• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Usaha dan Kearifan Lokal Songket Batu Bara

Dalam dokumen Rozanna Mulyani dan Dedy Rahmad Sitinjak (Halaman 28-114)

METODE PENELITIAN

5.1 Pengembangan Usaha dan Kearifan Lokal Songket Batu Bara

Kain songket merupakan salah satu local genious yang ada pada masyarakat Melayu di Kabupaten Batu Bara. Selain memiliki motif yang indah, kain songket juga mengandung segudang kearifan lokal yang penting untuk dipertahankan dan dilestarikan. Selain menjadi salah satu identitas budaya, kain songket juga menjadi pakaian adat tradisonal yang dikenakan oleh masyarakat Melayu pada upacara-upacara adat sehingga kain songket memang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten Batu Bara.

22

Songket yang sudah menjadi sehelai kain kemudian dijahit menjadi bermacam jenis bentuk pakaian bukanlah tidak mengalami proses yang panjang, dalam prosesnya songket melewati beberapa tahap. Setiap tahap memiliki pengaruh yang besar pada kualitas hasil songket, tahap-tahapannya yaitu mulai dari pemilihan bahan, pemilihan warna bahan, menggulung benang (menorou), menentukan panjang pendek benang (mengani), menggulung benang di papan gulung (menoto), menggulung ke papan karap (menyosok), memasukkan benang longseng ke dalam sisir, menaikkan ke okik, pemilihan motif, proses penenunan, hingga menghasilkan kain songket yang indah, kemudian hasil tenunan yang sudah berbentuk kain songket ternyata masih mengalami proses yaitu menjahitnya menjadi pakaian, pembuatan pakaian yang berbahan dasar songket ternyata tidak hanya memiliki keindahan yang menunjukkan identitas budaya Melayu saja tetapi memiliki makna tertentu bagi siapapun yang memakai songket sebagai pakaiannya, sehingga saat memakai kain songket tidak sembarang

23

memakainya karena ada makna-makna tertentu yang terkandung di dalam kain songket yang dipakai tersebut. Semua itu merupakan kearifan lokal yang dapat dipertahankan sehingga kebudayaan Melayu tetap terjaga.

Kearifan lokal dalam sebuah kebudayaan sudah tentu merupakan bentuk dialektika antara manusia dengan pengetahuan kehidupan manusia. Pengetahuan yang diambil dari kehidupan di mana manusia itu berada kemudian direfleksikan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memaknai kehidupan. Sebagai pedoman masyarakat, selanjutnya kearifan lokal memberi panduan yang jelas lewat norma dan adat istiadat sehingga dapat dibatasi ranah-ranah yang dapat dijangkau oleh tingkah laku manusia.

Dalam proses terbentuknya, biasanya kearifan lokal tidak dikonsepsikan secara individu namun membutuhkan peran komunal yakni masyarakat sehingga kerifan lokal tidak saja berlaku pada individu masyarakat tetapi berlaku umum kepada seluruh masyarakat. Selanjutnya kearifan lokal menjadi bagian dari budaya untuk kemudian

24

menjadi identitas bahkan karakter suatu masyarakat. Karenanya, antara kearifan lokal dan budaya merupakan hubungan antara anak dengan induknya. Kearifan lokal tidak lain adalah bagian dari budaya.

Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk dapat memberikan kesejahteraan dan kedamaiaan di dalam masyarakat, dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu maka kearifan lokal menjadi salah satu tuntunan dalam dinamika kehidupan masyarakat khususnya masyarakat yang masih menjunjung tinggi lokalitas daerahnya. Local wisdom merupakan sebuah norma, aturan, kecerdasan, bentuk kreativitas yang masih dalam betuk lokal tertentu atau daerah tertentu kemudian pengertian tersebut disusun secara etimologi dimana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirnya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap suatu objek atau peristiwa yang

25

terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan (Ridwan, 2007: 2-3).

