BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Efektifitas
2.3 Pengertian Anak Jalanan
Anak jalanan atau yang sering disingkat dengan anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak–anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dijadikan acuan bagi semua pihak (Wikipedia.org, 2013).
Ditengah ketiadaan pengertian untuk anak jalanan, dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu anak–anak yang turun ke jalan dan anak–anak yang ada dijalanan. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori anak–anak dari keluarga yang ada di jalanan (Wikipedia.org, 2013).
Pengertian untuk kategori pertama adalah anak–anak yang mempunyai kegiatan ekonomi dijalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan
dalam kategori ini, yaitu anak–anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari dan anak–anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala maupun dengan jadwal yang tidak rutin (Wikipedia.org, 2013).
Kategori kedua adalah anak–anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orang tua atau keluarganya (Wikipedia.org, 2013).
Kategori ketiga adalah anak–anak yang menghabiskan seluruh waktunya dijalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan. Kategori keempat adalah anak berusia 5–17 tahun yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja di jalanan dan/atau yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari–hari (Wikipedia.org, 2013).
Seorang anak yang mempunyai cita–cita yang tidak tercapai, karena ada sebuah faktor perekonomian keluarga, sehingga mereka mencari uang tambahan jajan dengan cara mengamen di jalanan (Wikipedia.org, 2013).
Departemen Sosial Republik Indonesia mendefenisikan, anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan dan di tempat-tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Berusia antara 5-18 tahun.
2. Melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan. 3. Penampilannya kebanyakan kusam.
4. Pakaiannya tidak terurus.
5. Dan mobilitasnya tinggi (high risk).
Berdasarkan hasil survei dari Departemen Sosial dan lembaga-lembaga anak yang ada di Indonesia, anak jalanan dikelompokkan kedalam 3 kategori :
1. Anak jalanan yang hidup di jalanan dengan kriteria :
1) Putus hubungan atau tidak bertemu dengan orangtuanya.
2) 8-10 jam berada di jalanan untuk “bekerja” (mengamen, mengemis, memulung) dan sisanya mengelandang/tidur.
3) Tidak bersekolah lagi.
4) Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.
2. Anak jalanan yang bekerja di jalanan dengan kriteria : 1) Berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya. 2) 8-16 jam berada di jalanan.
3) Mengontrak kamar sendiri, bersama teman, ikut orangtua/saudara, umumnya tinggal di daerah kumuh.
4) Tidak lagi bersekolah.
5) Pekerjaan : penjual koran, pedagang asongan, pencuci bus, pemulung, penyemir sepatu dan lain-lain.
3. Anak yang rentan menjadi anak jalanan, dengan kriteria :
1) Bertemu teratur setiap hari, tinggal dan tidur dengan keluarganya. 2) 4-6 jam berada di jalanan.
3) Masih bersekolah.
4) Pekerjaan : penjual Koran, penyemir sepatu, pengamen dan lain-lain.
Dilihat dari anak jalanan (Balatbang Kesos, 2005) terdapat beberapa kecenderungan, yaitu:
(a) sebagian besar anak jalanan melakukan aktivitas berjualan di jalan, (b) tempat tinggal mereka di rumah,
(c) memperoleh makanan dengan cara membeli sendiri, (d) lama tinggal di jalan dalam satu hari di atas 12 jam, (e) memperoleh uang dari hasil berjualan dan mengamen, (f) uang yang diperoleh digunakan untuk membantu keluarga, (g) jarang bertemu orang tua,
(h) sering mendapat kesulitan di rumah, (i) kurang betah tinggal di rumah,
(j) meminta tolong pada saudaranya ketika mengalami kesulitan sebagai pihak yang dianggap paling dekat (Mujiyadi.DKK, 2011)
Adapun ciri-ciri dari anak jalanan tersebut dibagi menjadi dua sifat yaitu bersifat Abstrak dan bersifat Psikis. Adapun kedua sifat tersebut dapat dilihat penjelasannya dalam daftar tabel di bawah ini.
TABEL 2.1
Bersifat Abstrak Bersifat Psikis
1. Warna kulit kusam
2. Rambut kemerah-merahan/ pirang
3. Kebanyakan berbadan kurus
4. Pakaian tidak terurus 5. Dirinya tidak nyaman/ Bau
1. Mobilitas tinggi
2. Acuh tak acuh penuh curiga 3. Sangat sensitif
4. Berwatak keras 5. Kreatif
6. Semangat hidup tinggi 7. Berani menanggung resiko 8. Mandiri
Sumber : KKSP, 2008.
