• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN HUKUM PERCEPATAN

4. Sistem Pencatatan dalam Pendaftaran Tanah

Sistem pendaftaran tanah yang dipakai di suatu negara bergantung pada asas hukum yang dianut negara tersebut dalam mengalihkan hak atas tanahnya.

Terdapat dua macam asas hukum, yaitu asas itikad baik dan asas nemo plus yuris.

Sekalipun sesuatu negara menganut salah satu asas hukum tersebut dalam sistem pendaftaran tanah, tidak ada yang secara murni menganut satu saja dari kedua asas tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena dua asas hukum dan sistem pendaftaran tanah tersebut sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga setiap

64 INyoman Alit Supatma, Hak Atas Tanah Harus Adil, (Jakarta: Majalah Berita Bulanan Notaris/PPAT dan Hukum Renvoi, 2009), hal 18

negara mencari jalan keluar sendiri-sendiri untuk mengatasi kekurangan dan kelebihan dari masing-masing asas dan sistem pendaftaran tanah.65

Menurut asas itikad baik, orang yang memperoleh sesuatu hak atas tanah dengan itikad baik, maka dia akan tetap menjadi pemegang hak yang sah menurut hukum. Asas ini bertujuan untuk melindungi orang yang beritikad baik.

Kelemahan dari asas ini adalah bagaimana caranya untuk mengetahui seseorang beritikad baik? Adalah sulit untuk mengetahui dan menilai itikad baik seseorang, karena hal itu berkaitan dengan batin dan perasaan seseorang dalam melakukan suatu perbuatan hukum. Pemecahannya adalah diberlakukannya suatu anggapan atau fiksi hukum bahwa hanya orang yang beritikad baik sajalah yang bersedia memperoleh hak dari orang yang terdaftar haknya. Untuk melindungi orang yang beritikad baik maka dipandang perlu membuat/menerbitkan daftar umum yang mempunyai kekuatan bukti melalui sistem pendaftaran positif.66

Selanjutnya menurut asas nemo plus yuris orang yang tak dapat mengalihkan hak melebihi dari hak yang ada padanya. Hal ini berarti bahwa pengalihan hak oleh orang yang tidak berhak adalah tidak diperbolehkan dan batal demi hukum. Asas ini bertujuan melindungi pemegang hak yang sebenarnya.

Berdasarkan asas ini, maka pemegang hak yang sebenarnya dapat menuntut kembali hak atas tanahnya yang terdaftar atas nama orang lain. Penganutan asas ini dalam sistem pendaftaran tanah tidak memberikan kekuatan bukti yang sempurna dan mutlak pada alat bukti pendaftaran tanah bersangkutan. Sistem

65 Andy Hartanto, Hukum Pertanahan, Karakteristik Jual Beli Tanah yang Belum Terdaftar Hak Atas Tanahnya, (Surabaya: LaksBang Justitia Surabaya, 2014), hal. 47

66Ibid

pendaftaran tanah yang mengacu pada asas nemo plus yuris disebut sistem negatif.67

Dalam sistem positif, daftar umum yang terdapat pada alat bukti hak mempunyai kekuatan bukti mutlak, sehingga orang yang terdaftar pada alat bukti sertifikat hak atas tanah adalah sebagai pemegang hak yang sah menurut hukum tanpa bisa diganggu gugat oleh pihak lain. Kelebihan yang ada pada sistem positif ini adalah adanya kepastian dari pemegang hak, oleh karena itu ada dorongan dan kemauan pada diri setiap orang (pemegang hak atas tanah) untuk mendaftarkan haknya kepada instansi Pemerintah. Kelemahan sistem positif ini adalah pendaftaran yang dilakukan tidak lancar dan dapat saja terjadi pendaftaran atas nama orang yang tidak berhak, sehingga menghapuskan hak orang lain yang lebih berhak.68

Dalam sistem pendaftaran negatif, di mana daftar umum yang berisi data dan informasi tentang hak atas tanah tidak mempunyai kekuatan hukum sehingga terdaftarnya seseorang dalam daftar umum tersebut bukan merupakan bukti yang mutlak bahwa orang yang terdaftar benar-benar berhak atas hak yang telah didaftarkan. Orang yang terdaftar pada dafrar umum akan senantiasa menanggung akibat hukum apabila hak yang diperoleh berasal dari orang yang tidak berhak.

