BAB II DESKRIPSI PROYEK
3.1 Pengertian Arsitektur Hijau
Arsitektur Hijau Berasal dari kata “Arsitektur” dan “Hijau” yang memiliki pengertian sebagai berikut
a. Arsitektur
Architecture berasal dari Arsitektur berakar dari bahasa Yunani 1. Arche : yang asli, yang utama, yang awal
2. Tektoon : sesuatu yang berdiri kokoh, tidak roboh, stabil, dsb.
3. Archetektoon : pembangun utama, tukang ahli bangunan yang utama.2
• Menurut Le Corbusier Arsitektur adalah pengaturan massa yang dilakukan dengan tepat, penuh pemahaman dan magnifisen. Massa- massa itu disatukan dan ditonjolkan dalam suatu penyinaran cahaya, kubus, kerucut, silinder, piramid, yang merupakan bentuk- bentuk primer yang kegunaannya jelas
• Sedangkan menurut Louis I.Khan Arsitektur adalah pemikiran- pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara menerus disebabkan adanya perubahan konsep ruang
• Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut (id.wikipedia.org/wiki).
b. Arsitektur Hijau
Green Architecture adalah sebuah gerakan yang dilakukan dalam rangka menggunakan langkah-langkah yang berusaha semaksimal mungkin tidak merusak alam dan mengembalikan manusia ke dalam kehidupan yang nyaman serta sehat
e. Mengusahakan penghawaan alami
f. Memakai material daur ulang atau material yang ekologis
. Prinsip - prinsip Arsitektur hijau menurut Brenda dan Robert Vale, yaitu : a. Konservasi energi
• Bangunan seharusnya meminimalkan penggunaan kebutuhan akan energi.
• Perlindungan sumber daya alam.
• Pendayagunaan alam sebagai sumber energi bagi keperluan studi dan rekreasi.
• Memanfaatkan limbah sebaik-baiknya seperti dengan manjadikan limbah sebagai sumber energi biogas atau pupuk.
• Penentuan lokasi yang paling tepat guna dengan cara pemilihan sumber daya alam yang sesuai dengan kebutuhan dari fungsi bangunan atau proyek.
b. Bekerja sama dengan iklim
• Bangunan bekerja sama dengan iklim dan sumber energi alam.
• Memanfaatkan energi yang tersedia di alam seperti matahari, angin, hujan, dan air.
• Pencahayaan alami pada siang hari. • Penghawaan alami
c. Meminimalisasi sumber-sumber daya baru • Penggunaan material daur ulang.
• Penggunaan material yang dapat diperbaharui.
• Merancang bangunan dari sisa bangunan yang sebelumnya. • Penggunaan material yang ramah lingkungan.
d. Menghargai pemakai
Arsitektur hijau menyadari bahwa pengguna atau pemakai dari bangunan harus diperhatikan kebutuhannya. Untuk itu dilakukan pendekatan yang memperhatikan kenyamanan penggunanya namun selaras dengan prinsip
Arsitektur hijauyang lainnya. Misalnya : daripada menggunakan AC untuk kenyamanan pengguna, sebaiknya menggunakan penghawaan alami untuk menyejukkan ruangnan dengan ventilasi silang. Daripada menggunakan terlalu banyak energi untuk penerangan lampu pada siang hari agar pengguna tetap nyaman beraktifitas dalam bangunan prinsip Arsitektur hijau menerapkan pencahayaan alami.
e. Menghargai site
• Seminimal mungkin merubah tapak. Misalnya dengan mempertahankan kontur tanah.
• Tidak mengambil jalan pintas dengan cara cut dan fill site dalam pembangunan di tapak. Memberi pori-pori bagi tanah agar tetap memiliki aliran udara.