Berdasarkan data yang dihasilkan melalui survei oleh berbagai lembaga anak diperoleh bahwa indikator anak jalan adalah :
1. Usia berkisar antara 6-18 tahun. 2. Intensitas hubungan dengan keluarga.
1) Masih berhubungan maksimal sekali perminggu 2) Sama sekali tidak ada komunikasi dengan keluarga
3. Waktu yang dihabiskan dijalan lebih dari 4 jam sehari
4. Tempat tinggal :
1) Tinggal bersama orangtua
2) Tinggal berkelompok dengan teman-temannya 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap 5. Tempat anak jalanan sering dijumpai :
1) Pasar
2) Terminal bus/angkot 3) Stasiun kereta api 4) Taman-taman kota 5) Daerah lokalisasi WTS
6) Perempatan jalan atau di jalan raya 7) Pusat perbelanjaan atau mall 8) Kendaraan umum (ngamen) 9) Tempat pembuangan sampah 6. Aktifitas anak jalanan :
1) Penyemir sepatu 2) Mengasong
3) Menjadi calo secara teratur minimal bertemu sekali setiap hari 4) Frekuensi berkomunikasi dengan keluarga sangat minimal, 5) Menjajakan majalah/Koran
6) Mengelap mobil 7) Mencuci kendaraan 8) Menjadi pemulung 9) Menjadi kuli angkot 10) Menyewakan paying 11) Pengamen
12) Menjadi penghubung atau penjual jasa 7. Sumber dana dalam melakukan kegiatan :
1) Modal sendiri 2) Modal kelompok 3) Modal majikan/patron 4) Stimulasi/bantuan 8. Permasalahan :
1) Korban eksploitasi pekerjaan dan seks 2) Rawan kecelakaan lalu lintas
3) Ditangkap petugas 4) Konflik dengan anak lain 5) Terlibat tindakan criminal
6) Ditolak masyarakat lingkungannya 9. Kebutuhan anak jalanan :
1) Aman dalam keluarga 2) Bantuan usaha
3) Pendidikan bimbingan keluarga 4) Gizi dan kesehatan
5) Hubungan harmonis dengan orangtua, keluarga dan masyarakat
2.3.1 Pandangan Masyarakat atas Keberadaan Anak Jalanan
Secara umum masyarakat memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang sangat kompleks bahkan ia membentuk sebuah lingkaran yang berujung (the vicious circle) yang sulit dilihat ujung pangkalnya. Kalangan aparat hukum, polisi misalnya, memandang bahwa payung kebijakan yang dapat digunakan untuk menangani anak jalanan belum ada. Mereka sulit untuk melakukan tindakan hukum berhubung tidak adanya undang-undang khusus mengenai
anak jalanan seperti misalnya Peraturan Daerah, Peraturan Pusat atau yang lainnya sehingga dirasa sulit untuk mengadakan pencegahan agar anak-anak tidak berada di jalan. Selanjutnya tokoh agama berpandangan bahwa munculnya masalah anak jalanan merupakan wujud dari tidak optimalnya pengelolaan zakat baik zakat mal, zakat fitrah, dan lainnya. Mereka mengharapkan agar dana zakat dapat dikelola sebaik mungkin agar disalurkan kepada mustahik dan dapat dimanfaatkan sebaik-sebaiknya oleh mereka (Mujiyadi.DKK, 2011)
Disamping itu, kalangan akademisi memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang berkaitan dengan bagaimana hubungan antara pemerintah kota dengan daerah penyangga. Menurut mereka, penanganan masalah anak jalanan harus melibatkan juga aparat pemerintah pada daerah penyangga. Pemda DKI, misalnya, juga harus mengalokasikan dana pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat di Tangerang, Bekasi, dan daerah penyangga lainnya. Terakhir, aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memandang bahwa penanganan anak jalanan harus dilakukan dengan melibatkan institusi sekolah, rumah singgah, dan
pemberdayaan keluarga dengan memberikan modal usaha keluarga (Mujiyadi.DKK, 2011).
