2.2 GIZI IBU HAMIL
2.2.1 Pengertian dan Asupan Gizi Kehamilan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gizi adalah zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan badan. Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan hak azasi setiap orang. Konsumsi makanan seseorang yang kurang dari kebutuhan gizinya akan mengalami gangguan kesehatan dan berisiko terkena penyakit yang berkaitan dengan gizi. Makanan harus mengandung energi dan zat gizi, seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral, yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan fungsinya, serta harus aman dikonsumsi (Sati, 2015).
Gizi seimbang untuk ibu hamil dan ibu menyusui mengindikasikan bahwa konsumsi makanan ibu hamil dan ibu menyusui harus memenuhi kebutuhan untuk dirinya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan janin/bayinya. Oleh karena itu, ibu hamil dan ibu menyusui membutuhkan zat gizi yang lebih banyak dibandingan dengan keadaan tidak hamil atau tidak menyusui, tetapi konsumsi panganya tetap beranekaragam dan seimbang dalam jumlah dan proporsinya (Kemenkes, 2014).
Secara berkala, Food and Nutrion Board dari Institute of Medicine menerbitkan asupan gizi yang direkomendasikan (Recommended Daily Allowance) termasuk bagi ibu hamil dan menyusui (Cunningham et al., 2010).
a. Kalori
Pada saat kehamilan kebutuhan kalori bertambah sekitar 80.000 kkal. Untuk memenuhi kebutuhan kalori tersebut, ibu hamil disarakan untuk meningkatkan asupan kalori sebesar 100-300 kkal setiap hari. Kalori merupakan sumber energi.
Jika asupan kalori ibu hamil tidak adekuat maka tubuh akan memetabolisme protein. Hal tersebut dapat pertumbuhan dan perkembangan janin (Cunningham et al., 2010).
b. Protein
Ibu hamil membutuhkan asupan protein yang cukup untuk pertumbuhan dan remodeling jaringan plasenta, uterus, payudara dan peningkatan volume darah.
Pada trimester ke-2 kehamilan, diperkirakan 1000 g protein diendapkan dalam darah atau setara dengan 5 – 6 gram perhari. Konsentrasi asam amino pada plasma mengalami penurunan secara drastis. Asam amino tersebut termasuk ornitin, glisin, taurine dan prolin (kecuali asam glutamate dan alanine yang mengalami peningkatan konsentrasi). Dianjurkan ibu hamil untuk mengonsumsi protein yang berasal dari sumber hewani, seperti daging, susu, telur, keju, produk ayam, dan ikan karena protein hewani tersebut mengandung asam amino dalam kombinasi optimal (Cunningham et al., 2010).
c. Mineral
Besi
Kebutuhan zat besi selama kehamilan meningkat karena digunakan untuk pembentukan sel dan jaringan baru. Selain itu zat besi merupakan unsur penting dalam pembentukan hemoglobin pada sel darah merah (Kemenkes RI, 2014).
Kadar besi yang ibu hamil ekskresikan selama kehamilan sebanyak 7 mg/hari. American Academy of Pediatrics and American college of Obstetricians and Gynecologists (2007) menyatakan bahwa ibu hamil harus mendapatkan asupan zat besi setidaknya 27 mg/hari karena dari hasil penelitian jarang ditemukan ibu hamil memiliki simpanan besi adekuat.
Pemberian zat besi pada ibu yang mengalami anemia memiliki respon yang baik terhadap pemberian suplementasi oral garam besi (Cuniningham et al., 2010).
Sumber baik besi adalah makanan hewani, seperti daging, ayam, dan ikan. Sumber baik lainnya adalah telur, serelia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah (Almatsier. 2009).
Kalsium
Kebutuhan kalsium meningkat pada saat hamil karena digunakan untuk mengganti cadangan kalsium ibu yang digunakan untuk pembentukan
11
jaringan baru pada janin. Apabila konsumsi kalsium tidak mencukupi maka akan berakibat meningkatkan risiko terkena pre-eklampsi (Kemenkes RI, 2014).
Ibu hamil menahan sekitar 30 g kalsium yang sebagian besar akan disalurkan ke janin pada trimester akhir dari kehamilan. Jumlah kadar tersebut menggambarkan bahwa hanya sekitar 2,5 persen dari kalsium ibu total yang akan digunakan untuk pertumbuhan janin (Cunningham et al., 2010).
Seng
Defisien seng yang berat pada kehamilan dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, terhambatnya pertumbuhan, gangguan penyembuhan luka, dwarfism (tubuh cebol) serta hipogonadisme. Meskipun kadar suplementasi seng yang aman bagi ibu hamil belum dapat dipastkan, asupan harian yang dianjurkan selama kehamilan adalah sekitar 12 mg (Cunningham et al., 2010).
Sumber paling baik adalah sumber protein hewani terutama daging, kerang dan telur. Serelia tumbuk dan kacang-kacangan juga merupakan sumber yang baik, namun mempunyai ketersediaan biologic yang rendah (Almatsier, 2009).
Yodium
Kekurangan yodium akan berakibat terhambatnya perkembangan otak anak dan system saraf terutama menurunkan IQ dan meningkatkan risiko kematian bayi. Sumber yodium yang baik adalah makanan laut seperti ikan, udang, kerang dan rumput laut (Kemenkes RI, 2014) Pemakaian garam yodium sewaktu memasak juga dianjurkan selama kehamilan untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan ibu hamil dikarenakan adanya janin (Cunningham et al., 2010).