• Menurut seorang arsitek Australia, Glenn Murcutt “Seorang harus menyentuh bumi secara ringan” yang ia kutip dari kata-kata orang Aborigin. Kata-kata ini meliputi interaksi bangunan dan sitenya merupakan suatu hal yang sangat penting dalam penerapan Arsitektur Hijau. Suatu bangunan yang menghabiskan banyak energi, menghasilkan sumber polusi dan menjadi asing bagi penggunanya tidak menyentuh bumi secara ringan.
f. Holistik
Seluruh prinsip-prinsip arsitektur hijau digabungkan dalam suatu pendekatan holistik pada lingkungan yang dibangun. arsitektur hijau merupakan salah satu aliran dalam arsitektur yang memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup di dalam melakukan proses desain. Arsitektur hijaumuncul sebagai suatu solusi untuk melestarikan lingkungan hidup yang semakin rusak akibat pembangunan yang tidak memperhatikan faktor – faktor lingkungan. Tujuan dari Arsitektur hijauitu sendiri adalah untuk menghasilkan suatu bangunan yang bersahabat dengan lingkungannya dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Hal
Dengan penerapan Arsitektur Hijau, dapat menjawab beberapa isu lingkungan global tentang kerusakan lingkungan yang sedang terjadi. Sedangkan penerapan arsitektur hijau pada sebuah proyek berskala urban bertujuan menciptakan sebuah kawasan perkotaan yang ramah lingkungan, yang memiliki tingkat efisiensi energi tinggi dan kebutuhan energi yang minim serta emisi berupa polusi dan panas yang minim pula.
Arsitektur hijau adalah suatu gaya arsitekur yang menghadirkan pandangan dan konsep – konsep tentang pentingnya menghadirkan kondisi lingkungan yang sehat dan nyaman, didalam perncanaan suatu bangunan tersebut. Arsitektur hijau menjadi ciri dari sebuah arsitektur yang didalam perencanaan arsitekturnya memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, dan telah berfluktuasi/berkembang dari sebuah simpatik, dan harmonisasi terhadap lingkungan hidup, berintegrasi untuk menjadikan lingkungan hidup sebagai untuk dieksploitasi, eksploitasi tetap dengan keselarasan, harmonisasi, dan adanya hubungan yang saling menguntungkan dari alam terhadap manusia, dalam sebuah bangunan. Menjaga kebersihan lingkungan binaan menjadi gaya dalam karya-karya arsitektur yang hijau.
Green architecture oleh standar Leadership in Energy and Enviromental Design (LEED):
1. Penggunaan pengembangan lahan berkelanjutan, jika mungkin, dapat menggunakan material-material dari bangunan yang telah dibangun dan memelihara lingkungan sekitar. Penggunan roof garden dan penanaman vegetasi di sekitar bangunan dan di dalam site sangat mendukung.
2. Penggunaan pendaur ulang air kotor (air yang telah digunakan) dan penginstalasian bangunan yang dapat menampung air hujan . penggunaan dan penyediaan air perlu dimonitari.
3. Efisiensi energi dapat ditingkatkan dengan cara yang bermacam-macam, contohnya, pengorientasi bangunan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari perubahan musim dalam posisi matahari dan menggunakan alternatif energi seperti energi solar dan energi angin.
4. Pengunaan material yang didaur ulang yang tidak memerlukan energy yang banyak untuk membuatnya lagi. Selain itu, dapat juga menggunakan material lokal yang rendah polusi.
5. Pengkontrolan air indoor quality menggunakan fitur-fitur seperti pengkontrolan personal space, ventilasi, pengkontrol suhu, dan menggunaan material yang tidak mengandung gas beracun.
Menurut buku Green Architecture, terbitan Taschen, tahun 2005, standar dari bangunan eco-friendly adalah:
1. Bangunan yang lebih kecil 2. Penggunaan material daur ulang 3. Penggunaan material hemat energy
4. Penggunaan kayu hasil panen daerah sekitar (untuk masa pembangunan dan furnishing) dan menghindari kayu import
5. Menggunakan sistem penggunaan air alternative 6. Perawatan bangunan yang murah
7. Pendaur ulangan bangunan
8. Pengurangan bahan kimia perusak ozon 9. Pemeliharaan lingkungan sekitar
10. Efisiensi energy 11. Orientasi matahari
12. Akses ke transportasi publik