• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : GAMBARAN DATA PKLM

B. Pengertian dan Tujuan Penyuluhan Perpajakan

Dalam Self Assesment System, penyuluhan merupakan suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh administrasi perpajakan agar masyarakat dapat melakukan kewajiban perpajakannya. Dalam berbagai literatur, pengertian penyuluhan biasanya dirangkaikan dengan pengertian penyampaian informasi, bimbingan dan konsultasi untuk menolong individu yang mengalami kesulitan atau kesukaran. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-98/PJ/2011 yang dimaksud dengan Penyuluhan Perpajakan adalah suatu upaya dan proses memberikan informasi perpajakan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat, dunia usaha, aparat, serta lembaga pemerintah maupun non-Pemerintah agar terdorong untuk paham, sadar, peduli dan berkontribusi dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Kegiatan penyuluhan kepada masyarakat dengan demikian menjadi suatu hal diberikannya kepercayaan sepenuhnya untuk melaksanakan undang-undang perpajakan sehungga dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik, sedangkan administrasi perpajakan berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan, membimbing, dan membina masyarakat agar mampu dan sadar untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya. Jadi hanya seseorang yang mempunyai kualitas dan profesional yang ditunjuk atau diangkat sebagai penyuluh. Petugas penyuluh fungsional ini dibutuhkan agar tercipta tujuan penyuluhan yang berkualitas yang akhirnya dapat meningkatkan penerimaan pajak karena masyarakat menjadi sadar dan mau melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Tujuan penyuluhan perpajakan secara khusus adalah mendorong kesediaandan kepatuhan Wajib Pajak untuk membayar pajak. Melalui penyuluhanperpajakan diharapkan pula pengetahuan dan kesadaran masyarakat Wajib Pajak untuk memperoleh hak dan melaksanakan kewajiban perpajakannya semakinmeningkat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalampelaksanaan hak dan kewajiban perpajakannya, diharapkan jumlah Wajib Pajak yang terdaftar di suatu KPP juga semakin meningkat. Masyarakat yang dulunyaenggan untuk mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak menjadi sadar dan maumendaftarkan dirinya. Demikian halnya dengan Wajib Pajak yang telah tercatatsebagai Wajib Pajak semakin sadar untuk meningkatkan kepatuhannya dalammelaksanakan kewajiban perpajakannya. C. Pelaksanaan Penyuluhan Perpajakan

Agar penyuluhan perpajakan yang dilakukan mencapai sasaran yangdiharapkan, maka pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilaksanakan berdasarkanstandar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, Standarisasi penyuluhanperpajakan ini membagi tahapan penyuluhan perpajakan menjadi:

1) Tahap pertama adalah tahap analisa rencana penyuluhan yang disajikan berupapanduan data awal keadaan Wajib Pajak, kepatuhan serta penerimaan pajak sebelum dilakukannya penyuluhan perpajakan oleh KPP.

2) Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan penyuluhan. Pelaksanaan penyuluhanharus dilaksanakan berdasarkan analisa rencana penyuluhan yang telah disusunoleh masing-masing KPP. Metode penyuluhan yang

dilaksanakan adalahberdasarkan cara penyampaian, apakah itu metode penyuluhan secara langsungataupun penyuluhan secara tidak langsung.

3) Tahap yang terakhir adalah tahap evaluasi. Evaluasi yang dilakukan terhadap penyuluhan perpajakan pada umumnya dilakukan terhadap pelaksanaan penyuluhan saja, seperti evaluasi terhadap materi yang disampaikan atau performance petugas yang memberikan penyuluhan. Pada saat ini evaluasi yang dilakukan hanya berdasarkan pada data kuantitatif saja, yaitu berupa rasio perbandingan antara rencana volume penyuluhan dengan realisasi volume penyuluhan.

D. Materi Penyuluhan Perpajakan

Dalam pelaksanaan penyuluhan perpajakan perlu mengadakan pemilihan materi penyuluhan dengan memperhatikan tingkat pendidikan dan umur peserta penyuluhan. Materi dalam penyuluhan perpajakan pada umumnya adalah berupa ketentuan perundang-undangan perpajakan yang harus dipatuhi wajib pajak dalam membayar pajak termasuk pengertian dan pemahaman dasar perpajakan.Misalnya pengertian tentang pajak, mengapa harus membayar pajak, tata cara penghitungan dan pembayaran pajak serta pemanfaatan pajak dalam pembiayaan negara. Penyampaian materi-materi inidiharapkan dapat membantu atau mempermudah masyarakat untuk lebih memahami arti pajak yang sebenarnya. Sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak,serta melaksanakan kewajiban perpajakannya. Mengingat banyak yang beranggapan pajak masih merupakan momok atau sesuatu yang ditakuti oleh semua orang maka aparat

penyuluhan harus memberikan informasi dan penjelasan seluas mungkin kepada wajib pajak atau peserta penyuluhan. Inilah yang perlu dijelaskan kepada masyarakat dan yang terpenting sekali dalam mengadakan penyuluhan ini adalah komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat mengenai soal perpajakan tersebut.