Kalium
Konsentrasi kalium dalam plasma ibu menurun sekitar 0,5 mEq/L pada pertengahan kehamilan (Cunningham et al., 2010).
Magnesium
Defisiensi magnesium pada wanita hamil belum ditemukan menyebabkan gangguan. Pemberian suplemen magnesium juga belum didapatkan perubahan yang bermakna pada kehamilan (Cunningham et al., 2010).
d. Trace Mineral
Tembaga, selenium, kromium dan mangan memiliki peran penting dalam fungsi enzim tertentu. Secara umum, sebagian besar mineral tersebut terdapat pada diet sehari-hari. Kardiomiopati merupakan salah satu dari manifestasi defisiensi mineral yang sangat mematikan pada anak dan WUS (Cunningham et al., 2010).
e. Vitamin
Asam Folat
Kebutuhan asam folat meningkat kaena digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah. Sayuran hijau seperti bayam dan kacang-kacangan banyak mengandung asam folat yang diperlukan (Kemenkes RI, 2014).
Lebih dari separuh kasus cacat tabung saraf seharusnya dicegah dengan pemberian asam folat 400 µg per-hari sepanjang periode perikonsepsi.
(Centers for Disease Control and Prevention, 1999) Penambahan 140 µg asam folat ke dalam setiap 100 produk padi-padian dapat meningkatkanasupan asam folat WUS sebesar 100 µg per hari. Karena sumber nutrisi saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan asam folat kurang memadai maka suplementasi folat tetap dianjurkan (Cunningham et al., 2010).
Seperti dicantumkan pada American Academy of Pediatrics and American College of Obstetricians and Gynecologist (2007), dosis tersebut harus dikonsumsi sebagai suplemen terpisah, bukan sebagai tablet multivitamin untuk menghindari asupan vitamin larut lemak yang berlebihan
(Cunningham et al., 2010).
Vitamin A
Suplemen vitamin A tidak dibutuhkan jika belum terdapat defisiensi
13
vitamin A. Terdapat keterkaitan antara cacat lahir dengan pemberian suplemen vitamin A dosis tinggi selama kehamilan. (10.000-50.000 IU per hari) Malformasi tersebut serupa dengan yang ditimbulkan turunan vitamin A, isotretinoin yang merupakan suatu teratogen kuat (Cunningham et al., 2010).
Defisiensi vitamin A merupakan masalah gizi endemik di negara-negara yang sedang berkembang. West (2003) memperkirakan bahwa di seluruh dunia terdapat sekitar 7 juta ibu hamil menderita buta senja akibat dari defisiensi vitamin A. Defisiensi vitamin A baik nyata maupun subklinis, tercatat berkaitan dengan peningkatan risiko anemia serta persalinan kurang bulan spontan (Cunningham et al., 2010).
Vitamin A terdapat didalam pangan hewanii, sedangkan karoten terutama di pangan nabati. Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu (didalam lemaknya) dan mentega. Margarin biasanya diperkaya oleh vitamin A. (Almatsier, 2009).
Vitamin B12
Vitamin B12 diperlukan untuk megubah folat menjadi bentuk aktif, dan dalam fungsi normal metabolism semua sel, terutama sel-sel saluran cerna, sumsum tulang, dan jaringan saraf. Vitamin B12 merupakan kofaktor dua jenis enzim pada manusia, yaitu metionin sintase dan metilmalonil-KoA mutase. Pada kehamilan normal, kadar vitamin B12 plasma menurun. Hal tersebut disebabkan oleh berkurangnya kadar protein pembawa trans-kobalamin dalam plasma. Vitamin B12 terdapat secara alami hanya dalam makanan hewani. Vegetarian ketat dapat melahirkan bayi dengan simpanan B12 yang rendah. Air susu dari ibu vegetarian hanya mengandung sedikit vitamin B12 dan defisiensi dapat nyata terlihat pada bayi yang diberi asitersebut. Meskipun perannya masih diperdebatkan namun kadar vitamin B12 yang rendah prakonsepsi, serupa dengan folat, dapat meningkatkan risikocacat tabung saraf (Almatsier, 2009).
Vitamin B6
Bagi wanita yang berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi seperti
pecandu obat terlarang, remaja dan ibu hamil multi janin dianjurkan suplemen vitamin B6 2 mg setiap hari. (Cunningham et al., 2010).
Piridoksin berada dalam otak dalam konsentrasi tinggi walaupun pada taraf plasma rendah. Kelainan otak seperti demensia mungkin disebabkan oleh kurangnya pengambilan vitamin-vitamin tertentu terutama vitamin B6 oleh otak (Almastsier, 2009).
Vitamin C
Asupan vitamin C yang dianjuran selama kehamilan adalah 80-85 mg/hari. (sekitar 20 % lebih banyak dari keadaan tidak hamil) Kadar vitamin C dalam plasma ibu menurun selama kehamilan, sementara kadar dalam darah tali pusat lebih tinggi. Hal tersebut merupakan suatu fenomena yang terjadi pada sebagian besar vitamin larut air (Cunningham et al., 2010).
Vitamin C mempunyai banyak fungsi didalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Pada industry pangan digunakan untuk mencegah proses tengik, perubahan warna serta mengawetkan daging (Almatsier, 2009).