• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN STANDAR SARANA DAN PRASARANA

Dalam dokumen Laporan BSNP Tahun 2009 – BSNP Indonesia (Halaman 57-103)

StANDAr SArANA

PrASArANA

PENDiDikAN tiNggi:

ProgrAm SArjANA

BAB 4

PENGEMBANGAN STANDAR

SARANA PRASARANA

PENDIDIKAN TINGGI:

PROGRAM SARJANA

A| Pendahuluan

Mutu pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah dosen, sarana dan prasarana, manajemen dan waktu belajar (Bank Dunia, 1989). Secara umum di Indonesia keempat faktor terse- but belum memadai untuk mencapai pembelajaran yang baik guna meningkatkan mutu pendidikan.

Berdasarkan data dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tahun 2008, perguruan tinggi di Indonesia berjum- lah 3230 dengan perincian 82 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), 2819 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), 50 Perguruan Tinggi Agama negeri (PTAN), 219 Perguruan Tinggi Agama Swasta (PTAS), dan 60 Pergu- ruan Tinggi Kedinasan (PTK). Dari jumlah tersebut baru 2.5% yang telah diakreditasi oleh BAN-PT. Sedangkan jumlah program studi sebanyak 17128 dan yang telah terakreditasi mencapai 54.2%. Jum- lah perguruan tinggi dan program studi tersebut diperkirakan akan meningkat sesuai dengan peningkatan animo masyarakat untuk masuk perguruan tinggi. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan per- guruan tinggi di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dari 82 PTN pada tahun 2008 menjadi 83 PTN dan dari 2819 PTS menjadi 2.909 PTS. Sementara itu, kualitas perguruan tinggi tersebut sangat beragam baik dari sisi penyelenggaraan, proses, sarana dan prasarana,

serta lulusannya. Keragaman kondisi sarana dan prasarana Perguruan Tinggi dapat dilihat mulai dari sarana dan prasarana yang sangat layak sampai pada yang sangat tidak layak. Misalnya, ada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan di Rumah Toko (Ruko), di rumah, tidak memiliki laboratorium, tidak memiliki ruang terbuka dan banyak lagi. Kondisi ini sudah barang tentu akan merugikan peserta didik karena tidak menerima layanan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

Rendahnya mutu pendidikan tersebut di atas disebabkan antara lain sarana dan prasarana yang belum memadai. Hal ini karena be- lum adanya kriteria minimal sarana dan prasarana pendidikan tinggi yang menjadi acuan dari setiap perguruan tinggi dalam penyeleng- garaan program pendidikan. Atas dasar kenyataan itu, perlu disusun standar sarana dan prasarana perguruan tinggi di Indonesia, agar ke- beradaan sarana dan prasarana mampu mendukung pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Standar sarana dan prasarana pendidikan tinggi merupakan salah satu dari delapan standar pendidikan yang harus disiapkan oleh Badan Standar Nasio- nal Pendidikan (BSNP) berdasarkan amanat yang dituangkan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Standar sarana dan prasarana ini disusun untuk lingkup perguru- an tinggi yang berbentuk sekolah tinggi, institut, dan universitas yang menyelenggarakan pendidikan akademik pada jenjang sarjana S1.

B| Landasan Penyusunan Standar

1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2. Undang-Undang RI Nomor 9 tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan

3. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasio- nal Pendidikan

C| Tujuan dan Fungsi Standar

Tujuan standar sarana dan prasarana pendidikan tinggi adalah untuk:

1. Menentukan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana mini- mal yang harus dimiliki perguruan tinggi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

2. Mendukung tercapainya mutu pendidikan.

Fungsi standar sarana dan prasarana adalah sebagai acuan dasar yang bersifat nasional bagi semua pihak yang berkepentingan dalam:

1. Perencanaan dan perancangan sarana dan prasarana,

2. Pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasara- na,

3. Pengawasan ketersediaan dan kondisi sarana dan prasarana.

D| Hasil yang Dicapai

Kegiatan ini menghasilkan naskah akademik dan standar sara- na dan prasarana perguruan tinggi yang berbentuk sekolah tinggi, institut, dan universitas yang menyelenggarakan pendidikan akade- mik pada jenjang sarjana S1.

