• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan Yang Relevan

2.1.3 Pengertian Adat dan Budaya

Secara etimologi, menurut Jalaluddin Tunsam adat berasal dari bahasa Arab

perbuatan yang dilakukan berulang-ulang lalu menjadi kebiasaan yang tetap dan dihormati orang, maka kebiasaan itu menjadi adat. Adat merupakan kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau daerah yang dianggap memiliki nilai dan dijunjung serta di patuhi masyarakat pendukungnya.

Pandaapotan Nasution dalam buku bahwa adat memiliki beberapa pengertian yaitu

a. Adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi kegenerasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat( Kamus besar bahasa indonesia, 1988:56).

b. Adat istiadat adalah perilaku budaya dan aturan-aturan yang telah berusaha diterapkan dalam lingkungan masyarakat.

c. Adat istiadat merupakan ciri khas suatu daerah yang melekat sejak dahulu kala dalam diri masyarakat yang melakukannya.

d. Adat istiadat adalah himpunan kaidah-kaidah sosial yang sejak lama ada dan telah menjadi kebiasaan (tradisi) dalam masyarakat.

Dengan demikian unsur-unsur terciptanya adat adalah adanya tingkah laku seseorang, dilakukan terus-menerus, adanya dimensi waktu, dan diikuti oleh masyarakat.Pengertian adat istiadat menyangkut sikap dan kelakuan seseorang yang diikuti oleh orang lain dalam suatu proses waktu yang cukup lama, ini menunjukkan begitu luasnya pengertian adat istiadat tersebut. Tiap-tiap masyarakat atau bangsa dan negara memiliki adatistiadat sendiri-sendiri.

Menurut Sibarani (2014;95) Kebudayaan adalah keseluruhan kebiasaan yang kelompok masyarakat yang tercermin dalam pengetahuan, tindakan, dan hasil karyanya sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkukngannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya untuk mencapai kedamaian dan kesejahteran hidupnya.

Menurut Tylor Budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Menurut Trenholm dan Jensen Budaya adalah seperangkat nilai, norma, kepercayaan dan adat-istiadat, aturan dan kode, yang secara sosial mendefinisikan kelompok-kelompok orang, mengikat mereka satu sama lain dan memberi mereka kesadaran bersama.

Menurut Geert Hofstede Budaya adalah pemograman kolektif atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori orang dengan kategori lainnya.

Geert menyebutkan bahwa nilai-nilai adalah inti suatu budaya, sedangkan simbol-simbol merupakan manifestasi budaya yang paling dangkal, sementara pahlawan-pahlawan dan ritual-ritual berada di antara lapisan luar dan tercakup dalam praktik-praktik. Unsur-unsur budaya ini terlihat oleh pengamat luar, tetapi maknanya tersembunyi dan makna persisnya terdapat dalam penafsiran orang dalam.

2.14 Pengertian Daliha Na Tolu

Dalihan Na Tolu filosofis atau wawasan sosial budaya yang menyangkut masyarakat dan budaya batak. Dalihan Na Tolu dibagi menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu dikenal dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu kontruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tunggu tersebut yaitu

1. Somba Marhula artinya hormat kepada keluarga pihak isteri 2. Elek Marboru artinya sikap membujuk mengayomi wanita

3. Manat Mardongan artinya bersikap hati-hati terhadap teman keluarga Dalihan Na Tolu yang artinya tungku yang berkaki tiga bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak.

Jika dari satu ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.

Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakan beban begitu juga dengan tungku berkaki empat. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi boru dan pernah menjadi dongan tubu.

2.2 Teori Yang Digunakan

Berdasarkan judul, teori yang digunakan penulis untuk membahas judul

“Perubahan Adat dan Budaya Mandailing Kajian Tradisi Lisan” digunakan teori tradisi lisan. Berikut penjelasan mengenai teori tersebut.