Kelemahan sistem negatif ini adalah pemegang hak merasa enggan mendaftarkan haknya. Sedangkan kelebihannya adalah pendaftaran tanah dapat dilakukan

67Ibid, hal. 48

68Ibid

dengan lancar dan cepat sementara pemegang hak yang sesungguhnya tidak dirugikan sekalipun orang yang terdaftar bukan orang yang berhak.69

Beberapa ahli Agraria Indonesia menyebutkan bahwa sistem pendaftaran tanah yang berlaku di Negara ini menganut sistem Torrens. Sistem ini dapat diidentifikasi dari:70

1. Orang yang berhak atas tanahnya harus memohon dilakukannya pendaftaran tanah itu agar Negara dapat memberikan bukti hak atas permohonan pendaftaran yang diajukan.

2. Dilakukan penelitian atas alas hak dan obyek bidang tanah yang diajukan permohonan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang bersifat sporadis.

Keberadaan sistem pendaftaran tanah model Torrens ini, persis apa yang disebutkan atas permohonan seseorang untuk memperoleh hak milik sebagaimana disebutkan dalam Pasal 22 UUPA:71

1. Terjadinya hak milik menurut hak adat diatur dengan peraturan pemerintah.

2. Selain menurut cara sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini Hak Milik terjadi:

a. Penetapan pemerintah, menurut cara dan syarat-syarat yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

b. Ketentuan Undang-Undang.

Sistem pendaftaran tanah di Indonesia menurut PP 24/1997 menggunakan sistem publikasi negatif bertendensi positif. Maksud dari sistem publikasi negatif

69Ibid, hal. 49

70 Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Op. Cit, hal. 114

71Ibid, hal. 115

bertendensi positif adalah sistem pendaftaran tanah ini menggunakan sistem pendaftaran hak (sistem Torrens / registration of titles), tetapi sistem publikasinya belum dapat positif murni. Hal ini dikarenakan, data fisik dan data yuridis dalam sertifikat tanah belum pasti benar, meskipun harus diterima oleh Pengadilan sebagai data yang benar selama tidak ada alat pembuktian yang membuktikan sebaliknya.72

Selain itu, apabila suatu pihak mengalami kehilangan hak atas tanah akibat pengalihan hak atas tanah oleh pihak lain secara ilegal atau kesalahan dalam register, maka pemerintah tidak memberikan jaminan ganti rugi. Guna mengatasi kelemahan sistem publikasi dalam sistem pendaftaran tanah tersebut, selama ini Indonesia menggunakan lembaga rechtsverwerking(Lembaga Daluwarsa).

Penggunaan lembaga rechtsverwerking disebabkan oleh hukum tanah Indonesia masih menggunakan dasar hukum adat dan tidak mengenal lembaga lain, seperti acquisideve verjaring atau adverse possession. Dalam hukum adat, apabila

seseorang selama sekian waktu membiarkan tanahnya tidak dikerjakan, kemudian tanah itu dikerjakan oleh orang lain yang memperoleh hak atas tanah tersebut dengan itikad baik, maka pemilik tanah semula akan mengalami kehilangan hak atas tanahnya.73

Ketentuan dalam UUPA yang menyatakan hapusnya hak atas tanah karena ditelantarkan (Pasal 27, 34, dan 40 UUPA) sesuai dengan lembaga ini. Dengan pengertian demikian, maka apa yang ditentukan dalam ayat ini bukanlah

72 Novina Sri Indiraharti, Penerapan Sistem Torrens Dalam Pendaftaran Tanah (Studi Komparatif Terhadap Sistem Pendaftaran Tanah di Indonesia dengan Singapura), (Makassar: FH Universitas Makassar 45, 2009), hal. 107

73Mhd. Yamin Lubis, dan Abd. Rahim Lubis, Op. Cit, hal. 147

menciptakan ketentuan hukum baru, melainkan merupakan ketentuan hukum yang sudah ada dalam hukum adat, yang dalam tata hukum sekarang ini merupakan bagian dari Hukum Tanah Nasional Indonesia dan sekaligus memberikan wujud konkret dalam penerapan ketentuan dalam UUPA mengenai penelantaran tanah.74

Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa sistem publikasi yang dianut di Indonesia adalah sistem publikasi negatif, tetapi bukan negatif murni melainkan sistem negatif yang mengandung unsur positif. Penganutan sistem negatif dengan unsur positif itu dapat ketahui dari ketentuan Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA, yang menyatakan bahwa pendaftaran tanah meliputi pula pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Selanjutnya dalam Pasal 23, 32 dan 38 UUPA juga dinyatakan bahwa

“pendaftaran tanah merupakan alat pembuktian yang kuat”. Ketentuan seperti itu tidak terdapat dalam peraturan pendaftaran tanah dengan sistem publikasi negatif murni sepeti yang berlaku di beberapa negara lain.75

B. Beberapa Ketentuan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap

1. Latar Belakang Diselenggarakannya Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL)

Bahwa untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas Tanah masyarakat secara adil dan merata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi negara pada umumya dan ekonomi rakyat khususnya, perlu dilakukan percepatan pendaftaran tanah lengkap di seluruh wilayah Republik

74 Aartje Tehupeiory, Op. Cit, hal. 34

75 Andy Hartanto, Op. Cit, hal. 55

Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Sebagai bagian dari upaya mencapai pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan, dan juga sosialisasi, dan juga maraknya sengketa hak atas tanah di seluruh Indonesia, Kementrian Agraria dan Tata Ruang Badan Nasional atau Kementrian ATR/BPN dibawah kepemimpinan Sofyan Djalil melakukan langkah strategis yang meliputi legalisasi dan redistribusi aset tanah serta penataan ruang yang berkelanjutan dan terus menerus melakukan peningkatan pelayanan.

Sofyan A. Djalil menegaskan bahwa persoalan sengketa tanah dapat dicegah dengan pelaksanaan program kerja Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap. Selanjutnya dijelaskan, bahwa 70% (tujuh puluh persen) perkara pengadilan adalah masalah tanah, oleh karena itu Kementrian ATR/BPN terus berupaya untuk mencegah terjadinya sengketa tanah dengan melaksanakan program ini.

Pendaftaran Tanah Sistematik Legkap (PTSL) merupakan program kerja Kementrian ATR/BPN untuk menerbitkan 5 (lima) juta sertipikat tanah pada 2017 serta melakukan pemetaan tanah-tanah yang belum terdaftar di Indonesia. Apabila selama ini sertipikat yang dibagikan semuanya secara sporadis, melalui PTSL tidak demikian. Sehingga dapat memberikan meminimalisir sengketa pertanahan.

PTSL juga dapat memberikan kepastian hukum atas tanah, karena pada saat ini

banyak orang tidak berani membeli tanah untuk investasi karena tidak ada kepastian hukum atas tanah tersebut.76

2. Pengertian dan Dasar Hukum Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Pengertian Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap

Didalam Pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap dijelaskan bahwa Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap yang selanjutnya disingkat PTSL adalah kegiatan Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak bagi semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu, yang meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk keperluan pendaftarannya.

Menurut Petunjuk Teknis Nomor 1069/3.1-100/IV/2018 Tentang Pelaksanaan Anggaran Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Tahun 2018, yang menjadi objek PTSL adalah meliputi seluruh bidang tanah tanpa terkecuali, baik bidang tanah yang belum ada hak atas tanahnya maupun bidang tanah hak yang memiliki hak dalam rangka memperbaiki kualitas data pendaftaran tanah. Objek tersebut meliputi bidang tanah yang sudah ada tanda batasnya maupun yang akan ditetapkan tanda batasnya dalam pelaksanaan kegiatan PTSL.Apabila lokasi yang

76 Muhammad Razi, Cegah Sengketa Tanah dengan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap, http://www.bpn.go.id/BERITA/Siaran-Pers/cegah-sengketa-tanah-dengan-pendaftaran-tanah-sistematik-lengkap-67472, diakses pada Rabu, 9 Mei 2018, Waktu 16.00 WIB

ditetapkan sebagai objek PTSL terdapat Tanah Objek Landreform yang tidak lagi memenuhi persyaratan, maka dengan sendirinya tanah tersebut dikeluarkan dari objek landreform dan pelaksanaan pendaftaran tanahnya dilakukan melalui mekanisme PTSL.

