• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM MENGENAI AKAD AL IJARAH AL MAUSHUFAH FI AL DZIMMAH

A. Pengertian Mengenai Akad Al Ijarah Al Maushufah Fi Al Dzimmah

1. Pengertian Akad Al Ijarah

a. Pengertian Akad Al Ijarah

Dalam istilah fiqh, akad secara umum merupakan sesuatu yang menjadi tekad seseorang untuk melaksanakan, baik yang muncul dari satu pihak seperti wakaf, talak, maupun dari dua pihak seperti jual beli, sewa, wakalah dan gadai (Ascarya, 2008: 35).

Salah satu bentuk kegiatan manusia dalam muamalah adalah ijarah atau sewa-menyewa, kontrak, menjual jasa, upah-mengupah dan lain-lain. Al Ijarah berasal dari kata Al Ajru yang berarti Al „Iwadu (ganti) (Sayyid,1987: 7). Ijarah menurut arti bahasa adalah nama upah (Aliy: 286). Menurut pengertian syara‟

Al ijarah ialah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian (Sayyid,1987: 52).

Menurut fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan Ijarah yaitu :

ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Dengan demikian akad

31

ijarah tidak ada perubahan kepemilikan, tetapi hanya pemindahan hak guna saja dari yang menyewakan pada penyewa.

Terdapat perbedaan pendapat diantara ulama fiqh tentang pengertian ijarah, perbedaan tersebut diantaranya adalah:

1) Menurut Hanfiyah, ijarah ialah akad untuk memperbolehkan pemilikan manfaat yang diketahui dan disengaja dari suatu zat yang disewa dengan imbalan. 2) Menurut Malikiyah, ijarah adalah nama bagi akad-akad

untuk kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan sebagian yang dapat dipindahkan.

3) Menurut Syaikh Syihab Al-Din dan Syaikh Umairah, ijarah adalah akad atas suatu manfaat yang diketahui dan sengaja untuk memberi dan memperbolehkan imbalan diketahui dan sengaja untuk memberi dan memperbolehkan imbalan diketahui ketika itu.

4) Menurut Muhammad Al-Syarbini al-Khitab, ijarah yaitu pemilikan manfaat dengan adanya manfaat dengan adanya imbalan dan syarat-syarat.

5) Menurut Sayid Sabiq, ijarah adalah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian. 6) Menurut Habi Ah-Shiddiqie bahwa ijarah aalah akad

yang objeknya ialah penukaran manfaat untuk masa tertentu, yaitu pemilikan manfaat dengan imbalan, sama dengan menjual manfaat.

7) Menurut Idris Ahmad bahwa upah artinya mengambil manfaat tenaga orang lain dengan jalan memberi ganti menurut syarat-syarat tertentu (Suhendi, 2014: 144-115). Akad al ijarah al maushuah fi dzimmah adalah akad ijarah

dengan harga (upah) dibayar tunai, sedangkan obyek sewa diserahkan pada waktu yang disepakati. Akad yang terdiri dari dua akad, yaitu akad ijarah dan akad salam. Kemudian yang melandasi produk KPR inden yaitu sebuah program KPR yang dapat dipakai calon debitur untuk memiliki rumah yang belum

32

sepenuhnya selesai atau masih dalam pemesanan yang disebut inden.

b. Rukun –rukun dan syarat Al Ijarah

Dalam menjalankan muamalah atau suatu transaksi perlu diperhatikan di dalamnya bahwa terdapat pula rukun dan syarat yang harus dipenuhi untuk memenuhi sahnya atau jalannya bermuamalah.

1) Rukun-rukunnya yaitu :

a) Mu‟jir (Orang/ barang yang disewa) adalah orang yang memberikan upah dan yang menyewakan atau mu‟jir

adalah orang yang menggunakan jasa atau tenaga orang lain untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu.

b) Musta‟jir (Orang yang Menyewa) adalah orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu atau

musta‟jir adalah orang yang menyumbangkan tenaganya, atau orang yang menjadi tenaga kerja dalam suatu pekerjaan dan mereka menerima upah dari pekerjaannya itu.

c) Ma‟qud alaihi (barang yang menjadi Objek) adalah Sesuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah, disyaratkan pada pekerjaan yang dikerjakan dengan beberapa syarat, adapun salah satu syarat terpenting dalam transaksi ini adalah bahwa jasa yang diberikan

