• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : FITRI HARDIANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : FITRI HARDIANTI"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pada Program Studi S1 (Strata Satu) Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh :

FITRI HARDIANTI

10573 02571 11

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

(2)

rahmat dan taufik-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Skripsi ini berjudul Analisis Akuntansi Piutang terhadap Profitasbilitas pada PT Federal International Finance Cabang Gowa.

Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak terutama dari Dr. H. Rulliaty MM. dan Abd. Salam HB SE. M.Si, Ak. CA. Masing-masing sebagai Pembimbing I dan Pembimbing II, yang penuh dengan kesabaran telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan mulai penyusunan proposal hingga penyelesaian skripsi ini. Karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih.

Ucapan terima kasih pula penulis sampaikan kepada Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. H. Mahmud Nuhung. M.A., Dekan Fakultas Ekonomi, para Dosen dan Staf Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

Terkhusus, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada kedua orang tua atas dorongan dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Harapan penulis, semoga segala bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak mendapat pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Amin.

Makassar, Oktober 2015

(3)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan akuntansi piutang dalam usaha meningkatkan profitabilitas pada PT. Federal International Finance Cabang Gowa.

Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis rasio profitabilitas untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan.

Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan akuntansi piutang pada PT. FIF sudah dilakukan dengan benar berdasarkan jurnal pada akuntansi piutang yang ada.

(4)

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penulisan... 5

D. Manfaat Peneliian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6

A. Pengertian Akuntansi ... 6

B. Pengertian Piutang ... 10

C. Klasifikasi Piutang ... 11

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Piutang Tak Tertagih .. 12

E. Kebijakan Kredit ... 15

F. Biaya Atas Piutang ... 22

G. Rasio Keuangan ... 23

H. Akuntansi Piutang Usaha ... 24

I. Rasio yang Berhubungan dengan Piutang Dagang ... 26

J. Pengertian dan Konsep Profitabilitas Perusahaan ... 27

K. Kerangka Pikir ... 35

L. Hipotesis ... 35

BAB III METODE PENELITIAN... 36

(5)

A. Sejarah Berdirinya PT. Federal International Finance... 38

B. Visi dan Misi ... 40

C. Nilai dan Budaya ... 40

D. Stuktur Organisasi dan Job Description... 41

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Hasil Penelitian ... 45

B. Pembahasan ... 52

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 64

A. Kesimpulan ... 64

B. Saran ... 64 DAFTAR PUSTAKA

(6)
(7)
(8)

A. Latar Belakang Masalah

Piutang merupakan unsur yang sangat penting dan memerlukan kebijakan yang baik dari manajemen dalam pengolahannya. Karena selain dapat meningkatkan volume penjualan, piutang juga mengandung suatu resiko bagi perusahaan, yaitu resiko kerugian piutang seperti telatnya konsumen membayar hingga lebih dari beberapa bulan, dan akan mengakibatkan perputaran piutang yang besar atau pendapatan yang tidak sesuai dengan transaksi penjualan jasa bagi perusahaan dan tentu saja akan berdampak bagi pendapatan usaha yang menjadi rendah dan mengakibatkan kinerja perusahaan menurun.

Perputaran piutang merupakan hubungan antara penjualan kredit dan piutang usaha. Dalam hal ini piutang usaha adalah tuntutan (claims) terhadap pihak tertentu yang penyelesaiannya diharapkan dalam bentuk Kas selama kegiatan normal perusahaan. Klaim timbul karena berbagai sebab. misalnya penjualan secara kredit, pemberian pinjaman kepada karyawan, porsekot dalam kontrak pembelian, porsekot kepada karyawan, dll. Tidak semua klaim tersebut di sebut sebagai piutang.

Piutang merupakan salahsatu informasi yang sangat penting bagi perusahaan. Piutang diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, sehingga hal yang kompleks ini seringkali menjadikan asumsi bahwa pencatatan untuk piutang adalah rumit. Dianggap rumit karena begitu banyak metode yang

(9)

dapat digunakan untuk mencatat transaksi yang berhubungan dengan piutang tersebut.

Pada umumnya tujuan suatu perusahan ditinjau dari sudut pandang ekonomi adalah untuk memperoleh keuntungan (profit oriented), menjaga kelangsungan hidup, dan kesinambungan operasi perusahaan, sehingga mampu berkembang menjadi perusahaan yang besar dan tangguh. Kesuksesan perusahaan dalam bisnis hanya bisa dicapai melalui pengelolaan yang baik, khususnya pengelolaan manajemen keuangan sehingga modal yang dimiliki bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam mengelola manajemen keuangan, khususnya mengenai piutang dagang perlu direncanakan dan dianalisa secara seksama, sehingga kebijakan manajemen piutang dagang dapat berjalan secara efektif dan efisien, baik mengenai prosedur piutang, penagihan piutang, penjualan kredit dan masalah piutang lainnya.

Secara umum piutang timbul karena adanya transaksi penjualan barang atau jasa secara kredit. Ditengah persaingan bisnis yang ketat perusahaan dituntut untuk mampu meraih posisi pasar, sehingga perusahaan perlu melakukan strategi penjualan secara kredit, agar jumlah penjualan meningkat. Namun, konsekuensi dari kebijakan tersebut dapat menimbulkan peningkatan jumlah piutang, piutang tak tertagih dan biaya-biaya lainnya yang muncul seiring dengan peningkatan jumlah piutang.

Piutang merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang tercantum dalam neraca. Di dalam piutang tertanam sejumlah investasi perusahaan

(10)

yang tidak terdapat pada aktiva lancar lainnya. Untuk itu pengelolaan piutang memerlukan perencanaan yang matang, mulai dari penjualan kredit yang menimbulkan piutang sampai menjadi kas. Investasi yang terlalu besar dalam piutang bisa menimbulkan kecil atau lambatnya perputaran modal kerja, sehingga semakin kecil pula kemampuan perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan. Akibatnya semakin kecilnya kesempatan yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau laba.

Peningkatan piutang yang diiringi oleh meningkatnya piutang tak tertagih perlu mendapat perhatian. Untuk itu sebelum suatu perusahaan memutuskan melakukan penjualan kredit, maka terlebih dahulu diperhitungkan mengenai jumlah dana yang diinvestasikan dalam piutang, syarat penjualan dan pembayaran yang diinginkan, kemungkinan kerugian piutang (piutang tak tertagih) dan biaya-biaya yang akan timbul dalam menangani piutang.

Oleh karena itu, pengendalian terhadap piutang merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan oleh perusahaan. Sistem pengendalian piutang yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kebijakan penjualan secara kredit. Demikan pula sebaliknya, kelalaian dalam pengendalian piutang bisa berakibat fatal bagi perusahaan, misalnya banyak piutang yang tak tertagih karena lemahnya kebijakan pengumpulan dan penagihan piutang.

(11)

Selain hal tersebut yang menjadi alasan penulis untuk mengambil judul tersebut yaitu pentingnya profitabilitas dapat dilihat dengan mempertimbangkan dampak yang berasal dari ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kurangnya profitabilitas menghalangi perusahaan memperoleh keuntungan dari diskon atau kesempatan mendapatkan keuntungan. Bagi kreditor perusahaan, kurangnya profitabilitas dapat menyebabkan penundaan pembayaran bunga dari pokok pinjaman atau bahkan tidak dapat ditagih sama sekali.

Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka penulis akan melakukan penelitian yang berjudul: “Analisis Akuntansi Piutang Terhadap Profitabilitas pada PT. Federal International Finance Cabang Gowa”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan penulis kaji dan teliti dalam penelitian ini adalah “bagaimana pelaksanaan akuntansi piutang dalam meningkatkan profitabilitas pada PT.Federal International Finance Cabang Gowa”.

(12)

C. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui pelaksanaan akuntansi piutang dalam usaha meningkatkan profitabilitas pada PT.Federal International Finance Cabang Gowa”.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam menerapkan sistem pengendalian piutang.

2. Sebagai referensi untuk penelitian berikutnya dalam memenuhi dan lengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Akuntansi

Akuntansi seringkali dinyatakan sebagai bahasa perusahaan yang berguna untuk memberikan informasi yang berupa data-data keuangan perusahaan yang dapat digunakan guna pengambilan keputusan. Setiap perusahaan memerlukan dua macam informasi tentang perusahaannya yaitu informasi mengenai nilai perusahaan dan informasi tentang laba/rugi usaha.

