• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

4. Metode Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

2.7. Anak Berkebutuhan Khusus

2.3.1. Pengertian dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

Pada mulanya, pengertian anak berkebutuhan khusus adalah anak cacat, baik cacat fisik maupun mental. Anak-anak yang cacat fisik sejak lahir, seperti tidak memiliki kaki atau tangan yang sempurna, buta warna, atau tuli termasuk anak berkebutuhan khusus. Pengertian anak berkebutuhan khusus kemudian berkembang menjadi anak yang memiliki kebutuhan individual yang tidak bisa disamakan dengan anak yang normal. Pengertian anak berkebutuhan khusus tersebut akhirnya mencakup anak yang berbakat, anak cacat, dan anak yang mengalami kesulitan (Rustantiningsih, 2008)

Anak berkebutuhan khusus menurut Cut Rafiqa Fadhilah, (2011) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.

Pendapat lain mengenai definisi anak berkebutuhan khusus adalah Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang memiliki kelainan

fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial, baik dalam tingkat keterbatasan maupun kelebihan (Yanto, 2011).

Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian Anak Berkebutuhan Khusus tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mempunyai karakteristik yang berbeda dengan anak pada umumnya, mereka memiliki kelainan pada fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial sehingga dibutuhkan penanganan yang khusus atau lebih dari anak pada umumnya.

Menurut Soemantri (2006:22) mengemukakan bahwa emosi mempengaruhi aktifitas mental secara umum. Emosi yang tidak menyenangkan, menyebabkan penurunan prestasi dari aktivitas mental. emosi anak akan mempengaruhi mental, sehingga anak menjadi malu dan mempengaruhi penyesuaian anak (Soemantri, 2006:26).

Menurut Kauffan & Hallahan (Delphie, 2006), jenis-jenis anak berkebutuhan khusus adalah sebagai berikut:

1. Tunagrahita (Mental retardation) atau disebut sebagai anak denganhen- dayaperkembangan (Child with development impairment)

Anak tunagrahita menurut Somantri (2006:103) adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan inteligensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.

Smith (Delphie, 2006:17) menyebutkan karakteristik anak tunagrahita meliputi hal-hal sebaga[ berikut:

a. Mempunyai dasar secara fisiologis, sosial, dan emosional sama seperti anak-anak yang tidak menyandang tunagrahita.

b. Selalu bersifateksternal locus of controlsehingga mudah sekali melakukan kesalahan(expectancy for filure).

c. Suka meniru perilaku yang benar dari orang lain dalam upaya mengatasi kesalahan-kesalahan yang mungkin ia lakukan (outerdirectedness).

d. Mempunyai perilaku yang tidak dapat mengatur diri sendiri. e. Mempunyai permasalahan berkaitan dengan perilaku sosial(social

behavioral).Mempunyai masalah berkaitan dengan karakteristik belajar.

f. Mempunyai masalah berkaitan dalam bahasa dan pengucapan. g. Mempunyai masalah dalam kesehatan fisik.

h. Kurang mampu untuk berkomunikasi. i. Mempunyai kelainan pada sensori dan gerak.

j. Mempunyai masalah berkaitan dengan psikiatrik, adanya gejala- gejala depresif.

Somantri (2006:106-108) mengklasifikasikan anak tunagrahita menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Tunagrahita Ringan(moron).

Anak tunagragita ringan masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana tetapi mereka tidak mampu melakukan penyesuaian sosial secara independen. Ia akan membelanjakan uangnya dengan lugu, tidak dapat merencanakan masa depan, bahkan suka berbuat kesalahan.

1) Tunagrahita Sedang(imbesil).

Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca, dan berhitung walaupun mereka masih dapat menulis secara sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, anak tunagrahita sedang membutuhkan pengawasan yang terus-menerus.

2) Tunagrahita Berat(idiot).

Anak tunagrahita berat memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan, dan lain-lain. Bahkan mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya.