33

adalah jasa yang halal. Dilarang memberikan jasa yang haram seperti keahlian membuat minuman keras atau membuat iklan miras dan sebagainya. Asal pekerjaan yang dilakukan itu dibolehkan Islam dan akad atau transaksinya berjalan sesuai aturan Islam. Bila pekerjaan itu haram, sekalipun dilakukan oleh orang non muslim juga tetap tidak diperbolehkan. Jadi pekerjaan dan barang yang akan dijadikan objek kerja harus memiliki manfaat yang jelas, seperti mengerjakan proyek, membajak sawah dan sebagainya.

d) Sighat (ijab dan qabul) merupakan suatu bentuk

persetujuan dari kedua belah pihak untuk melakukan ijarah. Ijab merupakan pernyataan dari pihak pertama

(mu‟jir) untuk menyewakan barang atau jasa. Sedangkan Qabul adalah jawaban persetujuan dari pihak kedua untuk menyewakan barang atau jasa yang dipinjamkan oleh mu‟jir.

e) Imbalan atau Upah yaitu sebagaimana terdapat dalam kamus umum Bahasa Indonesia adalah uang dan sebagainya yang dibayarkan sebagai pembalas jasa atau sebagai tenaga yang sudah dikeluarkan untuk mengerjakan sesuatu.

34

f) Manfaat hanafiah, rukun ijarah hanya satu, yaitu ijab dan qobul, yakni pernyataan dari orang yang menyewa dan yang menyewakan (Ahmad, 2010: 320).

2) Syarat sah Al Ijarah

Menurut Sulaiman (1994: 124), syarat-syarat sewa-menyewa atau ijarah yang diterapkan dalam kredit pemilikan rumah inden yaitu sebagai berikut:

a) Masing-masing pihak rela untuk melakukan perjanjian sewa menyewa.

b) Harus jelas dan terang mengenai objek yang diperjanjikan. c) Objek sewa menyewa dapat digunakan sesuai

peruntukannya.

d) Barang yang diperjanjikan dalam sewa menyewa harus dapat diserahkan sesuai dengan yang diperjanjikan.

e) Kemanfaatan objek yang diperjanjikan adalah yang dibolehkan oleh agama.

Maksudnya jika di dalam perjanjian sewa menyewa itu terdapat pemaksaan, maka sewa menyewa itu tidak sah. Maka kegunaan barang yang disewakan itu harus jelas dan dapat dimanfaatkan oleh penyewa sesuai dengan peruntukannya (kegunaan) barang tersebut, seandainya barang tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana yang

35

diperjanjikan maka perjanjian sewa menyewa dapat dibatalkan, objek sewa menyewa dapat diserahkan.

c. Landasan Hukum Al Ijarah 1) Landasan Al-Qur‟an

QS Al Kahfi 77 :



















































“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai

kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".

2) Landasan As-Sunah

Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan Nasaiy dari Sa‟d

bin Abi Waqas menyebutkan : “Dahulu kami menyewa tanah

dengan jalan membayar dengan hasil tanaman yang tumbuh di sana. Rasulullah lalu melarang cara yang demikian dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan uang mas

36

3) Landasan Ijma‟

Disyariatkan ijarah, semua umat bersepakat, tak seorang ulama yang membantah kesepakatan ijma‟, sekalipun ada seseorang diantara mereka yang berpendapat berbeda, akan tetapi hal tersebut tidak dianggap (Sabiq, 1987: 11). 4) Rasulullah SAW melalui hadistnya juga sudah mengatur

landasan hukum sewa menyewa sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Ra bahwa Nabi Muhammad Saw mengemukakan berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu. Diriwayat lain disebutkan sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berbekam kepada seseorang dan beliau memberi upah tukang bekam itu (Sulaiman, 1994: 56).

5) Landasan Hukum, Pada konstitusi Negara Indonesia juga telah diatur mengenai landasan hukum sewa menyewa yang merupakan kategori jenis hukum perdata. Pada Kitab Undang Undang Hukum Perdata (KUHP) sewa menyewa dijelaskan dari pasal 1548 sampai pasal 1600. Sewa menyewa yang diatur dalam KUHP ini berupa penyewaan rumah dan penyewaan tanah pada pasal 1550 1580, sewa rumah dan perabotannya pada Pasal 1581 1587, serta sewa tanah mulai pasal 1588 hingga 1600 (Chairuman, 1996: 15).

37

d. Berakhirnya Akad Al Ijarah

Akad ijarah berakhir karena hal-hal berikut ini:

1) Meninggalnya salah satu pihak yang melakukan akad 2) Iqalah, yaitu pembatalan oleh kedua pihak

3) Rusaknya barang yang disewakan

4) Telah selesai masa sewa, kecuali ada uzdur (Muclich, 2010: 338).

2. Pengertian Umum Tentang Al Ijarah Al Maushufah Fi Al

Dokumen terkait