• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran, Modal Dasar dan Tantangan

Dalam dokumen PEMBANGUNANDAERAHSEKTORNASIONALpim3 (Halaman 56-63)

BAB V PEMBANGUNAN NASIONAL

B. Sasaran, Modal Dasar dan Tantangan

1. Sasaran Pembangunan

Sesuai dengan tujuannya, maka sasaran pembangunan nasional mencakup pembangunan semua segi kehidupan

berbangsa dan bernegara, yang berarti juga meliputi semua sektor dan bidang urusan pemerintahan, urusan masyarakat luas pada skala nasional dan skala daerah. Urusan pemerintahan sebanyak 40 (empat puluh) bidang termasuk bidang-bidang yang sebagian pengurusannya dilimpahkan kepada pemerintahan daerah kabupaten/kota, semua menjadi sasaran pembangunan nasional. Keempat puluh bidang urusan pemerintahan adalah sebagai berikut:

1) Pendidikan; 2) Kesehatan; 3) Pertanahan; 4) Pekerjaan umum; 5) Penataan ruang; 6) Perencanaan pembangunan; 7) Perumahan;

8) Kepemudaan dan olah-raga;

9) Penanaman modal;

10) Kependudukan dan catatan; 11) Ketanagakerjaan; 12) Ketahanan pangan; 13) Sosial; 14) Perhubungan; 15) Statistik; 16) Kebudayaan;

17) Komunikasi dan informatika;

18) Lingkungn hidup;

19) Kearsipan;

21) Pemberdayaan masyarakat dan desa; 22) Koperasi, usaha kecil dan menengah; 23) Keluarga berencana dan sejahtera;

24) Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; 25) Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; 26) Otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi

keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian;

27) Kelautan dan perikanan; 28) Pertanian;

29) Kehutanan;

30) Energi dan sumber daya mineral; 31) Pariwisata;

32) Industri; 33) Perdagangan; 34) Ketransmigrasian. 35) Politik luar negeri; 36) Pertahanan;

37) Keamanan;

38) Yustisi;

39) Moneter dan fiskal; 40) Agama.

Di samping bidang-bidang tersebut terdapat urusan lain yang menyangkut kepentingan masyarakat dan kehidupan berbangsa dan bernegara walaupun tidak secara eksplisit tertulis sebagai urusan negara, antara lain adanya aliran kepercayaan yang menyimpang dari paham atau agama-

agama yang telah dianut masyarakat luas, dan sikap hidup yang boros sehingga bersifat lebih konsumtif, juga menjadi perhatian pemerintah dan menjadi sasaran pembangunan nasional.

Kemajuan yang ingin dicapai merupakan tuntutan

pembangunan nasional, sedangkan perbedaan antara keadaan waktu ini dengan keadaan yang ingi dicapai merupakan tantangan pembangunan. Keberhasilan bangsa Indonesia dalam usaha mencapai kemajuan yang diinginkan, sangat ditentukan oleh kemampuan penyelenggara negara serta keadaan dan kedudukan bangsa Indonesia diantara bangsa- bangsa lain di dunia.

2. Modal Dasar

Modal dasar pembangunan nasional adalah seluruh kekayaan, keadaan dan kemampuan bangsa Indonesia, kemerdekaan dan hubungan baik dengan semua negara di dunia. Setiap sumber daya nasional dan kemampuan yang dapat dijadikan penunjang pembangunan nasional adalah modal dasar pembangunan.

Modal dasar pembangunan nasional meliputi:

a. Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemerdekaan; b. Semua Lembaga penyelegara negara, terdiri atas seluruh

lembaga pemerintah, lembaga legislatif dan lembaga yudikatif beserta aparaturnya;

c. Seluruh warganegara NKRI yang lebih merupakan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan;

d. Seluruh sumber daya alam beserta pengaturan dan pengelolaannya;

e. Sistem dan keadaan sosial, politik, budaya, keamanan

dan pertahanan yang mantap dan mendukung

pembangunan;

f. Keadaan dan sistem ekonomi negara, mencakup semua

kelembagaan ekonomi, kegiatan dan sarana

perekonomian, serta pelaku ekonomi, baik pemerintah maupun swasta dan masyarakat;

g. Ilmu dan teknologi yang telah dikuasai di semua bidang; h. Letak geografis beserta kedudukan Indonesia di dalam

berbagai percaturan dunia;

i. Hubungan luar negeri yang baik di semua bidang kegiatan, baik sosial, politik, budaya, ekonomi, keamanan maupun pertahanan, termasuk kepercayaan dari lembaga-lembaga keuangan internasional antara lain IMF, ADB, dan Consultative Group on Indonesia (CGI); j. Dana cadangan dana dan devisa yang dimiliki oleh

pemerintah.