Anak tunagrahita yang masih muda tingkah laku sosialnya memiliki keterikatan kepada orang tua dan orang dewasa lainnya. Dengan bertambahnya umur, keterikatan ini dialihkan kepada teman sebayanya. Akan tetapi, mereka jarang diterima, sering diterima, sering diolok oleh kelompok, serta jarang menyadari posisi diri dalam kelompok. (Somantri, 2006:117)

2. Kesulitan Belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah (Specific Learning Disability)

Kesulitan belajar merupakan istilah generik yang merujuk pada keragaman kelompok yang mengalami gangguan dimana gangguan tersebut diwujudkan dalam kesulitan-kesulitan yang signifikan yang dapat menimbulkan gangguan proses belajar. (Somantri, 2006:196)

Menurut Delphie (2006:24-25), anak yang tergolong dalam specific learning disabilitymempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Kelainan yang terjadi berkaitan dengan faktor psikologis sehinnga

mengganggu kelancaran berbahasa, saat berbicara, dan menulis. b. Pada umumnya mereka tidak mampu untuk menjadi pendengar yang

baik, untuk berfikir, untuk berbicara, membaca, dan menulis, mengeja huruf, bahkan perhitungan yang bersifat matematika.

c. Kemampuan mereka yang rendah dapat dirincikan melalui hasil test IQ atau tes prestasi belajar khusunya kemampuan- kemampuanberkaitan dengan kegiatan-kegiatan di sekolah.

d. Kondisi kelainan disebabkan oleh perceptual hadicapes, brain injury, minimal brain dysfunction, dyslexia, dan developmental apasia.

e. Mereka tidak tergolong ke dalam penyandang tunagrahita, tunalaras, atau mereka yang mendapatkan hambatan dari faktor lingkungan, budaya atau faktor ekonomi.

f. Mempunyai karakteristik khusus berupa kesulitan di bidang akademik, kognitif, dan emosi sosial.

Secara umum perilaku bermasalah yang muncul dari kesulitan belajar terutama akan terkait dengan masalah penyesuaian diri maupun akademik anak, hubungan sosial, dan stabilitas emosi. Bagi anak sendiri kondisi seperti ini dapat menimbulkan frustasi atau cemas yang berlebihan karena dia selalu mengalami kegagalan dalam memenuhu tuntutan dantugas belajar. Dengan kata lain, dalam banyak hal anak tidak mampu menguasai tugas-tugas perkembangan yang harus dicapainya.(Somantri, 2006:208)

3. Hyperactive (Attention Defict Disorder with Hyperactive)

Menurut Rapport & Ismond (Delphie, 2006:73) mengemukakan bahwa pengertian anakhyperactiveadalah :

Anak yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan sangat jarang untuk berdiam selam kurang lebih 5 hingga 10 menit guna melakukan suatu tugas kegitan yang diberikan gurunya. Ia selalu mudah bingung dan kacau pikirannya, tidak suka memperhatikan perintah atau penjelasan dari gurunya, dan selalu tidak berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaan sekolah, sangat sedikit kemampuan mengeja huruf, tidak mampu untuk meniru huruf-huruf.

Anakhyperactiveselalu mendapatkan kesulitan di sekolah. Mereka selalu gagal untuk melakukan hubungan sosial dalam pelajaran

olahraga, sedangkan di rumah mereka juga mendapatkan dorongan untuk menghilangkan kesulitannya.

4. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)

Menurut Somantri (2006:140), mengemukakan bahwa anak tunalaras didefinisikan sebagai berikut:

Anak yang mengalami hambatan emosi dan tingkah laku sehingga kurang dapat atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya dan hal ini akan mengganggu situasi belajarnya.

Menurut Delphie (2006:78), anak disebut dengan hendaya perilaku menyimpang, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut ini.

a. Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensoryatau kesehatan.

b. Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.

c. Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.

d. Secara umum, mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.

e. Bertendensi ke arah symptoms fisik seperti: merasa sakit, atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.

Delphie (2006:101) menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadi hendaya kelainan perilaku adalah:

a. Faktor biologis, perilaku yang menyimpang dipengaruhi oleh faktor genetika, neurologis atau faktor biokemikal atau dapat juga dari kombinasi antara genetik/neurologis/biokemikal.

b. Faktor keluarga, disebabkan oleh kurang harmonisnya hubungan anak dengan orang tuanya.

c. Faktor budaya, kondisi-kondisi budaya dan sosial yang berubah menyebabkan adanya hendaya kelainan perilaku terhadap anak-anak. d. Faktor sekolah, misal adanya pengalaman-pengalaman yang buruk

sewaktu berada di ruang kelas.

Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar dapat menjadikan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya: membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalm kelas, dan sebagainya. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap timbulnya gangguan tingkah laku adalah ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi sehingga mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif (Somantri, 2006:149).

Somantri (2006:155-156) juga menyebutkan dalam perkembangan sosial anak tunalaras mengalami hambatan yaitu ketidakmampuan mereka dalam melakukan interaksi sosial yang baik dengan lingkungannya disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak atau kurang menyenangkan. Mereka memiliki penghayatan yang keliru, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tidak berguna bagi orang lain

dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka, ingin mencoba mendekati dan menyayangi mereka, dan apabila berhasil sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.