2.2.1 Tradisi Lisan

Tradisi lisan adalah salah satu kebiasaan masyarakat dalam menyampaikan sejarah melalui tutur lisan dari generasi ke generasi. Tradisi bukan hanya “tradisi yang lisan”, melainkan semua tradisi budaya yang diwariskan turun-menurun pada satu generasi ke generasi lain “dari mulut ke telinga” dengan menggunakan media lisan. Dalam hal inilah tradisi lisan sering disebut sebagai tradisi budaya (Sibarani, 2014:15).

Memahami tradisi lisan secara teoritis akan dapat memberi arah dalam membongkarkeseluruhan tradisi itu demi kemaslahatan manusia. Tradisi lisan harus dilihat dari tiga dimensi waktu yang menjalin keberlanjutan masa lalu, masa kini dan untuk masa depan. Tanpa membongkar tiga dimensi ini, penelitian tradisi lisan hanya sebagai inventarisasi yang akan tersimpan diperpustakaan. Teori ini akan dilengkapi dengan teori pragmatis yang berusaha untuk melihat manfaat sebuah tradisi, mulai dari pemahaman manfaat tradisi masa lalu, mengkaitkan masa kini dan proyeksi manfaat masa akan datang. Nilai dan norma budaya tradisi lisan sebagai warisan masa lalu harus dipahami maknanya pada komunitas masa lalu, bagaimana nilai dan norma budaya itu dapat dilestarikan, direvitalisasi dan direalisasikan pada generasi masa kini untuk mempersiapkan masa depan yang damai dan sejahtera. Proyeksi masa depanlah yang mendorong perlunya model revitalisasi atau pelestrarian untuk tradisi lisan dan kearifan lokal sebagai kandungannya.

Penelitian tradisi lisan yang bertujuan untuk menggali nilai dan norma

mengangkat nilai dan norma budaya itu. Kandungan tradisi lisan itu harus kita pertimbangkan secara matang dan harus kita renungkan secara mendalam.

Perenungan spekulasi yang secara terus menerus dan mendalam dengan berbagai tahapan sebelumnya akan menghasilkan interpretasi yang baik. Langkah berikutnya adalah analisis dengan dua tahapan yakni pembuktian hasil spekulasi dengan data empiris atau barang bukti serta penerapan logika pada hasil spekulasi itu. Inilah cara kerja berfilsafat yang dapat dimanfaatkan untuk memahami kandungan tradisi lisan.

Adapun yang akan dibahas oleh penulis dalam penelitian yang dilakukan di Kota Padang Sidempuan tentang Perubahan Adat dan Budaya Perkawinan Mandailing yaitu hal-hal apa saja yang telah mengalami perbuahan didalam perkawinan Mandailing. Sehingga masyarakat yang melakukan upacara perkawinan tidak lupa lagi yang telah dilakukan oleh leluhur mereka dan bagaiaman agar tatacara perkawinan yang dilakukan menurut tardisi orang Mandailing sesuai adat yang mereka percayai agar generasi penurus berikutnya dapat melakukan upacara perkawinan yang menjadi tradisi meraka dan dapat menjaga agar tidak mengalami mengalami perubahan yang signifikan akibat daripada perkembangan zaman.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat memahami objek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan pemecahan masalah.

Penelitian adalah penyaluran rasa ingin tahu manusia terhadap suatu masalah dengan perlakuan tertentu seperti memeriksa, mengusut, menelaah, dan mempelajari secara cermat, dan sungguh-sungguh sehingga diperoleh sesuatu seperti mencapai kebenaran, memperoleh jawaban, pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagianya.

Metode penelitian adalah jalan atau tata cara yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan dan memiliki langkah-langkah yang sistematis.

3.1 Metode Dasar

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif.Menurut Bogdan dan Taylor metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2007:4).

Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh gambaran secara utuh mengenai suatu hal yang akan diteliti. Penelitian kualtitatif berhubungan dengan

Tujuan metode penelitian kualitatif dapat dipahami sebagai makna menjelaskan bagaimana fungsi, nilai, norma dan kearifan lokal, sedangkan pola dapat dipahami sebagai kaidah, struktur, formula yang pada gilirannya dapat menghasilkan model. Penelitian kualitatif ini mengikuti langkah-langkah Miles dan Huberman (Sibarani, 2014:24-27) yakni:

1. Data Collection (Pengumpulan Data), yakni pengumpulan data berupa kata kata dengan cara wawancara, pengamatan, intisari dokumen, perekaman dan pencacatan.

2. Data Reduction ( Reduksi Data) yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, mefokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan “menyisihkan” yang tidak perlu.

3. Data Display (Penyajian Data) yaitu memperlihatkan data, mengklasifikasikan data, menyajikannya dalam bentuk teks yang bersifat naratif atau bagan.

4. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan) yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi sehingga dapat merumuskan temuan-temuan peneliti.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah Kota Padang Sidempuan Provinsi Sumatera Utara.

Alasan penulis untuk memilih lokasi penelitin ini adalah karena Kota Padang Sidempuan merupakan lokasi yang tepat untuk dijadikan objek penelitian.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hanya sumber data primer saja yaitu berupa catatan hasil wawancara yang diperoleh langsung melalui

informan. Data primer adalah sumber data yang secara langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2012:225).

3.3 Sumber Penelitian

Salah satu pertimbangan dalam memilih masalah penelitian adalah ketersediaan sumber dan yang dimaksud dengan sumber adalah data dalam penelitian adalah subjek dari aman data yang diperoleh.

Sumber penelitian terbagi atas dua bagian yaitu:

1. Sumber data primer

Sumber data primer adalah sumber data-data mentah yang diperoleh dari lapangan dan belum pernah di analisis.

2. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang sudah pernah diteliti dan dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya dari sudut pandang orang lain. Dalam penyusunan skripsi ini penulis mneggunakan sumber data primer yang berupa hal-hal yang merangkum keterangan tradisi lisan yaitu Perubahan Adat dan Budaya Mandailing di kota Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan.

3.4Instrumen Penelitian

Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh penulis dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya (Suharsimi, 2010).

Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan alat perekam suara (handpone), kamera digital, serta alat tulis.

Handpone digunakan untuk merekam data lisan saat wawancara, kamera digital digunakan untuk mengambil gambar, serta alat tulis digunakan untuk mencatat, cacatan tersebut berupa catatan lapangan.

3.5 Metode Pengumpulan Data 3.5.1 Metode Observasi

Data yang terkumpul harus data lingual yang sah (valid) dan sekaligus terandal atau terpercaya (reliable), karena hanya dengan kesahihan dan keterandalan itu dimungkinkan dilakukan langkah awal analisis yang diharapkan benar dan tepat (Sudaryanto, 1990).

Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan mengunakan dua cara yaitu:

a. Observasi

Penulis mengumpulkan data melalui pengamatan langsung pada lokasi penelitian. Penulis mengamati bagaimana perubahan yang terjadi mengenai adat dan budaya Mandailing di Kota Padang Sidempuan. Serta hasil pengamatan digunakan penulis sebagai informasi tambahan dalam penelitian.

b. Wawancara

Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka. Penulis bertanya langsung kepada informan yang dipilih, yaitu tokoh Adat Batak yang berkompeten yang dianggap mampu memberikan gambaran dan

informasi yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini (Sugiyono, 2009:140).

3.5.2 Metode Wawancara Mendalam dan Terbuka

Metode ini dilakukan secara purporsive sampling kepada para informan terpilih untuk menjawab pertanyaan pertama, kedua dan ketiga. Wawancara mendalam dan terbuka ini dilakukan kepada yang mengetahui tentang kebudayaan Mandailing. Hasil wawancara ini akan dicatat sehingga tidak ada informasi yang tertinggal. Sesuai dengan kriteria pendekatan kualitatif, jumlah informan ditentukan berdasarkan keadaan, kecukupan dan keakuratan data sehingga jika tidak terdapat lagi informan baru (redundant) pada informasi tertentu, maka pencarian informasi dari informan dicukupkan sampai disitu.

