BAB II : PT.WICAKSANA O.I, Tbk. MEDAN
D. Pengendalian Intern Penerimaan dan Pengeluaran Kas
D. PENGENDALIAN INTERN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS
1. Pengetian dan Tujuan Pengendalian Intern
Pada tahun 1988 AICPA membuat istilah baru yaitu ” Internal Control Structure” yang dimuat dalam Standar Auditing Statement (SAS) No.55 dan didalam Standar Profesional Akuntan Publik(SPAP) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yaitu pada Pernyataan Standard Auditing (PSA) No. 23 mengenai pertimbangan struktur pengendalian intern dalam audit atas laporan keuangan,yang menyatakan sebagai berikut
“Struktur pengendalian intern suatu satuan usaha terdiri dari kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan tertentu suatu satuan usaha akan tercapai”
Akhirnya pada tahun 1992 AICPA mengeluarkan statement on Auditing Standards No. 78-Consideration of The Internal Control Structure in a financial Statement Audit, sebagai perubahan terhadap SAS No. 55 yang dipublikasikan oleh Committee of Sponsoring Organization of The Treadway Commision (COSO), maka berdasarkan SAS No. 78 tahun 1992 tersebut internal control berarti :
“Pengendalian Intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan direktur, pihak manajemen, serta personil lainnya yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai bukan mutlak untuk menjamin bahwa laporan keuangan dapat dicapai, ditaatinya peraturan dan tata tertib yang disusun serta efektivitas dan efisiensi operasi perusahaan.
Adanya pengendalian intern dalam perusahaan merupakan salah satu upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Oleh karena itu pengendalian intern juga harus menjadi pendukung tujuan perusahaan.
Menurut Mulyadi dalam buku auditing (2001:68), tujuan struktur pengendalian intern yang efektif dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Menjaga kekayaan dan catatan organisasi
2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi 3. Mendorong efisiensi
2. Karakteristik dan Keterbatasan Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern harus dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keadaan dan kebutuhan perusahaan bersangkutan. Oleh sebab itu dibutuhkan penelitian terhadap seluruh aspek perusahaan untuk menghindari penyelewengan dan pemborosan dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan.
Beberapa karakteristik pengendalian intern yang baik,menurut Hadibroto H.S dan Oemar Witarasa dalam buku Sistem Pengewasan Intern (2000:6) adalah : a. Suatu bagan organisasi yang memungkinkan pemisahan fungsi secara
tepat
b. Sistem pemberian wewenang serta prosedur pencatatan yang layak agar tercapainya pengawasan akuntansi yang cukup atas aktiva, hutang-hutang, hasil dan biaya.
c. Praktek yang sehat harus diikuti dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap bagian organisasi.
d. Pegawai-pegawai yang kualitasnya seimbang dengan tanggung jawabnya.
Menurut Theodorus M. Tuanakota, dalam buku Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntansi, (2001:99) halaman 98-99, ada beberapa keterbatasan pengendalian intern yaitu :
a. Persekongkolan b. Biaya
c. Kelemahan manusia
Dibawah ini akan dijelaskan penerapan unsur-unsur pengendalian intern tersebut dalam PT. WICAKSANA O.I,Tbk. MEDAN :
1. Control Environment (lingkungan pengendalian)
Lingkunga pengandalian dapat berupa sikap, tindakan, kebijaksanaan dan juga prosedur yang mencerminkan pandangan manajemen dan pemilik perusahaan mengenai pentingnya pengendalian intern perusahaan. Efektivitas sistem akuntansi dan prosedur pengendalian sangat ditentukan oleh suasana yang diciptakan oleh lingkungan pengendalian tersebut. Para karyawan dan staff organisasi akan merasakan pengandalian itu penting jika manajemen puncak merasakan pengendalian intern adalah hal yang terpenting.
