• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

2) Penanganan Pengaduan Akibat Dugaan Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup

2.3.1.2.8. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

a. Cakupan Sasaran Pasangan Usia Subur Menjadi Peserta KB Aktif

Cakupan sasaran Pasangan Usia Subur (PUS) menjadi peserta KB aktif adalah jumlah peserta KB aktif (PA) dibandingkan dengan seluruh PUS dalam suatu wilayah pada kurun waktu tertentu.

Jumlah peserta PUS pada tahun 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2018, tampak pada tabel berikut.

Tabel 2 114 Kepesertaan KB di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

No Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, 2021

Penurunan jumlah Pasangan Usia Subur disebabkan oleh banyaknya pasangan yang telah memasuki lansia. Hal ini juga diikuti oleh penurunan jumlah peserta keluarga berencana aktif maupun Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Namun untuk kepesertaan KB pria dan peserta KB baru mengalami peningkatan.

Hal ini berarti tingkat kesadaran dari pasangan usia subur yang belum mengikuti program KB mengalami peningkatan.

2-171 b. Cakupan Anggota Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) ber-KB

Cakupan anggota kelompok BKB ber-KB adalah upaya pembinaan oleh para kader BKB terhadap anggotanya, khususnya yang masih pasangan usia subur untuk menjaga kelangsungan ber-KB melalui pembinaan kelompok. Bber-KB adalah kelompok kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, keterampilan, dan sikap ibu serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak usia di bawah lima tahun (balita), melalui optimalisasi rangsangan emosional, moral, dan sosial.

Tabel 2 115 Cakupan Anggota BKB ber-KB di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

Cakupan anggota BKB ber-KB 2016 2017 2018 2019 2020 91,88 94,50 91.04 93.02 90.79 Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan

Masyarakat Desa, 2021

c. Pencapaian Indikator Kinerja Utama

Pencapaian indikator kinerja utama bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bantul sepanjang Tahun 2016-2020 adalah sebagai berikut.

Tabel 2 116 Indikator Kinerja Utama Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bantul, Tahun 2016-2020

Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, 2021

Keterangan: Data NA disebabkan perubahan IKU

2-172 2.3.1.2.9. Perhubungan

a. Jumlah Penumpang Angkutan Umum

Angkutan umum yang ada di Kabupaten Bantul berupa armada bis angkutan umum sedangkan armada lain seperti kereta api, kapal laut, dan pesawat udara tidak terdapat di Kabupaten Bantul.

Sumber: Dinas Perhubungan, 2021

Gambar 2 58 Jumlah Penumpang Angkutan Umum di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

Jumlah penumpang angkutan umum bus di Kabupaten Bantul dari tahun 2016-2020 cenderung mengalami penurunan. Penurunan penggunaan angkutan umum tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingkat pertumbuhan kendaraan pribadi tinggi, pelayanan angkutan umum belum memenuhi standar pelayanan, jumlah angkutan umum berkurang, rute/trayek angkutan umum belum menjangkau wilayah, dan kondisi sarana dan prasarana angkutan umum buruk.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya guna meningkatkan penggunaan angkutan umum di masyarakat, antara lain melakukan kajian tentang pemerataan trayek angkutan umum pada pusat-pusat kegiatan yang belum tersentuh oleh angkutan

2-173 umum, peningkatan kualitas pelayanan angkutan umum, memperbaiki sistem serta sarana dan prasarana fisik angkutan umum melalui program peningkatan pelayanan angkutan, kegiatan pengumpulan database pelayanan angkutan, survei angkutan umum dan tradisional, dan survei angkutan barang.

b. Ijin Trayek

Ijin trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek.

Jaringan trayek adalah kumpulan trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, kewenangan kabupaten adalah memberikan ijin trayek untuk kalurahan. Ijin trayek di Kabupaten Bantul dikeluarkan oleh Dinas Perijinan dengan rekomendasi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul. Sejak tahun 2012 trayek yang ada di Bantul berjumlah enam trayek yang tersebar di lima Kapanewon yaitu: Bantul, Kasihan, Pajangan, Dlingo, dan Kasihan. Kemudian pada tahun 2014 terdapat ijin trayek baru sebanyak satu trayek yang melayani Imogiri. Sampai dengan tahun 2020 belum ada penambahan trayek. Jumlah ijin trayek di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2 117 Jumlah Ijin trayek di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

No. Tahun Jumlah

2-174 c. Uji KIR Angkutan Umum

Uji KIR angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor, baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pengujian dimaksud meliputi uji tipe dan uji berkala. Uji tipe merupakan pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan, sedangkan uji berkala merupakan pengujian yang diwajibkan untuk mobil penumpang, mobil bus, mobil barang, kereta gandengan, dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan.

