• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Rasio Likuiditas

Dalam dokumen HARDIMAN (Halaman 45-50)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Pengertian dan Rasio Likuiditas

Sebagaimana diketahui bahwa struktur kekayaan perusahaan erat hubungannya dengan struktur modalnya. Dengan menghubungkannya elemen-elemen aktiva di suatu pihak dengan elemen-elemen pasiva di lain pihak akan dapat diperoleh banyak gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan. Elemen-elemen apa yang akan dihubungkan adalah tergantung pada aspek keuangan yang ingin diketahui.

Dengan membandingkan elemen-elemen tertentu dari aktiva disatu pihak dengan elemen-elemen tertentu dari pasiva akan dapat diketahui keadaan atau tingkat likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas suatu perusahaan pada suatu saat tertentu.

Menurut Alwi, (2000:125) bahwa likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek yang berupa utang-utang jangka pendek (Short Term debt).

Kemudian Riyanto (2001:25) berpendapat bahwa masalah likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.

Jumlah alat-alat pembayaran (alat-alat likuid) yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu saat tertentu merupakan kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu

dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi atau dengan kata lain perusahaan tersebut belum tentu mempunyai kemampuan membayar.

Kemampuan membayar baru terdapat pada perusahaan apabila kekuatan membayarnya adalah demikian besarnya sehingga dapat memenuhi semua kewajiban finansial yang segera harus dipenuhi. Dengan demikian maka kemampuan membayar itu baru dapat diketahui setelah membandingkan kekuatan membayarnya di suatu pihak dengan kewajiban-kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi di lain pihak.

Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar demikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid.Dan sebaiknya yang tidak mempunyai kekuatan membayar disebut tidak likuid.

Menurut Munawir, dalam analisa laporan keuangan (2002:45) bahwa likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan saat ditagih.

Dengan demikian maka likuiditas badan usaha berarti kemampuan perusahaan untuk dapat menyediakan alat-alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kewajiban finansial pada saat ditagih. Apabila kemampuan membayar tersebut dihubungkan dengan kewajiban finansialnya untuk menyelenggarakan proses produksi maka dinamakan likuiditas perusahaan. Hal ini perusahaan harus memperhatikan perusahaan setiap saat untuk dapat memenuhi pembayaran-pembayaran yang diperlukan demi kelancaran operasi perusahaan.

Selanjutnya Riyanto, dalam dasar-dasar pembelanjaan perusahaan (2001:26) berpendapat bahwa Current Ratio kurang dari 2 : 1 dianggap kurang baik, sebab apabila aktiva lancar turun misalnya sampai lebih dari 50%, maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi untuk menutup utang lancarnya.

2. Rasio-Rasio Likuiditas

Untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat diketahui dengan membandingkan seluruh aktiva-aktiva lancarnya disatu pihak dengan hutang lancar / pasiva lancar dilain pihak.

Rasio ini sangat membantu bagi manajer perusahaan dalam mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Apabila hasil perhitungan terdapat tingkat likuiditas yang tinggi berarti perusahaan dalam keadaan normal (sehat). Sebaliknya apabila perhitungan tingkat likuiditasnya rendah, maka perusahaan harus berhati-hati karena posisi perusahaan terancam. Jadi rasio ini sangat penting sebagai dasar untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi.

Dari hasil perbandingan-perbandingan tersebut, kita dapatkan rasio-rasio seperti curren ratio, acid test ratio (quick ratio), cash ratio dan ratio modal kerja.

Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan satu persatu sebagai berikut : a. Current Ratio

Ratio ini merupakan ukuran yang berharga untuk mengukur kesanggupan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya yang jatuh tempo. Secara kasar

dapatlah dikatakan bahwa bagi perusahaan yang current rationya kurang dari 2 : 1 dianggap kurang baik, sebab aktiva lancar turun misalnya sampai lebih dari 50%, maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi untuk menutup hutang lancarnya. Jadi seberapa besar tingkat likuiditas minimum yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan, Riyanto Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2000:3), mengemukakan setiap perusahaan hendaknya menetapkan current ratio yang harus dipertahankan adalah 2 : 1.

Pendapat ini menunjukkan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban finansialnya dan harus mempertahankan current ratio 200% atau 2 : 1, berarti setiap satu rupiah hutang lancar harus dapat dijamin sedikitnya dua rupiah aktiva lancar. Pedoman current ratio 2 : 1 sebenarnya hanya didasarkan pada prinsip hati-hati. Adapun cara untuk menghitung besarnya current ratio, adalah sebagai berikut :

Current Ratio = Aktiva Lancar

Hutang Lancar x100%

b. Quick Ratio (Acid Test Ratio)

Rasio ini adalah merupakan suatu ukuran tentang kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang mendapat kepastian lebih besar untuk melunasi hutangnya yang tepat waktunya. Untuk ukuran quick ratio ini, Alex S. Nitisemito (1998:39) mengatakan, bahwa ukuran atau standard rasio ini ditetapkan berdasarkan prinsip hati-hati adalah 1 : 1 atau 100%. Kurang dari ukuran tersebut dianggap kurang baik.

Dari kutipan diatas jelas, bahwa quick ratio yang kurang dari 100%

memberikan petunjuk bahwa likuiditas perusahaan kurang baik sehingga perusahaan menghadapi kesulitan dalam membayar hutang-hutangnya yang tepat pada waktunya. Adapun cara menghitungnya, adalah sebagai berikut :

Quick Ratio = Aktiva Lancar βˆ’ Persediaan

Hutang Lancar x 100%

c. Cash Ratio

Kas adalah suatu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya.Makin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan berarti makin tinggi tingkat likuiditasnya.Tetapi ini tidak berarti perusahaan harus mempertahankan persediaan kas yang sangat besar, karena makin besarnya kas berarti makin banyak uang yang menganggur sehingga memperkecil tingkat profitabilitasnya.

Untuk mempertahankan berapa besar uang kas yang harus dipertahankan, maka Guthmann dalam bukunya Bambang Riyanto (2003:57) menyatakan, jumlah kas yang ada di dalam perusahaan yang β€œWell Finance” hendaknya tidak kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar.

Adapun cara menghitung cash ratio dapat menggunakan rumus di bawah ini :

Cash Ratio = Aktiva Lancar βˆ’ (Persediaan +Piutang )

Hutang Lancar x 100 %

d. Rasio Modal Kerja

Modal kerja adalah merupakan dana yang harus tersedia dalam perusahaan untuk membelanjai operasi perusahaan. Aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar diatas hutang lancarnya, ini sering disebut modal kerja neto (net working capital) atau selisih dari harta lancar dan hutang lancar.Modal kerja dapat pula digunakan sebagai suatu dasar untuk mengukur tingkat likuiditas, karena modal kerja adalah juga sebagian harta lancar yang diinvestasikan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yang diharapkan sampai saat modal kerja berputar kembali lagi menjadi kas.

Rasio modal kerja dapat digunakan untuk mengetahui likuiditas dari total aktiva dan untuk mengetahui posisi modal kerja netto dari keseluruhan aktiva.

Adapun rumus untuk menghitung rasio modal kerja, adalah sebagai berikut : Working capital to asset ratio = π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž πΏπ‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿ βˆ’ Hutang Lancar

Jumlah Lancar x 100%

Sebenarnya rasio modal kerja ini untuk mengetahui posisi modal kerja yang benar-benar dapat digunakan dalam operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya dari keseluruhan aktiva.

Dalam dokumen HARDIMAN (Halaman 45-50)

Dokumen terkait