Menurut Mulyadi dalam buku Auditing, (2001:71), Lingkungan pengendalian memiliki enam unsur yaitu :
a. Filosofi dan Gaya Operasi b. Struktur Organisasi
c. Berfungsinya Dewan Komisaris d. Metode Pengendalian Manajemen e. Kesadaran pengendalian
2. Risk Assesment (penetapan resiko)
Penetapan resiko untuk tujuan pelaporan keuangan yang dilaksanakan oleh PT. WICAKSANA O.I,Tbk .MEDAN meliputi identifikasi, analisa, dan manajemen resiko yang relevan dengan penyiapan laporan keuangan yang disajikan secara wajar menurut prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Manajemen dalam PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN menetapkan resiko sebagai bagian dari perencanaan dan pengoperasian struktur pengendalian intern untuk meminimalkan salah saji. Penetapan resiko manajemen untuk
pelaporan keuangan adalah berkenaan dengan hubungan antara penetapan resiko pelaporan keuangan dengan aktivitas pencatatan, pemrosesan, pengikhtisaran, dan pelaporan data keuangan. Penilaian resiko untuk manajemen harus mencakup pertimbangan khusus yang timbul akibat adanya perubahan situasi seperti prosedur akuntansi yang berbeda, perubahan dalam stsndar akuntansi, undang-undang dan peraturan baru, tekhnologi yang baru yang terlibat dalam pemrosesan dan pelaporan informasi.
3. Information and Communication (informasi dan komunikasi)
Sistem informasi berhubungan dengan tujuan pelaporan keuangan, dimana dalam hal ini termasuk dalam sistem akuntansi yang terdiri dari metode dan pencatatan untuk identifikasi, pengelompokan, penganalisaan, pengklarifikasian, pencatatan dan pelaporan transaksi perusahaan. Karena itulah PT. WICAKSANA O.I , Tbk. MEDAN berusaha menerapkan sistem akuntansi yang baik.
Komunikasi bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas dari tugas perseorangan dan tanggung jawaban yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern atas laporan keuangan. Manual tentang kebijakan, pedoman pelaporan akuntansi dan keuangan, daftar perkiraan, dan Memoranda merupakan bagian dari komponen informasi dan komunikasi dari struktur pengendalian intern yang ditetapkan PT. WICAKSANA O.I,Tbk .MEDAN.
4. Control Aktivities (Aktivitas Pengendalian)
Aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa kebijakan manajemen telah dilaksanakan.
Aktivitas pengendalian membantu memastikan tindakan yang diperlukan telah diambil dalam menghadapi resiko sehubungan dengan pencapaian tujuan satuan usaha yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pihak manajemen PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN.
Aktivitas pengendalian mempunyai beberapa tujuan dan diterapkan pada berbagai tindakan organisasi serta pemrosesan data. Aktivitas pengendalian terdiri dari kebijakan dan prosedur yang umumnya bila diuraikan terdapat lima hal berikut ini yaitu :
a. Pemisahan tugas yang memadai b. Prosedur otorisasi yang memadai
c. Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang cukup d. Pengawasan fisik atas kekayaan
e. Pengecekan secara independent atas kinerja 5. Monitoring
Monitoring adalah proses penilaian kualitas dari pelaksanaan struktur pengendalian intern secara terus menerus. Hal ini mencakup penilaian oleh personel yang tepat dan dasar waktu yang tepat apakah pengendalian intern tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan apa yang diharapkan dan telah dimodifikasi dengan tepat sesuai perubahan kondisi atau keadaan.
Monitoring yang dilaksanakn dalam PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN dilakukan oleh suatu bagian yang khusus yang biasanya dilakukan oleh bagian pemeriksaan intern atau audit intern. Audit intern dapat melakukan pemeriksaan dan penilaian sewaktu-waktu dan melaporkan kepada manajemen atau komite
audit yang dipusatkan tentang kelemahan-kelemahan pengendalian intern sekaligus memberikan rekomendasi.
