ii Penulis: Asiati Masra S.Pd., M. Pd ISBN: 978-623-227-062-6
Editor: Dira Ariza
Desain Sampul: Alfi Nurul Afida
Tata Letak: Alfi Nurul Afida dan Abdul Muhaimin Penerbit: Probi Media
Redaksi: Jln. Perkutut No 12 Perumnas Karangjati Blora, Jawa Tengah
Cabang/Lini dari Penerbit Uwais Inspirasi Indonesia Telp. 089613943904
Email: [email protected] Cetakan pertama, Mei 2019
Hak cipta dilindungi undang-undang 978 623 227 081 7
iii
PRAKATA
Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melindungi dan memberkati kami dengan rahmat-Nya sehingga buku ini selesai kami susun. Rasa gembira yang juga kami rasakan karena sudah selesai menyusun buku ini. Semoga kebermanfaatan buku ini tercapai sesuai tujuannya. Dalam mengembangkan usaha dan kearifan lokal songket Batu Bara dalam mencari solusi kesejahteraan pengrajin usaha songket maka dipandang perlu melakukan analisis tentang bentuk usaha dan proses pembuatan songket yang sejauh ini masih dilakukan secara tradisonal, sehingga dapat membuat kerangka atau model baru dalam pengembangan usaha songket yang dapat direalisasikan oleh para pelaku usaha songket di Kabupaten Batu Bara.
Dalam proses penelitian kami menemukan banyak hal baru, yang memunculkan rasa takjub kami tatkala melihat bagaimana leluhur masyarakat Melayu mampu
iv
mewariskan lokal genius dan kearifan lokal tinggi yang divisualisasikan ke dalam ragam variasi bentuk fungsi dan peran dalam menggunakan kain songket pada masyarakat Melayu di Kabupaten Batu Bara. Kearifan lokal yang terkandung dalam kain songket memiliki manfaat yang sangat besar untuk masyarakat Melayu sehingga layak untuk dilestarikan dan dipertahankan sehingga dalam proses pelestariannya maka harus dilakukan pengembangan terhadap usaha songket Melayu yang pada penelitian ini difokuskan pada daerah Kabupaten Batu Bara, Desa Padang Genting Kecamatan Talawi.
Pengembangan usaha songket di Batu Bara ini dapat memberikan dampak secara langsung terhadap para pengusaha kain songket Melayu sehingga eksistensi kain songket Melayu tetap eksis sehingga kelestarian serta kearifan lokal beserta nilai-nilai yang terkandung di dalam kain songket tetap terjaga. Beberapa produk yang berbahan baku songket sejauh ini sudah megalami perkembangan sehingga songket menjadi bermacam bentuk dan variasi, namun masih perlu dilakukan pengembangan terhadap variasi produk berbahan songket sehingga produk songket yang sejauh ini sudah ada menjadi tidak monoton, untuk itu perlu dilakukan pula penelitian yang dapat meningkatkan
v
variasi dan bentuk songket Melayu dengan melakukan inovasi-inovasi dalam pengembangan variasi bentuk songket Melayu.
Buku ini belum cukup dalam memahami semua aspek songket Melayu Batu Bara sehingga perlu dilakukan penelitian mendalam guna melakukan inovasi bentuk songket dalam berbagai bentuk, desai, ukuran sehingga penelitian tentang songket bukan saja berdampak pada pengembangan usahanya saja tetapi sampai kepada inovasi pengembangan songket itu sendiri. Untuk itu buku ini belumlah sempurna apalagi saat ini hanya membahas pengembangan usaha dan kearifan lokal songket saja sehingga urun saran dan pendapat para pembaca buku ini, sangat diharapkan sebagai dasar perbaikan atau pengembangan diri di masa mendatang.
Semoga buku yang ada di tangan pembaca ini dapat memberikan arti bagi pengembangan pengetahuan mengenai pengembangan usaha dan kearifan lokal songket Melayu di Kabupaten Batu Bara dan pada bidang industri kreatif pada umumnya.
Medan, 10, Juni 2019 Penulis Dr. Rozanna Mulyani, M.A. & Dedy Rahmad Sitinjak, M.Si
vi
DAFTAR ISI
PRAKATA ... iii DAFTAR ISI ... vi BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Studi Pendahulu ... 7 BAB 3TUJUAN DAN MANFAAT
3.1 Tujuan ... 11 3.2 Manfaat ... 12 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian ... 14 4`2 Prosedur Penelitian ... 14
vii
4`3 Analisis Data ... 16
4.4 Data dan Sumber Data ... 17
4.5 Informan Penelitian ... 18
4.6 Metode Pengumpulan Data ... 18
4.7 Tahap Penelitian dan Teknik Keabsahan Data ... 19
BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Pengembangan Usaha dan Kearifan Lokal Songket Batu Bara ... 21
5.2 Model Pengembangan Usaha Kain Songket Yang Mutahir Tanpa Meninggalkan Kearifan Lokal ... 125
5.3 Hal-Hal Yang Menunjang Dan Menghambat Pengembangan Usaha dan Kearifan Lokal Songket Batu Bara ... 163
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 178
1
BAB I
1.1 Pendahuluan
Songket Melayu Batu Bara merupakan salah satu kerajinan tangan yang ada di Kabupaten Batu Bara. Selain menjadi salah satu identitas kebudayaan daerah, ternyata songket juga bisa menjadi mata pencaharian bagi pengrajin songket. Namun di tengah persaingan ekonomi dan peran segelintir orang, para pengrajin songket tidak merasakan dampak finansial yang signifikan dari hasil songket tersebut secara ekonomis. Fadlin Muhammad Djafar (2009) dalam artikelnya menyatakan bahwa, harga-harga songket Melayu Batu Bara ini, yang termurah adalah Rp 75.000. Kemudian harga kualitas
2
sedang adalah Rp 300.000. Sampai harga yang termahal yaitu songket dari benang sutera harganya adalah Rp 2.500.000. Ini berarti secara ekonomis songket bisa dijadikan sebagai mata pencaharian utama. Namun, karena publikasi yang terbatas sehingga permintaan pasar sedikit, begitu juga jika ada permintaan pasar maka para pengrajin tidak dapat menyiapkan pesanan dengan skala banyak, hal ini disebabkan para pengrajin songket meletakkan pekerjaan pembuatan songket sebagai pekerjaan sampingan. Pentingnya melestarikan kebudayaan merupakan petunjuk sebuah identitas daerah, ini senada dengan pelestarian songket Batu Bara. Selain bisa menghasilkan efek ekonomis, ini juga termasuk menjaga kearifan lokal yang ada di dalam songket tersebut. Kearifan lokal diartikan sebagai kekayaan lokal/setempat yang mengandung kebijaksanaan hidup, pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Kearifan lokal adalah nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan
3
masyarakat secara arif dan bijaksana (Sibarani, 2012:112-113) dengan demikian kearifan lokal bukan saja sebagai nilai budaya tetapi sebuah nilai budaya yang dapat dimanfaatkan. Ini berarti memberi peluang kepada pengrajin songket untuk terus menjaga kearifan lokal dalam perkembangan zaman, masyarakat Melayu Batu Bara memproduksi kain-kain songket untuk kepentingan adat yang digunakan dalam upacara tertentu. Motif-motif bercorak tumbuhan dan hewan merupakan motif pilihan yang harus dieksplor agar menimbulkan motif baru pula sebab jika dilihat pada songket Melayu Riau, dijumpai juga motif hewan-hewan melata. Di antaranya adalah: ular-ularan, ular melingkar, ular tidur, naga-nagaan, naga bersabung, naga berjuang, naga bertangkup, dan sebagainya. Namun gambar visual dari naga berjuang ini memang tidak lagi dijumpai untuk tenunan Melayu Riau (Efendy 2004:38).