E. Pembentukan Target Penyuluhan Perpajakan

Penyuluhan bukan merupakan sebuah upaya atau proses yang bersifat reaktif dan tidak terencana melainkan harus disusun secara sistematis sehingga dapat dilaksanakan, dipantau dan dievaluasi dengan baik. Dalam rangka mencapai tujuan penyuluhan maka kegiatan penyuluhan dibagi kedalam tiga fokus penyuluhan, sebagai berikut:Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-98/PJ/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Laporan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan Unit Vetikal Di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

Pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-98/PJ/2011 kegiatan penyuluhan dibagi kedalam tiga fokus penyuluhan yaitu:

1. Kegiatan Penyuluhan bagi Calon Wajib Pajak

Merupakan kegiatan penyuluhan yang dilakukan untuk membangun kesadaran tentang perpajakan kepada para calon Wajib Pajak meliputi kegiatan penyuluhan yang dimaksudkan untuk menjaring Wajib Pajak Baru apabila secara potensi subjek pajak dimaksud sudah memiliki penghasilan di atas Penghasilan Tidak

panjang" apabila subjek pajak yang diberikan penyuluhan masih belum memiliki penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) contohnya mahasiswa dan pelajar.

2. Kegiatan Penyuluhan bagi Wajib Pajak Baru

Merupakan kegiatan penyuluhan yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan untuk memenuhi kewajiban perpajakan bagi para Wajib Pajak Baru. Wajib Pajak Baru adalah Wajib Pajak Orang Pribadi/Badan yang terdaftar sejak awal tahun sebelumnya yang belum menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) pertama kali.

3. Kegiatan Penyuluhan bagi Wajib Pajak Terdaftar

Merupakan kegiatan penyuluhan yang dilakukan kepada Wajib Pajak yang telah terdaftar di luar kategori Wajib Pajak Baru. Penyuluhan ini dimaskudkan untuk menjaga kepatuhan Wajib Pajak dalam peraturan perundang-undangan perpajakan untuk terus patuh.

Dalam melaksanakan penyuluhan perpajakan yang dilakukan pegawai Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama melakukan kegiatan penyuluhan dengan 2 (dua) cara yaitu:

1. Penyuluhan Secara Langsung

Penyuluhan Secara Langsung adalah kegiatan penyuluhan perpajakan dengan berinteraksi langsung dengan Wajib Pajak atau Calon Wajib Pajak.Penyuluhan perpajakan secara langsung dilaksanakan apabila berdasarkan

analisis rencana penyuluhan, sektor yang harus disuluh termasuk pada skala prioritas pertama atau minimal prioritas kedua pada analisis rencana penyuluhan masing-masing KPP. Kegiatan yang dilakukan dalam melakukan penyuluhan secara langsung yaitu Seminar, Workshop, Bimbingan teknis, dan Kelas pajak.

Kelebihan dari kegiatan Penyuluhan Secara Langsung adalah penyampaian materi yang lebih detail dan pemahaman peserta atas materi penyuluhan yang baik karena terlibat langsung dalam bentuk diskusi dan tanya jawab secara langsung

Kekurangan dari kegiatan Penyuluhan Secara Langsung adalah jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan secara langsung terbatas.

2.Penyuluhan Secara Tidak Langsung

Penyuluhan Secara Tidak Langsung adalah kegiatan penyuluhan perpajakan kepada masyarakat dengan tidak melakukan interaksi dengan peserta. Kegiatan yang dilakukan dalam melakukan penyuluhan secara tidak langsung yaitu melakukan siaran talk show radio dan televisi.

Kelebihan Penyuluhan Secara Tidak Langsung adalah jumlah masyarakat yang dapat diedukasi melalui penyuluhan secara tidak langsung sangat luas.