BAB III
ANALISA DAN EVALUASI
A. Sistem Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai yang penulis dapatkan dari Mulyadi dalam buku Sistem Informasi Akuntansi (2003:455) adalah sebagai berikut :
“ Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mewajibkan pembeli melakukan pembayaran harga barang lebih dahulu sebelum barang diserahkan oleh perusahaan kepada pembeli. Setelah uangnya diterima oleh perusahaan, barang kemudian diserahkan kepada pembeli dan transaksi penjualan tunai kemudian dicatat oleh perusahaan “.
Menurut Niswonger, Waren, Reeve, Fess,dalam buku Prinsip-prinsip Akuntansi, (2004 :182)
“Sistem akuntansi adalah metode dan prosedur untuk mengumpilkan, mengklasifikasi, mengikhtisarkan, dan mendapatkan informasi keuangan dan operasi usaha”
Sumber penerimaan kas terbesar suatu perusahaan dagang, berasal dari transaksi penjualan tunai. Berdasarkan system pengendalian intern yang baik, sistem penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan :
1. Penerimaan kas dalam bentuk tunai harus segera disetor ke bank dalam jumlah dengan cara melibatkan pihak lain selain kasir untuk melakukan internal
check.
2. Penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan melalui transaksi kartu kredit, yang melibatkan bank penerbit kartu kredit dalam pencatatan transaksi penerimaan kas.
Sistem penerimaan kas dari penjualan tunai yang diterapkan oleh PT. WICAKSANA O.I,Tbk. MEDAN adalah dengan membuat fakur penjualan tunai yaitu dokumen yang digunakan untuk merekam berbagai informasi yang diperlukan oleh manajemen mengenai nama pembeli dan alamat pembeli, tanggal transaksi, kode dan nama barang, kuantitas dan harga satuan, jumlah harga, nama dan kode wiraniaga, otorisasi terjadinya berbagai tahap transaksi. Faktur penjualan diisi oleh fungsi penjualan yang berfungsi sebagai pengantar pembayaran oleh pembeli kepada fungsi kas dan sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penjualan ke dalam jurnal penjualan.
Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa perbandingan antara teori dan prakteknya adalah : bahwa sistem penerimaan kas dari penjualan tunai sudah cukup baik, karena adanya kesamaan antara teori dan prakteknya. Hal ini juga karena adanya pemisahan dari berbagai fungsi seperti fungsi akuntansi dipisahkan dengan fungsi kas. Penbayaran dari pembeli langsung diberikan kepada kasir sejumlah yang tertera didalam faktur penjualan. Pengiriman laporan penerimaan kas oleh kasir kepada bagian akuntansi rutin dilakukan setelah jam kerja berakhir (setiap hari). Bila pada bagian akuntansi terjadi kesalahan dalam pencatatan, maka kesalahan tersebut diperiksa ulang atau membandingkannya dalam catatan penerimaan dan pengeluaran kas.
Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas yang penulis dapatkan dari Mulyadi dalam buku Sistem Informasi Akuntansi (2003:509) adalah :
Pengeluaran kas dalam perusahaan dilakukan dengan menggunakan cek. Pengeluaran kas yang tidak dapat dilakukan dengan cek (biasanya karena jumlahnya relatif kecil), dilaksanakan melalui dana kas kecil yang diselenggarakan dengan salah satu diantara dua sistem :
fluctuating-fund-balance system dan imprest system.
