2 ³ 3 Good Corporate Governance (GCG)
2.3.1 Pengertian dan Konsep Good Corporate Governance (GCG)
Corporate Governance timbul karena kepentingan perusahaan untuk memastikan kepada pihak penyandang dana (principal/investor) bahwa dana
yang ditanamkan digunakan secara tepat dan efisien (Setyapurnama dan
Norpratiwi 2007). Tanpa adanya penerapan corporate governance yang efektif, perbankan syariah akan sulit untuk bisa memperluas jaringan, meningkatkan
skim pembiayaan syariahnya dan menunjukkan kinerjanya dengan lebih efektif
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/33/PBI/2009 tentang
Pelaksanaan GCG bagi bank umum syariah dan unit usaha syariah, Good Corporate Governance yang selanjutnya disebut GCG adalah suatu tata kelola Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas
(accountability), pertanggungjawaban (responsibility), profesional (professional),
dan kewajaran (fairness). Sedangkan Forum for Corporate Governance in Indonesia(FCGI 2001) mendefiniskanCorporate Governancesebagai berikut:
Seperangkatperaturan yang mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan Corporate Governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan(stakeholders).
Hasan (Saptia 2012) mendefinisikan corporate governance dalam perspektif Islam sebagai sistem yang mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan dengan mengupayakan tercapaianya tujuan perusahaan melalui
perlindungan atas hak dan kepentingan semua stakeholder.
Salah satu bagian terpenting dalam GCG di perbankan adalah komitmen
penuh dari seluruh jajaran pengurus bank hingga pegawai yang terendah untuk
melaksanakan ketentuan tersebut. Oleh karena itu seluruh karyawan wajib untuk
menjunjung tinggi prinsip GCG yang menganut prinsip keterbukaan
(transparency), memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan
ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values, sasaran usaha dan strategi bank sebagai pencerminan akuntabilitas bank (accountability), berpegang
yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank (responsibility), objektif dan
bebas dari tekanan pihak manapun dalam pengambilan keputusan
(independency), serta senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh
stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (fairness) atau biasa disingkat dengan TARIF (Komite Nasional KebijakanGovernance, 2006).
Lebih lanjut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menjelaskan bahwa dalam hubungan dengan prinsip tersebut bank perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Keterbukaan (Transparency)
a. Bank harus mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai,
jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh
stakeholderssesuai dengan haknya.
b. Informasi yang harus diungkapkan meliputi tapi tidak terbatas pada
hal-hal yang bertalian dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi
perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus,
pemegang saham pengendali, cross shareholding, pejabat eksekutif, pengelolaan risiko (risk management), sistem pengawasan dan pengendalian intern, status kepatuhan, sistem dan pelaksanaanGCG serta kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi bank.
c. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh bank tidak mengurangi kewajiban
untuk memenuhi ketentuan rahasia bank sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
berkepentingan (stakeholders) dan yang berhak memperoleh informasi
tentang kebijakan tersebut.
2. Akuntabilitas (Accountability)
a. Bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing
organ organisasi yang selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi
perusahaan.
b. Bank harus meyakini bahwa semua organ organisasi bank mempunyai
kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya dan memahami perannya
dalam pelaksanaan GCG.
c. Bank harus memastikan terdapatnya check and balance system dalam
pengelolaan bank.
d. Bank harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan
ukuran-ukuran yang disepakati konsisten dengan nilai perusahaan
(corporate values), sasaran usaha dan strategi bank serta memiliki rewards and punishment system.
3. Tanggung Jawab(Responsibility)
a. Untuk menjaga kelangsungan usahanya, bank harus berpegang pada
prinsip kehati-hatian (prudential banking practices) dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku.
b. Bank harus bertindak sebagai good corporate citizen (perusahaan yang baik) termasuk peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan tanggung
4. Independensi(Independency)
a. Bank harus menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh
stakeholder manapun dan tidak terpengaruh oleh kepentingan sepihak serta bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest).
b. Bank dalam mengambil keputusan harus obyektif dan bebas dari segala
tekanan dari pihak manapun.
5. Kewajaran(Fairness)
a. Bank harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (equal treatment).
b. Bank harus memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan
bank serta mempunyai akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip
keterbukaan.
Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang
transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin
bagus semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai
aktivitas sosialnya (Anggraini 2006). Berikut adalah manfaat yang diperoleh
apabila menerapkan GCG, yaitu:
1. Mengurangiagency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.
Biaya-biaya ini dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai
akibat penyalahgunaan wewenang (wrong doing), ataupun berupa biaya
2. Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari
pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana
atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring
dengan turunnya tingkat resiko perusahaan.
3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra
perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.
4. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan
berbagaistrategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya
mereka mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal
dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran
dan kesejahteraan (www.madani-ri.com).
Manfaat GCG bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga dalam jangka
panjang. FCGI (2001) juga menjelaskan manfaat yang akan diperoleh apabila
menerapkan GCG, yaitu:
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan
keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan
serta lebih meningkatkan pelayanan kepadastakeholders.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga
dapat lebih meningkatkancorporate value.
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena
sekaligus akan meningkatkanshareholders valuedan dividen. 2´µ´¶ ·¸¹ º» ¸»¼ ½¾¿ ÀGood Corporate Governance(GCG)
Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh pemangku kepentingan turut
berpartisipasi. Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) yang diawal tahun 2005 di ubah menjadi Komite Nasional KebijakanGovernance telah menerbitkan pedoman GCG pada bulan Maret 2011 (Kaihatu 2006).
KNKCG berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia
mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan standar GCG yang telah
diterapkan di tingkat internasional. Namun, walau menyadari pentingnya GCG,
banyak pihak yang melaporkan masih rendahnya perusahaan yang menerapkan
prinsip tersebut. Masih banyak perusahaan menerapkan prinsip GCG karena
dorongan regulasi dan menghindari sanksi yang ada dibandingkan yang
menganggap prinsip tersebut sebagai bagian dari kultur perusahaan. Selain itu,
kewajiban penerapan prinsip GCG seharusnya mempunyai pengaruh yang positif
terhadap kualitas laporan keuangan yang dipublikasikan.
Perbankan Syariah memiliki peraturan tersendiri mengenai pelaksanaan
good corporate governance, yaitu Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 11/33/PBI/2009. Terbitnya peraturan ini diharapkan mampu memperkuat industri
perbankan syariah menjadi industri yang sehat dan tangguh. Kemudian peraturan
ini juga memperjelas bahwa pelaksanaan GCG di dalam industri perbankan
syariah berbeda dengan pelaksanaan GCG di perbankan konnvensional, dimana
Compliance). Dengan dilaksanakannya GCG di perbankan syariah diharapkan mampu melindungi kepentingan stakeholders dan meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku secara umum pada industri
perbankan syariah.
Menurut Choudhury dan Hoque (Saptia 2012), terdapat empat prinsip dan
instrumen yang mengatur tata kelola perusahaan, yaitu Tauhid melalui (1) proses
interaktif, integratif dan evolusi untuk berinteraksi dengan faktor lingkungan; (2)
prinsip keadilan; (3) prinsip sumber daya yang produktif dalam sosial; dan (4)
prinsip kegiatan ekonomi.
Isfandayani (2012) menyatakan bahwa GCG mempunyai pilar-pilar
mekanisme supaya sistem GCG efektif. Pilar-pilar tersebut adalah:
a. Peran dan tanggung jawab DPS harus dioptimalkan untuk memberikan
keyakinan bahwa seluruh transaksi yang dilakukan oleh perusahaan tidak
melanggar kaidah-kaidah syariah.
b. Bank syariah harus memiliki sistem pengawasan internal dan manajemen
resiko yang tangguh untuk mendeteksi dan menghindari terjadinya salah
kelola dan penipuan maupun kegagalan sistem dan prosedur pada bank
syariah.
c. Dalam konteks syariah, auditor eksternal tidak saja berperan untuk
memberikan opini bahwa laporan keuangan bank telah disajikan secara wajar
sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Auditor eksternal juga harus
internal untuk mendapatkan keyakinan bahwa penyajian laporan keuangan
telah memiliki tingkat pengungkapan dan transparansi yang memadai.
d. Transformasi budaya korporasi yang Islami dan peningkatan kualitas SDM
harus menjadi komitmen bagi manajemen bank syariah.
e. Perangkat hukum dan peraturan Bank Indonesia dan pasar modal yang sesuai
dengan karakteristik bank syariah menjadi prasyarat guna terciptanya iklim
pengawasan dan GCG yang sehat bagi perbankan syariah.
