TINJAUAN PUSTAKA
A. Hakikat Sastra
1. Pengertian Cerita Rakyat
B. Cerita Rakyat
1. Pengertian Cerita Rakyat
Menurut Fang (1991: 3-4), cerita rakyat dikategorikan sebagai kesastraan rakyat dan sastra tersebut hidup di tengah-tengah masyarakat. Sastra ini diceritakan oleh ibu kepada anaknya yang dalam buaian (ibu mengayun anaknya). Di samping seorang ibu menceritakakan cerita rakyat kepada anaknya, juga terdapat tukang pawang yang menceritakan cerita rakyat kepada penduduk-penduduk di kampung, meskipun tukang pawang cerita sendiri belum tentu dapat membaca. Lebih lanjut Fang (1991: 4) menulis bahwa cerita asal usul adalah cerita rakyat yang tertua dan cerita-cerita asal-usul sudah bisa dimasukkan ke dalam kelompok mitos.
Berdasarkan pendapat Fang di atas, folklor dapat disejajarkan dengan tradisi lisan yang secara khusus disebut sebagai kesastraan lisan. Tradisi lisan tidak terbatas pada cerita rakyat, dan legenda saja melainkan berupa sistem kognasi kekerabatan lengkap seperti: sejarah, hukum adat, praktik hukum, dan pengobatan tradisional. Hal ini senada dengan pendapat dari Tol dan Prudentia (1995: 2) bahwa “Oral traditions do not only contains folktales, myths, and legends, but store complete indigenous cognate systems, to name a few: histories, legal practices, adat law, medications.”
Fang juga sependapat dengan Hutomo (1991: 1-4) bahwa sastra lisan sebenarnya adalah kesasteraan yang mencakup ekspresi kesasteraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan. Hal ini senada dengan Danandjaja (2007: 1-2) cerita rakyat merupakan salah satu bagian dari folklor (folklore) yang didefinisikan sebagai bentuk penuturan cerita yang dasarnya tersebar secara lisan, diwariskan turun-temurun di kalangan masyarakat pendukungnya secara tradisional. Dalam pemaparan cerita rakyat, sastra lisan dituturkan secara lisan dengan nilai sastra artinya mengandung estetik keindahan dan sastra lisan yang tidak bernilai sastra, artinya sastra lisan hanya diceritakan oleh seseorang yang sekadar dapat bercerita saja. Sastra
14
lisan sebagai “budaya rakyat” seperti dikatakan oleh Hutomo (1991: 4) bahwa sastra lisan merupakan bagian dari folklor.
Brunvand (dalam Danandjaja, 1991: 21), mengemukakan bahwa cerita rakyat atau folklore memilki tiga bentuk yang berbeda, folklore digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu folklore bukan lisan (non verbal folklore), folkloresebagian lisan (partly verbal folklore), dan folklore lisan (verbal folklore). Folklor bukan lisan adalah folklore yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklor sebagian lisan adalah folklore yang merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan dan folklore lisan adalah sebagai folkloreyang disampaikan dari mulut ke mulut secara tradisional dan turun-temurun.
Mengacu pendapat Haviland dan Prudentia tersebut, bisa disimpulkan bahwa pengertian folklor sangat luas. Hal ini sesuai dengan ungkapan Danandjaja (1997: 14) bahwa pilihan folklor Indonesia terdiri atas kepercayaan rakyat, upacara, cerita prosa rakyat (legenda, dan dongeng), nyanyian anak-anak, olahraga bertanding, hasta karya, makanan dan minuman, arsitektur rakyat, teater rakyat, musik rakyat, logat, dan lain-lain. Keluasan pengertian folklor dibandingkan dengan cerita rakyat (folk literature) juga tercermin dalam pernyataan berikut ini.
“Folklore may be defined as those materials in culture that circulate traditionally among members of any group in diffirent versions, whether in oral or by means of customary example” (Brunvand, 1968: 5).
Berdasarkan pendapat Brunvand tersebut, Danandjaja (1997:2), mengembangkan pengertian folklor sebagai berikut.
Folklor merupakan sebagian kebudayaan, suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu mengingat (mnemonic device).
15
Melihat pada pengertian di atas, seperti itulah perhatian terhadap sastra yang tidak tertulis (sastra lisan) di Indonesia masih sangat kurang jika dibandingkan dengan perhatian terhadap sastra tulis. Sastra lisan dimaksudkan sebagai kesastraan yang mencakup ekspresi kesastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut) (Hutomo, 1991:1).
Kesastraan rakyat adalah sastra yang hidup di tengah-tengah rakyat. Disampaikan oleh ibu kepada anaknya yang dalam buaian, atau tukang cerita kepada penduduk kampung yang tidak bisa membaca dan menulis (tukang cerita itu sendiri belum tentu tahu) (Fang, 1993:1). Cerita-cerita tersebut tersebar luas di kalangan rakyat. Pada akhirnya, atas kehendak pihak istana, ada beberapa cerita yang ditulis atau dibukukan. Jadi, dapat dikatakan bahwa lahirnya sastra lisan lebih dahulu daripada sastra tertulis yang rata-rata hanya berkembang di istana.