2.3.2 Kebutuhan dasar Anak Jalanan
Setiap manusia mempunyai kebutuhan yang mencakup kebutuhan fisik, psikis, sosial dan spiritual. Anak jalanan, sebagai bagian dari manusia, juga memiliki kebutuhan seperti tersebut di atas. Namun demikian, sesuai Studi Kebutuhan Pelayanan Anak Jalanan dengan perkembangan usianya maka anak jalanan memiliki kekhususan kebutuhan. Kekhususan dimaksud juga merupakan manifestasi dari hak anak (Mujiyadi.DKK, 2011).
Dalam Undang Undang Perlindungan Anak dan juga rekomendasi Konvensi Hak Anak menyebutkan bahwa anak mempunyai hak dasar yang meliputi hak untuk hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi. Oleh karenanya pemenuhan kebutuhan fisik, psikis, sosial dan spiritual juga merupakan upaya pemenuhan hak anak dimaksud. Semua pihak tentu saja berkewajiban untuk memenuhi hak anak dimaksud (Mujiyadi.DKK, 2011).
Seperti manusia pada umumnya, anak juga mempunyai berbagai kebutuhan: jasmani, rohani dan sosial. Menurut Abraham H. Maslow, kebutuhan manusia itu mencakup: kebutuhan fisik (udara, air, makan), kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk menyayangi dan disayangi, kebutuhan untuk penghargaan, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dan bertumbuh.
Sebagai manusia yang tengah tumbuh-kembang, anak memiliki keterbatasan untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan tersebut yang merupakan hak anak. Orang dewasa termasuk orang tuanya, masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut. Permasalahannya adalah orang yang berada di sekitarnya termasuk keluarganya seringkali tidak mampu memberikan hak-hak tersebut (Mujiyadi.DKK, 2011).
Seperti misalnya pada keluarga miskin, keluarga yang pendidikan orang tua rendah, perlakuan salah pada anak, persepsi orang tua akan keberadaan anak, dan sebagainya. Pada anak jalanan, kebutuhan dan hak-hak anak tersebut tidak dapat terpenuhi dengan baik. Untuk itulah menjadi kewajiban orang tua, masyarakat dan manusia dewasa lainnya untuk mengupayakan upaya perlindungannya agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi secara optimal (Mujiyadi.DKK, 2011).
2.3.3 Penanganan Masalah Anak Jalanan
Model penangannan anak jalanan mengarah kepada 3 jenis model yaitu family base, institutional base dan multi-system base.
• Family base, adalah model dengan memberdayaan keluarga anak jalanan melalui beberapa metode yaitu melalui pemberian modal usaha, memberikan tambahan makanan, dan memberikan penyuluhan berupa penyuluhan tentang keberfungsian keluarga. Dalam model ini diupayakan peran aktif keluarga dalam membina dan menumbuh kembangkan anak jalanan. (Mujiyadi.DKK, 2011).
• Institutional base, adalah model pemberdayaan melalui pemberdayaan lembaga-lembaga sosial di masyarakat dengan menjalin networking melalui berbagai institusi baik lembaga pemerintahan maupun lembaga sosial masyarakat.
• Multi-system base, adalah model pemberdayaan melalui jaringan sistem yang ada mulai dari anak jalanan itu sendiri, keluarga anak jalanan, masyarakat, para pemerhati anak, akademisi, aparat penegak hukum serta instansi terkait lainnya.
Dengan memperhatikan keberadaan anak, yang pada dasarnya dikaitkan dengan keluarga dan komunitasnya, maka mestinya penanganan anak jalanan perlu disentuh baik kepada anak itu sendiri maupun kepada keluarga di mana anak tinggal. Pelayanan kepada anak dilakukan melalui pelayanan kesejahteraan yang memperhatikan hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan serta hak partisipasinya. Pelayanan itu tentu saja dengan memperhatikan kepentingan terbaik untuk anak. Pelayanan ini meliputi kebutuhan fisik dasar, pendidikan, kesehatan, hingga kepentingan psikis dan sosial anak. (Mujiyadi.DKK, 2011).
Adapun untuk pelayanan terhadap keluarga di mana anak tinggal dilakukan melalui pemberdayaan keluarga, agar keluarga dimaksud mampu memenuhi kebutuhan anak. Selain itu pelayanan anak melalui lingkungan sekolah, serta komunitasnya akan sangat membantu peningkatan kesejahteraan anak. (Mujiyadi.DKK, 2011).