Akuntansi dapat didefinisikan dari dua sudut pandang, yaitu definisi dari sudut pemakai jasa akuntansi dan dari sudut proses kegiatannya. Dari sudut pandang pemakai, akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin ilmu yang menyediakan informasi berupa pelaporan keuangan yang diperlukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan mengenai kegiatan ekonomi dan kondisi perusahaan. Dalam pengertian ini, akuntansi adalah suatu aktivitas jasa yang berfungsi untuk menyediakan informasi kuantitatif entitas ekonomi (usaha) terutama yang bersifat keuangan dan dimaksudkan untuk berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi, dan dalam menentukan pilihan di antara serangkaian tindakan-tindakan alternatif yang ada.

Berhubung luasnya defenisi tentang akuntansi, maka sampai saat ini belum ada defenisi yang paling tepat. Namun demikian akan dikutip pendapat Accounting Principle Board (APB) dalam statement No. 4, yang

(14)

dikutip oleh Winwin Yadiati (2007:1) dalam buku Teori Akuntansi Suatu Pengantar, mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:

“Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa yang fungsinya adalah untuk memberikan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat financial, tentang entitas-entitas ekonomi yang dianggap berguna dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi, dalam penentuan pilihan-pilihan logis diantara tindakan-tindakan alternative.”

Paul Grady dalam ARS No. 7 (2007:1) lebih lanjut mengemukakan bahwa akuntansi adalah sebagai berikut:

“Suatu perangkat pengetahuan serta fungsi organisasi yang secara sistematik dan orisinal, mencatat, mengklasifikasikan, memproses, mengikhtisarkan, menganalisis, menginterpretasikan seluruh transaksi dan kejadian serta karakter keuangan yang terjadi dalam operasi entitas akuntansi dalam rangka menyediakan informasi yang berarti yang dibutuhkan manajemen sebagai laporan dan pertanggungjawaban atas kepercayaan yang diterimanya.”

Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi bertujuan untuk memberikan informasi kuantitatif yang menghimpun fungsi mencatat, mengklasifikasikan, memproses, menganalisis serta menginterpretasikan informasi keuangan kepada pihak yang membutuhkan laporan dalam rangka mengambil keputusan-keputusan ekonomi.

Selanjutnya menurut Sawyer (2005:80) Akuntansi adalah sarana yang sangat penting untuk control keuangan pada aktivitas dan sumber daya.

Sedangkan menurut AICPA, dalam buku Pengantar Teori Akuntansi dan Proses Akuntansi (2008:5) mendefinisikan Akuntansi

(15)

adalah seni daripada pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.

Sebuah batasan lain yang dikemukakan oleh Hadibroto S (2000:2) dalam bukunya Dasar-Dasar Akuntansi mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:

“Akuntansi adalah keseluruhan pengetahuan dan fungsi yang berhubungan dengan penciptaan, pengesahan, pencatatan, pengelompokan, pengolahan, penyimpulan, penganalisaaan, penafsiran dan penyajian informasi yang dapat dipercaya dan penting artinya secara sistematis mengenai transaksi -transaksi yang setidak–tidaknya bersifat finansial yang diperlukan pimpinan dan operasi yang harus diajukan mengenai hal tadi, guna memenuhi pertanggungjawaban yang bersifat keuangan atau lainnya”.

Defenisi tersebut di atas maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pengertian akuntansi termasuk fungsi pencatatan, disamping mencakup fungsi-fungsi lainnya yang menjadi sarana penting dalam control keuangan. Begitu pula akuntansi dalam defenisi tersebut di atas dapat ditarik sebagai keseluruhan pengetahuan yang bersifat lebih luas dari pada teknik pencatatan semata-mata inti dari sistem akuntansi adalah memungkinkan penyediaan informasi yang bersifat finansial kepada siapa saja yang memerlukan informasi.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka akuntansi memerlukan bermacam-macam teknik antara lain teknik pencatatan, teknik pengawasan, tekhnik penyajian laporan keuangan, tekhnik hasil

(16)

pemeriksaan, dan sebagainya, sehingga data disajikan sebagai bahan informasi dan merupakan data yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dari fungsi akuntansi yang terdapat dari pengertian tersebut sangatlah berguna bagi suatu perusahaan dan juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Hal ini difokuskan pada perusahaan itu sendiri dalam menyediakan informasi yang bersifat kuantitatif tertentu yang dapat digunakan oleh pimpinan perusahaan yang bersangkutan maupun pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut di atas guna pengambilan keputusan tentang kegiatan operasional perusahaan yang telah diambil itu pada dasarnya bersifat ekonomis. Jadi fungsi akuntansi yang bersifat peringkasan, pencatatan, pengelompokan, penafsiran dan ikhtisar dalam bentuk pelaporan keuangan akan sangat bergantung pada cara penggolongan transaksi-transaksi yang sejenis pada suatu kelompok tertentu dalam laporan keuangan itu.

Dengan demikian pengertian akuntansi yang telah dikemukakan tersebut pada hakekatnya bahwa akuntansi itu sendiri bukanlah merupakan suatu tujuan utama, tetapi hanya sebagai alat untuk berkomunikasi tentang data keuangan suatu perusahaan atau suatu unit kegiatan ekonomi kepada mereka yang berkepentingan agar informasi-informasi akuntansi bermanfaat bagi mereka, maka dalam melaksanakan akuntansi harus dipahami tentang informasi-informasi apa yang diinginkan oleh pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan yang telah disajikan oleh perusahaan tersebut.

(17)

B. Pengertian Piutang

Penerapan sistem penjualan secara kredit yang dilakukan perusahaan merupakan salah satu usaha perusahaan dalam rangka meningkatkan volume penjualan. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan apa yang disebut dengan piutang, sehingga dengan kata lain piutang timbul karena perusahaan menerapkan sistem penjualan secara kredit.

Dalam berbagai refrensi piutang sering juga diartikan tagihan kepada pihak lain (debitur) atau pelanggan sebagai akibat dari penjualan barang-barang atau jasa-jasa yang dilakukan secara kredit atau memberikan pinjaman kepada karyawan, memberi uang muka pada anak perusahaan, atau penjualan aktiva tetap. Atau secara singkat, piutang merupakan tuntutan perusahaan kepada pihak lain, dimana pihak yang dituntut wajib memenuhi kewajibannya sesuai dengan syarat-syarat yang telah disetujui bersama. Sebagai bentuk klaim yang ditujukan kepada pihak lain sebagai hasil dari transaksi untuk tujuan akuntansi.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa piutang antara lain merupakan semua tuntutan terhadap langganan baik berbentuk perkiraan uang, barang maupun jasa dan segala bentuk perkiraan seperti transaksi. Penjualan secara kredit menimbulkan hak bagi perusahaan yang melakukan penagihan pada langganannya, dimana

(18)

hal itu ditentukan oleh persyaratan yang telah disepakati bersama pada saat melakukan transaksi.

Menurut Munir (2005, 15) lebih mengkhususkan definisi piutang pada piutang dagang: ”piutang dagang adalah tagihan kepada pihak lain (kepada kreditur atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagang secara kredit”. Jadi, piutang dapat diartikan bahwa perusahaan memiliki hak penagihan terhadap pihak lain yang menjadi langganannya dan mengharap pembayaran dari mereka agar memenuhi kewajiban terhadap perusahaan.

C. Klasifikasi Piutang

Pengklasifikasian piutang dilakukan untuk memudahkan pencatatan transaksi. Berikut klasifikasi piutang menurut para ahli :

Menurut Keiso, Weygandt, Warfield (2008:346), dalam oleh Emil Salim piutang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Piutang lancar (piutang jangka pendek) b. Piutang tak lancar (piutang jangka panjang).

Menurut Michell Suherli, (2006 :202) klasifikasi piutang sebagai berikut : 1. Piutang Usaha

2. Wesel tagih 3. Piutang Lain-lain Berikut ini uraian atas :

1. Piutang dagang adalah jumlah piutang dari pelanggan yang terjadi karena penjualan barang atau jasa. Umumnya piutang dagang

(19)

memiliki jangka waktu pelaksanaan 30-60 hari. Dokumen pendukung piutang dagang biasanya berupa dokumen jual beli : faktur penjualan dan surat pengiriman tanpa perjanjian tertulis dari yang berhutang. 2. Piutang wesel adalah surat pernyataan yang berhutang atau janji

pelunasan secara tertulis. Wesel tagih biasanya memberi jangka waktu 60-90 hari atau lebih lama serta menuntut debitur membayar bunga atas wesel tersebut.

