BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Pengendalian Vektor Nyamuk
2.2.1. Indoor Residual Spraying (IRS/penyemprotan)
Suatu kegiatan mengaplikasikan residu insektisida tertentu dengan cara menyemprotkan ke permukaan bangunan yang harus disemprot. Penyemprotan dengan insektisida secara residu pada dinding rumah bagian dalam (Indoor Residual
Spray = IRS), yang bertujuan untuk memperpendek umur hidup nyamuk dan
memutuskan mata rantai penularan (Jhohar, 2006).
Menurut Jhohar (2006), Persyaratan pelaksanaan penyemprotan: a. Konsentrasi insektisida dalam larutan
b. Macam nozzle yang dipakai c. Tekanan dalam tangki
d. Jarak antara nozzle dengan permukaan yang disemprot e. Kecepatan menyemprot
Menurut Martha (2010), penyemprotan di dalam suatu rumah juga harus dilakukan secara selektif di tempat-tempat tertentu, misalnya di atap jerami, bagian atas dinding dan atap, yang dimungkinkan sebagai resting places beberapa vektor dan area di mana insektisida dapat bertahan selama kurun waktu yang lama. Efek biologik dari insektisida hanya berlangsung singkat jika disemprotkan pada dinding yang berlumpur, sehingga penyemprotan tidak dilakukan pada bagian tersebut. Investigasi sangat diperlukan untuk mengetahui selektifitas penyemprotan pada populasi vector dan insidensi malaria.
Dalam pengendalian vektor secara kimiawi digunakan berbagai bahan kimia untuk membunuh ataupun menghambat pertumbuhan serangga. Di Indonesia hingga sekarang yang banyak dipakai dalam pengendalian vektor malaria yang seringkali sekaligus dapat mengendalikan vektor filariasis, adalah penggunaan insektisida yang ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa dengan cara penyemprotan tempat menggigit dan tempat istirahat vektor. Hal ini seringkali tidak mencapai sasaran,
karena yang biasanya disemprot adalah rumah tinggal, sedangkan nyamuk menggigit atau istirahat di luar rumah, yang jauh dari pemukiman misalnya di ladang dan tepi hutan, tidak terjangkau oleh insektisida ( Martha, 2010)
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan seleksi terhadap insektisida untuk indoor residual spraying antara lain ( Martha, 2010)
a. Efektifitas residual. Pada area trasmisi perennial di mana indoor residual spraying dengan pestisida dipertimbangkan, maka efektifitas residual maksimal sesuai yang diinginkan
b. Keamanan. Toksisitas akut dan kronik dari suatu insektisida, persistensi
lingkungan, dan akumulasi residu pada tubuh manusia perlu diperhitungkan c. Susceptibilitas vektor. Susceptibilitas target populasi vektor terhadap insektisida
adalah penting
d. Pengaruh terhadap suatu penyakit. Kemampuan insektisida untuk mengurangi insidensi penyakit harus dievaluasi dan dipastikan kembali
e. Excite repellency. Saat konsekuensi epidemiologik efek excito-repellent dari
insektisida tidak dimengerti secara benar-benar, maka efek tersebut harus dapat diperhitungkan saat operasional penyemprotan. Hal tersebut akan tidak berguna jika nyamuk melarikan diri dari penyemprotan insektisida sebelum terpapar dosis lethal. Tetapi jika repellency mengarah pada pengurangan kemungkinan kontak manusia dengan vektor (dengan membawa nyamuk dari manusia ke hewan di luar rumah), maka hal itu baru dapat bermanfaat.
f. Biaya. Program harus ditentukan dan terdokumentasi. Hal ini meliputi biaya
insektisida dan frekuensi aplikasi, alat penyemprot, transportasi, dan tenaga kerja. g. Manajemen resistensi insektisida. Ilmu penggunaan insektisida bukan saja
digunakan dalam bidang agrikultur, tetapi juga untuk mempelajari mekanisme resistensi target populasi vektor dan perkembangan resistensi secara sempit maupun luas dapat dijadikan pedoman untuk seleksi insektisida untuk meminimalkan masalah resistensi
h. Spesifikasi insektisida. Efikasi suatu produk yang digunakan dalam kesehatan
masyarakat tergantung pada kekayaan fisik dan kimiawi dari gabungan formulasi. Spesifikasi pestisida oleh WHO dinyatakan bahwa penggunaan insektisida bervariasi pada beberapa spesifikasi penggunaan pada agricultural. Hal ini penting bahwa untuk pengendalian vektor malaria dan vector borne disease lain, perlu diperimbangkan beberapa insektisida yang direkomendasikan oleh WHO. Penggunaan insektisida dengan spesifikasi tertentu harus di bawah pengawasan institusi independen.
