BAB III PEMBANGUNAN DAERAH
H. Pengendalian dan Evaluasi
Pengendalian dan evaluasi pembangunan dilaksanakan dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.
Pengendalian pembangunan daerah adalah pemantauan dan pengarahan kegiatan-kegiatan pembangunan, dilakukan oleh setiap kepala satuan kerja pemerintahan daerah, sebagai penanggungjawab program atau sebagai penanggungjawab proyek pembangunan sesuai dengan bidang tugas dan wewenangnya. Pengendalian dilakukan terhadap kegiatan- kegiatan:
1. Penyusunan rencana atau konsep strategi pembangunan; 2. Penyusunan rencana dan konsep rencana pembangunan; 3. Persiapan penyelenggaraan dan pelaksanaan pembangunan; 4. Rencana dan pelaksanaan evaluasi pembangunan;
Pengendalian ditujukan untuk menjamin agar pembangunan direncanakan dan dilaksanakan sebaik mungkin yang berarti:
1. Sesuai dengan keperluan pembangunan masing-masing
daerah;
2. Mempergunakan tata-cara pemerintahan yang baik, efisien dan efektif;
3. Menurut peraturan dan perundang-undangan pemerintah; 4. Sesuai dengan prinsip pembangunan daerah: antara lain
memacu keikutsertaan pengusaha yang lebih kecil, menengah kecil dan koperasi;
5. Pelaksanaan kegiatan pembangunan selesai pada waktu yang telah ditetapkan;
6. Menghasilkan manfaat yang optimal bagi masyarakat luas dan;
7. Menjamin kelangsungan pelaksanaan pembangunan
selanjutnya.
Pengendalian dilaksanakan pada bidang administrasi, teknik, keuangan dan pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, serta pelaksanaan kegiatan pembangunan pada setiap program dan atau proyek yang menjadi tanggung jawab masing-masing kepala satuan kerja. Pengendalian dilakukan dengan cara: pengamatan langsung, pengamatan melalui penugasan kepada aparat pengawasan serta mempelajari laporan- laporan baik lisan maupun tertulis. Hasil pengendalian dilaporkan secara tertulis kepada pejabat atasan sesuai dengan hierarkhi dan tata-kerja administrasi organisasi pemerintahan. Dalam rangka pengendalian pembangunan, Bappeda memiliki peranan penting
dan bersifat sentral sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya sebagai SKPD.
Evaluasi pembangunan daerah adalah suatu rangkaian kegiatan yang terdiri atas kegiatan membandingkan antara seluruh dana, sarana, usaha dan waktu yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan pemerintahan pada umumnya dan pembangunan daerah pada khususnya, dengan hasil yang diperoleh serta manfaat hasil tersebut bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat luas di daerah, sesuai dengan tujuan dan rencananya.
Sasaran evaluasi meliputi:
1. Kebijakan pemerintahan yang ditetapkan oleh kepala pemerintahan daerah;
2. Kebijakan pemerintahan yang ditetapkan oleh kepala SKPD; 3. Strategi pembangunan daerah;
4. Rencana pembangunan daerah; 5. Pelaksanaan pembangunan daerah; 6. Pemanfaatan sarana sosial;
7. Pemanfaatan hasil pembangunan daerah.
Kewenangan melakukan evaluasi ada pada Gubernur, Bupati, Walikota dan Kepala SKPD baik terhadap pelaksanaan pemerintahan di dalam lingkungannya sendiri maupun di dalam satuan kerja pemerintahan yang lain yang lebih rendah. Masing- masing kewenangannya adalah sebagai berikut:
1. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di provinsi berwenang melakukan evaluasi pemerintahan kabupaten atau kota;
2. Gubernur berwenang melakukan evaluasi pemerintahan Provinsi sendiri;
3. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat berwenang melakukan evaluasi SKPD provinsi;
4. Bupati/Walikota berwenang melakukan evaluasi
pemerintahan kabupaten/kota;
5. Bupati berwenang melakukan evaluasi SKPD kabupaten, Camat dan kepala desa;
6. Kepala SKPD berwenang melakukan evaluasi aparat di dalam lingkungan tugasnya;
7. Camat berwenang melakukan evaluasi kepala desa dan aparat di dalam lingkungannya.
Khusus dalam pembangunan daerah, Bupati/Walikota dapat melakukan evaluasi terhadap rencana dan pelaksanaan serta hasil pembangunan tahunan kabupaten/kota dengan mempergunakan RJPM kabupaten/kota sebagai tolok ukur evaluasi. Adapun evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan pada masing- masing bidang dilakukan dengan mempergunakan Renstra bidang masing-masing.
Hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan rencana dan pelaksanaan pembangunan di waktu berikutnya serta digunakan sebagai bagian dari laporan pelaksanaan pemerintahan di daerah kepada pemerintah pusat.
I.