Panduan wawancara yang mencantumkan pertanyaan-pertanyaan yang mengenai rumusan masalah dipersiapkan pada pengumpulan data wawancara mendalam dan terbuka.

3.5.3 Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan adalah mengumpulkan data dengan membaca buku-buku yang relevan untuk membantu dan menyelesaikan dan melengkapi data yang berhubungan dengan penulisan skripsi.

3.6 Metode Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain secara sistematis sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Sugiyono, 2009:244).

Dalam metode analisis data ini, penulis menggunakan metode kulitatif deskriptif. Data yang diperoleh memalui wawancara penelitian akan di analisis dengan menggunakan analisis desriptif kualitatif yaitu dengan perolehan data hasil wawancara yang dilakukan dengan informan kemudian dideskripsikan secara menyeluruh.

Adapun tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu:

1. Penulis membuat transkip hasil wawancara dengan kembali memutar rekaman terhadap informan.

2. Hasil wawancara disederhanakan menjadi susunan bahasa yang baik kemudian di transformasikan kedalam catatan.

3. Selanjutnya penulismembuatreduksi data dengancaraabstraksi, yaitumengambil data sesuaidengankontekspenelitiandanmengabaikan data yang tidakdiperlukan.

4. Melakukan penyajian data yaitu berupa penjelasan tentang Perubahan Adat dan Budaya Mandailing di Kota Padang Sidempuan.

5. Setelah semua data tersaji, permasalahan yang menjadi objek penelitian dapat dipahami, maka kemudian ditarik kesimpulan yang merupakan hasil dari penelitian.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Tata Cara Adat Istiadat Perkawinan di Mandailing 4.1.1Acara di Rumah Boru Na Ni Oli (Pabuat Boru)

A. Manyapai Boru

Apabila seorang laki-laki dan seorang perempuan saling kenal dan saling suka diharapkan hubungan ini harus dilanjutkan ke jenjang perkawinan. Untuk melanjutkan niat baik tentunya harus dilakukan menurut tatacara yang diadatkan, karena perkawinan merupakan perbuatan yang sangat sakral. Perempuan yang akan masuk kedalam keluarga laki-laki diharapkan membawah tua, oleh sebab itu tata cara perkawinan ini harus sesuai dengan tata cara yang dibenarkan menurut kebudayaan Mandailing.

Dengan perkawinan telah dipertemukan keluarga laki-laki dan keluarga perempuan didalam suatu ikatan kekeluargaan. Hubungan ini harus dipertahankan sebaik-baiknya dengan ikatan kekeluargaan ini bukan saja menimbulkan dua hubungan antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan, namun lebih luas lagi yaitu hubungan kekeluargaan yang bersifat Dalihan Na Tolu (kahanggi , anakboru dan mora). Oleh sebab itulah pelaksanaan perkawinan selalu dilakukan dengan upacara upacara adat yang dapat memakan waktu berhari-hari.

B. Mangaririt Boru

Dalam acara mangaririt boru ini pihak dari orangtua laki laki menjelaskan terlebih dahulu bahwa anaknya (laki-laki) telah berkenalan dengan anak perempuan mereka yang telah bergaul. Pada waktu dulu calon pengantin tidak saling kenal, hanya orangtua yang saling kenal atau sebaliknya calon pengantin yang saling kenal tetapi orangtua tidak saling mengenal. Pengantin tidak saling mengenal disebut perkawinan yang dijodohkan. Jika orangtuanya yang tidak saling mengenal maka pihak laki-laki akan menyelidiki terlebih dahulu siapa orangtua perempuan tersebut. Hal ini penting untuk penyesuain apakah kedua keluarga ini dapat dipertemukan atau untuk melihat apakah perempuan berkelakuan baik. Jika orangtuanya sudah saling mengenal anaknya, karena ada pepatah yang menyatakan “sifat anak tidak jauh dari orangtuanya”.

