat untuk mengartikulasikan oposisi terhadap kecenderungan-kecenderungan kebijakan-kebijakan tertentu, dan untuk melegitimasi gagasan keanekaragaman dalam lingkup wacana arus utama. Meskipun demikian, pluralisme gagal menyediakan kerangka yang mencukupi bagi jenis transformasi sosial, ekonomi, dan politik yang diinginkan, dan tidak dapat diterima sebagai suatu basis yang cukup untuk pengembangan suatu alternatif berbasis-masyarakat yang menangani agenda keadilan sosial dan HAM. Pluralisme adalah sebuah gagasan penting dalam lingkup pengembangan masyarakat sampai sejauh

pluralisme tersebut dapat melegitimasi dan mendorong keanekaragaman (Tesoriero & Ife, 2008: 264).

• Sosialisme Demokratis

Sejak awal kemunculannya, orientasi utama sosialisme adalah pada aspek ekonomi dari kehidupan sosial manusia.dalam perkembangan lebih lanjut, muncul pemikiran bahwa untuk mengatasi eksploitasi manusia atas manusia harus juga memberi perhatian lebih besar kepada aspek politik. Sosialisme sebagai kekuatan politik yang berkembang dalam masyarakat-masyarakat yang sudah mengalami industrialisasi yang luas disebut sosialisme demokratis (Nur Indro, 2009: 110).

Suatu justifikasi ideologis yang lebih kuat datang dari arus pemikiran sosialis demokratis, yang menekankan partisipasi dan pembangunan bottom-up dari alternatif-alternatif sosialis. Hal ini berlawanan dengan posisi stalinis, yang menekankan pemaksaan suatu ekonomi sosialis dari atas dan mendorong perencanaan dan regulasi terpusat. Suatu arah yang lebih menguntungkan bagi sosialis demokratis adalah masuk ke perjuangan politik yang lebih bersifat lokal. Pada tingkat lokal, potensi untuk kontrol yang lebih demokratis lebih besar dan pengaruh modal transnasional kurang merusak. Modal transnasional dapat menahan pemerintahan untuk tebusan, dan dapat menuntut mereka untuk mengikuti kebijakan-kebijakan tertentu, ia memiliki pengaruh langsung yang lebih sedikit pada interaksi-interaksi lokal, bentuknya berupa kebiatan-kegiatan sosial, pilihan-pilihan ekonomis individu dan rumah tangga, politik masyarakat, dan seterusnya (Tesoriero & Ife, 2008: 265).

Soetan Sjahrir sebagai tokoh sosialisme demokrasi yang ada di Indonesia menjelaskan bahwa sosialisme demokrasi atau sosialisme kerakyatan (Asia) menekankan perjuangan untuk mewujudakan kondisi kehidupan yang menjunjung tinggi derajat manusia, menghormati hak-hak kemanusiaan dan membentuk kesadaran sosial. Dengan kehidupan demokrasi yang bersemangantkan kerakyatan, maka penindasan dan penguasaan terhadap kemanusiaan akan hilang tidak akan terwujud (Nur Indro, 2009: 90).

Pengembangan struktur-struktur berbasis masyarakat yang kuat mewakili suatu konteks yang lebih mirip bagi pencapaian suatu masyarakat sosialis demokratis dibandingkan pendekatan parlementer (Shannon, 1991). Hal tersebut menyediakan kemungkinan kepemilikan secara sosial ataupun komunal atas alat-alat produksi, walaupun ini membutuhkan produksi yang lebih berbasis lokal. Maka dari iru, desentralisasi dan lokalisasi ekonomi, struktur politik dan layanan kemanusiaan mewakili suatu arah yang menjanjikan bagi kaum sosialis demokratis. Kapitalisme dapat dilihat sebagai yang lebih mudah dikalahkan pada tingkat lokal dibandingkan pada tingkat nasional atau tingkat transnasional, dan dari suatu perspektif bottom-up ketimbang suatu pendekatan top-down konvensional, alternatif-alternatif sosialis lebih mungkin berkembang (Tesoriero & Ife, 2008: 266).

