• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bank Syariah

Bank syariah atau bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah islam yang didalam operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islami (Ikatan Bankir Indonesia, 2014). Dari definisi tersebut dikatakan bahwa bank adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariah Islam serta tidak berkecimpung kedalam pembiyaaan bisnis yang haram. Menurut UU No. 10 Tahun 1998 yang direvisi dengan UU perbankan UU No. 21 Tahun 2008 mendefinisikan bank syariah sebagai lembaga keuangan yang pengoperasiannya dengan sistem bagi hasil.

Penentuan harga bank dengan berdasarkan prinsip ini terhadap produknya sangat berbeda dengan bank konvesional. Bank syariah menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan pihak lain baik dalam hal penyimpanan dana, pembiayaan usaha maupun kegiatan perbankan lainnya.

2.1.1 Sistem Pendanaan Bank Syariah

Sama seperti halnya pada bank konvensional, sistem pendanaan bank syariah dapat berbentuk giro, tabungan, dan deposito. Hanya saja oprasional

operasional bank syariah yang telah diterapkan secara luas dalam pengihimpunan dana masyarakat adalah prinsip Wadi’ah dan Mudharabah.

1. Prinsip Wadi’ah (Titipan)

Wadi’ah merupakan suatu akad untuk menghimpun dana dengan menggunakan prinsip titipan. Titipan ini dapat diambil oleh nasabah kapanpun jika pemiliknya menghendaki. Secara umum prinsip Wadi’ah terbagi dalam dua jenis yaitu Wadi’ah, yaitu Wadi’ah Amanah dan Wadi’ah Dhamanah. Wadi’ah amanah adalah akad dimana dana titipan yang diberikan tidak boleh digunakan atau dimanfaatkan oleh pihak perbankan contohnya seperti safe deposit box. Tetapi pihak bank dapat membebankan biaya sebagai biaya titipan. Sementara Wadi’ah dhamanah adalah akad dimana dana titipan yang diberikan boleh digunakan atau dimanfaatkan oleh bank, tetapi pemilik tetap dapat menarik uangnya setiap saat (Ahmad, 2015 : 66). Jika bank mendapat keuntungan dari penggunaan dana yang dititipkan maka bank dapat memberikan insentif ataupun bonus tetapi untuk insentif dan bonus ini tidak di janjikan pada saat akad (Antonio ,2001 : 148 ). Dari penjelasan di atas maka terdapat dua jenis penghimpunan dana dengan cara Wadi’ah dhamanah yaitu giro Wadi’ah dan tabungan Wadi’ah.

2. Prinsip Mudharabah

Prinsip Mudharabah adalah prinsip bagi hasil, berdasarkan kewenangan yang di berikan oleh nasabah maka prinsip ini terbagi menjadi 2 jenis yaitu, Mudharabah Muqayyadah dan Mudharabah Muthalaqah (Ahmad, 2015 : 69). Letak perbedaan dari kedua jenis Mudharabah ini adalah pada pembatasan

jenis usaha, tempat, waktu, dan dengan siapa pengelola bertransaksi. Jika Mudharabah Muqayyadah membatasinya, jika Mudharabah Muthalaqah tidak membatasinya (Ibid : 72).

2.1.2 Sistem Pembiayaan Bank Syariah

1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil Mudharabah adalah kerja sama antara Bank yang menyediakan modal dengan Mudharib (Nasabah) yang memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan usaha yang produktif dan halal. Hasil keuntungan dari penggunaan dana tersebut dibagi bersama berdasarkan nisbah yang disepakati.

 Rukun dan Syarat

Menurut para ulama menyatakan bahwa rukun mudharabah adalah :

Shahibu al Maal (pelaku akad dan pemilik modal/dana/bank)

Mudharib (pelaku akad dalam menjalankan usaha dan disebut juga

sebagai pengusaha/nasabah), Maal (modal/dana pembiayaan)

Ribh/irbah (keuntungan atas hasil usaha)

Dharabah (kerja atau jenis usaha pembiayaan yang akan di jalankan,

dan

Shigat (isi akad perjanjian)

Jenis usaha (Dharabah)

Dana Mudharabah dapat digunkan untuk jenis usaha perdagangan atau perniagaan seperti usaha waralaba atau usaha yang berbentuk kemitraan, dana untuk penambahan modal atau modal kerja baru.

 Bagi hasil

 Bagi hasil adalah keuntungan yang di peroleh dari pengelolaan dana pembiayaan Mudharabah yang diberikan dengan persyaratan :

Perhitungan dari pendapatan total proyek (Pendekatan Revenue Sharing atau Profit Sharing).

Landasan perhitungan Cash Flow yang reasonable yang disepekati bersama.

• Pembagian bagi hasil dilakukan setiap bulan atau yang di sepakati.

 Pembagian bagi hasil (keuntungan/kerugian) sesuai dengan nisbah yang di sepakati. Pihak-pihak yang mendapatkan bagi hasil adalah para pihak yang terlibat dalam usaha Mudharabah, selain dari itu tidak berhak menerimanya.

 Bank tidak akan menerima keuntungan, apabila terjadi kegagalan atau wanprestasi yang bukan dilakukan oleh Mudharib.

 Apabila terjadi kegagalan usaha dan menyebabkan kerugian disebabkan oleh kelalaian Mudharib, maka kerugian tersebut harus ditanggung Mudharib (menjadi piutang bank).

Dharabah (Pekerjaan/Usaha)

 Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan umum tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha Mudharib.

Mudharib dilarang melakukan mudharabah dengan orang lain, kecuali

jika pemilik modal memberikan izin.

dalam memperoleh keuntungan, kecuali diluar perjanjian (usaha yang telah ditetapkan) atau yang menyimpang dari aturan syariah.

2. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal Musharakah adalah persekutuan (kerjasama) yang dilakukan oleh dua orang/lembaga atau lebih yang bias memanfaatkan harta dengan cara mengumpulkan sejumlah harta tertentu dengan pembagian (nisbah) yang jelas di ketahui atau saham saham dalm jumlah tertentu.

3. Prinsip jual beli barang dengan perolehan keuntungan Murabahah adalah akad jual beli antara bank selaku penyedia barang dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang. Dari transaksi tersebut bank mendapatkan keuntungan jual beli yang disepakati bersama.

4. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan Ijarah adalah akad yang tetap antara Bank (muajjir) dengan nasabah (musta’jir) untuk memanfaatkan sesuatu (barang) dalam waktu tertentu dengan harga yang telah di sepakati.

Sedangkan penentuan biaya-biaya jasa bank lainnya bagi bank yang berdasarkan pada prinsip syariah juga sesuai dengan syariah Islam. Kemudian sumber penentuan harga atau pelaksanaan kegiatan bank prinsip syariah dasarnya adalah Al-Quran dan Hadits. Pada bank yang berasaskan prinsip syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu.

Dokumen terkait