3. Piutang lainnya adalah piutang yang berasal dari bukan pelanggan. Contohnya piutang bunga, piutang karyawan, piutang deviden dan piutang pemegang saham. Piutang jenis ini belum tentu memiliki tanggal jatuh tempo yang ditetapkan.

Berdasarkan pendapat diatas maka, dapat disimpulkan bahwa piutang mempunyai beberapa jenis diantaranya piutang usaha, piutang wesel dan piutang lain-lain.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Piutang Tak Tertagih Piutang adalah salah satu unsur aktiva lancar dalam neraca yang memiliki perputaran yang cepat (kurang dari 1 tahun). Sebagai salah satu bentuk investasi yang tak berbeda dengan investasi kas, persediaan dan lain-lain, maka dengan adanya piutang perusahaan harus menyediakan dana untuk diinvestasikan ke dalam piutang.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dana yang diinvestasikan dalam piutangsebagai berikut;

(20)

1. Volume Penjualan Kredit

Semakin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan akan memperbesar jumlah investasi dalam piutang. Dengan demikian, makin besar volume penjualan kredit setiap tahunnya berarti bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang. Makin besar jumlah piutang berarti makin besar resiko tidak tertagihnya piutang, tetapi bersamaan dengan itu juga memperbesar profitabilitasnya.

2. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit

Syarat Pembayaran Penjualan Kredit dapat bersifat ketatatau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat, berarti perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit dari pada pertimbangan profitabilitasnya. Syarat pembayaran lebih ketat misalnya dalam bentuk batas waktu pembayaran yang pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.

3. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit.

Dalam penjualan kredit, perusahaan dapat menetapkan batas maksimal kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi batas maksimal kredit yang ditetapkan bagi masing-masing langganan, berarti makin besar pula dana yang diinvestasikan dalam piutang. Demikian pula ketentuan mengenai siapa yang dapat diberi kredit. Makin selektif para langganan yang dapat diberi kredit, akan

(21)

memperkecil jumlah investasi dalam piutang. Ketentuan dapat bersifat kuantitatif berupa batas maksimum kredit, dan dapat juga bersifat kualitatif berupa ketentuan mengenai siapa yang dapat diberi kredit. 4. Kebijaksanaan dalam Pengumpulan Piutang

Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam pengumpulan piutang secara aktif atau pasif. Perusahaan yang melakukan kebijaksanaan secara aktif, maka perusahaan harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang, tetapi dengan menggunakan cara ini, maka piutang yang ada akan cepat tertagih sehingga akan lebih memperkecil jumlah piutang perusahaan. Sebaliknya, jika perusahaan menggunakan kebijaksanaan secara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama, sehingga jumlah piutang perusahaan akan lebih besar.

5. Kebiasaan Membayar dari Para Langganan

Langganan yang memiliki kebiasaan membayar dengan memanfaatkan cash discount bisa mengakibatkan semakin kecilnya investasi dalam piutang dibandingkan dengan yang tidak memanfaatkannya. Hal ini tergantung cara mereka menilai kedua alternatif tersebut.

Konsekuensi dari adanya investasi dalam piutang tersebut yaitu: menyerap sejumlah dana modal kerja, mempunyai usia tertentu sesuai waktu keterkaitannya, mempengaruhi tingkat risiko perusahaan secara

(22)

keseluruhan, perlu dimonitor tingkat efisiensi pengelolaannya dari waktu ke waktu.

E. Kebijakan Kredit

1. Manfaat Penjualan Kredit

Investasi pada piutang akan memberikan manfaat bagi perusahaan antara lain kenaikan omzet penjualan, kenaikan laba bersih, dan bertambahnya market share yang mana memberikan dampak positif bagi persaingan bisnis, meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan dengan pelanggannya, manfaat keuntungan berupa selisih bunga modal pinjaman yang harus dibayarkan kepada bank sebagai sumber dana pembelanjaan piutang.

2. Persyaratan Kredit

Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan penjualan kredit memerlukan pedoman dalam menentukan kepada siapa akan memberikan kredit dan berapa jumlah kredit tersebut. Oleh karena itu, perusahaan tidak hanya mementingkan penentuan standar kredit yang diberikan, tetapi juga penetapan standar kredit tersebut dalam membuat keputusan-keputusan kredit.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :

(23)

a). Standar kredit

Standar kredit dari suatu perusahaan dapat didefinisikan sebagai kriteria minimum yang harus dipenuhi oleh seorang pelanggan sebelum dapat diberikan kredit. Hal-hal seperti nama baik pelanggan sehubungan dengan kredit, atau pembayaran utang-utang dagangnya, baik kepada perusahaan sendiri maupun kepada perusahaan-perusahaan lain, referensi-referensi kredit, rata-rata jangka waktu pembayaran utang dagang dan beberapa rasio keuangan tertentu dari perusahaan pelanggan akan dapat memberikan suatu dasar penilaian bagi perusahaan sebelum memberikan atau melakukan penjualan kredit.

Adapun faktor-faktor utama yang harus dipertimbangkan apabila perusahaan bermaksud untuk mengubah standar kredit yang diterapkan adalah :

1) Biaya administrasi, bilamana perusahaan memperlunak standar kredit yang diterapkan, berarti banyak kredit yang diberikan dan tugas-tugas yang tidak dapat dipisahkan dengan adanya pertambahan penjualan kredit tersebut juga akan semakin bertambah besar. Sebaliknya, apabila standar kredit diperketat, maka jumlah penjualan kredit yang diberikan semakin kecil dan tugas-tugas untuk itupun semakin sedikit. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa perlunakan standar kredit yang lebih ketat akan mengurangi biaya administrasi.

(24)

2) Investasi dalam piutang, semakin besar piutang semakin besar pula biaya-biayanya. Perlunakan standar kredit diharapkan untuk meningkatkan volume penjualan, sedangkan standar kredit yang semakin ketat akan menurunkan volume penjualan. 3) Kerugian piutang (bad debt expenses), akan semakin meningkat

dengan diperlunaknya standar kredit, dan akan menurun bilamana standar kredit diperketat.

4) Volume penjualan, bilamana standar kredit diperlunak maka diharapkan akan dapat meningkatkan volume penjualan, dan sebaliknya jika perusahaan memperketat standar kredit yang diterapkan maka diperkirakan bahwa volume penjualan akan menurun.

II. Syarat Kredit (Credit Term)

Syarat kredit adalah ketentuan yang ditetapkan perusahaan terhadap pelanggan untuk membayar utangnya. Syarat kredit dapat bersifat lunak atau ketat. Bersifat ketat, berarti perusahaan mengutamakan keselamatan kredit dari pada pertimbangan laba. Bersifat lunak, berarti perusahaan melakukan strategi dalam meningkatkan volume penjualan. Persyaratan kredit atau credit term meliputi tiga hal, yaitu :

a) Potongan tunai, memungkinkan pelanggan tertarik untuk membayar pinjaman lebih awal. Hal ini membuat penagihan periode rata-rata (average collection period) akan lebih pendek

(25)

dan penjualan kotor pun meningkat. Besarnya potongan tunai yang diberikan dapat ditentukan oleh titik di mana biaya yang dikeluarkan sama dengan manfaat yang akan diterima oleh perusahaan. Bilamana perusahaan memberikan atau memperbesar potongan tunai dalam penjualan kredit yang dilakukan maka dapat diperkirakan akan terjadi perubahan-perubahan seperti berikut ini :

Tabel 2.1

Pengaruh Potongan Tunai dalam Penjualan Kredit Keterangan Naik (N) atau Turun (T)Perubahan :

Pengaruh Kas Keuntungan : Positif (+) atau Negatif (-)

Volume penjualan N + Rata-rata pengumpulan piutang T + Kerugian piutang

atau Bad debt

expense T

+

Keuntungan perunit T +

Volume penjualan akan meningkat karena adanya potongan tunai untuk pembayaran yang dilakukan dalam waktu 10 hari, maka harga dari produk yang dibeli oleh perusahaan pembeli akan lebih murah. Bilamana permintaan terhadap produk perusahaan cukup

(26)

elastis, maka penurunan harga tersebut akan diikuti oleh meningkatnya permintaan dan volume penjualan.