Faktor lain: bau, jarak penglihatan deposit penyemprotan, efikasi dihadapkan dengan gangguan hama dan faktor lain yang mempengaruhi aksesibilitas penyemprotan rumah oleh masyarakat
2.2.2 Penggunaan Kelambu
Salah satu cara pemberantasan kimiawi yang digunakan dalam program pemberantasan penyakit malaria di Indonesia adalah penggunaan kelambu yang dicelup dengan insektisida Cara ini sudah banyak digunakan baik di Indonesia
maupun di negara-negara lain seperti : Afrika, Asia-Pasifik,dan Negara-negara Amerika Latin (Barodji, 2001).
Penggunaan kelambu berinsektisida sangat penting diketahui masyarakat terutama dalam mencegah terjadinya penularan malaria. Pemakaian kelambu berinsektisida dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat terutama kepada ibu hamil, bayi dan balita yang merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan malaria. Cakupan terhadap pemakaian kelambu berinsektisida di masyarakat harus mencapai sekurang-kurangnya 80 persen dari jumlah penduduk yang tinggal di daerah endemis malaria (Harisson, 2011).
Kelambu berinsektisida adalah kelambu yang di dalam serat kainnya telah diberi obat anti nyamuk (insektisida) dan obat tersebut tahan 3 (tiga) tiga tahun lamanya. Diberi obat (insektisida) anti nyamuk, maka bila nyamuk menyentuh atau hinggap di kelambu tersebut, dia akan mati atau jarak terbangnya menjadi lebih pendek, atau hidupnya lebin pendek, sehingga kemampuannya menularkan malaria menjadi berkurang. ( Depkes, 2001).
Pencelupan kelambu efektif apabila penularan terjadi dalam rumah kebiasaan menggigit vektor di dalam rumah puncak gigitan vektor setelah jam 22.00 penduduk tidak tidur sampai larut malam, misal nonton TV penduduk tidak berada di luar rumah malam hari masyarakat mau menggunakan kelambu (Depkes 2001).
2.2.3. Larvasida
Larviciding adalah kegiatan anti larva yang dilakukan dengan cara kimiawi,
potensial (Breeding Pleaces). Yang dimaksud dengan tempat perindukan adalah genangan air di sekitar pantai yang permanen, genangan air di muara sungai yang tertutup pasir dan saluran dengan aliran air yang lambat (Depkes, 2003).
Larvaciding bertujuan untuk menekan populasi larva nyamuk Anopheles.
Dapat dilakukan secara kimia dan biologi. Bila larvaciding secara kimia dapat dilakukan pada TPV yang potensial, terukur dan terjangkau untuk diaplikasikan, tidak ada vegetasi yang menghalangi aplikasi larvasida, bukan tipe TPV yang kecil dan menyebar sehingga sulit diidentifikasi dan diintervensi, sedangkan secara biologi seperti Penebaran ikan pemakan jentik seperti ikan kepala timah ( Aplocheilus
panchax) dan ikan nila merah (Oreochromis nilaticum) pada TPV yang potensial dan
airnya permanen (Depkes, 2003). 2.3. Kondisi Lingkungan Rumah
2.3.1. Tempat berkembang biak vektor (Breeding Places)
Lingkungan adalah lingkungan manusia dan nyamuk berada. Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang biak. Kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk tidak sama tiap jenis/spesies nyamuk. Nyamuk
Anopheles aconitus cocok pada daerah perbukitan dengan sawah non teknis berteras,
saluran air yang banyak ditumbuhi rumput yang menghambat aliran air. Nyamuk
Anopheles balabacensis cocok pada daerah perbukitan yang banyak terdapat hutan
sangat cocok berkembangbiak pada tempat genangan air seperti bekas jejak kaki, bekas jejak roda kendaraan dan bekas lubang galian (Depkes, 2003)
Tempat perkembangbiakan vektor secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kejadian malaria. Sawah, saluran irigasi, tepi danau, genangan air payau, dan tambak ikan merupakan tempat yang cocok dan aman untuk berkembangbiaknya vektor malaria (Depkes, 2003). Ada juga yang senang berkembangbiak di sumur dan potongan bambu (Dev,1996) serta tangki air/bak air (Hong, 1998)
Ghebreyesus, (2000) pernah mengidentifikasikan faktor-faktor risiko insidensi malaria di enam buah desa di Ethiopia bagian utara. Enam dari 14 buah veriabel yang diteliti berhasil diidentifikasi sebagai faktor risiko tinggi insidensi malaria, salah satu diantaranya adalah pemukiman yang berdekatan dengan saluran irigasi mempunyai faktor terinfeksi malaria sebesar 2,68 kali bila dibandingkan dengan pemukiman yang jauh dari saluran irigasi.
