1. PENDAHULUAN
4.9. Pengembangan Silvofishery Di Masa Yang Akan Datang
Pengembangan silvofishery masa yang akan datang di lokasi penelitian (dusun Sungai Burung) sebenarnya dapat dikembangkan dengan metode
dibagian pinggiran kolam dengan ditengah-tengahnya ditanami pohon mangrove (komposisi 20% budidaya dan 80% penanaman mangrove).
Perencanaan dan pengelolaan silvofishery dengan metode polyculture ini perlu disosialisasikan dengan benar. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman dan cara penadang petambak tradisional tentang alternative upaya penyelamatan lingkungan melalui kegiataan yang menggambungkan unsur konservasi dan budidaya pada suatu tempat yang sama. Keberhasilan kegiatan
silvofishery dengan metode polyculture ini, akan sangat bergantung pada
bimbingan dan penyuluhan yang diberikan secara terus-menerus oleh pemerintah maupun oleh PT. CPB melalui divisi lingkungan hidup.
5.
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Sungai Burung, Kabupaten Tulang Bawang, pesisir timur Propinsi Lampung, maka dapat disimpulkan sebagai bahwa pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tulang Bawang dengan kombinasi pemanfaatan lahan pesisir dengan upaya penyelamatan lingkungan melalui silvofishery, memiliki manfaat yang cukup besar baik ditinjau dari segi biofisik (total produktifitas serasah 18.73 gr/m2/hari dengan laju dekomposisi berkisar antara 0.02-0.002 gr/hari, kandungan unsur hara dari serasah daun 8.2 gr C, 0.20 gr N, and 0.05 gr P dan pakan alami ditemukan 14 jenis plankton, 11 jenis perifiton dan 1 jenis benthos) maupun dari segi manfaat ekonomi sebesar Rp. 3 009 825.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka ada beberapa hal yang dapat disarankan sebagai berikut:
1. Perlu diperbanyak plot lahan budidaya yang dikombinasikan dengan
kegiatan silvofishery di sepanjang pesisir Kabupaten Tulang Bawang 2. Perlu dilakukan penelitian tentang silvofishery dengan sistem polyculture,
dimana dalam pemanfaatannya tidak hanya berfokus pada organisme budidaya seperti ikan, udang dan kepiting namun bisa juga dikombinasikan dengan budidaya rumput laut, sehingga nantinya dapat menghasilkan manfaat nilai ekonomi langsung yang lebih besar lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Andren O. and Paustian K. 1987. Barley straw decomposition in the field: a comparison of models. Ecology, 68: 1190-1200
Alaerst G, Santika S. 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional. Surabaya. Ashton EC, Hogarth PJ, Ormond R. 1999. Breakdown of Mangrove Leaf Litter in
a Managed Mangrove Forest in Peninsular Malaysia. Hydrobiologia 413: 77-88.
Bengen DG. 2000. Sinopsis Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data
Biofisik Sumberdaya Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut
IPB, Bogor, 88 hlm.
Bengen,DG. 2001. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Lautan. PKSPL-IPB. Bogor.
Boyd CE, 1982. Water Quality in warm Water Fish Ponds. Auburn University
Agricultural Experimental Atation. Auburn, Alabama, 359p.
Bunyavejchewm S, Nuyim T. 2001. Litter Production in a Primary Mangrove
Rhizophora apiculata forest in Southern Thailand. Silvicultural Research
Report.28-38.
Carnevale NJ & Lewis JP. 2000. Litterfall and Organic matter Decomposition in a Seasonal Forest of The Eastern Chaco (Argentina). Revista de Biologia
Tropical. Rev.biol.trop v.49 n.1
Conner WH, Day JW. 1992. Water Level Variability and Litterfall Productivity of Forested Freshwater Wetland in Louisiana. American Midland Naturalist,
Vol. 128, No. 2 (Oct., 1992).
Dahuri R. dan Arumsyah S., 1994. Ekosistem Pesisir. Makalah pada Marine and Management Training. PSL-Undana. Kupang. NTT.
Darojah Y. 2005. Keanekaragaman Jenis Makrozobenthos di Eksosistem Perairan
Rawapening Kabupaten Semarang. Conservation, research. Education.
Campaign, and Documentation of Mangrove. Universitas Diponegoro.