E| Tim Ahli

1. Anggota BSNP

No Nama Asal Institusi

1 Edy Tri Baskoro, Prof. Dr (Koordinator) ITB 2 Suharsono, Dr., MM., M.Pd STIBA 3 Bambang Soehendro, Prof.Dr UGM

4 Zaki Baridwan, Prof. Dr UGM

5 Anggani Sudono, Dr Al-Izhar

6 Weinata Sairin, Pdt., M.Th LAI 7 Komaruddin Hidayat, Prof. Dr UIN Jakarta

2. Tim Ahli

No Nama Instansi Keterangan

1. Bambang Suryadi, Ph.D UIN Jakarta/Psikologi Ketua 2. Drs. Moerdiyanto, MPd. MM. UNY/Ekonomi Wakil Ketua 3. Paramita Atmodiwiryo, March. Ph.D UI/Arsitek Sekretaris 4. Ir. Eko Purnomo, MS.Arch.S ITB/Arsitek Anggota

5. Dr. Suyanta UNY/Fisika Anggota

6. Prof. Dr. Munoto Unesa/Teknik Anggota 7. Dra. Indun Lestari Setyono, M.Psi Unpad/Psikologi Anggota 8. Ari Moesriami Barmawi, Ph.D STT TELKOM Anggota 9. Dr. Ahmad Rum Bismar, M.Pd UNM/Olahraga Anggota 10. Prof. Dr. Hamam Hadi UGM/Kedokteran Anggota 11. Dr. Danny Meirawan UPI/Teknik Anggota 12. Drs. Nathan Hendarto, PhD Unnes/MIPA Anggota 13. Dr. Ir. Yazid Bindar,M.Sc ITB/Teknik Kimia Anggota 14. Ir. Denni Zulkaidi, MUP ITB/Teknik Planologi) Anggota 15. Drs. Zulikar Zen, MA UI/Perpustakaan Anggota 16. Prof. Dr. Thamrin Abdullah UNJ/Ekonomi Anggota 17. Prof. Dr. Ir. Johny Wahyuadi UI Anggota 18. Dr. Gaguk Margono UNJ/Matematika Anggota 19. Prof. Dr. Anita Yuliati,drg.,M.kes UNAIR/Kedokteran Gigi Anggota

F| Metode Penyusunan Standar

Penyusunan standar sarana dan prasarana pendidikan tinggi di- lakukan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan, standar isi, dan standar proses untuk pendidikan tinggi. Standar sarana dan prasarana minimum juga mempertimbangkan perubahan paradig- ma pendidikan tinggi, dan pengelolaan badan hukum pendidikan tinggi di Indonesia. Selain itu, Untuk mencapai kompetensi minimum lulusan setiap program studi, maka Standar kompetensi minimum dari Badan Akreditasi Nasional (BAN), perguruan tinggi dan asosiasi profesi terkait juga menjadi pertimbangan untuk menentukan sara- na dan prasarana minimum yang harus disediakan. Selain memper- timbangkan standar dan ketentuan penyediaan sarana dan prasa- rana minimum yang telah ada di Indonesia (yang ditetapkan oleh

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi), sumber literatur mengenai pedoman/standar sarana dan prasarana pendidikan tinggi di negara lain juga dikaji untuk memperoleh gambaran standar yang berlaku di negara maju. Kajian teoretis akan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan tinggi dilakukan dengan memperhatikan aspek psikolo- gis perkembangan kejiwaan peserta didik dan proses kegiatan pem- belajaran pada umumya, serta keahlian pada disiplin ilmu masing- masing pada khususnya. Secara ringkas metode penyusunan standar tersebut dapat diilustrasikan dalam diagram berikut ini.

B adan S tandar N asional P endidikan

Validasi & Uji Publik STANDAR SARANA DAN PRASARANA PT Paradigma Pembelajaran K e ra n g k a S ta n d a r K o m p o n e n S a ra n a d a n P ra sa ra n a S p e sifik a si S ta n d a r RANCANGAN STANDAR SARANA & PRASARANA PENDIDIKAN TINGGI S ta n d a r P e n d id ik a n : • S ta n d a r K o m p e te n si L u lu sa n • S ta n d a r Isi • S ta n d a r P ro se s • S ta n d a r K o m p e te n si o le h P T d a n A so sia si P ro fe si