Ridwan (2007: 2-3) mengatakan bahwa kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan
4
menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Kearifan lokal atau sering disebut dengan local wisdom, merupakan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu mayarakat, yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-hari. Kearifan lokal menggambarkan cara bersikap dan bertindak untuk merespon perubahan-perubahan yang khas dalam lingkup lingkungan fisik maupun kultural (Rusilowati: 2015).
Menurut Sularso (2016) kearifan lokal menjadi salah satu bagian yang penting diberikan pada satuan pendidikan agar peserta didik tidak kehilangan nilai dasar kulturalnya, tidak kehilangan akar sejarahnya serta memiliki wawasan dan pengetahuan atas penyikapan realitas sosial dan lingkungannya secara kultural. Sultini dan Hubbi (2015) menyatakan bahwa dalam proses terbentuknya kearifan lokal tidak dikonsepsikan secara individu namun membutuhkan peran komunal yakni masyarakat. Oleh karena itu untuk melestarikan budaya
5
songket Batu Bara maka dipandang perlu adanya model pengembangan usaha songket Batu Bara yang efektif, dan fleksibel seperti penggunaan alat tenun (Okik) yang masih tradisional menjadi lebih modren, menambah variasi motif, pengembangan hasil songket yang tidak terbatas hanya berbentuk kain namun dapat menjadi bermacam-macam produk seperti hiasan dinding, tas, jas, dasi, kotak pensil dll, kemudian dalam publikasi pemasaran yang masih berbentuk tradisional menjadi pemasaran yang menggunakan teknologi mutakhir sehingga usaha songket menjadi mata pencaharian utama bagi pengrajin songket.
Berdasarkan Latar Belakang di atas, maka adapun masalah yang akan dibahas dalam buku ini adalah :
Pengembangan usaha dan kearifan lokal songket Batu Bara?
Bagaimana model pengembangan usaha songket yang mutakhir tanpa meninggalkan kearifan lokal?
6
Hal-hal apa saja yang menunjang dan menghambat pengembangan usaha dan keariafan lokal songket Batu Bara?
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Studi Pendahulu
Songket Batu Bara merupakan salah satu hasil kerajinan tangan yang diciptakan oleh masyarakat Batu Bara. Kerajinan kain tersebut merupakan hasil kebudayaan yang diperoleh turun-temurun dan hingga kini masih ada. Ciri khas suatu masyarakat dalam mengembangkan keterampilannya mencerminkan khas tersendiri di setiap daerah, salah satunya dapat dilihat pada kerajinan kain songket yang ada di Batu Bara.
Songket atau kain songket merupakan hasil dari menenun benang sehingga menghasilkan kain. Kain dari hasil menenun inilah yang disebut
8
songket. Diawali dari kata menyungkit yang artinya menyulam dengan benang emas dalam kamus besar bahasa Indonesia. Songket adalah sebuah seni yang sangat indah. Songket berjenis kain tenunan tradisional ini terdapat pada suku Melayu Riau, Pelembang, Minangkabau, Bali, dan hampir di seluruh nusantara. Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun juga terkenal seperti di negara Malaysia dan Brunei. Songket ditenun dengan menggunakan benang emas atau perak dan pada umumnya dikenakan pada acara-acara resmi. Benang berkilau yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang. Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan ini (Akkapurlaura. 2015:74).
Selain di Batu Bara, kain songket juga terdapat di beberapa daerah lainnya seperti Riau, Sumbar, Palembang dan beberapa daerah lain. Jika dilihat di Palembang, kain songket berasal dari kata disongsong dan di teket, kata teket dalam baso palembang lamo berarti sulam. Kata itu mengacu pada proses penenunan, yang memasukkan
9
benang dan peralatan pendukung lainnya ke longsen dilakukan dengan cara diterima atau disongsong, kemudian disulam sehingga Songket berarti kain yang pembuatannya disongsong dan disulam (Syarofie, 2012:32). Adapun penelitian yang berkaitan dengan songket Melayu di daerah Batu Bara mengenai perkembangan dan makna motif songket (Anindya, 2014), pengembangan kain songket Pekanbaru sebagai produk unggulan (Dinantia, 2016), eksistensi dan fungsi sosiobudaya pada songket Batu Bara (Djafar, 2009).
Pemecahan masalah pengembangan usaha songket Batu Bara meliputi proses produksi, pemilihan bahan, motif, hingga pada target pasar dan pemasaran, dengan melakukan pengamatan maka akan dapat disimpulkan model pengembangan usaha apa yang relevan dikembangkan pada pengembangan usaha songket Batu Bara. Waty dan Nurpeni (2012) dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul Pengembangan Usaha Tenun Songket Winda di Kota Pekanbaru Provinsi Riau menyatakan bahwa
10
perlu adanya pembinaan dan pengembangan usaha songket sebab para pengrajin songket hanya mengetahui bahwa hasil songket hanya diproduksi untuk pakaian. Ini menjadi salah satu temuan yang perlu dikembangkan.
11
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT
3.1. Tujuan
Penulisan buku ini merupakan hasil dari penelitian. Adapun tujuan penelitian ini untuk mempublikasikan, mempromosikan, memberikan model pengembangan usaha, dan kearifan lokal songket Batu Bara selain itu perlu terlebih dahulu memperoleh informasi dan data mengenai proses pemilihan bahan hingga sampai pada proses pemasaran songket Batu Bara.
Penelitian ini juga bertujuan untuk penggalian kearifan lokal yang ada di dalam songket Batu Bara yang kemudian akan diproyeksikan menjadi salah satu luaran dari penelitian ini yaitu buku yang ada
12
di tangan pembaca ini, juga untuk kepentingan pengembangan keberlanjutan songket baik dari segi analisis akademis. Dengan demikian, akan menarik minat dan perhatian masyarakat sehingga buku yang ada di tangan pembaca ini dapat menjadi sebuah resolusi untuk para akademisi, masyarakat umum, dan pengrajin songket.
3.2. Manfaat
Buku ini merupakan hasil dari penelitian lapangan adapun manfaat buku ini diharapkan sebagai sumber informasi, sebagai acuan akademis, dan sebagai acuan dalam pengembangan model usaha dan kearifan lokal songket khususnya di Kabupaten Batu Bara. Penggalian kearifan lokal yang terkandung dalam songket juga akan bermanfaat sebagai suatu motivasi awal untuk melestarikan dan menghidupkan kembali budaya menyongket sehingga kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tetap terlestarikan dan terjaga. Adapun manfaat lainnya adalah memberikan jawaban tentang solusi yang perlu dilakukan dalam pengembangan usaha songket tanpa
13
menghilangkan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya sehingga dalam tahap pemilihan bahan, pengerjaan bahan sampai pada pemasaran produk mudah dilakukan dan berdampak langsung secara finansial kepada pengrajin kain songket di Kabupaten Batu Bara.
14
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Padang Genting, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara.
4.2. Prosedur Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian lapangan. Menurut Kenneth D. Bailey (1994:254) istilah studi
15
lapangan merupakan istilah yang sering digunakan bersamaan dengan istilah studi etnografi (ethnographic study atau ethnography). Neuman (2003:363) juga menjelaskan bahwa penelitian lapangan juga sering disebut etnografi atau penelitian participant observation. Data yang telah terkumpul kemudian akan dianalisis dan dideskripsikan dengan uraian kata-kata secara rinci sehingga mudah dipahami dan dimengerti. Untuk lebih mudah memahaminya, maka di bawah ini ada bagan kerangka metode penelitian pada penelitian ini yang menunjukkan alur yang akan dilakukan peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukan untuk kemudian akan dilakukan analisis terhadap data tersebut sehingga mendapatkan hasil berupa jawaban yang dapat menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan.