Lingkungan rumah yang diperhatikan dalam kejadian malaria adalah jarak rumah dari tempat istirahat dan tempat perindukan yang disenangi nyamuk
Anopheless seperti adanya semak yang rimbun akan menghalangi sinar matahari
menembus permukaan tanah, sehingga adanya semak-semak yang rimbun berakibat lingkungan menjadi teduh serta lembab dan keadaan ini merupakan tempat istirahat yang disenangi nyamuk Anopheles, parit atau selokan yang digunakan untuk pembuangan air merupakan tempat berkembangbiak yang disenangi nyamuk, dan kandang ternak sebagai tempat istirahat nyamuk sehingga jumlah populasi nyamuk di sekitar rumah bertambah (Handayani dkk,2008)
2.3.2. Rawa-rawa.
Rawa-rawa adalah lahan genanga menerus atau musiman akibat khusus secar
Definisi yang lain dari rawa-rawa adalah lahan genanga yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat mempunyai ciri-ciri khusus secar
Definisi yang lain dari rawa adalah semua macam terbuat secara alami, atau buat laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut yang dalam airnya kurang dari dengan nyamuk, seperti rawa-rawa, telah lama memiliki hubungan dengan tingginya angka serangan malaria. Lingkungan yang mendukung seperti genangan air menyebabkan munculnya sarang nyamuk (Angga, 2008)
Ciri-ciri rawa pada umumnya ialah : airnya asam, warna airnya merah, kurang baik untuk mengairi tanaman, bagian dasar rawa terdapat banyak gambut. Rawa tersebut selalu digenangi air karena kekurangan drainase atau letaknya lebih rendah dari daerah sekitarnya. Pada daerah rawa pada umumnya banyak terdapat sarang nyamuk malaria, namun hal ini dapat diberantas dengan membuat perikanan di daerah rawa-rawa tersebut (Widodo, 2010).
2.3.3. Rumah Sehat
Menurut Azwar, (1996) rumah sehat harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain :
1. Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi kebutuhan fisik dasar dari penghuninya. Hal-hal yang perlu diperhatikan di sini ialah :
a. Rumah tersebut harus terjamin penerangannya yang dibedakan atas cahaya matahari dan lampu.
b. Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna,sehingga aliran udara segar dapat terpelihara.
c. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipertahankan suhu lingkungan
2. Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi kebutuhan kejiwaan dasar dari penghuninya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Terjamin berlangsungnya hubungan yang serasi antara anggota keluarga yang tinggal bersama.
b. Menyediakan sarana yang memungkinkan dalam pelaksanaan pekerjaan rumah tangga tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan
3. Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dari penularan penyakit atau berhubungan dengan zat-zat yang membahayakan kesehatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Rumah yang di dalamnya tersedia air bersih yang cukup. b. Ada tempat pembuangan sampah dan tinja yang baik.
c. Terlindung dari pengotoran terhadap makanan.
d. Tidak menjadi tempat bersarang binatang melata ataupun penyebab penyakit lainnya.
4. Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga melindungi penghuni dari kemungkinan terjadinya bahaya kecelakaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Rumah yang kokoh.
b. Terhindar dari bahaya kebakaran. c. Alat-alat listrik yang terlindungi. d. Terlindung dari kecelakaan lalu lintas
Kondisi fisik rumah berkaitan sekali dengan kejadian malaria, terutama yang berkaitan dengan mudah atau tidaknya nyamuk masuk ke dalam rumah adalah ventilasi yang tidak dipasang kawat kasa dapat mempermudah nyamuk masuk kedalam rumah. Langit-langit atau pembatas ruangan dinding bagian atas dengan atap yang terbuat dari kayu, internit maupun anyaman bambu halus sebagai penghalang masuknya nyamuk ke dalam rumah dilihat dari ada tidaknya langit-langit pada semua atau sebagian ruangan rumah. Kualitas dinding yang tidak rapat jika dinding rumah terbuat dari anyaman bambu kasar ataupun kayu/papan yang terdapat lubang lebih dari 1,5 mm² akan mempermudah nyamuk masuk ke dalam rumah (Darmadi, 2002).