Menurut Kleso dan Weygandt (2001:402) yang menyebutkan bahwa kas adalah : “Kas, harta yang paling liquid adalah media pertukaran buku dan dasar bagi pengukuran dan akuntansi untuk semua pas lainnya. Kas umumnya diklasifikasikan sebagai harta lancar. Agar dapat dilaporkan sebagai “kas”, kas bersangkutan harus siap tersedia untuk pembayaran kewajiban lancar, dan harus bebas dari ikatan kontroktial yang membatasi penggunaannya didalam pemenuhan hutang”
Menurut Niswinger, Warren, Reeve, Fees dalam buku Prinsip-Prinsip Akuntansi, (2004:290) pengertian kas adalah :
“Kas (cash) meliputi koin,uang kertas, cek,wesel (money order atau kiriman uang meliputi pos berbentuk draf bank atau cek bank) dan uang yang disimpan dibank tanpa batasan dari bank bersangkutan”
Menurut Soemarso S.R dalam buku Akuntansi Suatu Pengantar,(2002:296), kas didefinisikan sebagai berikut :
“Kas adalah segala sesuatu (baik berbentuk uang atau logam) yang tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya”
Pengeluaran kas dengan cek memiliki kebaikan ditinjau dari pengendalian intern berikut ini :
1. Dengan digunakannya cek atas nama, pengeluaran cek akan dapat diterima atoleh pihak yang namanya sesuai dengan yang tertulis pada formulir cek. Dengan demikian pengeluaran kas dengan cek menjamin diterimanya cek tersebut oleh pihak yang dimaksud oleh pihak pembayar.
2. Dilibatkannya pihak luar, dalam hal ini bank, dalam pencatatan transaksi pengeluaran kas perusahaan. Dengan digunakannya cek dalam setiap pengeluaran kas perusahaan, transaksi pengeluaran kas direkam juga oleh bank, yang secara periodic mengirimkan rekening koran bank (bank
statement) kepada perusahaan nasabahnya. Rekeninng koran bank inilah yang
dapat digunakan oleh pihak perusahaan untuk mengecek ketelitian catatan transaksi kas perusahaan yang direkam didalam jurnal penerimaan dan pengeluaran kas.
3. Jika sistem perbankan mengembalikan cancelled check kepada check inssuer, pengeluaran kas dengan cek memberikan manfaat tambahan bagi perusahaan yang mengeluarkan cek dengan dapat digunakannya canceled check sebagai tanda terima kas dari pihak penerima pembayaran. Dengan digunakannya cek
dalam pengeluaran kas, check issuer akan secara otomatis menerima tanda penerimaan kas dari pihak yang menerima pembayaran. Cancelled check sebagai tanda terima pembayaran lebih andal karena didalam endorsement terkait pihak bank yang merupakan pihak yang independen bagi pembayaran maupun bagi penerima pembayaran.
Sistem pengeluaran kas yang dilaksanakan oleh PT. WICAKSANA O.I,Tbk..MEDAN adalah dengan bentuk cek dan sistem dana kas kecil yaitu dengan mengeluaran register cek. Sistem dana kas kecil adalah untuk memungkinkan pengeluaran kas dan uang tunai pada perusahaan dan ini hanya dilakukan dalam jumlah yang kecil.
Dari uraian tersebut diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa perbandingan antara teori dan prakteknya adalah sudah sejalan dan sudah cukup memadai, karena pengeluaran kas sudah mendapat otorisasi dari pihak yang berwenang dan dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap yang telah diproses melalaui sistem otorisasi yang berlaku.
B. PROSEDUR PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS
Prosedur penerimaan kas yang penulis dapatkan dari buku Sistem Informasi Akuntansi oleh Mulyadi halaman 470 adalah sebagai berikut :
Prosedur penerimaan kas dalam hal ini fungsi kas menerima pembayaran harga barang dari pembeli dan memberikan tanda pembayaran (berupa pita register kas dan cap “lunas” pada faktur penjualan tunai) kepada pembeli untuk
memungkinkan pembeli tersebut melakukan pengambilan barang yang dibelinya dari fungsi pengiriman.
Prosedur pencatatan penjualan tunai dalam prosedur ini fungsi akuntansi melakukan pencatatan transaksi penjualan tunai dalam jurnal penerimaan kas. Disamping itu, fungsi akuntansi juga mencatat berkurangnya persediaan barang yang dijual.
Prosedur pencatatan penerimaan kas, dalam prosedur ini fungsi akuntansi mencatat penerimaan kas ke dalam jurnal penerimaan kas berdasarkan bukti setor bank yang diterima dari bank melalaui fungsi kas.