16 4.3. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik penelitian lapangan. Teknik analisis data yang digunakan oleh model interaksi, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Milles & Huberman, 1989; Sani & Sudiran, 2012: 61). Adapun teknik analisis data adalah sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Data yang diperoleh dituangkan dalam bentuk laporan, selanjutnya adalah mengubah rekaman data tersebut ke dalam pola, kategori dan disusun secara sistematis. Fungsi dari reduksi data ini adalah menajamkan, membuang data yang tidak perlu dan mengorganisir sehingga interpretasi bisa ditarik. Data yang yang direduksi akan memberikan gambaran mengenai hasil pengamatan yang mempermudah peneliti dalam mencari kembali data yang diperoleh jika diperlukan.
17 2. Penyajian Data
Penyajian data merupakan penampilan sekumpulan data yang memberikan kemungkinan untuk menarik kesimpulan dari pengambilan tindakan. Bentuk penyajiannya antara lain dengan cara memasukkan data dalam sebuah grafik dan bagan atau bisa juga hanya dalam bentuk naratif.
3. Kesimpulan dan Verifikasi
Setelah data direduksi kemudian data dimasukkan dalam bentuk bagan dan grafik maka selanjutnya peneliti akan mencari arti, konfigurasi yang mungkin menjelaskan alur sebab akibat dan sebagainya. Kesimpulan harus diuji.
4.4. Data dan sumber data
Data penelitian adalah data primer meliputi kain songket Batu Bara, motif kain songket. Alat yang digunakan untuk memproduksi songket, model pemasaran yang digunakan oleh masyarakat pengrajin songket, kemudian data sekunder meliputi beberapa referensi dan jurnal yang relevan dengan kajian ini.
18 4.5. Informan Penelitian
Informan penelitian ini adalah tokoh masyarakat, tokoh adat, dan budayawan, para pengrajin songket Batu Bara, masyarakat setempat, para penjual, dan pembeli kain songket.
4.6. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Nawawi (2003:100) menyatakan observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Kemudian metode yang digunakan adalah wawancara, yang dimaksud dengan wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan narasumber data (Ali, 1985:83). Wawancara yang digunakan akan bersifat terbuka dan mendalam. Kemudian akan dilakukan diskusi kelompok terarah (focus grup discussion) dan sewaktu-waktu akan dilakukan pencatatan agar data yang didapatkan lebih lengkap lagi.
19
4.7. Tahapan penelitian dan Teknik Keabsahan Data
Kegiatan awal yang di gunakan adalah :
1. Mengumpulkan daftar informan yaitu tentang siapa saja yang akan dijadikan informan yang mendukung subjek penelitian.
2. Membutuhkan informan yang sesuai dan relevan dengan penelitian.
3. Mengumpulkan dan mengidentifikasi peralatan yang cocok digunakan di lapangan sewaktu pengumpulan data.
4. Melakukan studi pustaka, yang mempunyai hubungan dengan bahan penelitian.
5. Melakukan pendekatan secara pribadi dengan informan.
Keabsahan data diuji dengan metode triangulasi yaitu proses pengecekan kembali. Pada umumnya dikenal empat macam triangulasi yaitu: (1) Triangulasi metode yaitu mengecek ulang tentang konsistensi tekanan-tekanan dari metode yang berbeda. (2) Triangulasi sumber data artinya pengecekan ulang tentang keakuratan temuan-temuan berdasarkan sumber data yang berbeda.
20
(3) Triangulasi penganalisaan yaitu agar temuan-temuan penelitian dicek oleh beberapa orang yang ahli dalam memberikan analisa dan interpretasi. (4) Triangulasi perspektif dan teori, maksudnya menganjurkan agar penelitian mempertimbangkan dan membandingkan temuan-temuan penelitian berdasarkan perspektif dan teori yang berbeda untuk mendapatkan temuan penelitian.
21
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Pengembangan Usaha dan Kearifan Lokal Songket Batu Bara
Kain songket merupakan salah satu local genious yang ada pada masyarakat Melayu di Kabupaten Batu Bara. Selain memiliki motif yang indah, kain songket juga mengandung segudang kearifan lokal yang penting untuk dipertahankan dan dilestarikan. Selain menjadi salah satu identitas budaya, kain songket juga menjadi pakaian adat tradisonal yang dikenakan oleh masyarakat Melayu pada upacara-upacara adat sehingga kain songket memang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten Batu Bara.
22
Songket yang sudah menjadi sehelai kain kemudian dijahit menjadi bermacam jenis bentuk pakaian bukanlah tidak mengalami proses yang panjang, dalam prosesnya songket melewati beberapa tahap. Setiap tahap memiliki pengaruh yang besar pada kualitas hasil songket, tahap-tahapannya yaitu mulai dari pemilihan bahan, pemilihan warna bahan, menggulung benang (menorou), menentukan panjang pendek benang (mengani), menggulung benang di papan gulung (menoto), menggulung ke papan karap (menyosok), memasukkan benang longseng ke dalam sisir, menaikkan ke okik, pemilihan motif, proses penenunan, hingga menghasilkan kain songket yang indah, kemudian hasil tenunan yang sudah berbentuk kain songket ternyata masih mengalami proses yaitu menjahitnya menjadi pakaian, pembuatan pakaian yang berbahan dasar songket ternyata tidak hanya memiliki keindahan yang menunjukkan identitas budaya Melayu saja tetapi memiliki makna tertentu bagi siapapun yang memakai songket sebagai pakaiannya, sehingga saat memakai kain songket tidak sembarang
23
memakainya karena ada makna-makna tertentu yang terkandung di dalam kain songket yang dipakai tersebut. Semua itu merupakan kearifan lokal yang dapat dipertahankan sehingga kebudayaan Melayu tetap terjaga.
Kearifan lokal dalam sebuah kebudayaan sudah tentu merupakan bentuk dialektika antara manusia dengan pengetahuan kehidupan manusia. Pengetahuan yang diambil dari kehidupan di mana manusia itu berada kemudian direfleksikan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memaknai kehidupan. Sebagai pedoman masyarakat, selanjutnya kearifan lokal memberi panduan yang jelas lewat norma dan adat istiadat sehingga dapat dibatasi ranah-ranah yang dapat dijangkau oleh tingkah laku manusia.
Dalam proses terbentuknya, biasanya kearifan lokal tidak dikonsepsikan secara individu namun membutuhkan peran komunal yakni masyarakat sehingga kerifan lokal tidak saja berlaku pada individu masyarakat tetapi berlaku umum kepada seluruh masyarakat. Selanjutnya kearifan lokal menjadi bagian dari budaya untuk kemudian
24
menjadi identitas bahkan karakter suatu masyarakat. Karenanya, antara kearifan lokal dan budaya merupakan hubungan antara anak dengan induknya. Kearifan lokal tidak lain adalah bagian dari budaya.
Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk dapat memberikan kesejahteraan dan kedamaiaan di dalam masyarakat, dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu maka kearifan lokal menjadi salah satu tuntunan dalam dinamika kehidupan masyarakat khususnya masyarakat yang masih menjunjung tinggi lokalitas daerahnya. Local wisdom merupakan sebuah norma, aturan, kecerdasan, bentuk kreativitas yang masih dalam betuk lokal tertentu atau daerah tertentu kemudian pengertian tersebut disusun secara etimologi dimana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirnya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap suatu objek atau peristiwa yang
25
terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan (Ridwan, 2007: 2-3).
Secara garis besar kearifan lokal sebenarnya dapat dibagi menjadi dua tipe. Kedua tipe ini memiliki turunan yang dapat diambil manfaatnya untuk meningkatkan kesejahteraan serta menciptakan kedamaian, bukan saja pada masyarakat pengrajin songket di Kabupaten Batu Bara tetapi pada seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Batu Bara. Adapun secara garis besar dua tipe kearifan lokal itu yaitu kearifan lokal untuk kedamaiaan (Local Wisdom For Peace) dan kearifan lokal untuk kesejahteraan (Local Wisdom For Welfare). Kedua tipe ini jika dikaji dalam dunia songket maka akan ditemukan berupa norma, pesan, nilai dan lain-lain yang terkandung dalam kain songket yang semua itu termasuk dalam tipe kearifan lokal kedamaian, sedangkan jika songket dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan dan membentuk kepribadian yang baik seperti kerja keras, gotong-royong, disiplin dan lain-lain itu
26
semua digolongkan dalam tipe lokal wisdom kesejahteraan.