2.4. Landasan Teori
Penyebab malaria ditentukan oleh faktor yang disebut Host, Agent, dan
Environment. Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut di atas
saling mendukung (Depkes, 2003). Mengacu kepada teori simpul, kejadian malaria terjadi akibat dari penderita malaria (simpul 1), nyamuk Anopheles spp ( simpul 2), pemajanan penduduk (simpul 3), pengukuran kasus malaria/sehat atau sakit (simpul 4) dan faktor yang memiliki peran besar terhadap kejadian malaria (simpul 5), yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Manajemen Malaria
Penderita Anopheles spp Penduduk terkena Sehat/sakit
Malaria risiko
(Sumber Penularan)
Simpul 1 Simpul 2 Simpul 3 Simpul 4
Topografi, suhu, kelembapan,
ekosistem alamiah, ekosistem buatan (simpul 5)
Gambar 2.2. Teori Simpul Sumber Data Survailans Malaria Terpadu Berbasis Wilayah Achmadi, (2003)
Dari gambar di atas dapat dijelaskan penderita malaria sebagai simpul 1 adalah penderita malaria yang terdapat di Desa Paya seunara, Desa Batee Shok, Iboh dan Balohan Kota Sabang, sedangkan simpul 2 adalah nyamuk Anopheles spp sebagai host/inang yang menularkan Plasmodium malaria dengan cara menggigit
penduduk, sehingga penduduk tersebut terkena malaria yang dapat dilihat dari pemeriksaan darah yang positif plasmodium (simpul 3). Simpul 4 adalah penduduk yang positif malaria dilakukan pengobatan.
Malaria berkaitan erat dengan keadaan wilayah, di kawasan tropika seperti Indonesia penularan penyakit ini sangat rentan, karena keadaan cuaca yang mempunyai kelembaban tinggi akan memberikan habitat yang sesuai untuk pembiakan nyamuk yang menjadi vektor penularan kepada penyakit ini (Saputra 2011). Renato (2009), tempat berkembangbiak nyamuk Anopheles spp tergantung spesiesnya.
Pengendalian vektor nyamuk dapat dilakukan secara penyemprotan rumah dengan insektisida, larvaciding, pemolesan kelambu dengan insektisida dan kondisi lingkungan rumah (rawa-rawa, parit/selokan dan kandang ternak) serta kodisi fisik rumah ventilasi, langit-langit dan dinding rumah merupakan tempat perindukan nyamuk Anopheles (Azwar, 1996).
a. Spraying b. Penggunaan Kelambu c. Larvasida Kejadian Malaria - Ada - Tidak Ada Kondisi Lingkungan rumah
a. Kawat Kasa Ventilasi b..Langit-langit c. Kerapatan Dinding d. .Rawa-rawa e. Parit/Selokan f. Kandang Ternak Pengendalian Vektor Nyamuk 2.5. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori dan keterbatasan peneliti maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
BAB 3
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk survai dengan menggunakan pendekatan explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa (Singarimbun, 1996). Explanatory
research untuk menganalisis pengaruh variabel pengendalian vektor nyamuk
(spraying, kelambu celup dan larvasida) dan kondisi lingkungan rumah (kawat kasa ventilasi, langit-langit, kerapatan dinding, rawa-rawa, selokan/parit dan kandang ternak) terhadap kejadian malaria di kota Sabang tahun 2011.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Madya Sabang Provinsi Aceh. Dengan mengambil lokasi di Kecamatan Sukajaya dan Kecamatan Sukakarya yang terdiri dari empat desa yang tertinggi parasite rate dari delapan belas desa yang dilakukan survai
malariometrik oleh Dinas Kesehatan Kota Sabang tahun 2011.
Ada pun ke empat desa tersebut adalah sebagai berikut : 1. Desa Paya Seunara 3,2%
2. Desa Batee Shok 13,5% 3. Iboih 6,3%
3.2.2. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian berlangsung selama tujuh bulan yaitu mulai bulan Februari 2011 sampai dengan Desember 2011, dimulai dengan melakukan penelusuran kepustakaan, konsultasi judul, penyusunan proposal, penelitian dan analisis data, seminar hasil dan ujian komprehensif.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga (KK) di Desa Paya Seunara Desa Batee Shok, Desa Iboih dan Desa Balohan Tahun 2011. Berdasarkan data dari kantor kecamatan diperoleh jumlah KK desa Paya Seunara 523 KK, Desa Batee Shok 309 KK, Desa Iboih 214 KK dan Desa Balohan 586 KK, dengan jumlah keseluruhan 1.632 KK.