3. Tantangan Pembangunan

Tantangan pembangunan terdiri atas berbagai keadaan yang tidak menguntungkan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan nasional menuju kesejahteraan yang lebih baik. Tantangan tersebut berasal dari dalam negeri dan dari luar negeri. Tantangan pada pembangunan nasional tidak lepas dari globalisasi perekonomian yang melanda semua negara di dunia.

Globalisasi pada hakekatnya adalah liberalisasi ekonomi di semua negara. Pengaruh globalisasi ekonomi pada setiap negara berbeda sesuai dengan keadaan perekonomian masing-masing. Pada dasarnya arti dan pengaruh globalisasi adalah sebagai berikut:

Globalisasi ekonomi berarti:

a. Penerapan sistem perekonomian liberal pada

perekonomian dunia, baik pada hubungan ekonomi antar negara maupun pada perekonomian dalam negeri setiap negara;

b. Persaingan bebas antar pelaku ekonomi di seluruh dunia tanpa memperhatikan batas-batas negara;

c. Tidak ada pelarangan export atau pelarangan import (no tax-barrier on economic);

d. Tidak ada subsidi pemerintah pada produksi barang yang dijual ke pasaran dunia;

e. Persaingan bebas berlaku bagi semua barang dan jasa serta modal dan barang modal;

f. Semua bentuk kerjasama usaha antar badan usaha dapat diterapkan, baik antar badan usaha dunia maupun di dalam negeri.

Globalisasi menguntungkan negara yang memiliki:

a. Sistem perekonomian dan keadaan perekonomian yang mantap;

b. Unit-unit produksi memiliki efisiensi yang tinggi sehingga mampu bersaing di pasaran dunia;

c. Produk domestik menguasai pasar dalam negeri dan menang dalam persaingan bebas terhadap produk luar negeri;

d. Permodalan yang handal serta tidak tergantung pada permodalan dan teknologi luar negeri;

e. Teknologi produksi cukup handal dan tidak tergantung pada luar negeri;

f. Tahan terhadap gangguan manipulasi perekonomian dunia;

g. Pemerintah mampu mengendalikan perekonomian dalam

negeri.

Globalisasi merugikan negara yang berada pada keadaan: a. Sistem dan keadaan perekonomian yang tidak/kurang

mantap;

b. Unit-unit produksi kurang efisien sehingga kurang mampu bersaing di pasar dunia;

c. Produk domestik tidak/kurang menguasai pasar di dalam negeri dan bahkan kalah bersaing dengan produk impor dari luar negeri;

d. Permodalan banyak tergantung kepada badan-badan usaha luar negeri, baik melalui utang, obligasi maupun pemilikan saham;

e. Teknologi produksi tergantung kepada badan usaha luar negeri;

f. Tidak tahan terhadap gangguan yang timbul dari manipulasi perekonomian di luar negeri/di dunia;

g. Pemerintah tidak mampu mengendalikan perekonomian, baik melalui mekanisme pasar maupun mekanisme politik.

Tantangan pembangunan nasional di antaranya adalah ketidakstabilan sosial politik dan ekonomi serta keamanan, kerusakan lingkungan dan sumber daya alam, kemiskinan, kebodohan dan tujuan pembangunan yang harus dicapai. Ketidakstabilan ekonomi terutama adalah ketidakmampuan bangsa ini mencukupi keperluan pokok dari produksi dalam negeri sendiri, terutama pangan dan perumahan, serta keperluan obat-obatan dan alat kerja dan alat transportasi yang memerlukan teknologi tinggi. Bahkan setelah 50 tahun merdeka, Indonesia belum juga mampu memproduksi mobil yang paling sederhana sekalipun, secara penuh tanpa komponen import. Berbagai tantangan pada berbagai bidang antara lain adalah:

1) Politik

a) Adanya kelompok-kelompok sparatis di berbagai daerah yang ingin lepas dari NKRI, baik secara deplomasi maupun kekerasan sehingga mengganggu keamanan;

b) Pertentangan antar suku yang terjadi pada akhir-akhir ini;

c) Pertentangan antar agama dan adanya kelompok agama tertentu yang ingin merubah dasar negara; d) Sikap primordialisme beberapa daerah;

e) Timbulnya pertentangan antar berbagai partai politik dan berbagai sikap fungsionaris partai yang lebih

mengutamakan kepentingan kelompok dan partainya daripada kepentingan bangsa dan negara.