Sibarani (2012:134) mengemukakan bahwa kearifan lokal kesejahteraan itu turunannya yaitu kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong-royong, pengelolaan gender, pelestarian dan kreatifitas budaya, dan peduli lingkungan, sedangkan kearifan lokal kedamaian turunannya yaitu kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, rasa syukur. Semua turunan dari kedua tipe besar kearifan lokal tersebut di atas terdapat di dalam songket, karena semua kearifan lokal yang ada di atas memiliki manfaat yang sangat besar jika diwujudkan dan dipertahankan, untuk lebih mudah memahami tentang kearifan lokal yang dikemukakan oleh Sibarani (2012:134) di bawah ini bagan dua tipe besar kearifan lokal dan turunannya.
27
Pada bagian kearifan lokal kesejahteraan ada beberapa turunan begitu juga dengan kearifan lokal kedamaian. Turunannya semua itu dapat dipertahankan dalam sebuah masyarakat sehingga tercipta kedamaiaan dan kesejahteraan pada masyarakat. Kearifan lokal songket mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptanya kedamaian pada masyarakat Melayu Batu Bara khususnya para pengrajin songket.
Kearifan lokal kesejahteraan merupakan salah satu kearifan lokal yang memiliki beberapa turunan. Pada dasarnya semua turunan dari kearifan lokal kesejahteraan dapat ditemui dan
28
diaplikasikan pada pengrajin songket sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengrajin songket.
Pengrajin songket merupakan salah satu elemen yang paling vital dalam pengembangan usaha songket. Peran mereka begitu besar dan begitu penting dalam proses pelestarian budaya menenun songket, namun besarnya pengaruh yang mereka berikan tidak berbanding lurus dengan besaran upah yang mereka rasakan sehingga secara ekonomis mereka masih belum merasakan dampak yang signifikan. Mereka belum merasakan rasa layak jika dibandingkan dengan waktu serta tenaga yang harus mereka keluarkan untuk sehelai kain songket Melayu Batu Bara. Ini menjadi masalah yang sangat serius karena ketertarikan pengrajin tenun kain songket untuk menenun akan semakin menurun dan terpuruk. Namun akan terjadi sebaliknya ketika para pengrajin songket merasakan dampak yang lebih besar secara finansial.
Kesejahteraan para pengrajin songket merupakan salah satu faktor yang harus
29
dipertimbangkan dalam pengembangan usaha songket, karena kesejahteraan para pengrajin akan meningkatkan semangat, tanggung jawab, dan ketertarikan terhadap pekerjaan menenun kain songket Batu Bara.
Sibarani (2012:193) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan yaitu:
1. Permasalahan empiris (empirical problem) atau fakta empiris (empirical fact) yang dihadapi masyarakat harus diketahui dan dianalisis agar mendapatkan solusi sebagai jawaban untuk meretas masalah kesejahteraan.
2. Dasar Hukum (Legal Basis) atau kaidah legal (Legal Rule) merupakan sesuatu yang sangat penting karena dapat dijadikan sebagai legalitas untuk membangun koneksi dengan beberapa lembaga lain yang dapat memberi keuntungan dan peningkatan kesejahteraan, pembuatan dasar hukum yang legal berupa perundang-undangan atau peraturan tertentu yang dapat dijadikan landasan untuk
30
memutuskan, melaksanakan, dan membantu dalam peningkatan kesejahteraan. Adapun pembangunan koneksi atau hubungan dapat dilakukan beberapa lembaga seperti lembaga pemerintah, swasta ataupun perorangan setelah dasar hukum tersebut sudah ada. 3. Penelitian sosial budaya, ini merupakan salah
satu yang dapat mengukur dan menjelaskan secara faktual mengenai kondisi, perkembangan, dan masalah yang baru atau yang lama yang menjadi tantangan terwujudnya kesejahteraan terhadap pelaku songket. Hasil penelitian ini akan menjadi acuan untuk mengembangkan model pemberdayaan yang baru demi terwujudnya kesejahteraan.
4. Pengorganisasian, yakni membuat konsep pelaksanaan peningkatan kesejahteraan berdasarkan hasil penelitian dan merencanakan kerjasama antarinstitusi. 5. Perencanaan yakni penyusunan rencana dan
jadwal kegiatan secara sistematis mulai pembahasan hulu hingga hilir serta siapa saja
31
yang melakukan kemudian penanggung jawab dan target yang ingin dicapai.
6. Pelaksanaan yakni kegiatan pemberdayaan masyarakat di lapangan harus memperhatikan dengan benar sasaran peningkatan kesejahteraan agar tidak salah sasaran.
Keenam poin di atas harus diperhatikan, dipikirkan serta direalisasikan secara efektif dan efisien agar pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat pengrajin songket dengan tujuan kesejahteraan dapat tercapai.
Robert Sibarani (2012) menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal maka ia mengulas menjadi beberapa turunan yaitu: Kerja keras, Disiplin, Pendidikian, Kesehatan, Gotong royong, Pengelolaan Gender, Pelestarian dan kreatifitas Budaya, peduli lingkungan. Dengan turunan kearifan lokal kesejahteraan di atas maka diharapkan mampu menghasilkan kesejahteraan yang kemudian oleh Robert Sibarani (2012) dibagi menjadi beberapa turunan pula. Adapun tujuan dan
32
fungsi dari kearifan lokal kesejahteraan yaitu: Kemakmuran, Sumber Kreatifitas, Devosit Industry Budaya, Motivasi Keberhasilan, Pengentasan Kemiskinan. Jika dibuat kedalam bentuk bagan, maka akan lebih mudah dipahami. Di bawah ini bagan kearifan lokal kesejahteraan serta tujuan dan fungsinya:
Dari bagan di atas maka dapat dilihat bahwa untuk mencapai kesejahteraan perlu beberapa hal yang harus dilakukan, begitu juga para pengrajin kain songket di Batu Bara, untuk itu kearifan lokal kesejahterahan yang ada serta yang dapat dipertahankan untuk mengembangkan usaha songket Batu Bara adalah:
33 1. Kerja keras
Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan sikap sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya sehingga semua masalah dapat diselesaikan. Kerja keras menurut Kesuma (2012: 17) adalah suatu upaya yang terus dilakukan (tidak pernah menyerah) atau tindakan yang terus dilakukan dalam menyelesaikan pekerjaan menjadi tugasnya sampai tuntas. Seseorang yang bekerja keras pantang menyerah untuk mencapai hal yang diinginkan ataupun pantang menyerah untuk mengerjakan tugasnya. Walaupun menemukan rintangan ataupun hambatan di dalam melakukannya. Kerja keras menurut Mustari (2014: 43) adalah perilaku atau tindakan yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar atau pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. Usaha pantang menyerah, yaitu tetap menjalankan
34
tugas sekalipun menghadapi tantangan atau hambatan.
Ciri-ciri kerja keras menurut Mustari (2014: 43) ada tiga, yaitu:
1) Menunjukkan kesungguhan dalam melakukan tugas.
2) Tetap bertahan pada tugas yang diterima walaupun menghadapi kesulitan.
3) Berusaha mencari pemecahan terhadap permasalahan.
Pantang menyerah adalah salah satu tanda dari kerja yang keras, yaitu usaha yang menyelesaikan kegiatan atau tugas secara optimal.
Kemudian Mustari (2014: 44) memberikan tanda-tanda seseorang dikatakan memiliki sikap kerja keras, ini dapat ditandai sebagai berikut:
1) Menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan
2) Menggunakan segala kemampuan atau daya untuk mencapai sasaran
35
3) Berusaha mencari berbagai alternatif pemecahan ketika menemui hambatan Untuk itu sikap kerja keras merupakan hal yang sangat penting dilestarikan dan dipelihara dalam melaksanakan suatu tugas begitu juga saat bekerja menenun kain songket.