P rin sip -p rin sip S ta n d a r K a jia n Te o ritis S ta n d a r A tu ra n te n ta n g P e m b u k a a n P T K a ji B a n d in g S a ra n a d a n P ra sa ra n a P T K o n d isi N ya ta S a ra n a d a n P ra sa ra n a P T d i In d o n e sia Fungsi Pendidikan Tinggi A k re d ita si B A N P T P e d o m a n S a ra n a & P ra sa ra n a P T

METODE PENYUSUNAN STANDAR

G| Tahapan Penyusunan Standar

Kegiatan penyusunan standar sarana dan prasarana pendidikan tinggi terdiri atas sembilan tahapan. Diawali dengan penyusunan desain dimana seluruh tim ahli melakukan brainstorming untuk mendapatkan gambaran awal tentang draf standar sarana dan pra-

sarana tersebut. Pada tahapan ini, Ketua BSNP memaparkan standar nasional pendidikan, peran, fungsi dan wewenang BSNP. Sedang- kan anggota BSNP yang menjadi koordinator kegiatan menjelaskan peran dan fungsi tim ahli dalam penyusunan panduan penilaian pendidikan kesetaraan sehingga terwujud persamaan persepsi dan langkah di kalangan tim penyusun panduan. Kegiatan ini diseleng- garakan di Jakarta, dari tanggal 26 sampai dengan 28 Februari 2009. Kegiatan kedua adalah kajian bahan dasar, diselenggarakan di Ja- karta dari tanggal 14-16 Maret 2009. Kajian bahan dasar meliputi ka- jian aspek yuridis dan empiris yang meliputi data-data dari lapangan dan intansi terkait seperti BAN-PTdan DIKTI. Berdasarkan bahan dasar yang terkumpul, tim menyusun draf standar (tahapan ketiga) yang berlangsung dari tanggal 24-26 April 2009 di Jakarta.

Pada tahapan keempat yang berlangsung dari tanggal 15-17 Mei 2009 di Jakarta, tim ahli mengundang 16 reviewer untuk mene- laah dan member masukan terhadap draf standar tersebut. Reviewer tersebut berasal dari Jakarta (8 orang), dalam Jawa (6 orang), dan luar Jawa (2 orang). Berdasarkan masukan dari para reviewer, tim ahli melakukan perbaikan dan penyempurnaan draf. Kemudian ketua, wakil ketua, dan sekretaris tim ahli memaparkan draf tersebutu dalam rapat pleno BSNP (26 Mei 2009) untuk mendapatkan pandangan dan masukan dari seluruh anggota BSNP.

Kegiatan kelima adalah validasi draf standar sarana dan prasa- rana pendidikan tinggi di 15 provinsi (4 dalam Jawa dan 11 luar Jawa) dari tanggal 27-29 Juni 2009. Di masing-masing provinsi meli- batkan 3 orang dari tim ahli dan 40 peserta dari berbagai program studi di perguruan tinggi. Tujuan kegiatan validasi ini adalah untuk mendapatkan masukan, kritikan dan saran guna menyempurnakan draft standar.

Pada tahapan berikutnya, masukan dan saran yang telah ter- kumpul melalui kegiatan validasi tersebut dianalisis oleh tim ahli pada tanggal 29-31 Juli 2009 di Jakarta. Tahap berikutnya adalah

pembahasan draf standar dengan unit utama pada tanggal 11-13 September 2009. Tahapan ini melibatkan 16 reviewer, dari unit ter- kait, diantaranya Direktorat Akademik (DIKTI) dan Direktorat Pendi- dikan Islam Departemen Agama.

Sebelum dilakukan uji publik draf stadar tersebut dipresentasi- kan dalam rapat pleno BSNP pada tanggal 13 Oktober 2009. Uji pub- lik (tahapan kedelapan) yang diselenggarakan di Jakarta dari tanggal 24-26 Oktober melibatkan 50 peserta dari 25 provinsi. Mereka me- wakili berbagai unsur, misalnya unsur program studi pada perguruan tinggi negeri dan swasta, asosiasi profesi, Ditjen DIKTI, Biro Hukum Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pembinaan Agama De- partemen Agama, dan praktisi pendidikan.

Berdasarkan masukan dan saran dari peserta uji public, tim ahli melakukan revisi dan perbaikan draf standar. Tahapan ini merupakan tahapan terakhir yang disebut sebagai inalisasi draf standar sara- na dan prasarana pada tanggal 14-16 Oktober 2009 di Jakarta. Se- cara singkat, sembilan tahapan kegiatan tersebut dipaparkan dalam matrik sebagai berikut.