Kekurangan Penyuluhan Secara Tidak Langsung adalah kegiatan penyuluhan yang relatif singkat sehingga materi penyuluhan yang diberikan cenderung bersifat umum dan tidak dapat dipastikan bahwa seluruh masyarakat yang melihat atau mendengar paham atas materi yang disampaikan melalui radio dan televisi.

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Mekanisme Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Dan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan

1. Tujuan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan

Penyuluhan perpajakan merupakan suatu upaya dan proses memberikan informasi perpajakan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat, dunia usaha, aparat, serta lembaga pemerintah maupun non pemerintah agar terdorong untuk paham, sadar, peduli dan berkontribusi dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.

Tujuan disusunnya pedoman penyusunan rencana kerja dan pelaporan kegiatan penyuluhan perpajakan ini adalah:

a. Memberikan panduan penyusunan rencana kerja dan pelaporan kegiatan penyuluhan perpajakan bagi unit kerja vertikal yang menjalankan fungsi penyuluhan;

b. Membangun kesamaan pemahaman mengenai rencana kerja penyuluhan yang akan dilakukan dan tata cara pelaporan kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan;

c. Membangun tata cara pelaporan kegiatan penyuluhan yang mendukung pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi penyuluhan secara lebih terstruktur, terarah, terukur dan berkesinambungan.

2. Dasar Hukum Penyuluhan Perpajakan

Adapun yang menjadi dasar hukum dari kegiatan penyuluhan perpajakan adalah :

1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010 tanggal 11 Oktober 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan

2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 709/PM.1/2008 tanggal 22 Oktober 2008 tentang Uraian Jabatan di Lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. 3. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE – 98/PJ/2011 tentang

Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Dan Laporan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan Unit Vertikal Di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

4. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE – 99/PJ/2011 tentang Pedoman Pembentukan Tim Penyuluhan Perpajakan Unit Vertikal Di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

5. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE – 100/PJ/2011 tentang Langkah-Langkah Sosialisasi/Penyuluhan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Pada Tahun 2012

3. Tahap-Tahap Dalam Pelaksanaan Tim Penyuluhan Perpajakan Pembentukan Tim Penyuluhan Perpajakan

Dalam rangka melaksanakan penyuluhan perpajakan, Kepala Kanwil DJP atau Kepala KPP membentuk Tim Penyuluhan Perpajakan. Adapun Tim dibentuk dengan ketentuan sebagai berikut :

Tingkat Kanwil DJP

- Kepala Kanwil DJP membentuk Tim Penyuluhan Perpajakan setiap tahun dan dilakukan paling lambat minggu pertama Januari dengan format sebagaimana Lampiran I;

- Anggota Tim Penyuluhan Perpajakan dipilih dari pejabat/pelaksana di lingkungan Kanwil DJP;

- Tim Penyuluhan Perpajakan disusun dengan struktur sebagaimana Lampiran II;

- Tim bertanggung jawab menyusun rencana kerja penyuluhan mengacu pada Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Penyuluhan Perpajakan Unit Vertikal Di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dengan tetap berkoordinasi dengan Bidang P2Humas Kanwil DJP;

- Tim bertanggung jawab melaksanakan tugas selama periode satu tahun; - Tim bertugas menjalankan rencana kegiatan penyuluhan Kanwil DJP;

- Tim melaksanakan kegiatan penyuluhan berdasarkan rencana kerja penyuluhan atau undangan penyuluhan dari pihak ketiga;

- Tim melaksanakan tugas sosialisasi/penyuluhan yang diinstruksikan oleh Kantor Pusat DJP.

Tingkat KPP

- Kepala KPP membentuk Tim Penyuluhan Perpajakan setiap tahun dan dilakukan paling lambat minggu pertama Januari dengan format sebagaimana Lampiran III;

- Anggota Tim Penyuluhan Perpajakan dipilih dari pejabat/pelaksana di lingkungan KPP, tidak termasuk pegawai pada KP2KP;

- Tim bertanggung jawab menyusun rencana kerja penyuluhan mengacu pada Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Penyuluhan Perpajakan Unit Vertikal Di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dengan tetap berkoordinasi dengan Bidang P2Humas Kanwil DJP;

- Tim Penyuluhan Perpajakan disusun dengan struktur sebagaimana Lampiran IV atau V;

- Tim bertanggung jawab melaksanakan tugas selama periode satu tahun; - Tim betugas menjalankan rencana kegiatan penyuluhan KPP;

- Tim bertugas memenuhi undangan penyuluhan yang dilakukan oleh pihak ketiga;

- Tim melaksanakan tugas sosialisasi/penyuluhan yang diinstruksikan oleh Kantor Pusat DJP dan/atau Kanwil DJP.