Dalam realita dikehidupan masyarakat, cerita rakyat sangat digemari oleh warga masyarakat karena dapat dijadikan sebagai suri teladan, serta bersifat jenaka. Oleh karena itu, cerita rakyat biasanya mengandung ajaran budi pekerti atau pendidikan moral dan hiburan bagi masyarakat pendukungnya. Pada masa sebelum tersedianya pendidikan secara formal, seperti sekolah, cerita-cerita rakyat memiliki fungsi dan peranan yang amat penting sebagai media pendidikan bagi orang tua untuk mendidik anak dalam keluarga. Meskipun saat ini pendidikan secara formal telah tersedia, tetapi cerita-cerita rakyat tetap memiliki fungsi dan peranan penting, terutama dalam membina kepribadian anak dan menanamkan budi pekerti secara utuh dalam keluarga (http:// culture.melayuonline.com).
Dalam hal tertentu, masyarakat berkembang dalam nilai tertentu karena mendengarkan dan merefleksikan cerita rakyat yang diterima dari orang lain. Berbagai jenis cerita rakyat tersebut, terdapat unsur ketunggalan budaya seluruh suku bangsa di Nusantara (Indonesia) dapat dicari pada kesamaan kosakata dasar (basic vocabulary)
16
bahasa-bahasa mereka. Menurut beberapa ahli folklor terdapat persamaan pada kesatuan-kesatuan cerita (tale types) atau unsur-unsur kesatuan cerita (tale motif) dari cerita-cerita rakyat suku bangsa di Nusantara adalah hal yang sudah lama diketahui. Misal tipe cerita (tale types) Cinderella terdapat dimana-mana. Cerita Cinderella di Indonesia dengan versi “Bawang Merah dan Bawah Putih”, “Ande Ande Lumut” (Jawa Tengah). Secara garis besar terdapat dua teori: (1) teori monogenis (satu asal) dan (2) teori poligenesis (banyak asal). Teori monogenesis menganggap bahwa terjadinya persamaan cerita rakyat di-beberapa tempat, atau di-beberapa negara, disebabkan oleh penyebaran atau difusi dari suatu kesatuan cerita (plot) atau motif cerita dari satu tempat ke tempat-tempat lain. Teori ini menganggap bahwa suatu tipe atau suatu motif hanya diciptakan satu kali pada masa tertentu.
Cerita rakyat (folk literature) sebagai bagian dari karya sastra juga memiliki unsur-unsur yang saling mendukung dan membangun cerita secara menyeluruh. Unsur-unsur yang dibahas adalah Unsur-unsur formal (intrinsik) dalam struktur cerita, yaitu: tema, plot, tokoh dan penokohan, latar (setting), dan amanat.
Tema sering disebut juga dasar cerita, yakni pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Hal tersebut terasa dan mewarnai karya sastra tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Hakikatnya tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut, sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu (Suharianto, 2005:28). Dalam menyimpulkan sebuah tema karya sastra haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak bisa hanya berdasarkan bagian bagian tertentu cerita (Nurgiantoro, 2007: 68). Setiap cerita (fiksi) yang baik tidak hanya berisi perkembangan suatu peristiwa atau kejadian, namun juga menyiratkan pokok pikiran yang akan dikemukakan pengarang kepada pembaca.
17
Menurut Dola (2007:44) tema cerita tidak dinyatakan secara tersurat (eksplisit) dalam cerita, tetapi secara tersirat (implisit). Menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2005:320) bahwa dalam sebuah karya sastra, moral dapat juga diartikan sebagai amanat. Moral, seperti halnya tema, dilihat dari segi dikotomi bentuk isi karya sastra merupakan unsur isi. Amanat merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca berupa makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra, makna yang disarankan lewat cerita. Moral juga kadang-kadang diidentikkan pengertiannya dengan tema walau sebenarnya tidak selalu menyaran pada maksud yang sama.
Amanat adalah bagian akhir yang merupakan pesan dari cerita yag dibaca (Amminuddin, (2007:41). Amanat atau nilai moral ialah unsur isi dalam karya fiksi yang mengacu pada nilai-nilai, tingkah laku, sikap, dan sopan santun pergaulan yang dihadirkan pengarang melalui tokoh-tokoh di dalamnya, (Kenny dalam Nurgiantoro, 2013: 429).
