• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

F. Pengembangan Program

17 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Fase dalam pengembangan program bimbingan dan konseling di

sekolah, menurut Gysbers dan Haenderson (Muro & Kottman, 1995: 55-61)

ada empat fase, yaitu: (1) Perencanaan (Planning), (2) Perancangan

(Designing), (3) Penerapan (Implementing), dan (4).Evaluasi (Evaluating).

Berdasarkan hal tersebut, adapun pengembangan program bimbingan belajar

untuk meningkatkan kebiasaan belajar ini dikembangkan berdasarkan hasil

analisis kebutuhan kepada siswa kelas V SDIT Irsyadul „Ibad Pandeglang tahun ajaran 2012/2013 yang diperoleh melalui pretest dengan penyebaran

instrumen kebiasaan belajar. Struktur program yang dibuat memuat dasar

pemikiran/rasional, tujuan layanan, sistem sosial, kompetensi konselor,

penunjang teknis layanan, komponen program, materi program, sasaran

program, rencana operasional, evaluasi.

Landasan pengembangan program disusun berdasarkan hasil

analisis kebutuhan siswa setiap indikator yang memiliki kategori rendah pada

siswa. Adapun indikator yang akan dijadikan landasan pengembangan

18 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Tabel 3.5

Rancangan Pengembangan Program Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar

Aspek Indikator Materi Nama

Kegiatan

Tujuan Media Strategi Teknik Waktu

Delay Avoidance (Kebiasaan menyelesaikan tugas-tugas belajar) Ketepatan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik Cara Membuat Jadwal Belajar Membuat jadwal belajar Mampu memperioritaskan rencana-rencana belajar Format Jadwal Belajar, Pulpen Bimbingan Klasikal Diskuisi & Simulasi 1 x 40 menit Keteraturan waktu belajar Stop Menunda-Nunda Tugas Menymak Cerita Mampu menghindari penundaan terhadap tugas-tugas serta dapat menyelesaikan tepat waktu In Focus, Papan Tulis Bimbingan Klasikal Branstorming 1 x 40 menit

Pelaksanaan tugas Tips Melatih Konsentrasi

Tepuk Kosentrasi

Mampu

menghindari hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi In Focus dan alat tulis Bimbingan Klasikal Simulasi dan Permainan 1 x 40 menit Work Methode (metode belajar yang biasa digunakan)

Belajar yang efektif Trik Belajar Efektif Mengamati Gambar Mampu mengembangkan belajar efektif Handout Gambar, Alat tulis Bimbingan Kelompok Simulasi dan Diskusi 1 x 40 menit Kerja yang efisien Yuk, Kenali

Gaya Belajarmu Mengamati Vidio Gaya Belajr Mampu mengenal gaya belajar dan dapat

mengembangkan keterampilan belajar yang baik

In Focus, Film, Alat Tulis Bimbingan Kelompok Diskusi 1 x 40

19 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Kecakapan dalam teknik belajar Cara Membaca yang Efisien Membaca Efesien

Agar siswa mampu mempelajari buku teks dengan efektif

Hand Out dan Alat tulis Bimbingan Klasikal Simulasi dan Diskusi 1 x 40

20 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Program yang dikembangkan yang telah disusun, selanjutnya

diberikan pertimbangan atau judgment oleh dua pakar yakni dosen dari

Prodi Bimbingan dan Konseling dan satu praktisi yakni wali kelas,

dengan tujuan untuk menilai program dan satuan kegiatan layanan

bimbingna pribadi sosial sehingga layak diujicobakan.

Hasil judgment dari pakar dan praktisi tersebut dibuat sebagai

bahan masukan, dan perbaikan pada setiap struktur program. Dengan

penjelasan sebagai berikut.

a. Dasar Pemikiran

Pada bagian rasional dikemukakan latar belakang tentang

pentingnya program bimbingan dan konseling dalam keseluruhan

program pendidikan di sekolah. Alasan-alasan pentingnya

menggunakan melaksanakan bimbingan akademik untuk

meningkatkan kebiasaan belajar siswa.

Dasar pemikiran dengan melaksanakan program bimbingan

akademik sebagai upaya untuk meningkatkan kebiasaan belajar siswa

SD, menggambarkan data-data hasil studi pendahuluan dan angket

penelitian yang memperlihatkan kondisi dan fenomena kesadaran

siswa tentang kebiasaan belajar.

21 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Tujuan layanan dirumuskan berdasarkan hasil analisis

kebutuhan siswa, kemudian dirumuskan tujuan untuk yang akan

dicapai dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai siswa setelah

memperoleh pelayanan bimbingan dan konseling.

c. Sistem Sosial

Sistem sosial dalam pelaksanaan program bimbingan

akademik adalah kerangka batasan peran konselor-konseli yang

mengikat dalam situasi hubungan bantuan.

Konselor dan konseli dalam proses pelaksanaan program

bimbingan konseling mengembangkan kesepakatan berupa komitmen

bersama untuk menjalankan proses dengan penuh tanggung jawab.

Komitmen bersama ini menjadi dasar tercapainya keberhasilan atau

kegagalan dalam menjalani proses layanan.

Komitmen bersama yang dibangun mempertegas peran dan

tanggung jawab konselor dan konseli. Berikut ini adalah penjelasan

peran konselor dan konseli dalam seting pemberian layanan melalui

PBA.

d. Kompetensi Konselor

Kompetensi konselor dalam pelaksanaan program bimbingan

22 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

terkadung atau melekat pada karakteristik pribadi konselor itu sendiri,

dan dapat dikembangkan melalui pendidikan (Supriatna, 2010: 65).

Berikut ini adalah kompetensi konselor dalam pelaksanaan

program bimbingan akademik, yang diadaptasi dari hasil penelitian

Supriatna (2010: 65) disesuaikan dengan focus penelitian untuk

meningkatkan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar, kompetensi

tersebut adalah sebagai berikut.

1) Konselor memahami potensi diri konseli, baik yang menunjang

maupun menghambat bagi perkembangan kehidupannya.

2) Konselor mampu mengidentifikasi profil kebiasaan belajar siswa

sekolah dasar, yang meliputi : kebiasaan sebelum belajar, kebiasaan

belajar diwaktu senggang, kebiasaan belajar bersama, kebiasaan

belajar di kelas, kebiasaan belajar kelompok, kebiasaan belajar

dirumah.

3) Konselor mampu mengkomunikasikan gagasan melalui ungkapan

pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang mendorong konseli

berperan serta dalam proses layanan.

4) Konselor terampil dalam menggunakan pengalaman baik yang

berasal dari riwayat kehidupan, bacaan, simakan, maupun tontonan

23 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

5) Konselor memahami makna atau keterkaitan antara nilai-nilai yang

terungkap dalam proses bantuan dengan pengalaman keseharian

konseli.

6) Konselor mampu menunjukkan penghargaan dan sikap positif

terhadap upaya, keputusan, dan atau perubahan konseli kea rah

yang lebih baik.

e. Penunjang Teknis Layanan

Pelaksanaaan prorgam bimbingan akademik membutuhkan

sarana penunjang yang membantu keterlaksanaan dan ketercapaian

program bimbingan akademik untuk meningkatkan kebiasaan belajar

siswa sekolah dasar.

Proses pelayanan dalam seting bimbingan akademik pada

dasarnya bukan hanya sekedar proses mengajarkan nilai-nilai sebagai

suatu pengetahuan (knowledge) kepada konseli,melainkan bagaimana

pengetahuan mengenai nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan

sebagai bagian yang melekat pada dirinya, sehingga berpengaruh

terhadap cara berpikir, merasa, dan bertindak (Supriatna, 2010:67)

Kerangka kerja pelaksanaan program bimbingan akademik

24 Isuti Rachman, 2013

Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Kebiasaan Belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

psikologis guidance/psychoeducational group) yang digagas oleh

Gazda (Supriatna,2010:67), tujuan dari penggunaan aktivitas

kelompok ini adalah untuk pengembangan kecakapan hidup (termasuk

kebiasaan belajar).

f. Komponen Program

Komponen program dalam pelaksanaan Bimbingan dan

Konseling meliputi: 1) komponen pelayanan dasar bimbingna, 2)

komponen perencanaan individual, 3) komponen pelayanan responsif,

dan 4) komponen dukungan sistem (manajemen).

Komponen program yang dijabarkan dalam program

mengacu pada model bimbingan komprehensif. Program layanan

memfokuskan pada layanan responsif, namun dalam strukturnya tetap

menggunakan seluruh komponen.

Dokumen terkait