Bercerita tentang kerja keras maka bercerita tentang intensitas kerja atau jam kerja yang dikeluarkan untuk suatu pekerjaan, kerja keras yang dilakukan oleh pekerja songket sebenarnya masih belum maksimal karena dalam pengerjaan tenun songket mereka masih bekerja paruh waktu sehingga upah yang mereka terima cukup minim. Selain masalah waktu ternyata pengaruh pasar juga memengaruhi aktivitas para pembuat songket yaitu dikarenakan jika ada orang yang memesan kain dengan skala besar maka para penyongket akan kejar target dan bekerja keras. Namun jika tidak ada pesanan berskala besar maka mereka akan menenun songket secara paruh waktu.
36
Sikap kerja keras dalam sebuah pekerjaan merupakan sesuatu yang perlu dipelihara karena memiliki manfaat yang sangat besar dalam sebuah aktivitas usaha khususnya usaha tenun songket yang ada di Kabupaten Batu Bara. Kearifan lokal yang ada pada masyarakat Melayu juga mengandung sikap kerja keras sehingga perlu dipelihara untuk dapat diambil manfaatnya demi terpenuhinya kebutuhan, kedamaiaan serta memupuk rasa tanggung jawab pekerja songket dalam mengerjakan tenunan kain songket.
Sikap kerja keras merupakan manifertasi rasa tanggung jawab. Selain itu sikap ini memupuk seseorang menjadi orang yang tidak mudah putus asa, dengan begitu maka sikap kerja keras juga akan mengembangkan potensi diri sehingga dapat berkembang dan mampu bersaing di dunia luar. Untuk lebih jelas di bawah ini ada beberapa manfaat kerja keras.
37
Manfaat Kerja Keras
Menurut wawancara di lapangan, ternyata sikap kerja keras memiliki dampak yang besar pada penenun kain songket. Jika mereka melakukan menenun songket dengan kerja keras ternyata mereka mendapat hasil yang lebih memuaskan, tapi ini biasanya terjadi jika ada pesanan yang berskala besar yang harus segera dikerjakan, istilahnya “kejar target” untuk itu perilaku kerja keras memang harus dipupuk dan dipelihara bagi para pengrajin songket agar pekerjaan
38
menyongket menjadi prioritas utama bagi para pengrajin songket dibanding pekerjaan yang lain sehingga songket cepat diselesaikan dengan waktu yang relatif lebih cepat.
Namun karena beberapa faktor, seperti faktor fasilitas yang kurang memadai serta upah yang begitu minim menyebabkan kebiasaan menenun kain songket sebagai pekerjaan paruh waktu tidak dapat dihindarkan. Untuk itu perlu adanya pembenahan dalam hal fasilitas seperti tempat kerja, ruangan kerja menenun yang nyaman yang dapat menumbuhkan rasa nyaman dan semangat sehingga menunjang rasa semangat bekerja semakin kuat dan menciptakan semangat kerja keras. Kemudian stimulus upah yang memadai juga akan memotivasi para pengrajin songket untuk bekerja semakin giat dan semakin bekerja keras karena upah yang begitu minim menjadi salah satu masalah yang cenderung dikeluhkan oleh pekerja tenun kain songket
39
sehingga berpengaruh pada sikap kerja keras penenun kain songket.
2. Disiplin
Sikap disiplin merupakan sikap yang memengaruhi aktivitas sebuah usaha. Disiplin dapat diciptakan mulai dari diri sendiri. Namun jika membahas sebuah perusahaan, disiplin merupakan salah satu kunci sukses dalam sebuah perusahaan, salah satunya usaha songket di Kabupaten Batu Bara. Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Kata disiplin berasal dari bahasa Latin discipulus yang berarti “pembelajaran.” Jadi, disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Menurut Ariesandi (2008:231) arti disiplin sesungguhnya adalah proses melatih pikiran dan karakter anak secara bertahap sehingga menjadi seseorang yang memiliki kontrol diri dan berguna bagi masyarakat. Disiplin merupakan salah satu
40
bentuk tindakan dari sebuah rasa serius dan tanggung jawab pada sesuatu pekerjaan, dengan disiplin maka akan terbangun pula hasil yang maksimal. Disiplin adalah kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya tanpa adanya paksaan dari pihak luar. Menurut Sinambela (2012:239) terdapat dua jenis disiplin kerja, yaitu disiplin preventif dan disiplin korektif.
a. Disiplin preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai untuk mengikuti dan mematuhi pedoman dan aturan kerja yang ditetapkan oleh organisasi. Dalam hal ini disiplin preventif bertujuan untuk menggerakkan dan mengarahkan agar pegawai bekerja berdisiplin. Cara preventif dimaksudkan agar pegawai dapat memelihara dirinya terhadap peraturan- peraturan organisasi.
41
b. Disiplin korektif adalah suatu upaya penggerakkan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan mengarahkannya agar tetap mematuhi berbagai peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada organisasi. Dalam disiplin korektif, pegawai yang melanggar disiplin akan diberikan sanksi yang bertujuan agar pegawai tersebut dapat memperbaiki diri dan mematuhi aturan yang ditetapkan.
Menurut Gordon (1996:3) Disiplin adalah perilaku dan tata tertib yang sesuai dengan peraturan dan ketetapan, atau perilaku yang diperoleh dari pelatihan yang dilakukan secara terus menerus. Disiplin adalah suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam keadaan tertib, teratur dan semestinya, serta ada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung, sejauh pengamatan peneliti para pengrajin songket tidak diikat dengan aturan aturan baku yang berbentuk Sistem Operasional
42
Prosedur (SOP) sehingga pengaturan jam kerja dan jam pulang kerja tidak ada aturan bakunya padahal itu sangat penting. Tujuan utama dari sebuah sikap kedisiplinan adalah untuk mengarahkan kita untuk mengontrol dirinya sendiri. Selain itu juga kita dapat melakukan aktivitas dengan terarah, sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka dengan disiplin kita akan hidup teratur, sedangkan bila hidup kita tidak disiplin berarti kita tidak bisa hidup teratur dan hidup kita akan hancur berantakan tidak terarah.
Namun jika dilihat lebih seksama ada hal yang dapat digolongkan sebagai perilaku disiplin yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin songket di Kabupaten Batu Bara yaitu dalam pengerjaan menenun kain songket tidak dilakukan di malam hari karena mereka memiliki mitos tertentu yang mereka yakini dapat membawa hal sial. Mitos ini justru diyakini dan dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa jika melakukan menenun kain songket di malam hari itu
43
membawa kesialan kepada penenun. Hal mitos seperti ini dipatuhi oleh seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Batu Bara sehingga pada malam hari para penenun lebih fokus istirahat atau mengerjakan pekerjaan lain selain menenun kain songket. Sikap disiplin terhadap mitos yang berkembang dalam masyarakat penenun kain songket seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pengerjaan menenun kain songket karena disiplin merupakan bentuk pengendalian diri pegawai dan pelaksanaan yang teratur dan menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam sebuah organsasi (Teguh, 2009:290).
