HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Tempat Penelitian
1. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan
Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan dalam penelitian ini dilihat dari 5 aspek meliputi kegiatan seminar pendidikan, musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), kegiatan diklat, kegiatan studi literatur, dan pembuatan karya inovatif. Total skor hasil penelitian yaitu sebesar 2407 yang terdiri dari indikator kegiatan seminar pendidikan 438, musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) 420, kegiatan dikat 313, kegiatan studi literatur 680, dan pembuatan karya inovatif 556. Rata-rata perolehan skor dihitung dengan membagi total hasil skor penelitian dengan jumlah alternatif skor minimal
dikali jumlah soal dikali jumlah responden, jadi 2407 63x1x15 =
2407
945 = 2,5. Berdasarkan jumlah tersebut dikaitkan dengan tabel pengkategorian yang telah
48
ditetapkan pada halaman 44 maka pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan tergolong dalam kategori sedang.
Selanjutnya hasil perolehan skor pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan dari masing-masing aspek dijabarkan sebagai berikut:
a. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan seminar pendidikan
Tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan seminar pendidikan terdiri dari 4 item penyataan. Masing-masing item penyataan yang telah dijawab memiliki skor yang berbeda-beda. Selanjutnya, untuk mengetahui analisis perolehan nilai pada aspek kegiatan seminar pendidikan dihitung dengan rumus:
x = �� x �� ��
Hasil analisis perolehan nilai dari masing masing item ditampilkan dalam tabel total skor perolehan sebagai berikut:
Tabel 3. Total Skor Perolehan pada Aspek Kegiatan Seminar Pendidikan No
Item
Alternatif Jawaban Skor Total
Perolehan Nilai Kategori
1 2 3 4 1 19 30 12 4 125 1,9 Sedang 2 21 25 7 10 132 2.0 Sedang 3 21 30 6 6 123 1,9 Sedang 4 56 6 1 0 71 1,1 Rendah Jumlah 438
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa masing-masing item pada aspek kegiatan seminar pendidikan mendapat skor total perolehan sebesar 438 dan
49
mendapat nilai sebesar 6,7. Selanjutnya untuk mengetahui rata-rata perolehan nilai pada aspek kegiatan seminar pendidikan dihitung dengan:
= 125+115+123+71 63x1x4
=
438252
= 1,6
Dengan demikian tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan pada kegiatan seminar pendidikan termasuk pada kategori rendah dengan skor 1,6 pada rentang skala 1 - 1,75.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui nilai tertinggi dalam aspek kegiatan seminar pendidikan adalah item nomor 2 yaitu guru mengikuti seminar pendidikan tingkat provinsi. Sub indikator ini mendapat skor sebesar 132 dan mendapat nilai 2,0 dan termasuk dalam kategori sedang pada rentang skala1,76 – 2,5. Sedangkan skor terendah pada indikator kegiatan seminar pendidikan adalah item nomor 4 yaitu guru mengikuti seminar pendidikan tingkat internasional. Sub indikator ini mendapat skor sebesar 71 dan mendapat nilai 1,1 sehingga termasuk dalam kategori rendah pada rentang skala 1 – 1,75.
Hasil penelitian tersebut didukung oleh wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Kasihan pada tanggal 10 November yang mengatakan bahwa, “Jarang mbak guru yang mengikuti seminar baik di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Jika ada guru yang mengikuti seminar ya hanya seminar yang diadakan di dalam provinsi. Hal ini dikarenakan jam mengajar guru sudah banyak yaitu 24 jam. Kegiatan mengajar 24 jam sudah menyita banyak waktu bapak ibu guru dari hari senin sampai sabtu full sehingga untuk mengikuti seminar pendidikan mereka tidak punya waktu.”