Rata-rata pengumpulan piutang juga akan menurun karena pelanggan yang tadinya tidak mendapatkan potongan tunai, sekarang dapat mengambil potongan tunai tersebut. Hal ini tentu saja berarti suatu pembayaran yang lebih awal dan dengan demikian jangka waktu rata-rata pengumpulan piutangpun akan berkurang.

Demikian pula halnya dengan kerugian piutang, karena banyaknya pelanggan yang mengambil potongan tunai yang ditawarkan maka probabilitas dari kerugian piutang atau bad debt expenses akan semakin meningkatkan keuntungan perusahaan.

Aspek negatif dari adanya potongan tunai adalah menurunnya potongan per unit dari produk yang dijual bilamana semakin banyak pelanggan yang mengambil potongan tunai yang ditawarkan tersebut berarti menurunnya produk yang dijual.

b) Periode kredit, perubahan dalam priode kredit (misalnya dari net 30 hari menjadi 60 hari) juga akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Pengaruh-pengaruh berikut ini diperkirakan akan terjadi bilamana perusahaan memperpanjang priode kredit yang diberikan.

Perpanjangan periode kredit akan meningkatkan volume penjualan tetapi baik rata-rata pengumpulan piutang maupun

(27)

kerugian piutang juga akan meningkat. Dengan demikian peningkatan volume penjualan akan mempunyai pengaruh yang positif atas keuntungan perusahaan, sedangkan rata-rata pengumpulan piutang dan kerugian piutang akan berpengaruh negatif bagi keuntungan perusahaan. Kebalikan dari hal ini, perpendekan dari periode kredit, akan mempunyai pengaruh-pengaruh yang sebaliknya.

3. Evaluasi Terhadap Pelanggan

Sebelum perusahaan memutuskan untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit oleh pelanggan, perusahaan perlu mengadakan evaluasi terhadap pelanggan. Ini dilakukan untuk mencegah resiko kredit yaitu resiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan.

Dalam menilai resiko kredit, seorang manajer kredit dapat melaksanakan penilaian 5C dari calon pelangganan, yaitu :

a) Character

Character menggambarkan keinginan atau kemauan para pelanggan untuk secara jujur memenuhi kewajiban-kewajibannya. Faktor-faktor ini sangat penting karena setiap transaksi kredit mengandung kesanggupan untuk membayar.

(28)

b) Capacity

Capacity merupakan pendapat subjektif mengenai kemampuan dari pelanggan, dengan menunjukkan bahwa perusahaannya beroperasi sukses.

c) Capital

Capital berhubungan dengan penilaian sumber-sumber financial dari perusahaan pelanggan, terutama ditunjukkan oleh neraca.

d) Collateral

Collateral berhubungan dengan pencerminan aktiva pelanggan sebagai jaminan atas kredit yang diberikan kepada pelanggan tersebut.

e) Condition

Condition menunjukkan impact (pengaruh langsung) dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan atau perkembangan khusus dalam suatu bidang ekonomi tertentu yang mungkin mempunyai efek terhadap kemampuan pelanggan untuk memenuhi kewajibannya.

4. Pengaruh Penjualan Kredit

Penjualan tunai berdasarkan dengan arus kas masuk akan terjadi bersamaan dengan terjadinya transaksi penjualan. Yang menyebabkan arus kas masuk dari penjualan kredit akan sangat tergantung pada: jangka waktu kredit, kerajinan dari petugas

(29)

penagih piutang, mutu atau bonafiditas debitur, situasi pada umumnya.

F. Biaya Atas Piutang

Dalam proses penjualan kredit, perusahaan tidak akan terlepas dari resiko biaya atas kegiatan tersebut. Biaya-biaya tersebut antara lain :

1. Beban biaya modal

Piutang sebagai salah satu bentuk investasi akan menyerap sebagian dari modal perusahaan yang tersedia. Bila perusahaan menggunakan modal sendiri seluruhnya, maka dengan piutang modal yang tersedia untuk investasi bentuk lain (persediaan, aktiva tetap, dan lain-lain) akan berkurang. Dengan demikian, biaya modal besarnya sama dengan besarnya biaya modal sendiri. Bilamana modal sendiri tidak mencukupi sehingga perusahaan terpaksa menggunakan pinjaman bank, maka timbul biaya yang eksplisit dalam bentuk bunga modal pinjaman. Oleh karena itu, piutang sebagai investasi dibelanjai dengan modal sendiri atau modal luar yang selalu menambah beban tetap yang berwujud biaya modal. Dengan adanya piutang, kebutuhan modal kerja akan meningkat. 2. Biaya administrasi piutang

a. Biaya organisasi atau unit kerja yang diserahi tugas mengelola piutang, yaitu gaji dan jaminan sosial lain bagi petugas penagihan dan pengadministrasian piutang.

(30)

b. Biaya penagihan misalnya biaya telepon, surat penagihan, biaya perjalanan bagi penagih piutang.

3. Adanya piutang tak tertagih

Mungkin tidak semua piutang dapat tertagih, hal ini bisa saja disebabkan debitur lari atau bankrut. Dapat saja timbul piutang macet atau tak tertagih sama sekali, sehingga mengakibatkan adanya piutang tak tertagih (bad debts) sehingga perlu dibentuk cadangan piutang ragu-ragu yang dibentuk lewat penyisihan sebagian keuntungan penjualan. Pembentukan cadangan inilah merupakan salah satu bentuk biaya piutang. Jumlah biaya-biaya ini ada bersifat fixed seperti gaji personil penagih utang, ada yang bersifat variable seperti biaya perjalanan/penagihan piutang. Jumlah ini berubah dari waktu ke waktu, karena :

a) Perbedaan jumlah nasabah yang harus dilayani

b) Perbedaan nilai piutang keseluruhan yang harus dikelola.

c) Perbedaan fungsi piutang atau penjualan dengan kredit dari waktu ke waktu berhubungan dengan adanya perbedaan antara kondisi persaingan dan situasi ekonomi secara umum.

d) Perbedaan jangka waktu kredit yang diberikan G. Rasio Keuangan

Untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analisis keuangan memerlukan beberapa tolok ukur. Tolok ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data

(31)

keuangan yang satu dengan yang lainnya. berdasarkan sumber analisis rasio keuangan dapat dibedakan atas :

1. Perbandingan Internal (internal comparison), yaitu membandingkan rasio pada saat ini dengan rasio pada masa lalu dan masa akan datang dalam perusahaan yang sama.

2. Perbandingan eksternal (external comparison) dan sumber-sumber rasio industri, yang membandingkan rasio perusahaan dengan perusahaan-perusahaan sejenis atau dengan rata-rata industri pada saat yang sama.

Berdasarkan sumber datanya maka angka rasio dapat dibedakan atas: 1. Rasio neraca (balance sheet ratios), yang tergolong dalam kategori

ini adalah semua rasio yang semua data diambil atau bersumber pada neraca.

2. Rasio-rasio laporan laba/rugi (income statement ratios) yaitu angka-angka rasio yang dalam penyusunan semua data diambil dari laporan laba/rugi.

3. Rasio-rasio antar laporan (interstatement ratios), yaitu semua angka yang penyusunan data berasal dari neraca dan data lainnya dari laporan laba rugi.