Keterbatasan dan Hambatan
Keterbatasan daerah adalah keadaan sumber daya alam yang secara alami memiliki potensi yang lebih rendah dan kurang mampu mendukung pembangunan daerah. Contoh keterbatasan, antara lain adalah:
1. Iklim yang demikian kering dengan musim penghujan hanya berlangsung kurang dari 3 bulan dengan curah hujan kurang dari 1200 mm/tahun, sehingga hutan dan berbagai tanaman yang bermanfaat tidak dapat hidup subur;
2. Topografi lapangan yang bergunung dan berbukit-bukit terjal, sehingga sukar dicapai dan pembangunan jalan umum sukar dilaksanakan;
3. Jumlah penduduk yang sangat terbatas sehingga peranannya dalam pembangunan lebih terbatas;
4. Letak geografi yang demikian jauh dari kegiatan ekonomi dan sosial yang berada di daerah lain, sehingga harus mengadakan dan menumbuhkan kegiatan sosial ekonomi sendiri, dan tidak dapat memperoleh manfaat dari adanya kegiatan sosial ekonomi yang telah ada;
5. Letak daerah dalam sistem hidrologi daerah aliran sungai, misalnya berada di daerah hulu sebagai wilayah mata air,
sehingga setiap pelaksanaan pembangunnya harus
memperhatikan daerah lain yang berada di hilir. Apabila berada di daerah hilir dari daerah aliran sungai maka selalu menerima limpahan air bah dari daerah hulu;
6. Keterbatasan sumber daya alam, antara lain sumber daya tambang, sedemikian sehingga potensi daerah ini demikian
kecil untuk dapat mendukung pembangunan agar sejajar dengan daerah pada bidang ekonomi, sosial dan budaya. Tidak semua keterbatasan dapat diatasi dengan teknologi atau peningkatan sumber daya manusia saja akan tetapi mungkin perlu melakukan pola politik ekonomi dan pembangunan yang lain, diantaranya kerjasama dengan daerah lain secara lebih erat, sehingga lebih bisa ikut memanfaatkan sumber daya daerah lain. Hambatan pembangunan daerah adalah keadaan yang timbul secara alami dan yang timbul sebagai dampak dari perbuatan manusia, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri yang kurang atau tidak mendukung pembangunan daerah. Contoh: 1. Sistem pemerintahan yang terlalu boros, birokratis,
dikendalikan oleh orang-orang yang kurang cakap dan kurang berminat untuk menyelenggarakan pembangunan daerah secara baik;
2. Keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang kurang mendukung pembangunan, antara lain:
a. Sikap apatis masyarakat terhadap pembangunan daerah; b. Kurangnya pengetahuan dan wawasan masyarakat;
c. Terbatasnya penguasaan teknologi para pelaku
pembangunan.
Keterbatasan dan hambatan dapat dikurangi dengan pembinaan yang terus menerus bahkan mungkin dengan langkah yang bersifat keras dan cepat serta peningkatan teknologi pemanfaatan dan pengelolaan. Terdapat beberapa hambatan yang cukup besar bagi pelaksanaan pembangunan daerah, dan perlu mendapat
perhatian yang lebih baik dari masyarakat dan aparat pemerintah daerah serta pemerintah pusat, antara lain adalah:
Sebagian besar daerah otonom mengalami kesulitan dana untuk pembangunan. Sebab utamanya adalah demikian kecilnya pendapatan asli daerah (PAD) dibanding dengan anggaran untuk pembangunan dan pelaksanaan pemerintahan secara rutin. Antara lain daerah kabupaten Majalengka, pada tahun 2000, besarnya PAD hanya sekitar Rp. 6,5 milyar atau sekitar 6% dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang seluruhnya mencapai Rp.105 milyar. Demikian pula kabupaten Sumedang, PAD hanya sekitar Rp.12 milyar sedangkan APBD pada tahun yang sama mencapai Rp.126 milyar. Sebagian besar PAD berasal dari pajak dan retribusi. Adapun bagian keuntungan dari BUMD dan hasil dari pengelolaan aset milik daerah belum dapat diandalkan karena belum dikembangkan secara optimal. Untuk meningkatkan PAD, Pemerintah perlu secepatnya membina daerah agar lebih mampu mendayagunakan dan mengelola sumber daya yang dimilikinya secara lebih untuk menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas di daerah dan menghasilkan PAD yang lebih besar.
J.
Latihan
1. Apa tujuan pembangunan daerah?
2. Apa perbedaan antara strategi pembangunan dengan rencana pembangunan?
3. Sebutkan cakupan rencana pembangunan daerah kabupaten dan cakupan rencana pembangunan daerah Provinsi!
4. Apa tujuan pengendalian pembangunan dan apa pula tujuan evaluasi pembangunan, serta siapa yang berkewajiban melaksanakan?
5. Apa hambatan utama bagi pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi?
K.
Rangkuman
Tujuan pembangunan setiap daerah, baik yang dilaksanakan dalam rangka desentralisasi, dekonsentrasi, tugas perbantuan maupun atas kemauan sendiri, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan kemudahan sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketentuan dasar atau prinsip pembangunan daerah adalah sebagian dari rambu-rambu yang telah ditentukan bagi pelaksanaan pembangunan daerah.
Sasaran pembangunan daerah maupun seluruh urusan
pemerintahan pada bidang-bidang yang telah ditetapkan menjadi wewenang pemerintahan daerah.
Dana pembangunan daerah diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang dihimpun dari masyarakat maupun dari pemerintah pusat.
Strategi pembangunan daerah adalah ketentuan mengenai garis besar rencana pembangunan daerah.
Rencana pembangunan daerah adalah ketentuan daerah yang memuat ketetapan mengenai pembangunan daerah yang akan dilaksanakan.
Perencanaan pembangunan daerah adalah kesatuan dari semua usaha untuk menyusun dan menetapkan rencana pembangunan daerah.
Tahapan penyelenggaraan pembangunan meliputi: persiapan, pelaksanaan penyelenggaraan, menyusun laporan pelaksasnaan, dan menyelesaikan pertanggungjawaban pelaksanaan sesuai ketentuan.
Pengendalian pembangunan daerah adalah pemantauan dan pengenalan kegiatan-kegiatan pembangunan.
Keterbatasan daerah adalah keadaan sumber daya alam yang secara alami memiliki potensi yang lebih rendah dan kurang mampu mendukung pembangunan daerah.
62