BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Pengertian dan Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan
Lingkungan hidup adalah jumlah semua benda yang hidup dan tidak hidup serta kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati (Sastrawijaya, 2000).
Sanitasi lingkungan adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masyarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia (Chandra, 2007).
Lingkungan hidup eksternal merupakan lingkungan di luar tubuh manusia yang terdiri atas tiga komponen, antara lain (Chandra, 2007) :
1. Lingkungan fisik bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara, tanah,
cuaca, makanan, rumah, panas, sinar, radiasi, dan lain-lain. Lingkungan fisik ini berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang waktu dan masa serta memegang peranan penting dalam proses terjadinya penyakit pada masyarakat.
2. Lingkungan Biologi bersifat biotik atau benda hidup, misalnya
tumbuh-tumbuhan, hewan, virus, bakteri, jamur, parasit, serangga dan lain-lain yang dapat berperan sebagai agens penyakit, vektor penyakit.
3. Lingkungan Sosial berupa kultur, adat-istiadat, kebiasaan, kepercayaan,
agama, sikap, standar dan gaya hidup, pekerjaan, kehidupan kemasyarakatan, organisasi sosial dan politik.
2.2.1. Penyediaan Air Bersih
Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Air dipergunakan untuk memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran yang ada di sekitar rumah. Air digunakan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam
kebakaran, transportasi, dan lain-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia dapat juga ditularkan dan disebarkan melalui air (Chandra, 2007).
Sumber daya air di bumi meliputi (Soesanto, 2001) :
1. Mata air (air tanah yang menyembul ke permukaan tanah).
2. Air tanah (air tanah tidak tertekan dan air tanah tertekan)
3. Sungai
4. Danau
5. Air laut
Untuk kepentingan masyarakat sehari-hari, persediaan air harus memenuhi standar air minum dan tidak membahayakan kesehatan manusia.
Negara maju lebih menekankan standar kimia, sedangkan negara berkembang lebih menekankan standar biologis. Menurut Chandra (2007) dikatakan bahwa standar-standar untuk kelayakan air minum yang berlaku di Indonesia menurut Permenkes RI No.01/Birhubmas/I/1975 adalah :
a. Standar fisik : suhu, warna, bau, rasa, kekeruhan.
b. Standar biologis : kuman, parasit, patogen, bakteri golongan koli (sebagai
patokan adanya pencemaran tinja).
c. Standar kimia : Ph, jumlah zat padat, dan bahan kimia lain.
d. Standar radioaktif : radioaktif yang mungkin ada dalam air (Chandra, 2007).
Air dapat merupakan medium pembawa mikroorganisme patogenik yang berbahaya bagi kesehatan. Patogen yang sering ditemukan di dalam air terutama adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera, Shigella dysentriae, penyebab paratifus, virus polio dan
hepatitis, dan Entamoeba histolyca penyebab disentri amuba. Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh sumber air tersebut.
Tabel 1. Beberapa Jenis dan Agent Penyakit Bawaan Air
Agent Jenis Penyakit Bakteri Vibrio Cholera E. Coli Salmonella Typhi Salmonella Parathypi Shigella Dysentrriae Kolera Diare/Disentri Thypus Abdominalis Parathypus Dysentri Metazoa Ascaris Lumbrucoides Clonorchris sinensis Diphylobotrium latum Tanea Saginata/Solium Schistosoma Ascaris Clonorchhiasis Taeniasis Schistomiasis Sumber : Slamet, 1996
Sumur merupakan sumber utama persediaan air bersih bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan maupun perkotaan Indonesia.
Secara teknis sumur dapat dibagi menjadi 2 jenis :
1. Sumur dangkal
Sumur dangkal memiliki sumber air yang berasal dari resapan air hujan di atas permukaan bumi terutama di daerah dataran rendah. Jenis sumur ini banyak terdapat di Indonesia dan mudah sekali terkontaminasi air kotor yang berasal dari kegiatan mandi-cuci-kakus.
2. Sumur dalam
Sumur dalam memiliki sumber air yang berasal dari proses purifikasi alami air hujan oleh lapisan kulit bumi menjadi air tanah.
1. Sumur berjarak maksimal 10 meter dan terletak lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya.
2. Dinding sumur harus dilapisi dengan batu yang disemen. Pelapisan dinding
paling tidak sedalam 6 meter dari permukaan tanah.
3. Saluran pmbuangan air harus dibuat menyambung dengan parit agar tidak
terjadi genangan air di sekitar sumur.
4. Sumur sebaiknya ditutup dengan penutup terbuat dari batu terutama pada sumur
umum. Manfaat dari tutup sumur agar mencegah terkontaminasi air sumur dari penyakit.
5. Sumur harus dilengkapi dengan pompa tangan/listrik. Pemakaian timba dapat
memperbesar terjadinya kontaminasi.
2.2.2. Jamban
Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran yang lazim disebut WC, sehingga kotoran atau najis tersebut berada dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman (Heru, 1995).
Manfaat jamban untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dan pencemaran dari kotoran manusia (Chandra, 2007).
Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan berbagai macam penyakit seperti: diare, Cholera, disentri, poliomyelitis, ascariasis dan sebagainya. Kotoran manusia merupakan buangan padat. Selain menimbulkan bau, mengotori lingkungan juga merupakan media penularan penyakit pada masyarakat.
Perjalanan agent penyebab penyakit melalui cara transmisi seperti dari tangan, maupun melalui peralatan yang terkontaminasi atau pun melalui mata rantai lainnya.
Dimana memungkinkan tinja atau kotoran yang mengandung agent penyebab infeksi masuk melalui saluran pencernaan Chandra, 2007).
Jamban yang sehat adalah jamban yang memenuhi syarat sebagai berikut (Depkes RI, 1998):
a. Tidak mencemari sumber air minum (untuk ini letak lubang penampungan
kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari sumber air minum).
b. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.
c. Air seni, air pembersih dan penggelontor tidak mencemari tanah di
sekitarnya.
d. Mudah dibersihkan, aman digunakan, dan harus terbuat dari bahan-bahan
yang kuat dan tahan lama.
e. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna
terang.
f. Cukup penerangan dan lantai kedap air. g. Luas ruangan cukup.
h. Ventilasi cukup baik.
i. Tersedia air dan alat pembersih.
Cara memelihara jamban sehat (Depkes RI, 1998)
a. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering. b. Disekeliling jamban tidak ada genangan air. c. Tidak ada sampah yang berserakan.
d. Rumah jamban dalam keadaan baik.
e. Lalat, tikus, dan kecoa tidak ada. f. Tersedia alat pembersih.
g. Bila ada bagian yang rusak segera diperbaiki atau diganti.
Penyakit yang ditularkan oleh tinja yaitu Ascariasis dan Trichiniaris.
2.2.3. Pengelolaan Sampah
Sampah adalah suatu bahan/benda aktivitas manusia yang tidak dipakai lagi, tidak disenangi atau padat yang terjadi karena berhubungan dengan di buang dengan cara-cara saniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia (Kusnoputranto, 2000).
Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung adalah karena kontak langsung dengan sampah misalnya sampah beracun. Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah. Efek tidak langsung dapat berupa penyakit bawaan, vektor yang berkembang biak di dalam sampah.
Mengingat efek daripada sampah terhadap kesehatan maka pengelolaan sampah harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tersedia tempat sampah yang dilengkapi dengan penutup.
b. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan bagian dalam rata dan dilengkapi dengan penutup.
c. Tempat sampah dikosongkan setiap 1 x 24 jam atau 2/3 bagian telah terisi
penuh.
d. Jumlah dan volume tempat sampah disesuaikan dengan volume sampah yang
dihasilkan setiap kegiatan.
e. Tersedia tempat pembuangan sampah sementara yang mudah terjangkau
kendaraan pengangkut sampah dan harus dikosongkan sekurang-kurangnya 3x24 jam.
Jenis penyakit yang dapat ditularkan dari sampah yaitu cacing gelang, Salmonella typh.
