ANALISIS LIKUIDITAS TERHADAP KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH KOPERASI
BAITUL MAAL WATTAMWIL (BMT) HIKMAH MAKASSAR
HARDIMAN 105720261510
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2014
ANALISIS LIKUIDITAS TERHADAP KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH KOPERASI
BAITUL MAAL WATTAMWIL (BMT) HIKMAH MAKASSAR
HARDIMAN 105720261510
Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana ekonomi pada Jurusan manajemen
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2014
LAMPIRAN
ii
Ekonomi dan Bisnis dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar No : dan telah dipertahankan didepan penguji pada hari Sabtu, 08 November 2014, sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 15 Muharram 1436 H 08 November 2014 M
Panitia penguji :
1. Pengawas Umum : Dr. H. Irwan Akib, M. Pd (……….) (Rektor Unismuh Makassar)
2. Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung, M. A (……….) (Dekan Fak. Ekonomi dan Bisnis)
3. Sekretaris : Drs. H. Sultan Sarda, MM (………...) (Wakil Dek. 1 Fak.Ekonomi dan Bisnis)
4. Penguji :
a. Moh. Aris Pasigai. SE., MM (……….)
b. Hj. Lilly Ibrahim. SE., M.Si (……….)
c. Idham Khalid. SE., MM (……….)
d. Abd. Salam HB. SE., M.Si.AK (……….)
iii
LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH
KOPERASI BAITUL MAAL WATTAMWIL (BMT) HIKMAH MAKASSAR
Nama Mahasiswa : Hardiman No. Stambuk / Nim : 105720261510 Fakultas/Jurusan : Ekonomi/Manajemen
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Makassar
Makassar, 12 September , 2014
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Sultan Sarda, MM Drs. H. A. Muhiddin Daweng Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Jurusan Universitas Muhammadiyah Makassar Manajemen
Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Moh. Aris Pasigai, SE. MM
iv
lembaga keuangan mikro syariah BMT Hikmah Makassar di nilai dari tingkat Likuiditasnya selama 4 Tahun trakhir, adapun Permasalahan yang penulis angkat yaitu: bagaimana kinerja keuangan pada lembaga keuangan Mikro Syariah BMT Hikmah Makassar di nilai dari tingkat likuiditasnya.
Dalam metode penelitian penulis melakukan teknik pengupulan data dengan cara wawncara langsung dengan pihak perusahan dan menggunakan metode penelitian pustaka yaitu suatu teknik pengumpulan data melalui buku- buku dan literatur yang berhubungan dengan penelitian, penelitian lapangan yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti melalui cara Observasi dengan cara pengumpulan data melakukan pengamatan langsung terhadap obyek yang di teliti dengan pengumpulan data laporan keuangan perusahaan 4 tahun terakhir. Analisis data, penulis menggunakan metode deskriktif untuk menjelaskan bagaimana kinerja lembaga keuangan mikro syariah BMT Hikmah Makassar di nilai dari tingkat likuditasnya, serta menganalisis rasio likiuditasnya menggunakan rasio likuiditas untuk mengetahui kinerja keuangannya.
Berdasarkan hasil dari Pengukuran menggunakan rasio likuiditas maka di dapatkan hasil, untuk current rasio dalam kondisi baik, quick ratio dalam kondisi baik dan cash ratio dalam kondisi buruk, dan dari ketiga ratio tersebut mengalami mengalami kenaikan dan penurunan maka tingkat kinerja Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) BMT Hikmah Makassar dalam segi tingkat likuiditas berfluktuasi.
v
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan proposal yang berjudul
“Analisis Tingkat Likuiditas Terhadap Kinerja Keungan Pada Lambaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) BMT Hikmah Makassar ”.
Dan ucapan terima kasih yang tak terhingga Kedua orang tua yang telah banyak memberikan dorongan, doa dan bantuannya baik berupa materi maupun moril.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak hambatan dan tantangan yang penulis hadapi, namun atas izin Allah SWT, juga berkat usaha, doa, semangat, bantuan, bimbingan serta dukungan yang penulis terima dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Sembah sujud dan ucapan terima kasih yang tak terhingga untuk kedua Orang tuaku Tercinta, Pembibimbing hidupku, Ibunda Masni & Ayahanda Abd.
Hakim atas segala Cinta, Doa, Kasih saying, Semangat dan pengorbanan serta kerja kerasnya yang membuat penulis bisa berdiri tegar hingga sekarang. Juga kepada saudara-saudaraku tercinta, pemberi semangat hidupku “ kaka Helman, Kaka Herni Hakim, dan Kaka Hermin”, Atas segala dukungan baik Moril maupun Material kepada Penulis selama melaksanakan Studi.
vi Makassar.
2.Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar
3.Bapak Moh. Aris Pasigai, SE,MM Sebagai Ketua Jurusan Manajeman
4.Bapak Drs. H. Sultan Sarda, MM sebagai Dosen pembimbing 1 yang telah membarikan bimbingn dan arahan dalam penyusunan Skripsi ini.
5.Bapak Drs. H. A. Muhiddin Daweng, sebagai Dosen pembimbing 2 yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Skripsi ini.
6.Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
7.Seluruh staf pegawai kantor BMT HIKMAH Makassar yang telah memberikan izin kepada penulis melakukan penelitian ( khususnya kepada ibu satria Hamzah yang selalu membantu, membimbing, mengajarkan penulis dalam banyak.
8.Keluarga: Om Lahaya, Tante Djamasi, Tante Nur, Tante Syamsiar, Muhammad Taufiq, Nurwahidah, kaka Herman, Bariq, Fadil, Hastina Melinda, Aslina Elsi, Raju, Muhammad Attakrim, Tante Mega.
9.Rekan-rekan Seperjuangan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2010 diantaranya: Reza Arfandy, Kasmiati, Iskarman, Fardan Noor, Saipul, Sry Resky putry, Akmal Rimin, Muslimin, Ardi Eko
vii
Ade Ilham, Chaink, Iwan Bocap, Darmy, Imam, hasan Basri, Jalil, Endang, Risal, Hamka, Rusdianto, sumarno, Mustakim.
11. Semua Pihak yang telah membantu sampai pada penyusunan Skripsi ini dan tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari sepenuhnya skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Namun penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Semoga atas bantuan, dorongan serta Do’a yang tulus kepada penulis akan selalu dirahmati oleh Allah SWT, semoga mendapat balasan pahala dari_Nya Amin.
Makassar, 12 September 2014
Penulis
viii
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan masalah ... 3
C. Defenisi Operasional ... 3
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
E. Sistematika Penulisan ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Pengertian dan Fungsi Manajemen Keuangan ... 6
B. Pengertian Baitul Maal Wattamwil (BMT), Koperasi dan Koperasi Syariah ... 10
C. Pengertian dan Jenis Laporan Keuangan ... 23
D. Pengertian Rasio Keuangan ... 28
E. Pengertian dan Rasio Likuiditas ... 30
F. Pengertian Rasio Standar………... 35
G. Analisis Likuiditas Perusahaan.………. 37
H. Kinerja ... 37
I. Manfaat Penilain Kinerja ... 38
J. Kerangka Pikir ... 41
ix
B. Jenis dan Sumber Data ... 43
C. Metode Pengumpulan Data ... 44
D. Metode Analisis data ... 44
BAB IV GAMBARAN PERUSAHAAN ... 46
A. Sejarah Singkat perusahaan ... 46
B. Produk- produk BMT HIKMAH Makassar ... 48
C. Organisasi BMT HIKMAH Makassar ... 51
D. Identitas / Legalitas Lembaga Keuangan Mikro Syariah Baitul Maal Wattamwil ( BMT) Hikmah Makassar ... 56
BAB V HASIL PENELITIAN ... 57
A. Rasio Likuiditas ... 57
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 59
BAB VI PENUTUP ... 64
A. Kesimplan ... 64
B. Saran ... 65 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
2. Hasil Rekapitulasi keuangan BMT HIKMAH Makassar
2009-2012. ... 45 3. Rekapitulasi Qurren Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio, 2009-2012 63
xi Desember 2009-2012
2. Surat Rekomendasi Penelitian dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Surat Izin Penelitian dari Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) HIKMAH Makassar.
