BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6. Pengembangan Produk Pariwisata
a. Kebijakan Pariwisata Sebagai Industri
Dalam perspektif industri pariwisata, menurut Soetomo WE (2011: 20), “sektor kepariwisataan tingkat keberhasilan pembangunannya banyak bergantung pada komponen dan variabel yang lain dari pada pembangunan pada umumnya”. Artinya, tingkat
keberhasilan pembangunan kepariwisataan banyak bergantung pada partisipasi sektor yang lain, misalnya sektor perhubungan, sektor lingkungan, sektor pendidikan, sektor sosial, sektor ekonomi, hankam, agama dan sektor – sektor yang yang lainnya, baik formal maupun non formal. Sehingga dalam industri pariwisata dihindari egoisme sektoral. Pendapat Soetomo WE (2011:15), tentang pembangunan kepariwisataan mendasarkan pemahaman tidak boleh digarap secara partial, akan tetapi harus integral, menghindari egoisme sektoral, dan arogansi institusional serta perlunya sinkronisasi dan koordinasi menjadi pemikiran baru pada pembangunan kepariwisataan.
Ridwan (2012:47) menyatakan pendapatnya tentang kebijakan perencanaan pengembangan pariwisata seperti berikut:
“Perencanaan pengembangan pariwisata pada dasarnya adalah untuk mencari titik temu antara penawaran dengan permintaan. Oleh karena itu, dalam melakukan perencanaan pengembangan pariwisata seharusnya terlebih dahulu mengidentifikasi produk wisatanya (Penawaran) yang ada di daerah tujuan wisata dan pasar wisatawan (Permintaan), baik aktual maupun potensial kemudian dilakukan suatu analisis terhadap kedua aspek tersebut tercapai”
Konsep pendekatan kesesuaian antara permintaan dapat dilihat pada Gambar 2.2 halaman 22.
Gambar 2.2
Konsep Pendekatan Kesesuaian Penawaran dan Permintaan
PENAWARAN PERMINTAAN PRODUK WISATA 1. Atraksi 2. Aksesbilitas 3. Amenitas Kepuasan Kualitas Nilai Jual WISATAWAN 1. Motivasi 2. Keinginan 3. Kebutuhan KONSEP STRATEGIS
PERENCANAAN PENGEMBANGAN PARIWISATA Sumber: Data Sekunder (Ridwan, 2012: 47)
1) Permintaan Wisatawan
Seperti Gambar 2.2 di atas, Permintaan wisatawan timbul oleh berbagai macam motivasi, kebutuhan, dan keinginan. Penelitian ini yang menjadi latar belakang dalam kajian pengembangan produk adalah motivasi spiritual wisatawan.
Ilmu Psikologi mengenal pembagian aspek intrinsik dan ekstrinsik. Sementara itu faktor intrinsik manusia atas tiga katagori yaitu: aspek kognitif yang mencakup pengetahuan dan pemahaman, aspek afektif yang mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap dan nilai – nilai, yang ketiga adalah aspek psikomotorik yang mencakup pengamatan dan gerak – gerakan motorik (Sumarmi,2012:138).
Menurut Ridwan (2012:51), Motivasi adalah faktor – faktor yang mempengaruhi dan pendorong meningkatnya permintaan wisata. Menurut Soekadijo (2000: 38- 47) motif wisata menjadi
10 kelompok, yaitu : motif bersenang-senang atau tamasya, motif rekreasi, motif kebudayaan, wisata olah raga, wisata bisnis, wisata konvensi, motif spiritual, motif interpersonal, motif kesehatan dan wisata sosial.
