• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provins

D. Kawasan Budidaya

3.4 ARAHAN RTRW PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

3.4.1 Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provins

Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan terdiri dari :

RAN

AKHI

R

1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN)

Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi yang didasarkan pada kriteria:

a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional;

b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; dan/atau c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama

transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi.

Dalam RTRWN (PP No. 26 Tahun 2008) ditetapkan Kota Banjarmasin sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Penetapan Kota Banjarmasin sebagai PKN karena Kota Banajrmasin merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan yang tentunya mempunyai sarana dan prasarana dengan tingkat pelayanan regional maupun nasional dan dengan jumlah pendduk pada tahun 2010 berjumlah 638.902 jiwa menjadikan Kota Banjarmasin sebagai Kota Besar sesuai dengan kriteria kawasan perkotaan besar yang ditetapkan dengan kriter.i Antasaria jumlah penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) jiwa.

Standar infrastruktur minimal yang dimiliki Pusat Kegiatan Nasional (PKN), antara lain memiliki bandar udara pusat penyebaran sekunder, dan/atau pelabuhan nasional/utama tersier dan/atau terminal penumpang tipe A, pasar induk antar wilayah, perbankan nasional dan/atau internasional, rumah sakit umum tipe A dan sarana pendidikan berupa perguruan tinggi S-1.

Standar pelayanan tersebut telah dimiliki oleh Kota Banjarmasin antara lain adanya Pelabuhan Trisakti, terminal penumpang tipe A KM 6, pasar sentra Antasari, adanya Bank Indonesia dan adanya Universitas Lambung Mangkurat dan Institut Agama Islam Negeri.

2. Pusat Kegiatan Nasional promosi (PKNp)

Selain sistem perkotaan nasional tersebut juga direncanakan dan dipersiapkan peningkatan pengembangan pusat kegiatan yang dipromosikan untuk dikemudian hari dapat ditetapkan sebagai PKN, terdiri atas :

a. Kota Martapura (Kabupaten Banjar) sebagai kota inti Kawasan Metropolitan

AKHI

R

pemerintahan kabupaten, jasa pariwisata nasional, jasa dan perdagangan nasional, kegiatan keagamaan regional dan nasional.

b. Kota Banjarbaru sebagai kota inti Kawasan Metropolitan Banjar Bakula dengan

fungsi pusat pemerintahan provinsi, industri nasional, perdagangan regional dan nasional, jasa transportasi udara nasional, dan pendidikan tinggi.

c. Kota Batulicin (Kabupaten Tanah Bumbu) sebagai Pusat Kawasan Strategis

Nasional dengan fungsi sebagai pusat jasa, industry dan perdagangan regional dan nasional, pemerintahan lokal, pelayanan wilayah belakang.

Pusat Kawasan Strategis Nasional ditetapkan dengan kriteria :

 Pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan

negara tetangga;

 Pusat berkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang

menghubungkan dengan negara tetangga;

 Pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang

menghubungkan wilayah sekitarnya, dan/atau

 Pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat

mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.

Dalam menunjang pelaksanaan tersebut maka status Kota Banjarbaru dan Kota Martapura perlu ditingkatkan menjadi PKN dan menyatukan dengan kota Banjarmasin bersama serta ibukota kecamatan di sekitarnya menjadi satu kesatuan kawasan pengembangan Metropolitan Banjar Bakul dalam perubahan RTRW Nasional (PP No. 26 Tahun 2008) yang akan datang.

Standar infrastruktur minimal yang dimiliki Pusat Kegiatan Nasional (PKN) antara lain Terminal Penumpang Tipe A, Pasar Induk Regional, Perbankan Regional dan/atau Nasional, Rumah Sakit Umum Tipe B, Sekolah Menengah Umum/Kejuruan.

3. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota yang didasarkan pada kriteria:

a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN;

RAN

AKHI

R

b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten; dan/atau

c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten.

Dalam RTRWN (PP No. 26 Tahun 2008) ditetapkan Kota Kota Marabahan

(Kabupaten Barito Kuala), Martapura (Kabupaten Banjar), Amuntai (Kabupaten

Hulu Sungai Utara), dan Kotabaru (Kabupaten Kotabaru) sebagai Pusat Kegiatan

Wilayah (PKW).

Penetapan PKW selain sebagai ibukota kabupaten juga disebabkan posisi strategis ibukota kabupaten tersebut berbatasan langsung dengan provinsi tetangga dalam hal ini Provinsi Kalimantan Tengah maupun Provinsi Kalimantan Timur dan mempunyai fungsi pelayanan regional.

Standar infrastruktur minimal yang dimiliki Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) antara lain : adanya bandara pusat penyebaran tersier dan/atau pelabuhan regional/pengumpan primer dan/atau terminal penumpang tipe B, pasar induk regional, perbankan regional dan/atau nasional, rumah sakit umum tipe B, perguruan tinggi D-3.