• Anarkhisme

Anarkisme adalah teori masyarakat tanpa aturan-aturan, merupakan sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial

dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan Bakunin yang terkenal ialah kebebasan tanpa ketidakadilan, da

Disisi lain, pandangan populer tentang anarkhisme sering sekali disamakan dengan tidak adanya tanggung jawab, suatu kehancuran hubungan sosial, atau bahkan terorisme, dan menolak untuk sejalan dengan pendirian suatu filosofi politik yang terhormat dan sah, dalam kenyataannya tulisan anarkhis sangat jauh dari stereotip (Ward, 1988; woodcock, 1977; Marshall, 1992; Carter, 1999). Walaupun pemikiran anarkhis juga mungkin tidak dilihat sebagai telah menguasai suatu posisi arus utama dalam pemikiran radikal abad XX, akan tetapi anarkhisme mempunyai suatu sejarah panjang sebagai basis bagi oposisi terhadap orde mapan (marshall, 1992). Dikarenakan teori anarkhis memiliki tradisi intelektual yang solid, dan sepenuhnya konsisten dengan perspektif keadilan sosial dan hak azasi manusia (Tesoriero & Ife, 2008: 266).

Dengan resiko penyederhanaan yang berlebihan, suatu posisi anarkhis menentang hirarkhi, otoritas, dan intervensi negara dalam kehidupan rakyat. Anarkhis bertahan bahwa dalam keadaan bebas dari dominasi yang demikan, manusia akan cenderung berkooperasi secara sukarela dengan sesamanya,sebagai kebalikan dari pandangan konvensional yang melihat otoritas dan dominasi sebagai diperlukan untuk mempertahankan kontrol (Kropotkin, 1972). Jadi, keabsenan relatif dari hirarkhi dan control terpusat dilihat sebagai suatu prakondisi bagi

terbentuknya suatu kontrak sosial yang efektif (Ward, 1977) dan bagi manusia untuk mampu menjalani hidup yang lebih memuaskan dan lengkap. Pandangan ini menjungkirbalikkan banyak dari kaerifan tentang disukainya struktur-struktur terpusat yang terencana dan terkordinasi (negara/swasta) dan pembuatan kebijakan terpusat (Tesoriero & Ife, 2008: 267).

Anarkhisme memeberikan suatu basis alamiah untuk mendukung penegmbangan masyarakat akar rumput, karena anarkhisme dengan tegas mununjuk kepada kesukaan akan otonomi lokal, desentralisasi dan pembangunan yang dimulai pada tingkat akar rumput. Meskipun demikan, anarkhisme tetap merupakan posisi radikal, karena ia menantang dengan cara mendasar, beberapa asumsi yang paling dianggap biasa tentang politik, dan ia dengan kuat mengkritik gagasan kekuasaan, kontrol politik, dan birokratis (Tesoriero & Ife, 2008: 268). Oleh karena itu, anarkhisme adalah landasan ideologi yang penting bagi pengembangan masyarakat.

• Post-kolonialisme

Post-kolonialisme mengacu pada badan pemikiran yang berupaya bergerak lebih jauh dari penindasan kolonialis, untuk menemukan suara bagi mereka yang telah dibungkam oleh penindasan tersebut, dan menentang pada pelanggaran struktur-struktur dan wacana kolonialisme. Kolonialisme dikaitkan dengan sikap-sikap dari bangsa-bangsa penjajah, yang menduduki tanah bangsa-bangsa lain dan menjadikan bangsa yang dijajah sebagai sasaran dominasi untuk kepentingan perluasan wilayah, keuntungan keuangan, dan keduanya. Tetapi terdapat suatu bentuk penjajahan yang lebih luas yang terjadi dalam dunia kontemporer. Penjajahan tersebut berbentuk kekuatan modal global, dan kultur global yang

diciptakannya, hingga memaksakan penjajahan ekonomi dan kultural pada banyak masyarakat diseluruh dunia.

