• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUMMENGENAI TANGGUNG JAWAB NEGARA

2.2 Tanggung Jawab Pengangkut dalam Hukum Pengangkutan

2.2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Tanggung Jawab

35 Ibid.

36 Malcolm N. Shaw, 1986, International Law, Second Edition, Buttherworths, h. 419.

Secara etimologi pengangkutan berasal dari kata „angkut‟ yang berarti bawa,

angkut, muat dan kirimkan, memuat dan membawa atau mengirimkan. Berarti pengangkutan mempunyai arti pembawaan, pemuatan dan/atau pengiriman barang atau orang.38

Menurut Purwosutjipto, pengangkutan merupakan perjanjian timbal balik antara pengangkut dan pengirim/penumpang, dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan dengan selamat, sedangkan pengirim/penumpang mengikatkan diri untuk membayar sejumlah uang sebagai biaya angkutan.39Kemudian Hasim Purba menambahkan bahwa pengangkutan adalah upaya pemindahan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan alat angkutan, baik angkutan darat, angkutan perairan maupun angkutan udara.40

Jadi secara umum yang dimaksud dengan pengangkutan adalah suatu kegiatan memindahkan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan dengan menggunakan alat angkutan, dimana terdapat hubungan timbal balik yang menimbulkan hak serta kewajiban antara pihak pengangkut dan pengirim atau penumpang. Pihak pengangkut mempunyai kewajiban untuk mengirim barang dan/atau orang ke tempat dengan selamat dan setelahnya mendapatkan hak berupa

38Abdulkadir Muhammad, 1991, Hukum Pengangkutan Darat Laut dan Udara, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 19.

39 HMN. Purwosutjipto, loc.cit.

40 Hasim Purba, 2005, Hukum Pengangkutan di Laut: Perspektif Teori dan Praktek, Pustaka Bangsa Press, Medan, h. 5.

biaya angkut. Sedangkan pengirim atau penumpang mempunyai kewajiban untuk membayar biaya angkut yang selanjutnya mendapatkan hak untuk diangkut dengan selamat ke tempat tujuan.

Secara umum tanggung jawab pengangkut dapat diartikan sebagai kewajiban perusahaan angkutan untuk mengganti kerugian yang diderita penumpang atau pengirim barang serta pihak ketiga.41 Adapun yang menjadi ruang lingkup terkait tanggung jawab pengangkut, yaitu42:

1. Pada saat kapan pengangkut bertanggung jawab terhadap barang atau penumpang. Ketentuan ini berkaitan dengan penentuan dapat atau tidaknya pengangkut bertanggung jawab bilamana terjadi kecelakaan atau keterlambatan yang menimbulkan kerugian pada penumpang atau barang. 2. Kerugian atau kerusakan yang disebabkan oleh suatu kecelakaan. Ketentuan

ini membahas mengenai kerugian atau kerusakan yang seperti apa yang dapat membuat pihak pengangkut wajib bertanggung jawab terhadap kecelakaan atau kerusakan yang diderita penumpang atau barang.

3. Batas tanggung jawab pengangkut. Pembatasan tanggung jawab pengangkut didasari oleh pemikiran yaitu merupakan salah bentuk perlindungan terhadap perusahaan pengangkut yang masih dalam taraf berkembang atau secara finansial masih sangat lemah, kesadaran penumpang dan kargo bahwa setiap

41 Ibid, h. 18.

setiap kegiatan pengangkutan pasti akan menimbulkan risiko, serta untuk menghindari proses berperkara di Pengadilan yang berkepanjangan.

2.2.2 Prinsip-Prinsip Tanggung Jawab Pengangkut dalam Hukum

Pengangkutan Udara Internasional

Titik sentral setiap pembahasan mengenai tanggung jawab pengangkut pada umumnya adalah mengenai prinsip tanggung jawab (liability principle) yang diterapkan. Penggunaan suatu prinsip tanggung jawab tertentu bergantung pada keadaan tertentu, baik ditinjau dari perkembangan masyarakat maupun perkembangan dunia angkutan yang bersangkutan, baik darat, laut atau udara.43 Mengenai teori tanggung jawab pengangkut, dikenal 3 (tiga) macam prinsip, yakni:

a. Prinsip tanggung jawab berdasarkan atas adanya unsur kesalahan (fault liability

atau liability based on fault principle)

Dilihat dari sejarah perkembangannya, prinsip tanggung jawab berdasarkan kepada unsur kesalahan (liability based on fault) merupakan reaksi terhadap prinsip atau teori tanggung jawab mutlak (strict liability) yang berlaku pada jaman primitif. Namun seiring dengan perkembangan jaman, hukum mulai menaruh perhatian lebih besar pada hal-hal yang besifat pemberian maaf (exculpatory considerations) dan sebagai akibat moral philosophy dari ajaran agama yang cenderung mengarah pada pengakuan kesalahan moral (moral

culpability) sebagai dasar yang tepat untuk perbuatan melawan hukum.44 Di samping ajaran moral ini, faktor lain yang juga penting dalam proses sikap ini adalah adanya anggapan masyarakat bahwa kerugian sebagai akibat dari suatu kelalaian (negligence) tidak berarti kurang penting daripada kerugian akibat dari suatu kesengajaan.45 Adapun yang termasuk dalam pengertian kesalahan adalah baik perbuatan yang disengaja maupun kelalaian. Kahn Freund yang pendapatnya dikutip oleh Saefullah Wiradipradja memberikan definisi umum mengenai kesalahan sebagai berikut:

Negligence means omission to do something which in the circumstances a reasonable and careful man would do, or the doing of something which in the circumstances a reasonable or careful man would not do.” 46

Menurut sejarahnya, prinsip tanggung jawab yang didasarkan pada unsur kesalahan mulanya dikenal dalam kebudayaan kuno dari Babylonia yang kemudian dalam bentuknya yang lebih modern, prinsip ini dikenal dalam tahap awal dari hukum Romawi termasuk di dalamnya doktrin mengenai „culpa‟.

