• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

8. Pengendalian Sosial (Peohala)

a. Pengertian Pengendalian Sosial

Beberapa ahli sosiologi mengartikan pengendalian social di anataranya adalah:

a. Josep S Roucek mengartikan pengendalian social sebgai proses baik di rencanakan maupun tidak di rencanakan yag bersifat mendidik, mengajak,

bahkan memaksa seseorang untuk mematuhi norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut

b.

Peter L. Berger

Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan oleh masyarakat untuk menertibkan anggota-anggotanya membangkang.

c.

Rifhi Siddiq

Pengendalian sosial adalah suatu cara maupun metode yang dilakukan kepada individu ataupun kelompok agar perilaku dan tindakannya sesuai dengan nilai dan norma sosial yang dianut masyarakat tersebut.

Pengendalian social dapat diartikan sebagai cara dan proses pengawasan yang direncanakan atau tidak yang bertujuan untuk mengajak, mendidik, bahkan memaksa seseorang atau warga masyarakat agar mengetahui norma dan nilai yang sosial yang berlaku dalam masyarakat. Pengendalian sosial adalah merupakan suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang/membangkang.

Telah berulangkali diutaran bahwa pengendalian sosial ini sebagai alat control agar masyarakat tertib dan hidup teratur. Tetapi apakah hanya sebatas alat control saja pengendalian social? Secara lengkapnya fungsi pengendalian social anatara lain adalah:

a. mencegah timbulnya perilaku menyimpang sehingga mencegah meluasnya kasus-kasus penyimpangan perilaku yang tejadi

b. memberi peringatan kepada para pelaku penyimpangan atas perilaku penyimpangannya dan berusaha mengembalikan kejalan yang benar c. menjaga kelestarian nilai-nilai dan norma yang berlaku

dalammasyarakat termasuk menegakkan norma hukum yang kadangkala diabaikan.

d. Membantu terciptanya ketertiban, keteraturan, dan ketentraman bagi seluruh warga masyarakat.

b. Macam-macam pengendalian social

1. Berdasarkan Sifat

a. Tindakan Persuasif

Pengendalian sosial yang dilakukan tanpa kekerasan misalnya melalui cara mengajak, menasihati atau membimbing anggota masyarakat agar bertindak sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.

Cara ini dilakukan melalui lisan atau simbolik. Contoh pengendalian sosial melalui lisan yaitu dengan mengajak orang menaati nilai dan norma dengan berbicara langsung menggunakan bahasa lisan, sedang pengendalian secara simbolik dapat menggunakan tulisan, spanduk dan iklan layanan masyarakat. Contoh pengendalian sosial persuasif secara lisan adalah seorang ibu menasehati anaknya yang akan pergi ke sekolah agar tidak terlibat tawuran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai nilai dan norma. Sedang contoh cara pengendalian sosial simbolik misalnya pemerintah daerah menghimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan, cara yang dilakukan

pemerintah daerah dengan memasang spanduk di tempat tertentu yang dapat dibaca oleh masyarakat.

b. Tindakan Koersif

Pengendalian sosial yang dilakukan dengan menggunakan paksaan atau kekerasan, baik secara kekerasan fisik ataupun psikis. Contoh pengendalian sosial koersif adalah penertiban pedagang kaki lima di trotoar jalan yang dilakukan oleh satuan polisi pamong praja atau Satpol PP dengan cara membongkar dan merusak tempat berniaga dan mengangkut barang-barang milik pedagang. Sehingga timbul kerusuhan bahkan ada yang menimbulkan korban jiwa. Contoh lain pengendalian sosial dengan cara koersif adalah hukuman penjara, denda, pengusiran atau pengucilan. Pengendalian sosial koersif sebaiknya merupakan langkah terakhir yang digunakan untuk mengendalikan perilaku menyimpang karena seringkali menimbulkan reaksi negatif.