Pemikiran post-kolonial adalah emansipatoris. Ia berupaya untuk mengakui kegagalan kolonialisme, untuk mengesahkan suara-suara mereka yang terjajah dan untuk mengenali dan untuk membalik pola-pola dominasi kolonialis. Pemikiran post-kolonial dalam studi-studi kebudayaan telah berfungsi untuk membantah bahwa bangsa itu tidak sekedar penerima pasif dari kekuatan-kekuatan yang sangat kuat yang membentuk mereka menjadi boneka, konsumen, atau subjek kapitalisme. Hal ini memiliki potensi yang sangat besar untuk mentransformasi identitas dan perasaan kekuatan dari kaum terjajah. Lebih lanjut, ketika protes dari kelompok-kelompok yang beragam dihubungkan, sekutu-sekutu baru menjadi mungkin dan gerakan-gerakan sosial dapat terbentuk.

Teori post-kolonialisme memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan. Teori post-kolonialisme juga membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan psikologis. Tidak kalah pentingnya juga bahwa teori postkolonialisme bukan semata-mata teori, melainkan suatu kesadaran itu sendiri

Oleh karena itu, post-kolonialisme berpotensi menjadi sebuah perspektif yang sangat penting untuk memahami pengembangan masyarakat sebagai suatu praktik emansipatoris dalam pengorganisasian masyarakat dan untuk menegaskan suatu perspektif ‘perubahan dari bawah’ yang berupaya mengesahakan suara-suara lain dan untuk meberikan kesempatan untuk kaum terjajah untuk menegaskan

realitas mereka sendiri ketimbang didiktekan oleh sang penjajah (Tesoriero & Ife, 2008: 272).

• Post-Modernisme

Dengan berkembangnya kesadaran mengenai sisi suram modernitas dan dengan meningkatnya kritik terhadap sifat anti-kemanusiaan yang ditimbulkannya. Maka muncullah pandangan bahwa jalan yang dilalui masyarakat modern harus dirubah secara radikal. Ada sejumlah pakar yang menyerukan untuk membangun kembali kehidupan komunitas, pemakaian kembali ikatan sosial primordial, menghidupkan kembali kelompok dan hubungan primer. Ada juga seruan untuk menyelamatkan dan memulihkan lingkungan alam dan memerangi pencemaran, kerusakan ekologi, dan eksploitasi sumber daya alam tanpa memikirkan dampak buruknya. Gagasan-gagasan tersebut menyediakan landasan untuk memicu gerakan sosial yang kuat. Habermas menjelaskan suatu keyakinan bahwa kesenangan baru ditakdirkan akan muncul dalam sejarah manusia setelah periode modern. Inilah pandangan yang menganggap bahwa transformasi sosial tidak dapat dibalikkan tetapi akan tetap bergerak menuju tipe masyarakat berkualitas baru yang lahir dari abu modernitas. Seperti apa wujudnya, masih belum jelas tetapi sudah dipersiapkan namanya, yaitu post-modern (Piotr Sztompka, 2004: 96).

Post-modernisme menekankan konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi realitas majemuk dalam suatu dunia yang dicirikan oleh fragmentasi dan keanekaragaman. Relevansi post-modernisme bagi perspektif bottom-up ialah bahwa ia memberikan suatu argument yang kuat untuk mempertanyakan praktik top-down, yang pada hakikatnya modernis, dan penghargaan post-modernise yang menghargai keanekaragaman dan perbedaan memungkinkan pengalaman

masyarakat untuk disahkan dan untuk memunculkan dan melegitimasi suara-suara alternatif. Post-modernisme memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada pengembangan masyarakat, dan memang pengembangan masyarakat dapat dilihat sebagai suatu proses memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengkonstruksi realitas mereka pada tingkat masyarakat dan terlibat dalam pembangunan bottom-up (Tesoriero & Ife, 2008: 277).

• Feminisme

Feminisme adalah perspektif penting lainnya mengenai pengembangan masyarakat untuk mentransformasikan perubahan dari bawah. Harcourt (1994) menjelaskan bahwa pendekatan top-down, rasional dan manajerial merupakan cirri sifat patriarkhal, dan dari suatu sudut pandang feminis ia melanggengkan struktur-struktur dan wacana-wacana dominasi dan penindasan. Secara perspektif keadilan sosial dan HAM dimana para penulis feminis telah menekankan betapa pentingnya gender sebagai suatu dimensi yang mendasar dari penindasan, dan telah memperlihatkan bahwa pencapaian keadilan sosial dan HAM akan tetap merupakan mimpi yang mustahil kecuali jika isu gender ditangani secara cukup sebagai bagian dari setiap proses perubahan (Tesoriero & Ife, 2008: 280).