Mangaririt boru biasanya dilakukan oleh orangtua laki laki secara langsunng seperti membawa kahanggi dan anak boru . Biasanya orangtua perempuan tidak langsung menerima keinginan pihak laki-laki. Orangtua perempuan akan meminta waktu dengan alasan untuk menanyakan anaknya apakah menerima pinangan orang lain. Sesuai dengan kesibukan masing-masing kalau sudah ada kesesuaian pihak keluarga laki-laki langsung meminta agar semua syarat-syarat yang akan dipenuhi dibucarakan sekaligus. Hal ini dapat terjadi karena hubungan informasi yang sangat mudah sekarang ini bahwa pihak keluarga perempuan sudah mengetahui pihak keluarga laki-laki.

C. Padamos Hata

Jika pada waktu Mangaririt boru tidak adal hal-hal yang mengalangi untuk melanjutkan pembicaraan ketujan semula, maka pembicaar akan sampai pada tahap padamos hata. Pihak keluarga laki-laki akan datang kembali kerumah keluarga perempuan untuk meminang. Didalam acara meminang ini akan dibicarakan sekaligus tentang.

a. Hari yang tepat untuk datang meminang secara resmi (patobang hata).

b. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi nanti, yaitu apa saja yang harus dipersiapkan, berapa mas kawin dan dalam bentuk tuhor (mahar) dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

D. Patobang Hata

Dalam tahap patobang hata ini dapat dikatakan bahwa peminangan telah dilakukan secara resmi. Pada acara patobang hata ini pihak keluarga laki-laki yang diwakili kahanggi dan anak boru harus terlebih dahulu manopot ( menjumpai) kahanggi. Manopot kahanggi maksudnya adalah menjumpai anak boru dari keluarga pihak perempuan. Artinya pihak kahanggi akan membimbing mereka untuk menyampaikan segala maksud dan tujuan agar berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan. Dalam acara patobang hata ini pihak keluarga laki-laki akan menyampaikan hasratnya dengan kata yang benar-benar menunjukan kesungguhan dan keinginan yang amat mendalam.

Dengan kata lain keluarga mengharapkan pihak laki-laki terhadap keluarga pihak perempuan yaitu

1. Lopok ni tobu sisuamon ( meminta anak gadis mereka untuk penerus keturunan)

2. Andor na mangolu parsiraisan (meminta keluarga sih gadis menjadi tempat berlindung dalam meminta kesediaan mereka untuk menjadi mora).

3. Titian batu na sora buruk (meminta merak untuk menjalin hubungan kekeluargan selamanya)

Setelah acara patobang hata atau acara pinangan secara resmi telah diterima,acara selanjutnya adalah menyapai batang boban ( beban yang harus dipikul oleh pihak laki-laki). Batang boban ini merupakan syarat-syarat pada waktu padomas hata sudah dibayangkan, tetapi secara resmi pada acara patobang hata harus dipertegas kembali dengan disaksikan oleh seluruh keluarga yang hadir pada saat itu dalam menentukan besar kecinya batang boban.

Mora dari pihak perempuan turut serta berperan sehingga setelah acara patobang hata selesai semuanya maka akan ditentukan kapan waktunya untuk acara selanjutnya yaitu manulak sere. Biasanya diberikan waktu satu atau dua minggu agar baik keluarga laki-laki maupun perempuan dapat mempersiapkan segala sesuatunya. Pemberitahuan mengundang saudara terutama pihak laki-laki yang harus menyediakan uang antaran beserta uang untuk lainnya.

4.1.2 Manulak Sere

Tibalah saatnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan keluarga laki-laki datang kembali menghantar apa yang telah disepakati pada acara patobang hata. Pada waktu manulak sere ini semua saudara harus lengkap.pihak keluarga laki-laki.sebelum berangkat, setelah kahanggi, anak boru dan anak moranya sudah hadir terlebih dahulu disampaikan maksud dan tujuan suhut yaitu akan datang kerumah perempuan untuk manulak sere ( mangantar perlengkapan pernikahan). Dan ditetapkan akan siapa-siapa aja yang ikut mangantar sere.