5. Tunarungu wicara (Communication disorder and deafness)

Somantri (2006:94) mengemukakan pengertian tunarungu wicara yaitu:

Mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard of hearing) maupun seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki fungsional di dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri umum hambatan perkembangan bahasa dan komunikasi antara lain sebagai berikut.

a. Kurang memperhatikan saat guru memberikan pelajaran di kelas. b. Selalu memiringkan kepalanya, sebagai upaya untuk berganti posisi

telinga sumber bunyi, seringkali ia meminta pengulangan penjelasan guru saat di kelas.

c. Mempunyai kesulitan untuk mengikuti petunjuk secara lisan.

d. Keengganan untuk berpartisipasi secara oral, mereka mendapatkan kesulitan untuk berpartisipasi secara oral dan dimungkinkan karena hambatan pendengarannya.

e. Adanya ketergantungan terhadap petunjuk atau instruksi saat di kelas.

f. Mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa dan bicara. g. Perkembangan intelektual peserta didik tunarungu wicara terganggu. h. Mempunyai kemampuan akademik yang rendah, khususnya dalam

membaca (Hallahan & Delphie, 2006:103).

Menurut Somantri (2006:98) emosi anak tunarungu selalu bergolak di satu pihak karena kemiskinan bahasanya dan di pihak lain

karena pengaruh dari luar yang diterimanya. Anak tunarungu bila ditegur orang yang tidak dikenalnya akan tampak resah dan gelisah.

Anak tunarungu banyak dihinggapi kecemasan karena menghadapi lingkungan yang beraneka ragam komunikasinya, hal seperti ini akan membingungkan anak tunarungu. Anak tunarungu sering mengalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan karena ia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang bermacam-macam. Sudah menjadi kejelasan bagi kita bahwa hubungan sosial banyak ditentkan oleh komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Kesulitan komunikasi tidak bisa dihindari. Namun bagi anak tunarungu tidaklah demikian karena anak ini mengalami hambatan dalam berbicara. Kemiskinan bahasa membuat dia tidak mampu terlibat secara baik dalam situasi sosialnya. Sebaliknya, orang lain akan sulit memahami perasaan dan pikirannya.

6. Tunanetra (Partially seing and legally blind) atau disebut dengan anak yang mengalami hambatan dan penglihatan

Anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalm kegiatan sehari-hari seperti halnya orang awas (Somantri,2006:65).

Menurut Somantri (2006:66), anak tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu:

Dikatakan buta jika anak sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0)

b. Low Vision

Bila anak masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika anak hanya mampu membaca headlinepada surat kabar.

Somantri (2006:82) menjelaskan bahwa perkembangan emosi anak tunanetra akan terhambat yaitu bila anak tunanetra mengalami deprivasi emosi, yaitu keadaan di mana mereka kurang memliki kesempatan untuk menghayati pengalaman emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra akan cenderung mengalami deprivasi ini terutama adalah anak- anak yang pada masa awal kehidupan atau perkembangannya ditolak kehadirannya oleh lingkungan keluarga atau lingkungannya. Akibat ketunanetraan secara langsung atau tidak langsung, akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak seperti keterbatasan anak untuk belajar sosial melalui identifikasi maupun imitasi, keterbatasan lingkungan yang dapat dimasuki anak untuk memenuhi kebutuhan sosialnya, serta adanya faktor-faktor psikologis yang menghambat keinginan anak untuk memasuki lingkungan sosialnya secara bebas dan aman.

7. Anak Autistik(Autistic Children)

Autism syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak (Somantri, 2006:121).

Gejala-gejala penyandang autism menurut Delay & Deinaker (Somantri, 2006:121) antara lain sebagai berikut.

a. Senang tidur dan malas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah.

b. Selalu diam sepanjang waktu.

c. Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton, kemudian dengan suara yang anaeh ia akan mengucapk an atau menceritakan dirinya dengan beberapa kata, kemudian diam menyendiri lagi.

d. Tidak pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut, tidak punya keinginan yang bermacam-macam, serta tidak menyenangi sekelilingnya.

e. Tidak tampak ceria.

f. Tidak peduli terhadap lingkungannya, kecuali pada benda yang disukainya, misalnya boneka.

8. Tunadaksa (Physical disability)

Menurut Somantri (2006:121) mengemukakan bahwa pengertian tunadaksa adalah:

Suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot, sehingga mengurangi kapasitas normal individu untuk mengikuti pendidikan dan untuk berdiri sendiri.