Pentingnya feminisme adalah pada karakterisasi struktur-struktur manajerial yang top-down sebagai patriarkhal, dan dengan demikian pada identifikasinya yang dekat dengan suatu perspektif bottom-up atau perubahan dari bawah. Feminisme post-modernisme memperkuat argument ini, dengan menekankan validasi suara-suara kaum terpinggirkan dan mengaitkan ini kepada konstruksi wacana-wacana kekuasaan alternatif. Ide post-modernisme ialah ide

berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Dimana ide post-modernisme berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosia pukul 20.45 WIB). Hal-hal ini merupakan bentuk-bentuk feminisme yang berupaya mengubah struktur-struktur dan wacana-wacana dasar dari kekuasaan dan penindasan yang berlandaskan gender, dan berupaya merombak patriarkhi yang top-down sebagai landasan dari pengembangan masyarakat dengan perubahan dari bawah dalam emansipasi gender.

2.3.Petani

Petani menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang pekerjaannya bercocok tanam. Kehidupan petani identik dengan kehidupan pedesaan. Amri Marzali membedakannya menjadi peladang atau pekebun, peisan (dari bahasa Inggris Peasant), dan petani pengusaha atau farmer. Sebagian besar petani yang ada di Indonesia merupakan peisan atau petani pemilik yang sekaligus juga menggarap lahan pertanian yang mereka miliki.

Petani peladang atau pekebun menurut Dobby (1954), merupakan tahap yang istimewa dalam evolusi dari berburu dan meramu sampai pada bercocok tanam yang menetap. Keistimewaan itu kelihatannya terdiri dari ciri-ciri hampa seperti tidak adanya hubungan dengan usaha pedesaan dan sangat sedikitnya produksi yang mempunyai arti penting bagi perdagangan. Gourou (1956), secara garis besar menguraikan empat ciri perladangan: (1) dijalankan di tanah tropis yang kurang subur; (2) berupa teknik pertanian yang elementer tanpa menggunakan alat-alat kecuali kampak; (3) kepadatan penduduk rendah; dan (4) menyangkut tingkat konsumsi yang rendah. Pelzer (1957), menyatakan bahwa petani peladang ini

ciri-cirinya juga ditandai dengan tidak adanya pembajakan, sedikitnya masukan tenaga kerja dibandingkan dengan cara bercocok tanam yang lain, tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan, dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. Konsep mengenai peasant atau petani kecil sekurang-kurangnya mengacu pada tiga pengertian yang berbeda. Konsep pertama mengacu pada pandangan Gillian Hart (1986), Robert Hefner (1990), dan Paul Alexander dkk (1991), yang menyatakan bahwa istilah peasant ditujukan kepada semua penduduk pedesaan secara umum, tidak peduli apapun pekerjaan mereka. Konsep kedua mengacu pada pandangan James C. Scott (1976) dan Wan Hashim (1984), yang menyatakan bahwa peasant tidak mencakup seluruh pedesaan, tetapi hanya terbatas kepada penduduk pedesaan yang bekerja sebagai petani saja. Konsep ketiga atau terakhir mengacu pada pandangan Eric Wolf yang kemudian diikuti oleh Frank Ellis (1988), yang menyatakan bahwa peasant ditujukan untuk menunjukkan golongan yang lebih terbatas lagi, yaitu hanya kepada petani yang memiliki lahan pertanian, yang menggarap sendiri lahan tersebut untuk mendapatkan hasil yang digunakan untuk memenuhi keperluan hidupnya, bukan untuk dijual, atau yang di Indonesia biasa disebut sebagai petani pemilik penggarap (Witrianto, S.S., M.Hum., M.Si

Konsep mengenai farmer atau petani kaya adalah petani-petani kaya yang lebih mempunyai kecenderungan untuk menanamkan kembali modalnya didalam kegiatan usaha tani (capital oriented). Mereka lebih mempunyai bentuk-bentuk lembaga ekonomi yang lebih modern seperti bank koperasi desa, BUUD, dan lain-lain. Selanjutnya oleh karena adanya kemampuan ekonomi yang lebih besar terjadi

kecenderungan menumpuknya tanah kepada mereka dengan beli ataupun sewa

Peasant atau yang biasa juga disebut sebagai petani kecil, merupakan

golongan terbesar dalam kelompok petani di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Ciri-ciri petani yang tergolong sebagai peasant adalah sebagai mengusahakan pertanian dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat, mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah, bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsisten, kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dab pelayanan lainnya (Soekartawi, 1986: 1).