Pengaturan mengenai sumber pembiayaan Program PTSL ini terdapat dalam Pasal 40Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap, yaitu:

Pasal 40

(1) Sumber pembiayaan PTSL dapat berasal dari:

a. Daftar Isian Program Anggaran (DIPA) Kementerian;

b. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, Kabupaten/Kota c. Corporate Social Responsibility (CSR), Badan Usaha Milik Negara/Badan

Usaha Milik Daerah, badan hukum swasta;

d. Dana masyarakat melalui Sertipikat Massal Swadaya (SMS) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau

e. penerimaan lain yang sah berupa hibah (grant), pinjaman (loan) badan hukum swasta atau bentuk lainnya melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Pendapatan Negara Bukan Pajak.

(2) Sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pembiayaan PTSL dapat juga berasal dari kerjasama dengan pihak lain yang diperoleh dan digunakan serta dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Biaya PTSL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dialokasikan juga untuk:

a. pembayaran honorarium Panitia Ajudikasi PTSL, yang bukan merupakan anggota Satgas Fisik, Satgas Yuridis dan Satgas Administrasi; dan

b. biaya mobilisasi/penugasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).

(4) Dalam hal anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat tidak atau belum disediakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus dialokasikan melalui revisi anggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dasar Hukum Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap

Berikut adalah dasar hukum diselenggarakannya program PTSL berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap:

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);

2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5038);

4. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 5601);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3643);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 128 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 351, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5804);

8. Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 18);

9. Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan Pertanahan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 21);

10. Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2018 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap di Seluruh Wilayah Republik Indonesia;

11. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;

12. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan;

13. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 33 Tahun 2016 tentang Surveyor Kadaster Berlisensi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1591) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 11 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 33 Tahun 2016 tentang Surveyor Kadaster Berlisensi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1111);

3. Ruang Lingkup dan Tujuan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Didalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap disebutkan bahwa ruang lingkup Peraturan Menteri ini adalah

Pasal 3

(1) Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:

a. penyelenggaraan PTSL;

b. pelaksanaan kegiatan PTSL;

c. penyelesaian kegiatan PTSL; dan d. pembiayaan.

Sedangkan untuk maksud dan tujuannya terdapat di dalam Pasal 2Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis

Lengkap yang menjelaskan bahwa Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan PTSL yang dilaksanakan desa demi desa di wilayah kabupaten dan kelurahan demi kelurahan di wilayah perkotaan yang meliputi semua bidang tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia. Dan bertujuan untuk mewujudkan pemberian kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas Tanah masyarakat berlandaskan asas sederhana, cepat, lancar, aman, adil, merata dan terbuka serta akuntabel, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan ekonomi negara, serta mengurangi dan mencegah sengketa dan konflik pertanahan.

Selain dari itu, tujuan dari pelaksanaan pengukuran dan pemetaan bidang tanah secara sistematis lengkap mengelompok dalam satu wilayah desa/kelurahan lengkap diantaranya:77

a. Waktu pelaksanaan relatif lebih cepat dibandingkan pelaksanaan pengukuran dan pemetaan bidang tanah secara sporadik;

b. Mobilisasi dan koordinasi petugas ukur lebih mudah dilaksanakan;

c. Dapat sekaligus diketahui bidang-bidang tanah yang belum terdaftar dan yang sudah terdaftar dalam satu wilayah desa/kelurahan;

d. Dapat sekaligus diketahui bidang-bidang tanah yang bermasalah dalam satu wilayah desa/kelurahan;

e. Persetujuan batas sebelah menyebelah (asas contradictoir delimitatie) relative lebih mudah dilaksanakan;

f. Dapat memperbaiki atau melengkapi peta dasar pendaftaran.