Sebuah usaha kain songket dapat digolongkan sebagai organisasi karena memiliki ketua atau pemilik usaha kemudian memiliki anggota atau pekerja/penenun kain songket untuk meningkatkan sikap disiplin penenun songket, peran pengusaha songket sangat dibutuhkan, dalam hal ini pengusaha songket perlu mempertimbangkan beberapa
44
faktor yang memengaruhi sikap disiplin para penenun songket. Menurut Singodimedjo dalam Sutrisno (2013:89) faktor yang memengaruhi disiplin pegawai adalah:
a. Besar kecilnya pemberian kompensasi. Besar kecilnya kompensasi dapat memengaruhi tegaknya disiplin. Para pegawai akan mematuhi segala peraturan yang berlaku bila ia merasa mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan jerih payahnya yang ia berikan dalam menenun kain songket.
b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam organisasi/usaha songket. Peranan keteladanan pimpinan sangat berpengaruh besar dalam organisasi, bahkan sangat dominan dibandingkan dengan semua faktor yang memengaruhi disiplin pegawai, karena pimpinan dalam suatu perusahaan masih menjadi panutan para pegawai. Para pegawai akan selalu meniru yang dilihatnya setiap hari. Apa pun yang dibuat
45
pimpinannya cenderung akan diikuti oleh pegawai atau penenun kain songket.
c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan. Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam organisasi bila tidak ada aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. Untuk itu perlu dilakukan peraturan tertulis tentang SOP yang harus dipatuhi di dalam menjalankan usaha songket. Disiplin tidak mungkin ditegakkan bila peraturan yang dibuat hanya berdasarkan instruksi lisan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi.
d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan. Bila ada seorang pegawai yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian pimpinan untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Dengan adanya tindakan terhadap pelanggaran disiplin, sesuai dengan sanksi yang ada,
46
maka semua pegawai akan merasa terlindungi, dan dalam hatinya berjanji tidak akan berbuat hal serupa.
e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan. Dengan adanya pengawasan yang dilakukan pimpinan, maka sedikit banyak para pegawai akan terbiasa melaksanakan disiplin kerja.
Faktor-faktor di atas merupakan hal yang perlu diperhatikan sehingga sikap disiplin yang ada dalam kearifan lokal menenun kain songket tidak pudar. Jika digali secara mendalam ternyata masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten Batu Bara khususnya para pengrajin songket dapat bersikap disiplin. Mitos yang menyatakan bahwa menenun di malam hari itu tidak baik dan membawa kesialan saja mereka bisa patuhi dan laksanakan, ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha songket dengan menigkatkan prosedur yang lebih baik dan manajemen yang lebih teruukur dengan membuat SOP yang dapat
47
menimbulkan sifat disiplin terhadap pengrajin songket sehingga para pengrajin songket bekerja sesuai prosedur dan disiplin serta patuh dalam melaksanakan aturan-aturan dalam pekerjaan seperti mereka mematuhi mitos yang menyatakan bahwa menenun kain songket malam hari itu membawa sial. Pada dasarnya sikap disiplin merupakan hal yang penting dipelihara dalam sebuah perusahaan begitu juga di dalam usaha tenun kain songket yang ada di kabupaten Batu Bara. Sutrisno (2013:88) menyatakan bahwa disiplin kerja sangat diperlukan untuk menunjang kelancaran segala aktivitas organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai secara maksimal. Disiplin kerja dapat dilihat sebagai sesuatu yang besar manfaatnya, baik bagi kepentingan organisasi maupun kepentingan pegawai.
48 3. Pendidikan
Merujuk pada sistem pendidikan nasional Indonesia yang tertera dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang fungsi pendidikan, bahwasanya fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Hal ini mengandung arti bahwa fungsi pendidikan nasional adalah (1) memerangi segala kekurangan, keterbelakangan dan kebodohan (2) memantapkan ketahanan nasional (3) meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan berlandaskan kebudayaan bangsa dan kebhinekaan tunggal ika. Bendara Raden Tumenggung Harya Suwardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara (1961: 2) mengatakan dalam bukunya bahwa usaha-usaha pendidikan (tari) ditujukan pada (a) halusnya budi, (b) cerdasnya otak
49
dan (c) sehatnya badan. Ketiga usaha itu akan menjadikan lengkap dan laras bagi manusia. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha untuk membentuk manusia yang utuh lahir dan batin, yaitu cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur.
Ki Hadjar Dewantara juga menegaskan bahwa pendidik harus memiliki konsep 3 kesatuan sikap yang utuh, yakni ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Pengertiannya, bahwa sebagai pendidik harus mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, pendidik juga mampu menjaga keseimbangan, juga dapat mendorong, dan memberikan motivasi bagi peserta didiknya. Trilogi pendidikan ini diserap sebagai konsep “kepemimpinan Pancasila”.
Menurut Syah dalam Chandra (2009: 33) dikatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar “didik” yang mempunyai arti memelihara dan memberi latihan. Pendidikan yang ada di dalam kearifan lokal
50
merupakan salah satu wujud kebudayaan yang nyata yang perlu dilestarikan, karena kearifan lokal tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Koentjaraningrat (1996:72) yang dikenal sebagai bapak kebudayaan menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Untuk itu dalam melestarian kebudayaan perlu adanya dorongan belajar sehingga kebudayaan tetap dapat dilestarikan dengan mempertahankan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.
Jika dilihat secara langsung pendidikan yang dapat di ambil dari menenun songket adalah untuk mampu menenun songket mulain pemilihan bahan dan warna, pemintalan benang, membuat benang tenunan di okik, sampai pada pemilihan motif yang cukup rumit dan sulit dilakukan sehingga perlu dipelajari dengan seksama untuk kemudian ilmu yang didapat dari
51
belajar menenun songket tersebut menjadi ilmu yang dapat diaplikasikan sebagai manifestasi pelestarian kebudayaan menenun kain songket.
Di lain sisi jika sekolah formal yang telah diikuti oleh para pengrajin songket, ternyata mayoritas berpendidikan SMA, namun dalam hal peningkatan dan pengembangan sumber daya pengrajin songket (Human’s songket resources) dalam hal mendalami ilmu tentang menenun kain songket maka dibutuhkan pelatihan non-formal dari lembaga swasta atau pemerintah dalam bentuk workshop yang di dalamnya diajarkan tentang teknik menenun yang baik, teknik memilih bahan baku yang baik, hingga teknik melakukan inovasi terhadap kain songket sehingga para penenun kain songket memiliki ilmu yang baru dan memiliki perkembangan ilmu yang lebih luas sehingga mampu bersaing untuk skala yang lebih besar.
Pelatihan-pelatihan non-formal kepada para pengrajin kain songet perlu dilakukan
52
karena dapat menstimulus kreatifitas para penenun songket, serta menambah wawasan para pengrajin songket dalam dunia tenun kain songket sehingga secara kapasitas keilmuan mereka lebih mumpuni dan paham, bukan saja bagaimana membuat songket yang memiliki kualitas tinggi tetapi juga bagaimana memasarkan dan berinovasi terhadap songket tersebut supaya pengembangan usaha songket semakin cepat.
Mengenai kearifan lokal berupa pendidikan yang terdapat dalam dunia usaha songket berupa, sebenarnya jelas ada yaitu berupa pengetahuan lokal (Indigious Knowledge) tentang bagaimana cara membuat sebuah kain songket mulai dari pembuatan alatnya yang disebut okik kemudian mengatur benang tuntuk dijadikan tenunan, melakukan proses menenun songket, pembuatan motif songket hingga pada pemilihan warna songket yang semua itu merupakan pengetahuan lokal yang merupakan ilmu yang diturunkan secara terun temurun tanpa harus
53
melakukan pendidikan seperti di pendidikan formal.
Proses pembuatan alat, pembuatan kain hingga pemasaran kain songket memberikan pendidikan tersendiri bagi para pelaku tenun songket. Salah satu contoh untuk menenun songket bukan sembarang orang yang mampu mempelajarinya karena memiliki kesulitan tertentu dalam menenun kain songket Melayu Batu Bara. Berdasarkan cerita masyarakat setempat ada sebuah mitologi yang diyakini masyarakat bahwa ilmu tentang menenun songket itu sangat sulit diajarkan dan diturunkan kepada orang lain di luar Desa Padang Genting, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan jika diajarkan atau diturunkan kepada masyarakat setempat, maka akan lebih mudah memahami dan menguasai ilmu tentang menenun kain songket. Ini terbukti pada saat diadakannya pelatihan oleh pemerintah kabupaten Langkat untuk melatih beberapa orang yang berasal
54
dari Kabupaten Langkat untuk belajar menenun songket di kabupaten Batu Bara ternyata hasilnya setelah melewati tiga bulan pelatihan tetap saja mengalami kesulitan untuk memahami dan menguasai bahkan ada juga yang sama sekali belum mengerti tentang ilmu menenun kain songket Melayu Batu Bara.