H. Akuntansi Piutang Usaha

Siklus pendapatan adalah transaksi penjualan kredit barang dan jasa kepadapelanggan, transaksi retur penjualan, transaksi penerimaan kas dari

(32)

debitur, dantransaksi penghapusan piutang. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:

1) Transaksi piutang usaha. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:

Tgl. Keterangan Ref Debet Kredit

Piutang usaha Penjualan

xxx

Xxx

2) Transaksi retur penjualan. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:

Tgl. Keterangan Ref Debet Kredit

Retur penjualan Piutang usaha

xxx

Xxx

3) Transaksi penerimaan kas dari debitur. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:

Tgl. Keterangan Ref Debet Kredit

Kas Piutang usaha Pendapatan bunga xxx xxx xxx

4) Transaksi penghapusan piutang usaha. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:

(33)

Tgl. Keterangan Ref Debet Kredit Cadangan kerugian piutang

Piutang usaha

xxx

Xxx

I. Rasio yang Berhubungan dengan Piutang Dagang 1. Tingkat Perputaran Piutang (receivable turn over)

Account receivable turn over dimaksudkan untuk mengukur likuiditas dan efisiensi piutang. Tingkat perputaran piutang tergantung dari syarat pembayaran yang diberikan oleh perusahaan. Makin lama syarat pembayaran semakin lama dana atau modal terikat dalam piutang, yang berarti semakin rendah tingkat perputaran piutang. Tingkat perputaran piutang atau receivable turn over dapat diketahui dengan cara membagi penjualan kredit dengan jumlah rata-rata piutang

Perhitungannya adalah sebagai berikut :

Penjualan Kredit Per Tahun Tingkat Perputaran Piutang =

Rata-Rata Piutang 2. Average Collection Period (ACP)

Average Collection Periode (ACP) yaitu perbandingan antara piutang usaha dan rata-rata penjualan per hari. ACP mengukur rata-rata waktu penagihan atas penjualan. Semakin pendek ACP, semakin baik kinerja perusahaan tersebut karena modal kerja yang

(34)

tertanam dalam bentuk piutang kecil sekaligus mencerminkan sistem penagihan piutang berjalan dengan baik. Jika ACP terlalu panjang, kemungkinan yang terjadi adalah :

a. Perusahaan memberikan terms of payment yang terlalu panjang kepada konsumen atau distributor.

b. Piutang perusahaan banyak yang macet. Perhitungannya adalah sebagai berikut :

360 ACP =

Tingkat Perputaran Piutang 3. Rasio Tunggakan

Rasio ini digunakan untuk mengetahui berapa besar jumlah piutang yang telah jatuh tempo dan belum tertagih dari sejumlah penjualan kredit yang dilakukan. Perhitungannya adalah sebagai berikut :

Jumlah Piutang Tertunggak Pada Akhir Periode

Rasio tunggakan = X 100%

Total Piutang Pada Periode Yang Sama

J. Pengertian dan Konsep Profitabilitas Perusahaan

Tujuan utama umum perusahaan adalah berupaya agar mampu mencapai tingkat profitable dari pengeloaan keuangan secara efektif dan efisien. Perusahaan dapat dikatakan profitable jika perusahaan yang bersangkutan mampu pengelolaan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien yang menghasilkan profit yang diharapkan.

(35)

Demikian sebaliknya suatu perusahaan tidak profitable jika tidak mampu mengelolah sumber daya yang dimiliki secara tepat dalam menghasilkan tingkat profit yang diharapkan. Terkait dengan kemampuan perusahaan menghasilkan tingkat profitabilitas dapat diketahui melalui penggunaan rasio keuangan sebagai alat analisis laporan keuangan perusahaan.

Sejalan dengan hal tersebut Brigham dan Houston (2011:197) menyatakan bahwa profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Sejalan dengan Sartono (2001:119), bahwa: profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisa profitabilitas ini. Selanjutnya John (2005), bahwa: Rasio profitabilitas merupakan perbandingan antara laba perusahaan dengan investasi atau ekuitas yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Harahap (2004:149) menyatakan bahwa “rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya”. Berdasarkan pendapat tersebut disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menciptakan laba dengan menggunakan modal yang cukup tersedia.

(36)

Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam mencari keuntungan dari penggunaan modalnya. Menurut Martono dan Harjito (2001:18) menambahkan bahwa, “profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut”. Dari pendapat tersebut disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menciptakan laba dengan menggunakan modal yang cukup tersedia. Kinerja manajerial dari setiap perusahaan akan dapat dikatakan baik apabila tingkat profitabilitas perusahaan yang dikelolanya tinggi ataupun dengan kata lain maksimal, dimana profitabilitas ini umumnya selalu diukur dengan membandingkan laba yang diperoleh perusahaan dengan sejumlah perkiraan yang menjadi tolak ukur keberhasilan perusahaan. Adanya kemampuan memperoleh laba dengan menggunakan semua sumber daya perusahaan maka tujuan-tujuan perusahaan akan dapat tercapai. Penggunaan semua sumber daya tersebut akan memungkinkan perusahaan untuk memperoleh laba yang tinggi. Laba merupakan hasil dari pendapatan oleh penjualan yang dikurangi dengan beban.

Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Semakin tinggi profitabilitas perusahaan semakin tinggi efisiensi perusahaan tersebut dalam memanfaatkan fasilitas perusahaan. Menurut Kasmir (2008:196), “ Rasio profitabilitas

(37)

merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan ”. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini itu ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Pada dasarnya penggunaan rasio ini yakni menunjukkan tingkat efesiensi suatu perusahaan

Myers dan Majluf (1984: 79) berpendapat bahwa manajer keuangan yang menggunakan packing order theory dengan laba ditahan sebagai pilihan pertama dalam pemenuhan kebutuhan dana dan hutang sebagai pilihan kedua serta penerbitan saham sebagai pilihan ketiga, akan selalu memperbesar profitabilitas untuk meningkatkan laba. Profitability ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.

Berdasarkan pendapat tersebut, mengindikasikan bahwa pencapaian tingkat profitabilitas suatu perusahaan tidak terlepas dari kemampuan perusahaan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien dalam menjalankan aktifitasnya. Sementara profit itu sendiri tidak lain merupakan hasil yang dicapai dari kegiatan operasional perusahaan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Dengan kata lain analisis profititabilitas dalam suatu perusahaan sangat erat kaitannya dengan bagaimana pihak manajemen melakukan perencanaan, mengevaluasi, menganalisis, dan

(38)

mengambil kebijakan yang tepat berkaitan dengan sumber pembelanjaan perusahaan dengan berorientasi pada pencapaian laba maksimal.

Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menilai tingkat profitabilitasperusahaan tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang akan dibandingkan dari laba yang berasal dari opersai perusahaan atau laba netto sesudah pajak dengan modal sendiri. Dengan adanya berbagai cara dalam penilaian profitabilitas tidak menutup kemungkinan dapat terjadi perbedaan cara penilaian profitabilitas diantara perusahaan. Hal ini terletak pada tujuan penilaian profitabilitas mana yang akan digunakan oleh perusahaan. Namun demikian tujuan utama penggunaan rasio keuangan adalah sebagai alat mengukur efisiensi penggunaan modal di dalam perusahaan yang bersangkutan untuk suatu periode tertentu.

Beberapa rasio yang umum digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, diantaranya Sartono (2001) membagi ke dalam empat kelompok rasio, yaitu: rasio Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Equity,Return on Invesment.

Lebih jelasnya Sartono mengemukakan jenis-jenis rasio tersebut, sebagai berikut:

EBIT

1. Profit Margin= ————— Penjualan

(39)

EAT

2. Net Profit Margin = ———— Penjualan EAT 3. Return On Equity = ————— Modal Sendiri EAT 4. Return On Invesment = —————— Total Aktiva

Rasio profitabilitas disebut juga dengan rasio rentabilitas. Selanjutnya Hanafi dan Halim (2007,84) mengemukakan bahwa rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham. Ada tiga rasio yang dapat digunakan dalam rasio profitabilitas, yaitu rasio Profit Margin,Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE). Adapun Profit margin dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu, atau biaya yang tinggi untuk tingkat penjualan tertentu.

Petronila dan Maklasin (2003) mengemukakan bahwa profitabilitas merupakan gambaran kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan. Sementara Angg (1997) mengemukakan bahwa rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas sebagai keberhasilan dalam

(40)

menghasilkan keuntungan. Senada yang dikemukakan oleh Kusumawati (2005) bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa mendatang dan merupakan indikator dari keberhasilan operasi perusahaan.

Adapun penilaian profitabilitas menurut Horne dan John (2005) mengemukakan bahwa, rasio profitabilitas terdiri atas dua jenis yaitu, rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan (margin laba kotor dan margin laba bersih), dan profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi yaitu return on asset (ROA) return on equity (ROE). Selanjutnya Naim (1998) mengemukakan bahwa untuk mengukur tingkat profitabilitas dapat digunakan rasio return on invesment (ROI) yang biasa disebut juga dengan return on assets (ROA) dan return on equity (ROE).

