BAB 4 PROSEDUR PEMUGARAN CAGAR BUDAYA
B. Tahapan Pemugaran Cagar Budaya
Studi dan perencanaan merupakan tahapan kegiatan dalam rangka menyusun rencana kerja secara sistematis dan terukur untuk pedoman pelaksanaan. Dalam hal ini studi dan perencanaan dimaknai sebagai standart operasional prosedur (SOP) dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan pemugaran sesuai dengan kaidah-kaidah pelestarian cagar budaya.
Pemugaran cagar budaya merupakan pekerjaan spesifik, dalam hal ini terkait dengan kegiatan pelestarian cagar budaya yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis dan administratif. Oleh karena itu rencana kerja pemugaran harus disusun melalui prosedur studi atau penilaian guna memenuhi ketentuan sebagaimana dipersyaratkan. Tahapan studi atau penilaian sebagaimana dikemukakan tersebut meliputi studi kelayakan, studi teknis dan perencanaan sebagai berikut.
a. Studi Kelayakan
Studi Kelayakan adalah kegiatan pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka menetapkan kelayakan pemugaran. Dalam hal ini studi kelayakan dimaknai sebagai langkah strategis dalam rangka menentukan arah dan kebijakan teknis pemugaran sesuai dengan kaidah-kaidah pelestarian cagar budaya. Penetapan layak dan tidaknya bangunan cagar budaya dipugar dapat dilakukan berdasarkan penilaian
atas data terkait yang meliputi data arkeologis, historis, dan teknis.
1) Data arkeologis adalah data tentang konsep desain masa lalu yang meliputi bentuk, bahan, pengerjaan dan tata letak bangunan cagar budaya. Data ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan sejauh mana bangunan dapat dipugar berdasarkan data yang ada.
2) Data historis adalah data tentang latar belakang sejarah bangunan dan arti penting atau peranannya dalam suatu peristiwa sejarah. Data ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan perlu dan tidaknya bangunan dipugar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
3) Data teknis adalah data tentang kondisi teknis dan tingkat kerusakan bangunan dan lingkungannya. Data ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan perlu dan tidaknya bangunan dipugar atas dasar pertimbangan teknis.
Metode pengumpulan dan pengolahan data sebagaimana dikemukakan di atas dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif melalui studi kepustakaan maupun survei lapangan. Kesimpulan dari hasil studi ini adalah rekomendasi tentang layak dan tidaknya bangunan cagar budaya dipugar dengan lebih mengedepankan pada penilaian atas kondisi fisik bangunan dan tingkat kerusakannya.
b. Studi Teknis
Studi Teknis adalah kegiatan pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka mengembalikan kondisi fisik bangunan cagar budaya yang rusak karena proses alam atau aktivitas manusia. Dalam hal ini studi teknis dimaknai sebagai upaya penentuan langkah-langkah teknis dalam rangka menyusun tata cara dan teknis pelaksanaan pemugaran apabila bangunan cagar budaya dinyatakan layak dipugar. Penetapan langkah-langkah teknis sebagaimana dikemukakan tersebut dapat dilakukan berdasarkan penilaian atas data terkait yang meliputi data arsitektural, struktural, keterawatan dan lingkungan:
1) Data arsitektural adalah data tentang kondisi teknis dan tingkat kerusakan bangunan seperti kemungkinan ditemukannya elemen bangunan yang telah diganti atau diubah dari keadaan aslinya, atau elemen bangunan yang hilang atau lepas dari konteksnya. Data ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah perbaikan dan pengembalian kerusakan arsitektural bangunan (Perbaikan Arsitektural).
2) Data struktural adalah data tentang kondisi teknis dan tingkat kerusakan bangunan seperti kemungkinan ditemukannya bagian bangunan yang strukturnya miring/melesak, retak/pecah, runtuh/hancur. Data ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah perbaikan dan pengembalian kerusakan struktural bangunan (Perkuatan Struktural).
