• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN HUKUM PERCEPATAN

1. Pengertian dan Dasar Hukum Pendaftaran Tanah

Secara terminologi pendaftaran tanah berasal dari kata cadastre, suatu istilah teknis untuk suatu record atau rekaman, menunjukkan kepada luas, nilai, dan kepemilikan terhadap suatu bidang tanah. Kata ini berasal dari bahasa Latin yaitu capistratum yang berarti suatu register atau capita atau unit yang diperbuat untuk pajak tanah Romawi. Cadastre berarti record pada lahan-lahan, atau nilai dari tanah dan pemegang haknya dan untuk kepentingan perpajakan. Cadastre dapat diartikan sebagai alat yang tepat untuk memberikan suatu uraian dan identifikasi tersebut dan sebagai rekaman berkesinambungan dari hak atas tanah.49

Pengertian pendaftaran tanah berawal dari fungsinya sebagai suatu fiscal cadaster,setelah itu dengan pentingnya akan kepastian hak dan kepastian

hukummenyebabkan pendaftaran tanah menjadi suatu legal cadastre. Pendaftaran tanahyang merupakan fiscal cadaster, yaitu kegiatan pendaftaran tanah yang dilakukanoleh pemerintah, dalam rangka memenuhi kepentingan negara sendiri, yaitu untukkepentingan pemungutan pajak tanah.50

49A.P.Parlindungan, Pendaftaran Tanah Di Indonesia (Berdasarkan PP.No24/1997dilengkapi dengan Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah PP. 37 Tahun 1998), Cetakan Pertama, (Bandung : CV.Mandar Maju, 1999), hal. 18-19.

50 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, (Djambatan: Bandung, 1997), hal. 84

Pendaftaran tanah yang merupakan legal cadastre, yaitu :“suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Negara atau Pemerintah secaraterus-menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentumengenai tanah-tanah tertentu yang ada diwilayah-wilayah tertentu, pengolahan,penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangkamemberikan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan, termasuk penerbitantanda buktinya dan pemeliharaannya”.51

Sedangkan menurut Boedi Harsono pendaftaran tanah adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Negara/Pemerintah secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentu mengenai tanah-tanah tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan, dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda buktinya dan pemeliharaannya.52

51Ibid, hal. 72

52Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi Dan Pelaksanaannya, Jilid I, Edisi Revisi, Cetakan Kesebelas, (Jakarta : Djambatan, 2007), hal. 72

Menurut Pasal 19 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan DasarPokok-Pokok Agraria, telah dijelaskan bahwa pendaftaran tanah adalah upayayang diadakan pemerintah yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dibidang hak-hak atas tanah. Pendaftaran tanah akan menghasilkan kepastian buktihak atas tanah yang merupakan alat yang mutlak ada, sebagai dasar statuskepemilikan tanah.

Pada prinsipnya pendapat tersebut sejalan dengan pengertian pendaftaran tanah menurut Pasal 1 angka 1 PP No.24 Tahun 1997 yakni :

“Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.”

Dari pengertian pendaftaran tanah tersebut diatas dapat di uraikan unsur-unsursebagai berikut :53

a. Adanya serangkaian kegiatan

Serangkain kegiatan menunjuk kepada adanya berbagai kegiatan denganmenyelengarakan pendaftaran tanah, yang berkaitan satu dengan yang lain,berturutan menjadi satu kesatuan rangkaian yang bermuara pada tersedianya datayang diperlukan dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidangpertanahan bagi rakyat.

b. Dilakukan oleh pemerintah

Penyelenggaraan pendaftaran tanah dalam masyarakat modern merupakan tugasnegara yang dilaksanakan oleh pemerintah bagi kepentingan rakyat dalam rangkamemberikan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan.

c. Secara terus-menerus, berkesinambungan

Terus-menerus, berkesinambungan. Menunjuk kepada pelaksanaan kegiatan, yangsekali dimulai tidak akan ada akhirnya. Data yang sudah terkumpul

53Ibid, hal. 76

denganperubahan-perubahan yang terjadi kemudian hingga tetap sesuai dengan keadaanyang terakhir.

d. Secara teratur

Teratur menunjukkan bahwa semua kegiatan harus berlandaskan peraturanperundang-undangan yang sesuai, karena hasilnya akan merupakan data buktimenurut hukum, meskipun daya kekuatan pembuktiannya tidak selalu sama dalamhukum negara-negara yang menyelenggarakan pendaftaran tanah.

e. Bidang tanah dan satuan rumah susun

Kegiatan pendaftaran tanah dilakukan terhadap Hak Milik, Hak Guna Usaha, HakGuna Bangunan, Hak Pakai, Hak Pengelolaan, Tanah Wakaf, Hak Atas SatuanRumah Susun, Hak Tanggungan, dan Tanah Negara.

f. Pemberian surat tanda bukti hak

Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kalinya menghasilkan surat tanda buktihak berupa sertipikat atas bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dansertipikat hak milik atas satuan rumah susun.

g. Hak-hak tertentu yang membebaninya

Dalam pendaftaran tanah dapat terjadi objek pendaftaran tanah dibebani denganhak yang lain, misalnya Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bagunan, HakPakai, dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun dijadikan jaminan utang dengandibebani Hak Tanggungan, atau Hak Milik atas tanah dibebani dengan Hak GunaBangunan atau Hak Pakai.

Dasar Hukum Pendataran Tanah

Berdasarkan konstitusional yang tersurat dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-UndangDasar UUD ditegaskan, bahwa Indonesia adalah negara hukum (reschsstaat).Konsekuensi logis dari suatu negara hukum, yakni setiap aktivitas, tindakan danperbuatan harus sesuai dengan norma hukum.Sehubungan dengan hal ini, maka keabsahan penyelenggaraan pendaftaran tanahdi Indonesia bilamana dilaksanakan menurut ketentuan hukum yang berlaku. Olehkarena itu, pelaksanaan pendaftaran tanah didasarkan pada ketentuan hukum yangdiatur dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945, Bumi, Air Dan Kekayaan Alam yangterkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarkemakmuran rakyat.

Aplikasi dari norma hukum yang termuat dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945,adalah dengan di undangkannya UU Nomor 5 Tahun 1960. Pada Pasal 19 ditegaskan, bahwa:

a. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.

b. Pendaftaran tanah tersebut dalam ayat (1) Pasal ini, meliputi:

1) Pengukuran, pemetaan dan pembukaan tanah,

2) Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut,

3) Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.

c. Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan negara dan masyarakat, keperluan lalu lintas sosial ekonomis serta kemungkinan penyelenggaraannya, menurut Pertimbangan Menteri Agraria.

d. Dalam Peraturan Pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan pendaftaran termasud dalam ayat (1) di atas, dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari biaya-biaya tersebut.

Berkenaan dengan ketentuan hukum yang diatur dalam Pasal 19 UU Nomor 5Tahun 1960, maka diterbitkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961tentang Pendaftaran Tanah. Namun setelah beberapa lama berlakunya PeraturanPemerintah Nomor 10 Tahun 1961, dirasakan sudah tidak memenuhuiperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga diundangkan PeraturanPemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, sekaligusmencabut dan menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961.

Dokumen terkait