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lembaga Keuangan yang terfokus pada sektor perbankan menempati posisi sangat strategis dalam menjembatani kebutuhan modal dan investasi di sektor riil dengan pemilik dana. Dengan demikian, fungsi utama sektor perbankan dalam infrastruktur kebijakan makro ekonomi memang diarahkan dalam konteks bagaimana menjadikan uang efektif untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Setiap perusahaan menghadapi permasalahan dalam tingkat likuiditasnya.
Masalahnya adalah bagaimana mengembangkan sistem yang efisien untuk mengendalikan kas. Pemasukan dan pengeluaran kas yang efisien telah menjadi bidang pokok oleh seorang manajer keuangan (financial manager) dimana suatu perusahaan harus tahu bagaimana mengelola segala unsur dan segi keuangan. Hal ini wajib dilakukan karena keuangan merupakan salah satu fungsi penting dalam mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu seorang manajer keuangan harus mengetahui berbagai aktivitas manajemen keuangannya, sebagaimana yang telah diatur dalam manajemen keuangan.
Manajemen keuangan berfungsi untuk mengatur kegiatan perusahaan, aktivitas tersebut berupaya untuk memperoleh dana dengan meminimalkan biaya dan menggunakan biaya secara efisien. Untuk maksud tersebut dibutuhkan laporan keuangan yang akurat.
Laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan harus betul-betul dapat dipertanggung jawabkan, hal ini untuk menghindari adanya penyelewengan
1
sehingga penerimaan dan pencatatan kas dapat dicatat dengan tepat waktu, dan akurat, maka jumlah uang yang hilang dapat terdeteksi dengan segera. Disinilah diperlukan pengendalian kas yang sangat membantu perusahaan untuk dapat menjaga tingkat likuiditas perusahaan yang bersangkutan.
Sistem pengendalian kas sangat penting bagi perusahaan untuk dapat menjaga suatu tingkat likuiditas perusahaan. Pengendalian kas yang kuat adalah hal esensial, karena kas merupakan aset yang dapat dengan mudah ditukar menjadi aktiva lainnya. Penerimaan kas berasal dari berbagai sumber, penjualan tunai, penagihan piutang dagang, penerimaan bunga, sewa, dividen dan lain-lain, dalam upaya melindungi kas dari penyalahgunaan, pihak perusahaan melakukan pengendalian kas yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perusahaan.
Penggunaan rasio likuiditas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut.
Hasil pengukuran tersebut dapat dijadikan alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara efektif atau tidak. Jika berhasil mencapai target yang telah ditentukan, mereka dikatakan telah berhasil mencapai target untuk periode atau beberapa periode. Namun sebaliknya, jika gagal atau tidak berhasil mencapai target yang telah ditentukan ini akan menjadi pelajaran bagi manajemen untuk periode ke depan. Kegagalan ini harus diselidiki di mana
letak terulang. Kemudian, kegagalan atau keberhasilan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk perencanaan laba ke depan, sekaligus kemungkinan untuk menggantikan manajemen yang baru terutama setelah manajemen lama mengalami kegagalan. Oleh karena itu, rasio ini sering disebut sebagai salah satu alat ukur kinerja manajemen.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis mengangkat judul “ Analisis Likuiditas Terhadap Kinerja Keuangan Pada Lembaga Keuangan Mikro syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar ”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah pokok yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah “ Bagaimana Kinerja Keuangan Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar dinilai dari Tingkat Likuiditas “ ?
C. Definisi Operasional
Laporan keuangan merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Secara umum tujuan utama laporan keuangan memberikan informasi yang berguna bagi pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomis (Tondowidjojo dan Purwaningsih, 2007: 146).
Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atau tujuan perusahaan, tingkat percapain misi perusahaan, tingkat pencapaian pelaksanaan tugas secara aktual dan pencapain misi perusahaan.
Ratio Likuiditas merupakan rasio yang mengambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban ( utang ) jangka pendek. Perusahaan dikatakan likuid bila perusahaan mampu membayar hutang-hutangnya pada saat jatuh tempo. Dengan demikian dapat diketahui apakah perusahaan mempunyai kemampuan untuk membiayai produksinya selama beroperasi dengan baik dan lancar dengan hambatan se minimal mungkin
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
„‟ Untuk mengetahui Bagaimana Kinerja Keuangan Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar dinilai dari Tingkat Likuiditas selama 3 (tiga) tahun terakhir.”
2. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian, adalah :
a. Sebagai bahan informasi kepada pihak manajemen perusahaan dalam pengambilan kebijakan.
b. Sebagai bahan acuan bagi mereka yang akan mengadakan peneltiian lanjutan dalam masalah yang sama.
E. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran uraian dan objek pembahasan dari judul di atas, maka penulis mengemukakan isi skripsi dari bab ke bab sebagai berikut :
Pendahuluan. Bab ini di kemukakan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Defenisi Operasional serta Sistematika Penulisan.
Tinjauan Pustaka. Bab ini menguraikan tentang Pengertian dan Fungsi Manajemen Keuangan, Pengertian dan Jenis Laporan Keuangan, Pengertian Rasio Keuangan, Pengertian dan Rasio Likuiditas,Pengertian Rasio Standar, Analisis Likuiditas Perusahaan, Kinerja, Manfaat Penilaian Kinerja, Kerangka Pikir dan Hipotesis.
Metode Penelitian. Bab ini menguraikan tentang, Lokasi dan Waktu Penelitian, Jenis dan Sumber Data, Metode Pengumpulan Data,dan Metode Analisis Data.
Hasil Penilitian. Bab ini menguraikan tentang profil Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul mall Wattamwi (BMT) Hikmah Makassar , kemudian membahas tingkat likuiditas terhadap kinerja keuangan pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Mall Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar.
Penutup. Bab ini mengemukakan Kesimpulan dan Saran dari hasil penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian dan Fungsi Manajemen Keuangan
Perusahaan suatu badan usaha yang berorientasi kepada laba sangat memerlukan dana dalam melakukan efektifitasnya sehari-hari. Oleh karena itu perusahaan selalu memikirkan bagaimana cara untuk memperoleh dana dan bagaimana pula cara untuk menggunakan dengan seefektif dan seefesien mungkin.
Secara umum pencarian dan penggunaan dana tercakup dalam bidang studi yang biasa disebut dengan manajemen keuangan atau dikenal dengan pembelanjaan perusahaan.
Terdapat beberapa unsur manajemen keuangan yang harus diketahui. Seorang manajer keuangan harus mengetahui apa saja yang menjadi unsur-unsur manajemen keuangan, maka jika ada kesulitan yang muncul tentu manajer itu tidak akan kesulitan dalam menjalankan kegiatan perusahaannya.
Menurut Horne (2001:25) mengemukakan bahwa manajemen keuangan adalah segala aktivitas yang berhubungan dengan perolehan, pendanaan, dan pengelolaan aktiva dengan beberapa tujuan menyeluruh. Oleh karena itu, fungsi pembuatan keputusan dari manajemen keuangan dapat dibagi menjadi tiga area utama : keputusan sehubungan investasi, pendanaan dan manajemen aktiva.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Muslich (2000:1), Manajemen keuangan merupakan suatu studi yang bersifat deskriptif tentang pendekatan pengelolaan
6
operasional perusahaan ke arah konsepsi teoritis perusahaan dalam lingkungan yang dinamis dan dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan merupakan aktivitas yang berhubungan dengan pengelolaan aktiva untuk mencapai tujuan secara menyeluruh, dan untuk mencapai tujuan dan sasaran diperlukan berbagai standar dalam memberikan penilaian keefisienan keputusan keuangan.