3) Data keterawatan adalah data tentang kondisi teknis dan tingkat keterawatan bahan penyusun bangunan seperti kemungkinan ditemukannya bahan bangunan yang mengalami pelapukan baik karena proses mekanis, fisis, khemis, maupun biotis. Data ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah perbaik an dan pengawetan bahan bangunan (Pengawetan).
4) Data Lingkungan adalah data tentang kondisi teknis dan tingkat kerusakan lingkungan seperti kemungkinan ditemukannya kerusakan lahan situs yang dapat mempengaruhi kelestarian bangunan dan lingkungannya. Data ini dipakai
sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah perbaikan dan penataan lahan di sekitar bangunan (Penataan Lingkungan).
Metode pengumpulan dan pengolahan data sebagaimana dikemukakan di atas dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif melalui studi kepustakaan maupun survei lapangan. Kesimpulan dari hasil studi ini adalah rekomendasi tentang langkah-langkah teknis atau indikasi kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pemugaran bangunan cagar budaya dan penataan lingkungannya (Bagan 2).
c. Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan perancangan detail pekerjaan pemugaran atau detail engenering design (DED) yang disusun dengan merujuk pada indikasi kegiatan yang diperoleh melalui studi teknis. Perencanaan ini dimaknai sebagai pembuatan dokumen teknis pemugaran yang disusun secara sistematis dan terukur kedalam suatu format perencanaan yang memuat tentang :
1) Kegiatan dan sasaran pemugaran yang meliputi pemugaran bangunan dan penataan lingkungannya .
2) Metode dan tehnik pemugaran, tenaga kerja, sarana dan prasarana, serta segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan.
3) Tahapan pelaksanaan pemugaran berdasarkan urutan dan waktu yang dibutuhkan masing-masing kegiatan (Jadwal).
4) Gambar kerja dan dokumen terkait untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan pemugaran.
5) Rencana anggaran biaya pemugaran berdasarkan perhitungan harga satuan per kegiatan dan keseluruhan anggaran biaya yang dibutuhkan (RAB).
Dokumen teknis pemugaran ini selanjutnya dapat dipakai untuk pedoman dalam pelaksanaan pemugaran baik yang dilakukan dengan cara swakelola atau melalui pihak ketiga (kontraktual). Untuk kegiatan kontraktual, dokumen teknis ini dapat dipakai sebagai dasar dalam perjanjian kontrak kerja atau untuk rujukan dalam me nyusun rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).
2. Prinsip Pemugaran Cagar Budaya
Pemugaran adalah upaya pengembalian kondisi fisik Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya yang rusak sesuai dengan keaslian bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknik pengerjaan untuk memperpanjang usianya (UU no.11 tahun 2010 Pasal 1 ayat 28).
Prinsip pemugaran cagar budaya:
a. Harus memperhatikan keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya/atau teknologi pengerjaan.
b. Harus memperhatikan kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin. c. Penggunaan teknik, metode dan bahan yang tidak bersifat merusak.
Kegiatan pemugaran Cagar Budaya dapat berupa : a. Pra Pemugaran
Serangkaian kegiatan untuk melakukan pencarian dan penyusunan percobaan sebelum dilakukan kegiatan pemugaran Cagar Budaya
b. Konsolidasi
Serangkaian kegiatan perbaikan terhadap bangunan cagar budaya dan struktur cagar budaya yang bertujuan memperkuat konstruksi dan menghabat proses kerusakan lebih lanjut
c. Rekonstruksi
Upaya mengembalikan Bangunan cagar budaya dan struktur cagar budaya sebatas kondisi yang diketahui dengan tetap mengutakan prinsip keaslian bahan, teknik pengerjaan dan tata letak, termasuk dalam menggunakan bahan baru sebagai pengganti
d. Rehabilitasi
Upaya perbaikan dan pemulihan bangunan cagar budaya dan stuktur cagar budaya yang kegiatannya dititikberatkan pada penanganan yang sifatnya parsial
e. Restorasi
Serangkaian kegiatan yang bertujuan mengembalikan keaslian bentuk bangunan cagar budaya dan struktur cagar budaya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilimiah.