Pengendalian penyakit yang akan dibahas pada bab ini adalah pengendalian penyakit menular dan tidak menular. Pengendalian penyakit sebagai upaya penurunan insidens, prevalens, morbiditas atau mortalitas dari suatu penyakit mempunyai peranan penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat. Indikator yang digunakan adalah angka kesakitan dan kematian penyakit.
Penyakit menular meliputi penyakit menular langsung, penyakit yang dapat dikendalikan dengan imunisasi dan penyakit yang ditularkan melalui binatang. Penyakit tidak menular meliputi upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit tidak menular tertentu.
A. PENYAKIT MENULAR LANGSUNG
1. Tuberkulosis
Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Beberapa spesies Mycobacterium, antara lain : M. tuberculosis, M. africanum, M. bovis, M. Leprae.
Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Selain itu terdapat pula tantangan yang perlu menjadi perhatian yaitu meningkatnya kasus TB-MDR, TB-HIV, TB dengan DM, TB pada anak dan masyarakat rentan lainnya.
Hal ini mendorong pengendalian tuberkulosis terus melakukan intensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program.
Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan insidens, prevalensi dan mortalitas/kematian.
Persentase orang terduga tuberkulosis mendapatkan pelayanan tuberkulosis sesuai standar di Aceh sebesar 35,64%, dengan jumlah terduga tuberkulosis sebanyak 85,945 kasus.
GAMBAR 6.1 :
JUMLAH TERDUGA TUBERKULOSIS YANG MENDAPAT PELAYANAN SESUAI STANDAR MENURUT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2021
63
Persentase orang terduga tuberkulosis mendapatkan pelayanan tuberkulosis sesuai standar di Aceh sebesar 35,64%, dengan jumlah terduga tuberkulosis sebanyak 85,945 kasus.
Gambar 6.1 :
Jumlah Terduga Tuberkulosis yang mendapat pelayanan sesuai standar Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2021
Berdasarkan gambar diatas, jumlah terduga Tuberkulosis tertinggi adalah kabupaten Aceh Utara sebanyak 4292 orang, sedangkan yang terendah adalah kota Sabang sebanyak 35 orang. Semakin tinggi penemuan kasus terduga tuberkulosis, maka semakin besar orang terdiagnosa penyakit tuberculosis, sehingga memperkecil terjadi penularan penyakit tuberculosis dimasyarakat.
SIMEULUE ACEH SINGKIL ACEH SELATAN ACEH TENGGARA ACEH TIMUR ACEH TENGAH ACEH BARAT ACEH BESAR PIDIE BIREUEN ACEH UTARA ACEH BARAT DAYA GAYO LUES ACEH TAMIANG NAGAN RAYA ACEH JAYA BENER MERIAH PIDIE JAYA BANDA ACEH SABANG LANGSA LHOKSEUMAWE SUBULUSSALAM 462 348
Berdasarkan gambar diatas, jumlah terduga Tuberkulosis tertinggi adalah kabupaten Aceh Utara sebanyak 4292 orang, sedangkan yang terendah adalah kota Sabang sebanyak 35 orang. Semakin tinggi penemuan kasus terduga tuberkulosis, maka semakin besar orang terdiagnosa penyakit tuberculosis, sehingga memperkecil terjadi penularan penyakit tuberculosis dimasyarakat.
GAMBAR 6.2
CNR SEMUA KASUS TUBERKULOSIS PER 100,000 PENDUDUK MENURUT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2021
64 Gambar 6.2
CNR Semua Kasus Tuberkulosis Per 100,000 Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2021
Daerah dengan CNR semua kasus tuberkulosis (per 100,000 penduduk) tertinggi yaitu Kabupaten Bireuen (729), Pidie (718) dan Aceh Utara (671), terendah Kota Sabang (9).
Salah satu upaya untuk mengendalikan tuberkulosis yaitu dengan pengobatan. Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi pengobatan tuberkulosis adalah angka keberhasilan pengobatan (Success Rate).
Success Rate merupakan jumlah semua kasus tuberkulosis yang sembuh dan pengobatan lengkap diantara semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan. Angka keberhasilan pengobatan ini menggambarkan kualitas pengobatan tuberkulosis. Walaupun angka kesembuhan telah mencapai, hasil pengobatan lainnya tetap perlu diperhatikan antara lain kasus meninggal, gagal, putus berobat (lost to follow up), dan tidak dievaluasi.