Berkaitan dengan pengukuran profitabilitas dengan net profit margin (NPM), hasil penelitian Singhvi dan Desai (1997) menemukan bahwa semakin tingginya rasio profitabilitas perusahaan, menunjukkan semakin tingginya kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan semakin baik kinerja perusahaannya. Dengan laba yang tinggi perusahaan memiliki cukup dana untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan mengolah informasi menjadi lebih bermanfaat serta dapat menyajikan informasi yang lebih komprehensif. Oleh karena itu perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi akan lebih berani

(41)

mengungkapkan laporan. Dengan demikian semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka akan semakin tinggi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan. Selanjutnya Fitriany (2001) membuktikan bahwa variabel net profit margin mempunyai hubungan positif dengan kelengkapan pengungkapan. Jadi semakin tinggi net profit margin suatu perusahaan maka semakin tinggi indeks kelengkapan pengungkapannya (Dibiyantoro, 2011: 185). Hasil penelitian tersebut mengindikasikan adanya signalling berkaitan dengan kecenderungan pihak perusahaan menyediakan informasi keuangan perusahaan yang memberi sinyal profitabilitas kepada pihak investor dan mendukung keberlanjutan dan kompensasi manajemen (Malone et. al., 1993).

(42)

K. Kerangka Pikir

Gambar 1. Kerangka Pikir

L. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, maka yang menjadi hipotesis pada penelitian ini adalah “diduga bahwa akuntansi piutang berpengaruh terhadap profitabilitas pada PT.Federal International Finance Cabang Gowa”.

PT. FIF

Akuntansi Piutang

Analisis

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian untuk tugas akhir ini dilaksanakan pada PT. Federal Internasional Finance Cabang Gowa berlokasi di Jalan Raya Pallangga No. 18 A-B. Perusahaan yang bergerak dibidang pembiayaan. Sedangkan waktu penelitian ini telah dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) bulan, yaitu dari bulan Januari sampai dengan Februari 2015.

B. Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang perlu dan sesuai dengan judul skripsi adalah penelitian lapangan (field research) yang dilakukan di PT. Federal Internasional Finance Cabang Gowa, penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan mendeskripsikan bagaimana fakta yang terjadi di PT. Federal Internasional Finance agar tercapai penulisan skripsi ini lebih subyektif dan relevan, maka dalam penulisan ini menggunakan metode sebagai berikut :

1. Studi Pustaka (Library Research), yaitu metode penelitian dengan cara membaca literatur, bahan referensi, bahan kuliah dan hasil penelitian lainnya yang ada hubungannya dengan objek yang diteliti.

2. Studi Lapangan (Field Research), yaitu metode penelitian dengan cara melakukan pengamatan langsung pada perusahaan yang

(44)

bersangkutan (observasi), dan wawancara langsung pada pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan yang dikerjakan (interview).

Sumber Data yang digunakan yaitu :

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil observasi dan wawancara langsung dengan pihak yang berwenang.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen dan bahan tertulis, baik yang berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.

C. Metode Analisis

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Analisis akuntansi piutang, yaitu mendeskripsikan akuntansi piutang yang terjadi pada PT. FIF Cabang Gowa.

2. Analisis rasio profitabilitas untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, dengan formula sebagai berikut:

Laba setelah pajak Return On Assets = ——————

(45)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah berdirinya PT. Federal International Finance

PT. Federal International Finance (FIF) merupakan anak perusahaan PT. Astra International Tbk, dan tergabung dalam The Astra Financial Services. Perusahaan yang lahir pada Mei 1989 dengan nama PT. Mitrapusaka Arta Finance yang merupakan perusahaan pembiayaan yaitu badan usaha di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus didirikan untuk melakukan lembaga pembiayaan. PT. Federal International Finance (FIF) juga merupakan perusahaan pembiayaan konsumen (consumers finance company) yaitu badan usaha yang melakukan pembiayaan pengadaan barang untuk kebutuhan konsumen dengan system pembayaran angsuran secara berkala.

Selain itu PT. Federal International Finance (FIF) juga disebut lembaga pembiayaan yaitu kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal denga tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Hal ini dapat disimpulkan dari Pasal 1 ayat 6 Keputusan Presiden No. 61 Tahun 1988 jo. Pasal 1 huruf (p) Keputusan Menteri Keuangan No.1251/KMK.013/1988 tentang pembiayaan konsumen yang menyatakan bahwa kegiatan pembiayaan dalam bentuk dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen. Dan Pasal 1 ayat 2 Kepres No. 61 Tahun 1988 jo. Pasal 1 huruf (b) SK.

(46)

Menkeu No. 1251/kmk.013/1988 tentang Lembaga Pembiayaan yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyaraat.

Adapun yang menjadi dasar hukum dalam pembiayaan konsumen ini dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Dasar Hukum Substantif

Adapun yang merupakan dasar hukum substantif eksistensi pembiayaan konsumen adalah perjanjian diantara para pihak berdasarkan asas “kebebasan berkontrak” yaitu perjanjian antara pihak perusahaan financial sebagai kreditur dan pihak konsumen sebagai debitur. Sejauh yang tidak bertentangan dengan prinsi-prinsip hukum yang berlaku, maka perjanjian seperti itu sah dan mengikat secara penuh. Hal ini dilandasi pada ketentuan dalam pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu perjanjian dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya.

2. Dasar Hukum Administratif

Seperti juga terhadap kegiatan Lembaga Pembiayaan lainnya, maka pembiayaan konsumen ini mendapat dasar dan momentumnya dengan dikeluarkannya Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang “Lembaga Pembiayaan” yang kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan”. Dimana ditentukan bahwa salah satu kegiatan pembiayaan tersebut

(47)

adalah menyalurkan dana dengan system yang disebut “Pembiayaan Konsumen”.

B. Visi Misi

Adapun yang menjadi visi misi PT. Federal International Finance (FIF) Gowa adalah :

Visi : “Menawarkan solusi keuangan terbaik bagi para pelanggan secara individual”

Misi :

1. Beroperasi secara lugas dengan tetap mengindahkan aspek kehati-hatian.

2. Berkontribusi dalam meningkatkan distribusi sepeda motor produk Astra.

3. Memenuhi harapan pada pelanggan, karyawan, pemegang saham, kreditur dan pemerintah.

4. Menawarkan produk yang terjangkau bagi pelanggan. C. Nilai dan Budaya

Nilai :

1. Memberikan yang terbaik kepada stakeholder.

2. Menghargai prestasi individu dengan tetap mengedepankan kerjasama.

3. Semangat untuk mencapai kesempurnaan. 4. Home » Profil » Visi & Misi

(48)

5. Peduli dan berbagi kepada sesama Budaya :

1. Mengejar kreativitas dan inovasi yang berkesinambungan. 2. Bekerjasama dalam mencapai tujuan.

3. Mengutamakan integritas dalam bekerja. D. Struktur Organisasi dan Job Description

Struktur Organisasi pada PT. Federal International Finance (FIF) Cabang Gowa berbentuk garis. Oleh karena itu bawahannya hanya mengenal satu atasan dan begitu pula pertanggungjawaban yang diberikan sesuai dengan instruksi atasan, sehingga dalam hal ini mudah untuk melakukan pengawasan dan pengalihan wewenang terhadap bahawan

Dalam kegiatan usahanya PT. Federal International Finance (FIF) Cabang Gowa dipimpin oleh seorang kepala cabang yang bertanggungjawab penuh terhadap kelancaran kegiatan perusahaan, seperti yang digambarkan dalam struktur organisasi pada bagan berikut : 1. Branch Head

Brance Head bertugas bertanggung jawab atas operasional kantor cabang,pencapaian target dan profit perusahaan.

2. Collection Recovery Section Head

Collection Recovery Section Head bertanggung jawab atas semua customer supaya bias membayar tepat waktu.

(49)

3. Remedial Section Head

Remedial Section Head bertanggung jawab atas kontrak-kontrak customer yang bermasalah (kredit macet) sampai pada penarikan unit (barang jaminan)

4. Credit Section Head

Credit Section Head bertnggung jawab atas proses verifikasi calon konsumen yang akan kredit motor.

5. Operational Support Section Head (OSSH)

Operational Support Section Head (OSSH) bertanggung jawab atas seluruh pengeluaran kantor cabang, transaksi keuangan, dan kepersonaliaan.

6. Collection Recovery Coordinator

Collection Recovery Coordinator bertugas mengawasi dan mengkordinir CR Field dalam menagih angsuran konsumen yang tertunggak.