77Teman SMP 2 Karang Pucung, Mengenal Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap,http://www.googleweblight.com/i?u=https://smpn2kp.wordpress.com/2017/03/21/menge nal-program-ptsl/&hl=id-ID&geid=1029, diakses pada Rabu, 9 Mei 2018, Waktu: 19.00 WIB

BAB III

PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP(PTSL) SEBAGAI PERCEPATAN PENSERTIFIKATAN TANAH

A. Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Sebagai Wujud Pelaksanaan Reforma Agraria dalam Nawacita Presiden

Belum adanya jaminan kepastian hukum atas tanah seringkali memicu terjadinya sengketa dan perseteruan atas lahan di berbagai wilayah di Indonesia.

Lambannya proses pembuatan sertipikat tanah selama ini menjadi pokok perhatian pemerintah. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, Pemerintahan Joko Widodo melalui Nawacita telah mencanangkanprogram strategis dalam bidang pertanahanyang salah satunya adalah percepatan pelaksanaanpendafataran tanah. Salah satu metode untukpercepatan pendaftaran tanah adalah melalui strategi pendaftaran tanah sistematis.78

Nawacita adalah istilah umum yang diserap dari bahasa Sansekerta, nawa (sembilan) dan cita (harapan, agenda, keinginan). Dalam konteks perpolitikan Indonesia, menjelang Pemilu Presiden 2014, istilah ini merujuk kepada visi-misi yang dipakai oleh pasangan calon presiden/calon wakil presiden Joko Widodo/Jusuf Kalla berisi agenda pemerintahan pasangan itu.79

Dalam visi-misi tersebut dipaparkan sembilan agenda pokok untuk melanjutkan semangat perjuangan dan cita-cita Soekarno yang dikenal dengan

78 Eko Budi Wahyono, “Implementasi Regulasi tentang Surveyor Kadaster Berlisensi Dalam Percepatan Pendaftaran Tanah di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Provinsi Sumatera Utara”, Bhumi, Vol. 3 No. 2, November 2017, hal. 7

79Iqbal, Visi Misi Capres-Cawapres Jokowi-JK ketika mendaftarkan diri ke KPU,https://m.detik.com/news/berita/2586880/ini-visi-misi-jokowi-jusuf-kalla, diakses pada Minggu, 7 Oktober 2018, Waktu 01.45 WIB

istilah Trisakti, yakni berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.80

Adapun intisari dari Program Nawa Cita tersebut adalah:81

1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.

3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program "Indonesia Pintar";

serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program "Indonesia Kerja" dan "Indonesia Sejahtera" dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung

80Ibid

81Ibid

deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.

6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Terkait dengan keberadaan Agenda Prioritas (Nasional) sebagai upaya pencapaian Visi Misi Presiden salah satunya yaitu Agenda ke Empat:

Memperkuat Kehadiran Negara Dalam Melakukan Reformasi Sistem dan Penegakan Hukum yang Bebas Korupsi, Bermartabat dan Terpercaya. Yaitu dengan sub agenda Menjamin Kepastian Hukum Hak Kepemilikan Tanah dengan sasaran berupa memperbesar cakupan bidang tanah yang bersertipikat. Kemudian dilakukan pendekatan startegi dalam bentuk kegiatan seperti: Percepatan

Legalisasi Aset kususnya di Pedesaan, Penyusunan Regulasi Penyelesaian Sengketa aset Milik Negara, dan Pengkajian penanganan Kasus Pertanahan.

Legalisasi aset merupakan salah satu program strategis nasional pemerintah dalam upaya pencapaian Nawacita Pemerintah untuk mensertipikatkan keseluruhan bidang tanah di Indonesia pada agenda prioritas nasional keempat.

KementerianATR/BPN telah menetapkan Peraturan MenteriAgraria dan Tata Ruang/Kepala Badan PertanahanNasional Nomor 28 Tahun 2016 tentang PercepatanProgram Nasional Agraria melalui PendaftaranTanah Sistematis.

Namun, keterbatasan sumberdaya manusia dengan kompetensi survei kadastraldi Kementerian ATR/BPN menyebabkan percepatanpendafataran tanah menjadi

Namun, keterbatasan sumberdaya manusia dengan kompetensi survei kadastraldi Kementerian ATR/BPN menyebabkan percepatanpendafataran tanah menjadi

Dokumen terkait