• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Konsep Profitabilitas Perusahaan

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : FITRI HARDIANTI (Halaman 34-42)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

J. Pengertian dan Konsep Profitabilitas Perusahaan

Tujuan utama umum perusahaan adalah berupaya agar mampu mencapai tingkat profitable dari pengeloaan keuangan secara efektif dan efisien. Perusahaan dapat dikatakan profitable jika perusahaan yang bersangkutan mampu pengelolaan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien yang menghasilkan profit yang diharapkan.

Demikian sebaliknya suatu perusahaan tidak profitable jika tidak mampu mengelolah sumber daya yang dimiliki secara tepat dalam menghasilkan tingkat profit yang diharapkan. Terkait dengan kemampuan perusahaan menghasilkan tingkat profitabilitas dapat diketahui melalui penggunaan rasio keuangan sebagai alat analisis laporan keuangan perusahaan.

Sejalan dengan hal tersebut Brigham dan Houston (2011:197) menyatakan bahwa profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Sejalan dengan Sartono (2001:119), bahwa: profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisa profitabilitas ini. Selanjutnya John (2005), bahwa: Rasio profitabilitas merupakan perbandingan antara laba perusahaan dengan investasi atau ekuitas yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Harahap (2004:149) menyatakan bahwa “rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya”. Berdasarkan pendapat tersebut disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menciptakan laba dengan menggunakan modal yang cukup tersedia.

Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam mencari keuntungan dari penggunaan modalnya. Menurut Martono dan Harjito (2001:18) menambahkan bahwa, “profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut”. Dari pendapat tersebut disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menciptakan laba dengan menggunakan modal yang cukup tersedia. Kinerja manajerial dari setiap perusahaan akan dapat dikatakan baik apabila tingkat profitabilitas perusahaan yang dikelolanya tinggi ataupun dengan kata lain maksimal, dimana profitabilitas ini umumnya selalu diukur dengan membandingkan laba yang diperoleh perusahaan dengan sejumlah perkiraan yang menjadi tolak ukur keberhasilan perusahaan. Adanya kemampuan memperoleh laba dengan menggunakan semua sumber daya perusahaan maka tujuan-tujuan perusahaan akan dapat tercapai. Penggunaan semua sumber daya tersebut akan memungkinkan perusahaan untuk memperoleh laba yang tinggi. Laba merupakan hasil dari pendapatan oleh penjualan yang dikurangi dengan beban.

Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Semakin tinggi profitabilitas perusahaan semakin tinggi efisiensi perusahaan tersebut dalam memanfaatkan fasilitas perusahaan. Menurut Kasmir (2008:196), “ Rasio profitabilitas

merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan ”. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini itu ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Pada dasarnya penggunaan rasio ini yakni menunjukkan tingkat efesiensi suatu perusahaan

Myers dan Majluf (1984: 79) berpendapat bahwa manajer keuangan yang menggunakan packing order theory dengan laba ditahan sebagai pilihan pertama dalam pemenuhan kebutuhan dana dan hutang sebagai pilihan kedua serta penerbitan saham sebagai pilihan ketiga, akan selalu memperbesar profitabilitas untuk meningkatkan laba. Profitability ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.

Berdasarkan pendapat tersebut, mengindikasikan bahwa pencapaian tingkat profitabilitas suatu perusahaan tidak terlepas dari kemampuan perusahaan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien dalam menjalankan aktifitasnya. Sementara profit itu sendiri tidak lain merupakan hasil yang dicapai dari kegiatan operasional perusahaan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Dengan kata lain analisis profititabilitas dalam suatu perusahaan sangat erat kaitannya dengan bagaimana pihak manajemen melakukan perencanaan, mengevaluasi, menganalisis, dan

mengambil kebijakan yang tepat berkaitan dengan sumber pembelanjaan perusahaan dengan berorientasi pada pencapaian laba maksimal.

Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menilai tingkat profitabilitasperusahaan tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang akan dibandingkan dari laba yang berasal dari opersai perusahaan atau laba netto sesudah pajak dengan modal sendiri. Dengan adanya berbagai cara dalam penilaian profitabilitas tidak menutup kemungkinan dapat terjadi perbedaan cara penilaian profitabilitas diantara perusahaan. Hal ini terletak pada tujuan penilaian profitabilitas mana yang akan digunakan oleh perusahaan. Namun demikian tujuan utama penggunaan rasio keuangan adalah sebagai alat mengukur efisiensi penggunaan modal di dalam perusahaan yang bersangkutan untuk suatu periode tertentu.

Beberapa rasio yang umum digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, diantaranya Sartono (2001) membagi ke dalam empat kelompok rasio, yaitu: rasio Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Equity,Return on Invesment.

Lebih jelasnya Sartono mengemukakan jenis-jenis rasio tersebut, sebagai berikut:

EBIT

1. Profit Margin= ————— Penjualan

EAT

2. Net Profit Margin = ———— Penjualan EAT 3. Return On Equity = ————— Modal Sendiri EAT 4. Return On Invesment = —————— Total Aktiva

Rasio profitabilitas disebut juga dengan rasio rentabilitas. Selanjutnya Hanafi dan Halim (2007,84) mengemukakan bahwa rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham. Ada tiga rasio yang dapat digunakan dalam rasio profitabilitas, yaitu rasio Profit Margin,Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE). Adapun Profit margin dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu, atau biaya yang tinggi untuk tingkat penjualan tertentu.

Petronila dan Maklasin (2003) mengemukakan bahwa profitabilitas merupakan gambaran kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan. Sementara Angg (1997) mengemukakan bahwa rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas sebagai keberhasilan dalam

menghasilkan keuntungan. Senada yang dikemukakan oleh Kusumawati (2005) bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa mendatang dan merupakan indikator dari keberhasilan operasi perusahaan.

Adapun penilaian profitabilitas menurut Horne dan John (2005) mengemukakan bahwa, rasio profitabilitas terdiri atas dua jenis yaitu, rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan (margin laba kotor dan margin laba bersih), dan profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi yaitu return on asset (ROA) return on equity (ROE). Selanjutnya Naim (1998) mengemukakan bahwa untuk mengukur tingkat profitabilitas dapat digunakan rasio return on invesment (ROI) yang biasa disebut juga dengan return on assets (ROA) dan return on equity (ROE).

Berkaitan dengan pengukuran profitabilitas dengan net profit margin (NPM), hasil penelitian Singhvi dan Desai (1997) menemukan bahwa semakin tingginya rasio profitabilitas perusahaan, menunjukkan semakin tingginya kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan semakin baik kinerja perusahaannya. Dengan laba yang tinggi perusahaan memiliki cukup dana untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan mengolah informasi menjadi lebih bermanfaat serta dapat menyajikan informasi yang lebih komprehensif. Oleh karena itu perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi akan lebih berani

mengungkapkan laporan. Dengan demikian semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka akan semakin tinggi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan. Selanjutnya Fitriany (2001) membuktikan bahwa variabel net profit margin mempunyai hubungan positif dengan kelengkapan pengungkapan. Jadi semakin tinggi net profit margin suatu perusahaan maka semakin tinggi indeks kelengkapan pengungkapannya (Dibiyantoro, 2011: 185). Hasil penelitian tersebut mengindikasikan adanya signalling berkaitan dengan kecenderungan pihak perusahaan menyediakan informasi keuangan perusahaan yang memberi sinyal profitabilitas kepada pihak investor dan mendukung keberlanjutan dan kompensasi manajemen (Malone et. al., 1993).

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : FITRI HARDIANTI (Halaman 34-42)

Dokumen terkait