No Kegiatan Waktu Tempat

1 Penyusunan Desain 26-28 Februari 2009 Jakarta 2 Kajian Bahan Dasar 14-16 Maret 2009 Jakarta 3 Penyusunan Draf Standar 24-26 April 2009 Jakarta 4 Reviu dan Perbaikan Draf Standar

Reviwer: DKI Jakarta 8, Dalam Jawa 6, dan Luar Jawa 2

15-17 Mei 2009 Jakarta

Presentasi draf di BSNP 26 Mei 2009 BSNP 5 Validasi Draf Standar

15 Provinsi (4 dalam Jawa dan 11 luar Jawa). Peserta daerah: 40 orang

Panitia daerah: 5 orang Anggota/Tim Ahli : 3 orang

27-29 Juni 2009 Daerah

No Kegiatan Waktu Tempat

7 Pembahasan Draf Standar dengan Unit Utama Reviwer: DKI Jakarta 8, Dalam Jawa 6, dan Luar Jawa 2

11-13 September 2009 Jakarta

Presentasi di BSNP 13 Oktober 2009 Jakarta 8 Uji Publik Draf Standar

Undangan 25 Provinsi @ 2 orang

24-26 Oktober Jakarta 9 Finalisasi Standar 14-16 Oktober 2009 Jakarta

H| Hambatan dan Solusi

Salah satu hambatan yang dihadapi dalam penyusunan standr sarana dan prasarana pendidikan tinggi ini adalah beragamnya pro- gram studi yang ada di perguruan tinggi sementara jumlah tim ahli sangat terbatas. Dengan pengertian lain, keanggotaan tim ahli tidak sebanding dengan jumlah program studi yang ada. Akibatnya terjadi beberapa kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang sarana dan prasarana yang diperlukan untuk program studi dimaksud. Hal ini diatasi dengan mengundang representative dari program studi tersebut pada acara validasi, pembahasan dengan unit utama, dan uji publik.

BAB 5

PENgEmbANgAN

StANDAr PENDiDikAN

ANAk USiA DiNi

BAB 5. PENGEMBANGAN STANDAR

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A| Pendahuluan

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 angka 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki persiap- an dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

PAUD dapat diselenggarakan dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. PAUD formal adalah Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) untuk anak usia 4-6 tahun. PAUD non for- mal meliputi Taman Penitipan Anak (TPA) untuk anak usia 0-2 tahun, Kelompok Bermain (KB) untuk anak usia 2-4 tahun, dan Satuan PAUD sejenis.

Selama ini masyarakat telah menunjukkan kepedulian terha- dap masalah pengasuhan dan pendidikan anak usia dini dengan berbagai jenis layanan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada. Namun demikian pengelolaan, pelayanan, dan pola pembinaan PAUD masih bervariasi. Untuk memberikan pelayanan yang berkua- litas sesuai dengan kebutuhan anak, maka disusunlah Standar PAUD sebagai acuan dasar.

Agar dapat dilakukan pembinaan dan pengelolaan pendidikan anak usia dini, khususnya melalui jalur formal, yang berbentuk TK/RA,

diperlukan adanya standar pendidikan Taman Kanak-kanak. Naskah akademik ini bertujuan memberikan landasan yang kokoh bagi ter- selenggaranya pendidikan Taman Kanak-kanak yang mampu meng- hantarkan anak usia 4-6 tahun mencapai tingkat pencapaian per- kembangan yang diharapkan.

B| Landasan Penyusunan Standar

Untuk memberikan landasan yang kokoh bagi penyelenggaran pendidikan Taman Kanak-kanak, berikut ini disajikan sejumlah lan- dasan yuridis, baik yang dihasilkan pemerintah maupun kesepakatan berbagai Negara berkenaan dengan pentingnya pendidikan bagi anak.

a. Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidi- kan Nasional

Pasal 1 Butir 14

“Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembang- an jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam me- masuki pendidikan lebih lanjut.”

Pasal 28

(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jen- jang pendidikan dasar.

(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikanformal, nonformal, dan/ atau informal. (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal

berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

(4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

(5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

(6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini seba- gaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

b. Deklarasi Dakar Tentang Pendidikan Untuk Semua

(1) Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung.