Pembuangan kotoran, air buangan dan sampah serta pemeliharaan lingkungan juga penting dalam penanggulangan penyebaran cacingan. Hal ini dibuktikan oleh Pasaribu (2004) di Kabupaten Karo yang menemukan 45,8% sampel tanah yang diperiksa mengandung telur cacing gelang.
2.2.4. Pengelolaan Air Limbah
Menurut Ehless dan Steel dalam Chandra (2007), air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan atau zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan.
Sarana pembuangan air limbah yang sehat harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut :
a. Tidak mencemari sumber air bersih.
b. Tidak menimbulkan genangan air yang menjadi sarang serangga/nyamuk.
c. Tidak menimbulkan bau.
d. Tidak menimbulkan kelembaban dan pandangan yang tidak menyenangkan.
Untuk itu pengelolaan limbah harus memiliki persyaratan teknis apabila belum ada atau tidak terjangkau oleh sistem pengelolaan limbah perkotaan. Kualitas air limbah yang dibuang ke lingkungan harus mempunyai persyaratan baku mutu air limbah sesuai peraturan.
Rumah adalah tempat tinggal suatu keluarga yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya seperti sarana jalan, saluran air kotor, tempat sampah, sumber air bersih, lampu jalan, dan lain-lain (Chandra, 2007).
Kriteria rumah yang sehat dan aman dari segi lingkungan, antara lain:
a. Memiliki sumber air bersih dan sehat serta tersedia sepanjang tahun. b. Memiliki tempat pembuangan kotoran, sampah, dan air limbah yang baik. c. Dapat mencegah terjadi perkembangbiakan vektor penyakit, seperti nyamuk,
lalat, tikus, dan sebagainya.
d. Letak perumahan jauh dari sumber pencemaran dengan jarak minimal 5 km,
memiliki daerah penyangga atau daerah hijau (green belt) dan bebas banjir (Chandra, 2007).
Penelitian Damayanti seperti yang dikutip Hidayat (2002) menunjukkan adanya hubungan yang erat antara interaksi faktor lingkungan tempat tinggal dengan prevalensi cacing pada anak sekolah dasar. Tingginya prevalensi cacing gelang pada anak sekolah dasar di desa dibanding dengan di kota menunjukkan adanya perbedaan hygiene dan sanitasi lingkungan Penelitian tersebut menggambarkan bahwa adanya infeksi ganda cacing gelang di desa lebih tinggi dibanding dengan di kota. Hal ini menunjukkan lingkungan pedesaan merupakan faktor predisposisi untuk anak-anak sekolah dasar di desa.
Menurut Ismid et al. (1980) seperti yang dikutip Hidayat (2002), di halaman rumah telur cacing gelang banyak ditemukan di sekitar tumpukan sampah (55%) dan tempat teduh di bawah pohon (33,3%). Penelitian Hadidjaja et al (1989) menunjukkan bahwa 14-12% sampel air got yang diperiksa ternyata positip mengandung telur cacing. Telur cacing juga banyak ditemukan di sekitar sumur, tempat cuci, dekat
jamban, pinggiran kali bahkan dekat di dalam rumah. Kepadatan penghuni dalam rumah juga berperan terhadap penularan kecacingan.
2.3. Hygiene
2.3.1. Definisi Hygiene
Hygiene berasal dari bahasa Yunani yang artinya bersih. Kebersihan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Kesehatan pribadi yang buruk pada masa tersebut akan dapat mengganggu perkembangan kualitas sumber daya manusia.
Keadaan tangan dan kuku yang kotor serta kebiasaan-kebiasaan lain yang salah tentang kesehatan pribadi tersebut akan dapat menimbulkan infeksi kecacingan (Tarwoto dan Wartonah,2006).
Dalam praktiknya upaya hygiene antara lain meminum air yang sudah direbus sampai mendidih dengan suhu 100°C selama 5 menit, mandi dua kali sehari agar badan selalu bersih dan segar, mencuci tangan dengan sabun sebelum memegang makanan, mengambil makanan dengan alat seperti sendok atau penjepit, dan menjaga kebersihan kuku serta memotongnya bila panjang (Azwar, 1993).