Menurut Somantri (2006:121), anak yang tunadaksa sejak kecil mengalami perkembangan emosi sebagai anak tunadaksa secara bertahap. Sedangkan anak yang mengalami ketunadaksaan setelah besar

mengalaminya sebagai suatu hal yang mendadak, disamping anak yang bersangkutan pernah menjalani kehidupan sebagai orang normal sehingga keadaan tunadaksa dianggap sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk diterima oleh anak yang bersangkutan. Dukungan orang tua dan orang-orang di sekelilingnya merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan emosi anak tunadaksa.

Sikap terlalu melindungi (over protection) dari orang tua menyebabkan anak-anak tunadaksa merasakan ketergantungan sehingga mereka takut serta cemas dalam menghadapi lingkungan yang tidak dikenalinya. Anak-anak tunadaksa seringkali tidak dapat berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan anak-anak seusianya, terutama dalam kelompok sosial yang sifatnya lebih resmi. Anak-anak seperti ini khususnya mereka yang karerna kondisinya harus sering tinggal dirumah, menunjukkan kebutuhan untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya yang tidak tuna. Apabila mereka terlalu lama harus beristirahat di dalam rumah, maka anak ini akan mengalami deprivasi dan isolasi dari teman-teman sekolahnya. Ketika mereka kembali ke sekolah, mereka merasakan kecemasan terhadap cara teman-teman dalm memperlakukan mereka, menerima dan berintegrasi dengan mereka (Somantri, 2006:131-133).

9. Tunaganda (Multiple Handicapped)

Menurut Delphie (2006:136), mengemukakan bahwa tunaganda adalah:

mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neorologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti inteligensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat.

Walker, (Delphie, 2006:138) berpendapat mengenai “tunaganda ataumultihandicapped” sebagai berikut:

a. Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus.

b. Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi.

c. Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi-metode secara khusus

10. Anak berbakat (Giftedness and Special Talents)

Kitano (Somantri, 2006:170) mengemukakan bahwa pengertian anak berbakat sebagai berikut:

Anak berbakat secara intelektual menunjukkan kemampuan berpikir analitis, integratif, dan evaluatif, berorientasi pemecahan masalah, kemampuan non verbal yang tinggi, serba ingin sempurna (perfectionis), memiliki cara lain dalam memahami dan mengolah informasi, memiliki fleksibilitas berpikir, berkemampuan melahirkan gagasan dan pemecahan orisinal, berorientasi evaluatif baik terhadap dirinya maupun orang lain, dan secara persisten berperilaku terarah kepada tujuan, menunjukkan motivasi dan kompetisi tinggi untuk berprestasi yang baik.

Treffinger, (Somantri, 2006:170) mengemukakan sejumlah karekteristik unik anak berbakat ialah bahwa anak berbakat memiliki karakteristik berikut:

a. Rasa ingin tahu yang tinggi(Curiosity). b. Berimajinasi(Imagination).

c. Produktif(Productivity).

d. Independen dalam berpikir dan menilai(Independen in thought and judgment).

e. Mau mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan informasi dan mewujudkan ide-ide(Extensive fund of information and ideas). f. Memiliki ketekunan(Persistence).

g. Bersikukuh dalam menyelesaikan masalah (Commitment to solving problems).

h. Berkonsentrasi ke masa depan dan hal-hal yang belum diketahui (Concern with the future and the unknown), tidak hanyut pada masa lalu, terpaku hari ini, atau cepat puas pada hal-hal yang sudah diketahui(not merely with the past, the present, or the known).

Anak berbakat seingkali menunjukkan harapan yang tinggi terhadap dirinya maupun orang lain, dan karena harapan ini tidak disertai dengan kesadaran diri, maka tidak jarang membawa dirinya menjadi frustasi teradap dirinya, terhadap orang lain, dan terhadap situasi. Dalam kondisi seperti ini maka tampak perkembangan emosi yang tidak stabil dan sulit menyesuaikan diri. Motivasi dan daya saing yang kuat, hasrat ingin tahu yang besar, dan minat eksplorasi yang tiada berujung pada anak berbakat, mungkin menimbulkan keirian mereka terhadap gurunya karena gurunya dirasakan tidak memahami kebutuhannya. Akibatnya mereka memiliki gambaran diri terlalu tinggi, lalu menganggap benar pendapat sendiri yang dapat menumbuhkan kesan bersikap angkuh dan sombong. Kecenderungan ini akan menimbulkan masalah sosial dan penyesuaian diri bagi anak berbakat (Somantri, 2006:175).

Dokumen terkait