(2) Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan su- lit dan mereka yang termasuk minoritas etnik, mempunyai akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas baik.

(3) Memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan men- jamin keunggulannya, sehingga hasil-hasil belajar yang diakui dan terukur dapat diraih oleh semua, terutama dalam keaksaraan, angka dan kecakapan hidup (life skills) yang penting.

c. Peraturan Pemerintah RI No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Pasal 29

(1) Pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki:

a. kualiikasi akdemik minimum diloma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendi- dikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan

Pasal 30

(1) Pendidik pada TK/RA sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

Pasal 38

(1) Kriteria untuk menjadi kepala TK/RA meliputi: a. Berstatus sebagai guru TK/RA;

b. Memiliki kualiikasi akademik dan kompetensi seba- gai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang- undangan yang berlaku;

c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan

d. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausa

C| Tujuan dan Fungsi Standar

Tujuan penyusunan standard PAUD adalah memberikan acuan bagi penyelenggara PAUD baik yang berbentuk formal (Tman Kanak- Kanak atau TK dan Raudhatul Athfal atau RA) maupun yang nonfor- mal (Tempat Penitipan Anak atau TPA dan Kelompok Bermain atau KB) dalam menyelenggarakan program pembelajaran di masing-ma- sing lembaga.

Standar PAUD ini berfungsi sebagai dasar untuk perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam rangka mewujudkan PAUD yang bermutu.

D| Hasil yang Dicapai

Kegiatan ini menghasilkan naskah akademik dan standar PAUD yang terdisi atas empat standar, yaitu Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Program, dan Standar Layanan. Masing-masing aspek dijelaskan se- cara singkat sebagai berikut.

Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan berisi tentang kaidah tumbuh kembang anak. Secara psikologis anak tumbuh dan berkembang malalui tahapan-tahapan perkembangan yang ber- langsung secara berurutan dan kerkesinambungan. Tingkat perkem- bangan yang dicapai anak usia dini menjadi dasar pencapaian per- kembangan pada tahap berikutnya.

Menurut standar PAUD tersebut, tingkat pencapaian perkem- bangan disusun berdasarkan kelompok usia anak, yaitu usia 0 - < 2 tahun, 2 - < 4 tahun, dan 4 - < 6 tahun. Pengelompokan usia 0 - < 1 tahun dilakukan dalam rentang tiga bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Sedangkan untuk usia 1 - <2 tahun dikelompokkan dalam rentang enam bulanan karena pada tahap usia ini perkembangan anak berlangsung tidak sepesat usia sebelumnya. Untuk kelompok usia selanjutnya, pengelompokan dilakukan dalam rentang waktu pertahun. Secara singkat pengelom- pokan usia anak ini dapat dilihat dalam tabel berikut.

No Tahap Usia 0 - < 2 Bentuk Pendidikan Jenis Pendidikan 1 <3 bulan Taman Penitipan Anak Non Formal 2 3 - < 6 bulan

3 6 - < 9 bulan 4 9 - < 12 bulan 5 12 - < 18 bulan 6 18 - < 24 bulan

Tahap Usia 2 - < 4 tahun

1 2 - < 3 tahun Kelompok Bermain Non Formal 2 3 - < 4 tahun

Tahap Usia 4 - < 6 tahun

1 4 - < 5 tahun Taman Kanak-Kanan/ Raudhatul Athfal

Formal 2 5 - < 6 tahun

Pendidik anak usia dini adalah tenaga professional yang

memiliki kompetensi untuk menjalankan tugas dalam meren- canakan, melaksanakan, dan menilai program serta membimbing,

memotivasi, memfasilitasi kegiatan pengasuhan dan pendidikan anak didik. Pendidik PAUD terdiri atas guru PAUD, Tutor PAUD, dan Pengasuh PAUD. Sedangkan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini. Dalam draf standar tersebut juga disebutkan kualii- kasi dan kompetensi untuk masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan.

Standar Program memuat standar tentang kegiatan pengasu-

han dan pendidikan di lembaga satuan PAUD. Standar program me- liputi perencanaan, pelaksanaan/proses, dan penilaian dalam upaya melaksanakan rangsangan/stimulasi sesuai dengan kebutuhan dan usia anak untuk memperoleh tingkat pencapaian perkembangan.