Menurut Entjang (2000), usaha kesehatan perorangan adalah daya upaya seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri.
Usaha usaha tersebut antara lain adalah :
a. Memelihara kebersihan, hal-hal yang termasuk ke dalam usaha memelihara
kebersihan ini adalah kebersihan badan (mandi minimal 2x sehari, menggosok gigi secara teratur, dan mencuci tangan sebelum memegang makanan dan sesudah makan), menjaga kebersihan pakaian (selalu di cuci dan
di setrika), memelihara kebersihan rumah dan lingkungan (selalu disapu, membuang sampah, buang air besar dan air limbah pada tempatnya).
b. Makanan sehat adalah makanan yang harus selalu dijaga kebersihannya,
bebas dari penyakit, cukup kuantitas dan kualitasnya.
c. Cara hidup yang sehat yaitu makan, tidur, bekerja dan beristirahat secara teratur termasuk rekreasi dan menikmati hiburan pada waktunya.
d. Meningkatkan daya tahan tubuh untuk mendapatkan kekebalan terhadap
penyakit perlu mendapatkan vaksinasi, olah raga yang teratur untuk menjaga agar badan selalu bugar.
e. Menghindari terjadinya penyakit agar selalu sehat, hindari kontak dengan
sumber penularan penyakit baik yang berasal dari penderita maupun dari sumber lainnya, menghindari pergaulan yang tidak baik, selalu berfikir dan berbuat baik.
f. Pemeriksaan kesehatan untuk menjaga badan agar selalu sehat, perlu
dilakukan pemeriksaan secara periodik, walaupun merasa sehat, dan segera memeriksakan diri apabila merasa sakit.
2.3.2. Kebersihan tangan, kaki dan kuku
Tangan sangat berperan dalam penularan penyakit, khususnya penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang masuk ke mulut, misalnya cacingan. Tangan kotor setelah mencebok pada waktu buang air besar atau memegang kotoran lainnya harus dicuci dengan bersih agar terbebas dari segala bibit penyakit yang melekat pada tangan. Mencuci tangan dengan benar berarti mencuci tangan dengan air yang cukup dan menggunakan sabun.
Menggosok tangan hendaknya dilakukan dengan baik sehingga seluruh bagian dari tangan tercuci sempurna dan menggunakan lap khusus untuk mengeringkan
tangan. Pakaian yang mungkin sudah kotor jangan digunakan. Kebersihan tangan, kaki dan kuku secara wajar penting artinya bagi manusia dalam usia berapapun. Untuk menjaga kebersihan tangan, kaki dan kuku selalu melakukan mencuci tangan dengan benar harus dilakukan cara-cara :
a. Membersihkan tangan sebelum makan dan setelah makan.
b. Setelah buang air besar.
c. Sebelum memasak atau menyiapkan makanan.
d. Sebelum memberikan makanan bayi dan anak-anak (sebelum memegang
makanan).
e. Sebelum menyusui.
f. Setelah memegang hewan, ternak atau benda-benda kotor lainnya. g. Mencuci kaki sebelum tidur.
Sewaktu mencuci tangan bagian kuku hendaklah mendapatkan perhatian yang lebih karena kuku yang terawat dan bersih juga merupakan cerminan kepribadian seseorang. Kuku yang panjang dan tidak terawat akan menjadi tempat melekatnya berbagai kotoran yang mengandung berbagai bahan dan mikroorganisme diantaranya bakteri dan telur cacing.
Kuku jari tangan yang kotor kemungkinan terselip telur cacing akan tertelan ketika makan. Hal ini akan lebih parah apabila tidak terbiasa mencuci tangan
memakai sabun sebelum makan, bahkan pada anak-anak yang menderita Oxyuriasis
akan mengalami auto infeksi ketika mengisap jari sewaktu tidur (Luize A, 2004 dan Onggowaluyo, 2002).