SABANG BENER MERIAH ACEH SINGKIL SIMEULUE PIDIE JAYA ACEH JAYA ACEH TENGAH GAYO LUES ACEH TENGGARA NAGAN RAYA ACEH BARAT SUBULUSSALAM ACEH BARAT DAYA LANGSA ACEH BESAR ACEH SELATAN ACEH TAMIANG LHOKSEUMAWE BANDA ACEH ACEH TIMUR ACEH UTARA PIDIE BIREUEN
9 62 67 80 85 120 147 149 160 180 184 202 247 304 355 415 447
587 604 648 671 718 729
Daerah dengan CNR semua kasus tuberkulosis (per 100,000 penduduk) tertinggi yaitu Kabupaten Bireuen (729), Pidie (718) dan Aceh Utara (671), terendah Kota Sabang (9).
Salah satu upaya untuk mengendalikan tuberkulosis yaitu dengan pengobatan. Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi pengobatan tuberkulosis adalah angka keberhasilan pengobatan (Success Rate). Success Rate merupakan jumlah semua kasus tuberkulosis yang sembuh dan pengobatan lengkap diantara semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan. Angka keberhasilan pengobatan ini menggambarkan kualitas pengobatan tuberkulosis. Walaupun angka kesembuhan telah mencapai, hasil pengobatan lainnya tetap perlu diperhatikan antara lain kasus meninggal, gagal, putus berobat (lost to follow up), dan tidak dievaluasi.
Angka kesembuhan semua kasus yang harus dicapai minimal 85%, sedangkan angka keberhasilan pengobatan semua kasus minimal 90%. Pengawasan yang efektif melalui penemuan dan penanganan kasus infeksi akan membatasi resiko penyebarannya.
Jumlah kematian selama pengobatan tuberkulosis sebanyak 257 kasus (3.7%). Kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Bireuen sebanyak 49 kasus dan Kabupaten Aceh Utara sebanyak 22 kasus.
2. Persentase penemuan penderita pneumonia pada balita
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur dan bakteri. Sampai saat ini program dalam pengendalian pneumonia lebih diprioritaskan pada pengendalian pneumonia balita.
PENGENDALIAN PENYAKIT
Profil kesehatan Aceh tahun 2021 43 Pneumonia pada balita ditandai dengan batuk dan atau tanda kesulitan bernapas yaitu adanya nafas cepat, kadang disertai tarikan dinding dada bagian bawah kedalam (TDDK), dengan frekuensi nafas berdasarkan usia penderita:
• < 2 bulan : = 60/menit,
• 2 - < 12 bulan : = 50/menit,
• 1 - < 5 tahun : = 40/menit.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan meningkatkan penemuan pneumonia pada balita. Berikut cakupan penemuan kasus pneumonia pada balita di Aceh pada tahun 2019-2021 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
GAMBAR 6.3
PERSENTASE PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2021
66
Gambar 6.3
Persentase Penemuan Pneumonia pada Balita Menurut kabupaten/kota tahun 2021
Berdasarkan gambar diatas persentase penemuan pneumonia pada balita menurut kabupaten/kota Tahun 2021 yaitu tertinggi adalah 17% di kabupaten Pidie, tiga kabupaten kota yang capaian masih 0%
diantaranya kabupaten Aceh Barat, Gayo lues dan Nagan Raya.
Penemuan ini perlu ditingkatkan lagi untuk mewujudkan upaya pemerintah dalam menekan angka kematian akibat pneumonia balita.
Kabupaten/kota yang melakukan Tatalaksana Standar Pneumonia Minimal 60% yaitu sebanyak 14 kabupaten/kota. Upaya pemerintah dalam menekan angka kematian akibat pneumonia diantaranya melalui penemuan kasus pneumonia balita sedini mungkin dipelayanan kesehatan dasar, penatalaksanaan kasus dan rujukan.
SIMEULUE ACEH SINGKIL ACEH SELATAN ACEH TENGGARA ACEH TIMUR ACEH TENGAH ACEH BARAT ACEH BESAR PIDIE BIREUEN ACEH UTARA ACEH BARAT DAYA GAYO LUES ACEH TAMIANG NAGAN RAYA ACEH JAYA BENER MERIAH PIDIE JAYA BANDA ACEH SABANG LANGSA LHOKSEUMAWE SUBULUSSALAM
2 1
Berdasarkan gambar diatas persentase penemuan pneumonia pada balita menurut kabupaten/kota Tahun 2021 yaitu tertinggi adalah 17% di kabupaten Pidie, tiga kabupaten kota yang capaian masih 0% diantaranya kabupaten Aceh Barat, Gayo lues dan Nagan Raya.
Penemuan ini perlu ditingkatkan lagi untuk mewujudkan upaya pemerintah dalam menekan angka kematian akibat pneumonia balita.
Kabupaten/kota yang melakukan Tatalaksana Standar Pneumonia Minimal 60% yaitu sebanyak 14 kabupaten/kota. Upaya pemerintah dalam menekan angka kematian akibat pneumonia diantaranya melalui penemuan kasus pneumonia balita sedini mungkin dipelayanan kesehatan dasar, penatalaksanaan kasus dan rujukan.