Perencanaan program dilakukan oleh guru/tutor PAUD yang mencakup tujuan, isi, dan rencana pengelolaan program, yang di- susun dalam Rencana Kegiatan Hatian/Mingguan/Tahunan. Pelak- sanaan program berisi tentang proses kegiatan pengasuhan dan pendidikan yang dirancang berdasarkan pengelompokan usia anak, dengan mempertimbangkan karakteristik perkembangan anak dan jenis layanan PAUD yang diberikan. Penilaian merupakan rangkaian kegiatan pengamatan, pencatatan, dan pengolahan data perkem- bangan anak dengan menggunakan metode dan instrumen yang sesuai.

Standar layanan berisi tentang acuan fasilitas dan aktiitas yang mendukung terlaksananya seluruh kegiatan pengasuhan dan pen- didikan anak usia dini sehingga membantu anak mencapai tingkat pencapaian perkembangannya. Standar layanan meliputi sarana dan prasarana, pengelolaan, serta pembiayaan.

E| Tim Ahli

1. Anggota BSNP

No Nama Instansi

1 Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo,M.Pd., Kons BSNP

2 Prof. Dr. Edy Tri Baskoro BSNP

3 Prof. Dr. Bambang Soehendro BSNP 4 Dr. Anggani Sudono, MA (Koordinator) BSNP 5 Prof.Dr. Fawzia Aswin Hadis BSNP 2. Tim Ahli

No Nama Instansi

1. Dr. Sudjarwo Singowidjojo, M.Sc Direktorat PAUD 2. Drs. Sukiman, M.Pd Direktorat PAUD 3. Dra. Enah Suminah, M.Pd Direktorat PAUD 4. Beryana Evridawat,S.Pt Direktorat PAUD 5. Drs. Didik Perangbakat Direktorat Pembinaan

TKdan SD

6. Drs. Masykur, MM Direktorat Pembinaan TK dan SD

7. Dr. Kama Abdul Hakam Direktorat Pembinaan TK dan SD

8. Drs. Mulyadi,M.Pd Direktorat Pembinaan TK dan SD

9. Erry Utomo Pusat Kurikulum

10. Dra. Yuke Indrati Pusat Kurikulum 11. Ir. Hj. Victoria Elisnah Hanah, M.Pd Departemen Agama 12. Dr. Sastra Juanda Departemen Agama 13. Drs. Kaharuddin Arafah,M.Si UNM

F| Tahapan Penyusunan Standar

Secara singkat tahapan penyusunan sandar PAUD dapat dilihat dalam table berikut ini.

No Kegiatan Tanggal Tempat

1 Penentuan prinsip danpembuatan frame work standard PAUD

23 Mei 2009 Jakarta 2 Pembuatan draf I 9-11 Juni 2009 Jakarta 3 Pembuatan draft II (mengundang TK/SD

dan PAUD)

15-17 Juni 2009 Jakarta 4 Persiapan pembuatan draf standar PAUD 6-7 Juli 2009 Jakarta 5 perbaikan dan persiapan draf standar

PAUD

13-14 Juli 2009 Jakarta 6 Uji public standar PAUD 22 Juli 2009 Jakarta 7 Revisi standard PAUD 27 Juli 2009 Jakarta 8 inalisasi draf standar PAUD 29 Juli 209 Jakarta

G| Refleksi

Usia dini merupakan usia yang sangat penting bagi perkem- bangan anak. Pada usia ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan isik dan mental yang sangat pesat. Inilah yang dise- but dengan masa keemasan (golden age) yang sangat menentukan perkembangan anak pada masa depan. Dengan adanya standar PAUD ini akan mempermudah pada tataran implementasi PAUD di lapangana yang selama ini sangat variatif. Dengan demikian akan ada kejelasan, kesamaan persepsi dan langkah, serta tindakan di ka- langan guru-guru PAUD. Harapan dan keinginan masyarakat yang sudah lama menanti kehadiran standar ini dapat terpenuhi.

BAB 6

UPDAtiNg StANDAr

PEmbiAyAAN

PENgEmbANgAN

iNDEkS biAyA

PENDiDikAN

Dalam dokumen Laporan BSNP Tahun 2009 – BSNP Indonesia (Halaman 57-103)

Dokumen terkait