7. Collection Recovery Field (CR Field)

Collection Recovery Field (CR Field) bertugas menagih pembayaran angsuran konsumen yang tertunggak

8. Credit Analysis Coordinator (CAC)

Credit Analysis Coordinator (CAC) bertugas menganalisis hasilverifikasi Field Verifier layak atau tidaknya calon konsumen untuk kredit motor.

(50)

9. Field Verifier

Field Verifier bertugas mengverifikasi dan mengvalidasi data calon konsumen yang akan kredit motor untuk dianalisis oleh CAC.

10.Credit Aplication Process (CAP)

Credit Aplication Process (CAP) bertugas mencairkan tagihan dealer (supplier) untuk dibayarkan ke rekening dealer atas pembiayaan motor yang telas disetujui.

11.Credit Collateral Process (CCP)

Credit Collateral Process (CCP) bertugas mengumpulkan dan menginput BPKB motor yang telah dibiayai, disimpan dan akan diberikan ke kinsmen pada saat pembayaran angsurannya telah lunas.

12.Finance Coordonator

Finance Coordonator bertugas mengawasi transaksi kasir dan mencatat transaksi-transaksi keuangan perusahaan.

13.Kasir

Kasir bertugas menerima pembayaran angsuran konsumen. 14.Personal Coordinator

Personal Coordinator bertugas mencatat data-data karyawan dan bertanggung jawab atas kepersonaliaan.

15.Personal Clerk

Personal Clerk bertugas mencatat data-data karyawan. Untuk lebih jelasnya berikut gambar struktur organisasinya:

(51)

Gambar 2.

Struktur Organisasi PT. FIF Cabang Gowa Branch

Head

Collection Remedial Operational Credit

Recovery Section Head Support Section Head

Section Head Section Head

Collection Collection Finance Personal Credit Credit Recovery Recovery Coordi Coordi Analysis Collateral Coordinator Coordinator nator nator Coordinator Process Collection Collection Kasir Personal Credit

Recovery Recovery Clerk Analysis

Field Field Process

Field Verifier Sumber : PT. FIF Cabang Gowa.

(52)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Kebijakan Akuntansi Piutang

Piutang salah satu aset yang cukup penting bagi PT. FIF Cabang Gowa, baik dari sudut pandang potensi kemanfaatannya maupun dari sudut pandang akuntabilitasnya. Semua standar akuntansi menempatkan piutang sebagai aset yang penting dan memiliki karakteristik tersendiri baik dalam pengakuan, pengukuran maupun pengungkapannya.

Piutang merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh kreditur baik itu piutang dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal ini berdasarkan dengan kebijakan akuntansi piutang yang dilaksanakan oleh PT. FIF Cabang Gowa yang mengungkapkan piutang adalah manfaat masa depan yang diakui pada saat ini. Penyisihan piutang tak tertagih adalah taksiran nilai piutang yang kemungkinan tidak dapat diterima pembayarannya dimasa akan datang dari seseorang dan/atau korporasi dan/atau entitas lain. Nilai penyisihan piutang tak tertagih tidak bersifat akumulatif tetapi diterapkan setiap akhir periode anggaran sesuai perkembangan kualitas piutang.

(53)

2. Sistem Akuntansi Piutang a. Organisasi

Tugas fungsi akuntansi dalam hubungannya dengan pencatatan piutang pada PT. FIF Cabang Gowa adalah:

1. Menyelenggarakan catatan piutang kepada setiap debitur, yang dapat berupa kartu piutang yang merupakan buku pembantu piutang, yang digunakan untuk merinci rekening kontro piutang dalam buku besar, atau berupa arsip faktur terbuka (open invoice file), yang berfungsi sebagai buku pembantu piutang.

2. Menghasilkan pernyataan piutang (account receivable statement) secara periodik dengan mengirimkannya kesetiap debitur.

3. Menyelenggarakan catatan riwayat krredit setiap debitur untuk memudahkan penyediaan data guna memutuskan pemberian kredit kepada pelanggan dan guna mengikuti data penagihan dari setiap debitur.

b. Informasi yang diperlukan oleh Manajemen

Informasi mengenai piutang yang dilaporkan kepada manajemen pada PT. FIF Cabang Gowa adalah sebagai berikut:

(54)

2. Riwayat pelunasaan piutang yang dilakukan oleh setiap debitur

3. Umur piutang kepada setiap debitur pada saat tertentu c. Dokumen

Dokumen pokok yang digunakan sebagai dasar pencatatan kedalam kartu piutang adalah:

1. Faktur Penjualan, dokumen ini digunakan sebagi dasar pencatatan timbulnya piutang atas dasar transaksi penjualan kredit. Dokumen ini dilampiri dengan surat muat (bill of loading) dan surat order pengiriman sebagai dokumen pendukung untuk mencatat transaksi penjualan kredit.

2. Bukti Kas Masuk, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan berkurangnya piutang dari transaksi pelunasan piutang dari transaksi pelunasan piutang oleh debitur.

3. Memo Kredit, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan retur penjualan. Dokumen ini dikeluarkan oleh bagian order penjualan.

4. Bukti Memorial (Journal Voucher), bukti memorial adalah dokumen sumber untuk dasar pencatatan transaksi kedalam jurnal umum. Dokumen inidigunakan sebagai dasar pencatatan penghapusan piutang. Dokumen ini dikeluarkan oleh fungsi kredit yang memberikan otorisasi penghapusan piutang yang sudah tidak dapat ditagih lagi.

(55)

d. Prosedur Pencatatan Piutang

Prosedur pencatatan piutang pada PT. FIF bertujuan untuk mencatat mutasi piutang perusahaan kepada setiap debitur. Mutasi piutang disebabkan oleh transaksi penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, retur penjualan, dam penghapusan piutang.

e. Akuntansi Piutang

Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut piutang adalah:

1. Jurnal Penjualan, catatan ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penjualan kredit.

2. Jurnal Retur Penjualan, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi retur penjualan.

3. Jurnal Penerimaan Kas, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penerimaan kas dari debitur.

4. Kartu Piutang, catatan akuntansi ini digunakan untu mencatat mutasi dan saldo piutang kepada debitur.

Untuk lebih jelasnya, berikut penulis akan menampilkan dalam bentuk flowchart mengenai akuntansi piutang.

(56)

Gambar 3.

Flow Chart Akuntansi Piutang PT. FIF Cabang Gowa

Sumber : PT. FIF Cabang Gowa, 2015.

Berdasarkan gambar flowchart yang telah ditampilkan, maka dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Transaksi Penjualan Kredit. Transaksi ini terjadi setelah adanya kesepakatan antara pihak pembeli dan pihak PT. FIF Cabang Gowa, yang menyetujui akad kredit yang tlah dilaksanakan oleh pihak pembeli dan penjual.

(57)

2. Input data transaksi penjualan kredit. Pada proses ini, data transaksi penjualan kredit perlu diinput untuk mengetahui apakah transaksinya telah disetujui atau belum.

3. Setting kelompok umur piutang dan persentase kerugian. Pada proses ini dibutuhkan setting kelompok umur piutang dan persentase kerugian diperlukan untuk data bagi perusahaan, agar pengendalian piutang sesuai prosedur yang telah ditentukan.

4. Input data rekanan. Setiap transaksi yang telah disetujui dan didata ke dalam sistem, maka sudah dapat dimasukkan sebagai rekanan perusahaan.

5. Database. Semua data yang telah diinput kemudian diproses ke dalam program sehingga menjadi database yang sewaktu-waktu dibutuhkan oleh perusahaan.

6. Data nilai piutang (faktur penjualan) dan data periode tempo piutang (termin). Data ini diperlukan oleh perusahaan untuk mengetahui berapa nilai piutang yang dimiliki oleh perusahaan serta kapan waktu jatuh tempo sehingga diketahui waktu untuk segera menarik termin.

7. Processing data by sistem. Proses ini dikelola oleh sistem yang telah digunakan oleh PT. FIF Cabang Gowa dan telah dirancang khusus untuk mengetahui sejauhmana pengelolaan piutang yang telah diolah oleh sistem komputerisasi yang ada.

(58)

8. Setelah semua program dan prosedur telah selesai, maka langkah selanjutnya adalah print out atau mencetak laporan nilai dan umur piutang per faktur, laporan analisa umur piutang per rekanan, dan laporan estimasi piutang tak tertagih (CKP). Ketiga laporan ini juga digunakan sebagai laporan tertulis oleh perusahaan.