Menurut Riyanto (2001:15) bahwa pembelanjaan dalam arti luas adalah keseluruhan aktivitas yang bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana dan menggunakan dana atau mengalokasikan dana tersebut. Sedangkan dalam artian sempit pembelanjaan adalah aktivitas yang hanya bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana.
Dilihat dari defenisi di atas maka dapat dikatakan bahwa pada umumnya manajemen keuangan mengarahkan atau cara untuk mendapatkan dan menggunakan dana seefisien mungkin untuk memperoleh tujuan perusahaan yaitu laba yang maksimum bagi perusahaan dan kesejahteraan dengan menggunakan berbagai keputusan keuangan yang tepat. Untuk itu kita harus mengetahui dua bagian besar dari manajemen keuangan yaitu :
1. Memperoleh dana
Dalam melakukan operasinya perusahaan memerlukan dana yang dapat diperoleh dari :
a. Dalam perusahaan sendiri
Dana bersumber dari perusahaan itu sendiri berupa keuntungan/laba dan penyusutan.
b. Luar perusahaan
Dana ini bersumber dari luar perusahaan yang dapat digolongkan menjadi dua sumber dana yaitu :
1) Sumber dana jangka pendek 2) Sumber jangka panjang 2. Menggunakan dana
Dana yang telah diperoleh dapat digunakan untuk kegiatan usaha maupun untuk menunjang kegiatan usaha. Karena dana yang diperoleh sangat terbatas maka dalam penggunaannya seorang manajer keuangan harus merencanakan dengan baik dan mengambil keputusan yang tepat dalam penggunaanya agar keuntungan yang didapat maksimum.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Manullang (2005:2), fungsi manajemen keuangan adalah :
1. Fungsi pengendalian likuiditas (function leading to liquidity)
Untuk mencapai likuiditas yang tepat bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya, manajer keuangan harus melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut :
a. Peramalan aliran kas (forecasting cash flows)
Forecasting cash flows adalah untuk meramalkan sumber-sumber uang
kas dan waktu penggunaanya dalam berbagai macam pembayaran, seperti untuk kreditor maupun penyuplai. Peramalan aliran kas meliputi jenis dan jumlah kebutuhan yang diperlukan.
b. Mencari sumber dana (rising funds)
Dana dapat diperoleh dari dua sumber utama, yaitu : 1. Dari dalam perusahaan (sumber dana internal)
Dana yang berasal dari dalam perusahaan adalah dana atau funds yang berbentuk atau dihasilkan didalam perusahaan, antara lain; keuntungan yang ditahan, penyusutan, saham pemilik dan lain-lain.
2. Dari luar perusahaan (sumber dana eksternal)
Dana yang berasal dari luar perusahaan terdiri atas dua golongan, yaitu :
a) Sumber dana jangka pendek
Sumber dana jangka pendek ini diperoleh antara lain dari kredit dagang, kredit bank, surat-surat berharga dan lain-lain.
b) Sumber dana jangka panjang
Sumber dana jangka panjang dapat diperoleh dari berbagai sumber, antara lain :
(1) Pinjaman obligasi (2) Pinjaman hipotek
c. Penggunaan dana
Perusahaan yang kekurangan dana tentu tidak akan berkembang. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perusahaan, manajer keuangan harus mampu merencanakan penggunaan dana dengan sebaik-baiknya.
B. Pengertian Baitul māal wattamwil (BMT) Koperasi, dan Koperasi Syariah
1. Pengertian Baitul maal wattamwil (BMT)
Menurut Ridwan Muhammad (2004:24) , BMT singkatan dari Baitul māl wattamwil. BMT terdiri dari dua istilah yaitu baitul māl dan baitul tamwil. Apabila
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti rumah uang dan rumah pembiayaan.
Baitul māl lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang
non profit, seperti zakat, infaq, dan shodaqoh serta menjalankan sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Sedangkan baitul tamwil sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial.
Menurut Makhalul „Ilmi, secara istilah pengertian baitul māl adalah lembaga keuangan berorientasi sosial keagamaan yang kegiatan utamanya menampung serta menyalurkan harta masyarakat berupa zakat, infak, shodaqoh (ZIS) berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan Al Qur‟an dan sunnah Rasul Nya, dan pengertian dari baitul tamwil adalah lembaga keuangan yang kegiatannya menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan (simpanan) maupun deposito dan menyalurkan
kembali ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah melalui mekanisme yang lazim dalam dunia perbankan.
Sedangkan menurut Muhammad, pengertian baitul māl adalah suatu badan yang bertugas mengumpulkan, mengelola serta menyalurkan zakat, infak, dan shodaqoh yang bersifat social oriented, dan baitut tamwil adalah suatu lembaga yang
bertugas menghimpun, mengelola serta menyalurkan dana untuk suatu tujuan profit oriented (keuntungan) dengan bagi hasil (qiradh/mudharabah, syirkah/musyarakah),
jual beli (bai’u bitsaman ajil/angsur, murabahah /tunda) maupun sewa (al-al-ijarah).
Dengan demikian BMT sesungguhnya merupakan lembaga yang bersifat sosial keagamaan sekaligus komersial. BMT menjalankan tugas sosialnya dengan cara menghimpun dan membagikan dana masyarakat dalam bentuk zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) tanpa mengambil keuntungan. Disisi lain ia mencari dan memperoleh keuntungan melalui kegiatan kemitraan dengan nasabah baik dalam bentuk penghimpunan, pembiayaan, maupun layanan-layanan pelengkapnya sebagai suatu lembaga keuangan Islam.
Dilihat dari bangunan suatu kelompok, maka BMT tidak berbeda dari ormas Islam lainnya kecuali pada bidang geraknya secara ekonomis dan bisnis keuangan.
Mulai dari tujuan, asas dan landasan, visi dan misi BMT, semuanya terlihat sebagai organisasi keuangan orang Islam pada umumnya. Visi BMT adalah semakin meningkatnya kualitas ibadah anggota BMT sehingga mampu berperan sebagai wakil pengabdi Allah memakmurkan kehidupan anggota pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Misi BMT adalah membangun dan mengembangkan tatanan
perekonomian dan struktur masyarakat madani yang adil dan makmur berlandaskan syariah dan ridho Allah SWT. Disini BMT menempati fungsi lembaga usaha ekonomi kerakyatan yang dapat dan mampu melayani nasabah usaha mikro dan kecil- bawah.
Pada awal konsepnya, BMT mempertegas ciri utamanya sebagai lembaga yang berorientasi bisnis dan bukan lembaga sosial. Akan tetapi ia bergerak juga untuk penyaluran dan penggunaan zakat, infaq, dan sadaqoh; ditumbuhkan dari bawah berlandaskan peran serta masyarakat disekitarnya, milik bersama masyarakat kecil- bawah dan kecil dari lingkungan BMT itu sendiri, bukan milik seseorang atau orang dari luar masyarakat itu. Ciri khasnya meliputi etos kerja bertindak proaktif (service excellence) dan menjemput bola kepada calon anggota dan anggota; pengajian rutin
secara berkala tentang keagamaan dan kemudian tentang bisnis.