Djamaludin R. 1995. Fungal Ecology. Chapmann and Hall. London, Glasgow, Weinheim, New York, Tokyo, Melbourne, Madras.
Edmonson WT. 1956. Freshwater Biology 2nd edition. John Wiley and Sons Inc. New York.
Effendi H. 2000. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumeberdaya dan
Lingkungan Perairan. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor. Hal 259.
Fajariyanto Y. 2008. Studi Kepadatan Perifiton pada Akar dan Batang Mangrove
di Vegetasi Mangrove Muara Sungai Ijo Bodo. Conservation, research.
Education. Campaign, and Documentation of Mangrove. Universitas
Diponegoro.
Fitzgerald, William J. 1997. Silvofisheries an Environmentally Sensitive Integrated Mangrove Forest and Aquaculture System, Aquaculture Asia, July-September. P.9.
Gunarto. 2004. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. Jurnal Litbang Pertanian, 23(1).
http://mangrove.unila.ac.id. Mangrove Center. Lampung. 30 Maret 2009
Hynes HBN. 1972. The Ecology of Running Waters. Universty Toronto Press. Toronto.
Indriyanto. 2004. 4.700 Ha Hutan Bakau di Lampung Rusak, Lampung Post,
Lampung.
Jensen V. 1974. Decomposition as Angiospermae Tree Leaf Litter. In: Biology of Plant Litter Decomposition (Dickinson, C.H. dan G.J.F. Pugh, Eds). Vol. 2 Academic Press. London.
Juman R A. 2005. Biomasslitterfall and decomposition rates for the friged
Rizophora mangle forest lining the Bon Accord Lagoon, Tobago. Tropical
Biology.Vol. 53 (Suppl. 1): 207-217.
Kinne O. 1972. Marine Ecology. John Wiley & Sons Limited. London.
Krebs CJ. 1972. Ecology: The Experimental Analysis of Distribution and
Abundance. Institute of Animal Resource Ecology. The University of
British Columbia. New York.
Kuriandewa T.E. 1998. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Kawasan Margasatwa Sembilang, Propinsi Sumatera Selatan. Bidang Sumberdaya Laut, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta
Mason CF. 1976. Decomposition. Departemen of The Environment. Oxford. 243 p.
Melillo. 1982. Nitrogen and Lignin Control of hardwood leaf Litter Decomposition Dynamics. Ecology 63:621-626.
Molles M. 1999. Ecology Concepts and Application. Mexico: The Mc Graw Hill Companies Inc
Murdiyanto B, 2003, Mengenal, Memelihara, dan Melestarikan Ekosistem Bakau, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Nofianto D. 2008. Krisis Hutan Mangrove, Lampung Makin Terancam. Kabar Indonesia. Lampung.
Nybakken JW., 1998. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologi. Penerbit CV.
Gramedia. Jakarta. Penterjemah Eidman, Koesoebiono, DG. Bengen, M Hutomo dan S. Sukarjo. Hal 458.
Odum EO. 1971. Fundamental of Ecology. Toppan Company Ltd. Tokyo.
Odum WE. and Heald EJ. 1975. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. Estuarine Research (1): 256 - 286.
Odum EP. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Terjemahan Tjahjono Samingan. Edisi
Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Oladoye AO, Olaadam BA, Adedire MO, & Agboola DA. 2001. Nutrient Dinamic and Litter Decomposition In Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit Plantation in The Nigerian Derived Savanna. West African Journal of
applied Ecology. Vol.13
Palma RM, Prause J, Fontanive AV, & Jimenez MP. 1998. Litterfall and Litter
Decomposition in a Forest of The Parque Chaqueno Argentino. Forest
Ecology and Management. Vol.106
Pribadi R. 1998. The Ecology of Mangrove Vegetation in Bintuni Bay, Irian Jaya, Indonesia. Departemen of Biological and Molecular Sciences-University of Stirling. Scotland. Page 53-54.
Pirzan AM. 2008. Hubungan Keragaan Fitoplankton dengan Kualitas Air di Pulau Baulaung, Kabupaten Takalar, Propinsi Sulawesi Sealatan.
Biodiversitas.Vol.9. No.3.Hal.217-221.
Rahayu S. 1991. Penelitian Kadar Oksigen Terlarut (DO) Dalam Air Bagi Kehidupan Ikan. BPPT No. XLV/1991. Jakarta.