Prinsip ini kemudian menjadi hukum di negeri Belanda yang dituangkan dalam Pasal 1401 Burgerlijk Wetboek (BW) atau Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia yang dikenal dengan sebutan pasal perbuatan

44 Ibid, h. 20-21.

45 Ibid.

melawan hukum atau pasal mengenai tanggung jawab berdasarkan atas kesalahan.47

J.G. Fleming berpendapat bahwa konsep modern tentang tanggung jawab keperdataan (civil liability) secara umum menyatakan bahwa unsur kesalahan pada seseorang yang menyebabkan timbulnya kerugian pada orang lain merupakan syarat mutlak bagi adanya perbuatan melawan hukum. Prinsip bahwa tiada tanggung jawab tanpa kesalahan (no liability without fault) menjadi dogma yang berlaku umum.48

b. Prinsip tanggung jawab berdasarkan atas praduga (rebuttable presumption of liability principle)

Prinsip tanggung jawab berdasarkan atas praduga ini pertama diterapkan pada Konvensi Warsawa 1929 untuk pengangkutan udara internasional dan Ordonansi Pengangkutan Udara 1939 bagi pengangkutan udara domestik. Perbedaan yang utama antara prinsip tanggung jawab ini dengan prinsip tanggung jawab berdasarkan adanya unsur kesalahan adalah bahwa pada prinsip tanggung jawab ini beban pembuktian beralih dari korban (penggugat) kepada pengangkut (tergugat).49

47 M.A. Moegni Djojodihardjo, 1979, Perbuatan Melawan Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, h. 27.

48 E.Saefullah Wiradipradja, op.cit, h. 24.

Berdasarkan prinsip presumption of liability yang diterapkan dalam Konvensi Warsawa dan Ordonansi Pengangkutan Udara 1939, pengangkut adalah prima facie bertanggung jawab atas kerugian yang diderita korban kecuali ia dapat membuktikan bahwa pihaknya telah mengambil semua tindakan yang perlu untuk menghindarkan kerugian tersebut. Jadi, pihak penggugat atau korban dapat mengajukan tuntutan untuk memperoleh santunan tanpa harus membuktikan adanya kesalahan pada pihak pengangkut. Satu-satunya cara kewajiban yang harus ia (korban/penggugat) lakukan adalah menunjukkan bahwa kecelakaan atau kejadian yang menyebabkan kerugian tersebut terjadi di dalam pesawat udara atau selama embarkasi atau disembarkasi.50 Dengan demikian, yang dimaksud bahwa tanggung jawab pengangkut berdasarkan pada praduga yaitu tanggung jawab pengangkut tersebut dapat dihindarkan sepanjang pengangkut dapat membuktikan bahwa pihaknya tidak bersalah (absence of fault).

c. Prinsip tanggung jawab mutlak (no-fault liability, absolute/strict liability principle)

Prinsip tanggung jawab mutlak (no-fault liability or liability without fault) di dalam kepustakaan biasanya dikenal dengan istilah absolute liability

atau strict liability. Dengan prinsip tanggung jawab mutlak dimaksudkan agar meniadakan keharusan untuk membuktikan adanya kesalahan dalam suatu

perbuatan. Atau dengan kata lain, suatu prinsip tanggung jawab yang memandang kesalahan sebagai suatu yang tidak relevan untuk dipermasalahkan.51

Prinsip tanggung jawab mutlak telah diterapkan dalam ketentuan-ketentuan hukum pengangkutan udara internasional dewasa ini seperti Roma Convention 1952 (kemudian diubah dengan Protocol Montreal 1978), Montreal Agreement 1966, Protocol Guatemala City 1971 dan dalam Protocol Montreal

No. 4 1975. Adapun beberapa alasan untuk memberlakukan prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum pengangkutan udara antara lain:52

- Ketidaksesuaian protective philosophy bagi pengangkut dan pesatnya kemajuan teknologi penerbangan yang membuat kemungkinan timbulnya kecelakaan berkurang dibandingkan 50 – 60 tahun yang lalu;

- Sebagai kompensasi atas penyelenggaraan kegiatan yang sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan orang lain;

- Sebagai pertimbangan terhadap nilai-nilai sosial secara luas (a broad social value-judgement) yang mana apabila seseorang melakukan kegiatan untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri harus menanggung risiko akibat dari kegiatan tersebut;

- Menjamin para korban untuk memperoleh santunan dan proses pembayarannya tidak akan berlarut-larut; dan

51 Ibid, h. 35.

- Pelaksanaan prinsip tanggung jawab mutlak dengan disertai pembatasan tanggung jawab yang tidak dapat dilampaui dalam keadaan apapun (unbreakable limit) serta sistem asuransi wajib, sebenarnya cukup memberikan perlindungan terhadap pengangkut.

2.2.3 Unsur-unsur Tanggung Jawab Pengangkut dalam Hukum Pengangkutan

Dokumen terkait