Secara kelembagaan BMT didampingi atau didukung Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). PINBUK sebagai lembaga primer karena mengemban misi yang lebih luas, yakni menetaskan usaha kecil. Dalam prakteknya PINBUK menetaskan BMT dan pada gilirannya BMT menetaskan usaha kecil. Keberadaan BMT merupakan representasi dari kehidupan masyarakat dimana BMT itu berada, dengan jalan ini BMT mampu mengakomodir kepentingan ekonomi masyarakat.
Peran umum BMT yang dilakukan adalah melakukan pembinaan dan pendanaan yang berdasarkan sistem syari‟ah. Peran ini menegaskan arti penting prinsip-prinsip syari‟ah dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Sebagai lembaga keuangan syariah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat kecil
yang serba kekurangan baik di bidang ilmu pengetahuan atau materi, maka BMT mempunyai tugas penting dalam mengemban misi keislaman dalam segala aspek kehidupan masyarakat.
2. Pengertian Koperasi
Pengertian koperasi juga dapat dilakukan dari pendekatan asal yaitu kata koperasi berasal dari bahasa Latin "coopere", yang dalam bahasa Inggris disebut cooperation.
Co berarti bersama dan operation berarti bekerja, jadi cooperation berarti bekerja
sama. Terminologi koperasi yang mempunyai arti "kerja sama", atau paling tidak mengandung makna kerja sama. Berikut ini Pengertian Koperasi yang diutarakan oleh menurut para ahli:
Menurut Arifinal Chaniago: Koperasi adalah suatu perkumpulan beranggotakan orang-orang atau badan hukum, yang memberikan kebebasan kepada anggota untuk masuk dan keluar, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya.
Menurut P.J.V. Dooren: Koperasi tidaklah hanya kumpulan orang-orang, akan tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari badan-badan hukum (corporate).
Menurut Moh. Hatta: Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong. Semangat tolong
menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan prinsip seorang buat semua dan semua buat seorang.
Menurut Munkner: Koperasi adalah organisasi tolong menolong yang menjalankan urusniaga secara kumpulan, yang berazaskan konsep tolong menolong. Aktivitas dalam urusan niaga semata-mata bertujuan ekonomi, bukan sosial seperti yang dikandung gotong royong.
Menurut UU No. 25 1992: Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat, yang beradasarkan atas azas kekeluargaan.
3. Pengertian Koperasi Syariah
Dari segi etimologi kata koperasi berasal dari bahasa inggris, yaitu cooperation Yang artinya kerja sama. Sedangkan dari terminology koperasi adalah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan Hukum yang bekerja sama dengan penuh kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela dan berdasarkan kekeluargaan.
Koperasi syariah adalah suatu organisasi yang beranggotakan orang perorangan atau badan Hukum yang bekerja sama dengan kesadaran dan berdasarkn syariat islam yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar suka rela dan berasaskan kekeluargaan.
Dari pengertian koperasi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang mendasari gagsan koperasi sesungguhnya adalah kerja sama, gotong-royong. Koperasi dari badan usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya bidang konsumsi,bidang kredit atau bidang konsumsi dan produksi. Koperasi didasari pada kerja sama, gotong royong dan demokratisasi ekonomi menuju kesejahteraan umum.
Gotong royong ini sekurang-kurangnya dilihat dari dua segi yaitu:
1. modal awal koperasi dikumpulkan dari semua anggota-anggotanya.
Mengenai keanggotaan ini koperasi dalam koperasi berelaku asas satu anggota, satu suara. Karena itu daasarnya modal yang dimiliki anggota, tidak menyebabkan anggota itu tinggi kedudukkannya dari anggota yang lebih kecil modalnya.
2. Permodalan itu sendiri tidak merupakan satu-satunya ukuran dalam pembaagian hasil usaha . modal koperasi diberikan bunga terbatas yang sesuai dengan rapat anggota .
Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya dibidang konsumsi, bidang kredit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi bidang usaha tunggal ( single purpose). Ada pula koperasi yang meluaskan usahanya dalam berbagai bidang, disebut koperasi serba usaha ( multy purpose ) misalnya pembelian dan penjualan.
Sisa hasil usaha koperasi sebagian besar dibagikan kepada anggota berdasarkan besar kecilnya peranan anggota dalam pemanfaatan anggota koperasi. Misalnya,
dalam koperasi konsumsi semakin banyak pembeli maka makin banyaknya keuntungan yang diperoleh koperasi. Hal ini dimaksutkan untuk merangsang peran anggota dalam perkoperasian itu. Karenaa itu dikatakan bahwa koperasi itu adalah perkumpulan orang bukanlah perkumpulan modal.
Sebagian usaha badan koperasi tidak semata-mata mencari keuntungan akan tetapi lebih dari itu, koperasi bercita-cita untuk memupuk kerja sama dan mempererat pekerjasamaan, persaudaraan diantara sesame anggota koperasi itu.
1. Pengertiaan Koperasi Syariah Menurut Para Ulama
Sebagian ulama mengaanggap koperasi sebagai akad mudharobah, yakni suatu perjanjian kerja sama anatara dua orang atau lebih dari suatu pihak yang menyediakan modal usaha, sedangkan pihak lain melakukan usaha atas dasar profit sharing ( membagi keuntungan ) menurut perjanjian, dan diantara syarat syah mudharobah menetapkan keuntungan tiap tahun dengan persentase tetap, misalnya 1 % setahun dari salah satu pihak mudharobah tersebut. Karena itu apabila koperasi termasuk mudharobah atau qiradh, dengan ketentuan tersebut diatas ( menetapkan persentase keuntungan tertentu kepada salah satu pihak dari mudharobah ), maka akad mudharobah itu tidak sah ( batal ), dan seluruh keuntungan usaha upah yang sepadan atau pantas.
Menurut Muhammad syaltut tidak setuju dengan pendapat tersebut, sebab syirkah ta‟uwuniyah tidak mengandung unsure mudharobah yang dirumuskan oleh
fuqahah. Sebab syirkah ta‟uwuniyah, modal usahanya adalah dari sejumlah anggota pemegang saham, daan aanggota koperasi itu dikelola oleh pengurus dan karyawan yang dibayar oleh koperasi menurut kedudukkan dan fungsinya masing-masing.
Kalau pemegang saham turut mengelola usaha koperasi itu, maka ia berhak mendapaatkan gaji sesuai denngan system penggajian yang berlaku.
Dan Menurut Muhammad syaltut, koperasi merupakan syirkah baru yang diciptakan para ekonomi banyak sekali manfaatnya, yaitu memberikankeuntungaan bagi pemilik saham, memberikan lapangan kerja kepada karyawannya, memberikan bantuan keuangan dari sebagian koperasiuntuk memberikan tempat ibadah, sekolah, dan lain sebagainya. Dengan demikian jelas, bahwa dalam koperasi ini tidak ada unsure kezaliman dan pemerasan. Pengelolaan koperasi demokratis dan terbuka, serta membagi keuntungan daan kerugian kepada para anggota menurut kesatun ketentuan yang berlaku yang telah diketahui oleh seuruh anggota pemegang saham. Oleh karena itukoperasi dapt dibenarkan dalam islam. Menurur said sabiq, syirkah itu ada empat macam, yaitu;
1. Syirkah „inan yaitu kerjasama antaara dua orang atau lebih dalam permodalan untuk melakukan suatu usaha bersama dengan cara membagi untung rugi sesuai dengan kontribusi modal.
2. Syirkah mufawaddah yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih untuk melakukan berbagai usaha dan persyaratan sebagai berikut.
a. modalnya harus sama banyak. Bila ada dianggota perserikatan modalnya lebih besar, maka syirkah itu tidak sah.
b. Mempunyai wewenag untuk bertindak, yang ada kaittannya dengan Hukum. Dengan demikian, anak-anak yang belum dewasa belum bisa menjadi anggota persyarikatan.
c. Satu agama, sesame muslim, tidak adanya berserikat dengan non- muslim.
d. Masing-masing anggota mempunyai hak untuk bertindak atas nama syirkah ( kerja sama ).
3. Syirkah wujuh yaitu kkerja samaa antara dua orang ataau lebih untuk membeli sesuatu tampa modal, tetapi hanya modal kepercayaan dan keuntungan dibagi antara sesama mereka.
4. Syirkah abdan yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih untuk melakukan suatu usaha atau pekerjaan. Hasilnya dibagi berdasarkan perjanjian seperti pemborong bangunan, dan instasi listrik lainnya.
Kalau kita perhatikan, maka hanafiyah menyetujui (membolehkan) keempat macaam syirkah tersebut.
Syafi‟iyah melarang syirkah abdan, mufawaddah, wujuh dan membolehkan syirkah „inan. Malikiyah membolehkan syirkah abdan, syirkah „inan, dan syirkah mufawadhah dan melarang syirkah wujuh. Hanbaliyah membolehkan syirkah „inan, wujuh, dan abdan dan melarang syirkah mufawaddah.
Malikiyah membolehkan syirkah abdan, syirkah „inan, dan syirkah mufawaddah, dan melarang syirkah wujuh.
Mengenai status Hukum berkoperasi bagi umat islam juga didasari pada kenyataan, bahwa koperasi merupakan lembaga ekonomi yang dibangun oleh pemikiran barat, terlepas dari ajaran dan kultur islam. Artinya, bahwa al-quran dan hadis tidak menyebutkan, dan tidak pula dilakukan pada zaman nabi.kehadirannya dibeberapa Negara islam mengundang para ahli untuk menyoroti kedudukkan hukumnya dalam islam.
Asnawi hasan, penulis Indonesia dalaam usahanya menemukan status hukum berkoperasi bagi umat islam, setelah melihat kesesuaian diantaranya pada bidang etis, membrikan Hukum wajib. Namun salah satu pendahuluan asnawi hasan yaitu khalid Abdurrahman ahmad, penulis buku al-tefkir al-iqtishadi fi al-islam (pemikiran-pemikiran ekonomi islam) berbeda seratus delapan puluh derajad dengan kesimpulan penulis Indonesia tersebut.
Penulis timur tengah berpendapat, haram bagi umat islam berkoperasi.
Sebagai konsekuensinya, penulis juga mengaharamkan harta yang dipergunakan dalam koperasi. Argumentasinya dalam mengharamkan koperasi ini adalah:
1. pertama disebabkan karena prinsif-prinsif keorganisasian yang tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan syariah. Diantaraa yang dipersoalkan menjadi persyaratan anggota-anggota yang terdiri dari satu jenis anggota saja yang dianggap akan membentuk kelompok-kelompok yang eksklusif.
2. Kedua adalah mengenai ketentuan-ketentuan pembagian keuntungan.
Mengenai pembagian keuntungan yang dilihat dari segi pembelian atau
penjualan anggota koperasinya. Cara ini dianggap menyimpang dari ajaran agama islam, karena dalam bentuk kerja sama dalam islam hanya mengenal pembagian keuntungan berdasarkan modal dan atas dasar jerih payah atau atas dasar keduanya.
Argument selanjutnya adalah didasarkan pada penilaian mengenai tujuan utama pembentukkan koperasi dengan persyaratan anggota dari golongan ekonomi lemah yang dianggap hanya bermaksut untuk menentramkan mereka dan membatasi keinginannya serta untuk mempermainkan mereka dengan ucapan-ucapan atau teori- teori yang utupis (angan-angan atau khayalan).
Keputusan penulis timur tengah ini bukan tidak dapat dapat dibantah. Dari segi formal Hukum islam, pendapat ini merupakaan hasil ijetihat yang berarti dzan, yaitu pendapat pribadi. Disamping itu, doidalam kasus Indonesia kerangka pengamatannya tidak seluruh rakyat tepat. Misalnya keanggotaan kopersi yang tidak hanya diperuntukkan bagi ekonomi lemah .
Di Indonesia, semua rakyat dianjurkan untuk ikut berkoperasi. Juga mengenai keangotaan dari satu golongan, dalam kondisi Indonesia secara teoritis maupun praktis tidak akan menjurus kearah terbentuknya kelompok-kelompok bisnis yang monopolis dan eksklusif.
Dalam kerja sama islam, tidak mengenal pembagian keuntungan atas dasar pembelian dan penjualan (anggota koperasinya), yang kemudian menjadi dasar penolakkannya terhadap koperasi itu. Kelemahan ini dapat disimpulkan diantaranya ditandai dengan tidak adanya ijma‟ ulama terhadapnya.
Sebaliknya pendapat Hukum wajib berkoperasi bagi umat islam Indonesia juga belum diterima. Adapun argumentasinya adalah:
1. konstitusi mengakui ada tiga bangun usaha, jadi koperasi merupakan salah satu bangun usaha selain swasta dan BUMN sekalipun terdapat arah koperasi dijadikan soko guru perekonomian nasional.
2. sumber-sumber ekonomi bagi umat islamterbentang luas. Umat islam dapat mencari nafkah diluar keterkaittannya dengan badan-badan usaha , misalnya melalui berfrofesi atau menjual jasa.
3. sejak semula berkoperasi memerlukan kesukarelaan.
4. secara kelembagaan koperasi masih terbatas jangkauannya sehingga belum selalu mudah bagi rakyat umumnya untuk berkoperasi.
Sebagian besar bahasan yang bermaksud membuka spectrum Hukum berkoperasi, maka melihat segi-segi Hukum perkoperasi dapat dipertimbangkan dari kaidah penetapan Hukum, ushul al-Fiqih yang lain. Telah diketahui bahwa hukum islam mengizinkn kepentingan masyarakat atau kesejahteraan bersama melalui prinsip ishtishlah atau al-maslahah. Ini berarti bahwa Hukum islam harus memberi prioritas pada kesejahteraan rakyat bersama yang merupakan kepentingan masyarakat.
Adapun fungsi koperasi adalah sebagai berikut:
1). Sebagai alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat.
2). Alat pendemokrasian ekonomi nasional.
Dengan demikian jelas bahwa ishtishlah dipenuhi koperasi. Demikian juga halnya, jika dilihat dari istihsan (metode preferensi). Menyoroti koperasi menurut metode ini paling tidak banyak didapat pada tingkat makro dan mikro. Tingkat makro berarti mempertimbangkan koperasi sebagai system ekonomi yang paling dekat dengan islam dibandingkan dengn kafitalisme dan soiolisme. Hasil istimbath ini secara metodologi setelah digunakan pendekatan ijetihat, mengingat beberap hal, adapun pendekatan itu adalah sebagai berikut:
a. tidak daapat diterapkan Hukum koperasi dalaam nash karena ayat-ayat alqur‟an dan hadist tidak memberikan ketentuan secara definitive terhadap apa yang disebut koperasi.
b. Tidak pernah ditetapkan koperasi atas dasar qiyas, mengingat nash tidak juga memberi petunjuk cara-cara umat islam berusaha melalui bentuk-bentuk usaha semisal atau sejenis koperasi, yang dapat dijadikan sandaran deduktif dalam istimbah terhadap koperasi.
Oleh karena itu hukum koperasi harus dicari atas dasar ijtihat dengan pendekatan induktif. Hal ini dapat dipahmi dalam ayat-ayat al-quran dan hadits yang bersifat persial, baik yang bersifat filosofis, etis, dan petunjuk-petunjukpraktis dalam bertingkah laku sehari-hari y7ang dapat mendasari segi-segi yang luas dari koperasi.
