BAB 10 PENGANTAR METODE ANASTILOSIS
A. Pengertian dan Metode Anastilosis
Anastilosis berasal dari bahasa Yunani Kuna “anastilose” yang dimaksudkan untuk istilah pemugaran atau mengembalikan tiang – tiang yang roboh dari istana Knossos dan pemugaran Panthenon, Propyale, dan Nike Arteros di Athena. World Monuments Fundas memperluas pengertian tersebut menjadi : Pembangunan kembali unsur – unsur bangunan yang runtuh ke posisi yang diperhitungkan (dengan pasti) dalam struktur asli, seperti misalnya penyusunan kembali tiang – tiang bulat yang runtuh. Hal ini dipandang sebagai upaya yang bersifat agresif yang disertai dengan dokumentasi yang sangat dapat dipertanggungjawabkan dan dengan alasan keharusan untuk menangani reruntuhan (Samidi; 2000 via Muljono, dkk; 2002).
Tujuan anastilosis adalah merekonstruksi bangunan bersejarah yang telah runtuh dengan cara mengembalikan atau menempatkan kembali ke tempatnya semula (tempat aslinya).atau dengan kata lain membangun kembali reruntuhan bangunan (monumen bersejarah), dengan menggunakan sebanyak mungkin material asli bangunan yang mengalami kerusakan atau berserakan karena proses alam dan atau manusia.
Istilah ini digunakan oleh arkeologi untuk rujukan dalam merekonstruksi atau memugar reruntuhan bangunan, dengan sedapat mungkin menggunakan sebanyak mungkin elemen asli bangunan yang dipugar, dengan cara mencocokan antar bahan penyusun bangunan kemudian dilakukan penyusunan percobaan. Istilah ini juga sering digunakan pula untuk rujukan dalam merekonstruksi atau menyatukan kembali pecahan tembikar atau keramik yang sudah pecah.
2. Metode Anastilosis
Dari pengertian tersebut di atas maka anastilosis batu lepas pada suatu bangunan (terutama candi) mengandung maksud usaha pencocokan batu lepas untuk dikembalikan ke tempat aslinya sesuai kaidah – kaidah anastilosis tersebut.
Kriteria Metode Anastilosis berdasarkan Piagam Venesia; 1964 a. Keaslian struktur bangunan harus teruji secara akademis
b. Penempatan kembali elemen harus dipastikan berada pada tempat yang semestinya.
c. Komponen pelengkap hanya digunakan sebatas pada upaya stabilisasi dan memperkokoh struktur bangunan (misal : unsur tambahan pengganti tidak boleh diletakkan di atas atau menutup struktur asli dan harus dikenali sebagai unsur
BAB
10
pengganti, tidak diperbolehkan membuat konstruksi baru untuk melengkapi bagian yang hilang).
Proses anastilosis dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menempatkan kembali material asli pada tempat yang semestinya (posisinya semula), sehingga ketika akan dilakukan pemugaran atau membangun kembali reruntuhan bangunan cagar budaya akan menggunakan sebanyak mungkin material asli bangunan. Resiko dari pembangunan kembali dengan metode anastilosis adalah terulangnya kembali kerusakan yang sama atau kemungkinan akan kembali runtuh karena tidak ada kekuatan penyangganya.
Metode kerja anastilosis secara singkat diawali dengan mengidentifikasi jenis batu lepas, yang diikuti dengan mencari bagian yang hilang tersebut ke lokasi untuk mencocokan bila ada jenis yang sesuai, yang bila ada kesesuaian langkah berikutnya adalah mencocokan ukuran batu serta tanda – tanda lainnya seperti pasak, nat batu yang kemudian dipastikan melalui percobaan pemasangan untuk memastikan kesesuaian hubungannya.
Metode ini biasanya mencakup pekerjaan persiapan, pengukuran dan penggambaran ulang, pembongkaran bagian demi bagian, dan pembangunan kembali dengan cermat. Dari pola pikir tersebut maka pengembangannya menghasilkan suatu prosedur yang dapat di klasifikasikan menjadi tahapan penuntun makro, tahapan penuntun mikro dan tahapan pemasti (Samidi; 2000 via Muljono, dkk; 2002).
a. Tahapan Penuntun Makro
Hubungan kontekstual yang bersifat pasangan terutama diperlukan dalampencarian batu relief, karena tidak mungkin menerapkan analogi simetri. Hubungan kontekstual ini misalnya relief manusia, bangunan, hiasan dekoratif atau pohon yang terpotong karena balok batu terpisah satu sama lainnya. Relief manusia yang bagian bawah terdiri dari kaki atau tubuh dengan bagian atasnya yan terdiri dari dada atau kepala, bangunan bagian bawah dengan atap, hiasan dekkoratif berbentuk medallion yang terpisah atau batang pohon dengan tajuk beserta kerimbunan daunnya. Setelah diperkirakan pose atau profil dari relief menyambung, baru kemudian diikuti dengan ukuran panjang, lebar dan tebal batu. Data yang diperoleh dari hasil analogi bentuk atau hubungan kontekstual serta ukuran batu lepas kemudian di bawa ke candi untuk dibandingkan dengan data bagian yang hilang, untuk mengetahui kemungkinan kecocokannya. Bila terdapat indikasi kecocokannya, upaya anastilosis berikutnya merupakan tahapan penuntun mikro, yang dilakukan dengan membawa batu lepas secara riil ke atas candi pada bagian yang hilang, untuk memastikan cocok atau tidaknya.