Mustapha dan Salleh (Saptia 2012) menyatakan bahwa konsep corporate governance dalam perspektif Islam lebih menekankan pada tiga prinsip governance yang paling utama, yaitu adanya akuntabilitas, transparansi dan kepercayaan dalam tata kelola perusahaan.
2
Á4
ÂÃÄÅÆÇÈ ÉÊ ËÅÌÊËBerdasarkan Peraturan Bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009, dewan
komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara
umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta member nasihat
kepada direksi sebagaimana dimaksud dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang
perseroan terbatas.
Komposisi anggota dewan komisaris harus sedemikian rupa sehingga
memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif tepat dan cepat serta dapat
bertindak independen dalam arti tidak mempunyai kepentingan yang dapat
mengganggu kemampuannya untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri dan
Dewan komisaris memiliki wewenang untuk mengawasi dan memberikan
petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan. Dengan wewenang yang
dimiliki, dewan komisaris dapat memberikan pengaruh yang cukup kuat untuk
menekan manajemen untuk mengungkapkan CSR. Dengan mengungkapkan
informasi sosial perusahaan, image perusahaan akan semakin baik (Gray et al., dalam Anggraini 2006).
Terdapat dua sistem manajemen yang membedakan mekanisme
pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris yaitu (FCGI, 2001):
1. Sistem Satu Tingkat atauOne Tier System.
Sistem ini berasal dari sistem hukum anglo saxon, dalam sistem ini perusahaan hanya mempunyai satu Dewan Direksi yang pada umumnya
merupakan kombinasi antara manajer atau pengurus senior (Direktur
Eksekutif) dan Direktur Independen yang bekerja dengan paruh waktu
(Non Direktur Eksekutif). Negara-negara yang menganutOne Tier System adalah Amerika Serikat dan Inggris.
ÍÎ ÏÐÎÑ2ÒÓStrukturBoard of DirectorsdalamOne Tier System Sumber : FCGI
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
DEWAN DIREKSI DIREKTUR
EKSEKUTIF
DIREKTUR NON-EKSEKUTIF
2. Sistem Dua Tingkat atauTwo Tier System.
Sistem ini berasal dari sistem hukum kontinental Eropa. Dalam sistem ini
perusahaan mempunyai dua badan terpisah, yaitu Dewan Pengawas
(Dewan Komisaris) dan Dewan Manajemen (Dewan Direksi). Anggota
Dewan Direksi diangkat dan setiap waktu dapat diganti oleh badan
pengawas (Dewan Komisaris). Dewan Komisaris terutama
bertanggungjawab untuk mengawasi tugas-tugas manajemen.
Negara-negara yang menganut sistem ini adalah Denmark, Jerman, Belanda,
Jepang dan Indonesia.
ÔÕ Ö×ÕØ2Ù2StrukturTwo Tiers Systemyang Berkembang di Indonesia Sumber : FCGI
Dewan Komisaris memegang peranan yang sangat penting dalam
perusahaan, terutama dalam pelaksanaan Good Corporate Governance. Dewan Komisaris merupakan suatu mekanisme mengawasi dan mekanisme untuk
memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan. Tugas-tugas utama
Dewan Komisaris (www.cic-fcgi.org) meliputi:
1. Menilai dan mengarahkan strategi perusahaan, garis-garis besar rencana
kerja, kebijakan pengendalian risiko, anggaran tahunan dan rencana usaha;
menetapkan sasaran kerja; mengawasi pelaksanaan dan kinerja perusahaan; Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Dewan Komisaris
Dewan Direksi
serta memonitor penggunaan modal perusahaan, investasi dan penjualan aset.