2. Berdasarkan Pelaku Pengendalian Sosial

a. Pengendalian pribadi; yaitu pengaruh yang datang dari orang atau

tokoh tertentu (panutan). Pengaruh ini dapat bersifat baik atau pun buruk.

b. Pengendalian institusional; yaitu pengaruh yang ditimbulkan dari

adanya suatu institusi atau lembaga. Pola perilaku lembaga tersebut tidak hanya mengawasi para anggota lembaga itu saja, akan tetapi juga mengawasi dan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di sekitar lembaga tersebut berada. Misalnya kehidupan para santri di pondok

pesantren akan mengikuti aturan, baik dalam hal pakaian, tutur sapa, sikap, pola pikir, pola tidur, dan sebagainya. Dalam hal ini, pengawasan dan pengaruh dari pondok pesantren tersebut tidak hanya terbatas pada para santrinya saja, namun juga kepada masyarakat di sekitar pondok pesantren.

c. Pengendalian resmi; yaitu pengendalian atau pengawasan sosial yang

dilakukan oleh lembaga resmi negara sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan sanksi yang jelas dan mengikat. Pengendalian resmi dilakukan oleh aparat negara, seperti kepolisian, satpol PP, kejaksaan, ataupun kehakiman untuk mengawasi ketaatan warga masyarakat terhadap hukum yang telah ditetapkan.

d. Pengendalian tidak resmi; yaitu pengendalian atau pengawasan sosial

yang dilakukan tanpa rumusan aturan yang jelas atau tanpa sanksi hukum yang tegas. Meskipun demikian, pengendalian tidak resmi juga memiliki efektivitas dalam mengawasi atau mengendalikan perilaku masyarakat. Hal ini dikarenakan sanksi yang diberikan kepada pelaku penyimpangan berupa sanksi moral dari masyarakat lain, misalnya dikucilkan atau bahkan diusir dari lingkungannya. Pengendalian tidak resmi dilakukan oleh tokoh masyarakat, tokoh adat, ataupun tokoh agama yang memiliki kharisma dan dipandang sebagai panutan masyarakat.

c. Bentuk-Bentuk Pengendalian Sosial

Banyak sekali bentuk-bentuk pengendalian sosial yang dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang.

a. Gosip

Gosip sering juga diistilahkan dengan desas-desus. Gosip merupakan memperbincangkan perilaku negatif yang dilakukan oleh seseorang tanpa didukung oleh fakta yang jelas. Gosip tidak dapat diketahui secara terbuka, terlebih-lebih oleh orang yang merupakan objek gosip. Namun demikian gosip dapat menyebar dari mulut ke mulut sehingga hampir seluruh anggota masyarakat tahu dan terlibat dalam gosip. Misalnya gosip tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Si A dengan Si B. gosip seperti ini dalam waktu singkat akan segera menyebar. Warga masyarakat yang telah mendengar gosip tertentu akan terpengaruh dan bersikap sinis kepada orang yang digosipkan. Karena sifatnya yang laten, biasanya orang sangat menjaga agar tidak menjadi objek gosip.

b. Teguran

Teguran biasanya dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang atau sekelompok orang yang dianggap melanggar etika dan/atau mengganggu kenyamanan warga masyarakat. Teguran merupakan kritik sosial yang dilakukan secara langsung dan terbuka sehingga yang bersangkutan segera menyadari kekeliruan yang telah diperbuat. Di dalam tradisi masyarakat kita teguran merupakan suatu hal yang tidak aneh lagi. Misalnya teguran terhadap

sekelompok pemuda yang begadang sampai larut malam sambil membuat kegaduhan yang mengganggu ketentraman warga yang sedang tidur, teguran yang dilakukan oleh guru kepada pelajar yang sering meninggalkan pelajaran, dan lain sebagainya.

c. Sanksi/Hukuman

Pada dasarnya sanksi atau hukuman merupakan imbalan yang bersifat negatif yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang yang dianggap telah melakukan perilaku menyimpang. Misalnya pemecatan yang dilakukan terhadap polisi yang terbukti telah mengkonsumsi dan mengedarkan narkoba, dan lain sebagainya. Adapun manfaat dari sanksi atau hukuman antara lain adalah: (1) untuk menyadarkan seseorang atau sekelompok orang terhadap penyimpangan yang telah dilakukan sehingga tidak akan mengulanginya lagi, dan (2) sebagai peringatan kepada warga masyarakat lain agar tidak melakukan penyimpangan.