Tabel 2 118 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

Uraian Jumlah Uji KIR

2016 2017 2018 2019 2020 Uji kir kendaraan

umum 17.810 18.730 20.923 19.131 11.762

Sumber: Dinas Perhubungan, 2021

Pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor di Kabupaten Bantul dilakukan enam bulan sekali oleh tenaga penguji yang memiliki kualifikasi teknis berdasarkan ketetapan oleh Menteri Perhubungan. Jumlah uji KIR di Kabupaten Bantul mengalami peningkatan dari tahun 2016 sampai 2018, namun terjadi penurunan di tahun 2019 yang dikarenakan mutasi keluar dan beberapa kendaraan yang melakukan uji KIR di luar Kabupaten Bantul. Hal lain yang juga mempengaruhi penurunan jumlah uji kir adalah karena brake tester yang mengalami kerusakan. Sementara untuk tahun 2020 juga terjadi penurunan jumlah uji KIR yang disebabkan kuota yang dikurangi hingga 50% sebagai bentuk pencegahan penularan virus covid-19 (social distancing) sebagaimana dianjurkan oleh kemenhub. Alasan lain adalah masih sama dengan tahun 2019 yaitu karena brake tester yang rusak sebanyak 4 kali dalam setahun sehingga menghambat pengujian KIR.

2-175 d. Kecelakaan Lalu Lintas

Jumlah kecelakaan lalu lintas dari tahun 2016 hingga tahun 2019 cenderung mengalami peningkatan, dan di tahun 2020 mengalami penurunan. Adanya Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 berpengaruh terhadap aktivitas warga berlalu lintas. Sebagai dampak dari penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pengurangan kegiatan perkantoran, peniadaan kegiatan di lingkungan sekolah dan pengurangan aktivitas warga.

Sumber: POLRES Bantul, 2021

Gambar 2 59 Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

Jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas pada tahun 2020 sebanyak 1.796 kejadian dengan korban meninggal dunia sebanyak 136 jiwa dan luka ringan sebanyak 2.087 jiwa, artinya rata-rata dalam satu hari terjadi lebih dari 4 kejadian dengan korban lebih dari 6 orang. Jumlah ini menurun dibandingkan kejadian pada tahun 2019. Meskipun jumlah kecelakaan lalulintas menurun, masih perlu upaya untuk mengurangi angka kecelakaan dengan melakukan sosialisasi safety riding, memberlakukan batas kecepatan kendaraan dan melengkapi rambu-rambu lalu lintas.

Daerah rawan kecelakaan lalu lintas di wilayah Kabupaten Bantul adalah Jalan Samas, Jalan Imogiri, Jalan Jogja Wonosari,

2-176 dan Jalan Ringroad Timur yang merupakan jalan utama menuju pusat kegiatan/pelayanan. Salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas adalah kondisi jalan yang padat di pagi hari dan sore hari.

Sumber: POLRES Bantul, 2021

Gambar 2 60 Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas di Ruas Jalan Kewenangan Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

Dari gambar di atas, kecelakaan yag terjadi di ruas jalan kewenangan kabupaten cukup tinggi antara 57% sd 96%.

e. Terminal Bus

Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Di Kabupaten Bantul terdapat empat terminal dengan kategori C, selain itu terdapat tiga lokasi pemungutan retribusi yaitu TPR Imogiri, TPR Piyungan, TPR Sedayu dan TPR Parangtritis. Selama kurun waktu 5 tahun tidak mengalami pertambahan atau pengurangan jumlah lokasi terminal.

Sistem transportasi darat (sebagaimana dimaksud dalam Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030 (Pasal 13 ayat 2) untuk pergerakan lokal

2-177 maupun regional didukung oleh pengembangan fasilitas angkutan darat di Kabupaten yang meliputi:

1) terminal penumpang tipe C di Kalurahan Palbapang Kapanewon Bantul;

2) terminal angkutan barang di Kalurahan Argosari Kapanewon Sedayu;

3) stasiun penumpang dan stasiun barang serta pergudangan di Stasiun Sedayu;

4) terminal angkutan barang di Kalurahan Srimulyo Kapanewon Piyungan.