Tugas ini terkait dengan peran dan tanggung jawab, serta mendukung usaha
untuk menjamin penyeimbangan kepentingan manajemen (accountability);
2. Menilai sistem penetapan penggajian pejabat pada posisi kunci dan
penggajian anggota Dewan Direksi, serta menjamin suatu proses pencalonan
anggota Dewan Direksi yang transparan (transparency) dan adil (fairness);
3. Memonitor dan mengatasi masalah benturan kepentingan pada tingkat
manajemen, anggota Dewan Direksi dan anggota Dewan Komisaris, termasuk
penyalahgunaan aset perusahaan dan manipulasi transaksi perusahaan. Tugas
ini untuk memberikan perlindungan hak-hak para pemegang saham
(fairness);
4. Memonitor pelaksanaan governance, dan mengadakan perubahan di mana perlu, komisaris independen harus melaksanakan transparansi dan
pertanggung jawaban (responsibilitiy) atas hal ini;
5. Memantau proses keterbukaan dan efektifitas komunikasi dalam perusahaan
(OECD Principles of Corporate Governance). Proses keterbukaan (transparency) ini untuk menjamin tersedianya informasi yang tepat waktu
dan jelas.
Secara umum dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas
pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Hal ini
penting mengingat adanya kepentingan dari manajemen untuk melakukan
manajemen laba yang berdampak pada berkurangnya kepercayaan investor. Untuk
informasi perusahaan. Dewan komisaris tidak memiliki otoritas dalam
perusahaan, maka dewan direksi bertanggung jawab untuk menyampaikan
informasi terkait dengan perusahaan kepada dewan komisaris (KNKG 2006).
Berdasarkan UU Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007, pasal 108 ayat (5)
dijelaskan bahwa bagi perusahaan berbentuk perseroan terbatas, maka wajib
memiliki paling sedikitnya 2 (dua) anggota Dewan Komisaris. Maka, jumlah
dewan komisaris dalam tiap perusahaan berbeda-beda jumlahnya karena harus
menyesuaikan dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan
efektivitas dalam pengambilan keputusan.
Dewan komisaris ada dua jenis yaitu komisaris independen dan komisaris
non-independen. Komisaris independen merupakan komisaris yang tidak berasal
dari pihak terafiliasi, sedangkan komisaris non-independen merupakan komisaris
yang terafiliasi. Yang dimaksud dengan terafiliasi adalah pihak yang mempunyai
hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali, anggota
Direksi dan Dewan Komisaris lain, serta dengan perusahaan itu sendiri. Mantan
anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang terafiliasi serta karyawan perusahaan,
untuk jangka waktu tertentu termasuk dalam kategori terafiliasi (KNKG 2006).
Menurut peraturan Pencatatan Nomor IA tentang Ketentuan Umum
Pencatatan Efek bersifat Ekuitas di bursa yaitu jumlah komisaris independen
minimum 30%. Lebih lanjut dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan
perusahaan yang baik (good corporate governance), perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen yang jumlahnya proporsional sebanding dengan
ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30% dari jumlah
seluruh anggota komisaris.
Beberapa peneliti terdahulu menyertakan variabel dewan komisaris dalam
penelitiannya. Sembiring (2005) yang melakukan penelitian mengenai size, profile, profitabilitas, ukuran perusahaan, dewan komisaris, leverage terhadap praktek pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa dewan komisaris berpengaruh terhadap
pengungkapan sosial. Utami (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh
ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, kepemilikan institusional,
kepemilikan asing, dan umur perusahaan terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di bursa efek indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewan komisaris berpengaruh terhadapcorporate social responsibility disclosure.Nurkhin (2009) meneliti mengenai pengaruh corporate governance dan profitabilitas terhadap pengungkapan CSR. Penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi dewan komisaris, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan terbukti berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dewan komisaris
memiliki peran yang penting karena bertugas mengawasi perusahaan dan
menyampaikan semua informasi kepada stakeholders, termasuk informasi pengungkapan tanggung jawab sosial. Terkait dengan pengungkapan informasi
oleh perusahaan, semakin besar ukuran dewan komisaris, maka pengawasan akan
ISR akan semakin luas karena dapat meminimalisir informasi yang mungkin dapat
disembunyikan oleh manajemen.