3. Keadaan Piutang PT. FIF Cabang Gowa

Untuk mencapai tujuan perusahaan, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah bagaimana dapat mengendalikan piutang agar operasional perusahaan dapat terus berjalan. Untuk lebih jelasnya, berikut daftar keadaan piutang PT.FIF Cabang Gowa untuk tahun 2011-2014.

(59)

Tabel 4.1.

Daftar Piutang PT. FIF Cabang Gowa Tahun 2011-2014

TAHUN JENIS MOTOR PENJUALAN KREDIT/ TERTAGIH TERTUNGGAK TAHUN 2011 REVO 3.064.760.470 2.911.552.446 153.208.024 BLADE 3.123.478.572 2.975.854.643 147.623.929 BEAT 1.173.072.060 1.114.418.457 58.653.603 SPACY 3.025.348.877 2.902.537.890 122.810.987 SCOOPY 3.078.470.072 1.114.418.457 1.964.051.615 Total 17.254.530.551 13.943.408.753 3.311.121.798 2012 REVO 3.165.880.000 2.922.995.000 242.885.000 BLADE 3.406.580.000 3.065.910.000 340.670.000 BEAT 1.314.165.000 1.182.749.000 131.416.000 SPACY 3.300.300.000 3.258.750.000 41.550.000 SCOOPY 3.405.500.000 2.508.400.000 897.100.000 Total 14.592.425.000 12.938.804.000 1.653.621.000 2013 REVO 3.335.000.000 3.100.795.000 234.205.000 BLADE 3.566.239.000 3.265.000.000 301.239.000 BEAT 1.444.585.000 1.381.656.000 62.929.000 SPACY 3.656.212.000 3.321.876.000 334.336.000 SCOOPY 3.710.500.000 3.212.232.000 498.268.000 Total 15.712.536.000 14.281.559.000 1.430.977.000 2014 REVO 3.600.000.000 3.326.845.000 273.155.000 BLADE 3.872.912.000 3.637.000.000 235.912.000 BEAT 1.765.354.000 1.724.216.000 41.138.000 SPACY 3.912.276.000 3.632.776.000 279.500.000 SCOOPY 3.989.126.000 3.542.132.000 446.994.000 Total 17.139.668.000 15.862.969.000 1.276.699.000

Sumber PT. FIF Cabang Gowa, Data telah diolah B. Pembahasan

1. Analisis Akuntansi Piutang Usaha a) Jurnal piutang usaha dan penjualan

PT. FIF Menjual barang/jasa secara kredit selama 24 bulan, menjual jasa secara kredit motor Honda type Vario dari perusahaan

(60)

rekanan Rp 15.000.000,00 dengan bunga 30%, maka jurnal yang dibuat adalah:

- Perusahaan mencatat transaksi pembiayaan

Keterangan Debet Kredit

Piutang Usaha Pendapatan bunga Penjualan Rp.19.500.000,-Rp. 4.500.000,- Rp.15.000.000,-- Pelunasan yang dibayar Perusahaan ke Dealer

Keterangan Debet Kredit

Persediaan Total uang muka

Kas

Rp.

15.000.000,-Rp. 3.000.000,- Rp.12.000.000,-b) Perlakuan Akuntansi pada saat terjadi kredit macet dan

penarikan motor.

Keterangan Debet Kredit

Retur Penjualan Piutang Usaha

Rp.14.750.000,-c). Pelaporan dan Penyajian Piutang Usaha

Dalam proses akuntansinya, PT. FIF Cabang Gowa mengacu pada Standar Akuntansi yang berlaku umum dan PSAK dan telah menciptakan SOP Akuntansi yang diterapkan di Pusat dan Cabang-cabang termasuk Cabang Gowa. Dasar akuntansi yang digunakan adalah metode accrualbasic.Piutang disajikan dalam laporan keuangan sebesar nilai yang diharapkan dapat ditagih atau sebesarpiutang usaha bruto dikurangi

(61)

dengan penyisihan piutang usaha. Adapun bentuk neraca yangdigunakan oleh PT. FIF Cabang Gowa, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2.

Neraca PT. FIF (Persero) Tahun 2014

AKTIVA PASSIVA

Aktiva Lancar Hutang Lancar

Kas 379.799.000 Hutang Usaha 187.025.000

Bank 259.299.000 Hutang Karyawan 30.395.000

Piutang Usaha 957.700.000 Hutang Lain-lain 45.799.000

Persediaan 798.255.000 Hutang Pajak 1.230.614.493

Pajak dibayar dimuka 733.992.012

Jumlah Aktiva Lancar 2.395.053.000 Jumlah HutangLancar 1.493.833.493

Aktiva Tetap Hutang JangkaPanjang

Tanah 6.992.890.000 Hutang Bank 579.200.000

Kendaraan 659.799.000 Jumlah Hutang Jk.Panjang 579.200.000

Inventaris Kantor & Peralatan 275.589.000

Jumlah Aktiva Tetap 7.928.278.000 Ekuitas

Modal Saham 8.952.622.507

Aktiva Lain-Lain Laba Ditahan 55.425.000

Biaya yang Ditangguhkan 757.750.000 Jumlah Ekuitas 9.008.047.507

Jumlah Aktiva Lain-lain 757.750.000

TOTAL AKTIVA 11.081.081.000 TOTAL PASSIVA 11.081.081.000

(62)

2. Analisis Sistem Pengendalian Intern Piutang

PT.FIF Cabang Gowatelah melakukan pengendalian intern piutang usaha dengan cukup baik. Hal ini terlihat daripenyelenggaran unsur-unsur pengendalian intern dengan baik, yaitu :

a) Lingkungan Pengendalian

Hal Ini disebabkan telah menunjukkan adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab serta adanyapendelegasian wewenang. Struktur organisasi perusahaan garis lurus menyatakan adanya kesatuan perintah dankepemimpinan. Departementalisasi yang diterapkan oleh PT.FIF Cabang Gowaberdasarkan fungsi yang dijalaskan oleh masing-masing bagian saling menunjang satu sama lain.

Perusahaan mengadakan pelatihan selama 3 bulan agar mendorong terciptanya sumber daya manusiayang baik serta meningkatkan kinerja perusahaan. Tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan bonusmerupakan alat bagi perusahaan untuk membangkitkan motivasi kerja dan rasa loyalitas karyawan terhadapperusahaan. apabila perusahaan telah memberikan berbagai fasilitas kepada kepada karyawan, perusahaan jugamenuntut tanggung jawab dari karyawan. Rutinitas kegiatan yang dilakukan setiap pagi hari dan meeting setiapbulan untuk mengukur sejauh mana perusahaan perkembangan perusahaan, apakah sesuai dengan tujuan yangtelah ditetapkan oleh perusahaan serta apa saja kendala-kendala yang dihadapi.

Referensi

Dokumen terkait

Didalam transaksi penjualan kredit, jika order dari pelanggan telah dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahan jasa, untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki

Dengan semakin meningkatnya profitabilitas perusahaan berarti kebijakan penjualan kredit yang diberikan perusahaan kepada para pelanggan telah berjalan dengan baik

Manfaat dari penelitian ini adalah membantu pihak perusahaan dalam menentukan siapa pemohon kredit yang layak menjadi penerima kredit berdasarkan kriteria yang

No. Standar Proses Pembelajaran adalah kriteria minimal yang harus dipenuhi dalam proses belajar mengajar. Standar proses pembelajaran merupakan kriteria minimal

Pelayanan Minimum (SPM) yang merupakan ukuran pelayanan yang harus dipenuhi oleh instansi yang menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU. Standar Pelayanan

Untuk bisa bekerjasama antara perusahaan agensi penagihan dengan pihak perbankan dalam melakukan penagihan kartu kredit bermasalah ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh

Pemberian kredit kepada pelanggan dapat dilakukan kredit ke bank atau bisa langsung kredit ke developer, salah satu syarat agar pelanggan dapat diberikan kredit yaitu

JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 74 BAB 10 AKUNTANSI KREDIT YANG DIBERIKAN 10.1 AKUNTANSI KREDIT YANG DIBERIKAN Kredit yang diberikan oleh bank dapat didefinisikan