Secara garis besar kearifan lokal sebenarnya dapat dibagi menjadi dua tipe. Kedua tipe ini memiliki turunan yang dapat diambil manfaatnya untuk meningkatkan kesejahteraan serta menciptakan kedamaian, bukan saja pada masyarakat pengrajin songket di Kabupaten Batu Bara tetapi pada seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Batu Bara. Adapun secara garis besar dua tipe kearifan lokal itu yaitu kearifan lokal untuk kedamaiaan (Local Wisdom For Peace) dan kearifan lokal untuk kesejahteraan (Local Wisdom For Welfare). Kedua tipe ini jika dikaji dalam dunia songket maka akan ditemukan berupa norma, pesan, nilai dan lain-lain yang terkandung dalam kain songket yang semua itu termasuk dalam tipe kearifan lokal kedamaian, sedangkan jika songket dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan dan membentuk kepribadian yang baik seperti kerja keras, gotong-royong, disiplin dan lain-lain itu

26

semua digolongkan dalam tipe lokal wisdom kesejahteraan.

Sibarani (2012:134) mengemukakan bahwa kearifan lokal kesejahteraan itu turunannya yaitu kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong-royong, pengelolaan gender, pelestarian dan kreatifitas budaya, dan peduli lingkungan, sedangkan kearifan lokal kedamaian turunannya yaitu kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, rasa syukur. Semua turunan dari kedua tipe besar kearifan lokal tersebut di atas terdapat di dalam songket, karena semua kearifan lokal yang ada di atas memiliki manfaat yang sangat besar jika diwujudkan dan dipertahankan, untuk lebih mudah memahami tentang kearifan lokal yang dikemukakan oleh Sibarani (2012:134) di bawah ini bagan dua tipe besar kearifan lokal dan turunannya.

27

Pada bagian kearifan lokal kesejahteraan ada beberapa turunan begitu juga dengan kearifan lokal kedamaian. Turunannya semua itu dapat dipertahankan dalam sebuah masyarakat sehingga tercipta kedamaiaan dan kesejahteraan pada masyarakat. Kearifan lokal songket mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptanya kedamaian pada masyarakat Melayu Batu Bara khususnya para pengrajin songket.

Kearifan lokal kesejahteraan merupakan salah satu kearifan lokal yang memiliki beberapa turunan. Pada dasarnya semua turunan dari kearifan lokal kesejahteraan dapat ditemui dan

28

diaplikasikan pada pengrajin songket sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengrajin songket.

Pengrajin songket merupakan salah satu elemen yang paling vital dalam pengembangan usaha songket. Peran mereka begitu besar dan begitu penting dalam proses pelestarian budaya menenun songket, namun besarnya pengaruh yang mereka berikan tidak berbanding lurus dengan besaran upah yang mereka rasakan sehingga secara ekonomis mereka masih belum merasakan dampak yang signifikan. Mereka belum merasakan rasa layak jika dibandingkan dengan waktu serta tenaga yang harus mereka keluarkan untuk sehelai kain songket Melayu Batu Bara. Ini menjadi masalah yang sangat serius karena ketertarikan pengrajin tenun kain songket untuk menenun akan semakin menurun dan terpuruk. Namun akan terjadi sebaliknya ketika para pengrajin songket merasakan dampak yang lebih besar secara finansial.

Kesejahteraan para pengrajin songket merupakan salah satu faktor yang harus

29

dipertimbangkan dalam pengembangan usaha songket, karena kesejahteraan para pengrajin akan meningkatkan semangat, tanggung jawab, dan ketertarikan terhadap pekerjaan menenun kain songket Batu Bara.

Sibarani (2012:193) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan yaitu:

1. Permasalahan empiris (empirical problem) atau fakta empiris (empirical fact) yang dihadapi masyarakat harus diketahui dan dianalisis agar mendapatkan solusi sebagai jawaban untuk meretas masalah kesejahteraan.