50
Selanjutnya, dari pernyataan kepala sekolah melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti, dapat dilihat bahwa kepala sekolah menyatakan tidak banyak guru yang melakukan pengembangan profesi melalui kegiatan seminar pendidikan. Hal ini terkendala dengan jam mengajar guru yang banyak yaitu 24 jam sehingga guru tidak memiliki waktu untuk mengikuti kegiatan seminar pendidikan. Hasil wawancara dengan kepala sekolah tersebut menunjukkan hasil penelitian di atas benar bahwa kegiatan seminar pendidikan tergolong dalam kategori rendah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan melalui kegiatan seminar pendidikan tergolong dalam kategori rendah. Hal ini terbukti pada hasil analisis perolehan nilai sebesar 1,6 pada rentang skala 1 - 1,75 serta hasil wawancara dengan kepala sekolah bahwa tidak banyak guru yang mengikuti seminar pendidikan baik di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Dan jika mengkuti seminar kebanyakan guru hanya mengikuti seminar di tingkat provinsi saja.
b. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek MGMP terdiri dari 2 item penyataan. Masing-masing item penyataan yang telah dijawab memiliki skor yang berbeda-beda. Selanjutnya, untuk mengetahui analisis perolehan nilai pada aspek kegiatan MGMP dihitung dengan rumus:
x = �� x �� ��
51
Hasil analisis perolehan nilai dari masing masing item ditampilkan dalam tabel total skor perolehaan sebagai berikut:
Tabel 4. Total Skor Perolehan pada Aspek Kegiatan MGMP No
Item
Alternatif Jawaban Skor Total
Perolehan Nilai Kategori
1 2 3 4 5 1 9 15 38 216 3,4 Sangat tinggi 6 2 12 18 31 204 3,2 Sangat tinggi Jumlah 420
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa masing-masing item pada aspek kegiatan MGMP mendapat skor total perolehan sebesar 420 dan mendapat nilai sebesar 6,6. Selanjutnya untuk mengetahui rata-rata perolehan nilai pada aspek kegiatan MGMP dihitung dengan:
= 216+204 63x1x2
=
420126
= 3,3
Dengan demikian tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru SMA Negeri 1 Kasihan pada aspek kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) tergolong pada kategori sangat tinggi dengan nilai 3,3 pada rentang skala 3,26 - 4.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui skor tertinggi dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) yang mendapat skor tertinggi adalah item nomor 5 yaitu guru mengikuti kegiatan MGMP sesuai bidang mata pelajaran. Item ini
52
mendapat skor sebesar 216 dan mendapat nilai 3,4 sehingga termasuk dalam kategori sangat tinggi pada rentang skala 3,26 - 4. Sedangkan item nomor 6 yaitu guru mendikusikan masalah proses pembelajaran dengan teman sejawat dalam kegiatan MGMP mendapat skor sebesar 204 dengan nilai 3,2 sehingga tergolong dalam kategori sangat tinggi pada rentang skala 3,26 - 4.
Hasil analisis tersebut didukung oleh wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Kasihan pada tanggal 10 November yang menyatakan bahwa, “Semua guru telah mengikuti kegiatan MGMP, karena memang MGMP merupakan wadah yang baik untuk pengembangan profesi guru. Harapan saya bahkan guru SMA Negeri 1 Kasihan ini semua bisa menjadi pengurus MGMP sesuai bidang mata pelajaran masing-masing. Saat ini baru ada 2 guru yang aktif sebagai pengurus kegiatan MGMP yaitu guru biologi dan fisika. Untuk kegiatan MGMP ini sekolah memberi uang sebesar Rp.15.000 setiap kali datang.”
Dari pernyataan kepala sekolah diatas maka dapat dilihat bahwa guru-guru di SMA Negeri 1 Kasihan telah mengikuti kegiatan MGMP, bahkan beberapa guru aktif dalam kepengurusan MGMP. Namun untuk bantuan dana dari sekolah untuk kegiatan MGMP masih minim. Setiap guru hanya diberi Rp. 15.000 setiap kali kegiatan. Tentunya biaya tersebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan saat mengikuti MGMP.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) tergolong dalam kategori sangat tinggi. Hal ini terbukti pada hasil analisis perolehan nilai sebesar 3,3 pada rentang skala 3,26 – 4.