Kondisi tersebut sangat berbeda jika dilakukan pada masyarakat setempat. Ketika diadakan pelatihan untuk masyarakat setempat, masyarakat setempat justru sangat mudah memahami dan menguasai ilmu tentang menenun kain songket. Bahkan bukan hanya dengan pelatihan mempraktekkan langsung, justru dengan melihatnya saja mereka sudah mengerti dan memahami mengenai ilmu menenun kain songket Melayu Batu Bara. Masyarakat meyakini bahwa ilmu menenun kain songket sudah mengalir dalam diri mereka sehingga dengan hanya mengamati saja beberapa kali maka mereka
55
akan paham dan pandai dibanding dengan orang di luar daerah Desa Padang Genting.
Keyakinan seperti itu sebenarnya masih diragukan kebenarannya namun itu bisa menjadi pemicu semangat para masyarakat Melayu untuk terus dapat melestarikan dan mengajarkannya kepada anak cucunya secara turun menurun dari generasi ke generasi.
4. Kesehatan
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan negara. Jika dilihat dalam kearifan lokal, ternyata kearifan lokal dalam bidang kesehatan salah satunya merupakan pengobatan tradisional. Sebagai masyarakat yang kreatif, masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan tersebar dalam sebaran geografis di seluruh Indonesia, memiliki banyak sekali produk budaya yang berhubungan dengan kesehatan. Produk budaya yang berhubungan dengan kesehatan ini terwujud dalam bentuk produk obat-obat
56
tradisional yang mereka hasilkan untuk mengatasi permasalahan kesehatan mereka dan dalam bentuk tindakan melalui wujud pengobatan secara tradisional dan dalam wujud penggunaan obat tradisional. (Darmastuti dan Sari 2011:234).
Dalam dunia tenun kain songket, ternyata kearifan yang menunjukkan kesehatan juga ada, dapat dilihat dari cara bekerja yang masih menggunakan cara manual sehingga dalam pengerjaannya menggerakkan tenaga tangan, kaki sehingga dalam ilmu kesehatan menggerakan tubuh merupakan hal yang dianjurkan dalam menjaga kesehatan. Kesehatan merupakan hal yang juga harus diperhatikan dalam pengerjaan tenun kain songket. Namun karena aktivitas yang berlebihan dalam menggerakkan tangan dan kaki saat menenun kain songket maka faktor kesehatan yang terkandung dalam kearifan lokal menenun songket menjadi masalah baru.
57
Jika dilihat dalam ranah yang lebih kecil sebenarnya pekerjaan menenun kain songket ternyata cukup melelahkan, beratnya beban dalam pengerjaan tenun songket membuat mayoritas pengrajin songket merasa mudah letih, ini dikarenakan faktor usia para pengrajin songket yang rata-rata merupakan ibu rumah tangga dengan umur berkisar 40 tahunan berdampak pada cepat letih dan mudah keram otot. Selain faktor alat tenun tradisonal yang digunakan menjadi salah satu faktor yang membuat pengerjaan songket begitu berat dan berdampak pada tenaga yang harus mereka keluarkan, belum lagi jaminan kesehatan yang tidak ada dari para pengusaha songket menjadikan masalah kesehatan para pengrajin songket menjadi masalah serius yang perlu diperhatikan oleh pemerintah atau pengusaha kain songket. Untuk itu para pengrajin songket, khususnya para ibu rumah tangga harus tetap memperhatikan kesehatan mereka karena jika tidak, akan mengalami keram otot pada
58
bagian lutut dan betis kaki serta pergelangan kaki, karena dalam proses menenun kain songket, dibutuhkan tenaga dorong kaki untuk merapatkan helai benang yang diselipkan satu persatu, kemudian karena dalam proses menenun kain songket para pengrajin sering berlama-lama duduk sehingga berakibat terjadinya keram pada tulang punggung mereka khususnya bagian pinggang.
Namun jika dilihat dari wilayah yang lebih besar sebenarnya usaha tenun kain songket ini memberikan dampak yang baik terhadap kesehatan masyarakat karena tidak menimbulkan polusi udara yang menyumbang zat karsinogenik yang merusak kealamian lingkungan di sekitarnya, sehingga dengan adanya usaha tenun kain songket Melayu di Kabupaten Batu Bara ini dapat disimpulkan relatif aman untuk kesehatan, kebersihan serta kealamian kelingkungan sekitar karena jika dibandingkan dengan perusahaan modern maka jauh berbeda
59
karena biasanya polusi yang diakibatkan oleh sebuah perusahaan dapat menyumbang polusi yang cukup besar lain lagi dengan pewarna kain yang mereka gunakan yang terkadang disalahgunakan oleh pedagang makanan jajanan pinggir jalan sebagai pewarna makanan sehingga sebenarnya mengakibatkan masalah baru yang perlu banyak antisipasi yang lebih besar dan intens.
5. Gotong Royong
Gotong royong adalah salah satu kearifan lokal di Indonesia yang menjadi kebudayaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Gotong-royong adalah juga salah satu bentuk dari solidaritas sosial. Emile Durkheim yang dikutip oleh Robbert M.Z Lawang (1985:63) mengartikan solidaritas sosial sebagai berikut: Solidaritas sosial adalah keadaan saling percaya antar anggota kelompok atau komunitas. Jika orang saling percaya mereka akan menjadi satu atau menjadi sahabat, menjadi saling menghormati, menjadi saling
60
bertanggung jawab untuk saling membantu dalam memenuhi kebutuhan antar sesama.
Konsep gotong royong juga dapat dimaknai dalam konteks pemberdayaan masyarakat (Pranadji, 2009: 62), karena bisa menjadi modal sosial untuk membentuk kekuatan kelembagaan di tingkat komunitas, masyarakat negara serta masyarakat lintas bangsa dan negara Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan. Hal tersebut juga dikarenakan di dalam gotong-royong terkandung makna collective action to struggle, self governing, common goal, dan sovereignty. Bintarto (1980:11) menyatakan bahwa gotong-royong merupakan perilaku sosial yang kongkrit dan merupakan suatu tata nilai kehidupan sosial yang turun temurun dalam kehidupan di desa–desa Indonesia. Kearifan lokal atau local wisdom merupakan kekayaan budaya masyarakat suku-suku bangsa yang memiliki potensi sebagai pembentuk karakter bangsa. Maka dalam local wisdom
61
juga ada bentuk gotong royong, ini merupakan salah satu nilai kearifan lokal masyarakat Indonesia yang dapat dipelihara sehingga terlestarikan, sebab gotong royong telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain (common identity). Gotong royong merupakan karakter bangsa Indonesia yang nilai-nilainya telah lama diwariskan oleh leluhur sehingga melekat dalam jiwa dan kepribadian bangsa khususnya masyarakat Melayu yang ada di Batu Bara. Gotong royong menjadi alternatif masyarakat untuk menyelesaikan berbagai problema yang melanda dalam seluruh aspek kehidupan salah satunya masalah yang ada dalam usaha tenun kain songket yang ada di Kabupaten Batu Bara.
Aktivitas usaha songket terbangun dengan semangat Gotong-royong. Kearifan lokal ini dapat dilihat saat ada proyek pesanan kain songket berskala besar dari seseorang pembeli kepada pengusaha songket, maka
62
pengusaha kain songket akan membagi pekerjaannya kepada pengusaha songket yang lain yang ada di kabupaten Batu Bara agar pengerjaan pesanan kain songketnya mencapai target yang ditentukan.