Sedangkan sumber lain menyatakan kegiatan perjalanan wisata dipengaruhi oleh ketersediaan uang/ distribusi dan peningkatan pendapatan wisatawan, pengurangan jam kerja, iklim dan lingkungan hidup, pendidikan masyarakat (Freyer, 1993: 30; Mundt, 1998: 79-86), kebijakan penetapan jumlah jam kerja, teknologi transportasi, pendidikan yang semakin meningkat, pengaruh kondisi iklim daerah asal panas, polusi air, tanah, udara cenderung mencari daerah wisata yang beriklim sejuk dan pencemaran yang minimal(Damanik dan Weber, 2006:3-5).
2) Penawaran Produk Pariwisata a) Pembagian Produk
Menurut WTO dalam Damanik dan Teguh 2013:52), produk pariwisata adalah unsur utama yang menarik wisatawan ke destinasi dan memenuhikepuasan wisata mereka disana. Secara umum,ada 6 komponen elemen dasar destinasi pariwisata yang dapat ditawarkan berdasarkan WTO terdiri dari, (1) atraksi, (2) amenitas, (3) aksesbilitas, (4) sumber daya manusia/ SDM, (5) citra dan karakter, (6) harga (lihat gambar 2.3 hal. 24).
Gambar 2.3
Elemen Dasar Destinasi Pariwisata
Elemen Destinasi yang Memberikan Pengalaman dan Daya Tarik
Atraksi Harga Amenitas Aksesbilitas DM itra & Karakter
Sumber: WTO dalam Damanik dan Teguh, 2013: 52
Menurut Medelik and Middleton (The Tourist Product and It Implication, 1972 dalam Ridwan 2012: 48), Produk wisata adalah semua bentuk pelayanan yang dinikmati wisatawan semenjak ia berangkat meninggalkan tempat dimana ia biasa tinggal hingga ia kembali pulang.
Menurut Kotler (1994) ada tiga tingkatan produk wisata, (a) Produk utama (core product), (b) Produk sekunder (facilitating product), (c) Produk tambahan (augmented product). Produk utama adalah objek dan daya tarik yang menjadi tujuan utama oleh wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut. Produk sekunder adalah layanan terhadap pasar agar pasar dapat menikmati produk yang ditawarkan secara optimal. Produk tambahan adalah produk yang terkait dengan hal – hal bersifat abstrak atau relatif, misalnya suasana (atmosphere); dan pelayanan (service) yang intinya mendukung performansi core product secara umum. Kemudian secara detail,
C S
b) Kriteria Produk Pariwisata
Damanik dan Weber (2006:13) menyatakan tentang kriteria kualitas produk pariwisata yang baik terkait dengan empat hal sebagai berikut:
(1) “Keunikan, diartikan sebagai kombinasi kelangkaan dan daya tarik yang khas melekat pada suatu objek wisata.
(2) Originalitas atau keaslian mencerminkan keaslian atau kemurnian, yakni seberapa jauh suatu produk tidak terkontaminasi oleh atau tidak mengadopsi model atau nilai yang berbeda dengan nilai aslinya. (3) Otentisitas, mengacu pada keaslian. Bedanya,
otenstisitas lebih sering dikaitkan dengan derajat keantikan atau eksotisme budaya sebagai atraksi wisata.
(4) Keragaman atau diversitas produk artinya, keanekaragaman produk dan jasa yang ditawarkan. Wisatawan harus diberikan banyak pilihan produk dan jasa yang secara kualitas berbeda – beda.”