Standar pelayanan minimal pada masing-masing PKW tidak sama, yaitu :

a. PKW Martapura merupakan pusat pendidikan pondok pesantren, pusat kerajinan

dan penjualan batu permata;

b. PKW Amuntai merupakan pusat kerajinan anyaman, pusat pendidikan pondok

pesantren, pusat perdagangan diwilayah perbatasan Kalimantan Tengah;

c. PKW Marabahan merupakan

d. PKW Kotabaru merupakan

4. Pusat Kegiatan Wilayah promosi (PKWp)

Selain sistem perkotaan provinsi tersebut juga direncanakan dan dipersiapkan peningkatan pengembangan pusat kegiatan yang dipromosikan untuk dikemudian hari dapat ditetapkan PKW, terdiri atas : adalah Kota Barabai (Kabupaten Hulu Sungai Tengah) sebagai pusat layanan Banua Anam dengan fungsi dengan fungsi pusat perdagangan regional Banua Anam, pemerintahan kabupaten, pelayanan jasa kesehatan regional dan kota transit.

AKHI

R

Dalam menunjang pelaksanaan tersebut maka status Kota Barabai sebagai PKW dalam perubahan RTRW Nasional (PP No. 26 Tahun 2008) yang akan datang.

5. Pusat Kegiatan Lokal

Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk

melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatanyang didasarkan

pada kriteria:

a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan; dan/atau

b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan.

Dalam revisi RTRWP KalSel rencana pengembangan sistem perkotaan provinsi meliputi PKL sebagaimana ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi terdiri dari Kota

Banjarbaru, Rantau (Kabupaten Tapin), Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai

Selatan), Barabai (Kabupaten Hulu Sungai Tengah), Tanjung (Kabupaten

Tabalong), Paringin (Kabupaten Balangan), Pelaihari (Kabupaten Tanah Laut),

Batulicin (Kabupaten Tanah Bumbu);

Sistem perkotaan provinsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berada di :

a. Kota Banjarbaru dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi, industri nasional,

perdagangan regional dan nasional, jasa transportasi udara nasional, dan pendidikan tinggi;

b. Kota Rantau (Kabupaten Tapin) sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dengan

fungsi pusat pemerintahan kabupaten, perdagangan lokal, pelayanan wilayah belakang;

c. Kota Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) sebagai Pusat Kegiatan Lokal

(PKL) dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten, industri regional, pelayanan wilayah belakang, perdagangan lokal dan jasa pariwisata regional;

d. Kota Barabai (Kabupaten Hulu Sungai Tengah) dengan fungsi pusat perdagangan

regional Banua Anam, pemerintahan kabupaten, pelayanan jasa kesehatan regional, kota transit;

e. Kota Tanjung (Kabupaten Tabalong) sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dengan

RAN

AKHI

R

f. Kota Paringin (Kabupaten Balangan) sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dengan

fungsi pusat perdagangan lokal, pemerintahan local, pelayanan wilayah belakang;

g. Kota Pelaihari (Kabupaten Tanah Laut) sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

sebagai pusat jasa, industry dan perdagangan regional, pemerintahan lokal, pelayanan wilayah belakang;

h. Kota Batulicin (Kabupaten Tanah Bumbu) sebagai pusat jasa, industry dan

perdagangan regional dan nasional, pemerintahan lokal, pelayanan wilayah belakang.

Standar Infrastruktur Minimal yang dimiliki Pusat Kegiatan Lokal (PKL), antara lain : Bandara Perintis, dan/atau Pelabuhan Lokal/Pengumpan Sekunder dan/atau Terminal Penumpang Tipe C, Pasar Induk Lokal, Perbankan Lokal dan/atau Regional, Rumah Sakit Umum Tipe C, Sekolah Menengah Umum/Kejuruan.

Kota-kota lainnya yang dikembangkan adalah ibukota kecamatan yang berkembang baik dari pengaruh penjalaran atau perembetan dari ibukota kabupaten/kota maupun karena adanya bangkitan-dan tarikan baru seperti pelabuhan laut, pusat perdagangan dan pusat transit seperti Kota Margasari, Negara, Alabio, Danau Panggang, Kelua, Astambul, Binuang, Pantai Hambawang, Anjir Pasar, Alalak, Handil Bakti, Kertak Hanyar, Gambut, Pengaron, Liang Anggang, Bati-Bati, Jorong, Takisung, Kintapura, Sungai Danau, Pagatan, Tanjung Samalantakan, Gunung Batu Besar, Manggalau, Sengayam

Berdasarkan paparan diatas, maka kedudukan Kabupaten Kotabaru dalam RTRW Provinsi Kalimantan Selatan direncanakan atau diarahkan memegang peranan dan

fungsi sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) adalah

kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota yang didasarkan pada kriteria:

a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN;

b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten; dan/atau

c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten.

AKHI

R

Dokumen terkait