53
c. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan diklat
Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan diklat terdiri dari 2 item penyataan. Masing-masing item penyataan yang telah dijawab memiliki skor yang berbeda-beda. Selanjutnya, untuk mengetahui analisis perolehan nilai pada aspek kegiatan diklat dihitung dengan rumus:
x = �� x �� ��
Hasil analisis perolehan nilai dari masing masing item ditampilkan dalam tabel total skor perolehan sebagai berikut:
Tabel 5. Total Skor Perolehan pada Aspek Kegiatan Diklat No
Item
Alternatif Jawaban Skor Total Perolehan Nilai Kategori 1 2 3 4 7 2 24 20 17 178 2,8 Tinggi 8 16 24 21 2 135 2,1 Sedang Jumlah 313
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa masing-masing item pada aspek kegiatan diklat mendapat skor total perolehan sebesar 313 dan mendapat nilai sebesar 4,9. Selanjutnya untuk mengetahui rata-rata perolehan nilai pada aspek kegiatan diklat dihitung dengan:
= 178+135 63x1x2
=
313126
54
Dengan demikian tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru SMA Negeri 1 Kasihan pada aspek kegiatan diklat tergolong pada kategori sedang dengan nilai 2,4 pada rentang skala 1,76 – 2,5.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa item nomor 7 yaitu guru mengikuti kegiatan diklat terkait dengan pengembangan profesi mendapat skor sebesar 178 dengan nilai 2,8 sehingga termasuk dalam kategori tinggi pada rentang skala 2,51 – 3,25. Sedangkan indikator kegiatan MGMP pada item nomor 8 yaitu guru membuat laporan diklat mendapat skor sebesar 135 dengan nilai 2,1 yang tergolong dalam kategori sedang pada rentang skala 1,76 - 2,5.
Setelah melakukan cross check dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Kasihan melalui wawancara pada tanggal 10 November diketahui bahwa kegiatan diklat yang diselenggarakan oleh lembaga diklat saat ini banyak yang menggunakan sistem by name. Padahal guru yang ditunjuk tersebut sudah sering mengikuti diklat sehingga guru lainnya tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti diklat. Walaupun begitu guru yang telah selesai mengikuti diklat juga membagikan informasi yang didapat selama mengikuti diklat kepada guru lainnya. Jika lembaga pelatihan tidak menunjuk peserta diklat by name, kepala sekolah selalu mengikutsertakan guru secara bergantian agar semua guru dapat mengikuti diklat. Guru yang ditunjuk untuk mengikuti diklat baik yang dilakukan secara by name ataupun penugasan kepala sekolah pasti mengikuti kegiatan diklat tersebut.
Dari hasil penelitiaan dan wawancara dengan kepala sekolah di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengembangan profesi guru di SMA Negeri 1 Kasihan
55
melalui kegiatan diklat ada pada kategori sedang, hasil analisis perolehan nilai sebesar 2,4 yang terletak pada rentang skala 1,76 - 2,5. Hasil penelitian tersebut didukung oleh hasil wawancara dengan kepala sekolah bahwa guru yang ditunjuk untuk mengikuti diklat selalu hadir dalam diklat tersebut.
d. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan studi literatur
Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek kegiatan studi literatur terdiri dari 4 item penyataan. Masing-masing item penyataan yang telah dijawab memiliki skor yang berbeda-beda. Selanjutnya, untuk mengetahui analisis perolehan nilai pada aspek kegiatan studi literatur dihitung dengan rumus:
x = �� x �� ��
Hasil analisis perolehan nilai dari masing masing item ditampilkan dalam tabel total skor perolehaan sebagai berikut:
Tabel 6. Total Skor Perolehan pada Aspek Kegiatan Studi Literatur No
Item
Alternatif Jawaban Skor Total
Perolehan Nilai Kategori
1 2 3 4 9 1 26 16 20 181 2,8 Tinggi 10 0 13 23 27 203 3,2 Tinggi 11 12 31 12 8 142 2,2 Sedang 12 10 26 16 11 154 2,4 Sedang Jumlah 680
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa masing-masing item pada aspek kegiatan studi teratur mendapat skor total perolehan sebesar 680 dan mendapat nilai sebesar 10,6. Selanjutnya untuk mengetahui rata-rata perolehan nilai pada aspek kegiatan studi literatur dihitung dengan:
56 = 181+203+142+154 63x1x4
=
680 252= 2,6
Dengan demikian tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru SMA Negeri 1 Kasihan pada aspek kegiatan studi literatur tergolong pada kategori tinggi dengan nilai 2,6 pada rentang skala 2,51 - 3,25.
