BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Pengertian Dana Dan Sumber Dana
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tentu membutuhkan dana yang berupa gaji, meminjam dari teman, mendapat bantuan dari saudara, atau dari sumber lainnya.
Kalau seseorang tidak mempunyai dana, maka dapat dibayangkan betapa sulitnya orang tersebut mengarungi kehidupannya. begitu pula dengan kehidupan suatu bank, ia akan menemui kesulitan bila tidak pandai dalam menghimpun dana. Dana didalam bank itu ibarat darah dalam tubuh manusia, dalam artian jika seseorang darahnya berkurang atau habis, maka orang tersebut akan menjadi lemah atau bahkan lebih buruk dari itu. Oleh karena itu sebagai seorang pegawai bank sebaiknya memahami tujuan dan produk penghimpunan dana bank sehingga sekaligus akan menambah wawasan pengetahuan dalam bisnis perbankan.
Bisnis perbankan dibidang penghimpunan dana ini menjadi suatu hal yang sangat penting Karena semua bank secara sendiri-sendiri akan berusaha untuk menghimpun dana sebanyak mungkin. Di sinilah terjadi persaingan antar bank di mana bank yang satu dan yang lainnya saling merebut dana.
Perlu disadari bahwa persaingan dalam panghimpunan dana ini akan terus berlangsung sampai kapanpun, karena bank bisa berkembang dan menjadi lebih besar bila ia bisa meningkatkan dananya. Sebaliknya apabila bank tidak/kurang dapat bersaing dalam penghimpunan dana terutama dana yang ditarik dari masyarakat, maka bank tersebut akan menjadi semakin lemah dan bahkan mungkin bisa keluar dari peredaran bisnis perbankan. Oleh karena itu memahami bisnis perbankan di bidang penghimpunan dana adalah sangat penting.
Faktor-faktor tersebut bisa berpengaruh negatif dan bisa juga berpengaruh positif terhadap penghimpunan dana atau tabungan.
Pengaruh negatif menunjukkan kecenderungan menurunnya jumlah penghimpunan dana, sedangkan pengaruh positif menunjukkan kecenderungan meningkatnya jumlah pcnghimpunan dana. Seringkali orang agak kebingungan dengan pengertian istilah dana. Ada yang mengatakan bahwa dana itu sama dengan uang. Agar dapat membedakan antara keduanya, maka perlu dipahami bahwa uang adalah bahagian dari dana.
Uang bisa dikatakan dana, tetapi dan belum tentu berupa uang. Sebagai contoh uang seperti sudah diketahui sehari-hari, yaitu uang yang sering dibawa baik berupa uang kertas atau koin atau bisa berupa cek dan semacamnya.
Menurut pengertian tersebut, berarti berbicara tentang dana maka bisa dibayangkan bahwa dana itu hanyalah semata-mata uang. Yang perlu diketahui bahwa dana didalam suatu bank sangat penting karena tanpa dana, bank tersebut tidak dapat hidup atau beroperasi.
Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 1998 Tentang perubahan Undang-Undang No.7 Tahun 1992 Tentang perbankan, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan simpanan (dana pihak III) adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang perubahan Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang perbankan tersebut selanjutnya menjelaskan pengertian masing-masing simpanan sebagai berikut :
1. Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, saran pemerintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindah bukuan.
2. Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah dengan bank yang bersangkutan.
3. Sertifikat Deposito adalah simpanan dalam bentuk deposito berjangka yang sertifikat bukti penyimpangannya dapat dipindah tangankan.
4. Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. 5. Surat berharga adalah surat pengakuan hutang, wesel, saham, obligasi,
sekuritas kredit atau setiap derivatifnya atau kepentingan lain atau suatu kewajiban dari penerbit modal dan pasar uang.
Jenis-jenis simpanan tersebut adalah diperoleh dari masyarakat, dan dalam dunia perbankan umumnya dikenal sebagai sumber dana utama atau juga dikenal sebagai sumber likuiditas perbankan.
Menurut M. Sinungn (2000:07) dalam rangka melihat bagaimana penghimpunan dana dan bagaimana pengalokasiannya, maka ada 2 teori yang perlu diperhatikan.
Yang pertama,adalah POOL OF FUNDS, dengan melihat sumber-sumber dana dan penempatannya.
Yang Kedua disebut Assets Alocation approach yaitu penempatan dana- dana kedalam aktiva. Ini berkaitan erat dengan Manajemen Aktiva Bank.
Menurut Mulyo Pratomo (2002:79) menyatakan bahwa sumberdana bank, terdiri dari :
1. Sumber likuiditas intern antara lain:
Cadangan yang terdiri dari cadangan debitur, cadangan aktiva tetap, cadangan umum dan retained earning. Intensif yang terdiri dari penjualan aktiva tetap, likuiditas barang jaminan dan penagihan debitur. 2. Sumber likuiditas ekstern antara lain :
Pemilik yang berasal dari donasi pemilik, pemegang saham dan kantor pusat tiap-tiap cabang.
Hutang yang berasal dari Bank Indonesia, giro, tabungan, deposito bank-bank lain, baki rekening debitur, setoran jaminan dan kreditur umum.
Selanjutnya Mulyo Pratomo (2002:99) menjelaskan sumber-sumber dana atau likuiditas suatu bank sebagai berikut :
1. Cadangan debitur, merupakan dana yang berasal dari cadangan untuk menampung kerugian yang terjadi akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh pinjaman yang diberikan dalam rupiah/valas 2. Cadangan aktiva tetap, merupakan sumber dana bagi bank selama ukur
3. Cadangan umum, yaitu merupakan sumber dari yang berasal dari cadangan yang dibentuk menurut ketentuan anggaran dasar atau keputusan pemilik/rapat pemegang saham bank yang bersangkutan sepanjang tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. 4. Retained earning, yaitu merupakan sumber dana yang berasal dari laba yang ditahan atau tidak dibagikan kepada pemegang saham. Retained earning ini merupakan sumber dam (penambah modal kerja) bersih. 5. Penjualan aktiva tetap, yaitu penjualan aktiva tetap yang tidak
menghasilkan laba (merupakan sumber dana).
6. Likuiditas barang jaminan, merupakan suatu jalan untuk mengurangi kerugian akibat tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan di mana hasil likuiditas barang jaminan ini merupakan sumber dana bagi bank atau perusahaan.
7. Penagihan debitur, yaitu merupakan sumber dana bagi suatu bank yang bersangkutan.
8. Donasi pemilik, merupakan sumbangan keuangan/benda lain secara tetap dari pemilik bank dan merupakan sumber dana atau likuiditas dan sekaligus menambah modal bank.
9. Pemegang saham, penjualan saham kepada masyarakat misalnya perusahaan Go Public merupakan sumber likuiditas suatu perusahaan. 10. Kantor pusat masing-masing cabang, kantor cabang yang kekurangan
likuiditas pada umumnya akan meminta dananya ke kantor pusatnya masing-masing dengan membayar biaya bunga antar kantor. Hal ini
dapat terjadi bilamana adanya pembelian inventaris kantor atas perintah kantor pusat atau pinjaman yang diberikan kepada pihak ketiga lebih besar dari pada simpanan pihak ketiga tersebut.
11. Bank Indonesia sebagai pembimbing, Bank Indonesia juga merupakan sumber likuiditas apabila suatu bank kekurangan dana (reserve discount window to central bank as lender of last resort).
12. Deposito, merupakan sumber likuiditas yang cukup baik karena mempunyai jangka waktu pelunasan sehingga bank dapat mengatur kebutuhan dananya.
13. Bank-bank lain, pinjaman yang berasal dari bank-bank lain merupakan sumber dana yang harus diperhatikan pemakaiannya karena perusahaan harus membayar bunga.
14. Baki kredit rekening debitur, menjadi sumber dana murah bagi bank. Untuk pinjaman rekening koran baki kredit rekening debitor merupakan saldo kredit rekening gironya.
15. Kredit-kredit umum, hutang-hutang yang berasal dari seksi umum yang dicadangkan ke dalam kreditur-kreditur umum tetapi belum dibiayakan / dibayar merupakan sumber dana bank, misalnya hutang atas pembelian inventaris.
16. Sumber-sumber dana lain, bank dapat memperoleh dari masyarakat seperti giro, deposito, dan tabungan, seperti telah dijelaskan pada uraian sebelumnya. Dana yang berasal dari masyarakat ini disebut dana pihak ketiga yang menjadi sumber utama bank.
Sebagaimana dikemukakan di muka bahwa dana atau likuiditas demikian pentingnya bagi suatu bank. Sehubungan dengan pentingnya dana atau likuiditas bank, teguh Pudjo Mulyono (2009 :123), menyatakan lima pendekatan terhadap penetapan likuiditas suatu bank. Kelima pendekatan dimaksud sebagai berikut:
1) Self Liquiditing Approach, adalah pendekatan peningkatan likuiditas suatu bank melalui peningkatan pembayaran kembali kredit-kredit/penanaman dalam surat-surat berharga dan lain-lain sesuai dengan jatuh temponya. Dengan demikian alat likuiditas tersebut dapat digunakan untuk memenuhi permintaan-permintaan/kredit investasi dalam surat berharga yang lain.
2) Asset Sale Ability atau Asset Shift Ability, adalah meningkatkan likuiditas dengan mengadakan likuiditas dari asset-asset lainnya yang tidak produktif, misalnya penjualan kendaraan yang tidak terpakai lagi.
3) New Fund, yaitu meningkatkan likuiditas dengan menciptakan sumber-sumber dana yang baru baik dari masyarakat maupun dari dalam bank, misalnya menciptakan produk baru seperti Traveller Cheques, Credit Card, Deposito, Asuransi, Tabungan berhadiah dan lain-lain.
4) Borrowers Earning Flow, yaitu dengan meningkatkan likuiditas melalui usaha yang lebih giat dalam menjaga kelancaran penerimaan bunga dari kredit yang diberikannya.
5) Reserve Discount Winder to Central Bank as Lender of Last Resort, Yaitu mencari likuiditas dengan mengadakan pinjaman dari Bank Indonesia (Bank Sentral).