2) Sosial dan Budaya

a) Korupsi yang telah membudaya yang timbul oleh rendahnya upah dan gaji serta rangsangan pola hidup yang lebih konsumtif dan boros;

b) Kurangnya rasa patriotik sehingga lebih mudah melepaskan budaya bangsa, dan lebih tertarik pada penggunaan budaya hidup asing, sehingga lebih bersikap konsumtif dan kurang memiliki budaya kerja;

c) Penguasaan dan penerapan ilmu dan teknologi yang lebih baik kurang terpacu, sehingga kurang inovatif dan kurang mandiri di dalam ikut serta berperan dalam pembangunan;

d) Kriminilitas yang makin berkembang, antara lain terdorong oleh kelangkaan lapangan kerja, rendahnya upah buruh dan usaha di sektor pertanian kurang memberikan hasil yang memadai serta sektor non- formal yang telah sesak oleh persaingan.

3) Lingkungan

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh berbagai industri dan rumah tangga serta pemanfaatan sumber daya alam dan buatan telah mengharuskan adanya biaya ekstra yang harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah. Antara lain banjir dan berbagai penyakit yang diderita penduduk terutama penduduk kurang

mampu. Keadaan ini meningkatkan hambatan untuk pembangunan kesejahteraan umum.

4) Ekonomi dalam negeri

a) Defisit APBN selalu dialami oleh Pemerintah pada masa pemerintahan orde baru sejak tahun 1966 sampai tahun-tahun terakhir ini. Defisit pada APBN ditutup dari berbagai sumber terutama hutang dari berbagai lembaga keuangan internasional, antara lain IMF, dan hutang kepada berbagai negara;

b) Produksi komoditas pokok terutama bahan pangan tidak mencukupi konsumsi dalam negeri, antara lain beras dan gula. Untuk memenuhi permintaan dalam negeri, pemerintah harus import yang berarti penggunaan valuta asing yang dimiliki pemerintah, baik yang diperoleh dari pinjaman ke negeri lain atau badan keuangan internasional maupun devisa yang diperoleh dari ekspor;

c) Konsumsi bahan bakar minyak yang selalu

meningkat menyebabkan subsidi yang selalu meningkat. Keadaan ini mengurangi dana bagi pembangunan berbagai sarana umum, baik untuk

produksi maupun untuk perdagangan dan

kesejahteraan;

d) Jumlah penduduk miskin masih sangat besar baik dalam jumlah jiwa maupun persentase terhadap jumlah seluruh penduduk di Indonesia. Indikasi dan jumlahnya adalah sebagai berikut:

(1). Penduduk miskin adalah anggota rumah tangga miskin. Adapun rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang konsumsinya tidak mencukupi kebutuhan akan makanan dan non- makanan yang nilainya diwakili oleh suatu garis kemiskinan yang ditentukan oleh Badan Pusat Statistik;

(2). Penduduk miskin memiliki pengeluaran untuk pembelian bahan pangan rata-rata 72,9%. Jumlah ini lebih besar daripada pengeluaran untuk keperluan non-pangan, yang hanya mencapai 27,1% dari total pengeluaran seluruhnya. Sebaliknya penduduk yang tidak miskin memiliki pengeluaran untuk pangan lebih kecil daripada nilai pengeluaran untuk non-pangan;

(3). Menurut hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) Maret 2006 penduduk miskin di seluruh Indonesia adalah 39,050juta atau 17,75% dari seluruh penduduk. Berarti meningkat 3,95 juta dibanding tahun 2005 yang waktu itu 35,10 juta jiwa. Kenaikan tersebut karena kenaikan harga BBM yang menyebabkan naiknya semua komoditas termasuk keperluan pokok bagi hidup rakyat. Jumlah penduduk miskin naik turun sebagai berikut:

Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Pndd miskin 37,30 38,40 37,30 36,10 35,10 39,05 juta (persen) 18,41 18,20 18,42 16,66 15,97 17,75 % Sebagian besar penduduk miskin adalah buruh tani dan petani yang memiliki lahan sangat kecil, serta pedagang-pedagang kecil yang memiliki

modal amat kecil serta sangat kecil

keberadaannya atau keterkaitannya dengan lembaga keuangan formal. Penyebaran penduduk

miskin menurut bidang kerja utamanya,

tercantum pada daftar berikut;