3.3.2. Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling sehingga setiap desa memiliki wakil yang dipilih secara random. Besarnya sampel adalah 94 KK, yang ditentukan dengan menggunakan rumus Tarro Yamana yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003), yaitu :
n =
( )
2 1 N d N + Keterangan :N = Populasi (1.632) d = Tingkat kepercayaan (0,1) Perhitungan : n =
( )
2 1 N d N + n =( )
2 1 , 0 632 . 1 1 632 . 1 + n =( )
0,01 632 . 1 1 632 . 1 + n = 32 , 17 632 . 1 n = 94,2 dibulatkan menjadi 94Jumlah sampel setiap desa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.1. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Sebagai Sampel Penelitian di Setiap Desa
No Desa Jumlah KK Sampel KK
1. 2. 3. 4.
Paya Seunara Desa Batee Shok Desa Iboih Desa Balohan 523 309 214 586 (523/1.632) x 94 = 30 (309/1.632) x 94 = 18 (214/1.632) x 94 = 12 (586/1.632) x 94 = 34 Jumlah 1.632 94 3.4. Metode Pengumpulan Data
3.4.1. Data Primer
Data primer dihimpun melalui observasi dan wawancara langsung dengan kepala keluarga yang menjadi sampel dan berpedoman pada kuesioner yang telah
dipersiapkan.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian ini, dan registrasi petugas malaria di puskesmas dan Profil Dinas Kesehatan Kota Sabang.
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas bertujuan mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau nilai yang menunjukkan tingkat kehandalan suatu alat ukur dengan cara alat ukur korelasi antara variabel atau item dengan skor total variabel menggunakan rumus teknik korelasi
person product moment (r) dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel, dan
berdasarkan tabel dengan taraf kepercayaan 95% dengan responden 30 orang KK yang berada di Desa Ie Meulee Kecamatan Sukajaya Kotamadya Sabang, maka nilai dinyatakan valid atau sebaliknya.
Uji validitas terdiri dari dua macam validitas penelitian, yaitu : Validitas Internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian hasil yang dicapai. Validitas Eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi sampel tersebut diambil (Sugiono, 2004).
Pertanyaan dinyatakan reliable jika jawaban responden terhadap pertanyaan (kuesioner) adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya atau reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya sudah sesuai
dengan kenyataan maka berapakalipun diambil akan tetap sama. Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercaya dengan menggunakan metode
Cronbach’ Alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari suatu pengukuran
dengan ketentuan jika r alpha > dari r tabel, maka dinyatakan realiable (Sugiono, 2004). Nilai r tabel dalam penelitian ini menggunakan taraf signifikan 95%.
Hasil uji validitas untuk pertanyaan variabel independen yaitu :spraying menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan yang berjumlah 10 soal, nilai cronbach
alpha 0,797. Ini berarti nilai r hitung > r tabel (0,361). Dapat disimpulkan bahwa
seluruh pertanyaan variabel spraying valid dan reliabel.
Berdasarkan hasil uji kuesioner seluruh variabel penggunaan kelambu menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan yang berjumlah 10 soal nilai cronbach
alpha 0,833 Ini berarti nilai r hitung > r tabel (0,361). Dapat disimpulkan bahwa
seluruh pertanyaan variabel penggunaan kelambu valid dan reliabel. Ini berarti nilai r hitung > r tabel (0,361). Dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel penggunaan kelambu valid dan reliabel. Hasil uji validitas untuk pertanyaan larvasida menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan yang berjumlah 10 soal, nilai cronbach
alpha 0,810. Ini berarti nilai r hitung > r tabel (0,361). Dapat disimpulkan bahwa
seluruh pertanyaan variabel larvasida valid dan reliabel. Tabel 3.2. menunjukkan hasil reliabilitas kuesioner variabel spraying, penggunaan kelambu dan larvasida.