Prosedur penerimaan kas yang dilaksanakan oleh PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN yaitu adalah :
Voucher receipt dibuat oleh personal yang berkepentingan dengan lampiran dokumen pendukung asli dan disetujui oleh atasan yang bersangkutan sebagai pertanggung jawaban. Selanjutnya voucher receipt harus di otorisasi oleh branch manager/ area manager dan selanjutnya diteruskan kepada branch finance control/ area finance control untuk mendapatkan persetujuan. Setelah mendapat otorisasi BM/AM dan BFC/AMC selanjutnya diteruskan kepada kasir untuk dilakukan penyetoran, sebelum diterima oleh kasir maka kasir wajib melakukan beberapa hal. Setelah pemeriksaan maka kasir menerima sejumlah uang tunai/giro/cek sesuai voucher receipt dari penyetor.
Prosedur pengeluaran kas menurut buku Sistem Informasi Akuntansi Mulyadi halaman 516 adalah dalam prosedur ini, fungsi akuntansi mencatat pengeluaran kas didalam jurnal pengeluaran kas atau register cek. Dalam one-time
voucher system dengan cash basic. Disamping fungsi akuntansi mencatat
pengeluaran kas didalam jurnal pengeluaran kas, pendebitan yang timbul dari transaksi pengeluaran dicatat dalam buku pembantu.
Prosedur pengeluaran kas yang diterapkan oleh PT.WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN adalah :
Voucher payment dibuat oleh personal yang berkepentingan dengan dilampiri dokumen pendukung asli dan disetujui oleh atasan yang bersangkutan serta kepala departemen yang bersangkutan sebagai pertanggungjawaban atas pembebanan yang akan dilakukan. Voucher Payment harus diotorisasi. Otorisasi tambahan untuk biaya-biaya promosi berupa diskon atau bonus dilakukan oleh Busines Development Manager dan Corporate Accounting Manager . Otorisasi tambahan pada dasarnya mengacu pada prinsip two step up. Pembayaran oleh Kasir, menyediakan uang tunai, Cheque, Giro dan bukti transfer yang akan dipakai sebagai alat pembayaran sesuai dengan yang tercantum pada Voucher Payment. Memeriksa kebenaran nama, bank dan nomor rekening yang dituju jika pembayaran dilakukan dengan transfer bank atau Giro. Memeriksa kebenaran tanda tangan yang melakukan otorisasi dan pihak yang melakukan pemeriksaan sebelumnya. Memeriksa kebenaran penerima pembayaran dan tanda tangan. Bagian pembukuan kantor pusat membukukan didalam jurnal pengeluaran kas.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pembagian tugas diterapkan oleh perusahaan. Pembagian ini sudah cukup baik, tetapi masih harus dilakukan pemisahan fungsi beberapa bagian.
1. Memudahkan pengecekan intern terhadap pekerjaan tiap fungsi yang terkait dalam pelaksanaan transaksi.
2. Mencegah terjadinya penggunaan kas untuk keperluan pribadi.
3. Menjamin ketelitian dan keandalan data akuntansi serta menjaga kekayaan perusaha
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab terdahulu telah diuraikan analisa akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas yang dilakukan penulis terhadap PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN. Analisa tersebut merupakan perbandingan antara teori dengan hasil pengamatan dan penelitian langsung terhadap perusahaan ini.
Dari hasil perbandingan yang dilaksanakan, maka penulis mencoba memberikan kesimpulan mengenai penerapan sistem akuntansi dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas yang dilakukan oleh PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN.
A. Kesimpulan
1. PT.WICAKSANA O.I, Tbk. MEDAN merupakan salah satu perusahan yang bergerak dibidang produksi bahan makanan dan pendistribusian
berbagai macam makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang didirikan sejak tahun 1964 berdasarkan Nomor Y.A 5/593/17, dan Nomor Tanda Daftar Perusahaan 021215103887.
2. Struktur organisasi pada PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN adalah berbentuk garis lini dan staf. Ini terbukti dengan adanya suatu pimpinan. Struktur organisasi perusahaan telah menggambarkan pembagian tugas yang baik,walaupun sering tumpang tindih dalam prakteknya dilapangan, dan setiap bagiannya memiliki peranan penting dalam kegiatan perusahaan.