2. Dasar Hukum (Legal Basis) atau kaidah legal (Legal Rule) merupakan sesuatu yang sangat penting karena dapat dijadikan sebagai legalitas untuk membangun koneksi dengan beberapa lembaga lain yang dapat memberi keuntungan dan peningkatan kesejahteraan, pembuatan dasar hukum yang legal berupa perundang-undangan atau peraturan tertentu yang dapat dijadikan landasan untuk

30

memutuskan, melaksanakan, dan membantu dalam peningkatan kesejahteraan. Adapun pembangunan koneksi atau hubungan dapat dilakukan beberapa lembaga seperti lembaga pemerintah, swasta ataupun perorangan setelah dasar hukum tersebut sudah ada. 3. Penelitian sosial budaya, ini merupakan salah

satu yang dapat mengukur dan menjelaskan secara faktual mengenai kondisi, perkembangan, dan masalah yang baru atau yang lama yang menjadi tantangan terwujudnya kesejahteraan terhadap pelaku songket. Hasil penelitian ini akan menjadi acuan untuk mengembangkan model pemberdayaan yang baru demi terwujudnya kesejahteraan.

4. Pengorganisasian, yakni membuat konsep pelaksanaan peningkatan kesejahteraan berdasarkan hasil penelitian dan merencanakan kerjasama antarinstitusi. 5. Perencanaan yakni penyusunan rencana dan

jadwal kegiatan secara sistematis mulai pembahasan hulu hingga hilir serta siapa saja

31

yang melakukan kemudian penanggung jawab dan target yang ingin dicapai.

6. Pelaksanaan yakni kegiatan pemberdayaan masyarakat di lapangan harus memperhatikan dengan benar sasaran peningkatan kesejahteraan agar tidak salah sasaran.

Keenam poin di atas harus diperhatikan, dipikirkan serta direalisasikan secara efektif dan efisien agar pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat pengrajin songket dengan tujuan kesejahteraan dapat tercapai.

Robert Sibarani (2012) menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal maka ia mengulas menjadi beberapa turunan yaitu: Kerja keras, Disiplin, Pendidikian, Kesehatan, Gotong royong, Pengelolaan Gender, Pelestarian dan kreatifitas Budaya, peduli lingkungan. Dengan turunan kearifan lokal kesejahteraan di atas maka diharapkan mampu menghasilkan kesejahteraan yang kemudian oleh Robert Sibarani (2012) dibagi menjadi beberapa turunan pula. Adapun tujuan dan

32

fungsi dari kearifan lokal kesejahteraan yaitu: Kemakmuran, Sumber Kreatifitas, Devosit Industry Budaya, Motivasi Keberhasilan, Pengentasan Kemiskinan. Jika dibuat kedalam bentuk bagan, maka akan lebih mudah dipahami. Di bawah ini bagan kearifan lokal kesejahteraan serta tujuan dan fungsinya:

Dari bagan di atas maka dapat dilihat bahwa untuk mencapai kesejahteraan perlu beberapa hal yang harus dilakukan, begitu juga para pengrajin kain songket di Batu Bara, untuk itu kearifan lokal kesejahterahan yang ada serta yang dapat dipertahankan untuk mengembangkan usaha songket Batu Bara adalah:

33 1. Kerja keras

Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan sikap sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya sehingga semua masalah dapat diselesaikan. Kerja keras menurut Kesuma (2012: 17) adalah suatu upaya yang terus dilakukan (tidak pernah menyerah) atau tindakan yang terus dilakukan dalam menyelesaikan pekerjaan menjadi tugasnya sampai tuntas. Seseorang yang bekerja keras pantang menyerah untuk mencapai hal yang diinginkan ataupun pantang menyerah untuk mengerjakan tugasnya. Walaupun menemukan rintangan ataupun hambatan di dalam melakukannya. Kerja keras menurut Mustari (2014: 43) adalah perilaku atau tindakan yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar atau pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. Usaha pantang menyerah, yaitu tetap menjalankan

34

tugas sekalipun menghadapi tantangan atau hambatan.

Ciri-ciri kerja keras menurut Mustari (2014: 43) ada tiga, yaitu:

1) Menunjukkan kesungguhan dalam melakukan tugas.