Tabel 3.2. Hasil Uji Kuesioner
No Variabel Nilai
Cronbach Alpha Keterangan 1 2 3 Spraying Penggunaan kelambu larvasida 0,797 0,833 0,810 Realibel Realibel Realibel
3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel Independen
1. Spraying
2.Penggunaan kelambu celup 3. Larvasida
4. Kawat kasa pada ventilasi 5. Langit-langit 6. Kerapatan dinding 7. Rawa-rawa 8. Parit/Selokan 9. Kandang ternak 3.5.2. Variabel Dependen Kejadian malaria 3.5.3. Definisi Operasional a. Variabel independen
1. Spraying adalah penyemprotan yang dilakukan pada dinding rumah masyarakat di
Payah Senara, Desa Batee Shok, Desa Iboh dan Desa Balohan untuk mengendalikan nyamuk.
2. Penggunaan kelambu celup adalah pemakaian kelambu yang bertujuan menghindari gigitan nyamuk yang digunakan masyarakat di desa Paya Seunara, Desa Batee Shok, Desa IboIh dan Desa Balohan.
3. Larvasida adalah pemberian oiling pada saluran dan genangan air yang tidak mengalir untuk mengendalikan larva nyamuk Anopheles spp
4. Kawat kasa pada ventilasi adalah lubang angin yang memungkinkan untuk keluar masuknya nyamuk malaria ke dalam rumah dilihat dari ada tidaknya kawat kasa. 5. Langit-langit adalah pembatas ruangan dinding bagian atas dengan atap yang
terbuat dari kayu, internit maupun anyaman bambu halus sebagai penghalang masuknya nyamuk ke dalam rumah dilihat dari ada tidaknya langit-langit pada semua atau sebagian ruangan rumah.
6. Dinding adalah pembatas rumah responden yang terbuat dari pasangan batu bata, papan, anyaman bambu halus, anyaman bambu kasar, dan dilihat dari kerapatannya
7. Rawa-rawa adalah keadaan wilayah yang digenangi air secara terus menerus dengan jarak dari rumah < 2 Km
8. Parit/selokan adalah saluran air yang digunakan untuk pembuangan air hujan, limbah rumah tangga yang menggenang, yang dapat digunakan sebagai tempat berkembangbiak nyamuk
9. Kandang ternak adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat memelihara ternak seperti sapi, kerbau maupun kambing yang berjarak ≤ 10 meter
b. Variabel dependen
Kejadian malaria adalah adanya anggota keluarga menderita malaria, yang ada di Desa Paya Senara, Desa Batee Shok, Desa Iboih dan Desa Balohan.
3.6. Metode Pengukuran
Metode pengukuran menggunakan instrumen kuesioner dengan menggunakan skala ordinal dengan dua kategori baik dan kurang. Untuk menentukan skala pengukuran dengan kategori baik dan kurang digunakan sistem skoring dan pembobotan atau disebut skala likert. Variabel, cara ukur, skala ukur, kategori pengukuran dan hasil ukur seperti terihat pada tabel berikut ini
Tabel 3.3. Aspek Pengukuran Spraying, Penggunaan Kelambu dan Larvasida (Variabel Bebas)
No Variabel Pertanyaan Bobot Nilai Kategori Range Skala Ukur
1 Spraying 10 2 1 Baik (≥ 60%) Kurang (< 60%) 18-30 10-17 Ordinal 2 Penggunaan Kelambu celup 10 2 1 Baik (≥ 60%) Kurang ( <60%) 18-30 10-17 Ordinal 3 Larvasida 10 2 1 Baik (≥ 60%) Kurang ( <60%) 18-30 10-17 Ordinal
Tabel 3.4. Aspek Pengukuran Kondisi Lingkungan Rumah (Variabel Bebas)
No Variabel Cara
Pengukuran
Alat Ukur Skala Ukur Kategori 1 Kawat kasa pada ventilasi Observasi Checklist Ordinal Ada Tidak ada 2 Langit-langit Observasi Checklist Ordinal Ada
Tidak ada 3 Kerapatan
dinding rumah
Observasi Checklist Ordinal Ada Tidak ada 4 Rawa-rawa Observasi Checklist Ordinal Ada
Tidak ada 5 Parit/Selokan Observasi Checklist Ordinal Ada
Tidak ada 6 Kandang
Ternak Observasi Checklist Ordinal
Ada Tidak ada Tabel 3.5. Aspek Pengukuran Kejadian Malaria (Variabel Dependen) No Variabel Cara
Pengukuran
Alat Ukur Skala Ukur Kategori 1. Kejadian Malaria Observasi/ Pemeriksaan pada kartu berobat, catatan laboratorium di Puskesmas
Kartu berobat dan