3. HIV dan AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, menyebabkan penderita mengalami penurunan kekebalan sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV.
PENGENDALIAN PENYAKIT
44 Profil kesehatan Aceh tahun 2021
Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui Layanan Konseling dan Tes HIV baik secara sukarela (Konseling dan Tes Sukarela/KTS) maupun atas dasar Tes atas Inisiatif Pemberi layanan kesehatan dan Konseling (TIPK). Sedangkan prevalensi HIV pada suatu populasi tertentu dapat diketahui melalui metode sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).
GAMBAR 6.4
JUMLAH KASUS HIV POSITIF DAN AIDS YANG DILAPORKAN DI ACEH TAHUN 2021
67 3. HIV dan AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, menyebabkan penderita mengalami penurunan kekebalan sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV.
Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui Layanan Konseling dan Tes HIV baik secara sukarela (Konseling dan Tes Sukarela/KTS) maupun atas dasar Tes atas Inisiatif Pemberi layanan kesehatan dan Konseling (TIPK). Sedangkan prevalensi HIV pada suatu populasi tertentu dapat diketahui melalui metode sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).
Gambar 6.4
Jumlah Kasus HIV Positif dan AIDS yang Dilaporkan di Aceh Tahun 2021
Estimasi jumlah orang dengan resiko terinfeksi HIV di Aceh pada tahun 2021 sebanyak 6282 orang. Adapun orang dengan resiko terinfeksi HIV yang mendapatkan pelayanan sesuai standar sebanyak 1.2 orang dengan jumlah infeksi baru sebanyak 77 orang.
53 69
2017 2018 2019 2020 2021
HIV + AIDS
Estimasi jumlah orang dengan resiko terinfeksi HIV di Aceh pada tahun 2021 sebanyak 6282 orang. Adapun orang dengan resiko terinfeksi HIV yang mendapatkan pelayanan sesuai standar sebanyak 1.2 orang dengan jumlah infeksi baru sebanyak 77 orang.
Berikut ini disajikan laporan gambaran persentase kasus HIV positif dan AIDS tahun 2021 menurut kelompok umur.
GAMBAR 6.5
PERSENTASE KASUS HIV POSITIF DAN AIDS PER KELOMPOK UMUR DI ACEH TAHUN 2021
HIV AIDS
Berikut ini disajikan laporan gambaran persentase kasus HIV positif dan AIDS tahun 2021 menurut kelompok umur.
Gambar 6.5
Persentase Kasus HIV Positif dan AIDS Per Kelompok Umur Di Aceh Tahun 2021
HIV AIDS
Berdasarkan grafik di atas, masih ditemukan penularan HIV dari ibu ke anak yang di tunjukkan dengan adanya penemuan kasus HIV positif pada kelompok usia di bawah 4 tahun. Dalam rangka triple elimination (eliminasi HIV, hepatitis B, dan sifilis) pada bayi, penularan HIV dari ibu ke anak diharapkan akan terus menurun di tahun selanjutnya. Proporsi terbesar kasus HIV positif dan AIDS masih pada penduduk usia produktif (umur 20-49 tahun), dimana kemungkinan penularan terjadi pada usia remaja. HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks, tranfusi darah, penggunaan jarum suntik bergantian dan penularan dari ibu ke anak (perinatal).
Berdasarkan grafik di atas, masih ditemukan penularan HIV dari ibu ke anak yang di tunjukkan dengan adanya penemuan kasus HIV positif pada kelompok usia di bawah 4 tahun. Dalam rangka triple elimination (eliminasi HIV, hepatitis B, dan sifilis) pada bayi, penularan HIV dari ibu ke anak diharapkan akan terus menurun di tahun selanjutnya. Proporsi terbesar kasus HIV positif dan AIDS masih pada penduduk usia produktif (umur 20-49 tahun), dimana
PENGENDALIAN PENYAKIT
Profil kesehatan Aceh tahun 2021 45 kemungkinan penularan terjadi pada usia remaja. HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks, tranfusi darah, penggunaan jarum suntik bergantian dan penularan dari ibu ke anak (perinatal).
4. Diare
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sering disertai dengan kematian. Target cakupan pelayanan penderita Diare Balita yang datang ke sarana kesehatan adalah 22% dari perkiraan jumlah penderita Diare Balita (Insidens Diare Balita dikali jumlah Balita di satu wilayah kerja dalam waktu satu tahun). Tahun 2021 jumlah penderita diare Balita yang dilayani sebanyak 17,063 atau 16% dari perkiraan diare di sarana kesehatan.
Cakupan penanganan diare pada kabupaten/kota di Aceh belum maksimal, masih banyak terjadinya kasus diare yang belum mendapatkan pelayanan yang memadai. Salah satu penyebab diare pada masyarakat adalah perilaku hidup sehat yang belum baik, masih banyak sampah yang dibuang bukan pada tempatnya dan kebiasaan minum air mentah serta makan yang tidak di dahului dengan mencuci tangan terlebih dahulu.