Secara keseluruhan memberikan pengertian bahwa koperasi merupakan bentuk usaha yang islamis. Induksi ini juga dikomondir oleh pertimbangan-
pertimbangan atas dasar metode penetapan Hukum al-maslahah atau ishtishlah dan istihsan.
Pada zaman sahabat yang memberikan gambaran ada kesesuaian dengan prinsif-prinsif koperasi. Secara keseluruhan memberikan pengertian bahwa koperasi merupakan bentuk usaha yang islami. Induksi ini juga direkomondir oleh pertimbangan-pertimbangan atas dasar metode atas dasarhukum muslahah atau ishtislah dan istihsan.
Penetapan hukum koperasi sebagi hal yang mubah, pada khususnya melihat koperasi sebagai praktek muamalah. Sebagaimana diketahui bahwa Hukum muamalah, yang mengatur hubungan kemasyarakatan, adalah mubah atau dibolehkan selain hal-haalyang secara tegas dilarang oleh agama. Disini terlihat bahwa cara bekerja koperasi selaras dan dapat dibenarkan dalam agama.
C. Pengertian dan Jenis Laporan Keuangan
Menurut Harahap, dalam Analis Akritis atas Laporan Keuangan (2004 :105), Laporan Keuangan menggambarkan keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.
Laporan Keuangan suatu perusahaan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pemakainya, jika memenuhi persyaratan yang ditetapkan PSAK tahun 2004 adalah sebagai berikut :
1. Relevan
Pengukuran relevansi suatu informasi harus dihubungkan dengan penggunaannya.
Oleh karena itu, dalam mempertimbangkan relevansi suatu informasi hendaknya
diperhatikan, difokuskan pada kebutuhan umum pemakai dan bukan kebutuhan khusus pihak tertentu.
2. Dapat dimengerti
Bentuk laporan dan istilah yang dipakai hendaknya disesuaikan dengan batas pengertian pemakaian informasi juga diharapkan mempunyai dasar pengertian mengenai aktivitas ekonomi perusahaan, proses akuntansi dan istilah ekonomi perusahaan, proses akuntansi dan istilah yang digunakan dalam laporan keuangan.
3. Obyektif
Laporan keuangan harus disusun seobyektif mungkin, dapat diuji kebenarannya, oleh para pengukur yang independen dan menggunakan metode pengukuran yang sama.
4. Netral
Laporan keuangan hendaknya disusun untuk kebutuhan pihak tertentu saja.
5. Tepat waktu
Laporan keuangan harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan bagi pemakai.
6. Dapat dibandingkan
Laporan keuangan yang disajikan harus dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari perusahaan yang sama maupun dengan perusahaan sejenis pada periode yang sama. Prinsip konsistensi (penggunaan modal) akuntansi hendaknya selalu dipatuhi dari tahun ke tahun.Oleh karena itu,
jika terjadi perubahan metode hendaknya diberikan penjelasan metodenya diganti/dirubah.
7. Lengkap
Laporan keuangan hendaknya disajikan secara lengkap meliputi semua data akuntansi keuangan yang memenuhi sekurang-kurangnya enam persyaratan tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan, maka Djarwanto, dalam pokok-pokok analisa laporan keuangan (2004:5), mengatakan bahwa jenis- jenis laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1. Neraca
Neraca menggambarkan kondisi keuangan dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, umumnya pada akhir tahun pada saat penutupan buku. Neraca ini memuat aktiva (harta kekayaan yang dimiliki perusahaan), utang (kewajiban perusahaan untuk membayar dengan uang atau aktiva lain kepada pihak lain pada waktu tertentu pada waktu yang akan datang), dan modal sendiri (kelebihan aktiva diatas utang)
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi memperlihatkan hasil yang diperoleh dari penjualan baranng- barang atau jasa-jasa dan ongkos-ongkos yang timbul dalam proses pencapaian hasil tersebut. Laporan ini juga memperlihatkan adanya pendapatan bersih atau kerugian bersih sebagai hasil dari operasi perusahaan selama periode tertentu (umumnya satu tahun).
3. Laporan Laba Ditahan
Laporan laba ditahan digunakan dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, menunjukkan suatu analisis perubahan besarnya bagian laba yang ditahan selama jangka waktu tertentu.
4. Laporan Modal Sendiri
Laporan modal sendiri diperuntukkan bagi perusahaan perseorangan dan bentuk persekutuan, meringkaskan perubahan besarnya modal pemilik atau pemilik- pemilik selama periode tertentu.
5. Laporan Perubahan Posisi Keuangan
Laporan perubahan posisi keuangan memperlihatkan aliran modal kerja selama periode tertentu.Laporan ini memperlihatkan sumber-sumber darimana modal kerja telah diperoleh dan penggunaan atau pengeluaran modal kerja yang telah dilakukan selama jangka waktu tertentu. Laporan keuangan yang sering digunakan menurut Harahap (2004:301) adalah sebagai berikut :
1. Rasio Likuiditas
Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.
2. Solvabilitas
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi.
3. Rentabilitas / Profitabilitas
Rasio rentabilitas atau disebut juga profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan perusahaan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan lain sebagainya.
4. Rasio leverage
Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun aset.
5. Rasio Aktivitas
Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya.
6. Rasio Pertumbuhan (growth)
Rasio ini menggambarkan presentasi pertumbuhan pos perusahaan dari tahun ke tahun.
7. Penilaian Pasar (Market based ratio)
Rasio ini merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan di pasar modal yang menggambarkan situasi / keadaan prestasi perusahaan dipasar modal.
8. Rasio produktivitas
Rasio ini menunjukkan tingkat produktivitas dari unit atau kegiatan yang dimiliki.
D. Pengertian Rasio Keuangan 1. Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Munawir Rasio keuangan adalah yang mengambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain,dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran kepada penganalisi tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan.
Maksud dari pernyataan tersebut adalah dengan melakukan analisis terhadap rasio-rasio keuangan maka akan dapat memberikan pengetahuan mengenai bagaimana kesehatan keuangan perusahaan, masalah-masalah yang sedang dihadapi dan penyebab-penyebabnya, serta hal-hal lain yang dapat mempengaruhi keadaan perusahaan tersebut. Dengan adanya pengetahuan tersebut maka akan dapat meningkatkan mutu maupun efektifitas menajemen dalam menjalankan perusahaan.
2. Jenis-jenis Rasio Keuangan
Rasio keuangan merupakan alat utama dalam analisi keuangan karena dapat dipergunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai kesehatan keuangan perusahaan. Segenap badan usaha harus melaporkan dua laporan keuangan dasar yaitu laporan neraca dan laporan perhitungan laba rugi. Analisis keuangan dilakukan dengan melihat laporan keuangan dasar perusahaan, kemudian mempelajari sejumlah rasio keuangan yang dapat dipergunakan untuk menilai keadaan keuangan perusahaan.
Analisis rasio keuangan merupakan langkah utama dalam analisis keuangan yang
dirancang untuk memperlihatkan hubungan diantara perkiraan-perkiraan laporan keuangan.
Ada tiga jenis rasio Munawir ( 2002 ) yang dapat dipergunakan dalam menganalisis laporan keuangan yaitu :
1. Likuiditas, adalah yang menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya saat ditagih. Kewajiban keuangan suatu perusahaan pada dasarnya digolongkan menjadi dua yaitu :
a. Kewajiban keuangan yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan ( kreditur ) ; dan
b. Kewajiban keuangan yang berhubungan dengan proses produksi atau jasa ( intern perusahaan ). Liquiditas perusahaan dapat ditunjukan dengan besar kecilnya aktiva lancar atau aktiva yang mudah diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang, persediaan.