3. Prosedur penerimaan dan pengeluaran kas sudah cukup baik dimana bukti-bukti penerimaan kas dilaporkan dan disampaikan kepihak berwenang. 4. Penggunaan formulir-formulir pada perusahaan ini tetap dirancang dengan
baik sesuai data-data informasi yang dibutuhkan dan berkaitan dengan proses operasional perusahaan dan untuk transaksi apa hak itu yang digunakan.
5. Pengawasan terhadap pengeluaran kas sudah cukup memadai ditandai dengan:
a. Adanya catatan-catatan yang digunakan dalam prosedur pengeluaran kas.
b. Setiap pengeluaran kas yang terjadi harus disertai bukti pengeluaran kas.
c. Dokumen, formulir dengan catatan yang digunakan untuk pengeluaran kas harus melalui yang berwenang atau orang yang ditunjuk.
6. Dokumen tagihan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dirancang terdiri dari 2 bagian, yang pertama berupa customer purchase order yang berisi data nomor rekening dan jumlah tagihan. Oleh perusahaan bagian ini dipakai sebagai media masukan untuk pengolahan transaksi penerimaan kas bagian kedua disimpan oleh debitur sebagai arsip.
B. Saran
Dari kesimpulan diatas, penulis mencoba memberikan saran kepada PT. WICAKSANA O.I,Tbk.MEDAN mengenai penerapan sistem akuntansi dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan yang mungkin dapat dijadikan bahan pertimbangan di masa yang akan datang :
a. Dengan semakin berkembangnya perusahaan tersebut , maka untuk melakukan pemeriksaan dan pengecekan atas transaksi maupun kecurigaan yang terjadi pada setiap fungsi, maka sebaiknya perusahaan memiliki internal auditor yang independent, sehingga pimpinan perusahaan tidak perlu lagi menunjuk seseorang untuk melakukan pemeriksaan. Hal ini juga untuk mengantisipasi pengaruh waktu dan sifat dinamis dari perusahaan yang harus selalu beradaptasi dengan lingkungan.
b. Karena kas adalah perkiraan yang paling rawan terhadap penyelewengan, maka perusahaan sebaiknya perlu mengadakan cash opname secara mendadak
untuk meyakinkan kebenaran posisi kas yang tercantum pada catatan neraca dan kas harian.
c. Hendaknya perusahaan melakukan pemisahan fungsi bagian pemasaran dan bagian pembuat faktur agar tidak terjadi penyelewengan.
d. Ada baiknya jika karyawan yang menduduki posisi kunci diberikan cuti khusus dan digantikan oleh karyawan lain yang kompeten, tujuannya ialah agar hasil kerja yang dilakukan karyawan tersebut dapat diketahui. Hal ini dilakukan untuk memantapkan struktur pengendalian intern yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan Zaki, 2000, Sistem Informasi Akuntansi, Edisi Kelima, BPEE-UGM, Yogyakarta.
Hadibroto H.S dan Oemar Witarasa, 2000, Sistem Pengawasan Intern (System of
Internal a.Control), Edisi Kedua, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi
UI, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2002, Standart Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Kleso, Donald E, dan Jerry J Weygandt, 2001, Akuntansi Intermediate, Edisi Kesepuluh, Erlangga, Jakarta.
Mulyadi, 2001, Auditing, Edisi Kelima, Buku Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Niswonger, Warren, Reeve, Fees, 2004, Prinsip-Prinsip Akuntansi, Jilid Satu, Edisi Kesembilan, Erlangga, Jakarta.
S.R. Soemarso, 2002, Akuntansi Suatu Pengantar, Buku Satu, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Tuanakota, Theodorus M, 2001, Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan
Publik, Edisi Ketiga, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Jakarta.
Warren, Carl S, James M, Reeve, and Philip E, Fees, 2005, Pengantar Akuntansi, Edisi Kelima, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.