4.Penyusunan Kelompok Tenaga Penyuluh

Dalam rangka melaksanakan fungsi penyuluhan baik ditingkat Kanwil DJP maupun KPP, perlu disusun Kelompok Tenaga Penyuluh Perpajakan sebagai bagian dari tim di masing-masing unit vertikal (Kanwil DJP atau KPP).

Adapun penyusunan kelompok tenaga penyuluh perpajakan yang diatur dalam Surat Edaran Direktur Jendral Pajak Nomor SE - 99/PJ/2009 adalah :

1. Kanwil DJP/KPP menunjuk pejabat/pelaksana sebagai tenaga penyuluh dengan pembagian :

a. Untuk tingkat Kanwil DJP sebanyak 7 sampai dengan 8 orang b. Untuk tingkat KPP sebanyak 6 sampe dengan 8 orang

2. Tenaga Penyuluh Perpajakan di lingkungan KPP tidak memperhitungkan pegawai KP2KP

3. Daftar nama Tenaga Penyuluh perpajakan disusun dengan format sebagaimana lampiran VI

4. Daftra nama Tenaga Penyuluh perpajakan di lingkungan Kanwil DJP dan KPP agar dikirimkan kepada Direktur P2Humas sebelum tanggal 15 Januari setiap tahunnya dan setiap kali terjadi perubahan daftar nama Tenaga Penyuluh.

5. Tata Cara Penyusunan Rencana Penyuluhan

Rencana penyuluhan disusun oleh unit kerja secara berjenjang mulai dari bawah ke atas (bottom-up), dimulai dari Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) sampai dengan Kanwil DJP.

Dalam menyusun rencana penyuluhan, maka seluruh kegiatan penyuluhan yang direncanakan oleh unit vertikal DJP harus mendukung tercapainya tujuan penyuluhan yaitu :

1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman perpajakan masyarakat wajib pajak sehingga mampu memenuhi kewajiban perpajakannya;

2. Meningkatkan kesadaran untuk patuh memenuhi kewajiban perpajakan.

Dalam menyusun rencana kegiatan penyuluhan unit vertikal mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Rencana Penyuluhan Untuk Calon Wajib Pajak

Dilakukan dengan pemahaman bahwa edukasi yang tepat akan menumbuhkan kepatuhan sukarela dimasa yang akan datang.

2. Rencana Penyuluhan Untuk Wajib Pajak Baru Dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut :

a. Wajib Pajak harus mendapatkan penyuluhan mulai dari saat terdaftar sebagai wajib pajak.

b. Wajib Pajak memperoleh pemahaman bahwa menjadi wajib pajak tidak sulit. c. Wajib Pajak mengetahui jika mengalami kesulitan akan memperoleh

bantuan/asistensi secara mudah dan gratis. 3. Rencana Penyuluhan Untuk Wajib Pajak Terdaftar

Dilakukan dengan pendekatan target/segmented dengan cara mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Hasil evaluasi kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya

b. Hasil analisa tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi c. Hasil analisa kepatuhan per jenis usaha.

Secara umum tahapan penyusunan rencana penyuluhan sebagai berikut :

1. Menentukan tema/topik penyuluhan, yaitu berdasarkan hasil analisis bahwa pemahaman masyarakat Wajib Pajak tentang tema/topik tersebut perlu ditingkatkan.

2. Menetapkan target/segmen audience yang akan diberikan penyuluhan.

3. Menjabarkan tema/topik dan target/segmen kedalam kegiatan-kegiatan penyuluhan.

4. Memilih media penyuluhan yang sesuai untuk melaksanakan kegiatan dimaksud yang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

4.1.Penyuluhan Secara Langsung

Penyuluhan Secara Langsung adalah kegiatan penyuluhan perpajakan dengan berinteraksi langsung dengan Wajib Pajak atau Calon Wajib Pajak. Penyuluhan perpajakan secara langsung dilaksanakan apabila berdasarkan analisis rencana penyuluhan, sektor yang harus disuluh termasuk pada skala prioritas pertama atau minimal prioritas kedua pada analisis rencana penyuluhan masing-masing KPP. Kegiatan yang dilakukan dalam melakukan penyuluhan secara langsung yaitu Seminar, Workshop, Bimbingan teknis, dan Kelas pajak.

4.2. Penyuluhan Secara Tidak Langsung

Penyuluhan Secara Tidak Langsung adalah kegiatan penyuluhan perpajakan kepada masyarakat dengan tidak melakukan interaksi dengan peserta. Kegiatan yang dilakukan dalam melakukan penyuluhan secara tidak langsung yaitu melakukan radio, televisi dan lain-lain.

Tabel IV.1

Realisasi Penyuluhan Perpajakan Tahun 2011

Metode Penyuluhan Target Realisasi Persentase %

Langsung 489 489 100 %

Tidak Langsung 3 6 200 %

Tabel diatas mendeskripsikan tentang “Realisasi Penyuluhan Perpajakan Tahun 2011” dengan menggunakan dua metode, yakni metode langsung dan metode tidak langsung. Tujuan dari metode ini adalah penyuluhan dalam upaya meningkatkan pelaporan surat pemberitahuan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi.

Adapun perbandingan dari dua metode langsung dan tidak langsung jika ditinjau dari segi target dan realisasi mengalami perbedaan yang sangat signifikan. Dengan metode langsung, target yang ditetapkan pada awal penyusunan realisasi dalam penjaringan Wajib Pajak Orang Pribadi tergolong berhasil karena target yang telah ditatapkan pada awal tahun sebesar 489 orang terealisasi pada akhir tahun pajak

dengan Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikategorikan sebesar 100% dengan kuantitas 489 Wajib Pajak Orang Pribadi yang telah terdaftar. Dengan metode tidak langsung target yang ditetapkan pada awal penyusunan realisasi dalam penjaringan Wajib Pajak Orang Pribadi terpenuhi. Ini dapat dilihat dari target yang ditetapkan pada awal tahun sebesar 3 orang dan terealisasi sebesar 6 orang dengan persentase sebesar 200%. Dengan perbandingan dua metode tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan dalam upaya meningkatkan jumlah Wajib Pajak dengan metode langsung sangat efektif.

B. Korelasi Penyuluhan Perpajakan dengan Penyampaian SPT Tahunan PPh OP

Kepatuhan wajib pajak dalam melaporkan dan membayar pajak merupakan salah satu unsur pokok dalam rangka optimalisasi penerimaan pajak. Semakin patuh wajib pajak maka resiko kehilangan penerimaan semakin rendah dengan kondisi yang sebenarnya sebaliknya, semakin tidak patuh wajib pajak semakin tinggi resiko kehilangan penerimaan pajak.

Berdasarkan data yang diproleh, Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur dari tahun 2009 sebesar 64.338 orang, tahun 2010 sebesar 75.462 orang dan tahun 2011 sebesar 88.695.

Selanjutnya yakni pelaporan SPT tahunan pajak penghasilan orang pribadipada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur dapat dikatakan sudah baik karena mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari grafik IV.1 terbukti bahwa

jumlah SPT Orang Pribadi pada Tahun 2010 mengalami peningkatan dibandingkandengan tahun 2009 sebanyak 14.157 SPT, yaitu sekitar 55,2 %. Begitu juga dengan tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebanyak 2.258 SPT, yaitu sekitar 8,09 %. Peningkatan ini membuktikan bahwa pelaksanaan penyuluhan terlaksana dengan baik terhadap pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadidi KPP Pratama Medan Timur. Dibawah ini adalah grafik data pelaporan SPT TahunanPPh Orang Pribadi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

Grafik IV.1

Data Pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi Pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

Jadi korelasi penyuluhan perpajakan dengan penyampaian SPTTahunan PPhOP sesuai dengan data grafik diatas, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan dalam upaya meningkatkan pelaporan SPT Tahunan pajak Orang Pribadi meningkat dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011. Ini terlihat dari korelasi persentase Wajib Pajak Terdaftar dengan SPT PPh Tahunan OP yakni pada tahun 2009 sebesar 17,85%, tahun 2010 sebesar 33,98% dan tahun 2011 sebesar 36,02%.

11,489 25,646 33,950 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000

Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 SPT PPh OP

Sesuai dengan data diatas, maka upaya penyuluhan perpajakan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur berjalan sesuai dengan target yang telah direncanakan, ini dapat dilihat dari penyampaian SPT Tahunan PPh OP dari tahun ketahun semakin meningkat.