2) Tetap bertahan pada tugas yang diterima walaupun menghadapi kesulitan.

3) Berusaha mencari pemecahan terhadap permasalahan.

Pantang menyerah adalah salah satu tanda dari kerja yang keras, yaitu usaha yang menyelesaikan kegiatan atau tugas secara optimal.

Kemudian Mustari (2014: 44) memberikan tanda-tanda seseorang dikatakan memiliki sikap kerja keras, ini dapat ditandai sebagai berikut:

1) Menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan

2) Menggunakan segala kemampuan atau daya untuk mencapai sasaran

35

3) Berusaha mencari berbagai alternatif pemecahan ketika menemui hambatan Untuk itu sikap kerja keras merupakan hal yang sangat penting dilestarikan dan dipelihara dalam melaksanakan suatu tugas begitu juga saat bekerja menenun kain songket.

Bercerita tentang kerja keras maka bercerita tentang intensitas kerja atau jam kerja yang dikeluarkan untuk suatu pekerjaan, kerja keras yang dilakukan oleh pekerja songket sebenarnya masih belum maksimal karena dalam pengerjaan tenun songket mereka masih bekerja paruh waktu sehingga upah yang mereka terima cukup minim. Selain masalah waktu ternyata pengaruh pasar juga memengaruhi aktivitas para pembuat songket yaitu dikarenakan jika ada orang yang memesan kain dengan skala besar maka para penyongket akan kejar target dan bekerja keras. Namun jika tidak ada pesanan berskala besar maka mereka akan menenun songket secara paruh waktu.

36

Sikap kerja keras dalam sebuah pekerjaan merupakan sesuatu yang perlu dipelihara karena memiliki manfaat yang sangat besar dalam sebuah aktivitas usaha khususnya usaha tenun songket yang ada di Kabupaten Batu Bara. Kearifan lokal yang ada pada masyarakat Melayu juga mengandung sikap kerja keras sehingga perlu dipelihara untuk dapat diambil manfaatnya demi terpenuhinya kebutuhan, kedamaiaan serta memupuk rasa tanggung jawab pekerja songket dalam mengerjakan tenunan kain songket.

Sikap kerja keras merupakan manifertasi rasa tanggung jawab. Selain itu sikap ini memupuk seseorang menjadi orang yang tidak mudah putus asa, dengan begitu maka sikap kerja keras juga akan mengembangkan potensi diri sehingga dapat berkembang dan mampu bersaing di dunia luar. Untuk lebih jelas di bawah ini ada beberapa manfaat kerja keras.

37

Manfaat Kerja Keras

Menurut wawancara di lapangan, ternyata sikap kerja keras memiliki dampak yang besar pada penenun kain songket. Jika mereka melakukan menenun songket dengan kerja keras ternyata mereka mendapat hasil yang lebih memuaskan, tapi ini biasanya terjadi jika ada pesanan yang berskala besar yang harus segera dikerjakan, istilahnya “kejar target” untuk itu perilaku kerja keras memang harus dipupuk dan dipelihara bagi para pengrajin songket agar pekerjaan

38

menyongket menjadi prioritas utama bagi para pengrajin songket dibanding pekerjaan yang lain sehingga songket cepat diselesaikan dengan waktu yang relatif lebih cepat.

Namun karena beberapa faktor, seperti faktor fasilitas yang kurang memadai serta upah yang begitu minim menyebabkan kebiasaan menenun kain songket sebagai pekerjaan paruh waktu tidak dapat dihindarkan. Untuk itu perlu adanya pembenahan dalam hal fasilitas seperti tempat kerja, ruangan kerja menenun yang nyaman yang dapat menumbuhkan rasa nyaman dan semangat sehingga menunjang rasa semangat bekerja semakin kuat dan menciptakan semangat kerja keras. Kemudian stimulus upah yang memadai juga akan memotivasi para pengrajin songket untuk bekerja semakin giat dan semakin bekerja keras karena upah yang begitu minim menjadi salah satu masalah yang cenderung dikeluhkan oleh pekerja tenun kain songket

39

sehingga berpengaruh pada sikap kerja keras penenun kain songket.

2. Disiplin

Sikap disiplin merupakan sikap yang memengaruhi aktivitas sebuah usaha. Disiplin dapat diciptakan mulai dari diri sendiri. Namun jika membahas sebuah perusahaan, disiplin merupakan salah satu kunci sukses dalam sebuah perusahaan, salah satunya usaha songket di Kabupaten Batu Bara. Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin discipulus yang berarti “pembelajaran.” Jadi, disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Menurut Ariesandi (2008:231) arti disiplin sesungguhnya adalah proses melatih pikiran dan karakter anak secara bertahap sehingga menjadi seseorang yang memiliki kontrol diri dan berguna bagi masyarakat. Disiplin merupakan salah satu

40

bentuk tindakan dari sebuah rasa serius dan tanggung jawab pada sesuatu pekerjaan, dengan disiplin maka akan terbangun pula hasil yang maksimal. Disiplin adalah kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya tanpa adanya paksaan dari pihak luar. Menurut Sinambela (2012:239) terdapat dua jenis disiplin kerja, yaitu disiplin preventif dan disiplin korektif.

a. Disiplin preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai untuk mengikuti dan mematuhi pedoman dan aturan kerja yang ditetapkan oleh organisasi. Dalam hal ini disiplin preventif bertujuan untuk menggerakkan dan mengarahkan agar pegawai bekerja berdisiplin. Cara preventif dimaksudkan agar pegawai dapat memelihara dirinya terhadap peraturan- peraturan organisasi.

41

b. Disiplin korektif adalah suatu upaya penggerakkan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan mengarahkannya agar tetap mematuhi berbagai peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada organisasi. Dalam disiplin korektif, pegawai yang melanggar disiplin akan diberikan sanksi yang bertujuan agar pegawai tersebut dapat memperbaiki diri dan mematuhi aturan yang ditetapkan.

Menurut Gordon (1996:3) Disiplin adalah perilaku dan tata tertib yang sesuai dengan peraturan dan ketetapan, atau perilaku yang diperoleh dari pelatihan yang dilakukan secara terus menerus. Disiplin adalah suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam keadaan tertib, teratur dan semestinya, serta ada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung, sejauh pengamatan peneliti para pengrajin songket tidak diikat dengan aturan aturan baku yang berbentuk Sistem Operasional

42

Prosedur (SOP) sehingga pengaturan jam kerja dan jam pulang kerja tidak ada aturan bakunya padahal itu sangat penting. Tujuan utama dari sebuah sikap kedisiplinan adalah untuk mengarahkan kita untuk mengontrol dirinya sendiri. Selain itu juga kita dapat melakukan aktivitas dengan terarah, sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka dengan disiplin kita akan hidup teratur, sedangkan bila hidup kita tidak disiplin berarti kita tidak bisa hidup teratur dan hidup kita akan hancur berantakan tidak terarah.

Namun jika dilihat lebih seksama ada hal yang dapat digolongkan sebagai perilaku disiplin yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin songket di Kabupaten Batu Bara yaitu dalam pengerjaan menenun kain songket tidak dilakukan di malam hari karena mereka memiliki mitos tertentu yang mereka yakini dapat membawa hal sial. Mitos ini justru diyakini dan dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa jika melakukan menenun kain songket di malam hari itu

43

membawa kesialan kepada penenun. Hal mitos seperti ini dipatuhi oleh seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Batu Bara sehingga pada malam hari para penenun lebih fokus istirahat atau mengerjakan pekerjaan lain selain menenun kain songket. Sikap disiplin terhadap mitos yang berkembang dalam masyarakat penenun kain songket seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pengerjaan menenun kain songket karena disiplin merupakan bentuk pengendalian diri pegawai dan pelaksanaan yang teratur dan menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam sebuah organsasi (Teguh, 2009:290).