2. Solvabilitas adalah yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuanganya apabila perusahaan tersebut diliquidasi, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Rentabilitas atau Profitabilitas adalah menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif, dengan demikian rentabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dengan
memperbandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah modal perusahaan tersebut.
E. Pengertian dan Rasio Likuiditas 1. Pengertian Likuiditas
Sebagaimana diketahui bahwa struktur kekayaan perusahaan erat hubungannya dengan struktur modalnya. Dengan menghubungkannya elemen-elemen aktiva di suatu pihak dengan elemen-elemen pasiva di lain pihak akan dapat diperoleh banyak gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan. Elemen-elemen apa yang akan dihubungkan adalah tergantung pada aspek keuangan yang ingin diketahui.
Dengan membandingkan elemen-elemen tertentu dari aktiva disatu pihak dengan elemen-elemen tertentu dari pasiva akan dapat diketahui keadaan atau tingkat likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas suatu perusahaan pada suatu saat tertentu.
Menurut Alwi, (2000:125) bahwa likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek yang berupa utang- utang jangka pendek (Short Term debt).
Kemudian Riyanto (2001:25) berpendapat bahwa masalah likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.
Jumlah alat-alat pembayaran (alat-alat likuid) yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu saat tertentu merupakan kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu
dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi atau dengan kata lain perusahaan tersebut belum tentu mempunyai kemampuan membayar.
Kemampuan membayar baru terdapat pada perusahaan apabila kekuatan membayarnya adalah demikian besarnya sehingga dapat memenuhi semua kewajiban finansial yang segera harus dipenuhi. Dengan demikian maka kemampuan membayar itu baru dapat diketahui setelah membandingkan kekuatan membayarnya di suatu pihak dengan kewajiban-kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi di lain pihak.
Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar demikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid.Dan sebaiknya yang tidak mempunyai kekuatan membayar disebut tidak likuid.
Menurut Munawir, dalam analisa laporan keuangan (2002:45) bahwa likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan saat ditagih.
Dengan demikian maka likuiditas badan usaha berarti kemampuan perusahaan untuk dapat menyediakan alat-alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kewajiban finansial pada saat ditagih. Apabila kemampuan membayar tersebut dihubungkan dengan kewajiban finansialnya untuk menyelenggarakan proses produksi maka dinamakan likuiditas perusahaan. Hal ini perusahaan harus memperhatikan perusahaan setiap saat untuk dapat memenuhi pembayaran- pembayaran yang diperlukan demi kelancaran operasi perusahaan.
Selanjutnya Riyanto, dalam dasar-dasar pembelanjaan perusahaan (2001:26) berpendapat bahwa Current Ratio kurang dari 2 : 1 dianggap kurang baik, sebab apabila aktiva lancar turun misalnya sampai lebih dari 50%, maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi untuk menutup utang lancarnya.
2. Rasio-Rasio Likuiditas
Untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat diketahui dengan membandingkan seluruh aktiva-aktiva lancarnya disatu pihak dengan hutang lancar / pasiva lancar dilain pihak.
Rasio ini sangat membantu bagi manajer perusahaan dalam mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Apabila hasil perhitungan terdapat tingkat likuiditas yang tinggi berarti perusahaan dalam keadaan normal (sehat). Sebaliknya apabila perhitungan tingkat likuiditasnya rendah, maka perusahaan harus berhati-hati karena posisi perusahaan terancam. Jadi rasio ini sangat penting sebagai dasar untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi.
Dari hasil perbandingan-perbandingan tersebut, kita dapatkan rasio-rasio seperti curren ratio, acid test ratio (quick ratio), cash ratio dan ratio modal kerja.
Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan satu persatu sebagai berikut : a. Current Ratio
Ratio ini merupakan ukuran yang berharga untuk mengukur kesanggupan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya yang jatuh tempo. Secara kasar
dapatlah dikatakan bahwa bagi perusahaan yang current rationya kurang dari 2 : 1 dianggap kurang baik, sebab aktiva lancar turun misalnya sampai lebih dari 50%, maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi untuk menutup hutang lancarnya. Jadi seberapa besar tingkat likuiditas minimum yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan, Riyanto Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2000:3), mengemukakan setiap perusahaan hendaknya menetapkan current ratio yang harus dipertahankan adalah 2 : 1.
Pendapat ini menunjukkan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban finansialnya dan harus mempertahankan current ratio 200% atau 2 : 1, berarti setiap satu rupiah hutang lancar harus dapat dijamin sedikitnya dua rupiah aktiva lancar. Pedoman current ratio 2 : 1 sebenarnya hanya didasarkan pada prinsip hati-hati. Adapun cara untuk menghitung besarnya current ratio, adalah sebagai berikut :
Current Ratio = Aktiva Lancar
Hutang Lancar x100%
b. Quick Ratio (Acid Test Ratio)
Rasio ini adalah merupakan suatu ukuran tentang kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang mendapat kepastian lebih besar untuk melunasi hutangnya yang tepat waktunya. Untuk ukuran quick ratio ini, Alex S. Nitisemito (1998:39) mengatakan, bahwa ukuran atau standard rasio ini ditetapkan berdasarkan prinsip hati-hati adalah 1 : 1 atau 100%. Kurang dari ukuran tersebut dianggap kurang baik.
Dari kutipan diatas jelas, bahwa quick ratio yang kurang dari 100%
memberikan petunjuk bahwa likuiditas perusahaan kurang baik sehingga perusahaan menghadapi kesulitan dalam membayar hutang-hutangnya yang tepat pada waktunya. Adapun cara menghitungnya, adalah sebagai berikut :
Quick Ratio = Aktiva Lancar − Persediaan
Hutang Lancar x 100%
c. Cash Ratio
Kas adalah suatu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya.Makin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan berarti makin tinggi tingkat likuiditasnya.Tetapi ini tidak berarti perusahaan harus mempertahankan persediaan kas yang sangat besar, karena makin besarnya kas berarti makin banyak uang yang menganggur sehingga memperkecil tingkat profitabilitasnya.
Untuk mempertahankan berapa besar uang kas yang harus dipertahankan, maka Guthmann dalam bukunya Bambang Riyanto (2003:57) menyatakan, jumlah kas yang ada di dalam perusahaan yang “Well Finance” hendaknya tidak kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar.
Adapun cara menghitung cash ratio dapat menggunakan rumus di bawah ini :
Cash Ratio = Aktiva Lancar − (Persediaan +Piutang )
Hutang Lancar x 100 %
d. Rasio Modal Kerja
Modal kerja adalah merupakan dana yang harus tersedia dalam perusahaan untuk membelanjai operasi perusahaan. Aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar diatas hutang lancarnya, ini sering disebut modal kerja neto (net working capital) atau selisih dari harta lancar dan hutang lancar.Modal kerja dapat pula digunakan sebagai suatu dasar untuk mengukur tingkat likuiditas, karena modal kerja adalah juga sebagian harta lancar yang diinvestasikan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yang diharapkan sampai saat modal kerja berputar kembali lagi menjadi kas.
Rasio modal kerja dapat digunakan untuk mengetahui likuiditas dari total aktiva dan untuk mengetahui posisi modal kerja netto dari keseluruhan aktiva.
Adapun rumus untuk menghitung rasio modal kerja, adalah sebagai berikut : Working capital to asset ratio = 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 − Hutang Lancar
Jumlah Lancar x 100%
Sebenarnya rasio modal kerja ini untuk mengetahui posisi modal kerja yang benar-benar dapat digunakan dalam operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya dari keseluruhan aktiva.
F. Pengertian Rasio Standar
Menurut Djarwanto, dalam pokok-pokok analisis laporan keuangan (2004:143), mengemukakan bahwa rasio adalah suatu angka yang menunjukkan
hubungan antara unsur-unsur laporan keuangan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana.