b. Kebijakan Pengembangan Kawasan Lindung
Menurut Gunn dalam Nugroho (2004: 19) sebagai suatu sistem, pariwisata kadang menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitar, baik terhadap keberadaan sumber daya, keberlangsungan habitat flora dan fauna serta kadang dapat menimbulkan potensi konflik dengan masyarakat sekitar. Untuk mengurangi/menekan terjadinya dampak terhadap kawasan yang dilindungi tersebut, Dirjen Pariwisata (Yoeti, 2000: 45) telah menetapkan dasar dasar pengembangan wisata alam, yang secara umum sebagai berikut: (1) bersifat ramah lingkungan, termasuk lingkungan sosial-budaya, (2) tetap terjaganya fungsi dan daya dukung lingkungan, (3) ada tindakan untuk mengantisipasi
dampak, (4) merupakan tanggung jawab semua pihak terkait, (5) ada pendidikan dan pelatihan bagi pekerja kepariwisataan dan (6) adanya akses informasi ke masyarakat tentang konservasi alam. Berkaitan dengan hal itu maka pembangunan prasarana dan sarana sangat dianjurkan dilakukan sesuai kebutuhan saja dan menggunakan bahan- bahan yang ada di wilayah tersebut. Penggunaan teknologi dan fasilitas modern dibatasi seminimal mungkin. Sementara itu Yoeti (200: 39) menambahkan bahwa untuk mengurangi tekanan terhadap hutan, perlu juga memaksimalkan peran serta penduduk lokal dan mempertahankan adat dan kebiasaan sehari- hari masyarakat.
Menurut Fandeli dan Nurdin (2005: 31) menyatakan bahwa: “Pada dasarnya jenis pariwisata ini tidak memerlukan pembangunan fasilitas pariwisata, karena kegiatan seperti penelitian, pendidikan, pengamatan satwa, hiking, climbing dan lain sebagainya tidak memerlukan fasilitas. Bangunan yang dapat dikembangkan hanya fasilitas kantor dan tourist
information center. Namun apabila memang diperlukan, maka
pembangunan dapat dilakukan pada zona penyangga yang berada di luar kawasan taman nasional.”
Dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan Damanik dan Weber (2006: 30) menjabarkan dimensi – dimensi yang harus diperhatikan oleh penyedia jasa dalam merencanakan pariwisata (dalam Tabel 2.1, halaman 27).
Tabel 2.1
Dimensi Ekonomi, Ekologi, Sosial dan Budaya Dalam Pariwisata Berkelanjutan
No Dimensi Wisatawan Penyedia Jasa
1. Ekonomi Peningkatan kepuasan wisata Peningkatan belanja Peningkatan dan pemerataan pendapatan Penciptaan kesempatan kerja terutama bagi masyarakat lokal Peningkatan kesempatan berusaha/ diversifikasi pekerjaan 2. Ekologi Penggunaan produk dan layanan wisata berbasis lingkungan (green product) Kesediaan membayar lebih mahal untuk produk dan layanan wisata ramah lingkungan
Penentuan dan konsistensi pada daya dukung lingkungan
Pengelolaan limbah dan pengurangan penggunaan bahan baku hemat energi Prioritas pengembangan produk dan layanan jasa berbasis lingkungan Peningkatan kesadaran lingkungan dengan kebutuhan konservasi 3. Sosial Kepedulian sosial yang meningkat Peningkatan konsumsi produk lokal Pelibatan sebanyak mungkin stakeholder dalam perencanaan, implementasi dan monitoring
Peningkatan kemampuan masyarakat lokal dalam pengelolaan jasa – jasa wisata
Pemberdayaan lembaga lokal dalam pengambilan keputusan pengembangan pariwisata
Menguatnya posisi masyarakat lokal terhadap masyarakat luar
Terjaminnya hak – hak dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya pariwisata
Berjalannya aturan main Berlanjut Halaman 28.
Kelanjutan Tabel 2.1 Halaman 27: Dimensi Ekonomi, Ekologi, Sosial dan Budaya Dalam Pariwisata Berkelanjutan
yang adil dalam pengusahaan jasa wisata
4. Budaya Penerimaan kontak dan perbedaan budaya Apresiasi budaya masyarakat local Intensifikasi komunikasi lintas budaya
Penonjolan ciri atau produk budaya lokal dalam penyediaan atraksi, aksesbilitas, dan amenitas Perlindungan warisan budaya, kebiasaan – kebiasaan dan kearifan local Sumber: Damanik dan Helmut F. Weber (2006: 30-31)
7. Faktor Internal dan Eksternal