Sebuah usaha kain songket dapat digolongkan sebagai organisasi karena memiliki ketua atau pemilik usaha kemudian memiliki anggota atau pekerja/penenun kain songket untuk meningkatkan sikap disiplin penenun songket, peran pengusaha songket sangat dibutuhkan, dalam hal ini pengusaha songket perlu mempertimbangkan beberapa

44

faktor yang memengaruhi sikap disiplin para penenun songket. Menurut Singodimedjo dalam Sutrisno (2013:89) faktor yang memengaruhi disiplin pegawai adalah:

a. Besar kecilnya pemberian kompensasi. Besar kecilnya kompensasi dapat memengaruhi tegaknya disiplin. Para pegawai akan mematuhi segala peraturan yang berlaku bila ia merasa mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan jerih payahnya yang ia berikan dalam menenun kain songket.

b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam organisasi/usaha songket. Peranan keteladanan pimpinan sangat berpengaruh besar dalam organisasi, bahkan sangat dominan dibandingkan dengan semua faktor yang memengaruhi disiplin pegawai, karena pimpinan dalam suatu perusahaan masih menjadi panutan para pegawai. Para pegawai akan selalu meniru yang dilihatnya setiap hari. Apa pun yang dibuat

45

pimpinannya cenderung akan diikuti oleh pegawai atau penenun kain songket.

c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan. Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam organisasi bila tidak ada aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. Untuk itu perlu dilakukan peraturan tertulis tentang SOP yang harus dipatuhi di dalam menjalankan usaha songket. Disiplin tidak mungkin ditegakkan bila peraturan yang dibuat hanya berdasarkan instruksi lisan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi.

d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan. Bila ada seorang pegawai yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian pimpinan untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Dengan adanya tindakan terhadap pelanggaran disiplin, sesuai dengan sanksi yang ada,

46

maka semua pegawai akan merasa terlindungi, dan dalam hatinya berjanji tidak akan berbuat hal serupa.

e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan. Dengan adanya pengawasan yang dilakukan pimpinan, maka sedikit banyak para pegawai akan terbiasa melaksanakan disiplin kerja.

Faktor-faktor di atas merupakan hal yang perlu diperhatikan sehingga sikap disiplin yang ada dalam kearifan lokal menenun kain songket tidak pudar. Jika digali secara mendalam ternyata masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten Batu Bara khususnya para pengrajin songket dapat bersikap disiplin. Mitos yang menyatakan bahwa menenun di malam hari itu tidak baik dan membawa kesialan saja mereka bisa patuhi dan laksanakan, ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha songket dengan menigkatkan prosedur yang lebih baik dan manajemen yang lebih teruukur dengan membuat SOP yang dapat

47

menimbulkan sifat disiplin terhadap pengrajin songket sehingga para pengrajin songket bekerja sesuai prosedur dan disiplin serta patuh dalam melaksanakan aturan-aturan dalam pekerjaan seperti mereka mematuhi mitos yang menyatakan bahwa menenun kain songket malam hari itu membawa sial. Pada dasarnya sikap disiplin merupakan hal yang penting dipelihara dalam sebuah perusahaan begitu juga di dalam usaha tenun kain songket yang ada di kabupaten Batu Bara. Sutrisno (2013:88) menyatakan bahwa disiplin kerja sangat diperlukan untuk menunjang kelancaran segala aktivitas organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai secara maksimal. Disiplin kerja dapat dilihat sebagai sesuatu yang besar manfaatnya, baik bagi kepentingan organisasi maupun kepentingan pegawai.

48 3. Pendidikan

Merujuk pada sistem pendidikan nasional Indonesia yang tertera dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang fungsi pendidikan, bahwasanya fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Hal ini mengandung arti bahwa fungsi pendidikan nasional adalah (1) memerangi segala kekurangan, keterbelakangan dan

Dalam dokumen Rozanna Mulyani dan Dedy Rahmad Sitinjak (Halaman 28-114)