GAMBAR 6.6
CAKUPAN PELAYANAN PENDERITA DIARE MENURUT KABUPATEN/KOTA DI ACEH TAHUN 2021
69 4. Diare
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sering disertai dengan kematian. Target cakupan pelayanan penderita Diare Balita yang datang ke sarana kesehatan adalah 22% dari perkiraan jumlah penderita Diare Balita (Insidens Diare Balita dikali jumlah Balita di satu wilayah kerja dalam waktu satu tahun).
Tahun 2021 jumlah penderita diare Balita yang dilayani sebanyak 17,063 atau 16% dari perkiraan diare di sarana kesehatan.
Cakupan penanganan diare pada kabupaten/kota di Aceh belum maksimal, masih banyak terjadinya kasus diare yang belum mendapatkan pelayanan yang memadai. Salah satu penyebab diare pada masyarakat adalah perilaku hidup sehat yang belum baik, masih banyak sampah yang dibuang bukan pada tempatnya dan kebiasaan minum air mentah serta makan yang tidak di dahului dengan mencuci tangan terlebih dahulu.
Gambar 6.6
Cakupan Pelayanan Penderita Diare Menurut Kabupaten/Kota Di Aceh Tahun 2021
33 17 40 31 38 46 34 19 29 28 20 44 45 33 47 54 37 42 27 59 3 25 36
3 9 24 18 24 25 24 9 16 15 11 31 43 18 27 25 16 25 15 24 2 12 21
Semua Umur Balita
5. Kusta
Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Penderita kusta adalah seseorang yang mempunyai satu dari tanda utama kusta, diantaranya kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak putih atau kemerahan yang mati rasa, adanya basil tahan asam (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit (slit skin smear) dan penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.
PENGENDALIAN PENYAKIT
46 Profil kesehatan Aceh tahun 2021
GAMBAR 6.7 :
ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR) TAHUN 2016 – 2021
70 5. Kusta
Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Penderita kusta adalah seseorang yang mempunyai satu dari tanda utama kusta, diantaranya kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak putih atau kemerahan yang mati rasa, adanya basil tahan asam (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit (slit skin smear) dan penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.
Gambar 6.7 :
Angka Prevalensi dan Angka Penemuan Kasus Baru Kusta (NCDR) Tahun 2016 – 2021
Berdasarkan gambar di atas, angka penemuan kasus baru kusta tertinggi berturut-turut pada tahun 2015-2017 yaitu sebesar 1,3 per 100.000 penduduk dan terendah pada tahun 2018 yaitu sebesar 0,4 per 100.000 penduduk. Faktor yang mempengaruhi penularan kusta adalah
16
2016 2017 2018 2019 2020 2021
Per 10.000 Penduduk
Per 100.000 Penduduk
NCDR Prevalensi Kusta
Berdasarkan gambar di atas, angka penemuan kasus baru kusta tertinggi berturut-turut pada tahun 2015-2017 yaitu sebesar 1,3 per 100.000 penduduk dan terendah pada tahun 2018 yaitu sebesar 0,4 per 100.000 penduduk. Faktor yang mempengaruhi penularan kusta adalah salah satunya penderita kusta yang belum mengonsumsi obat Kusta. Masa inkubasi perlu waktu lama (rata-rata 3-5 tahun) dan kejadian penyakit ini terbanyak pada negara tropis, dan Indonesia berada pada urutan ketiga di dunia setelah India dan Brazil dalam jumlah kasus baru yang ditemukan setahun. Disini letak salah satu peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita untuk menganjurkan penderita berobat secara teratur.
GAMBAR 6.8 :
ANGKA CACAT TINGKAT 2 PENDERITA KUSTA BARU PER 1,000,000 PENDUDUK TAHUN 2017 - 2021
salah satunya penderita kusta yang belum mengonsumsi obat Kusta.
Masa inkubasi perlu waktu lama (rata-rata 3-5 tahun) dan kejadian penyakit ini terbanyak pada negara tropis, dan Indonesia berada pada urutan ketiga di dunia setelah India dan Brazil dalam jumlah kasus baru yang ditemukan setahun. Disini letak salah satu peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita untuk menganjurkan penderita berobat secara teratur.
Gambar 6.8 :
Angka Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta Baru Per 1,000,000 Penduduk Tahun 2017 - 2021
Berdasarkan gambar diatas, pada periode tahun 2017-2021 ditemukan angka cacat tingkat 2 penderita kusta baru mengalami penurunan pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020.
2,1
2017 2018 2019 2020 2021
Per 1.000.000 Penduduk