C. Korelasi Penyuluhan Perpajakan dengan Penerimaan PPh OP

Penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pelaporan SPT wajib pajak terhadap peraturan perpajakan. Dengan kata lain kepatuhan pelaporan SPT Wajib Pajak akan menciptakan kondisi yang mendukung pencapaian realisasi penerimaan pajak. Peran penyuluhan perpajakan untuk menunjang peneriman PPh OP sangat berpengaruh. Ini dapat dilihat dari data penerimaan PPh OP pada tahun 2010 dan 2011

Grafik IV.2

Data Penerimaan PPh Orang Pribadi Oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

0 5000000000 10000000000 15000000000

Tahun 2010 Tahun 2011

Dari data grafik diatas dapat digambarkan bahwa data penerimaan PPh OP tahun 2010 dan 2011 mengalami peningkatan. Ini tidak terlepas dari kegiatan penyuluhan perpajakan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur yang direncanakan sesuai dengan realisasi yang telah diharapkan. Adapun rencana penyuluhan perpajakan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur dengan menggunakan konsep metode langsung dan metode tidak langsung dengan penerimaan PPh OP pada tahun 2010 sebesar Rp. 10.788.000.000 dan pada tahun 2011 sebesar Rp. 13.392.000.000. Jumlah penerimaan PPh OP pada kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur terjadi peningkatan dari tahun 2010 dan 2011 sebesar 19,4%.

D. Analisa SWOT Kegiatan Penyuluhan Perpajakan

Analisa SWOT sendiri merupakan singkatan dari strenght, weakness, opportunity, dan threat. Adapun penjabaran dari SWOT tersebut adalah:

1. S (Strenghts)

Mencerminkan kekuatan yang dimiliki oleh DJP (Kanwil DJP/KPP) dalam hal sarana dan prasarana kantor yang cukup memadai sesuai dengan efektiftas yang telah dipersiapkan terutama dalam hal penyuluhan perpajakan. Dengan proyeksi bahwa dengan menggunakan metode tidak langsung efektifitas yang dimiliki oleh Kantor Pelayanan Pajak dalam penyuluhan perpajakan adalah biaya yang digunakan dalam penyuluhan relatif murah dan banyaknya peserta yang akan terlibat dalam

2. W (Weaknesses)

Mencerminkan kelemahan yang dimiliki oleh DJP (Kanwil DJP/KPP) dalam hal strategi penyuluhan Wajib Pajak.

a. Kegiatan penyuluhan dengan metode penyuluhan langsung memiliki jumlah peserta yang terbatas dan biaya yang mahal.

b. Kegiatan penyuluhan dengan metode tidak langsung mempunyai kegiatan penyuluhan yang relatif singkat sehingga materi penyuluhan yang diberikan cenderung bersifat umum dan tidak dapat dipastikan bahwa

seluruhstageholder paham atas materi penyuluhan. 3. O (Opportunities)

Mencerminkan peluang yang dimiliki oleh DJP (Kanwil DJP/KPP) dalam hal meningkatkan potensi jumlah penerimaan pajak, maka peluang yang mereka miliki adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar untuk menggali potensi Wajib Pajak Baru. Adapun kendala peluang dalam meningkatkan potensi jumlah

penerimaan pajak adalah masih banyak masyarakat yang belum mengetahui hak dan kewajiban pajak dan selanjutnya masih banyak Wajib Pajak Terdaftar yang belum melaporkan SPT Tahunannya.

4. T (Threats)

Mencerminkan ancaman potensial yang dihadapi oleh DJP (Kanwil DJP/KPP) dalam hal strategi penyuluhan Wajib Pajak. Salah satunya hal yang menjadi sorotan publik dan perilaku oknum pegawai yang melanggar peraturan sehingga

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan

1. Penyuluhan perpajakan merupakan suatu upaya dan proses memberikan informasi perpajakan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat, dunia usaha, aparat, serta lembaga pemerintah maupun non pemerintah agar terdorong untuk paham, sadar, peduli dan berkontribusi dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.

2. Mekanisme Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Dan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan tersebut di atas merupakan upaya-upaya yang harus dilaksanakan dalam penyuluhan guna meningkatkan pelaporan surat pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan.

3. Berdasarkan statistik data wajib pajak terdaftar dan statistik penerimaan SPT Tahunan dalam 3 tahun terakhir dapat disimpulkan adanya peningkatan baik jumlah wajib pajak dan penerimaan SPT Tahunan, ini menunjukkan bahwa program penyuluhan yang sudah terealisasi membawa dampak positif bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur dalam mencapai penerimaan pajak yang

Dokumen terkait