Lebih lanjut Djarwanto mengemukakan rasio standar ditentukan berdasarkan alternatif di bawah ini :
1. Didasarkan pada catatan kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan tahun- tahun yang telah lampau.
2. Didasarkan pada rasio dari perusahaan lain yang menjadi pesaingnya, dipilih satu perusahaan yang tergolong maju dan berhasil.
3. Didasarkan pada data laporan keuangan yang dibudgetkan (disebut “goal ratio”) 4. Didasarkan pada rasio industri, dimana perusahaan yang bersangkutan masuk
sebagai anggotanya.
Menurut Munawir, (2002 : 41), rasio perusahaan yang dijadikan perbandingan, dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1.Standar Rasio Perusahaan
No Komponen Persentase
1 Current Ratio 200%
2 Cash Ratio 100%
3 Quick Ratio 150%
Sumber : Analisis Laporan Keuangan.
G. Analisis Likuiditas Perusahaan
Suatu analisis rasio likuiditas perlu diterapkan dalam menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan, karena laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi, sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil- hasil yang telah dicapai oleh perusahaan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti lagi bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut dibandingkan dua periode atau lebih dan analisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.
Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendeknya pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia menentukan likuid tidaknya perusahaan tersebut.
H. Kinerja
Menurut Mulyadi ( 1999 : 419 ) Kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, dan karyawannya berdasarkan prasarat, standar dan kreteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Machfoedz ( 2000 : 347 ) Kinerja adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang yang bekerja secara sendiri atau bersama-sama yang dinilai berdasarkan suatu pedoman tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Sugiyono dan Winarni ( 2005 : 111 ) Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atau tujuan perusahaan, tingkat percapain misi perusahaan, tingkat pencapaian pelaksanaan tugas secara aktual dan pencapain misi perusahaan.
Jadi kinerja adalah penentuan keberasilan seseorang atau beberapa orang berdasarkan kreteria atau pedoman tertentu yang telah ditetapkan oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.
I. Manfaat Penilaian Kinerja
Menurut Bastian ( 2001 : 329 ), Manfaat penilaian kinerja adalah :
a. Memastikan pemahaman para pelaksanaan dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian prestasi.
b. Memastikan tercapainya skema prestasi yang disepakati.
c. Memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan perbandingan skema kerja dan pelaksanaan.
d. Memberiakan penghargaan dan hukuman yang objektif atas prestasi pelaksanaan yang telah diukur sesuai dengan sistem pengukuran prestasi yang telah disepakati.
e. Menjadikan alat kominikasi antar bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki prestasi organisasi.
f. Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.
g. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.
h. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.
i. Menunjukan peningkatan yang perlu dilakukan.
j. Mengungkap permasalahan yang objektif.
Menurut Mulyadi ( 2002 : 208 ), Manfaat penilaian kinerja yaitu :
a. Mengelolah operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotifasian personal secara maksimum.
b. Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penghargaan personal.
c. Menyediakan seleksi dan evaluasi program pelatihan personal.
d. Menyedikan umpan balik bagi personal
e. Menyediakan suatu dasar untuk mendistribusikan penghargaan.
a. Syarat – Syarat Indikator Kinerja
Menurut Bastian ( 2006 : 267 ) yang menjadi syarat-syarat indikator kinerja adalah sebagai berikut :
Spesifik, jelas dan tidak ada kemungkinan kesalahan interprestasi.
a. Dapat diukur secara objektif baik yabg bersifat kuantitatif maupun kualitatif, yaitu dua atau lebih yang mengukur indikator kinerja mempunyai kesimpulan yang sama.
b. Relevan indikator kinerja harus menangani aspek objektif yang relevan.
c. Dapat dicapai dan harus berguna untuk menunjukan keberasilan masukan, proses keluaran, hasil, manfaat serta kegiatan.
d. Harus cukup fleksibel dan sensitif terhadap perubahaan / penyesuaian pelaksanaan dan hasil pelaksanaan kegiatan.
e. Efektif, data / informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja bersangkutan dapat dikumpulkan, diolah dan dianalisis dengan biaya yang tersedia.
b. Kinerja Keuangan
Menurut Husnan dan Pudji Astuti ( 2000 : 67 ) Kinerja Keuangan adalah hasil dari keputusan individual yang dibuat secara terus, menerus oleh manajemen khusunya dalam hal ini adalah manajemen keuangan.
Menurut Bastian ( 2006 : 248 ) Kinerja Keuangan adalah laporan yang menyajikan pendapatan dan biaya selama periode tertentu.
Menurut Jumingan ( 2009 : 239 ) Kinerja Keuangan merupakan gambaran kondisi keuangan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana.
Jadi kinerja keuangan adalah gambaran keuangan suatu perusahaan dimana kita bisa melihat apakah perusahaan yang dijalankan tersebut mempunyai kinerja yang bagus atau tidak terdapat keuangan suatu perusahaan.
c. Tujuan Kinerja Keuangan
Menurut Jumingan ( 2009 : 239 ) Tujuan kinerja keuangan adalah :
1. Untuk mrngetahui keberasilan pengelolahaan keuangan perusahaan terutama kondisi likuiditas, solvabilitas dan kecukupan modal yang di capai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya.
2. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan semua asset yang dimiliki dalam menghasilkan keuntungan secara efisien.
J. Kerangka Pikir
Baitul Maal Wattamwil (BMT) sebagai salah satu lembaga mikro keuangan memiliki fungsi menghimpun dana masyarakat dalam hal bentuk simpanan. Dalam hal ini, BMT menggunakan instrument nisbah bagi hasil dalam menarik nasabah untuk menyimpan dananya di BMT Hikmah.
Rasio Likuiditas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi.
Kerangka pikir penelitian menggambarkan hubungan dari variabel independen, dalam hal ini adalah Likuiditas (X) dan dependen yaitu Kinerja Keuangan (Y). Adapun kerangka pemikiran yang digunakan adalah sebagai berikut :
KOPERASI BMT HIKMAH
LIKUIDITAS LAPORAN KEUANGAN
KINERJA KEUANGAN LKMS KOPERASI BMT HIKMAH MAKASSAR
K. Hipotesis
Adapun hipotesis yang dikemukakan pada penelitian ini yaitu :
“ Di duga kinerja keuangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar dari segi likuiditas berfluktuasi ”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar, yang beralamat Jalan Abubakar Lambogo No. 263. Waktu penelitian ini selama dua bulan yaitu dari bulan April sampai dengan Juni 2014.
B. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah terdiri :
a. Data kuantitatif, yaitu data laporan keuangan berupa neraca selama kurun waktu 4 tahun terakhir.
b. Data kulitatif, yaitu data berupa informasi tentang sejarah perusahaan.
2. Sumber data yang diperlukan :
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pimpinan dan karyawan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari dokumen perusahaan.
43
C. Metode Pengumpulan Data
Upaya memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. Penelitian pustaka (Library reserarch) yaitu suatu tehnik pengumpulan data melalui buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.
2. Penelitian lapang (field research) yaitu pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti melalui cara sebagai berikut :
a. Observasi, yaitu cara pengumpulan data dengan pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti, yaitu dengan mengumpulkan data laporan keuangan perusahaan selama 4 tahun terakhir.
b. Wawancara dengan pimpinan dan karyawan perusahaan mengenai tingkat likuiditas perusahaan.
D. Metode Analisis
Untuk memecahkan masalah pokok sekaligus untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penulisan proposal ini, penulis menggunakan metode :
1. Analisis deskriptif yaitu menjelaskan bagaimana kinerja keuangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah Koperasi Baitul Maal Wattamwil (BMT) Hikmah Makassar dinilai dari tingkat likuiditasnya.