Tahun 2017 pembangunan halte sebanyak lima unit yang terpasang di halte Pasar Barongan, halte SMAN 1 Bantul, halte SMPN 1 Pandak, halte Sapuangin, dan halte Bandung. Tahun 2018 sebanyak lima unit halte terpasang di halte sebelah Utara Traffic Light S4 Kasongan, sebelah Utara Traffic Light S4 Palbapang, depan SMP 2 Bantul, dan dua di depan SMU Muhammadiyah Bantul (MUHIBA).

f. Angkutan Darat

Angkutan Darat adalah jenis kegiatan ekonomi berupa pemberian/bisnis jasa angkutan/transportasi barang atau orang di darat, seperti yang dilakukan oleh perusahaan bus, taksi maupun kereta api. Angkutan darat yang terorganisir di Kabupaten Bantul berupa angkutan umum penumpang bus dan minibus.

Jumlah angkutan umum yang beroperasi di Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Penurunan jumlah pengguna angkutan umum karena saat ini masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibanding dengan angkutan umum akibat semakin mudahnya dalam memperoleh kendaraan pribadi (sepeda motor). Penggunaan angkutan umum sebagai sarana transportasi massal dapat mengurangi beban lalu lintas yang semakin padat. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang strategis

2-178 sehingga masyarakat bersedia beralih menggunakan angkutan umum.

Tabel 2 119 Data Trayek Kendaraan Angkutan Umum yang masih Beroperasi di Kabupaten Bantul Tahun 2016-2020

No. Trayek Jumlah Armada

g. Rasio Konektivitas dan V/C Ratio 1) Rasio Konektivitas

Rasio konektivitas adalah rasio jumlah trayek dalam suatu wilayah berbanding dengan jumlah kebutuhan trayek pada wilayah tersebut. Rasio konektivitas Kabupaten Bantul pada tahun 2016 -2018 sebagai berikut.

2-179

Tabel 2 120 Rasio Konektivitas Kabupaten Bantul Tahun 2016-2018

Uraian 2016 2017 2018

Jumlah Angkutan Darat 109.018 104.084 52.621

Jumlah Penumpang Angkutan

Darat 1.089.241 1.016.443 610.895

Rasio Konektivitas (%) * 10,1 10,24 10,30

Sumber : Dinas Perhubungan, 2021 Keterangan :

*) Rumus :

Pada tahun 2019 – 2020 terdapat perubahan perhitungan rasio konektivitas menyesuaikan manual Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) tahun 2019. Rasio konektivitas Kabupaten Bantul pada tahun 2019 -2020 sebagai berikut :

Tabel 2 121 Rasio Konektivitas Kabupaten Bantul Tahun 2019-2020

Uraian 2019 2020

Jumlah Trayek yang dilayani pada kabupaten 7 7 Jumlah kebutuhan trayek pada kabupaten 23 23

Bobot Trayek 1 1

Bobot Angkutan Jalan 100 100

Rasio Konektivitas (%)* 30,34 30,34

Sumber : Dinas Perhubungan, 2021 Keterangan :

*) Rumus :

2) V/C Ratio

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2006 dijelaskan bahwa nisbah volume/kapasitas atau (V/C ratio) adalah perbandingan antara volume lalu lintas dengan kapasitas jalan. V/C rasio sendiri berfungsi untuk mengetahui nilai tingkat pelayanan dari ruas jalan di suatu wilayah. Data V/C Ratio Kabupaten Bantul sebagai berikut :

Tabel 2 122 V/C Ratio Ruas Jalan di Kabupaten Bantul

No Tahun Ruas Jalan V/C Ratio

1 2017 Jalan Parangtritis 0,31

Jalan Bantul 0,27

2-180

No Tahun Ruas Jalan V/C Ratio

2 2019 Jalan Srandakan 0,39

Jalan Parangtritis 0,45

3 2020 Jalan Dr. Wahidin S 0,17

Jalan Jend Sudirman 0,39

Sumber : Dinas Perhubungan, 2021

h. Pencapaian Indikator Kinerja Utama

Pencapaian indikator kinerja utama bidang Perhubungan Kabupaten Bantul sepanjang Tahun 2016-2020 adalah sebagai berikut.

Tabel 2 123 Indikator Kinerja Utama Bidang Perhubungan Kabupaten Bantul, Tahun 2016-2020

Dokumen terkait