Dari segi ekonomi, ciri yang sangat penting pada petani kecil ialah terbatasnya sumberdaya dasar tempat ia mengusahakan pertanian. Pada umumnya mereka hanya menguasai sebidang lahan kecil, kadang-kadang disertai dengan ketidakpastian dalam pengelolaannya. Lahannya sering tidak subur dan terpencar-pencar dalam beberapa petak. Mereka mempunyai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan kesehatan yang sangat rendah. Mereka sering terjerat oleh hutang dan tidak terjangkau oleh lembaga kredit dan sarana produksi. Walaupun petani-petani kecil mempunyai ciri yang sama, yaitu memiliki sumberdaya yang terbatas dan pendapatan yang rendah, namun cara bekerjanya tidak sama. Cara bertani para peternak di Afrika, peladang yang berpindah-pindah di daerah tropis, dan petani kecil penghasil padi di Asia berbeda-beda. Demikian pula kebudayaan mereka berbeda, baik antara negara dengan negara lain maupun antara satu daerah dengan daerah lainnya dalam satu negara. Oleh karena itu, petani kecil tidak dapat dipandang sebagai kelompok yang serba sama, walaupun mereka berada di suatu wilayah kec

Karl Marx punya pandangan mengenai kondisi sistem kepemilikan tanah oleh petani, yakni Suatu pemilikan tanah oleh petani secara bebas adalah tingkat transisi yang digerogoti oleh sewa diferensial dikalangan petani, yang dilakukan oleh kompetisi pertanian kapitalis besar atau oleh perusahaan industri pedesaan dan atau oleh pengambilalihan (perampokan) dari tanah bersama dan sebagainya. Keadaan itu mempercepat pemiskinan penduduk pedesaan dan terjadilah keterbelakangan kebudayaan dan inefisiensi. Marx menyatakan bahwa akan tercipta suatu klas barbarian yang berada diluar masyarakat (Brewer, 1999: 274). Maka apa yang dimaksud Marx ialah bahwa dampak liberalisasi pertanian yang khususnya mengenai pemilikan tanah sebagai alat produksi pertanian hanya akan menimbulkan persaingan dan akan ada yang menang dan kalah dalam persaingan tersebut atas dasar kekuatan kapital.

Dalam teori tindakan moral, sebuah karyanya Scott, The Moral Economy of the Peasant, digambarkan bahwa kehidupan petani (peasant) adalah masyarakat yang harmoni dan stabil. Komunitas petani ini adalah suatu kelompok sosial yang memiliki kepentingan untuk menjaga kelangsungan keterikatan antar individunya. Mereka ini adalah masyarakat yang ” mendahulukan selamat ” dimana akan membantu mempersatukan satu struktur preferensi-preferensi yang riil (Scott, 1981 : 53). Suatu pilihan tindakan penolakan yang dikembangkan lagi oleh James Scott (1983) dalam bukunya “ Weapons of The Weak ; Everyday Forms of Peasant Resistance. Resistensi adalah semua tindakan dari anggota masyarakat kelas bawah dengan maksud untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Para petani melakukan resistensi atau melakukan perlawanan mempertahankan diri karaena terpaksa untuk mempertahankan hidup. Perjuangan yang dilakukan para petani ini

merupakan perjuangan yang biasa biasa namun dilakukan terus menerus. Hal yang menarik dari konsep Scott ini adalah resistensi hanya bersifat individual atau tidak bersifat kolektif. Ada 3 (tiga) kategori resistensi yaitu bisa dilakukan. Pertama, bersifat individual, spontan dan tidak terorganisasi. Kedua, tujuan resistensi agar ada reaksi dari pihak yang dilawan. Ketiga, resistensi ini bersifat ideologis atau mengarah pada resistensi simbolis, berbeda dengan perjuangan yang bersifat frontal

Dokumen terkait