Ribeiro C, Madiera M, Araujo MC. 2002. Decomposition and Nutrient Release from Leaf Litter of Eucaliptus globules Grown Under Different Water And Nutrient Regimes. Forest Ecologycal Management 171:31-41
Ruttner F. 1974. Fundamental of Limnology. University of Toronto Press. Torronto.
Sanim B. 1997. Metoda Valuasi Ekonomi Sumberdaya dan Jasa-jasa Lingkungan Wilayah Pesisir. Makalah Pelatihan ICZPM, 25 November - 9 Januari 1997. PKSPL IPB - Ditjen Bangda, Jakarta.
Sastrawijaya TA. 1991. Pencemaran Lingkungan. Bineka Cipta. Jakarta.
Sachlan M. 1999. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang.
Simangunsong SJD. 1994. Studi Struktur Estuari Komunikasi Plankton dan
Klorofil A di Perairan Estuari Muara Jaya pada Bulan Nopember 1993. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. fakultas Perikanan IPB. Tidak dipublikasikan. 72 hal.
Soerianegara I. dan A Indrawan. (1998). Ekologi Hutan Indonesia. Bogor.Laboratorium Managemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.
Soeroyo. 1988. Faktor Iklim Terhadap Produksi Serasah Mangrove. Meningkatkan Perairan dan Pemanfaatan Iklim untuk Mendukung Pengembangan Pertanian tahun 2000. Prosiding. Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia. Jakarta.
Southwich CH. 1976. Ecology and The Quality of Our Environment. Second Edition. D. van Nostran Company. New York.
Steenis CJJ. 1958. Ecology (the introductory part to the monograph of Rhizophoraceae by Ding Hou), Flora Malesiana 5: 431-441.
Steenblock D. 2000. Chlorella: Makanan Sehat Alami (terjemahan). PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Suberkopp, et al. 1976. Change in the Chemical Composition of Leave During
Processing in Woodland Stream. Ecology 57:720-727.
Sukarjo. 1996.The Relationship of Litterfal to Bassal Area and Climatic Variabels in the Rhizophora Mucronata Lamarck Plantataion at Tritih, Central Java,
Indonesia. The Centre for Oceanological Research and Development.
Indonesian Institute of Science. Vo. 34. No.2.
Sulardiono B. 1997. Evaluasi beban Pencemaran dan Kualitas Perairan Pesisir Kotamadya Semarang. Tesis SPs IPB. Bogor.
Sulistyanto, et al. 2005. Laju Dekomposisi dan Pelepasan Hara dari Serasah pada
Sub Tipe Hutan Rawa Gambut di Kalimantan Tengah. Jurnal Manajemen
Sutamihardja RTM. 1992. Pengelolaan Kualitas dan Pencemaran Air. Seminar on Industry Water Pollution Control and Water Quality Management.
Ulqodry TZ. 2008. Produktifitas Serasah mangrove dan Potensi Kontribusi Unsur Hara di Perairan Mangrove Tanjung Api-Api Sumatera Selatan. Bogor. Tesis.
Wafar A, Untawale AG, Wafar M. 1996. Litter Fall and Energy Flux in a mangrove Ecosystem. Estuarine, Coastal and Shelf Science 44, 111-124. Wardoyo STH. 1987. Kriteria Kualitas Air untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Makalah pada Seminar Pengendalian Pencemaran Air.
Dirjen Pengairan. Departmen Pekerjaan Umum. Bandung.
Wetzel RG. 1979. Periphyton Measurement and Aplications. In Methods and Measurement of Periphyton Communities. American Society for Testing and Animal. Philadelphia.
Wetzel RG. 1982. Limnology. Second Edition. Sounders College Publ. Oxford. Philadelphia.
Welch EB, and T Lindell. 1980. The Ecological Effect of Waste Water. Cambridge University Press. Cambridge.
Wirosaputro S. 1998. Chlorella: Makanan Kesehatan Global Buku I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wulan P, Gozan M, Arby B &Achmad B. 2004. Penentuan Rasio Optimum C:N:P Sebagai Nutrisi Pada Proses Biodegradasi Benzene-Toluena dan Scale Up Kolom Bioregenerator. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
Zamroni Y, Rohyani IS. 2008. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Perairan
Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat. Biodiversitas. Volume 9, Nomor 4.