Misalnya saja ketika di desa tersebut terdiri dari tiga pengusaha penenun kain songket, maka pengusaha pertama mendapat proyek pesanan dari si konsumen atau si pembeli dengan skala besar. Maka sudah pasti pengusaha pertama membagi proyek pesanan tenunan kain songket tersebut kepada pengusaha kedua dan pengusaha ketiga dengan tujuan agar jangka waktu yang telah ditentukan oleh si konsumen tepat waktu serta agar konsumen tidak merasa kecewa dengan melencengnya waktu yang dia inginkan untuk pengambilan pesanan tenunan kain songket yang dia pesan tersebut. Sehingga nama baik para pengusaha penenun kain songket Melayu Batu Bara terjaga baik di mata para konsumen. Ini merupakan salah satu budaya gotong-royong
63
yang mereka wujudkan dalam pengerjaan menenun kain songket.
Gotong-royong merupakan sikap positif yang mendukung dalam perkembangan desa dan juga perlu dipertahankan sebagai suatu perwujudan kebiasaan melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama (Kusnaedi, 2006:16). Sikap gotong-royong yang dilakukan masyarakat dalam kehidupannya memiliki peranan dan manfaat yang sangat penting. Dengan adanya gotong-royong, segala permasalahan dan pekerjaan yang rumit akan cepat terselesaikan jika dilakukan kerjasama dan gotong-royong di antara sesama penduduk di dalam masyarakat. Gotong-royong menjadi salah satu penguat karakter bangsa. Gotong royong merupakan perwujudan sila Pancasila yang ketiga, yakni Persatuan Indonesia. Maka dengan gotong royong akan memupuk rasa kebersamaan, meningkatkan solidaritas sosial, mempererat tali persaudaraan, menyadarkan masyarakat akan kepentingan umum dan tanggung jawab
64
sosial, menciptakan kerukunan, toleransi yang tinggi serta rasa persatuan dalam masyarakat Indonesia.
Anggapan bahwa gotong royong menjadi salah satu solusi yang digunakan oleh para pengrajin songket ketika mendapat pesanan ber skala besar ternyata tidak senada dengan pembagian hasil yang didapatkan. Budaya gotong-royong ini cenderung tidak setimpal dengan hasil gotong-royong yang mereka lakukan, kurang adil dan transparan dalam hal pembagian keuntungan menjadikan esensi dari gotong royong tercederai. Hasil tenun kain songket masih terfokus pada perorangan sehingga dampak financial (keuangan) tidak berdampak langsung kepada para pengrajin songket.
Peran dominasi keuntungan biasanya dimainkan oleh para pengusaha tenun kain songket atau yang sering mereka sebut sebagi toke. Sebaiknya orientasi kepada solidaritas kerja dengan menumbuhkan jiwa toleransi yang bersifat adil menjadi hal yang lebih
65
diutamakan agar manfaatnya dirasakan bersama oleh komponen yang ada dalam pengerjaan tenun songket.
Menjaga hubungan yang baik terhadap mitra kerja dengan mengedepankan rasa hormat dan toleransi tanpa mengurangi unsur saling menguntungkan dan memberdayakan merupakan hal yang paling penting dalam menjaga kondusifitas usaha sehingga melalui kegiatan gotong-royong yang dilaksanakan, kebersamaan masyarakat dapat terjalin dengan baik, dan tanpa disadari kebersamaan tersebutlah yang terus memperkuat masyarakat untuk terus menjaga budaya dan adat leluhurnya.
6. Pengelolaan Gender
Selama ini gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender sering juga dipahami sebagai pemberian dari Tuhan atau kodrat Ilahi, padahal gender tidak semata-mata demikian. Secara etimologis
66
kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (Echols dan Hassan Shadily, 1983: 265). Kata gender bisa diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dalam hal nilai dan perilaku (Neufeldt, 1984: 561). Gender adalah konsep hubungan sosial yang memilah-milah fungsi dan peran antara pria dan wanita. Misalnya hanya ibu/wanita yang harus menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga sebaliknya hanya bapak/pria yang bertugas mencari nafkah.
Jika diperhatikan secara seksama ternyata sifat-sifat itu dapat dipertukarkan antara pria maupun wanita, contohnya banyak pria yang bekerja sebagai tukang masak atau penjahit, bahkan salon kecantikan, kemudian sebaliknya tidak sedikit kaum wanita yang bekerja sebagai pilot, sopir, pilot atau pekerja bangunan. Jadi konsep gender dapat berubah karena pengaruh perjalanan sejarah atau karena pengaruh perubahan politik, sosial, budaya atau pengaruh kemajuan
67
pembangunan. Semua hal yang bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan perkembangan waktu dan budaya tersebut yang disebut dengan konsep gender (Achmad, 2001: 22).
Menurut Farida Hanum (2010, 6), konsep gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, emosional, cantik, dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa. Gender adalah konsep yang berbeda dengan jenis kelamin (sex), karena sifatnya yang tidak stabil. Gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin perempuan dan laki-laki dilihat secara biologis. Hal ini dikarenakan gender dipengaruhi oleh interaksi dalam lingkungan sosial, konstruksi sosial yang bervariasi di seluruh budaya yang berubah dari waktu ke waktu. Artinya, terdapat perbedaan perempuan dan laki-laki secara sosial (Karem dan Siti 2013:153).
68
Terwujudnya kesetaraan gender dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sehingga mereka mendapatkan kesempatan yang sama dalam memiliki akses, kesempatan berpatisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dalam pembangunan (Larasati, 2017:4), untuk itu perlu adanya pemeliharaan gender yang baik.
Kondisi pemeliharaan gender terpelihara baik dalam dunia menenun kain songket pengrajin songket pada umumnya berasal dari kalangan ibu rumah tangga yang notabene merupakan kaum wanita. Pengelolaan program gender merupakan suatu hal yang penting dalam pengembangan sumber daya manusia sehingga tidak terjadi kecemburuan sosial terhadap satu sama lain.
Aktivitas menenun kain tidak memiliki batasan gender sehingga baik laki-laki maupun perempuan diperbolehkan untuk bekerja sebagai penenun kain songket.
69
Namun kenyataanya, aktivitas menenun songket lebih digemari oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria lebih memilih kerja yang lain. Pemanfaatan para kaum wanita dalam melaksanakan aktivitas menenun kain songket di Kabubaten Batu Bara sebenarnya sudah berlangsung dari sejak lama tapi pengelolaan yang masih terpatok pada para pengusaha songket atau yang sering disebut dengan tauke mengakibatkan terjadinya seolah-olah jurang pemisah antara pengrajin tenun kain songket yang berbeda tauke.
Seharusnya pengelolaan gender harus dihidupkan di lingkungan ini sehingga para kaum ibu-ibu yang notabenenya merupakan pengerajin tenun kain songket Melayu di Kabupaten Batu Bara dapat mengembangkan diri dan menambah pengetahuan dalam hal yang bersangkutan dengan tenun kain songket, sehingga mereka paham bukan saja proses menenun kain songket tetapi lebih dari itu yaitu mulai dari pembelian bahan, di mana dibelinya, harganya berapa, kemudian
70
sampai kemana dipasarkan hasil tenunan kain songket yang mereka tenun, sehingga tidak menutup kemungkinan akan menghidupkan pengusaha songket yang baru dari para pelaku pengrajin songket yang terdiri dari kalangan ibu-ibu tadi.
Dengan begitu maka para ibu-ibu pengrajin tenun kain songket melayu di Kabupaten Batu Bara tidak selamanya bertahan dengan pekerjaan itu saja tetapi memiliki peluang yang sama dalam mengembangkan diri serta usaha agar pelestarian menenun kain songket yang menjadi salah satu identitas budaya yang ada di Kabupaten Batu Bara ini tetap terlestarikan.
7. Pelestarian dan Kreatifitas Budaya
Warisan budaya fisik (tangible heritage) sering diklasifikasikan menjadi warisan budaya tidak bergerak (immovable heritage) dan warisan budaya bergerak (movable heritage). Warisan budaya tidak bergerak biasanya berada di tempat terbuka dan terdiri