Total perolehan skor pada item nomor 10 yaitu guru membaca buku yang berkaitan dengan proses pembelajaran mendapat skor sebesar 203 dengan nilai 3,2 sehingga termasuk dalam kategori tinggi pada rentang skala 2,52 - 3,25. Sedangkan indikator kegiatan studi literatur pada item nomor 11 yaitu guru membaca jurnal ilmiah di perpustakaan mendapat skor sebesar 142 dengan nilai 2,2 yang tergolong dalam kategori sedang pada rentang skala 1,76 – 2,5.
Setelah melakukan wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Kasihan pada tanggal 10 November didapatkan informasi bahwa guru lebih banyak melakukan studi literatur di sela-sela jam pelajaran atau pada saat jam istirahat di ruang guru dibandingkan dengan mencari referensi di perpustakaan. Selain itu kepala sekolah juga mengungkapkan bahwa akses internet dapat digunakan di seluruh area SMA Negeri 1 Kasihan, hal ini tentu memudahkan guru untuk mengakses internet dan memperoleh informasi-informasi dan referensi baru terkait dunia pendidikan sehingga wawasan guru lebih luas.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengembangan profesi guru melalui kegiatan studi literatur dalam kategori tinggi dengan nilai 2,6 yang
57
termasuk pada rentang skala 2,51 – 3,25. Hal ini didukung dengan hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah yang mengungkapkan bahwa guru banyak yang membaca buku ataupun jurnal untuk menambah referensi baru di waktu jam istirahat.
e. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek pembuatan karya inovatif
Pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru pada aspek pembuatan karya inovatif terdiri dari 3 item penyataan. Masing-masing item penyataan yang telah dijawab memiliki skor yang berbeda-beda. Selanjutnya, untuk mengetahui analisis perolehan nilai pada aspek pembuatan karya inovatif dihitung dengan rumus:
x = �� x �� ��
Hasil analisis perolehan nilai dari masing masing item ditampilkan dalam tabel total skor perolehaan sebagai berikut:
Tabel 7. Total Skor Perolehan pada Aspek Pembuatan Karya Inovatif
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa masing-masing item pada aspek pembuatan karya inovatif mendapat skor total perolehan sebesar 556 dan mendapat nilai sebesar 8,8. Selanjutnya untuk mengetahui rata-rata perolehan nilai pada aspek kegiatan diklat dihitung dengan:
No Item
Alternatif Jawaban Skor Total
Perolehan Nilai Kategori
1 2 3 4 13 3 20 20 20 183 2,9 Tinggi 14 10 23 18 12 158 2,5 Sedang 15 4 6 13 40 215 3,4 Sangat tinggi Jumlah 556
58 = 183+158+215 63x1x3
=
556 189= 2,9
Dengan demikian tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru SMA Negeri 1 Kasihan pada aspek pembuatan karya inovatif tergolong pada kategori tinggi dengan nilai 2,9 pada rentang skala 2,51 - 3,25.
Skor tertinggi dalam indikator pembuatan karya inovatif adalah item nomor 15 yaitu guru mengikuti kegiatan diklat terkait dengan pengembangan profesi. Sub indikator ini mendapat skor sebesar 215 dengan nilai 3,4 sehingga termasuk dalam kategori sangat tinggi pada rentang skala 3,26 - 4. Sedangkan sub indikator pembuatan karya inovatif yang mendapat skor paling rendah yaitu item nomor 14 yaitu guru memodifikasi alat pelajaran sebesar 158 dengan nilai 2,5 yang tergolong dalam kategori sedang pada rentang skala 1,76 – 2,5.
Setelah dilakukan cross-check melalui wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Kasihan pada tanggal 10 November, kepala sekolah menyatakan bahwa masih jarang guru yang membuat karya inovatif seperti media pembelajaran bahkan yang berbasis TI. Guru-guru belum melakukan pengembangan profesi melalui pembuatan karya inovatif. Pengembangan yang dilakukan hanya sebatas memberikan pelatihan pembuatan alat dan media pembelajaran berbasis TI, namun untuk pembuatan produk sendiri belum dilakukan oleh guru.
59
Berdasarkan hasil wawancara dan hasil analisis skor dapat disimpulkan bahwa tingkat pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Kasihan pada aspek pembuatan karya inovatif termasuk dalam kategori tinggi dengan nilai sebesar 2,9 pada rentang skala 2,51 – 3,25.
2. Pengembangan profesi yang dilakukan oleh kepala sekolah di SMA