Dalam hal ini penulis menitipkan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipetik dari cerita tersebut. Amanat menyangkut bagaimana pembaca memahami dan meresapi cerita yang dibaca, setiap penikmat sastra akan merasakan nilai-nilai yang berbeda dari apa yang dibacanya. Pesan-pesan kehidupan yang ada dalam cerita hadir secara tersirat dalam keseluruhan isi cerita. Cerita yang baik hendaknya mampu menggugah pembaca supaya lebih memaknai dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang agung dan menyeluruh.
Jadi, berdasarkan uraian ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah ide pokok permasalahan yang terkandung dalam sebuah cerita. Sedangkan amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Untuk menentukan suatu tema maka terlebih dahulu dipahami amanat yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca
18 2. Fungsi Cerita Rakyat
Pandangan secara umum tentang isi cerita rakyat atau folklor merupakan suatu gambaran masyarakat pemiliknya. Artinya folklor atau cerita rakyat dapat dijumpai di seluruh daerah di wilayah Indonesia dengan segala jenis dan variasinya. Dalam budaya adat kebiasaan atau pola-pola kehidupan masyarakat daerah tersebut tidak terlalu jauh dan yang ada dalam cerita rakyat yang ada dan berkembang di daerah itu. Cerita rakyat pada suatu daerah biasanya tidak hanya mengungkapkan hal-hal yang bersifat permukaan. Cerita rakyat merupakan sendi-sendi kehidupan secara lebih mendalam.
Kehadirannya sering merupakan jawaban atas teka-teki alam yang terdapat di sekeliling kita. Namun, saat ini penutur cerita rakyat sudah jarang dijumpai atau sudah langka. Hal ini menuntut adanya penginventarisasian cerita rakyat agar isi ceritanya dapat kita nikmati. Nilai-nilai yang ada di dalamnya dapat kita tanamkan kepada generasi muda serta dapat dilestarikan keberadaannya.
Adapun fungsi-fungsi cerita rakyat menurut William R. Bascom (dalam Danandjaja 2007: 19) disebutkan sebagai berikut : (1) sistem proyeksi (projective system) yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif, (2) alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (3) alat pendidikan anak (pedagogical device), dan (4) alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Melalui cerita rakyat, masyarakat dapat menerima dan mendukung segala sesuatu yang berguna untuk kelompok kolektifnya. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi cerita rakyat dapat berjalan sesuai yang diharapkan sehingga masyarakat pendukung dapat menjalankan tata kehidupan yang sudah disepakati bersama dalam kelompok kolektifnya. Fungsi cerita rakyat sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device) menunjukkan bahwa cerita rakyat mampu sebagai sumber pengetahuan untuk diberikan kepada peserta didik dalam dunia pendidikan formal. Hal ini sejalan dengan unsur-unsur kebudayaan universal yakni
19
sistem mata pencaharian hidup, sistem peralatan dan perlengkapan hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan sistem religi.
Menurut Danandjaja (1997: 19 ) pengkajian sastra lisan yang di dalamnya termuat cerita rakyat (folk literature) memiliki fungsi antara lain: (1) sebagai sistem proyeksi (projective system); (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (3) sebagai alat pendidik anak (pedagogical device); dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Hal ini senada dengan Hutomo (1991: 69) pada masyarakat secara umum sastra lisan memiliki empat fungsi, yaitu: (1) sebagai sistem proyeksi, (2) sebagai alat pengesahan sosial, (3) sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial, dan (4) sebagai alat pendidikan anak.
Keempat fungsi tersebut memantik pentingnya kajian secara mendalam mengenai cerita rakyat. Cerita rakyat, selain merupakan hiburan, juga merupakan sarana untuk mengetahui (1) asal-usul nenek moyang, (2) jasa atau teladan kehidupan para pendahulu kita, (3) hubungan kekerabatan (silsilah), (4) asal mula tempat, (5) adat istiadat dan (6) sejarah benda pusaka Sugono (dalam Marwilistya, 2010: 43) Selain itu, cerita rakyat juga dapat berfungsi sebagai penghubung kebudayaan masa silam dengan kebudayaan yang akan datang. Berdasarkan uraian diatas, sastra lisan (cerita rakyat) dapat pula berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan benih-benih kesadaran akan keagungan budaya yang menjadi pendukung kehidupan berbangsa.
Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil ibroh dan meniru karakter positif dalam cerita. Karakter positif dalam cerita rakyat dapat dipandang sebagai amanat, pesan atau message. Hikmah yang diperoleh pembaca lewat cerita rakyat selalu dalam pengertian yang baik. Karakter baik dan buruk dalam cerita sengaja ditampilkan supaya pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut serta tidak mencontoh perilaku yang buruk sehingga pembaca
20
termotivasi untuk mencontoh karakter baik yang diperankan oleh tokoh dalam cerita. Pemahaman atas suatu cerita rakyat hingga mendapatkan hikmah tersebut merupakan bagian dari penanaman dan pembentukan karakter serta nilai-nilai pada anak sejak dini.