(a) Kesempatan kerja yang sangat terbatas dan adanya peluang pekerjaan yang kurang menghargai harkat manusia adalah keadaan yang tidak sesuai dengan barapan bangsa. Demikian pula adanya pengiriman tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan yang kurang terhormat, antara lain: sebagai pembantu rumah tangga dan tenaga kasar di negeri orang, bukanlah cita-cita bangsa Indonesia. Sumber daya alam dan keadaan alam serta sumber daya manusia yang ada mampu mendukung penciptaan kesempatan kerja

sampai pada jumlah sesuai dengan

tersedianya tenaga kerja di daerah dan yang mungkin sebagian dari daerah lain;

(b) Masih banyak daerah tertinggal, baik di Jawa maupun di Luar Jawa, terutama di wilayah Indonesia bagian timur;

(c) Eksploitasi sumber daya alam secara

berlebihan melampaui ambang batas

kemampuan alaminya, sehingga

menghancurkan kelestarian manfaat

ekonomi dan ekologi sumber daya alam tersebut, antara lain hutan alam dan laut dan

perairan dalam. Eksploitasi tambang

dilakukan tanpa reklamasi. Keadaan ini menimbulkan kerugian ekonomi karena tidak

dapat dimanfaatkannya wilayah bekas

pertambangan untuk keperluan lain, terutama untuk pertanian;

(d) Penguasaan sebagian besar aset negara oleh

sekelompok kecil pengusaha telah

menyulitkan pembangunan menuju keadaan ekonomi yang lebih demokrasi. Hambatan timbul dari penguasaan tersebut dan sikap yang lebih mempertahankan sistem ekonomi yang ada yang lebih bersifat liberal.

5) Perdagangan luar negeri

a) Kedudukan Indonesia dalam percaturan

perekonomian dunia dalam dekade terakhir milenium kedua, mulai tahun 1990, melemah terutama sebagai daerah untuk penanaman modal. Sebab utamanya adalah makin berkembangnya negara-negara di Asia

Timur, antara lain Thailand, Vietnam dan China, dalam menghasilkan berbagai komoditas, terutama tekstil. Ekspor dari negara-negara ini merupakan saingan berat Indonesia. Sebagai contoh, China.

Negeri ini menjadi ancaman besar bagi

perekonomian negara-negara di dunia, terutama bagi Asia Pasific. Produksi pangan dan bahan baku lain serta hasil industri berat dan ringan, sangat cepat berkembang dengan harga ekspor yang rendah sehingga sangat kuat bersaing;

b) Nilai ekspor yang makin rendah terutama karena makin berkurangnya hasil hutan alam yang pada waktu-waktu sebelumnya merupakan andalan ekspor Indonesia. Dalam dekade-dekade sebelumnya, sejak tahun 1970, nilai ekspor hasil hutan adalah terbesar setelah gas dan minyak bumi;

c) Defisit perdagangan luar negeri. Keadaan ini diatasi dengan memacu peningkatan volume dan nilai ekspor berbagai komoditas. Agar dapat bersaing di

pasar dunia, maka pemerintah mendukung

kebijaksanaan penurunan biaya produksi dengan cara:

(1) Memberikan berbagai fasilitas finansial antara lain pajak dihitung sendiri dan kemudahan mendapatkan kredit dari bank. Kebijaksanaan ini telah banyak disalahgunakan, antara lain penyalahgunaan bantuan liquiditas bank;

(2) Memberikan fasilitas non-finansial kepada perusahaan besar produsen komoditas ekspor, antara lain dengan memberi izin penggunaan jalan umum dan fasilitas umum lainnya tanpa imbalan apapun. Kebijaksanaan ini merugikan kepentingan umum setempat;

(3) Menekan upah buruh sampai di bawah biaya hidup minimal secara fisik;

(4) Melakukan devaluasi mata uang rupiah

terhadap dolar agar biaya produksi lebih rendah lagi. Kebijaksanaan ini mengorbankan rakyat banyak yang tidak memperoleh penghasilan dalam bentuk dolar.

d) Peningkatan ekspor terbatas barang-barang kecil (small items) dengan nilai yang tidak besar, terutama hasil industri kecil dan rumah tangga. Ekspor hasil laut cukup berkembang tetapi juga masih terbatas belum mendongkrak perolehan devisa seperti dekade-dekade sebelumnya.

Semua kekurangan tersebut merupakan tantangan yang perlu diatasi dalam pembangunan nasional. Waktu yang diperlukan tergantung kepada besarnya masalah dan kemampuan bangsa, terutama pemerintah, untuk mengatasinya.

Dalam dokumen PEMBANGUNANDAERAHSEKTORNASIONALpim3 (Halaman 56-63)

Dokumen terkait