d. Pendidikan

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang agar mencapai taraf kedewasaan. Melalui pendidikanlah seseorang mengetahui, memahami, dan sekaligus mempraktekkan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

e. Agama

Agama mengajarkan kepada seluruh umat manusia untuk menjaga hubungan baik antara manusia dengan sesama manusia, antara manusia dengan makhluk lain, dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan yang baik dapat dibina dengan cara menjalankan segala perintah Tuhan dan sekaligus menjauhi segala larangan-Nya. Melalui agama ditanamkan keyakinan bahwa melaksanakan perintah Tuhan merupakan perbuatan baik yang akan mendatangkan pahala. Sebaliknya, melanggar larangan Tuhan merupakan perbuatan dosa yang akan mendatangkan siksa. Dengan keyakinan seperti ini, maka agama memegang peranan yang sangat penting dalam mengontrol perilaku kehidupan manusia.

f. Pengertian Peohala

Peohala mempunyai arti suatu penyelesaian suatu kasus kesusilaan menurut adat tolaki. Besarnya peranan hukum adat dalam suatu wilayah masyarakat tertentu kadang menimbulkan kontraversi antara hukum adat dan hukum formal yang berlaku, sehiggga masyarakat kadang mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam hukum adat dan kadang hukum secara tertulis (hukum formal) sering di langgar karena dalam pelaksanaan hukum tersebut belum efektif dalam pelaksanaannya sehingga dianggap tidak bisa menyelesaikan suatu masalah dalam kehidupan masyarakat setempat.

Secara umum perbutan yang melanggar nilai dan norma adat dalam mayarakat dapat di kenakan sanksi (hukuman) adat misalnya

pemerkosaan,perzinaan,cemoohan,,dan sebagainya. Perbuatan yang di lakukan oleh oknum tersebut menyebabkan pihak lain mengadu atau keberatan pada pengurus adat agar diselesaikan secepatnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Keputusan menjatuhkan hukuman (sanksi) diselesaikan menurut adat yang berlaku bagi setiap golongan masyarakat tertentu, sehingga menghasilkan keputusan adat. Kasus-kasus seperti ini biasa terjadi di kalangan masyarakat secara khusus masih berlaku pada suku tolaki di kabupaten kendari.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, maka pada komunitas kecil khususnya di kendari sejak dahulu sampai sekarang sering terjadi kasus kesusilaan dan penyelesaiannya secara hukum adat tolaki melalui pengurus dan yang telah di siapkan.penerapan hukum Tolaki telah di lakasanakan secara turun menurun mengingat masyarakat Tolaki masih sangat menjunjung, mentaati, dan mematuhi sebagai sarana yang mampu menyelesaikan masalah dalam kehidupan masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang aman dan tertib.

Seseorang di wajibkan oleh adat untuk membayar peohala (denda) atas perkatan dan perbuatannya, yang mana perkataan dan perbuatannya tersebut dalam pandangan adat dianggap sebagai perbuatan yang melanggar norma kesusilaan. Sehingnga penyelesaiannyapun harus dengan peohala. Adapu pelanggaran norma kesusilaan tersebut dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu pelanggaran besar dan pelanggaran kecil.

Kasus kesusilaan yang termasuk dalam kategori pelanggaran yang besar antara lain, menghamili anak orang lain, pernikahan yang dibatalkan oleh satu pihak, memukul atau mengeroyok orang lain, seorang laki-laki yang melakukan perkawinan atas orang lain. Sedangkan yang termasuk kedalam pelanggaran kesusilan yang kecil juga perlu penyelesaian denga peohala antara lain, mengeluarkan kata-kata yang merugikan orang lain (caci maki), memasuki kamar seorang perempuan tanpa izin, mencium seorang gadis, merusak barang orang lain, mengintip perempuan yang sedang mandi dan seorang pria yang menyentuh panyudara seorang gadis.

Untuk menyelesaikan masalah pelanggaran kesusilaan tersebut diatas perlu diperhatikan adalah syarat yang harus terpenuhi untuk terlaksananya penyelesaian peohala tersebut, sekaligus merupakan tindakan awal yang harus dilakukan oleh tokoh adat sebagai langkah awal penyelesaian permasalahan yakni adanya pengaduan dari pihak yang dirugikan, pemeriksaan oleh tokoh adat, menentukan besarnya denda (peohala) yang harus dibayar oleh pelanggar.

Dokumen terkait