b. Tahapan Penuntun Mikro
Batu lepas kemudian dicoba untuk dipasangkan pada bagian yang hilang, bila perlu dilakukan dengan membongkar pasang batu – batu bagian candi di sekitarnya. Untuk memperoleh penuntun mikro atas kecocokan batu temuan dengan batu - batu disekitarnya dilakukan pengujian dengan cara :
1) Kesinambungan dan atau kewajaran garis pahatan atau bentuk geometrisnya 2) Ukuran mikro berupa lebar dan tebal relief atau besar kecil profil garis pahatan
3) Kesesuaian tanda hubung berupa takikan dan pasak dengan lobangnya (hubungan vertical) dan lubang ekor burung (hubungan horizontal)
4) Tanda penghubung yang dibuat oleh tukang atau pencari batu sebelumnya 5) Garis bekas endapan garam pada batu di bawahnya sesuai dengan bentuk batu
yang dicocokan
6) Bila batu memiliki relief pada kedua sisinya maka kedua relief tersebut masing – masing harus sesuai dengan pola di sebelahnya
Kesesuaian hubungan dan kewajaran garis pahatan antara batu lepas dengan induknya harus ada, misalnya geometris, kecenderungan garis lurus, berbentuk manusia ataupun pepohonan perlu diperhatikan kewajarannya secara alami, misalnya badan yang melenggok, posisi tangan, ataupun proporsi tubuh secara keseluruhan. Ukuran dan tebal relief secara mikro juga harus sama antara batu lepas dan induknya, sehingga lurus dan menyambung halus. Bila hal tersebut memang bukan cocoknya, maka akan terjadi hubungan yang bersifat patahan,karena pada dasarnya memang tidak terjadi “hubungan yang dipaksakan” tersebut.
Tanda hubung yang dibuat oleh nenek moyang harus sesuai antara batu lepas dengan batu induk di bawah atau di atasnya. Demikian pula tanda secara vertical berupa pasak dengan lobangnya menunjukkan kecocokan bila ukuran dan posisi pen tepat sesuai dengan lobang pada batu di bawahnya. Hubungan secara horizontal dengan batu disampinya kadang – kadang dapat ditemukenali melalui sambungan berupa kunci berbentuk “sepasang ekor burung” yang saling berhadapan. Walaupun batu penguncinya sendiri telah hilang, indikasi tersebut dapat dipastikan melalui kesesuaian lobangnya yang juga berbentuk ekor burung. Apabila batu temuan pernah ditemukan oleh pencari batu sebelumnya dan belum dipasang kembali, biasanya oleh pencari batu diberi tanda hubung antara batu satu dengan batu lain di sebelahnya dengan cara dipahat dengan garis - garis simetris. Tanda ini juga sering dapat dipergunakan sebagai indikasi kecocokannya walaupun sering sulit untuk dapat dipastikan karrena keterbatasan bentuk tanda serta banyaknya batu yang diberi tanda.
Kesulitannya adalah keterbatasan bentuk tanda, karena satu bentuk tanda sering dipergunakan untuk menandai lebih dari satu pasangan. Dengan demikian tanda hubung yang dibuat oleh pemugaran sebelumnya tidak dapat dipergunakan sebagai petunjuk utama. Ada kalanya di tempat tertentu satu balok batu memiliki dua relief pada dua permukaan / dua sisi yang dapat terjadi pada permukaan yang bersampingan atau berseberangan. Bila demikian halnya maka kecocokan relief tersebut harus sinkron satu sama lain.
Selain itu juga, kadang – kadang dapat ditemui tanda yang tidak dibuat oleh manusia, melainkan terjadi secara alamiah. Batu – batu terletak di tempatnya lebih dari 1000 tahun dapat memiliki hubungan secara alamiah dengan batu di bawahnya. Tanda tersebut biasanya berupa garis yang menggambarkan posisi batu di atas batu yang lain yang dapat dijumpai pada batu di bawahnya.
c. Tahapan Pemasti
Bila suatu relief hanya terdapat pada satu sisi saja maka dalam hal ini diperlukan pemasti. Pemasti bahwa satu batu hasil anastilosis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya adalah berdasarkan scenario bila relief tesebut adalah relief cerita
atau kebenaran penempatan batu yang bersangkutan serta keserasian pandangan batu secara keseluruhan. Para tukang biasanya menilainya dengan cara meraba sambungan pasangan batu, dengan dilandasi pas atau tidaknya hasil pasangan berdasarkan perasaan jiwa. Lebih – lebih bila tidak ada patahan sambungan “antar garis relief maupun batunya” sehingga mereka merasa “sreg” dan puas batinnya atas hasil usahanya. Kepuasan batin atas hasil kerjanya ini yang sering membuat tukang stel batu merasa bangga dan berbahagia di atas segala – galanya.
Gambar 10.1
Contoh anastilosis dengan material penyusun bangunan berupa batu (Candi Sewu, Klaten)
Gambar 10.2
Proses pencocokan antar batu (Situs Kalibening, Magelang)
Gambar 10.3
Susunan percobaan tiap lapis
(hasil pembongkaran Candi Sembadra, Kawasan Dieng, Kab Banjarnegara)
Gambar 10.4
Susunan percobaan bagian tubuh candi (hasil pembongkaran Candi Sembadra, Kawasan
Dieng, Kab Banjarnegara)
Penambahan material lain untuk memperkokoh struktur bangunan. Beberapa diantaranya adalah membuat ulang pondasi yang lebih kuat atau kokoh. Mengganti elemen bangunan yang hilang menggunakan material baru yang setara seperti batu pengganti (menggunakan bahan yang sama seperti material bangunan asli), plaster, semen, atau resin sintetitis.
B. Pengelompokan Bagian Bangunan