Biasanya yang berangkat sepuluh atau lima belas orang. Jumlah ini sudah ditentukan pada waktu patobang hata yang disesuaikan dengan kemampuan atau untuk mempersiapkan segala sesuatu dirumah keluarga perempuan.

Dalam proses manulak sere, pihak keluarga laki-laki membawa batang boban yang telah disepakati sebelumnya kerumah keluarga perempuan. Pada waktu manulak sere, dirumah keluarga perempuan sudah siap menunggu yang akan manulak sere.

Peserta Upacara

a. Pimpinan adat setempat

b. Mora (pangapalan boru, pambuatan boru dan harajaon) c. Suhut (orangtua, abang dan adik)

d. Kahanggi (hombar suhut dan pareban)

e. Anak boru ( sibuat boru, busir ni pisang, bona bulu) f. Kerabat terdekat lainnya

a. Suhut (abang, adik, dan orangtua) b. Kahanggi (hombar suhut dan pareban)

c. Anak boru (sibuat boru, busir ni pisang, bona bulu)

Yang memimpin acara adalah pimpinan adat setempat. Rombongan yang datang biasanya membawa batang boban, juga membawa silua (oleh-oleh) berupa indahan tungkus ( nasi yang dibungkus) dengan daun serta lauk-pauknya dan ketan yang sudah dimasak lengkap dengan intinya.

Indihan tungkus ini bermakna yaitu kebesaran hati terhadap keluarga pihak perempuan (calon mora) juga dengan harapan yang diberikan semoga sukses dan terkabul. Sedangkan pulut beserta intinya akan dihidangkan pada waktu acara manulak sere dilaksanakan yang maknanya agar segala sesuatunya yang dibicarakan sama-sama melekat didalam hati.

Pada pertemuan ini segala sesuatu yang telah dibicarakan sebelumnya dan sudah saling mengetahui pada saat acara formal ini semua dianggap tidak pernah terjadi. Selesai mangaririt dilanjutkan dengan menyapai boru dan seterusnya batang boban garda kewajiban-kewajiban pihak laki-laki).

Jenis jenis batang boban yang akan diserahkan ada dua macam yaitu sere na godang sebagai okuandar ( jaminan). Serena godang artinya harus dengan jumlah besar dengan pengertian bukan berarti emas dalam arti sebenarnya, tetapi berupa benda berharga yang terdiri dari:

a. Horbo sabara (kerbau satu kandang) b. Lombu sabara (lembu satu kandang) c. Eme sa hopuk (padi satu lumbung)

d. Sere (emas) 30 tail, 30 pa. Besar kecilnya tergantung pada status.

Apa yang disebutkan dengan sere na godang ini sebenarnya hanyalah sebagai simbol yang tidak harus dipenuhi oleh keluarga laki-laki (calon anak boru). Oleh sebab itu apa yang telah dijanjikan sebenarnya tidak harus semuanya diserahkan, yang diserahkan hanya sejumlah uang menurut kebiasaan yang disebut dengan sere na menek. Jadi untuk yang tidak terpenuhi tersebut dianggap sebagai hutang sepanjang masa. Itulah sebabnya anak boru disebut berutang sapanjang aek sapanjang rura. Aek (sungai) dan rura (lembah) berarti hutang yang terus sepanjang masa dan sebesar lembah yang tak terkira.

Sere na godang ini secara simbolik diserahkan dengan jaminan berupa orang dari perwakilan keluarga laki-laki yaitu kahanggi dan anak boru. Pihak yang menjadi jaminan ini adalah sebagai jaminan (okuandar), apabila dikemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau melanggar janji yang disepakati.

Sere na lamot atau sere na menek yang disebut sebagai tuhor ni boru (uang antaran). Sere na lamot ini biasanya berbentuk uang ditambah dengan

Sere na lamot atau sere na menek yang disebut sebagai tuhor ni boru (uang antaran). Sere na lamot ini biasanya berbentuk uang ditambah dengan

Dokumen terkait